Kamis, 07 Desember 2017

Berdoalah untuk Rumah Sakit Anda

Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada Tuhan, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu. Yeremia 29:7


Tugas pertama saya sebagai dokter kelihatannya menuntut terlalu banyak. Atasan saya mulai melakukan operasi pada pukul 09.00 pagi. Ini berarti ia mengharapkan bahwa pasien sudah berada di atas meja operasi, sudah dibius dan diselimuti, dan ia sudah siap dengan pisau bedahnya. Entah apa yang akan terjadi jika ia dibiarkan menunggu.

Kunjungan keliling saya mulai pada pukul 11.00 malam bersama seorang perawat jaga malam. Saya beruntung jika bisa selesai pada pukul 12.00. Belum terhitung telepon yang berdering pada malam hari. Ada 14 kasus gawat darurat dalam waktu 5 hari pertama saya bekerja. Selama 6 minggu pertama saya tidak dapat meninggalkan rumah sakit. Pada akhir masa tugas itu, saya lebih merasa sebagai seorang narapidana yang melakukan kerja paksa daripada seorang dokter yang baru saja lulus.

Pada saat-saat seperti ini doa harian dan penelaahan Alkitab dengan mudah terlupakan. Iman kita berada dalam keadaan bahaya menjadi layu dan mati akibat kekurangan gizi. Sudah tentu jawabannya terletak pada persekutuan Kristen yang penuh kasih dan hidup, tetapi persekutuan semacam itu tidak selalu tersedia. Kata-kata Yeremia kepada mereka yang berada dalam pembuangan pada masa itu menjadi begitu penting: "Berdoalah untuk kesejahteraan kota... rumah sakit... unit perawatan medis dimana Anda sekarang ditempatkan Berkat yang datang dari doa-doa yang Anda panjatkan bagi orang-orang di sekeliling Anda pasti akan tercurah juga kepada Anda."

Doa:
Tuhan dan junjunganku, saya begitu mudah melupakan-Mu di kala saya sedang sibuk. Saya beroa, ampunilah saya. Biarlah kasih dan damai-Mu meliputi tempat dimana saya bekerja, Jadikan saya cermin yang memantulkan kasih yang Kautunjukan pada saya kepada para pasien dan kawan-kawan sekerja saya. 



Bacaan selanjutnya: Kejadian 39:1-6, 20-23

______________________________________________________________
Oleh: John H.E Bergin dalam Diagnose Firman.

Rabu, 29 November 2017

Dua Sisi Mata Uang

Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati. 
1 Timotius 6:17
Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada mamon. 
Matius 6:24


Seorang konsultan berpengalaman baru-baru ini berkata bahwa perolehan uang secara tiba-tiba merupakan suatu kutuk yang terbesar bagi seorang dokter muda. Mungkin ada yang tidak setuju, oleh karena uang merupakan salah satu dari berkat-berkat Tuhan. Mungkin apa yang dimaksudkan ialah bukan mengenai apa yang dapat kita perbuat dengan uang, tetapi apa yang dapat diperbuat uang terhadap kita. Cinta akan uang merupakan suatu bahaya bagi semua orang Kristen, dan sebagai dokter kita lebih banyak berhubungan dengan uang dibandingkan dengan orang lain. Siapa di antara kita yang tidak merasa senang waktu mendapat hadiah, waktu kita mengurus bon-bon tagihan dengan cara-cara yang sah atau pun tidak sah untuk menghindari pajak? Diam-diam semua itu sedikit demi sedikit menyita pikiran kita. Alkitab memperingatkan kita bahwa uang merusak kasih di hati kita (Matius 6:21), menipu dan mempengaruhi pertimbangan kita dan menghambat pertumbuhan buah rohani kita (Matius 13:22), mengubah penilaian kita akan orang lain (Yakobus 2:1-5, 9), membodohi orang-orang beriman (Lukas 12:20-21), dan dapat menghancurkan jiwa kita (1 Timotius 6:9). "Kekayaan dapat menyuap orang yang paling tidak dapat disuap" (The Golden Cow, ditulis oleh John White).

