Rabu, 20 Juli 2016

Mengejar Kesenangan

Apa yang kamu kehendaki Kuperbuat bagimu? --Matius 20:32


"Ada dua rasa yang berperan penting terhadap pengudusan kita," kata Pascal. "Rasa sakit dan rasa senang." Praktisi medis sudah terbiasa dengan rasa sakit, tapi kapankah kita melihat pentingnya menganggap kesenangan sebagai pembentuk hidup kita? Semua orang Kristen yang kukenal membuat hidup percaya mereka menjadi menarik, mereka mencintai hidup dan mempunyai hidup berlimpah-limpah. Mereka berbahagia dan sering tertawa, walaupun dari luar nampaknya tidak ada alasan jelas untuk merayakan sesuatu. Ini kontras dengan pandangan populer tentang orang Kristen yang dianggap selalu serius dan bekerja keras.

Tapi cap pietis itu tidak selalu tepat. Baru-baru ini aku membaca laporan gereja puritan, tahun 1695. Seorang suami yang hendak menunjukan penyesalan, berniat pantang berhubungan seks dengan istrinya selama setahun. Panatua gereja menegurnya bahwa ia tidak berhak menghalangi istrinya untuk menikmati kesenangan seks yang Allah berikan. Di dalam PL, Allah memberi janji-janji berlimpah-limpah yakni pengampunan dosa dan kesenangan yang tiada akhirnya--"di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa" (Mzm 16:11). Tuhan Yesus datang untuk menggenapi janji ini dan agar jiwa kita "menikmati sajian yang paling lezat" (Yesaya 55:2). Dalam Yohanes 4, Ia memfokuskan perhatian-Nya pada kehausan perempuan Samaria, dan bukan kepada reputasinya. Sama seperti pertanyaan-Nya kepada orang buta (Matius 20:32) Tuhan Yesus tidak segan mengemukakan keinginan orang dan mau supaya mereka mengerti bahwa hanya Dia yang sanggup memenuhi keinginan mereka itu.

Suatu pagi setelah hujan, udara bersih dan pohon penuh embun. Seekor bajing duduk mengunyah kacang, tidak menyadari kehadiranku. Aku merasakan sayup-sayup gema kesenangan Allah dalam ciptaan-Nya walaupun sudah cemar. Kesenangan kecil seperti itu dapat membuat kita merindukan Tuhan Allah lebih dalam lagi dan mengukuhkan pengudusan kita.

Baca: Mazmur 16.



Disadur dari: Sumber Hidup Praktisi Medis 2002.

Senin, 18 Juli 2016

Apakah dokter sudah menurunkan kolesterol pasien secara adekuat?

Studi terbaru terhadap sekitar 25.250 pasien dan dilakukan oleh tim peneliti Jerman, menunjukan bahwa hanya separuh dari semua pasien yang mempunyai risiko tinggi menderita penyakit jantung telah mencapai target penurunan kolesterol yang mencukupi.



Studi ini meneliti bagaimana dokter pada pelayanan kesehatan primer melakukan penilaian faktor resiko dan masalah kesehatan lain pada pasien, untuk menetapkan target penurunan kolesterolnya. Meskipun studi ini dilakukan pada populasi di Jerman, tetapi para peneliti menyatakan bahwa hal ini mungkin juga mencerminkan apa yang terjadi di seluruh Eropa. Dikatakan bahwa sekitar 50-80 kematian serangan jantung, stroke, dan penyakit jantung per 1.000 pasien dalam jangka waktu 10 tahun dapat dicegah, jika semua dokter mengikuti panduan anjuran target penurunan kolesterol yang ada.

Para peneliti penemukan bahwa pada survei yang dilakukan pada 907 dokter dan mencakup 25.250 pasien, hanya separuh pasien laki-laki (55%) dan kurang dari separuh pasien perempuan (49%) melakukan pengobatan dengan target LDL yang benar. Pasien cenderung mendapat yang tepat jika mereka mempunyai riwayat serangan jantung, penyakit arteri koroner, dengan atau tanpa operasi pintas koroner, dan diabetes. Meskipun demikian, dokter cenderung meremehkan risiko pada perempuan, dan menetapkan target yang tidak tepat. Sebagai contoh: meskipun pasien mempunyai riwayat risiko identik berupa serangan jantung yang baru saja terjadi, 68% laki-laki dan hanya 60% perempuan mendapat pengobatan dengan target penurunan LDL yang tepat.

Profesor Heribert Schunkert dari Medizinische Klinik II (medical clinic II), Universitatsklinik Schleswig Holstein, Lubeck, Jerman, yang memimpin studi ini menyatakan bahwa jika lebih banyak dokter mengikuti panduan target penurunan kolesterol yang ada saat ini, maka mereka dapat mencegah insidensi yang berhubungan dengan penyakit jantung, seperti timbulnya serangan jantung, stroke, dan kematian. 

Telah diketahui bahwa terapi statin dapat menurunkan insidensi kejadian koroner mayor 10 tahun sebesar 30 - 40% untuk setiap penurunan kolesterol-LDL sebanyak 40 mg/dl. Dalam studi ini, pasien dengan risiko tinggi dan mempunyai perbedaan kolesterol-LDL sebesar itu, mencerminkan kira-kira 13-17% lebih sedikit kejadian kardiovaskuler. Secara kasar dikatakan bahwa serangan jantung, stroke, dan kematian kardiovaskuler, besarnya adalah 50-80 lebih sedikit per 1.000 pasien dalam jangka waktu 10 tahun pada kelompok pasien yang diobati oleh dokter yang mengikuti secara tepat target penurunan kolesterol sesuai panduan. Meskipun jumlah ini hanya merupakan perkiraan kasar, tetapi memberikan dampak kesehatan yang sangat besar.

