Selasa, 23 Mei 2017

Hidup oleh Iman

Tetapi orang-Ku yang benar akan hidup oleh iman. – Ibrani 10:38



Iman dan seluruh proses hidup oleh iman tampaknya sangat tidak jelas dan tidak pasti bagi orang tidak percaya. Namun, itulah jalan yang ditentukan Allah bagi kita. Banyak orang, dan bahkan mungkin orang percaya, menuntut untuk hidup berdasarkan sesuatu yang lebih konkret. Suatu hari, saat aku menundukan kepala untuk berdoa di kantor, Tuhan mengingatkanku tentang Firman dari Ibrani 10, yang dikutip di atas. Bagiku, sepertinya Ia mengatakan bahwa orang Kristen tidak hidup oleh akal!

Misteri iman adalah ketidaklogisannya. Bila kita dapat menguasai seluruh artinya, maka itu bukan lagi iman. Bila kita menunggu untuk mengerti, itu juga bukan iman. Orang Kristen baru yang sudah hidup oleh iman cenderung ingin menata kembali kehidupan lamanya, yang tidak bergantung pada Tuhan. Hidup yang demikian bukanlah hidup oleh iman. Jemaat Galatia jatuh ke dalam perangkap ini dan, karenanya, dicap bodoh. Setelah memulai hidup oleh iman, mereka kemudian ingin hidup oleh akal, atau oleh hukum. Godaannya sangat nyata, karena masyarakat pun memperkuat kecenderungan kita untuk mau tahu secara tuntas sebelum melangkah.

Seorang perempuan muda merasa sangat yakin bahwa Allah memanggilnya ke pelayanan baru. Namun, sebelumnya ia ingin tahu secara rinci syarat perjanjian kerjanya dan gaji serta tunjangannya. Ketika perinciannya tidak langsung diberikan, ia menolak untuk pindah. Keputusannya bergantung pada akalnya. Banyak dari kita mungkin akan melakukan yang sama. Tapi keputusan perempuan itu tidak berdasarkan iman. Apakah ia menyia-nyiakan panggilan Tuhan? Abraham tidak pernah menerima “rincian syarat-syarat perjanjian dan tunjangan kerja”. Ia hanya menerima perintah dan janji. Ia diperintakan untuk pergi dan dijanjikan bahwa Allah akan menyertai dan memberkatinya. Apakah Anda berjalan dengan iman? Apakah Anda bersedia pergi saat Tuhan memerintahkannya, ataukah Anda ingin tahu dulu rincian persyaratan perjanjian kerja-Nya?


Baca: Galatia 3:1-14; Ibrani 11:1-3; 11-19


Oleh Tokunboh Adeyemo

Disadur dari Patterns for Life, 1996. Dalam Sumber Hidup Praktisi Medis.

Rabu, 10 Mei 2017

Tidak Perlu Khawatir

Janganlah hendaknya kamu khawatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan ucapan syukur. ---Filipi 4:6




Ada sisi lain tentang kedaulatan Tuhan. Jika Tuhan benar-benar mengatur keadaanku, dan Tuhan mengerjakan segala sesuatu menurut kehendak-Nya, dan Dia hanya ingin yang terbaik bagiku (Roma 8:28), lalu buat apa aku khawatir? Paulus berhasil sepenuhnya mengerti konsep ini dan mewujudkannya dalam hidupnya sehari-hari. Itu sebabnya mengapa ia menulis kalimat di atas. Ia berkata kepada jemaat di Filipi supaya jangan khawatir tentang apa pun juga, tapi dalam segal hal mereka harus menyatakan keinginan mereka pada Allah.

Semua ini lebih mudah dikatakan daripada dilakukan. Kenyataannya, kita memang merasa takut, khawatir, dan gelisah akan apa yang akan terjadi. Tapi Tuhan juga mengerti itu dan masih mengasihi kita. Ia tahu kemampuan kita untuk hidup tanpa khawatir dan takut, akan tumbuh perlahan dalam proses kita belajar percaya kepada-Nya. Paulus tahu tidak ada alasan untuk khawatir, karena ia telah mengalami tindakan nyata Allah memelihara dia. Bukan sekedar pemahaman intelektual, tapi pengalaman dalam hidup sehari-hari.