Karenanya janganlah hatimu melekat padanya (Mazmur 62:11); jangan percaya kepada uang dan bergantung kepadanya (1 Timotius 6:17). Jangan menyimpannya kalau tidak perlu (Pengkhotbah 5:11, 13); atau membayangkan bahwa uang akan membawa kebahagiaan (Pengkhotbah 5:10) atau menganggap uang itu penting (1 Timotius 6:17).

Kalau begitu, apa sebenarnya kegunaan uang itu? Uang, sekalipun merupakan majikan yang kejam, tetapi juga hamba yang berguna dan pembawa berkat yang besar. Uang dapat membuat kita percaya dan bersyukur kepada si Pemberi. Uang dapat dipakai sebagai sarana melayani Tuhan dan memenuhi kebutuhan dunia, juga dapat dipakai sebagai alat untuk mewujudkan buah Roh yaitu kebaikan. Uang memampukan kita menyatakan kemurahan dan kebesaran hati kita dan dengan demikian mengumpukan suatu harta di surga. (1 Timotius 6:18-19).


Bacaan selanjutnya: Lukas 12:13-21, Matius 6:18-21.

_________________________________________________________
Oleh dr. Muriel Crouch, ahli bedah, Inggris dalam Diagnose Firman.

Selasa, 14 November 2017

Bekerja - Bagian dari Kehidupan

Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.  Kolose 3:23




Bekerja merupakan bagian penting dalam kehidupan dan memegang peranan mencolok dalam masyarakat yang sudah makmur. Bagi sebagian orang alasan untuk bekerja hanya semata-mata untuk mencari nafkah dan menghidupi keluarga. Yang lainnya keranjingan untuk mengumpulkan uang dan harta benda, untuk mencapai kemasyuran dan status atau menggunakan kekuatan dan kekuasaannya atas orang lain. Sebagian kecil orang boleh jadi bekerja hanya untuk menghabiskan waktu atau mengerjakan hobinya, atau bahkan untuk melarikan diri dari keadaan yang kurang menyenangkan. Tetapi banyak dokter memilih karirnya di bidang medis oleh karena merasa terpanggil dan didorong oleh keinginan untuk memuliakan Tuhan dan melayani sesama.


Tetapi tekanan pekerjaan bisa sangat berat. Dengan perasaan sedih penulis menyaksikan rekan-rekan dan teman-teman yang memulai karirnya dengan baik, kadang-kadang tanpa disadari, terbawa ke dalam persaingan tidak sehat dalam masyarakat yang berorientasi kepada prestasi ini. Praktek yang laris telah menyita seluruh waktu mereka dan mereka mengabaikan kesehatan tubuh, keluarga dan pada sementara dokter, juga kehidupan rohani mereka. Kehidupan kekristenan mereka mundur, seperti Demas, yang telah mencintai dunia ini. (II Timotius 4:10). Kerja telah mengambil alih posisi Tuhan sebagai prioritas utama. Bekerja menjadi dewa mereka. Mereka lupa bahwa Tuhan yang bijaksana telah juga mengatur waktu istirahat guna menyegarkan diri dan melepaskan lelah. (Keluaran 23:12), dan terlebih lagi untuk mengisi kembali bejana rohani kita dengan menyediakan waktu untuk bersekutu dengan Dia.


Alat pengaman kita satu-satunya terhadap kecenderungan untuk menjadikan kerja sebagai akhir dari segalanya ialah dengan mengingat bahwa dalam melakukan pekerjaan duniawi, kita juga melayani Tuhan Yesus Kristus dan apapun yang kita perbuat, hendaklah dikerjakan seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. (Kolose 3:23-24).


Bacaan selanjutnya: 1 Korintus 3:11-16, 10:31.


____________________________________________________________________
Oleh dr. Ong Meng Yi, Singapura.
Dalam Diagnose Firman.

Kamis, 09 November 2017

Hari Libur yang Tak Pernah Ada

Lalu Ia berkata kepada mereka: "Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian dan beristirahatlah seketika." Sebab memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makan pun mereka tidak sempat. - Markus 6:31



Tidak ada waktu luang! Kita kenal benar ungkapan itu. Tetapi Allah mengawasi kebutuhan murid-muridnya dan mengatur waktu istirahat buat mereka. Baca apa yang terjadi pada Markus 6:31-36!

