Senin, 16 Juli 2018

KESEIMBANGAN WAKTU LIMA ASPEK KEHIDUPAN (Bagian 1)

          Bagaimana Perjanjian Baru memandang kehidupan ini? PB menggolongkan dalam lima kategori utama. Kelima kategori ini jelas dapat dibaca dalam bagian 'penerapan' surat-surat Paulus yang utama: Roma 12-14; Galatia 5-6; Efesus 4-6; dan Kolose 3-4. Juga dapat dibaca dalam beberapa bagian lainnya. Lima bidang itu ialah: (1) Kehidupan pribadi Anda, termasuk hubungan Anda dengan Allah, emosi Anda, dan bidang lainnya yang bersifat pribadi, bidang yang menyangkut Anda sebagai satu individu; (2) keluarga Anda, termasuk pernikahan Anda, anak-anak Anda, dan hubungan Anda dengan orang tua Anda sendiri dan dengan setiap orang yang menjadi tanggungan Anda; (3) kehidupan gerejani Anda, termasuk baik gereja setempat Anda maupun keterlibatan Anda dengan semua orang Kristen di tempat lainnya; (4) pekerjaan Anda, termasuk apa yang Anda kerjakan, bagaimana Anda mengerjakannya, bagaimana Anda berhubungan dengan para pemberi pekerjaan, rekan-rekan kerja, dan para pelanggan produk dan hasil pekerjaan Anda; (5) kehidupan bermasyarakat Anda, termasuk segala tanggung jawab Anda kepada pemerintah, dan hubungan-hubungan Anda dalam masyarakat yang lebih luas terutama dengan orang-orang yang bukan Kristen.

          Pendapat ini disampaikan oleh Dough Sherman dan William Hendriks dalam tulisan berjudul "Hidup Untuk Akhir Pekan" yang merupakan salah satu pasal dalam buku "Pekerjaan Anda Penting Bagi Allah". Mereka menyebut kelima kategori ini sebagai panca-lomba. Kelimanya tidak dapat disusun dalam suatu hierarki karena kelimanya saling memberi dampak. Tapi kelimanya dapat diwujudkan dalam suatu keseimbangan yang realistik. Oleh karena itu untuk menyeimbangkan kelimanya diperlukan kemampuan mengatur waktu. Bagaimana caranya?


Keseimbangan Pekerjaan, Keluarga, Waktu Luang
          Dough dan William menyarankan, Pertama, menyusun kehidupan doa di sekeliling panca lomba. Cara ini akan memastikan kita tetap sadar akan tanggung jawab kita dalam kelima bidang itu. Juga akan membuat pekerjaan kita dalam keadaan tarik menarik dengan bidang-bidang lainnya, sehingga kita tidak hanya terfokus pada satu bidang saja. Kedua, menentukan berapa banyak waktu yang diperlukan dalam pekerjaan. Batasan banyak memang relatif, tetapi dapat dijadikan acuan hal berikut ini: dalam semua pekerjaan, orang harus menentukan harga yang harus dibayar untuk apa yang diperolehnya, dan pikirkanlah dampak pekerjaan itu pada keluarga Anda. "Jika membela pekerjaan Anda berarti mengorbankan pernikahan dan anak-anak Anda, maka secara Alkitabiah, Anda perlu mengkaji kembali apakah Anda sudah berada di pekerjaan yang tepat!" tegas keduanya. Ketiga, menetapkan waktu untuk pulang kerumah. Jika kita sudah menetapkan terlebih dulu kapan harus meninggalkan tempat kerja, maka hal ini akan menolong untuk mengatur dan memprioritaskan jam kerja untuk hari itu. Keempat, merencanakan bidang-bidang bukan pekerjaan sama seperti merencanakan bidang-bidang pekerjaan. Maksudnya? Di dalam buku agenda kita, kita perlu mencatat bukan saja segala yang perlu kita ingat dan janji-janji yang berkaitan dengan pekerjaan semata, tapi kita juga perlu mencatat waktu yang disediakan untuk keluarga, komitmen kita terhadap gereja dan pelayanan, keterlibatan pribadi kita dalam masyarakat, dan rencana-rencana pribadi kita. Bila Anda sudah berkeluarga, saran keduanya, alangkah baiknya mengajak pasangan hidup untuk membicarakan hal ini.

          Kelima, menjaga penggunaan energi emosi. Memang benar bahwa pekerjaan sangat berarti untuk kita, dan kita harus membuat komitmen emosional untuk hal ini agar semua pekerjaan berjalan beres. Tapi, Allah tidak pernah bermaksud agar pekerjaan memperbudak Anda secara psikologis. Jika pekerjaan harus ditinggalkan, tinggalkan pekerjaan itu. Sehingga ketika berada di rumah, yang dikenakan adalah 'pakaian' rumah, bukan 'pakaian' kerja. Keenam, memelihara satu hari sabat. Satu hal yang penting, sabat itu hari perhentian, hari istirahat dari pekerjaan yang memberi penghasilan. Tekanan apapun yang merampas kita dari ketenangan dan istirahat di dalam kasih karunia Allah itu, seharusnya ditolak, kata Doug.

          Ketujuh, menumbuhkan minat dan komitmen di luar pekerjaan. Doug menulis pengalamannya, "saya mengetahui, bahwa sebagian besar pekerjaan saya ialah berbicara di depan banyak orang atau memberi konsultasi di mana saya terlibat dalam memecahkan berbagai masalah. Jadi, bagi saya untuk dapat bersantai dan terlepas dari pekerjaan ialah dengan masuk ke dalam sesuatu di mana saya tidak berada di depan banyak orang atau tidak memecahkan masalah orang lain. Kebetulan saya mendapati, bahwa bersepeda, berenang, dan berlari, merupakan hal yang dapat saya nikmati. Bagi Anda ini mungkin kedengarannya bukan sesuatu yang dapat membuat Anda santai, tetapi bagi saya ini merupakan istirahat total, secara mental, psikis, dan emosional, dari pekerjaan. "Untuk bisa sepertinya, perlu ditumbuhkan minat yang mengungkapkan aspek lain yang ada dalam diri kita yang tidak berkaitan dengan pekerjaan.

          Kedelapan, ini masih ada hubungannya dengan yang ketujuh, yakni, jangan hanya menjadi penonton padahal seharusnya Anda melakukannya. Maksudnya? Beristirahat atau waktu luang bukan berarti tidak melakukan apa-apa. Barangkali memang kita terlalu letih karena aktivitas kita sehingga tidak dapat berpikir untuk melakukan sesuatu. Tetapi, kata Doug, sesungguhnya lebih menyenangkan dapat melakukan sesuatu daripada hanya menonton orang lain yang melakukan sesuatu itu.


Bagian 1- Bersambung ke bagian 2.
________________________________________________________
KESEIMBANGAN WAKTU LIMA ASPEK KEHIDUPAN oleh Ida Cynthia S.
dalam Majalah Samaritan No 4/November 1999-Januari 2000

Rabu, 20 Juni 2018

STRESSBUSTER (Bagian 2)

STRESSBUSTER Bagian 2 (Lanjutan dari bagian 1)


          Ketiga, pilihlah teman-teman Anda. Kalau Anda tahu bahwa teman-teman Anda berpotensi meningkatkan stres Anda, membuat Anda banyak membuang waktu, dan membuat Anda tidak berbuah, hindari mereka. 

          Carilah teman-teman yang dapat membuat Anda tetap bertumbuh dan serta dapat memberi semangat kepada Anda. Seorang yangmemiliki kemampuan akademik yang sama, kemudian dapat menentukan keberhasilan studi Anda, serta memiliki strategi untuk bekerja sama, merupakan teman yang ideal. Sangat baik jika kalian dapat mengambul liburan bersama di akhir pekan, apalagi jika memiliki kawan-kawan yang bukan dari kalangan medis. Ini akan mencegah kalian ber-talk shop. pada saat menikmati liburan.

