Selasa, 14 Februari 2017

Keahlian Tuhan Dalam Menguatkan Iman

Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan damai. --- Lukas 7:50


Pengalamanku mungkin tidak terlalu cocok untuk diterapkan oleh mereka yang tidak punya masalah dengan uang dan fasilitas kerja. Tapi aku memuji Tuhan akan kemurahan-Nya yang telah menolongku, seorang dokter Indonesia, untuk melewati setiap pergumulan dalam hidupku. Apakah itu berupa kekecewaan, penderitaan pribadi, stres dan frustasi atau kekurangan bahan dalam pekerjaan. Tapi Tuhan selalu menghiburku dan memberiku kekuatan agar dapat melanjutkan tugasku. Ia telah mengajarku begitu banyak, khususnya tentang pentingnya iman dalam hidupku sehari-hari.

Iman yang kuat tidak bertumbuh dalam satu hari, tapi satu cara untuk membuatnya bertumbuh adalah menyimak dengan sungguh-sungguh Firman Tuhan. Firman-Nya praktis --- terbukti ampuh. Alkitab adalah buku yang dapat kuterapkan, selalu dan selamanya. "Jadi, iman timbul dari apa yang didengar, dan apa yang didengar itu berasal dari pemberitaan tentang Kristus" (Roma 10:17). Firman-Nya mengingatkan kita apa yang tampaknya mustahil bagi manusia adalah mungkin bagi Tuhan, dan Ia akan membuktikannya saat kita percaya kepada-Nya. 

Pekerjaanku di suatu komunitas di pedalaman membuatku harus melalui perjalanan yang sulit. Aku harus naik dan turun bukit atau menyeberangi banyak sungai, terkadang dengan naik sampan kecil. Ada bahaya-bahaya lain, seperti saat aku menumpang pesawat terbang, atau terguncang-guncang melalui jalanan berbatu-batu dan tidak diaspal sehingga asap keluar dari mobilku. Hanya karena pertolongan Tuhan kami dapat mengatasi masalah ini. Suatu ketika perahu motor kami terperangkap dalam badai besar dan terkatung-katung selama berjam-jam, tapi Tuhan menenangkanku dengan ingatan bagaimana Tuhan Yesus meredakan badai. Kami membuang air keluar dan kapten membawa kami dengan selamat sampai ke tepian.

"Dibuat-Nyalah badai itu diam ... dan dituntun-Nya mereka ke pelabuhan kesukaan mereka" (Mazmur 18:1-16)


Baca: Lukas 8:22-25; Mazmur 18:1-16.

Anonim, Disadur dari Sumber Hidup Praktisi Medis.

Rabu, 08 Februari 2017

Now What?


What can we count on?

In the midst of an uncertain world, we may long for the certainties of job, income, professional growth, and work relationship --- but those are just superficial. The true certainties our hearts long for run much deeper. So, in an uncertain world, what can we count on?

Life is troubled.
In the most ancient book in the Bible, a man named Job learned firsthand the pain of loss. He lost his children, his possessions, and even his friends. Such a magnitude of loss would be devastating, but Job didn't see it as surprising.


His testimony shares the stark reality of living in a fallen world. Job said, "How frail is humanity! How short is life, how full of trouble!" (Job 14:1). It's not necessarily true that we are being singled out or facing something out of the ordinary. Difficulty is to be expected because life is troubled.


We are not alone.
If we feel that we are isolated in our circumstances, we've lost sight of the most critical certainty of all --- God is still there, even when the bottom drops out of the world.


In Hebrews 13:5-6, we read: "Don't love money; be satisfied with what you have. For God has said, 'I will never fail you. I will never abandon you.' So we can say with confidence, 'The Lord is my helper, so I will have no fear. What can mere people do to me?'"


When life becomes overwhelming, there's nothing more important than knowing that we don't face those burdens alone. God is there.

We have resources beyond ourselves. In Matthew 6:33, Jesus spoke to people who were fearful. They were also uncertain about how they would live and how their needs would be met. Jesus wanted them to look higher, when He said, "Seek the kingdom of God above all else, and live righteously, and He will give you everything you need."

It may be that the pressures we feel are a result of pursuing the wrong goals. A right relationship with God is significant because of who He is, and because a relationship with Him is the one thing in life that lasts forever. In Him, we have an eternal supply that this world cannot destroy.

Our pain can grow our faith.
We dread pain, largely because we see it as so negative. The fact is, however, that our struggles can provide opportunities for us to grow in ways that times of ease could never produce. The apostle Paul wrote:
"We now have this light shining in our hearts, but we ourselves are like fragile clay jars containing this great treasure. This makes it clear that our great power is from God, not from ourselves. We are pressed on every side by troubles, but we are not crushed. We are perplexed, but not driven to despair. We are hunted down, but never abandoned by God. We get knocked down, but we are not destroyed. Through suffering, our bodies continue to share in the death of Jesus so that the life of Jesus may also be seen in our bodies" (2 Corinthians 4:7-10). If you know Christ, you can be assured that you serve the God who doesn't waste anything --- including the pain of job loss.

Our pain can help others.
Not only can our struggles help us to grow, they can also provide an opportunity to help others. Our experiences can give us the background to help others when the pain of job loss visits them. To that end, Paul wrote: "All praise to God, the Father of our Jesus Christ. God is our merciful Father and the source of all comfort. He comforts us in all our troubles so that we can comfort others. When they are troubled, we will be able to give them the same comfort God has given us" (2 Corinthians 1:3-4).

We are never so well-equipped to help  hurting people as when we ourselves have experienced pain and loss. Then we can take God's encouragement and share it with others.

This is not the end.
When we face a serious life crisis, like losing a job, it can seem like the end of the world, that life will never be good again, and that there's nothing left to live for. 

Be assured, however, that it's not the end. Paul wrote: "Yet what we suffer now is nothing compared to the glory He will reveal to us later" (Romans 8:18).

Whatever dark experiences we face in this life, one day they will be overwhelmed by the perfect and complete reality of eternity in the presence of  the Christ who loves us and gave Himself for us.

God's love is real.
When we're going through seasons of trial and hurt, it's easy to question whether God loves us at all. The experience of loss, however, is not capable of disrupting His love for us. Paul wrote: "I am convinced that nothing can ever separate us from God's love. Neither death nor life, neither angels nor demons, neither our fears for today nor our worries about tomorrow --- not even the powers of hell can separate us from God's love. No power in the sky above or in the earth below --- indeed, nothing in all creation will ever be able to separate us from the love of God that is revealed in Christ Jesus our Lord" (Romans 8:38-39).

Separation from a job is a crushing, heartbreaking event. It is not, however, what matters most. Nothing in all the universe can separate us from the love of God --- and that does matter the most!



Now What by Chuck Fridsma.
Adapted from Now What? The Healing Journey Through Job Loss, 2009. RBC Ministries.

Selasa, 31 Januari 2017

Sehat

Aku berdoa, semoga engkau baik-baik dan sehat-sehat saja dalam segala sesuatu, sama seperti jiwamu baik-baik saja. ---3 Yohanes 1:2



Ada pengurangan makna yang sukar dimengerti dalam berbagai definisi sehat menurut ilmu kesehatan masa kini. Sehat, seperti yang sering kita dengar berarti keadaan fisik, mental, dan sosial yang utuh dan terbaik, bukan hanya sekedar bebas dari penyakit atau keadaan sakit. Definisi ini, walaupun kelihatannya baik, tidak menyebutkan keadaan jiwa. Padahal kata yang jarang muncul dalam kamus-kamus kedokteran ini menjabarkan bagian rohani dari suatu pribadi, yang berbeda dengan tubuh dan pikiran. Jiwa mengendalikan motivasi untuk hidup dan bekerja, dan mencetuskan sukacita serta pengharapan, yang sebetulnya bagian dari kepribadian yang sehat. Definisi di atas juga tidak mencakup pemikiran tentang vitalitas yang berkobar-kobar, tenaga yang digunakan dan dihabiskan sebelum seseorang meninggal dunia.