Mungkin seseorang yang membaca ini sedang menghadapi perubahan besar dalam hidupnya atau pekerjannya, dengan banyak faktor yang tidak diketahui. Apakah ini berarti orang itu memasuki keadaan yang tidak diketahui itu, dengan iman yang buta? Tidak, kita perlu menyerahkan kekhawatiran dan ketakutan kita kepada Tuhan, dan belajar untuk percaya kepada-Nya. Saat kita mengalami pemeliharaan-Nya, kekhawatiran kita akan berkurang. Kepercayaan kita akan bertambah dan mungkin sekali kita akan menyadari bahwa pengalaman sulit ini sebenarnya bagian dari rencana Allah untuk kita dalam menghadapi perubahan yang akan datang.


Baca: Lukas 12:22-24; 1 Petrus 5:7-11



Penulis: Jeffrey Barrows
Dalam Sumber Hidup Praktisi Medis

Rabu, 26 April 2017

Satu Lagi Kasus Tanpa Harapan?

Maka pergilah mereka dan sampailah mereka ke rumah seorang perempuan sundal, yang bernama Rahab ... perempuan itu ... berkata kepada orang-orang itu ... TUHAN, Allahmu, ialah Allah ... ---Yosua 2:1, 9, 11



Rahab tidak digolongkan di antara orang besar dan baik. Ia pelacur dan pendusta yang mengkhianati bangsanya. Ia sangat bejat. Namun, ia menjadi nenek moyang Tuhan Yesus dan termasuk di antara pahlawan iman di Ibrani 11. Raja Daud juga melakukan banyak kejahatan termasuk pembunuhan dan perzinaan, namun ia mendapat tempat khusus di dalam kasih dan kebaikan Tuhan.

Ajaran Alkitab menyatakan kepada kita bahwa tidak ada kasus tanpa harapan. Tidak ada dosa yang tidak diampuni kecuali orang yang tidak percaya yang dengan keras kepala menolak Tuhan Yesus Kristus. Persyaratan satu-satunya adalah percaya kepada Allah dan, karena Ia menjadi manusia, percayalah kepada Anak-Nya untuk keselamatan. Betapa luar biasanya, di zamannya, Rahab yang terkenal bukan sebagai orang baik, percaya sepenuhnya pada keunikan dan keperkasaan Allah Israel. Ia diselamatkan oleh iman, sebuah prinsip yang masih tetap berlaku.

Adalah sifat manusia untuk merumitkan masalah dengan mencari keselamatan di luar iman. Tapi sungguh tidak ada suatu apapun untuk kita tawarkan atau lakukan agar memperoleh keselamatan dan pengampunan. Mereka yang terlibat pelayanan kasih terhadap orang malang mungkin ada dalam bahaya khusus---membayangkan perbuatan baik mereka dapat menghasilkan jasa. Tapi kebanggaan akan tempat, profesi atau prestasi hanya menghalangi kepercayaan sederhana kepada Kristus dan pekerjaan-Nya demi keselamatan kita.

Pasien yang sekarat kadang dikatakan tidak punya harapan lagi. Tapi ini tidak pernah benar untuk orang yang diciptakan dan dikasihi Allah. Kasih-Nya, yang berupa pengorbanan pribadi, memberi harapan sepenuhnya bagi setiap orang termasuk yang dianggap sebagai kasus tanpa harapan.



Baca: Yosua 2:1-14; Yohanes 3:16,17.



Oleh: D E B Powell
Disadur dari Sumber Hidup Praktisi Medis.