          Namun satu-satunya sahabat yang ideal adalah Yesus. Dia telah berjanji bahwa Dia akan senantiasa menyertai kita (Yohanes 14:23, 15:13-15). Dia siap mendengar saat kita berbicara mengenai pergumulan-pergumulan kita dan tekanan yang kita hadapi (Roma 8:26-27). Dia sangat memahami kita sebab ketika Dia berada di dunia Dia juga mengalami pencobaan dan mengalami tekanan di dalam melaksanakan misi-Nya (Matius 4:1-11). Tetapi Dia juga berjanji akan menolong kita pada saat akan mengalami tekanan. Yesus berkata bahwa Dia akan mengirimkan Roh Kudus yang akan menolong dan memberi kedamaian. Ia juga mengingatkan kita bahwa Dia adalah Allah atas seluruh kehidupan kita, termasuk ujian-ujian kita.

          Keempat, jagalah perspektif Anda. Ketika pikiran Anda hanya terpusat pada masalah-masalah ujian, Anda akan mudah 'terlepas' dari perspektif hidup Anda. Kegagalan dalam ujian membuat diri kita seperti orang terlantar, karena hal itu merupakan peristiwa terburuk dan menimbulkan ketakutan sehingga dapat melipatgandakan tingkat stres kita sampai akhirnya kita menjadi sangat panik.

          Saya selalu mencegah hal seperti itu terjadi. Menjelang ujian, saya justru melakukan hal-hal di luar materi ujian, misalnya membaca novel, nonton, menikmati secangkir kopi dan makanan kecil, tanpa dihantui oleh stres. Dan saya tetap dapat menjaga perspektif saya sehingga saya bisa mengucap syukur kepada Allah untuk setiap hal baik di dalam hidup saya.

          Medis bukanlah tujuan akhir atau segalanya dalam hidup, dan bukan prioritas utama di mata Allah. Ada hal yang lebih penting! Yaitu hubungan kita dengan orang lain dan di atas semuanya itu, hubungan dengan Bapa di surga haruslah lebih utama daripada karir kita (Matius 6:33).

          Dalam Kotbah di Bukit Yesus mengatakan kepada kita perbandingan antara perspektif Kerajaan Allah dan perspektif dunia. Perspektif kita tentang kekekalan tidak sesederhana konsep dunia. Kita mesti memusatkan pada hal-hal yang kekal daripada yang fana (Matius 6:19-20), melayani Tuhan daripada karir kita, dan tidak berpusatkan pada kepemilikan kita (Matius 6:24). Yesus mengatakan ini dengan tegas, dan siapa yang mempercayai-Nya atas masa depannya, akan diberi-Nya kedamaian.

          Ujian memang penuh dengan ketegangan (stres). Tetapi kita dapat menurunkan ketegangan itu dengan membuat perencanaan ke depan yang baik, mengambil istirahat yang seksama, memilih teman-teman yang tepat, dan tetap menjaga perspektif kita. 

          Di atas semuanya itu kita perlu menjaga segala sesuatu yang kita lakukan dalam perspektif masa depan yang setiap orang akan hadapi. Ujian-ujian hanyalah kumpulan beberapa pertanyaan yang harus kita jawab. Namun hanya ada satu jawaban yang benar, dan 'jawaban' itu yang kerap kita abaikan. Yesuslah jawabannya.


          Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah. Dan inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat. Sebab barangsiapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak; tetapi barangsiapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah. (Yohanes 3:16-21).


_________________________________________________________
STRESSBUSTER oleh Jim Paul (Nucleus, April 1999)
Dalam Majalah Samaritan Edisi 1 Tahun 2000

Kamis, 07 Juni 2018

STRESSBUSTER (Bagian 1)

        Ujian. Rata-rata 80 hingga 100 persen dari waktu dan kehidupan orang-orang di lingkungan kedokteran atau medis berada di seputar ujian: apakah itu ujian-ujian sekolah (semacam kuis mata kuliah), ujian pra klinik, BSc, dan kemudian ujian pasca kelulusan. Bagi para dokter, ujian-ujian merupakan gambaran dan penentuan masa depannya. Tentu saja bagi mereka -juga buat saya- kehidupan di seputar ujian ini penuh dengan tekanan (stress). 

        Apa ada yang dapat kita lakukan dalam hal ini? Saya ingin memberikan beberapa nasihat, didasarkan pada pengalaman pribadi dan hikmat Tuhan. Semoga ini berguna bagi Anda.


        Pertama, rencanakan revisi (perbaikan) Anda. Ketika di sekolah menengah saya bergabung dengan klub olah raga permainan rugby. Dalam permainan kami lebih bersemangat dan antusias daripada suara orang-orang yang menyoraki kami. Namun saya melihat sesuatu yang berbeda dengan tim lawan kami. Tim kami bermain sebagai individu-individu (15 orang). Sebaliknya tim lawan bermain sebagai satu tim. Tim kami melakukan permainan dengan cara kami masing-masing, seringkali malah mengabaikan kesempatan yang berharga. Sebaliknya tim lawan bermain dengan strategi. Setiap set, tim lawan mengetahui apa yang akan mereka lakukan. Mereka memiliki rencana permainan, dan mereka menang karena itu.

        Ketika ujian tiba, banyak di antara kita seperti tim rugby kami, kita cenderung mengabaikan kesempatan yang ada. Kita bekerja keras tetapi sebatas melakukan rencana jangka pendek saja, dan kalaupun melakukan rencana belajar jangka panjang, tidak realistik dalam arti sulit dilaksanakan. Jika kita ingin berhasil, kita perlu mengibah strategi belajar kita. Bagaimana caranya?

a) Kadar yang relatif dari subyek yang berbeda. Perubahan perlu dimulai ketika waktu yang kita miliki sudag memadai untuk mengcover semua materi (subyek) pelajaran yang akan diuji. Tetapi waktu yang dialokasikan untuk tiap materi sangat relatif, tergantung nilai kepentingannya. Materi yang berat seoerti Operasi memerlukan persiapan sekitar tiga minggu. Sedangkan materi yang lebih ringan seperti rhematology hanya perlu persiapan beberapa hari saja.
b) Mengantisipasi topik-topik. Soal-soal ujian memiliki topik-topik favorit yang digunakan untuk menguji pengetahuan dasar dan penerapannya dari para kandidat dokter. Porphyria dan congenital adrenal hyperplasia mungkin jarang kita temukan dalam kehidupan nyata, namun tidak demikian dalam soal-soal ujian. Jika memungkinkan (dan dianggap sah) carilah satu exp soal ujian yang lalu untuk Anda, ambil ide dasar dari berbagai pertanyaan yang diajukan tersebut. Kemudian, fokuskan perhatian Anda pada rencana perbaikan yang sedang Anda lakukan untuk kemudian digunakan pada waktu yang akan datang.
c) Tipe-tipe pertanyaan. Dari soal-soal ujian yang lama tadi, perhatikan seperti apa bentuk jawaban yang diinginkan oleh soal tersebut. Kemudian, Anda dapat menuliskan essay-nya dan mempersiapkan garis besar tema untuk mengantisipasi topik-topik yang akan diuji. Jika pertanyaannya meminta jawaban yang pendek, pelajarilah materi yang non-essay. Atau, lihatlah pada buku teks beberapa jawaban yang tidak Anda ketahui.
d) Kenali kepribadian Anda. Memahami kepribadian Anda akan menolong Anda di dalam merencanakan belajar Anda. Apakah Anda termasuk 'orang malam'? Jika demikian Anda harus meluangkan waktu Anda pada malam hari untuk belajar. Jika Anda tipe 'orang pagi' bangunlah lebih pagi untuk belajar sebelum pergi kuliah atau bertugas. Menggunakan pagi hari di akhir pekan mungkin dapat menolong Anda menggunakan waktu secara efektif.


        Kedua, rencanakan periode istirahat Anda. Ketika Allah menciptakan manusia Dia tidak menyuruh kita bekerja tujuh hari dalam seminggu. Dia menciptakan kita dengan 'keterbatasan' supaya kita memerlukan sedikitnya satu hari dalam seminggu untuk beristirahat, serta membangun relasi dengan Dia. Betapa menakjubkan! Allah ingin kita mengambil waktu yang cukup untuk beristirahat. Dia tidak ingin kita menggunakan seluruh waktu kita untuk bekerja siang dan malam. Ketika kita melanggar prinsip ini kita melanggar pula hakekat diri kita sebagai ciptaan-Nya. Kita jadi sangat lelah, mudah meledak, suka membantah, dan manja dalam relasi dengan orang-orang sekitar kita. Perintah Allah agar kita berhenti sejenak dari kesibukan kita bukan untuk membeatkan kita, melainkan supaya kita memiliki interaksi dengan Dia dan sesama.