Dalam Alkitab, sehat berarti tubuh, pikiran dan jiwa dalam keadaan baik. Saat Tuhan Yesus menyembuhkan, sering terjadi penyembuhan rohani selain penyembuhan jasmani. Kita melihat pendekatan yang sama dalam surat Yohanes kepada temannya yang terkasih, Gayus, seperti yang dikutip diatas. Sekali lagi, di dalam Alkitab nampak jelas Tuhan menginginkan pelayanan yang berkobar-kobar dan sepenuh hati. Pantang mundur. Bacalah lagi kisah Amazia. Ia melakukan apa yang benar di mata Tuhan, tapi tidak secara sepenuh hati (2 Tawarikh 25:2).

Seseorang bisa saja menyia-nyiakan kesehatan dengan tidak merawat tubuhnya atau dengan memperlakukannya sembarangan. Kebalikannya, Paulus bergumul dengan segala kekuatan yang Kristus berikan kepadanya, demi jemaatnya yang baru (Kolose 1:29). Ketika Tuhan Yesus menyembuhkan, Ia memulihkan tubuh, pikiran dan jiwa. Ia membuka pintu bagi mereka yang telah disembuhkan kepada suatu dunia baru yang penuh damai, kepuasan dan sukacita, yang didapat saat mereka mengikut teladan-Nya, yaitu yang berkobar-kobar dalam melayani orang lain. Pelayanan-Nya berakhir pada kematian-Nya di kayu salib. Seberapa sehatkah jiwa Anda hari ini? Seberapa menyala-nyalakah pelayanan Anda kepada Tuhan?



Baca: 2 Tawarikh 25:1-10, 14-16; Kolose 1:28; 2:5.

Oleh: J Harold Jones
Disadur dari Sumber Hidup Praktisi Medis

Selasa, 24 Januari 2017

Doctors Who Follow Christ (JOHN FOTHERGILL)

JOHN FOTHERGILL
(1712 - 1780)

DOKTER  KELUARGA YANG MURAH HATI


“.Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan..”
(Matius  5 : 7)


Penemuan-penemuan Fothergill tidak menempati ranking pertama dalam dunia kedokteran. Namun dunia kedokteran tidak bisa mengabaikannya karena filantropi, kasih sayang dan penentangannya terhadap pertumpahan darah telah memberikannya sebuah nama belakang. Ia memiliki karakter yang agung. Ia mewakili figur seorang dokter sebagai filantropis. Meskipun upaya-upaya terbaiknya tersembunyi dari pandangan publik, filantropinya dikenal baik pada pandangannya yang kontemporer dan memberikan suatu teladan yang begitu mengesankan bagi banyak dokter lain. Bayaran yang dia terima dari para pasien yang kaya ia persembahkan sebagian besar untuk amal. Seorang dokter keluarga, demikian ia dikenal pada zamannya. Menurut para saksi mata, ia tidak beristirahat bahkan pada saat ia mengadakan perjalanan liburannya. Berikut penuturan para saksi mata yang menyatakan bahwa hal tersebut benar adanya.


Kelelahan dengan kerja 16 jam per hari dan menempuh perjalanan bermil-mil jarak untuk mengunjungi pasien, Dr. John Fothergill menuju kampung halamannya untuk beristirahat selama dua bulan. Selama dalam perjalanan ia  membuat catatan-catatan dan membalas surat-surat. Masih tiga hari lagi lamanya ia akan tiba di Lea Hall, sebuah rumah pedesaan yang dibelinya sebagai sebuah tempat dimana ia bisa sedikit terbebas dari kesibukan dan hiruk pikuk kota London yang begitu menyita waktu dan perhatiannya. Kereta yang ditumpanginya tiba di suatu pemberhentian. Para penumpang di sana naik dan turun, tiba-tiba “...Dr. Fothergill...Dr.Fothergill..” sebuah kepala muncul dari pintu penjemputan. Fothergill menoleh dan bertanya dalam hati, siapa gerangan orang yang berani kurang sopan ini? “..Mohon saran Anda, Pak...” jelas orang ini seorang apoteker yang sedang berusaha mendapatkan konsultasi gratis dari seorang dokter paling terkenal di London. Dengan sopan John mendengar dan menjawab pertanyaan orang ini. Setelah itu, John kembali memperhatikan catatannya. 

Sebelum ia sempat menulis satu kalimat, ia sudah diganggu lagi...
“..Suatu kesempatan yang terbaik bagi saya untuk bertemu Anda di saat  seperti ini Dr. Fothergill..” kata seorang wanita yang baru naik kereta tersebut untuk perjalanan selanjutnya. Kemudian wanita ini mengemukakan keluhan-keluhan yang selama ini mengganggunya di depan para penumpang lain. Apa yang dilakukan dokter ini ? John meletakkan pena sebentar dan kemudian memberikan tanggapannya,
“..Anda makan terlalu banyak daging dan makanan berlemak..” ia mengingatkan, kemudian kembali menekuni tulisannya.
“..hmmpf...ia bahkan tidak memikirkan jawabannya..” gerutu si wanita

Dengan cepat John Fothergill berpaling padanya, dan dengan kebijaksanaan seorang ahli yang berpengalaman ia tidak menanggapi wanita tersebut dengan mengatakan bahwa ia sudah menghadapi banyak sekali kasus  seperti yang dialami wanita itu sehingga ia tidak butuh waktu banyak untuk memberikan penilaian. Fothergill kelihatannya agak ”kaku” dalam hal sisi kontemporernya, tetapi jelas ia seorang yang bijak. Ia mulai lagi menulis beberapa pengamatannya mengenai epidemik dari penyakit influensa yang waktu itu sedang melanda Inggris. Ia begitu ingin agar pemikiran-pemikirannya mengenai hal ini dituangkan ke dalam bentuk tulisan.  Ia baru menulis selama 15 menit saat kereta tiba di satu stasiun dan berhenti di sana. John Fothergill merenggangkan tubuh dan kakinya yang panjang. Di stasiun itu ada banyak sekali orang, pria dan wanita yang berpakaian compang camping, dengan kuku-kuku mereka yang kotor dan rusak karena kerja kasar.

“..Dr. Fothergill..!!!...Dr. Fothergill...!!! terdengar sebuah suara berseru-seru...
“..tolonglah anak saya dokter...” masih terdengar seruan lagi
“..dokter, tolong aku..” sahut seorang pria dengan suara parau..
“..Demi Tuhan...kasihanilah...” terdengar lagi suara lain...
John menarik napas panjang sedikit, tetapi ia tidak ingin orang lain melihat kekagetannya. Dengan cepat ia menoleh ke petugas kereta api dan berkata “.. turunkan tas-tas saya... saya akan naik kereta berikutnya..”
Walaupun John seorang introvert, tetapi ia mengasihi orang lain dengan belas kasihan sejati. Hatinya terharu dengan masyarakat desa yang miskin ini, kaum pekerja Inggris yang bekerja sangat kerja untuk memperoleh hasil yang sangat sedikit.

“..Bawakan sebuah meja...” katanya. Sambil duduk di belakang meja ia mulai memeriksa penduduk-penduduk desa tersebut satu per satu.  Entah bagaimana, penduduk desa-desa ini tahu ia sedang mengadakan perjalanan ke kampung halamannya, mereka berbondong-bondong datang dari tempat mereka yang jauh untuk bisa bertemu dengannya di tempat-tempat perhentian kereta yang ditumpanginya. Mereka berharap ia bisa  memberikan saran atau nasihat untuk menyembuhkan penyakit-penyakit yang mereka derita, yang tidak bisa diobati dokter lain. Selama berjam-jam John mendengarkan dan menulis resep obat. Ia memberikan diagnosa dan petunjuknya dengan cepat tepat dalam suara yang penuh wibawa seorang ahli yang sangat berpengalaman.

Seorang janda berdiri di hadapannya, berusia sekitar 30 tahun tetapi kemiskinan dan kerja keras membuatnya nampak seperti berusia 50 tahun.  John tahu bahwa wanita ini membutuhkan air daging yang bergizi dan istirahat malam hari, tetapi John juga sadar wanita tersebut tidak mampu mendapatkan keduanya. Akhirnya ia menulis resep untuk wanita ini dan mengambil tasnya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil dari dalamnya, “..bawalah kotak ini pulang...” katanya pada wanita itu.
“..ada obat di dalamnya yang bisa membantu penyakitmu. Ikuti dengan baik petunjuk-petunjuk yang saya tulis di dalamnya..” katanya sambil tersenyum dengan sukacita tersembunyi. Ketika wanita itu membuka kotak tersebut, ia menemukan bahwa di dalamnya tidak hanya ada resep tetapi juga sejumlah uang untuk membeli makanan yang dibutuhkannya. Melihat John tersenyum, wanita itu balas tersenyum juga.
“Terima kasih, dokter...” harapannya bersinar di wajahnya.