Selasa, 18 April 2017

Renungan Paskah: DarahNya, NyawaNya

Berapa yah kira-kira Hb Tuhan Yesus ketika Dia mengatakan,”Sudah selesai”?.1 Pertanyaan ini mungkin kedengarannya konyol, namun sebagai praktisi medis, saya justru memikirkan sisi lain dari peristiwa yang sangat keji sekaligus memilukan, yaitu penyaliban Tuhan Yesus.

Baru-baru ini teman gereja saya terpeleset dan kepalanya terantuk kaca akuarium, akibatnya dia memerlukan pekerjaan 4 jam seorang ahli bedah untuk menghentikan perdarahannya dan membutuhkan tranfusi berkantong-kantong darah untuk meningkatkan Hb-nya yang turun hingga 8 g/dL. Begitu juga seorang pasien anak belum lama ini mengalami perdarahan saluran cerna yang masif, Hb nya turun dari 13 g/dL ke 6 g/dL dan anak berada dalam kondisi syok hipovolemik dengan tekanan darah 60 mmHg /tidak terukur.   

Saya membayangkan perjalanan panjang penderitaan Yesus, ketika hari masih gelap Yesus ditangkap dan diadili oleh Mahkamah Agama, muka diludahi dan ditinju dan dipukuli orang banyak. Ketika hari mulai terang Yesus diserahkan kepada Pilatus untuk diadili, yang berujung pada keputusan menyalibkanNya. Sebelum disalib, Yesus disesah dengan pencambukan yang brutal dimana prajurit Romawi menggunakan cambuk yang terdiri dari beberapa tali kulit, yang masing-masing diberi potongan-potongan tulang atau logam dan ini bisa membuat punggung orang menjadi bubur, pembuluh darah vena dan bahkan arteri bisa terobek, bahkan organ visceral pun bisa terekspos.2,3,4 Batasan cambukan tidak boleh lebih dari 40 kali dalam aturan Taurat5 juga kemungkinan tidak dipatuhi prajurit Romawi yang terkenal sadis. Tidak cukup itu, mahkota duri ditancapkan di kepala Yesus, dilanjutkan dengan perjalanan memikul salib yang membuatnya wajah dan tubuhnya menghantam jalan berbatuan. Akhirnya paku besar ditancapkan di tangan dan kakinya, membuatNya tergantung tinggi di bukit Golgota, menuntaskan proses penyaliban diriNya. Bayangkan berapa banyak darah yang mengalir keluar dari tubuhNya. Tidak heran jika penyaliban itu berlangsung sekitar pukul 9 -12 siang6, dan pada sekitar pukul 3 sore7 Tuhan Yesus menghembuskan nafas terakhir.  


Apa yang dituliskan Rasul Petrus dalam I Pet. 1:18-19 “Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat,” seakan memberikan makna baru buat saya.

Sejak dari awal Kitab Kejadian, ‘darah’ sudah memiliki makna penting di hadapan Tuhan.8 Demikian juga pada Paskah pertama bangsa Israel di tanah Mesir, darah hewan persembahan dioleskan di palang pintu masing-masing rumah bangsa Israel sebagai tanda bahwa mereka adalah umat Allah sehingga malaikat tidak membinasakan anak sulung di rumah tersebut pada malam Paskah ketika Tuhan membinasakan anak sulung bangsa Mesir.9

Darah mewarnai seluruh Kitab Imamat dalam setiap prosesi yang dilakukan oleh para imam untuk mengadakan perdamaian antara manusia dengan Allah. Ketika melarang umatNya memakan darah, Allah menperingatkan, “Karena nyawa makhluk ada di dalam darahnya dan Aku telah memberikan darah itu kepadamu di atas mezbah untuk mengadakan pendamaian bagi nyawamu, karena darah mengadakan pendamaian dengan perantaraan nyawa.”10