        Pada abad pertama sesudah Masehi pemerintah Roma menganggap orang-orang Kristen (saat itu sebagai tawanan) pemalas, sebab mereka minta satu hari untuk istirahat. Banyak dari mereka yang dipaksa untuk bekerja pada majikan mereka. Tetapi kemudian pemerintahan Roma segera mengumumkan bahwa orang-orang Kristen itu diizinkan untuk istirahat satu hari dalam seminggu, karena ternyata mereka bisa bekerja lebih baik dalam enam hari daripada menggunakan tujuh hari kerja dalam seminggu.

        Jika kita mengambil waktu istirahat yang sepatutnyaa, kita akan melihat bahwa efisiensi pekerjaan kita akan meningkat daripada sebelumnya. Jika kita menyediakan waktu untuk rileks, memberi ruang untuk memikirkan kembali kehidupan kita dan menikmati relasi dengan sesama, maka kita akan lebih termotivasi untuk melakukan belajar pada waktunya. Dan akhirnya kita akan mampu melakukan pekerjaan dengan lebih baik daripada jika kita tidak menyediakan waktu untuk istirahat.

        Yesus sendiri perlu waktu untuk beristirahat. Dia sadar apa artinya bekerja keras, dan menjadi stres karenanya. Di dalam Injil kita kerap membaca Yesus pergi sendirian untuk berdiam diri dan mengambil tempat untuk beristirahat, berdoa dan memulihkan kekuatan (Matius 14:23, 26:36, Markus 1:35, Lukas 6:12). Melakukan misi di dunia ini dengan bekerja secara efisien sama pentingnya dengan memiliki waktu untuk beristirahat. Jika Yesus, Allah dan Pencipta alam semesta ini perlu beristirahat, begitu juga kita. Bagaimana beristirahat dengan tepat?

a) Miliki satu hari penuh untuk istirahat setiap minggunya. Setengah hari istirahat sudah baik, tapi idealnyaadalah sehari penuh karena memang sulit untuk menikmati waktu rileks pada saat break yang pendek. Mengambil periode istirahat yang panjang berarti Anda akan betul-betul 'lepas'. Umumnya, hari Minggu merupakan hari yang tepat untuk beristirahat dan menyediakan banyak waktu dengan Tuhan dan orang lain. Mungkin Anda sulit mengambil hari istirahat sehari penuh, terutama ketika kita merasa tertekan, tetapi saya yakin bahwa Allah memberi damai sejahtera dan kekuatan untuk memampukan kita bekerja lebih baik di minggu depannya.
b) Jadikan istirahat rutin (meski singkat), sebagai upah atas keberhasilan kita. Disiplin merupakan kepuasan yang tertunda, bukan tanpa kepuasan. Sangat berguna jika kita mengambil 15 menit break setiap satu jam kerja. Gunakan momen ini sebagai upah atas pekerjaan yang telah diselesaikan dengan baik, juga sebagai waktu untuk mengaso. Apa yang dapat kita lakukan? Berjalan-jalan, menikmati musik, membaca novel, dll.
c) Tetapkan batas yang pantas untuk break Anda. Jangan biarkan pekerjaan menyita waktu istirahat Anda. Hal itu mudah terjadi terutama jika kita tidak dapat menyelesaikan tugas-tugas sesuai deadline.jauh lebih baik jika dalam kesibukan tersebut Anda tinggalkan tugas itu sejenak dan kembali lagi setelah kondisi Anda segar. Juga, jangan sampai kepanikan menghentikan waktu break yang seharusnya Anda miliki. Kalau itu terjadi, inefisiensi pekerjaan Anda akan meningkat. Kepanikan menjelang ujian, akan menggoda kita untuk belajar lebih panjang dan meniadakan waktu istirahat kita. Padahal semakin lama kita belajar, kita akan lebih lelah, tertekan/stres, sehingga kualitas (hasil) belajar tidak seperti yang diharapkan. Jika Anda merasakan kekosongan pikiran (blanky) sampai 15 menit, itu berarti Anda harus segera berhenti sejenak.
d) Pada saat break, Anda harus benar-benar beristirahat. Waktu istirahat harus digunakan betul-betul untuk istirahat. Jangan gunakan waktu istirahat dengan melakukan hal-hal lain yang berpotensi membuat stres. Misalnya, melakukan persiapan sekolah minggu atau persiapan pelayanan kelompok kecil. Usahakan orang lain saja yang mengerjakannya selama Anda ujian. Di luar tugas-tugas belajar, lakukan kegiatan-kegiatan yang sifatnya rileks. Misalnya menyendiri, berolah raga, atau bersosialisasi dengan kawan-kawan Anda.
e) Sebaliknya, jangan biarkan waktu break yang singkat menjadi istirahat panjang. Untuk mencegah kita melakukan hal tersebut, ada nasihat yang baik dari Amsal 24:30-34. "Aku melalui ladang seorang pemalas dan kebun anggur orang yang tidak berakal budi. Lihatlah, semua itu ditumbuhi onak, tanahnya tertutup dengan jeruju, dan temboknya sudah roboh. Aku memandangnya, aku memperhatikannya, aku melihatnya dan menarik suatu pelajaran. "Tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi, melipat tangan sebentar lagi untuk tinggal berbaring," maka datanglah kemiskinan seperti seorang penyerbu, dan kekurangan seperti orang yang bersenjata."


Bagian 1-bersambung ke bagian 2..
_________________________________________________________
STRESSBUSTER oleh Jim Paul (Nucleus, April 1999)
Dalam Majalah Samaritan Edisi 1 Tahun 2000

Rabu, 23 Mei 2018

Miskin di Hadapan Allah


“Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga” (Matius 5:3)


Dengan mata berbinar-binar disertai rasa bangga, seorang aktivis gereja bersaksi di depan saya bahwa di dalam downline usaha sejenis multi level marketing-nya terdapat seorang dokter yang punya rumah dan penghasilan lumayan besar karena dari usaha sampingan itu. Dokter itu kini tak lagi berpraktik sesuai dengan profesinya yang mulia. Dari hard working ia beralih kepada smart working, begitu kata sebagian orang.

Dalam pikiran saya, mungkin dokter itu dulu salah menentukan pilihan jurusan studi sehingga ia telanjur sudah membuang banyak waktu dan uang dengan memasuki fakultas kedokteran yang sulit dan mahal. Namun bila itu adalah jurusan studi sesuai pilihan hatinya, betapa tidak relevannya sapaan bahagia Yesus, apalagi di dalam masyarakat yang menganut pemeo “Uang adalah kuasa” atau, lebih seram lagi, “Ketika uang bicara, Tuhan pun mendengar.”

Orang awam mana yang mau menjadi tak berdaya atau menjadi obyek eksploitasi, hanya agar disayang Tuhan? Dalam semangat zaman konsumerisme di mana kita diukur dari apa yang kita pakai mulai dari pakaian hingga kendaraan dan itu semua ada nilainya dalam rupiah, kemiskinan tampaknya tidak cocok sebagai sebuah gaya hidup modern.

Radikalitas Kristen

Panggilan hidup menjadi Kristen bersifat radikal. Ketika masyarakat mengukur sukses lewat kekayaan, Tuhan justru menegaskan bahwa kekayaan bukan andalan hidup untuk jangka panjang. Untuk jangka panjang, dibutuhkan lebih daripada itu. Namun, radikal bukan berarti aneh. Apalagi, fundamentalis. Radikal berarti mengikut Yesus tidak bisa setengah-setengah.

Kecenderungan pragmatis manusia adalah mau surga juga mau kaya. Tetapi, bukannya omong kosong ketika Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Surga. Sekali lagi Aku berkata kepadamu, lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah” (Mat. 19:23-24).