Kasus berikut yang dihadapinya adalah seorang gadis istimewa namun menyedihkan. Ayahnya membopong tubuhnya yang ringkih dan Fothergill bisa melihat kemiskinan mereka dari pakaian sang ayah dan tulang belulang sang anak. Gadis itu memandangnya dengan  ketakutan.
“..apakah aku akan mati..??..” bisiknya. Fothergill memegang tangannya dan menggoyang-goyangnya dengan sangat lembut sebelum ia mengangkat kelopak matanya. Sebenarnya ia tidak perlu memeriksa gadis itu sebab hanya dengan sekali lihat baginya kasus gadis tersebut sudah jelas. Ia menderita TBC yang diperburuk oleh anemia. Gadis ini membutuhkan sinar matahari, istirahat, dan udara laut. Mempelajari tanda-tanda yang terdapat ditangannya jelas Fothergill melihat gadis ini pernah mengalami pendarahan. “Kapan para dokter berhenti melakukan tindakan bodoh ini..?” pikirnya. Seorang dokter seharusnya mendukung kondisi tubuh agar bertahan hidup bukannya melemahkan daya tahannya melalui treatments yang ketinggalan zaman dan tidak berguna. Ya, masalah si gadis sudah jelas. Jika Fothergill memeriksanya lebih dalam lagi dari yang dibutuhkan maka ia harus memikirkan dalih yang cukup masuk diakal untuk membantu keluarga ini tanpa harus menyinggung harga diri sang ayah. Dan ia melakukannya. Fothergill mendekati pria tersebut dan berbicara di telinganya dengan suara pelan “..ini merupakan sebuah kasus yang menarik.. bagi saya suatu kesempatan yang sangat berharga bahwa saya bisa memeriksa putri Anda. Jadi saya berhutang pada Anda...terimalah ini sebagai penghargaan saya atas kesempatan ini..” katanya sambil meletakkan lima poundsterling ke dalam tangan pria itu, sambil ia menuliskan petunjuk-petunjuk untuk tindakan yang diperlukan anaknya. Ia mengingatkan agar jangan ada lagi  tindakan yang mengakibatkan pendarahan.

Sore  pun menjelang, beberapa pasien mulai bertengkar sementara yang lain ada yang tidak bisa mengerti petunjuk yang diberikan sekalipun secara sederhana. Dalam tiap kasus Fothergill mengulang nasihatnya dengan sabar, terkadang sampai 2-3 kali hingga ia yakin pasiennya sudah mengerti. Sangat sedikit yang menawarkan bayaran yang sedikit. Ia menolaknya secara halus dengan berkata “..Saya tidak pernah menerima bayaran pada saat sedang liburan...”.

Pada akhirnya ia bisa melanjutkan perjalanannya dengan kereta berikutnya. Ia sangat senang ketika tiba di Lea Hall. Di tempat ini setidaknya ia berharap bisa menikmati kedamaian, kecuali  satu hari dalam seminggu ia berdarmawisata ke Middlewich untuk mengadakan pengobatan gratis bagi para pasien miskin.

Kala malam tiba, Fothergill beristirahat, namun di bawah wig medis putihnya yang rapi pikirannya mengembara. Koloni-koloni di Amerika akan segera berperang dengan Inggris. Memalukan bahwa pemerintah tidak mendengarkan nasihatnya untuk menjaga perdamaian di saat hal itu masih mungkin. Orang-orang baik di kedua tepian laut Atlantik mengharapkan hal itu, mereka seperti Benjamin Franklin dan dirinya yang dipersatukan dalam the Society of Friends yang lebih dikenal sebagai The Quakers. Akankah perang menghentikan pasokan tanaman-tanaman dan belukar eksotik yang sangat diharapkannya dikirim kepadanya oleh John Bartram?  

Botani merupakan satu-satunya bidang yang menarik baginya setelah kedokteran. Bidang lain yang juga menarik baginya adalah penelitian dari Benjamin Franklin tentang listrik. Fothergill masih merasakan suatu kesenangan tersendiri untuk peran yang dia mainkan dalam menuliskan harga pada tiap terbitan dari penelitian-penelitian tersebut. Karena itu Royal Society memasukkan Franklin sebagai anggota. Sekarang bahkan para ilmuwan membuat replika dan memperluas penemuan-penemuan dari Franklin.

Ia akan menulis karya-karya Franklin lagi. Mungkin ia dan Franklin belum menemukan rumusan yang tepat untuk memperdamaikan Inggris dengan koloni-koloninya. Baik sekali kalau mereka bisa saling bertemu lagi. Betapa banyak hal yang mereka temukan dari hasil diskusi mereka saat Franklin berkunjung terakhir kali, yang antara lain tentang penataan kembali penjara, abolisi, perpustakaan, dan metode terbaik untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, pendidikan generasi muda, peningkatan standar medis. Fothergill menceritakan tentang kekecewaannya terhadap pihak berwenang di London yang tidak mau membuka jalan baru untuk memungkinkan akses ke dalam kota seperti yang dilakukan pemerintah Philadelphia, kampung halaman sahabat karibnya ini.

Secara terbuka Franklin berbicara tentang Fothergill “..Saya bisa benar-benar yakin bahwa seorang yang lebih baik telah hadir..” Franklin juga menambahkan bahwa Fothergill pantas menerima “penghargaan dan  penghormatan dari semua manusia”. Mungkin hati Franklin terbakar dengan kemarahan, atas nama teman dokternya, karena pelecehan terhadap reputasi dan wawasan Fothergill yang tinggi dimana Fothergill ditolak oleh Royal College of Physicians untuk menjadi anggotanya  hanya karena ia bukan lulusan dari Oxford atau Cambridge. Kecemburuan profesional yang menjadi dasar penolakan tersebut.  Fothergill mengambil gelarnya di sekolah medis yang baru di Edinburg. Fakultas kedokteran Edinburg seluruhnya beranggotakan dokter-dokter yang diajar oleh sang dokter Belanda yang terkenal, Hermann Boerhaave, yang membantu menghancurkan kungkungan kebodohan dunia medis yang kejam selama berabad-abad.

Bila kebiasaan pelayanan bedside Fothergill dipelajarinya dari Boerhaave, maka keahliannya dalam hal penyakit diperolehnya dari Thomas Sydenham. Sama halnya seperti dokter-dokter Inggris yang terkenal di abad sebelumnya, Fothergill mengisolasi dan mendeskripsikan penyakit, menulis laporan mengenai neuralgia ( a tic), megrim, scarlatina dan metal poisoning.

Pengucilan Fothergill dari Royal College of Physicians tidak membuatnya menurunkan standar profesi medisnya yang tinggi. Teman-teman medisnya sendiri merupakan orang-orang dengan cap tertinggi, seperti Thomas Dimsdale seorang Pencacar (vaccinator) yang terkenal dengan virus cacar yang masih hidup, serta John Coakley Lettsom pendiri London Medical Society. Mereka inilah para Quakers. Mereka bersama-sama menikmati rasa percaya diri Fothergill yang terdalam juga respeknya dan sering berkorespondensi dengannya.

Seorang Quaker, lulusan dari Edinburg, tidak turut mengambil bagian dalam kemuliaan Fothergill. Samuel Leeds adalah seorang “buta huruf” yang bebal yang melanjutkan praktek medis yang membahayakan pasien dan Fothergill jelas menentangnya.  Leed membawa kasus ini ke suatu pengadilan terhadap Quaker. Jelas tidak ada standar hukum untuk mngadili kasus seperti ini.  Komite ini, yang buta soal dunia medis, melihat secara langsung kepada pandangan bahwa Fothergill adalah orang yang suka memaksa. Mereka memerintahkan Fothergill untuk membayar 500 poundsterling. Sejak mudanya Fothergill sudah mengikuti kehendak Tuhan dengan setia. Menghadapi masalah tersebut ia memutuskan untuk menolak membayar. Kehidupannya terancam oleh praktek perdukunan Leeds. Leeds berupaya membawanya ke pengadilan. Untuk melindungi dirinya sendiri  Fothergill masuk dalam suatu pembelaan.  Teman-temannya para Quaker pikir ini pasti suatu kesalahan karena seorang kristen akan pergi ke pengadilan melawan orang kristen lainnya. Setelan berbulan-bulan bertengkar, yang menyebabkan Fothergill sangat tertekan, akhirnya kasus tersebut diputuskan. Hakim memutuskan bahwa Fothergill sesungguhnya hanya mengerjakan tugasnya. Leeds meninggal setahun kemudian dalam keadaan yang jatuh miskin.  Segala kebutuhannya sebelum itu disediakan oleh seorang tak dikenal. Dan tersebar kabar bahwa itu merupakan perbuatan baik Fothergill yang dilakukannya secara diam-diam.