Menarik bukan? Frase ‘nyawa makhluk ada di dalam darahnya” benar-benar menantang saya untuk mencernanya sebagai seorang dokter. Dalam dunia medis yang kita tekuni, tidak bisa dipungkiri bahwa darah adalah bagian yang paling esensial dalam kehidupan manusia. Organ vital seperti otak misalnya, dengan sekitar 100 milyar neuron serta triliunan sinapsnya yang berfungsi begitu kompleks dalam mengatur seluruh tubuh, sangatlah bergantung pada sirkulasi darah. Bila dalam waktu beberapa menit atau lebih otak tidak mendapatkan suplai darah, maka akan terjadi  kerusakan yang permanen, bahkan kematian bila kondisi ini berlanjut lebih lama lagi. Jantung juga memiliki peran yang tidak kalah pentingnya karena memiliki fungsi memompa darah ke seluruh tubuh, sangatlah bergantung pada darah untuk menunaikan tugasnya. Terhentinya suplai ke pembuluh utama jantung dalam beberapa menit saja sudah dapat mengakibatkan serangan jantung yang dapat mengakibatkan kematian. Ini baru bicara tentang peran darah dalam mensuplai oksigen dan nutrisi ke seluruh organ tubuh, belum lagi peranan dalam imunitas, regulasi suhu, asam basa, dan peran-peran penting lainnya. Tidaklah berlebihan bila ini semua bicara bahwa darah adalah nyawa dari makhluk.

Ketika Yesus mulai disesah dengan cambuk yang merobek dagingnya, ketika mahkota duri dipasangkan di kepalaNya, ketika paku menembus tangan dan kakinya, darahNya mengalir tiada henti. Bahkan berjam-jam tergantung di kayu salib, darahNya terus menetes dan terkuras habis tanpa penambahan cairan sama sekali. Saya membayangkan ketika kompensasi kardiovaskulerNya tidak lagi mampu mengatasi perdarahan berat yang terjadi maka kegagalan sirkulasi pasti terjadi pada giliran berikutnya, syok hipovolemik.

Sangatlah sulit membayangkan bahwa dalam penderitaan yang tak terkira, Yesus yang memiliki seluruh kuasa Ilahi dalam genggamanNya, memilih untuk taat. Dia memilih untuk berdoa,”Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat"11 ketika ejekan, olok-olokan serta hujatan diarahkan kepadaNya. Dia memilih untuk tidak melakukan intervensi Ilahi atas kondisi tubuhNya, melainkan mengijinkan tetes demi tetes darah meninggalkan tubuhNya, dan mengijinkan proses alami itu terjadi, yaitu kematian, dengan berucap, ”Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku."12 Saya membayangkan dalam kemanusiaanNya, Yesus pasti bergumul luar biasa di kayu salib, bahkan ketika sirkulasi darah ke otakNya sudah sangat terbatas, dan kesadaran mulai menurun, Dia tetap memilih untuk mati menanggung dosa umat manusia, Dia memilih menyelesaikan misiNya.13 Ini mengingatkan akan ucapan Tuhan Yesus bahwa Dia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang14.
Perlahan saya mulai melihat keterkaitan antara ‘darah adalah nyawa’ dengan ‘darah korban perdamaian’ yang mengadakan perdamaian dengan perantaraan nyawa10 dan dengan apa yang dikatakan Rasul Petrus bahwa umat Kristen ditebus dengan ‘darah Kristus’15, karena sesungguhnya lewat kucuran darahNya, nyawaNya-lah yang diserahkan ganti kita, dan karena bilur-bilurNya, kita telah dipulihkan dari penyakit dosa yang membinasakan.16
Namun yang terpenting adalah saya tahu bahwa Yesus memilih membiarkan darahNya mengalir lewat bilur-bilurNya, bukan karena Dia tidak sanggup melawan. Sebagai konsekuensinya, nyawaNya harus Dia serahkan, bukan karena direbut dariNya. Semua dilakukanNya karena Dia mengasihi anda dan saya, bahkan ketika kita masih berdosa dan belum mengenalNya. Betapa kita harus bersyukur dan menyerahkan seluruh hidup kita melayaniNya, seperti bait terakhir dari lirik lagu When I Survey the Wondrous Cross: Were the whole realm of nature mine, that were a present far too small; Love so amazing, so divine, demands my soul, my life, my all.” Selamat Paskah!