Radikalitas panggilan hidup sebagai Kristen didasari pada realitas hidup dan pada level realitas yang lebih dalam. Kita datang ke dalam dunia dan meninggalkannya tanpa apa-apa. Dalam kesadaran tentang siapa diri kita sebenarnya itulah seharusnya kita hidup. Sudah sepantasnya, selama hidup di dunia kita bersandar penuh pada Tuhan. Itulah sebuah cara hidup yang mendatangkan kebahagiaan.

Di mana-mana orang sebenarnya mengejar kebahagiaan. Dari kodratnya, manusia mempertanyakan arti hidupnya. Bahkan, orang yang berhasrat mau cepat mati sebenarnya sedang merasa lebih baik mati daripada hidup; sejelek-jeleknya mati, setidaknya itu akan melepaskannya dari sebuah keadaan yang menyusahkannya dan tidak membuatnya bahagia.

Tetapi mengherankan, tak satu kali pun ada perintah Tuhan di dalam Alkitab agar kita mengejar kebahagiaan, meski banyak sekali perintah-perintah lain. Bukan karena Tuhan tidak peduli apakah manusia bahagia atau tidak, tetapi memang kebahagiaan bukan sesuatu bisa diperoleh karena dikejar. Kebahagiaan bukan benda yang ditemukan dan kemudian bisa disimpan.

Persis, di sini orang sering salah dalam membayangkan kebahagiaan. Orang mengejar kekayaan dan berpikir untuk bahagia. Padahal, setelah menjadi kaya, orang tidak otomatis menjadi bahagia. Istri dari suami yang begitu rajin mencari uang hingga tak ada waktu cukup untuk keluarga bisa merenung di rumah, “Aku menikah dengan kekayaan atau dengan suamiku?”

Kebahagiaan

Kebahagiaan adalah sebuah kondisi hidup. Hal-hal yang membahagiakan biasanya datang lewat suatu pengorbanan, bukan karena dikejar. Lebih tepat sebenarnya orang tidak mengejar kebahagiaan tetapi menikmatinya. Kebahagiaan untuk dinikmati. Dan, ia datang sebagai buah pengorbanan, kerja keras, keringat. Maka, berhadapan dengan tantangan hidup, meski bisa lari, sebaiknya kita menghadapinya sambil bersandar pada Tuhan.

Itu sebabnya salah satu kondisi hidup yang membawa kebahagiaan adalah miskin di hadapan Allah. Orang miskin pada masa Yesus termasuk kelompok papa, yang untuk melalui hidupnya hari demi hari tak ada jaminan untuk hari esok. Tidak hanya miskin harta, mereka juga miskin kuasa, tanpa akses untuk mempengaruhi penguasa dan pengambil keputusan. Orang miskin juga kurang beragama, tidak tahu detail peraturan agama, sering melanggar ritual agama, kurang ketat memelihara hukum-hukum agama, kurang rajin sembahyang, tidak saleh.

Kalau begitu, mengapa orang miskin disayang Tuhan? Apakah ini glorifikasi kemiskinan? Apakah ini sebuah penghiburan kosong bagi orang tak punya? Alkitab tak pernah menyatakan menjadi miskin dan tetap hidup miskin adalah keadaan yang baik. Kemiskinan tak pernah dipuja-puja sebagai sebuah idealisme hidup sebab kemiskinan bisa membuat orang mencuri dan mencemarkan nama Tuhan (Ams. 30:8-9).

Banyak tokoh iman dalam Alkitab tergolong orang berada pada masanya, sebut saja Abraham dan Ayub. Tuhan tidak mengutak-utik kemakmuran mereka. Sekali lagi, yang terutama bukan soal kaya atau miskin, tetapi orang miskin lebih mempunyai sikap pasrah sebab tak ada sesuatu lain yang bisa diandalkan. Miskin harta dan koneksi, mereka lebih mudah bersandar pada Tuhan dalam arti sebenarnya. Kerajaan Surga menjadi milik orang yang tahu menggantungkan hidup sepenuhnya pada Tuhan. Memperoleh Kerajaan Surga bukan dengan harta duniawi yang fana, tetapi dengan kebergantungan mutlak pada Tuhan.

Untuk itu, di hadapan Tuhan memang bukan miskin secara lahiriah yang menentukan segala-galanya, tetapi sikap hati seperti orang miskin. Mampu mensyukuri nikmat harta yang ada. Sadar bahwa kekayaan kita adalah titipan Tuhan kepada kita untuk kebahagiaan kita dan untuk kelancaran kita dalam bekerja, agar kemudian kita mampu membahagiakan orang lain. Uang, rumah, mobil, deposito, semua itu dibutuhkan selama hidup di dunia, namun sifatnya fana. Hari ini milik kita, besok bisa melayang pindah tangan atau rusak. Kita tidak tahu berapa lama kita boleh memilikinya. Yang penting, selama masih pada kita, jangan sampai harta itu membutakan penglihatan kita bahwa Tuhanlah penentu kesejahteraan kita.

Hidup adalah pertarungan antara idealisme dan pragmatisme. Dan, pertarungan itu tak pernah berakhir. Bisa saja konsumerisme mengalahkan idealisme, drive untuk menjadi kaya dengan cara mudah mengalahkan kepentingan menikmati kebersamaan dalam keluarga. Kalah menang memang biasa. Tetapi, ada kekalahan yang ongkos sosial atau rohaninya amat besar. Orang arif tak akan membiarkan kekalahan demikian.

_____________________________________________________
Penulis: Yonky Karman
Dalam Majalah Samaritan Edisi I Tahun 2005

Rabu, 16 Mei 2018

Melakukan Pekerjaan Baik


“Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.” (Efesus 2:10)

 

Bekerja adalah kodrat manusia. Allah menciptakan manusia dengan tugas menaklukkan dan menguasai dunia ini bagi Dia (Kej. 1:26). Manusia pertama, Adam mendapat tugas mengolah dan memelihara Taman Eden serta menamai binatang-binatang yang Tuhan tempatkan di sana (Kej. 2:15, 19-20).
Seberapa susah dan beratkah pekerjaan yang menjadi kewajiban manusia pertama? Pekerjaannya mungkin tidak terlalu berat karena semua masih dalam keadaan harmonis dan asri: alam bersahabat dan binatang pun jinak. Namun, tanggung jawab manusia pertama besar. Kuasa yang diberikan Allah kepadanya besar maka pertanggungjawabannya juga besar.
Setelah pasangan manusia pertama jatuh ke dalam dosa, tugas mereka tidak berubah dan pertanggungjawaban mereka tetap sama. Hanya saja sekarang pelaksanaan menjadi bertambah berat karena dunia tidak lagi harmonis. Alam menumbuhkan semak duri yang mengganggu upaya bercocok tanam. Sesama manusia tidak lagi menjadi rekan kerja yang seirama dan serasi melainkan pesaing dan penghambat karir. Kasus seperti Kain membunuh Habil dan Lamekh membunuh seseorang merupakan kasus yang berkembang seiring dengan berkembangnya masyarakat dan kebudayaan.
Setelah air bah, Allah dalam anugerah-Nya menetapkan Nuh dan keluarganya untuk membangun kembali melalui pekerjaan mereka dunia yang telah diperbarui (Kej. 9:1, 7). Mereka tetap gambar Allah yang dipanggil untuk menaklukkan dan menguasai dunia ini bagi kemuliaan Allah (Ay. 6). Bekerja adalah panggilan untuk mewujudkan hal tersebut.