Fothergill merupakan seorang anggota jemaat yang aktif dari gerejanya. Dalam figur seorang pemimpin perkumpulan Quaker, ia bekerja  untuk memulihkan kemurnian dari Quaker Society. Sebagaimana yang dituliskannya kepada seorang ahli kimia yang terkenal, Joseph Priestly, yang sering dibantunya dari segi keuangan: “..harapanku yang paling dalam adalah bahwa semua profesor kekristenan lebih tekun dan bersungguh-sungguh menjalani kehidupan mereka sebagai orang kristen...”.

Menurut definisi Fothergill, seorang kristen adalah seseorang yang melayani sesamanya. Oleh karena itu ia aktif membentuk sebuah perkumpulan dalam rangka memperkenalkan metode yang kemudian kita kenal sebagai first-aid resuscitation. Secara aktif ia mengadakan pendekatan pada pihak berwenang untuk program pelebaran jalan dan pembuatana jalan baru.  Ketika John Woolman, seorang Quaker abolitionist (anggota gerakan penghapusan) yang cermat, mengunjungi Inggris, Fothergill menerimanya dan ia mendapakan dukungannya. John Woolman memberikan masukan tentang sebuah sistem yang lebih baik mengenai pencatatan statistik yang vital, dengan kasus khusus dalam hal pencatatan kasus kematian. Menyadari pentingnya pendidikan, dengan senang hati ia mendanai sebuah sekolah Quaker yang kemudian dilaporkannya mempunyai 150 orang murid laki-laki dan 80 orang murid perempuan.  Ia yang mendukung biaya studi seorang sarjana yang miskin bernama Anthony Purver, yang kemudian menterjemahkan Alkitab dengan lebih akurat.

Setelah menjalani kehidupan yang sehat dan bebas dari minuman keras Fothergill menderita kanker prostat yang mematikan. Mendekati ajalnya ia banyak menghabiskan waktunya bersama sahabat karibnya, David Barclay seorang teolog Quaker. Barclay berkata bahwa Fothergill sangat tenang menghadapi masa-masa akhir hidupya, karena ia menyadari bahwa kehidupan yang dijalaninya tidak sia-sia karena ia banyak menolong sesamanya.

Kepada saudara perempuannya yang terkasih, Ann, yang bersama dengan dia, Fothergill berkata “..Bergembiralah..jangan menahan saya..Saya sedang ragu apakah akan baik-baik saja bagi saya, tetapi sekarang saya puas diatas keraguan itu..diatas keraguan, bahwa saya akan merasa senang selamanya.  Kesukaran-kesukaranku sudah berakhir karena itu bergembiralah..dan kiranya  engkau diberkati saat ini dan dalam kekekalan..” Kehidupannya selama dua minggu terakhir dijalaninya dengan penuh penderitaan dan ia meninggal setelah natal tahun 1780. 

Jika ada seseorang yang mempraktekan keduanya, iman dan medis maka orang itu adalah Fothergill.



Sumber:

Diterjemahkan dari buku "Doctors Who Follow Christ, Thirty-two Biographies of Eminent Physiciand & Their Christian Faith(Dan Graves, Grand Rapids-USA: Kregel Publications,1999)

Selasa, 17 Januari 2017

Doctors Who Follow Christ (AMBROISE PARÉ)

AMBROISE PARÉ
(CA. 1510-1590)

Ahli Bedah Moderen Pertama



“..maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit”  (Lukas 7:47)


Para dokter tidak selamanya baik hati terhadap rekan sesama dokternya. Oposisi medik terhadap penemuan Lister mengenai pembedahan antiseptik dan pengembangan vaksinasi dari  cacar sapi (cowpox) oleh Jenner menunjukkan betapa sengitnya satu inovasi bisa ditemukan. Paré juga mengalami penderitaan dari kawan sebayanya. Di dalam masa hidupnya ia dicemooh karena asal usulnya yang dari kelas rendah dan penggunaan logat Perancisnya di dalam tulisan-tulisannya. Walaupun demikian, kita mengingatnya sebagai seorang inovator terbesar dalam bidang pembedahan.  


Tahun 1536 seorang tukang cukur muda belajar sambil bekerja diantara para prajurit Perancis yang menyerang Turin. Ia berada di sana sebagai seorang ahli bedah. Pada masa itu para dokter tidak mengadakan pembedahan. Tugas pembedahan tersebut tidak pantas bagi kodrat mereka sebagai dokter karena itu merupakan suatu tugas yang hanya pantas bagi seorang tukang cukur rendahan.

Ambroise Paré, ahli bedah dan tukang cukur tidak pernah melihat peperangan sebagai alasan kepeduliannya terhadap para prajurit. Ia digerakkan oleh penderitaan para prajurit. “Saya kasihan dengan mereka” tulisnya. Pity (kasihan) berulang kali muncul dalam kisah pengalamannya yang menyedihkan. Melalui kebanyakan sejarah, seni penyembuhan lebih berseni sedikit dari pada kesalahan/eror, lebih kurang menyembuhkan dari pada membunuh. Situasi tersebut meningkat dalam skala ukuran belas kasihan seorang Ambroise Paré. Ia tidak menyembunyikan dirinya dari penderitaan akibat perang, tetapi ia mengurangi ketakutannya sebanyak mungkin, dan menjadi seorang tabib yang terampil sejalan dengan proses.

Paré tidak mengikuti pelatihan formal. Mungkin ini juga yang dibuktikan bahwa pengalaman dapat mengajar dengan lebih baik seorang pria yang senang mengamati dari pada kesalahan dalam banyak buku. Paré sendiri kurang membaca karena ia memberitahukan kepada kita mengenai buku Jean Vigo, Of Wounds in General. Namun fakta-faktalah, bukan teori, yang membimbing dia. Satu malam ia kehabisan minyak yang biasa dipakainya untuk membakar luka tembak yang diderita para prajurit. 

"Saya memaksakan diri untuk memakai satu campuran (medicament) dari kuning telur, minyak mawar dan minyak tusam (turpentine) yang bersifat digestif. Malam itu saya susah tidur, ketakutan kalau mereka-mereka yang menderita luka itu meninggal atau keracunan karena kurangnya minyak untuk cauterization yang seharusnya saya lakukan pada mereka, dan hanya memakai medicament sebagai gantinya. Saya bangun pagi-pagi benar dan mengunjungi mereka, dan diluar dugaan saya, saya menemukan bahwa mereka yang hanya diberikan medicament justru hanya sedikit merasa sakit dan luka mereka tidak mengalami imflamasi ataupun pembengkakan, mereka bisa tidur nyenyak sepanjang malam; sementara yang lainnya yang saya pakaikan minyak merasa demam, sangat kesakitan dan luka mereka membengkak. Kemudian sejak itu saya berketetapan untuk tidak melakukan cauterization pada luka tembak mereka lagi."

Patut disesalkan bahwa buku Paré tidak dibaca dengan baik pada masa itu. Dua ratus tahun kemudian para dokter yang tidak terpelajar masih tetap menggunakan cara-cara cauterization yang tua/lama dan kejam.

Wawasan bercampur dengan kepolosan dalam Paré. Dalam satu paragraf ia belajar menangani luka tembak dengan belas kasihan. Dan dalam paragraf berikutnya ia berkisah tentang obat yang baik untuk mengatasi luka tembak yang diperolehnya dengan membujuk seorang ahli bedah yang terkenal. Obat tersebut terdiri dari rebusan minyak bunga bakung, newborn pups (anak anjing yang baru lahir), cacing tanah, dan minyak tusam. Paré selalu konsisten, ia berupaya mendapatkan hasil yang pragmatis dan berpikir bahwa ia telah memperolehnya dari kedua kasus tersebut.

