Kamis, 09 Februari 2012

GRASPING HAEVEN (7b)

...sebelumnya (Grasping Heaven-7a)

Mengendarai sepeda di Chengdu mulanya menakutkan tetapi tak lama berselang Tami sudah bisa menyesuaikan diri. Hanya mengendarai sepeda sampai ke gedung di mana dia belajar bahasa. Tami harus menyelip-nyelip melintasi kerumunan mobil, motor, sepeda, dan pejalan kaki yang seakan tidak bisa ditembus. Saat berada di atas sadel sepedanya dia seakan bisa melihat kumparan lautan kepala hitam yang mau menelan dirinya seperti pulau sejauh matanya memandang. “Lebih tinggi dari orang lain pada akhirnya terbukti ada manfaatnya juga…setidaknya saat mengendarai sepeda di Cina” pikirnya.

=====================

“Makanan di sini begitu adiktif…membuat ketagihan” tulis Tami dalam salah satu suratnya. “Kalau aku tidak makan guokai-ku di pagi hari…aku akan sarapan di ruang makan dan itu berarti kue dengan selai kacang dan kacang hijau! Namun demikian aku juga bisa makan kue bola berisi daging, bubur atau telur. Tapi jelas bubur bukan makanan favoritku…”

Petualangan kuliner menempati urutan atas dalam prioritas Tami. Awalnya dia ragu-ragu, tetapi sejalan dengan waktu dia makin bertambah berani mencoba semua makanan local. Makanan Sichuan terkenal sangat pedas, dan makanan yang paling terkenal adalah mapo dofu, sepiring itu bukan hanya penuh cita rasa tapi juga pedas dan kebas. Rempah-rempahnya membuat lidah dan bibir terasa mati rasa, tetapi Tami sangat menyukainya. “Dia bahkan bisa makan makanan yang lebih pedas dari pada yang kami makan” kata salah seorang temannya orang Cina dengan kagum. Bagi Tami ketika menyadari bahwa makanan bisa menjadi “ice-breaker” (pemecah kekakuan) dalam budaya Cina maka dia menjadikan hal ini sebagai ambisinya untuk mencoba hidangan masakan Tioghoa. “Aku harus menceritakan soal masakan Tionghoa ini kepada teman-teman dan pendukungku di Amerika…” katanya memutuskan.

Teman-teman…mau melon goreng?...atau mungkin lidah babi…?? Tami mengawali suratnya kepada para pendukung dan teman-temannya. “Selama datang di petualangan makan terbesar”…dibawakan secara langsung dari Sichuan…” (tidak juga,…hitunglah berkatmu…)…aku sudah mencoba kedua jenis makanan tersebut. Suatu malam di sebuah restoran local, aku piker aku sudah memesan rebung, zhu shun (‘zhu’ diucapkan seperti ‘g’ dalam kata large (besar); dan u diucapkan sepeti “oo”. Antara kesalahan intonasiku dan perbedaan dialek Mandarin dan Sichuan,maka pelayannya piker aku memesan bibir babi! (Mandarin: zhu chun; dialek Sichuan: zhu sun. Lidah babi-lah yang ternyata masih tersedia…dan malam berikutnya pelayan itu memberikan sekali lagi….itu, silahkan bayangkan sendiri bagaimana memakannya…melon juga maksudnya bukan dimasak… (kejutan…)..”

Suatu waktu saat akhir pekan ketika matahari mengintip dari balik awan, Tami memutuskan untuk mengendarai sepedanya keluar kota dan mengunjungi sebuah kuil agama Budha. Lalu lintas dalam perjalanan ini “gila-gilaan”…dipadati sepeda, desakan orang banyak, orang-orang yang membawa bebek, ayam, atau hewan lainnya, mobil truk yang diparkir di jalur sepeda, tidak bisa dikatakan lalulintas yang lancer. Oleh karena jalur sepeda menjadi sempit maka mengendarai sepeda harus ekstra hati-hati. Tiba-tiba Tami melihat di jalur sepeda itu sejumlah kayu yang terbakar..cepat-cepat dipacu sepedanya berputar menghindari bahaya. Begitu melewati jalan lingkar Chengdu, lalulintasnya lumayan longgar dan ada sejumlah toko di sisi-sisi jalan, tetapi semakin jauh semakin jarang-jarang.

Rasanya lega bisa keluar dari area yang padat dan berpetualang di daerah pedesaan. Sawah-sawah sudah dibajak …juga ada tempat-tempat yang kehijauan di mana sayuran ditanam dan juga melon. Begitu tiba di perkampungan Tami bisa menemukan biara dengan mudah. Toko-toko di sepanjang jalan menuju ke biara menjual lilin, kemenyan, buah-buah untuk dijadikan sesajen, cemilan, dan perhiasan-perhiasan kecil. Setelah bersepeda sejauh 20 mil dia merasa sangat lapar sehingga dia berhenti sejenak untuk menikmati sup bayam, tahu, terong merah dan saus sayuran di salah satu restoran di sana.