Pekerjaan Menara Babel.
Dalam keberdosaannya manusia memilih untuk mengarahkan hidup mereka melawan rencana dan panggilan Allah dengan mendirikan menara Babel (Kej. 11:1-4). Kerja bagi mereka adalah sarana untuk mencapai kemandirian dan kebebasan dari Sang Pencipta mereka. Hal ini menjadi tipikal dunia bekerja sampai pada zaman sekarang. Bagi mereka keberhasilan berarti lepas diri dari otoritas Allah dan menikmati hidup ini tanpa bayang-bayang kendali dari pihak lain.
Segera kita dapat melihat bahwa semua cita-cita atau idealisme seperti itu adalah omong kosong. Pertama, Allah yang berdaulat tidak membiarkan manusia melangkah keluar dari kodratnya dan bebas dari konsekuensinya. Dalam kisah menara Babel, Allah mengintervensi upaya arogansi manusia tersebut dan mengacaukan bahasa mereka sehingga mereka dipaksa untuk berpencar ke penjuru dunia (Kej. 11:8-9). Dengan demikian, mereka secara terpaksa menggenapi rencana Allah agar manusia memenuhi bumi ini.
Kedua, kenyataan mereka bisa mencapai satu titik keberhasilan tidak akan menjamin mereka akan menikmati keberhasilan itu. Itu yang dikatakan oleh Kitab Pengkhotbah. Pengalaman hidup yang dituliskan Si Pengkhotbah nyata dan jelas menunjuk kepada kesia-siaan hidup. Semua keberhasilan yang bisa dipikirkan dan yang telah dicapai oleh manusia tidak menjamin hidup menjadi berarti dan memuaskan (Pengkh. 2). Dengan kata lain kemandirian dan kebebasan dari Allah tidak membuat manusia menikmati hidup sebagaimana Allah telah menggariskannya bagi mereka. Alhasil, tujuan hidup mereka tidak tercapai.
Pekerjaan Menara Babel yang sampai masa kini tetap menjadi filosofi hidup di luar Tuhan bisa mengambil bentuk yang berbeda, namun esensinya sama. Salah satu contoh, dunia modern mengenal bekerja sebagai sarana aktualisasi diri. Manusia menemukan arti hidupnya dengan bekerja. Manusia merasa dengan bekerja ia mampu mengendalikan hidup. Ia bebas memilih pekerjaan, karir, profesi, dan sebagainya. Tidak jarang hal kerja menjadi satu-satunya aspek yang ditekuninya mati-matian dengan mengabaikan aspek-aspek lain dari kehidupannya yang sebenarnya membutuhkan perhatian. Ada pula orang lain yang memilih untuk mencengkeram sebanyak-banyaknya peran dalam hidup ini dengan alasan yang sama, yaitu mengendalikan hidup. Semua aspek kehidupan ia coba kendalikan dan taklukkan di bawah egonya yang besar. Pada dasarnya ia dikendalikan oleh perasaan tidak aman bila tidak mampu mengendalikan hidup ini. Ini salah satu jenis perbudakan yang paling menyedihkan: menyangka diri mengendalikan hidup, tetapi sebenarnya dikendalikan oleh kebutuhan mengendalikan itu sendiri!
Pekerjaan Menara Babel tidak lebih daripada perbudakan dosa. Manusia merasa harus bekerja untuk mengendalikan hidupnya. Sebenarnya kendali hidup mereka bukan pada mereka, melainkan pada kuasa dosa yang membuat manusia tidak mampu melihat ke luar dirinya dan mengenali kodratnya sebagai ciptaan; bahwa kendali hidup ada pada Allah. Itu pula yang dikatakan oleh Paulus pada perikop sebelum nas kita. “Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu. Kamu hidup di dalamnya karena kamu menaati penguasa kerajaan angkasa… di dalam hawa nafsu daging dan menuruti kehendak daging dan pikiran …jahat.” (Ef. 2:1-3). Pekerjaan Menara Babel adalah pekerjaan daging.

Pekerjaan Kristus bagi kita

Oleh rahmat-Nya kita dihidupkan kembali dari kematian rohani itu, sehingga kita menjadi manusia baru (Ef. 2:4-5). Kristus berkarya melalui kematian dan kebangkitan-Nya untuk melepaskan kita dari belenggu dosa. Dengan demikian, hidup kita tidak lagi diperbudak oleh Iblis, keinginan dunia, dan hawa nafsu kedagingan, melainkan telah menjadi milik Kristus. Demikian juga, Kristus sebagai gambar Allah yang sempurna telah meninggalkan teladan hidup, pengajaran, dan pelayanan-Nya sehingga kita memiliki panutan sempurna menjalani hidup sebagai gambar Allah yang sudah diperbarui.
Jadi, karya Kristus bagi kita bersifat memberikan kuasa hidup baru dalam diri kita untuk hidup suci dan berkenan kepada Allah, sekaligus memberikan contoh yang dapat kita terapkan tentang bagaimana menjalani hidup suci tersebut. Pekerjaan Kristus bagi kita memampukan kita menjalani hidup ini dengan melakukan perbuatan baik yang Allah rencanakan dalam hidup kita.

Pekerjaan baik orang Kristen

Penebusan Kristus bagi kita adalah dalam rangka mengembalikan kita kepada maksud dan tujuan Allah yang semula bagi manusia ciptaan-Nya. “…diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya.” Secara umum pekerjaan baik itu adalah menjadi representatif Allah di dalam dunia ini sebagaimana tujuan Allah menjadikan manusia sebagai gambar-Nya. Oleh karena itu, setiap anak Tuhan harus menjadikan pekerjaan baik sebagai tujuan hidupnya selama di dunia ini. Sekaligus, pekerjaan baik itu menjadi standar untuk menilai segala pekerjaan yang akan, sudah, dan sedang kita lakukan.
Bagaimana menilai pekerjaan kita berdasarkan pekerjaan baik itu? Beberapa hal yang harus diingat adalah: pertama, pekerjaan kita dinilai bukan semata-mata dari hasil akhirnya, tetapi terutama dari motivasi yang mendorongnya dan dari prosesnya. Motivasi untuk memuliakan Allah dan menyejahterakan orang lain serta proses bekerja yang sesuai dengan karakter Allah harus selalu menjadi bagian tidak terpisahkan dari hasil akhir yang akan dicapai (1Kor.3:5, 10-13). Hasil akhir dinilai baik bukan hanya karena prestasi kuantitatifnya tetapi juga prestasi kualitatifnya, yaitu nilai-nilai yang dihasilkan dari pekerjaan tersebut.
Kedua, pekerjaan dinilai baik dari relasi-relasi yang terkait di dalamnya. Pekerjaan baik Kristus untuk manusia terjadi didorong oleh relasi Kristus kepada Allah Bapa. Kristus taat kepada Bapa untuk melaksanakan kehendak-Nya, yaitu mengurbankan diri-Nya demi menyelamatkan manusia. Akibat perbuatan baik Kristus kepada manusia, relasi manusia dengan Allah dipulihkan. Demikian juga pekerjaan kita dinilai baik dari relasi-relasi yang memotivasi pekerjaan itu (Yoh. 15:13-15) dan relasi-relasi yang kita hasilkan melaluinya. Pekerjaan yang dilakukan karena dorongan kasih, untuk kesejahteraan lebih banyak orang, didasarkan loyalitas pada pimpinan, tanggungjawab untuk menyejahterakan keluarga, dan seterusnya adalah pekerjaan baik! Demikian juga ketika pekerjaan itu menghasilkan atau memulihkan relasi-relasi di sekitar kita, misalnya para karyawan menjadi semakin senang bekerja dan bekerja sama dengan pihak pimpinan perusahaan, atau keluarga kita menjadi lebih diperhatikan daripada sebelumnya; itu adalah hasil dari pekerjaan baik kita!



Bob Buford dalam bukunya Halftime (Cipta Olah Pustaka, 2000) mengatakan ada dua masa di dalam seseorang melakukan pekerjaannya. Paruh waktu pertama ditandai dengan pengejaran kesuksesan (apa pun itu bentuknya: kekayaan, kekuasaan, kepuasan, dst.). Namun, mendekati usia separuh baya (sekitar 40-an), yaitu waktu paruhnya, orang mulai merenungkan apa yang ia sudah lakukan. Memasuki paruh waktu kedua ia mulai mencari signifikansi (keberartian) dari pekerjaannya: apa makna bekerja bagi saya; apa tujuan mulia saya bekerja; dan seterusnya.
Kita tidak perlu menunggu sampai usia menjelang 40-an untuk mencapai waktu paruh kita. Setiap kita harus dan segera merefleksikan apa yang tengah kita lakukan. Apakah kita sedang terjebak kepada tujuan hidup ‘sukses’ menurut ukuran dunia, atau kita sedang memaknai hidup sebagaimana yang Allah inginkan.