Paré seorang yang percaya bahwa semua orang sederajat (egalitarian). Ia memiliki keyakinan dalam memperlakukan manusia secara utuh, baik mereka yang biasa-biasa saja maupun yang berharga. Kisah-kisah dalam metodenya semakin banyak. Pada waktu Duke d’Auret menderita luka tembak Pare berkeras menempatkan bunga-bunga diruangan perawatannya untuk mengurangi  bau amis/busuk dari luka tembaknya dan meyakini bahwa pasien yang sedang dalam pemulihan ini bisa terhibur dengan musik, humor, dan suara hujan yang artifisial untuk menenangkan sarafnya dan  mempercepat kesembuhannya. Sang Duke sembuh. Pada waktu seorang prajurit yang terluka sangat parah diserahkan oleh rekan prajuritnya maka Paré mendapatkan izin dari komandan pasukan untuk mengobatinya. Prajurit tersebut pun sembuh.

Sekarang ini, kita perduli dan berpikir bahwa suatu operasi atau pembedahan harus diikuti dengan rehabilitasi. Beberapa ahli bedah di zaman itu kelihatannya kurang perduli dengan hal itu, tetapi Paré perduli. Baginya tidak cukup hanya menyelamatkan nyawa seseorang melalui operasi amputasi, ia harus juga dimampukan untuk berfungsi setelah itu. Untuk memfasilitasi hal ini maka seorang dokter yang baik dengan pandainya mengembangkan anggota tubuh artifisial.

Keberhasilan demi keberhasilan dialami oleh Paré setiap kali ia menggunakan pisaunya. Tetapi ia tidak menjadi bangga diri. “Saya mengoperasinya dan Tuhan menyembuhkannya” demikian pernyataan yang senantiasa diungkapkannya. Para prajurit yang diobatinya sangat menghargai perhatiannya terhadap kesejahteraan mereka. Para prajurit musuh memanggul dia di bahu mereka dan mengaraknya sepanjang jalan ketika ia berhasil mengoperasi rekan-rekan prajurit mereka. Di waktu lain prajuritnya sendiri mengumpulkan uang persembahan dan memberikan kepadanya.

Paré berjuang demi kebenaran. Sayang sekali buku-bukunya, karena ditulis dalam bahasa Perancis dicemooh oleh para penguasa yang memakai bahasa Latin dan Yunani sebagai bahasa yang pantas dalam membahas gagasan-gagasan di bidang medis. “Hippocrates menulis dalam bahasa Ibunya” ingat Paré. Walaupun para penguasa bersikap berat sebelah, tulisan-tulisan Paré tersebar secara luar biasa, terima kasih untuk pihak penerbit.

Seorang dokter bernama Gourmelen mulai cemburu. Ia  mulai mengadakan aksi-aksi yang tidak bermoral dalam menentang Paré, ia meminta agar buku-buku medis perlu disetujui terlebih dahulu oleh fakultas kedokteran Paris sebelum diterbitkan. Gugatan Gourmelen diamat-amati oleh seluruh profesional medis. Mereka juga membenci tukang cukur yang magang, yang sedang menjadi orang kaya baru ini.  Menghadapi pihak oposisi ini Paré sangat dibantu oleh teman-temannya. Para raja Perancis menyokong dia dan ia berhasil melayani empat dari mereka. Hal ini yang membuat ia mampu bertahan menghadapi pihak oposisi. Bagimanapun juga, para saingan sulit mati dan setelah kematian Paré penguasa Perancis yang reaksional membuang buku-buku Paré dan kembali ke metode lama. Bagi para dokter yang bersikap terbuka, teknik pembedahan Paré bagaikan sebuah alkitab bidang bedah hingga John Hunter (1728-1793) menggantinya dengan metode-metode yang lebih baik di abad ke-18.

Jauh ke depan setelah zamannya, Paré telah memberikan banyak sumbangan bagi dunia medis, termasuk inovasi-inovasi dalam bidang obstetrik. Dari contohnyalah maka benang penjahit luka untuk menghentikan pendarahan menjadi semakin sering dipakai, sebagimana dalam surgical truss. Pemikirannya menuntun dia ke suatu pemikiran yang samar mengenai infeksi yang bisa ditularkan. Tidak takut akan celaan, ia membedah jenasah untuk mendapatkan pengenalan anatomi. Dalam beberapa kasus ia bahkan mengadakan pembedahan mayat. Ia mendukung pemantauan tingkat kesehatan masyarakat.

Jika diamati maka kita bisa melihat bahwa Paré adalah seorang pembuat eksperimen (penguji coba). Ia mau mencoba obat-obatan para istri tua untuk melihat apakah mereka bisa menyembuhkan, sebagian bisa dan sebagian lagi tidak bisa. Jika ia tidak selalu bisa mengatakan perbedaannya, namun observasi obyektif dan eksperimentasi merupakan tujuan dan sumbangannya yang terbesar bagi dunia medis. Gagasan-gagasannya mengenai teknik dan diagnosis telah berakhir setelah empat abad. Selama bertahun-tahun, misalnya ia menguji suatu perlakuan untuk luka bakar yang diperlihatkan kepadanya oleh seorang wanita tua dan ia menunjukkan secara meyakinkan luka bakar tersebut diobati dengan obat-obatannya sembuh tanpa blebs sedangkan pengobatan tradisional meninggalkan  tanda-tanda yang tidak sedap dipandang mata.

Jelas dari beberapa cerita tentangnya, Paré adalah seorang Calvinis Perancis. Ada bukti bahwa keluarganya merupakan Huguenot dan bahwa pendeta dari aliran itu merupakan gurunya yang pertama. Orang sejamannya berkata bahwa raja melindungi hidupnya selama masa “St. Bartholomew’s Day Massacre” dimana ribuan kaum Huguenot dibunuh. Semua bukti-bukti menunjukkan bahwa ia adalah orang percaya sejati. Kita tidak menemukan rasa mengasihani diri dalam tulisan-tulisannya yang lain, sebagaimana  secara alamiah tertabur dalam karya-karyanya.  Ia  meminta dengan sangat para ahli bedah muda agar bekerja bukan demi uang tetapi melaksanakan tugas mereka sampai akhir, bahkan dalam kasus yang tanpa harapan. Ia sederhana dan rendah hati, suatu kualitas yang bersumber secara langsung dari rasa belas kasihannya yang mendalam dan tidak fanatik. Bukan saja ia mengembalikan alasan dari segala keberhasilannya kepada Allah tetapi tulisan-tulisannya juga menghembuskan belas kasihan kristiani bagi semua yang menderita sakit.

Huguenot atau bukan, ia merupakan orang yang penuh belas kasihan dan baik hati. Di usia delapan puluh, dokter yang gagah berani ini menghentikan suatu prosesi keagamaan di Paris selama penyerangan terhadap Henry dari Navarre dan ia menghadap Uskup Lyons bukan karena tegar tengkuk tetapi demi membela Henry dari Navarre. Sang Uskup menjadi ramah dan pengepungan dibubarkan seminggu kemudian, mungkin karena pemunculan Paré. Dalam hal ini membuktikan bahwa hatinya selalu tertuju pada kebenaran. Paré meninggal tidak lama ketika penyerangan semakin meningkat.


Generasi-generasi berikutnya memuja-mujanya. Kisahnya diulang-ulang dalam berbagai kumpulan biografi medis. Ia berada diantara para dokter yang sangat terkenal dalam semua generasi.


Sumber:
Diterjemahkan dari buku "Doctors Who Follow Christ, Thirty-two Biographies of Eminent Physiciand & Their Christian Faith(Dan Graves, Grand Rapids-USA: Kregel Publications,1999)

Selasa, 10 Januari 2017

Doctors Who Follow Christ (HERMANN BOERHAAVE)

HERMANN  BOERHAAVE
(1668 - 1738)


PAKAR DI BIDANG INSTRUKSI KLINIS



“..Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan TUHANlah yang terlaksana”
(Amsal 19 :21)


Para dokter terbesar adalah guru. Hermann Boerhaave  mengajari satu generasi dokter di seluruh Eropa. Para mahasiswa mengenalnya sebagai seorang guru yang mereka hormati dan teladani oleh karena dengan kerajinannya ia tidak hanya mengajar tentang kedokteran tetapi juga kimia dan botani. Kepribadiannya yang menarik memampukannya untuk menyalurkan metode-metodenya yang bisa ditiru kepada para mahasiswa. Ia menciptakan dokter-dokter yang simpatik dengan caranya sendiri.