Tampaknya waktu yang mereka miliki untuk diri sendiri hanyalah ketika mereka mendayung menyeberangi danau. Sisanya digunakan bersama orang-orang yang mengikuti Yesus di seputar pantai. Dan ketika waktu yang berharga itu pun berlalu, masih ada lima ribu mulut yang harus diberi makan. Apakah yang Yesus coba ajarkan pada mereka? Bahwa latihan jasmani semacam itu dapat memperkuat mereka. Bahwa berada dalam lingkungan yang berbeda bisa menyegarkan atau sekalipun mereka tidak dapat menghindar dari pekerjaan, bukankah pekerjaan-Nya itu justru menyegarkan? Bahwa lebih baik membagi apa yang mereka punya, entah itu saat-saat berharga ataupun jatah yang sedikit daripada menyimpannya untuk mereka sendiri. Sekalipun hari berakhir dalam frustrasi dan kelelahan, Dia masih bisa menghalau kekuatiran dan keletihan. Kalau ini adalah pelajaran yang ingin Dia ajarkan kepada mereka, mereka agaknya tidak berhasil menangkapnya! Mereka belum juga mengerti (ayat 52).

Dia memperhatikan kebutuhan kita seperti juga kebutuhan murid-murid-Nya. Dia ingin tahu seberapa banyak waktu senggang yang kita punya dan bagaimana kita mempergunakannya. Dia mengerti kelelahan dan kekecewaan, karena Dia telah mengalaminya sendiri. Sebagai Allah atas hidup kita, Dia juga Allah atas waktu senggang kita. Dia ingin agar kita membagi waktu senggang maupun waktu kerja kita dengannya. Dia ingin menunjukan bahwa Dia dapat memenuhi kebutuhan kita dan kebutuhan orang lain lewat kita. 


Tuhan Yesus, tolong ajarkan bagaiman saya harus menggunakan waktu senggang saya, baik sendiri ataupun bersama orang lain, dalam kegiatan ataupun istirahat. Bila saya kehilangan waktu-waktu senggang saya, izinkan saya peka akan kehadiran-Mu, kegiatan-Mu dan pembaharuan dari-Mu.

Bacaan selanjutnya: Markus 6:30-56.



Oleh: dr. Jane Goodall, spesialis anak, Inggris
Dalam Diagnose Firman.

Rabu, 25 Oktober 2017

Ketika Allah Memanggil

"Anakku, pergi dan bekerjalah hari ini dalam kebun anggur. Jawab anak itu: Baik, bapa. Tetapi ia tidak pergi. --- Matius 21:28, 29


Pada zaman sekarang ketika banyak orang hanyut dalam karir dan banyak suara menarik perhatian kita, mudah sekali melupakan panggilan Allah. Panggilan Allah bagaikan angin, tak terlihat, mengarah pada satu tujuan dan menyegarkan, bertiup dalam hidup manusia. Juga datang bagaikan api, hangat, meleburkan dan menyala-nyala membakar hati manusia. Ia datang bagaikan seorang kekasih, penuh daya tarik dan menawan, mengajak manusia untuk mengikut. 

Tetapi angin dapat menolak. Anda dapat berlindung di balik alasan atau penundaan. Anda dapat bersandar pada prasangka dan prioritas yang palsu. Anda dapat maju sambil berkilah bahwa anginlah yang membawa kita. Anda dapat berkata, "Saya tidak tahu kapan itu datang (benarkah Allah yang memanggil?) atau kemana perginya." (kemana Ia memimpinku?)!