___________________________________________________________________
Oleh: Hans Wuysang
Dalam: Majalah Samaritan Edisi 2 Tahun 2005

Jumat, 27 April 2018

Sembuh Jasmani Penting, Lebih Penting Lagi Sembuh Rohani

Sesudah itu naiklah Yesus ke dalam perahu lalu menyeberang. Kemudian sampailah ia ke kota-Nya sendiri. Maka dibawa oranglah kepadanya seorang lumpuh yang terbaring ditempat tidurnya. Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: "Percayalah, hai anakKu, dosamu sudah diampuni." Matius 9:1-2


Saat Yesus datang lagi ke Kapernaum, maka datanglah orang-orang berkerumun hendak mendengar pengajarannya karena telah mendengar bahwa Ia dapat menyembuhkan orang sakit. Pada waktu itu ada seorang sakit lumpuh yang dibawa kepada Yesus oleh empat orang sahabatnya (Markus 2:3). Tapi mereka tidak dapat membawanya masuk karena banyaknya orang disitu, maka naiklah mereka ke atap rumah, lalu membongkar atap rumah itu, dan menurunkan orang itu dengan tempat tidurnya ke tengah-tengah orang banyak di depan Yesus (Lukas 5:19).

Cerita ini merupakan suatu gambaran yang sangat baik tentang adanya orang sakit yang disembuhkan oleh iman para sahabatnya. Kalau tidak karena perjuangan mereka dan iman mereka itu, maka si sakit tersebut tidak akan pernah sampai ke hadapan Yesus yang berkuasa menyembuhkan itu. Kita tidak dapat mengkristenkan seseorang, namun kita perlu berusaha dengan segala cara dan jalan untuk dapat membawa orang ke hadapan Kristus. Selanjutnya orang itu sendirilah yang akan menentukan, apakah ia mau percaya kepada Kristus atau tidak.

Cara yang dipakai Yesus untuk menangani orang yang lumpuh di dalam kisah ini sangat mengherankan. Yesus mulai dengan mengatakan, bahwa dosa-dosa orang tersebut telah diampuni. Tampaknya ada alasan untuk tindakan-Nya itu.; bahwa pada saat itu ada kepercayaan ortodoks Yahudi/Palestina kuno bahwa tak ada satu penyakit pun yang bisa sembuh kalau dosa-dosa si sakit tidak diampuni, contohnya Ayub yang dipaksa oleh sahabat-sahabatnya untuk mengakui dosa yang telah diperbuatnya agar Ayub sembuh dari sakitnya. Yang dibutuhkan orang sakit yang mempunyai keyakinan yang seperti itu hanya satu yaitu kepastian bahwa dosa-dosanya diampuni. Kepastian pengampunan itulah yang akan membawa kesembuhan kepadanya. Keadaan jiwa mempunyai pengaruh yang besar terhadap keadaan jasmani seseorang; pengobatan modern pun menyetujui hal ini.

Hanya saja cara penyembuhan yang dilakukan Yesus tersebut menjadi batu sandungan bagi para ahli Taurat. Mereka berpikir dalam hatinya: "Mengapa orang ini berkata begitu? Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah sendiri?" (Markus 2:7). Menurut mereka mengampuni adalah hak prerogatif dari Allah, maka tindakan Yesus tersebut dianggap menghina Allah. Membela Allah merupakan hal yang baik, hanya saja mereka tidak mengerti bahwa Yesus adalah Allah sendiri yang telah turun kedalam dunia ini. Mereka tidak mengenal akan Anak Manusia yang telah dinubuatkan di dalam Daniel 7:13-14 yang memiliki kuasa dan kemuliaan. Kuasa yang diberikan oleh Allah kepada-Nya adalah kuasa yang kekal, yang tidak akan lenyap, termasuk pula kuasa untuk mengampuni dosa manusia. Sangat disayangkan semangat yang besar dari ahli Taurat untuk selalu mentaati hukum Allah ini malah berbalik menjadi kejahatan yang besarhanya karena pengenalan terhadap Allah yang tidak benar.

Yesus yang mengetahui pikiran para ahli Taurat ini balik bertanya: Manakah lebih mudah, mengatakan: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah dan berjalanlah (Matius 9:5). Pertanyaan ini membuat kita berpikir bahwa tentunya lebih mudah mengatakan bahwa dosamu sudah diampuni karena tidak perlu untuk dibuktikan, sedangkan jika menyembuhkan secara jasmani akan dituntut bahwa secara kasat mata orang tersebut sembuh. Tetapi bila kemudian dikaitkan dengan sembuhnya orang lumpuh tersebut dan dikaitan dengan kepercayaan umum saat itu (sakit adalah akibat dosa), maka nyatalah bahwa Yesus berkuasa untuk mengampuni dosa si lumpuh.

Pengampunan dosa itu kemudian diikuti oleh perintah kepada si lumpuh untuk, angkat tempat tidur dan pulang ke rumah. Disini kita melihat bahwa bahwa meskipun kesembuhan secara jasmani penting, tetapi lebih penting lagi kesembuhan secara rohani. Yesus lebih mengutamakan kesembuhan rohani dari si lumpuh, meskipun Ia sesuai dengan kehendak-Nya juga mampu untuk menyembuhkan secara jasmani. Dan setelah sembuh secara rohani si lumpuh juga diberikan perintah yang harus diikuti dengan penuh kepercayaan kepada Yesus, ia percaya bahwa ia mampu untuk melakukan perintah tersebut karena Yesus-lah yang akan memberikan kemampuan baginya.

Akibat perbuatan Yesus yang menyembuhkan orang lumpuh itu membuat orang banyak memuliakan Allah yang telah memberikan kuasa yang demikian kepada manusia. Yesus dianggap luar biasa tapi tidak lebih dari itu. Yesus hanya dianggap sebagai manusia yang mampu memberi kesembuhan, namun demikian perbuatan Yesus membuat mereka lebih jauh akan bertanya: "Siapakah Dia sesungguhnya?". Manusia yang diberi karunia untuk mengampuni dosa pastilah bukan manusia biasa.

Aplikasi yang dapat kita terapkan di dalam kehidupan kita adalah:
1. Menjadi sahabat berarti harus mengusahakan segala cara dan jalan untuk dapat membawa sahabatnya kepada Kristus.
2. Senantiasa percaya kepada Yesus yang mampu memberikan pengampunan terhadap jiwa seseorang dan juga mampu memberi kesembuhan secara jasmani.
3. Berusaha untuk terus mengenal siapakah Yesus dengan lebih sungguh sehingga mampu menterjemahkan dan melakukan perintah-Nya dengan baik.
4. Mempersembahkan semua kemuliaan hanya untuk Tuhan, baik itu di dalam pekerjaan sebagai dokter, dokter gigi, para medis maupun sebagai mahasiswa.


____________________________________________________________________
Oleh: Hana Prihatini W.
Dalam Majalah Samaritan Edisi 1 Tahun 2000.

Senin, 09 April 2018

KasihMu Tuhan Menguatkan Daku

Kekuatan adalah hal yang kita butuhkan sehari-hari, entah itu kekuatan secara fisik atau rohani. Itu sebabnya banyak obat-obatan (seperti vitamin) yang dipromosikan untuk memberikan kekuatan sehingga tubuh dapat bekerja secara maksimal. Hal itu memang kita perlukan. Namun selain kekuatan jasmani, bagian besar dari yang kita butuhkan adalah kekuatan mental dan rohani untuk menghadapi kehidupan dengan tugas serta tantangan yang ada. Apalagi bagi mereka yang profesinya selalu harus berhadapan dengan manusia (contoh: medis); sangat membutuhkan kekuatan yang cukup sehingga tetap dapat bekerja dengan baik..