        Referensi:
1.        Yohanes 19:30
5.        Ulangan 25:3
6.        Markus 15: 25, Yohanes 19:14-16
7.        Markus 15:34
8.        Kejadian 4:10
9.        Keluaran 12
10.     Imamat 17:11
11.     Lukas 23:34
12.     Lukas 23:46
13.     Yohanes 19:30
14.     Mat 20:28 
15.     I Petrus 1:18-19
16.     I Petrus 2:24


Ditulis oleh : dr Lineus Hewis, SpA
Dalam Majalah Samaritan Edisi 1 tahun 2016

Senin, 03 April 2017

Kemuliaan yang Melebihi Segalanya

Sebab itu, kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami diperbarui dari hari ke hari. Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, akan menghasilkan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya. 

---2 Korintus 4:16, 17



Sesuatu yang besar bisa terlihat kecil dan yang kecil bisa terlihat besar tergantung sudut pandang kita. Pandangan Rasul Paulus terhadap dunia menjadi lebih jelas karena ia berada di dalamnya bukan menjadi bagian daripadanya ---walau ia sering menanggung kesengsaraan yang terkadang membuat ia putus asa (2 Korintus 1:8). Dari sudut pandang rancangan dari segala sesuatu yang kekal, ia dapat memandang persoalan-persoalan duniawi ini hanya sebentar dan relatif ringan. Hidup baru dalam Kristus seharusnya mengubah sudut pandang kita daripada yang kelihatan kepada yang tidak kelihatan, dari yang bersifat sementara kepada yang kekal.

Berapa seringkah kita memandang kesulitan dalam terang ini? Kita bekerja diantara pasien dan keluarga yang menderita. Kita merasa tidak berdaya karena tidak mampu menyembuhkan, bahkan memberikan penghiburan yang tepat. Pekerjaan kita dapat melelahkan dan menegangkan, kadang-kadang memudarkan semangat. Justru saat itulah kita harus mengubah sudut pandang dan memusatkan pandangan kita kepada Tuhan Yesus. Sebagai sumber dan pelopor iman kita, Ia memikul beban ini dan banyak lagi.

Rasul Paulus juga menyuruh kita melihat besarnya kemuliaan yang akan datang, yang semata-mata bukan sebagai imbangan, tapi begitu besarnya kemuliaan itu sehingga kesusahan duniawi menjadi ringan. Tujuan akhir kita adalah surga, dan tidak ada lambang dalam Alkitab, apakah itu mahkota atau permata atau pun terang, yang dapat menolong kita membayangkan kemuliaannya. Dalam memikul beban kesusahan sekarang ini, kita dipersiapkan untuk pulang ke rumah surgawi kita, dan memperoleh kemuliaan yang bahkan jauh lebih besar disana.

Mengalihkan pandangan kita kepada Tuhan Yesus berarti mulai memahami dunia ini dalam terang kekekalan dan mendapati bahwa kesusahan kita memang benar-benar lebih ringan. Dengan memandang akhir perlombaan itu kita akan termotivasi untuk menyelesaikannya lebih baik.


Baca: Kolose 3:1-4; Roma 5:1-5

Penulis : Sarah Ross
Dalam Sumber Hidup Praktisi Medis

Jumat, 24 Maret 2017

Berdiri di Celah

Kucari akan seorang yang membangunkan pagar tembok dan yang berdiri di celah pagar di hadapan hadirat-Ku akan baiknya negeri itu ... ---Yehezkiel 22:30, Terjemahan Lama (1958)



Berapa sering kita harus menangani tugas orang lain di klinik? Cuti, sakit atau kelalaian menyebabkan klinik kekurangan tenaga kerja dan kita diminta berdiri di celah---mengisi kekosongan itu. Mungkin ini sering terjadi dan, secara tidak adil, kita diminta untuk mengorbankan rencana kegiatan penting kita lainnya. Dapat dimengerti jika kita marah karena ketidakadilan ini. Akankah kita menolak? Tapi tunggu dulu. Kita orang Kristen, dan orang lain memperhatikan kita. Disesalkan jika mereka mungkin pernah melihat orang Kristen yang tak mau membenatu atau membantu setengah hati. Apa yang akan Tuhan Yesus lakukan? Apa yang dituntut Tuhan dari kita?