Di kuil terdpat dua patung Budha yang terbuat dari emas, bantalan-bantala bulat untuk berdoa terletak di lantai, dan lukisan gulung tradisional di dinding-dinding. Beberapa diantaranya sangat bagus, piker Tami, tetapi yang lain seperti lukisan “Picasso Dinasti Qing”. Masing-masing kuil mempunyai idols (patung yang disembah) utama/sentral dan beberapa artifak dan lukisan di sepanjang sisinya. Tempat pembakaran kemenyan dan lilin terdapat di tiap halaman bagian luar kuil. Para biksu berjalan keliling komplkes, menjaga pintu-pintu bertirai. Seorang Biksu coba mengail uang yang dilemparkan turis dan pengunjung ke dalam kolam. Meskipun kebanyakan pengunjung adalah para wanita tua, Tami terkejut melihat ada sepasang anak muda yang sedang berlutut dan bedoa, dan anak-anak diberitahu orang tua mereka untuk bersujud kepada sejumlah patung. Beberapa dari patung-patung itu sangat menakutkan dilihat. Hatinya sakit sekali melihat bagaimana orang-orang bersujud pada patung-patung yang mati itu.

Setelah pulang dari sana dia duduk berdoa bagi kerinduannya untuk bergabung dengan sebuah persekutuan Minggu di mana dia boleh beribadah. Tak lama kemudian dia diperkenalkan kepada Linda dan Gary serta anak-anak mereka. Mereka orang Amerika yang sudah tinggal di Chengdu selama beberapa tahun meneliti tentang kebudayaan Cina.

“Tami bagaimana kalau kamu bergabung dengan kami pada hari Minggu pagi? Kami sekelompok kecil orang percaya dan bertemu di apartemen mahasiswa di kampus. Kamu tahu, tidak boleh membawa teman orang Cina seorang pun ke dalam persekutuan ini karena itu melanggar hukum. Apartemen kami dipasangi alat penyadap, yang berarti pemerintah Cina akan bisa mendengar apa yang kita katakana dan nyanyikan. Kami tidak keberatan karena memang tidak ada yang perlu disembunyikan, tetapi terkdang kami harus peka terhadap apa yang boleh dan tidak boleh diucapkan.”

Tami segera mendapatkan banyak teman dan rekan doa dalam kelompok kecil dan tertutup ini. Rasanya aneh mengetahui bahwa mereka diintai secara teratur. Tapi kemudian perasaan itu lama-lama sudah menyatu dan Tami merasa terbiasa. Kadang-kadang dia merasa diikuti pada saat berada di jalanan dan suatu saat memang dia mendapati apartemennya diselidiki.

Dalam pembacaan Alkitab hariannya, Tami membaca kitab Yesaya. Dia terkejut mendapati begitu seringnya kata “damai” muncul atau ditulis dalam kitab ini. “Damai yang disebutkan dalam kitab Yesaya merupakan suatu peringatan yang bagus” tulisnya kepada orangtuanya. “Ada banyak hal di sini yang bisa mencuri kedamaian…selalu ada gangguan-gangguan menjengkelkan yang tidak peka, misalnya adu mulut selama sejam hanya untuk mendapatkan dua kain untuk tempat tidur, atau ketika membeli sesuatu dan kemudian mendapati mereka menipuku dengan harga yang tidak sesuai. Jelas kota ini bukan kota damai…ada begitu banyak keributan, adu mulut yang terus menerus, banyak kemarahan. Temperamen di sini seringkali lebih panas (pedas) dari pada makanannya. Aku terus berjuang untuk belajar semakin menikmati damai sejahtera dari Allah yang tidak bergantung pada keadaan. Jangan salah mengerti aku…aku sungguh-sungguh menikmati kehidupanku di sini dan semakin lama semakin betah seperti di rumah sendiri sepanjang waktu, walaupun ada hari-hari yang…..


Sumber diterjemahkan dari:

Annelies & Einar Wilder-Smith, “GRASPING HAEVEN- Tami L. Fisk, A Young Doctor’s Journey to China and Beyond”, Genesis Books, 2010.

Tidak ada komentar:

Copyright 2007, Pelayanan Medis Nasional (PMdN) Perkantas

Jl. Pintu Air Raya 7, Komplek Mitra Pintu Air Blok C-5, Jakarta Pusat
Telp. (021) 3522923, 3442463-4 Fax (021) 3522170
Twitter : @MedisPerkantas
Download Majalah Samaritan Versi Digital : https://issuu.com/samaritanmag