Api pun dapat dipadamkan. Misalnya dengan membiarkannya begitu saja. Ketidakpedulian sudah cukup untuk memadamkan api itu. Siraman air ketakutan, kuatir akan masa depan, rasa tak aman, takut akan komentar orang lain, juga dapat mengakibatkan hal yang sama. Memisahkan arang bisa juga melakukan hal itu (menghindari persekutuan dengan orang Kristen yang lain dan mengambil jalan sendiri). Kekasih dapat Anda lukai hatinya. Jawaban yang tidak tulus dan setengah hati akan mendukakan hati Sang Pengasih manusia itu. Si anak dalam perumpamaan tadi berkata, "Saya telah mendengar panggilanmu, saya akan bekerja dalam kebun anggurmu". Tetapi satu kesibukan menuntun kepada kesibukan lain dan dia tidak pernah berangkat. Suara itu terdengar jauh lebih jelas di masa kita masih menjadi mahasiswa. Tetapi kemudian satu hal membawa kepada hal lain sampai kita kedapatan sudah mengabaikan panggilan itu tanpa jawab.


Bapa, tolong saya untuk tidak menolak Roh Kudus ketika Dia bertiup dalam hidup saya, dan tidak memadamkan-Nya ketika api-Nya membakar hati saya, dan tidak mendukakan-Nya ketika kasih-Nya mengajak saya untuk ikut.


Bacaan selanjutnya: Matius 21:28-32; Yeremia 20:9; Lukas 5:27-28

Oleh: Kenneth Moynagh, dalam Diagnose Firman

Rabu, 18 Oktober 2017

Beban Melampaui Batas

".... datanglah seorang kepala rumah ibadat yang bernama Yairus. Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia di depan kaki-Nya dan memohon dengan sangat kepada-Nya... Lalu pergilah Yesus dengan orang itu. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia dan berdesak-desakan di dekat-Nya. Adalah disitu seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan." Markus 5:22-25



Pekerjaan yang tertunda karena tugas lain yang mendesak, gangguan yang terus menerus, tuntutan yang tak putus-putusnya, desak-desakan, halangan-halangan, kelelahan. Inikah gambaran hari-hari saya? Bukan, tapi gambaran hari-hari dalam kehidupan Yesus Kristus. Dan tanggapan-Nya adalah kesungguhan, penuh perhatian, murah hati, penyembuhan atau dengan kata lain: mengasihi, 'Wanita itu menyentuh jubah-Nya.... seketika itu juga Yesus tahu, ada kuasa yang keluar dari diri-Nya... Tetapi Dia berkata: "Anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu." '


Lalu apa tanggapan saya terhadap situasi yang sama? Marah, kasar, mudah tersinggung dan sakit hati, mengasihi diri sendiri lebih dari pasien dan bahkan dari Tuhan? Saya lupa bahwa tak ada sesuatu pun yang terjadi pada saya tanpa persetujuan-Nya. Dialah yang mengizinkan setiap dering telepon yang mengganggu dan setiap tambahan pasien di klinik. Setiap gangguan merupakan kesempatan bagi saya untuk menunjukan pimpinan-Nya, bukan kejengkelan.

Hidup saya harus dikuasai Roh Kudus, sehingga ketika saya tertekan, kasih-Nya melimpah, memberi ketenangan.


Tuhan Yesus, sama seperti pasien-Mu yang lain, saya juga membutuhkan kesembuhan. Saya mengaku bahwa saya pemarah dan penggerutu. Di antara kesulitan-kesulitan hari ini, tolong saya untuk selalu dengan-Mu, sehingga kuasa, damai dan kesabaran-Mu memenuhi hati saya dan melimpah dalam hubungan kerja saya.

Bacaan selanjutnya: Markus 5:22-34

Oleh dr. Jane Goodall dalam Diagnose Firman

Senin, 02 Oktober 2017

Aku Akan Selamanya Tahu

Aku hendak mengingat perbuatan-perbuatan TUHAN. ---Mazmur 77:12


Aku bisa berkata: "Ya, Tuhan, aku tahu," oleh karena pengalaman pribadiku dengan Mazmur 77. Dia menopangku ketika aku "buta" dan gelap mata sebagai orang Kristen, ketika aku sengaja berbuat dosa, dan bahkan ketika akhirnya aku menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatku, lalu takluk di bawah kedaulatan-Nya. Ia menuntunku melewati masa-masa sukar ketika aku ragu apakah aku mampu menyelesaikan sekolahku, dan kesukaran lainnya. Aku juga teringat, tanggung jawab mahasiswa kedokteran di negara-negara berkembang, yang harus bekerja sebagai dokter atau ahli bedah selama menempuh mata kuliah pilihan. Ternyata, Allah kadang kala memberikan kepada kita tugas-tugas di luar kemampuan kita agar kita dapat lebih memahami kekuatan-Nya.