Angka harapan hidup bayi sangat rendah pada waktu hermann Boerhaave lahir. Beberapa orang saudaranya yang lahir sebelum dia meninggal saat masih bayi. Mungkin inilah alasan dari Pdt. Jacobus Boerhaave untuk membaptis Hermann sesaat setelah ia dilahirkan. Hermann bertahan hidup di Voorhout, suatu daerah yang berjarak beberapa mil dari Leyden, Belanda. Ibunya meninggal ketika ia berusia lima tahun. Jacobus kemudian menikahi Eva du Bois, anak perempuan seorang Pendeta. Eva ini menjadi seorang teman bagi anak tirinya walaupun ia kemudian melahirkan anak-anaknya setelah menikah dengan Ayah Hermann. Ia mengasihi Hermann seperti anaknya sendiri. Jacobus, seorang yang terpelajar, membimbing Hermann dan memberikan kepadanya contoh kerajinan, kerja keras, dan kesederhanaan serta penghematan yang biasanya dilakukan oleh keluarga yang kurang mampu.

Minat kita dibentuk oleh peristiwa-peristiwa yang diluar pilihan kita. Demikian juga halnya dengan Hermann Boerhaave. Pada usia 12 tahun ia menderita borok di kakinya. Luka ini resisten terhadap semua bentuk pengobatan sehingga memaksanya tidak aktif mengejar ilmu. Masalah belum juga selesai. Mungkin hal tersebut adalah masalah tuberkolosis. Setelah satu tahun, Jacobus memutuskan untuk mengirim anak laki-lakinya untuk belajar ke Leyden, di tempat dimana ia mungkin bukan hanya akan menerima perawatan medis yang lebih baik tetapi juga memperoleh pendidikan yang tidak pernah diperolehnya di Voohout. Herman yang berusia 13 tahun dengan segera diterima di Universitas Leyden yang 2 tahun kemudian dimasukinya sebagai mahasiswa teologi.  Borok yang dideritanya tetap menyiksanya dan membangkitkan dalam dirinya minat yang mula-mula terhadap bidang medis. Pada saat seluruh pertolongan para dokter terbukti sia-sia, ia merawat dirinya sendiri dengan ramuan obat rumahan yang diraciknya sendiri yang terdiri dari campuarn garam dan air seni/urine. Sangat mengherankan karena lukanya menjadi sembuh.

Sebelum Hermann menyelesaikan studinya di universitas,  ayahnya, Jacobus, meninggal.  Pendidikan sang anak terancam putus karena Ibu tirinya hanya ditinggalkan dengan peninggalan yang sangat sedikit dan 9 orang anak. Namun Hermann yang berusia 15 tahun mendapatkan beasiswa yang berlaku surut. Hal ini sangat membantu beban keuangan Ibu tirinya dalam hal pendidikannya.

Jacobus ingin anaknya menjadi seorang pendeta, oleh karena itu Boerhaave masuk sekolah filsafat yang menjadi prasyarat dalam study teologinya. Filsafat pada waktu itu bukan hanya mengenai metafisika dan etika tetapi juga ilmu pasti alam. Jadi, tanpa disadarinya, jejak kaki Boerhaave sudah tertanam dijalan menuju ke dunia kedokteran. Diluar tugas-tugas belajarnya, Boerhaave juga mendaftarkan dirinya untuk kelas bahasa Latin, Yunani dan retorika. Ia melakukan hal tersebut karena ia terpilih sebagai utusan untuk mengikuti acara debat publik pada usia 17 tahun, dan di usia 21 ia memenangkan medali emas untuk suatu lomba pidato. Di usia 22 tahun ia mengambil gelar doktor filsafatnya pada tahun 1690, dan segera meneruskan kuliah teologinya.

Boerhaave bukan siapa-siapa jika tidak rajin. Jadi dengan memahami imannya dan menjadi seorang teolog terbaik, ia mempelajari Kitab Suci dalam bahasa aslinya dan membaca semua sejarah bapa-bapa gereja sebagai pelajaran tambahan. Baginya Kitab Suci sendiri mengajarkan jalan keselamatan. Ia berencana menulis tesis yang mempertanyakan mengapa banyak sekali individu di masa awal-awal boleh bertobat datang kepada Kristus oleh penginjilan sedikit orang dan hanya sedikit saja yang bertobat di zamannya dimana banyak orang yang berpendidikan teologi.

Boerhaave tinggal serumah dengan Ibu tirinya yang sudah kembali lagi ke Leyden. Sebagai tambahan bagi studinya ia mulai mengajar matematika untuk menambah penghasilan dan meringankan beban Ibu tirinya dari segi keuangan. Ia juga menerima jabatan yang cukup tinggi saat ia dipercayakan untuk menyusun katalog dari sejumlah buku yang merupakan koleksi sumbangan buku untuk universitas Leyden. Ketekunannya mengerjakan tugasnya tersebut membuat ia dikenal sebagai seorang tokoh dan direkomendasi untuk mempelajari kedokteran.  Sebagaimana janggalnya bagi kita, memang dimasa itu suatu hal yang tidak masuk akal juga bahwa seorang yang mempelajari teologi akan belajar kedokteran. Para pendeta, yang waktu itu biasanya orang-orang yang terdidik dan terpandang di masyarakat, sering kali juga diminta nasehat mengenai kesehatan karena sangat kurangnya tenaga yang memenuhi syarat untuk hal tersebut. Dengan pengetahuan kedokteran Hermann Boerhaave menjadi lebih berarti di mata jemaatnya.

Bagaimanapun juga ia tidak pernah menjadi seorang pendeta. Satu dari sekian peristiwa dalam hidupnya menjadi cara dimana Tuhan mengatur kembali jalan hidupnya. Yaitu pada suatu waktu, saat sedang mengayuh sebuah perahu di sungai ia mengucapkan sebuah kalimat yang mengubah hidupnya dan sejarah kedokteran.  Seorang filsuf Yahudi bernama Spinoza telah menerbitkan sebuah buku mengenai praktek bidat yang percaya akan kekuatan alam. Mimbar-mimbar gereja protestan di Belanda semua menentang bidat ini. Di dalam perahu, beberapa orang sesama penganut protestan yang angkuh sedang berbicara menentang Spinoza bukan berdasarkan argumen yang masuk diakal tetapi dengan  ad hominen menyerang sang filsuf sebagai seseorang yang meninggalkan Tuhan. Salah seeorang pria dari antara mereka mulai bersemangat. Lelah dengan pembicaraan yang kosong tersebut, Boerhaave menantang pria tersebut dengan suatu pertanyaan yang sangat sederhana : apakah dia pernah membaca tulisan Spinoza? Ternyata dia belum pernah membaca tulisan Spinoza. Karena merasa malu pria itu akhirnya terdiam. Kalimat tersebut ternyata sangat penting. Seorang penonton peristiwa itu menulis nama Boerhaave. Gosip pun beredar, Boerhaave dicap sebagai seorang Spinozist (penganut paham Spinoza). Tentu saja hal ini tidak benar. Ia bahkan pernah mengkritik Spinoza dalam pidato wisudanya beberapa tahun sebelumnya. Namun demikian, ia tahu setelah itu bahwa tidak akan ada lagi mimbar gereja yang akan terbuka baginya. Akhirnya ia memutuskan untuk menjadi seorang dokter.

Boerhaave menyelesaikan studi kedokterannya dalam waktu yang relatif singkat, hanya dalam waktu 2,5 tahun. Bukan di Leyden tetapi di Hardenwijk dimana biayanya lebih murah. Walaupun ia terus mempelajari Kitab Suci secara pribadi setelah ia menjadi dokter, fokusnya sekarang adalah kedokteran. Ia membuka tempat praktek kecil di Leyden, dimana ia bekerja dari rumah Ibu tirinya dan mengunjungi pasiennya yang hanya sedikit. Jika dilihat maka hanya sedikit saja yang diperolehnya dari karir yang dipilihnya ini, pendapatannya sebagai dokter lebih sedikit dibandingkan jika ia mengajar matematika.