Dosa Yerusalem digambarkan secara rinci dan mengenaskan di Yehezkiel 22. Seluruh lapisan masyarakat, para ningrat, imam, penasihat, nabi dan orang awam telah meninggalkan jalan Tuhan. Dan ketika Tuhan mencari orang yang bersedia mengisi kekosongan demi negaranya agar Ia tidak memusnahkannya, Ia tidak menemukan seorang pun.

Bukankah dunia dewasa ini mirip Yerusalem di zaman Yehezkiel? Tuhan masih mencari orang untuk mengisi kekosongan, menerima standar-Nya dan memancarkan kasih dan pelayanan-Nya? Karena itu marilah kita melakukan tugas tambahan dengan senang hati dan efektif karena kita melayani Tuhan yang memberikan hidup-Nya bagi manusia berdosa. Mungkin orang lain akan melihat Kristus dalam diri kita. Ia berbicara tentang berjalan dua mil (Mat 5:41). Standar-Nya sangat berbeda dari standar dunia. Bagaimana dunia dapat mengalami standar-Nya kecuali jika kita memancarkannya? Bisa jadi hari ini juga Tuhan sedang mencari orang benar untuk mengisi kekosongan sehingga Dia bisa menahan murka-Nya atas dunia yang berdosa.


Baca: Yehezkiel 22:17-31; Matius 5:38-42.

Oleh J Harold Jones
Dalam Sumber Hidup Praktisi Medis

Rabu, 15 Maret 2017

Hendaknya Terangmu Bercahaya

Hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga. ---Matius 5:16



Senang bukan, bila kita dapat menolong seseorang tepat pada waktunya? Bahasa tubuh yang paling sederhana pun, yang menunjukan rasa simpati atau menyambut pasien---apalagi kalau ia ditangani menurut keahlian medis yang terbaik---sering disambut dengan rasa terima kasih bercampur takjub. Ungkapan terima kasih seorang pasien, entah itu melalui kata-kata atau tindakan konkret, dapat menjadi pendorong semangat yang nyata bagi kita. Ungkapan tersebut membuat kita berpikir bahwa semua jerih payah kita berguna, dan kita puas dengan diri kita sendiri. Tapi lambat-laun kita bisa saja diyakinkan bahwa sudah sepantasnya kita dipuji dan bahwa kita memang istimewa. Saat mereka semakin percaya kepada kita, mereka bahkan mulai memperlakukan kita ... seperti Tuhan! Tiba-tiba kita sadar kita telah mencuri kemuliaan Allah.


Jadi, bagaimana kita bersikap agar perbuatan baik kita dapat dilihat orang, namun jelas dari perbuatan itu Allah-lah yang dipuji dan dipermuliakan? Aku sering berkata (atau menulis) kepada pasien seperti ini: "Terima kasih atas dorongan semangat yang Anda berikan---dan bolehkah aku mengatakan hal yang bersifat pribadi? Jika kami disini dapat menyembuhkan Anda dari penyakit ini, maka kami benar-benar berterima kasih kepada Tuhan." Hari ini coba hitung berapa kali orang berkata "terima kasih" kepada Anda, dan lihat apakah ada cara untuk mengembalikan pujian serta kemuliaan tersebut kepada Yesus Kristus (karena tanpa Dia, kita tidak akan pernah berhasil masuk ke dalam ruang konsultasi sekalipun!)