Kebanyakan orang yang hidup dan bekerja keras akan merasakan kelelahan secara mental dan fisik, kadang-kadang akan timbul gejala yang tidak disadari dan tidak diinginkan, seperti perasaan kosong (kesepian), dan ada juga yang mengalami kondisi depresi (merasa diri tidak berdaya, tak berguna, tak bergairah). Lalu kita mungkin bertanya, "Siapakah yang akan menolong aku?" Pemazmur pun mengalami kegelisahan-kegelisahan dalam hidupnya, sampai ia berkata, "Mengapa engkau tertekan hai jiwaku, dan gelisah dalam diriku?" (Mazmur 46:2a). Kondisi-kondisi kehidupan tidak selamanya baik, kadang baik, kadang pula kurang baik. Hal tersebut adalah wajar, namun yang perlu adalah bagaimana sikap kita dalam menghadapi kedua hal yang berbeda tersebut. Dan kadang hal itu dapat diijinkan Tuhan terjadi untuk kebaikan dan tujuan yang lebih mulia. Seperti ada cuplikan lagu kekuatan serta penghiburan: "Suka dan derita bergantian memperkuat imanku", kita memerlukan waktu yang tenang untuk memikirkannya.

Penulis terkenal, Henry Nouwen mengungkapkan ide, "Kesepian adalah salah satu hal yang dialami tiap manusia di dunia ini; dan merupakan salah satu sumber penderitaan manusia saat ini". Hal ini yang mengakibatkan banyak orang terlibat dengan obat bius, alkohol, dan bahkan bunuh diri. Berusaha melarikan diri dari kesepian membuat kita tidak realistis sehubungan dengan kemanusiaan kita. Kita sedang ada dalam bahaya menjadi manusia yang tidak berbahagia, menderita akibat ketidakpuasan dan dari keinginan-keinginan serta harapan yang tidak terpenuhi. Banyak manusia merasa takut dengan yang namanya kesepian. Berusaha menutupinya dengan berbagai aktivitas, banyak teman, atau mencari pacar yang semuanya ini diperkirakan akan dapat mengisi kekosongan yang ada. Seorang teman pernah menuliskan, "Belajar untuk menangis, belajar untuk tetap vigil, belajar untuk menunggu. Mungkin inilah arti menjadi manusia".

Solitude (ketenangan) dibutuhkan dalam mengatasi berbagai masalah kehidupan ini. Solitude sering diartikan seperti para biarawan dan biarawati yang berada di suatu tempat yang jauh dari keramaian. Memang solus (Latin), artinya adalah "sendiri", dan pada masa-masa lampau banyak orang melakukannya dengan pergi ke tempat tenang. Adalah sulit untuk berpindah dari kesepian kepada menyendiri tanpa bentuk pengunduran diri dari berbagai situasi; dan ini sekaligus mendorong orang yang ingin membangun kehidupan rohaninya untuk mencari tempat dan situasi dimana mereka dapat sendiri. Tetapi yang dimaksud dengan sendiri lebih terarah kepada sikap hati yang tenang. Pria dan wanita yang dapat membangun hatinya ini dimampukan untuk merasakan dan memahami dunia ini dari pusat yang mudah dideteksi melalui, ketika kita hidup dalam suasana hati yang tenang. Kita akan mendengarkan dengan perhatian penuh pada kata-kata dan dunia orang lain. Tetapi jika kita dikuasai oleh kesepian, kita terdorong untuk menyeleksi hal-hal yang dapat membawa kepuasan seketika kepada kita.

Sebenarnya, melalui solitude kita dapat memberikan perhatian pada keadaan dalam diri kita sendiri. Hal ini bukan berarti egois, melainkan kita memberikan diri mendengar dan melihat keadaan diri kita yang sebenarnya. Hal ini mendorong kita untuk menemukan kelembutan yang nyata guna mengasihi saudara-saudara kita; sebab dengan mengintrospeksi diri akan mengajarkan kepada kita siapakah kita sebenarnya serta siapakah saudara kita. Tanpa hati yang solitude, relasi kita dalam persahabatan, pernikahan dan lingkungan tidaklah akan kreatif. Tanpa hati yang solitude, relasi kita akan mudah menjadi menginginkan, rakus, bergantung, sentimental dan eksploitatif; karena kita tidak dapat mengalami orang lain berbeda dari diri kita, melainkan menggunakan manusia untuk memuaskan kebutuhan kita yang tersembunyi.

Selanjutnya, pemazmur yang sedang gelisah mengatakan pada dirinya, "Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepadanya, penolongku dan Allahku" (Mazmur 42:6b). Bagi pemazmur, Allah adalah sumber pertolongan yang dapat membawa pembaharuan dalam jiwanya. Kita dapat pergi mencari hiburan melalui menonton, bermain, atau bersantai, namun diatas segalanya amatlah memerlukan pelayanan yang datangnya dari Allah kita. Yesus mengatakan bahwa kekuatan kita cukup untuk menghadapi persoalan sehari, untuk itu kita memerlukan kekuatan yang diperbaharui dari hari ke sehari; seperti kita perlu makan setiap hari guna memperoleh kekuatan secara fisik. (Ada tertulis : Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap Firman yang keluar dari mulut Allah, Matius 4:4).

Dalam menghadapi hal yang melampaui kekuatan kita, kita pun membutuhkan kekuatan ekstra dari sumbernya, yaitu Allah sendiri. Seperti nasihat Paulus kepada Timotius di tengah-tengah pergumulan yang berat, ketika Paulus dipenjarakan dan ada banyak orang yang meninggalkan kekristenan. Ia berkata, "...Jadilah kuat dalam kasih karunia Yesus Kristus", (II Timotius 2:1). Kekuatan ini bukanlah dari diri sendiri, melainkan dari Yesus Kristus, dan Ia berikan melalui kasih karunia-Nya kepada kita.

____________________________________________________
Oleh: Dra. Ria Pasaribu, M.Div.,
Dalam Samaritan Vol I/No.2 tahun 1997.

Kamis, 15 Maret 2018

Doctors Who Follow Christ (JAMES DERHAM)


JAMES DERHAM
DOKTER DITENGAH RINTANGAN RASIAL

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus...”
(Matius 28:19)


Lahir di California tahun 1762, James Derham bangkit menjadi seorang dokter terkenal di tengah berbagai rintangan rasial.  Sebagian besar hidupnya dihabiskan dalam perbudakan, namun demikian ia menjadi seorang dokter keturunan Afrika-Amerika pertama di negara Amerika itu. Pencapaiannya ini lebih mengherankan ketika kita menyadari bahwa tidak lebih dari seabad kemudian barulah menjadi hal yang umum bagi seorang keturunan Afrika-Amerika untuk menapaki jenjang pendidikan dokter di Amerika Serikat.


Saya berbicara dengannya mengenai penyakit-penyakit akut dan epidemik di negara-negara dimana ia tinggal, dan sangat senang ketika  mengetahui bahwa ia sudah diperkenalkan dengan cara praktek yang sederhana namun moderen terhadap penyakit-penyakit tersebut.  Saya berharap bisa menyarankan padanya beberapa macam obat baru namun justru ia yang memberikan saran yang lebih banyak lagi,“ begitu kesaksian Dr. Benjamin Rush (1746-1813), sekaligus memperkenalkan James Derham kepada dunia.  Kesaksian Rush ini merupakan penghargaan yang tidak kecil dari seorang tokoh masyarakat terhadap seorang budak kulit hitam.

Kapan saja, menjadi seorang dokter memang tidaklah mudah. Namun coba bayangkan rintangan-rintangan yang dihadapi seorang keturunan Afrika-Amerika di tahun-tahun awal negara Republik Amerika. Bahkan di negara yang melarang perbudakan, seorang keturunan Afrika asli tetap dipandang lebih rendah oleh karena warna kulitnya. Di negara-negara bagian selatan seorang berkulit hitam menjadi sasaran perbudakan. Mereka yang menikmati emansipasi tidak dapat bersandar atau mengandalkan jaminan dari kebebasannya. Kasus-kasus penculikan para budak yang dibebaskan sangat terkenal. Orang-orang kulit hitam yang bebas dihalangi dan diperlakukan berbeda di akademi-akademi dan universitas-universitas, tidak terkecuali sekolah kedokteran. Dalam kebanyakan kasus, keterampilan-keterampilan dasar seperti menulis dan membaca dijauhkan dari orang-orang kulit hitam. Oleh karena itu menjadi seorang dokter berkulit hitam benar-benar suatu upaya perjuangan  yang luar biasa.