Dalam hati aku bertanya, apa gerangan yang dipikirkan Abraham saat ia mengikat tangan Ishak untuk dikorbankan, sementara pada saat yang sama ia tahu Allah berjanji, akan lahir banyak keturunannya melalui Ishak (Kej 17:19). Kesetiaan Allah di masa lalu telah menguatkan Abraham sehingga kebingungannya saat itu maupun pemenuhan janji masa mendatang kepada Dia yang telah memberikan janji itu yang telah dipercayakan sepenuhnya kepada Dia. Dia juga harus berkata, "Aku akan selamanya tahu."

Doa: Allah penciptaku, aku memuji-Mu dan meyakini pemeliharaan-Mu atas hidupku. Aku tahu bahwa Engkau mempunyai rencana terhadapku dan aku memuji-muji-Mu atas jalan yang selama ini telah Engkau tunjukkan dengan jelas. Lewat sedikit kesempatan yang Engkau beri sebagai penderma kesehatan; kiranya aku senantiasa menyadari bahwa di dalam tangan-Mu, yang sedikit ini mampu berkarya. Jangan biarkan awan gelap membutakan aku terhadap kekuatan dan pemeliharaan-Mu yang sempurna, dan jangan biarkan keadaan yang tidak jelas menghalangiku dari pengetahuan tentang kehendak-Mulah yang pasti terjadi.


Baca: Ibrani 11:11-19; Ratapan 3:22-24.


Oleh: Patrick Masokwane dalam Sumber Hidup Praktisi Medis

Selasa, 19 September 2017

Divine Heartbeat

Luke 15:11-31 
While he as still a long way off, his father saw him coming. Filled with love and compassion, he ran to his son, embraced him, and kissed him (v.20).


If we could listen to the heartbeat of God, what would we hear? Peo---ple. Peo---ple. Peo---ple... This reality amazes both mortals and angels. The psalmist asks, "What are mere mortals that you should think about them, human beings that you should care for them?" (Psalm 8:4). And angels watched in holy awe at the unfolding of God's redemption plan for mankind (1 Peter 1:12).

God's love for people is amazing---especially when you consider that ministering to people is often difficult, tiring, and heavy on heartache. People are fickle---good one moment, bad the next. Look at King David. Look at the apostle Peter. Look at me. We are consistently inconsistent!

Yet we repeatedly find similar storylines to Luke 15:11-31 in God's Word. Let's take a look at the pattern:
  • Man disobeys God---The younger son overtly disobeyed his father. The older brother appeared to outwardly honor his father, while he was inwardly unhappy with him (vv.13, 29-30).
  • God initiates reconciliation---The father went out to meet both of his sons (vv,20,28), His heart was "filled with love and compassion" (v.20). And he humbled himself and begged (v.28) his older son to rejoice with him in the family reunion.
  • Two responses---The younger son repented, while the older brother would not rejoice with his family despite his father's pleas.

God's love for people should be our clear example. As we come to understand His heartbeat, it compels us to love others. The apostle Paul captured the heart of God and the ministry He's given us when he wrote, "We are Christ's ambassadors; God is making His appeal through us. We speak for Christ when we plead, 'Come back to God' " (2 Corinthians 5:20).


Read more: 
Hosea 11:7-8 "My people are determined to desert Me. They call Me the Most High, but they don't truly honor Me . . . . My heart is torn within Me, and My compassion overflows."

Next: 
How do you show God's love to others? In what ways can you be His ambassador of reconciliation?



/Poh Fang Chia/Our Daily Journey with God Volume 1

Copyright 2007, Pelayanan Medis Nasional (PMdN) Perkantas

Jl. Pintu Air Raya 7, Komplek Mitra Pintu Air Blok C-5, Jakarta Pusat
Telp. (021) 3522923, 3442463-4 Fax (021) 3522170
Twitter : @MedisPerkantas
Download Majalah Samaritan Versi Digital : https://issuu.com/samaritanmag