Doa: Bapa, ampunilah aku kalau aku mencuri pujian seta kemuliaan milikMu, atas segala perkara baik di mana aku berperan. Terima kasih atas hari baru, petualangan iman yang segar bersama-Mu. Mampukanlah aku menemukan cara mengarahkan orang kepada-Mu, dan memastikan Engkaulah yang dipuji dan dimuliakan dalam hidupku. Demi Kristus, Amin.

Baca: Matius 5:14-16


Penulis: Graham McAll
Disadur dari: Sumber Hidup Praktisi Medis

Selasa, 07 Maret 2017

Kenapa Aku Tidak Sembuh?

Allah yang abadi adalah tempat perlindunganmu, dan di bawahmu ada lengan-lengan yang kekal. - Ulangan 33:27



Kita semua pernah menghadapi pasien yang marah karena tidak sembuh, atau keluarga pasien yang tidak mampu menanggung beban pikiran karena kehilangan orang yang mereka kasihi. Diagnosis yang hati-hati telah dibuat dan perawatan yang tepat sesuai diagnosis dan praktik medis terbaik telah disiapkan. Tapi kesembuhan tidak terjadi dan gejala serta tanda-tanda penyakit tetap ada bahkan bertambah buruk. Seringkali keadaan seperti itu membuat pasien putus asa dan menyalahkan Tuhan. Padahal mereka Kristen atau hidupnya saleh! Mengapa Tuhan tidak turun tangan?

Alkitab sering menceritakan penyembuhan karena campur tangan Tuhan, lebih sering di PB, yang dilakukan oleh Tuhan Yesus, rasul-rasul dan orang lain dibandingkan di PL. Ada sekitar 41 mujizat Yesus berkaitan dengan penyembuhan ---bandingkan dengan sekitar 9 mujizat yang tidak berkaitan dengan penyembuhan. Tuhan Yesus menyembuhkan orang yang sakit kusta, lumpuh, penyakit pendarahan, buta, bisu, cacat (termasuk kerusakan tangan yang parah), ayan, gila dan kerasukan setan. Ia juga membangkitkan orang dari kematian. Petrus, Filipus, Paulus dan seorang rasul yang tidak disebutkan namanya juga menyembuhkan; begitu pula 72 orang yang diutus mendahului Tuhan Yesus, dan juga seorang laki-laki yang tidak dikenal, yang ditemukan murid-murid mengusir setan dalam nama Tuhan Yesus.

Lalu kenapa pasien kita tidak sembuh? Mungkin kita, dan orang lain di gereja, mendukung dalam doa untuk kesembuhannya tapi ia tidak sembuh juga. Mari lihat fakta bahwa tidak seorang pun yang disembuhkan Tuhan Yesus itu hidup hingga hari ini dan, seperti yang diharapkan orang, Alkitab juga mencatat kejadian-kejadian ketika penyembuhan Ilahi tidak terjadi. "Untuk segala sesuatu ada masanya, ... ada waktu untuk meninggal ..." (Pengkhotbah 3:1-2). Tentu saja tidak ada jawaban yang memuaskan pikiran manusia, Pengertian datang melalui iman bahwa Tuhan mengatur segala sesuatu dan orang Kristen aman di tangan-Nya. Aman entah kesembuhan terjadi atau kematian membawa ke hadirat-Nya. Bukankah Ia pergi untuk menyediakan tempat bagi kita?

Baca: Yohanes 14:1-14.



Oleh J Harold Jones 
Disadur dari Sumber Hidup Praktisi Medis

Copyright 2007, Pelayanan Medis Nasional (PMdN) Perkantas

Jl. Pintu Air Raya 7, Komplek Mitra Pintu Air Blok C-5, Jakarta Pusat
Telp. (021) 3522923, 3442463-4 Fax (021) 3522170
Twitter : @MedisPerkantas
Download Majalah Samaritan Versi Digital : https://issuu.com/samaritanmag