Orang-orang kulit hitam yang dinyatakan sebagai dokter muncul lebih awal di negara Amerika. Keterampilan mereka mungkin tidak begitu maju meskipun dalam prakteknya mereka menggunakan ramuan tumbuh-tumbuhan yang mengandung manfaat untuk menyembuhkan. Dokter-dokter jahat selalu berkajang ditengah para budak. Para dukun ini memangsa anggota dari kaum tertindas keturunan Afrika ini, yang sering hanya bisa memperoleh  sedikit  bantuan profesional jika pemilik mereka tidak mau mempekerjakan seorang dokter terlatih untuk menolong mereka.

James Derham merupakan seorang keturunan Afrika-Amerika dari negara Amerika Serikat yang dikenal sebagai dokter yang cukup berkualifikasi. Pengenalan kita yang sedikit mengenai dirinya adalah karena  ketetapan hatinya untuk menaati perintah Kristus. Tahun 1788, Derham mengadakan perjalanan spiritualnya dari Katolik di New Orleans (yang kemudian berada di bawah hukum Spanyol) ke Philadelphia untuk dibaptis dalam iman Episkopal sewaktu masa kecilnya. Di Philadelphia inilah ia bertemu dengan sang dokter dan pejuang, Benjamin Rush.

Pada waktu itu Rush merupakan seorang dokter kepala di Philadelphia, bahkan di sekitar tiga belas koloni. Sebagai lulusan Edinburg, ia merupakan salah satu dokter terbaik Amerika Serikat dan terlibat secara aktif dalam pelatihan-pelatihan yang khusus untuk para dokter lain.Perjuangannya bagi Revolusi Amerika dan ratifikasi Konstitusi membuatnya terkenal di Amerika Serikat yang baru lahir. Selanjutnya ia juga memenangkan berbagai penghargaan internasional yang membuatnya menjadi anggota dari sejumlah perkumpulan di luar negeri. Oleh karena itu penilaiannya tentang Derham sangat berharga. Ia memberikan informasi mengenai Derham ini kepada Perkumpulan Philadelphia untuk mendukung Penghapusan Perbudakan.

Menurut Rush, Derham dilahirkan sebagai seorang budak di Philadelphia sekitar tahun 1762. Dalam saat tertentu di awal kehidupannya Derham belajar membaca dan menulis. Anak ini dipindahkan ke tempat Dr. John Kearsley Jr, seorang dokter dan ahli penyakit tenggorokan di Philadelphia. Kearsley melatih sang anak untuk membuat campuran obat dan menunggui pasien-pasiennya.

Kehidupan sebagai seorang budak merupakan kehidupan yang tidak menentu. John Kearsley merupakan seorang yang sangat berapi-api melawan Revolusi Amerika dan berpihak pada Inggris. Para pejuang yang kejam dan biadab menuduhnya berkhianat, menyeretnya di jalanan dan melemparkannya ke penjara dimana akhirnya ia menjadi gila dan meninggal. Derham telah dijual. Melewati beberapa tangan pemilik akhirnya ia menjadi milik dari Dr. George West yang sangat berpihak pada pasukan Inggris. Ia mempekerjakan Derham untuk tugas-tugas medis yang sederhana. Kita bisa membayangkan anak muda ini memperhatikan dengan teliti cara kerja dokter ini, menyerap ilmu tentang anatomi dan pembedahan yang kemudian membuatnya menjadi seorang dokter yang luar biasa.

Pada akhir perang revolusi, Dr. West tidak bisa membawa Derham sebagai budaknya maka ia menjualnya kepada dokter yang ketiga, Dr.Robert Dove dari New Orleans yang menjadikan Derham sebagai asistennya. Terbukti Derham begitu berguna sehingga Dr. Dove bahkan sampai tergerak menawarkan kebebasan kepadanya dengan syarat yang sangat mudah. Dalam dua-tiga tahun kemudian Derham bebas dan ia membuka praktek dibawah perlindungan Dr. Dove. Pendidikannya sejalan dengan pendidikan kedokteran pada waktu itu. Dari 3.500 orang dokter yang praktek di Amerika Serikat pada tahun 1800, hanya 400 orang yang bisa menyatakan bahwa mereka lulusan sekolah kedokteran. Sisanya belajar dari pengalaman magang dengan dokter-dokter yang sudah mapan atau membaca buku-buku.

Mungkin sudah ditakdirkan Tuhan, Derham menderita sewaktu di New Orleans. Rintangan rasial tidak begitu berat seperti di kota Perancis-Spanyol sebagaimana di Amerika Serikat (karena orang Perancis tidak memiliki prasangka seperti orang Amerika terhadap orang kulit hitam keturunan Afrika-Amerika; banyak warga turunan Afrika-Amerika ini yang akhirnya pergi ke Perancis untuk sekolah kedokteran disaat perguruan-perguruan tinggi Amerika menolak kehadiran mereka). Bagi Derham, warga masyarakat Perancis ini memungkinkannya untuk melakukan profesinya bahkan di kalangan orang-orang kulit putih New Orleans. Sedemikian ahlinya Derham sehingga ia bisa memiliki penghasilan sebesar $3.000 dalam setahun, suatu jumlah yang sangat banyak saat itu. Kita bisa membandingkan pendapatan Derham ini dengan para dokter yang lainnya. Lima tahun kemudian, John Story Kirkbride berpikir ia seorang dokter yang berhasil di Philadelphia dengan penghasilan $500 per tahun. Tahun 1804 Nathan Smith, seorang yang sangat berpendidikan hanya dibayar $200 setahun sebagai pendiri dan profesor kepala dari fakultas kedokteran Dartmouth College.

Rush tertarik dengan Derham pada waktu mereka berdua bertemu. Dalam sebuah komunikasi dengan perkumpulan Pennsylvania untuk penghapusan budak ia menulis tentang kemampuan Derham yang luar biasa. Sang dokter Philadelphia ini menggambarkan Derham sebagai  seseorang yang sangat sederhana, rendah hati dan menarik dalam sikap tingkah lakunya. ”Ia bisa berbahasa Perancis dengan lancar dan memiliki pengetahuan bahasa Spanyol juga. Dalam suratnya kepada perkumpulan penghapusan budak Rush juga menuliskan tentang peristiwa pembaptisan Derham.

Secara kebetulan, meskipun  terlahir dalam sebuah keluarga yang taat beribadah dari Church of England, ia tidak  dibaptis pada masa bayinya, konsekuensinya beberapa hari lalu ia mengajukan permohonan untuk dibaptis kepada Pendeta White untuk menerima pentahbisannya sebagai anggota gereja Episcopal. Pendetanya melihat ia memenuhi syarat, baik dari segi pengetahuan dan sikap moralnya, untuk menerima sakramen baptisan

Waktu itu tanggal 14 Nopember 1788. Selama sepuluh tahun setelah Derham kembali ke New Orleans, Rush dan dia masih saling berkirim surat, bertukar informasi. Rush mengirim salinan-salinan publikasinya kepada para dokter di New Orleans. Kita tidak tahu kapan atau  saat peristiwa seperti apa Derham meninggal. Jika pun ada, para penulis yang mencatat fakta-fakta yang penting tentang Derham maka catatan-catatan tersebut sudah hilang.

______________________________________________________________________________
Sumber: "Doctors Who Follow Christ, Thirty-two Biographies of Eminent Physician & Their Christian Faith (Dan Graves, Grand Rapids-USA: Kregel Publications,1999)
diterjemahkan oleh Ir. Nora D. Jacob dalam Majalah Samaritan

Copyright 2007, Pelayanan Medis Nasional (PMdN) Perkantas

Jl. Pintu Air Raya 7, Komplek Mitra Pintu Air Blok C-5, Jakarta Pusat
Telp. (021) 3522923, 3442463-4 Fax (021) 3522170
Twitter : @MedisPerkantas
Download Majalah Samaritan Versi Digital : https://issuu.com/samaritanmag