Namun Boerhaave tidak pernah membuang-buang waktu. Melanjutkan pola yang sudah diterapkannya selama itu, di sela-sela waktu senggangnya ia belajar kimia dan bidang sains lainnya. Ketekunannya ini pada akhirnya mendapatkan ganjarannya. Pada waktu posisi pengajar (dosen) di universitas Leyden terbuka, salah seorang yang terkemuka di universitas tersebut mendekati dan menawarkan padanya posisi tersebut, bukan sebagai profesor penuh waktu, tetapi hanya sebagai dosen. Boerhaave yang sederhana & rendah hati sempat ragu-ragu, tetapi akhirnya menyetujui tawaran tersebut. Keputusannya ini membuka pintu baginya untuk terkenal ke seluruh dunia.

Tahun-tahun disaat mana ia mempelajari dan menerapkan berbagai cabang pengetahuan membuatnya mencapai apa yang sangat sedikit orang capai. Ia  melimpah dengan berbagai wawasan dan pengetahuan.  Para mahasiswa datang, mendengarkannya dan mengisi buku catatan mereka pelajaran kedokteran yang begitu praktis dan mudah diikuti. Inilah seorang guru yang terbukti tahu sesuatu. Apalagi? Ia begitu terbuka, praktis, dan berjiwa sosial dengan karakter yang tanpa cacat. Tidak seperti banyak pribadi terpelajar lainnya, ia cepat memberikan perhatian pada orang lain dan bahkan tidak pernah berselisish dengan orang yang paling mencelanya.

Saat ini kita perhatikan bahwa para dokter akan melihat  banyak kasus-kasus aktual selama masa magang mereka. Boerhaave merupakan salah satu yang membuat hal itu menjadi suatu praktek yang berlaku universal. Ia memberikan bedside lecture dalam dua bangsal yang masing-masing terdiri atas enam tempat tidur, satu bangsal untuk mahasiswa laki-laki dan yang lainnya perempuan. Dengan menyeleksi pasien secara hati-hati, ia memastikan bahwa murid-muridnya melihat sebanyak mungkin kasus-kasus yang menarik. Dan dalam bangsal-bangsal yang kecil tersebut ia mengajar murid-muridnya secara metodis seni memeriksa pasien dan bagaimana mendiagnosanya.  Jika Anda menanyai dia  maka ia akan menjawab bahwa pekerjaan dari kehidupannya adalah untuk melakukan fungsi-fungsi tubuh secara sistematis dengan menentukan secara tepat hukum-hukum fisika dan kimia dalam setiap tindakan. Hal yang sesungguhnya ia ciptakan adalah tentang kebiasaan bedside lecture dan metode diagnosis yang menjadi begitu mengesankan di seluruh Eropa dan membuatnya disejajarkan dengan Hippocrates, bapak kedokteran Yunani. Ia memenangkan nama besar ini pada saat sebuah surat dari Cina Mandarin tiba dialamatnya, yang tertulis “Kepada Boerhaave yang temasyhur, dokter di Eropa”.

Metode Boerhaave tersebar dengan cepat ke seluruh Eropa karena ia memutuskan untuk mengajar dalam bahasa Latin, yang membuatnya diterima secara universal oleh karena pada waktu itu bahasa Latin masih merupakan lingua franca bagi kaum terpelajar di Eropa. Tetapi faktor menyebarnya tersebut terutama adalah karena kepribadiannya. Sebagaimana para guru besar, maka pengaruhnya terlihat melalui murid-muridnya karena ia mengajar setengah dari jumlah dokter yang ada di Eropa termasuk salah satunya dr. Albrecht Haller yang terkenal juga di tahun 1708-1777 dan Gerard van Sweiten (1700-1772). Kedua orang pria ini banyak memberikan kepada kita catatan-catatan dari kuliah yang disampaikan Boerhaave. Dari mereka kita belajar bahwa prosedurnya adalah mengunjungi pasien setiap hari, menegur mereka dengan penuh perhatian, belas kasihan, dan keramahan. Pada saat seorang pasien yang sakit datang padanya, ia menanyakan beberapa pertanyaan, mencatat sejarah klinis, mempertimbangkan keluhan pasien, dan dicatat bersama dengan diagnosis dan prognosisnya. Tiap hari ia meng-update catatan-catatan ini sesuai dengan kemajuan pasien.  Mahasiswa tingkat akhir dilibatkan untuk memberikan nasehat (advice).

Tentu saja, tidak semua dokter di Eropa yang bisa duduk dalam kelas kuliah Boerhaave. Mereka yang tidak bisa itu boleh mencatat saran atau petunjuk untuk pasien yang diberikannya dengan rela. Kerelaannya untuk melayani membuatnya dikasihi. Ia begitu dikasihi sehingga suatu waktu lonceng-lonceng gereja dibunyikan untuk menandai kesembuhannya dari sakit encok. Popularitasnya diperolehnya oleh karena kepeduliannya terhadap orang lain. Baginya kaum miskin adalah pasiennya yang paling utama karena TUHANlah yang membayar biaya pengobatan mereka.  Bukankah Kristus juga mengkhususkan pelayanan-Nya kepada mereka yang miskin?

Dari semua kebijaksanaan dan hikmatnya, gagasan-gagasan Boerhaave seringkali salah. Ia menganut teori mekanistitik tubuh Cartesian, karena itu kadang-kadang ia mencari secara langsung penyebab-penyebab mekanis dari aktifitas tubuh walaupun tidak semua bisa dijelaskan dalam konteks tabung dan katup. Dengan pandangannya yang seperti ini tidak mengejutkan jika ia merupakan dokter pertama yang berpengaruh dalam hal pemakaianan termometer secara luas pada saat itu. Dan hal tersebut merupakan sesuatu yang praktis bagi seorang mekanis untuk dilakukan waktu itu dan merupakan juga standar praktek saat ini.

Tetapi Boerhaave bukanlah seorang Cartesian yang fanatik. Teori-teori mekanistiknya diperlembut oleh penolakannya untuk dibatasi oleh hanya satu teori saja; ia meminjam gagasan apa saja yang kelihatannya tepat. Salah satu pengaruhnya adalah seorang dokter penuh inovatif dari Inggris, Thomas Sydenham, yang mengidentifikasi sejumlah penyakit dan memberikan deskripsinya yang jelas (sebagai imbalannya, Boerhaave melatih para dokter yang mendirikan Edinburgh Medical School, yang mentransformasi praktek kedokteran Inggris).  Boerhaave menggabungkan pengetahuan medis/kedokteran ke dalam sintesa terbaik yang mungkin.  Hal inipun menjelaskan otoritasnya.

Lebih dari seorang dokter, Boerhaave juga secara metodis belajar sendiri tentang ilmu tumbuhan dan kimia.  Ketika jabatan profesor bidang botani dan kimia terbuka maka ia diminta untuk menduduki jabatan tersebut.  Jadi, dalam satu kurun waktu, sang guru yang brilian dan pekerja keras ini secara simultan memegang sekaligus tiga jabatan profesor dari lima bidang yang ada di universitas Leyden, yaitu bidang kimia, botani dan kedokteran, hal ini makin menambah prestisenya di universitas dalam ketiga bidang tersebut.  Sebagai seorang profesor bidang botani, Boerhaave bertanggung jawab terhadap sekolah pertanian dan melipat gandakan sejumlah spesimen yang ada menjadi lima ribu spesimen, membuat katalognya sehingga dari daftarnya saja orang yang membaca cetakannya bisa melihat keseluruhan koleksi spesimen yang ada.  Menyadari akan kebutuhan nomenklatur/penamaan maka Boerhaave ikut mendukung pekerjaan Carl Linnaeus (1707-1778) yang memberikan tiap tumbuhan dua nama : genus dan species.

Kontribusi Boerhaave sebagai seorang ahli kimia juga tidak pernah tanpa orisinalitas; ia merupakan orang yang pertama mengisolasi urea. Text Booknya yang berjudul Element of Chemistry memberikan beberapa hukum. Bidang kimia belum mencapai tingkat elevasi tersebut. Namun demikian itu merupakan penelitian yang baik, jelas, mudah dipahami, dan berdasarkan pada pengalaman pribadi sehingga itu menunjukkan pengaruhnya yang jelas terhadap seorang inovator besar lainnya yang bernama Robert Boyle.

Berulang-ulang penulis biografinya menemukan bukti pengaruh dari orang-orang kristen yang berpengaruh dalam latar belakang kehidupan orang-orang besar dari dunia Barat, dan ini benar terjadi pada Boerhaave. Ia menjadi besar sebagian karena keluarganya dan imannya. Sebagaimana yang sudah kita catat, ayahnya yang saleh secara pribadi membimbing dia dalam pendidikannya. Ibunya juga seorang yang saleh dan alim. Walaupun ia  hanya memiliki kenangan yang sangat sedikit akan Ibunya, tidak diragukan bahwa Ibunya ini berperan dalam pembentukan karakter awalnya di masa kecil.  Ibu tirinya mempunyai peran yang jauh lebih besar, dan ia juga memiliki iman yang sangat besar. Boerhaave sendiri adalah seorang murid Kristus yang taat dan seorang yang belajar Alkitab sampai ia meninggal.

Karakternya membuktikan imannya. Ia begitu setia terhadap orang yang membantunya. Misalnya pada waktu ia lumpuh sehingga ia hanya bisa menolong sedikit sekali untuk Ibu tirinya, sebagai imbalan kebaikannya ia membalas jasa Ibu tirinya ini dengan membantu saudara-saudari tirinya ketika ia sudah mempunyai kedudukan dan mampu untuk melakukannya.

Guru besar Belanda ini menderita encok dan pembengkakan sendi-sendinya di saat-saat akhir hidupnya. Ia sangat kesakitan tetapi ia tidak mengeluh. Sepanjang hidupnya ia merasa riang gembira dan penuh dengan humor dalam percakapannya. Pada saat ia mendekati ajalnya, ia menerima penderitaannya dengan ketabahan seorang kristen, katanya: "Seseorang yang mengasihi Allah seharusnya berpikir bahwa tak satupun yang paling diinginkannya kecuali apa yang memperkenankan hati Tuhan Yang Maha Kuasa”. Dengan sikap seperti ini ia meneladani Kristus yang meletakkan kehendak dan kemuliaan Allah diatas segalanya.

Ia juga seperti Kristus dalam hal yang lain. Sebagaimana kata seorang kritikus bidang sastra yang terkemuka pada waktu itu, Samuel Johnson (1709-1784) mengenai dirinya: “..Belas kasihan dan kebergantungannya kepada Tuhan merupakan dasar dari semua kebajikannya dan prinsip dari semua tingkah laku dan tindakannya”. Jadi kesabarannya seperti Kristus. Saat ditanya bagaimana ia bisa dengan tenang menerima provokasi yang serius, Boerhaave mengaku bahwa sebenarnya ia seorang pemarah, tetapi karena terbiasa berdoa dan bersaat teduh ia mampu mengendalikan dirinya. Memang, setiap pagi begitu bangun dari tidurnya ia menyediakan waktu selama satu jam untuk saat teduh dan berdoa. Katanya ini memberikan kepadanya kekuatan untuk hari itu.  Dengan meneladani Kristus, katanya lebih lanjut, ia menemukan ketenangan.

Ia juga meneladani “TUAN”nya dalam hal mengampuni musuhnya. Pada waktu pengikut Cartesian memfitnahnya karena menolak doktrin-doktrin dari sekolah filsafat mereka dan menuduhnya merusak kekristenan (kritikannya adalah mengenai hal yang menyatakan bahwa seseorang bisa menjadi Kristen hanya jika melalui Cartesian),  maka para penguasa Leyden mengambil tindakan terhadap mereka. Para penguasa ini ingin menjatuhkan hukuman yang lebih lagi terhadap mereka jika Boerhaave memintanya, tetapi sang dokter besar ini hanya menjawab bahwa “baginya sudah cukup balasannya” jika penentangnya dibiarkan dengan peringatan yang sudah diterima mereka.

Kontribusi Boerhaave bagi dunia kedokteran bukanlah penemuan penyakit-penyakit baru atau penanganan masalah yang sulit seperti tingginya angka kematian bayi yang terus meningkat. Memang salah seorang dari anaknya meninggal saat masih bayi. Namun ia mengajar para penerusnya untuk mencatat dan menganalisa penyakit yang menyebabkan hal itu, memberikan waktu untuk itu dan menambah pengetahuan mereka. Yang patut disayangkan adalah bahwa sangat sedikit orang yang memiliki jiwa atau semangat Boerhaave. Banyak pengetahuan yang berguna terpahat di atas batu. Dia yang sangat lapar untuk mengembangkan penelitian medis akan sedih mendapati bahwa kemajuannya dalam banyak hal diperlambat oleh mereka yang setia akan kenangannya. Mereka melarang murid-murid baru mengembangkan atau meng-update kompilasi-kompilasi yang ditinggalkan Boerhaave, bahkan dalam terang pengetahuan baru. 


Sumber:
Diterjemahkan dari buku "Doctors Who Follow Christ, Thirty-two Biographies of Eminent Physiciand & Their Christian Faith(Dan Graves, Grand Rapids-USA: Kregel Publications,1999)

Senin, 09 Januari 2017

Shalom rekan-rekan medis yang dikasihi Tuhan Yesus.

RS Siloam Makassar membutuhkan tenaga dokter umum, dokter spesialis mata dan dokter spesialis saraf sebagai dokter full time. Jika ada rekan-rekan medis yang berminat, dapat menghubungi Dr. Chenny Muljawan (FB) / Chenny@siloamhospitals.com (email)

Terima kasih. Tuhan Yesus memberkati.

Selasa, 03 Januari 2017

Kekristenan Melalui Kedokteran

Ia berkata kepada Simon: "Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan." Simon menjawab: "Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena perkataan-Mu itu, aku akan menebarkan jala juga." Setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak. ---Lukas 5:4-6



Kurangnya kesempatan untuk menangani kebutuhan rohani pasien bisa membuat seorang dokter Kristen kecewa. Ada banyak alasannya, termasuk kurangnya waktu dan banyaknya pasien yang perlu dilayani, sementara tenaga yang tersedia tidak memadai. Seringkali para senior juga tidak menganggapnya sebagai prioritas. Cara pengobatan bio-psiko-sosial cenderung membuat kita bekerja tanpa perlu beriman kepada Tuhan. Menunjukan kepada teman sejawat bahwa kekristenan bisa mempengaruhi pekerjaan kita sebagai dokter juga adalah tantangan tersendiri. Keterkaitan kekristenan dalam dunia medis menimbulkan banyak pertanyaan, yang jawabannya tidak selalu jelas. Dari luar mungkin kelihatannya tidak banyak tempat bagi nilai-nilai rohani dalam profesionalisme masa kini.

Para murid berpikir begitu juga mengenai pekerjaan mereka, ketika Tuhan Yesus menyuruh mereka membuang jala lagi setelah bekerja keras sepanjang malam tanpa hasil. Kita seakan bisa mendengar Petrus berkata: "Tuhan, jika engkau hendak memakai perahu kami sebagai mimbar untuk ceramah boleh saja--tapi jangan mengajari kami cara menjala ikan! Itu keahlian kami." Namun, para murid menaati perintah Tuhan Yesus dan membuang jala mereka---yang kemudian penuh dengan ikan. Petrus berlutut di kaki Tuhan Yesus ... karena ia melihat kuasa Allah.

Apakah kita bersedia "membuang jala" dalam pekerjaan kita di dunia medis untuk Tuhan? Apakah kita memiliki mata dan visi untuk memperkenalkan pasien kita kepada Sang Penyembuh dan menantikan hasilnya? Apakah kita menanggapi hal ini seperti yang dilakukan Petrus... berlutut di hadapan Tuhan dan mengakui semua kekurangan kita?


Baca: Lukas 5:1-11

Oleh : Anthony Herbert
Disadur dari Sumber Hidup Praktisi Medis

Copyright 2007, Pelayanan Medis Nasional (PMdN) Perkantas

Jl. Pintu Air Raya 7, Komplek Mitra Pintu Air Blok C-5, Jakarta Pusat
Telp. (021) 3522923, 3442463-4 Fax (021) 3522170
Twitter : @MedisPerkantas
Download Majalah Samaritan Versi Digital : https://issuu.com/samaritanmag