Kadar LDL rata-rata populasi dewasa di Jerman adalah sekitar 140 mg/dl, dan untuk pasien dengan penyakit jantung, kadar demikian sudah lebih tinggi dari yang seharusnya dan memerlukan pengobatan, misalnya dengan statin. Makin tinggi risiko penyakit jantung seseorang, maka target penurunan kolesterol-LDL seharusnya kurang dari 100 mg/dl untuk pasien dengan riwayat serangan jantung, penyakit arteri koroner, operasi pintas jantung koroner, penyakit arteri perifer, stroke, diabetes, TIA, atau yang mempunyai risiko kejadian kardivaskular 10 tahun lebih dari 20%. Target LDL kurang dari 130 mg/dl ditujukan untuk pasien dengan faktor risiko vaskuler dua atau lebih, seperti diebetes, stroke, atau penyakit arteri perifer. sedangkan target LDL kurang dari 160 mg/dl ditujukan untuk pasien dengan atau tanpa satu faktor risiko vaskuler dan mempunyai risiko kardiovaskuler 10 tahun yang kurang dari 10%.

Para peneliti menemukan bahwa sebagian besar pasien yang diobati dengan target penurunan kolesterol secara tepat terutama ada pada kelompk pasien yang ditargetkan kolesterolnya < 100 mg/dl (57,4% dari total 17.227 pasien). Laki-laki dengan riwayat serangan jantung cenderung paling banyak diobati secara tepat dengan target < 100 mg/dl (77,1%). Untuk pasien yang ditargetkan LDL-nya kurang dari 130 mg/dl atau kurang dari 160 mg/dl, hanya masing-masing 41,7% dari total 5.551 dan 2.472 pasien yang diobati secara tepat.

Meskipun studi ini difokuskan terhadap pengobatan kolesterol pada pasien di Jerman, yaitu secara lebih spesifik terhadap kesadaran dokter pada pusat pelayanan kesehatan primer untuk menetapkan target LDL berdasar karakteristik pasien, tetapi data serupa juga dilaporkan di Italia. Masalah dasarnya adalah persepsi terhadap risiko pasien, contohnya: perempuan seringkali dianggap mempunyai risiko kardiovaskuler lebih rendah dibanding risiko sebenarnya, dan hal ini dapat menyebabkan pengobatan yang diberikan tidak mencukupi. Aspek seperti ini juga telah dilaporkan terjadi di negara-negara lain di dunia.

Diharapkan bahwa hasil studi ini dapat mengingatkam dokter akan perlunya memahami panduan yang relevan, untuk menghitung besarnya target bagi setiap pasien secara individual, sehingga dapat diberikan pengobatan yang terbaik.

Ada sejumlah alasan mengapa dokter tidak mengikuti panduan secara benar, Perempuan seringkali diremehkan untuk risiko kardiovaskulernya oleh dokter, dan tidak semua dokter percaya bahwa modifikasi LDL dapat menurunkan risiko seseorang, meskipun bukti-bukti mengenai hal ini sangat banyak. Dokter yang lain mungkin masih bingung terhadap adanya panduan yang berbeda, berubah dan seringkali diperbaharui, sehingga dokter lainnya tidak mempunyai waktu cukup untuk mendiskusikan hal tersebut dengan pasiennya. Dokter perlu lebih banyak bantuan untuk menentukan risiko pasiennya, contohnya dengan bantuan perawat handal atau program komputer yang dapat menghitung risiko pasien secara tepat.

Para peneliti menyarankan agar panduan yang ada sebaiknya dibuat lebih sederhana, serta lebih mudah dipahami dan diikuti; metode untuk mengidentifikasi pasien risiko tinggi secara lebih mudah perlu dikembangkan; secara perhatian terhadap kelompok perempuan dan pasien tanpa risiko kardiovaskuler nyata, perlu ditingkatkan terutama jika faktor risikonya cukup banyak.

Profesor Ian Graham dari Adelaide and Meath Hospital, Dublin, Irlandia, memberikan komentar bahwa kolesterol darah jelas merupakan faktor risiko serangan jantung. Studi yang ada menunjukan bahwa sekitar separuh dokter di pusat pelayanan kesehatan primer di Jerman mempunyai masalah dalam menetapkan target terapi penurunan kadar kolesterol-LDL yang tepat pada subyek dengan hiperlipidemia. Jika targetnya tidak jelas, maka terapi yang diberikan juga cenderung tidak mencukupi. Studi ini menggunakan nilai target kadar kolesterol-LDL Amerika Serikat, di mana masalah tersebut dapat terlihat lebih buruk jika yang digunakan adalah target nilai LDL Eropa, karena target LDL Eropa sedikit lebih rendah dibanding Amerika.

Hasil studi ini merupakan asupan sangat bermanfaat bagi European Society of Cardiology dalam mempromosikan dan penerapan panduan yang ada di seluruh Eropa. Demikian juga, perlu dilakukan pendidikan medik di tingkat calon-calon dokter maupun dokter yang telah lulus pendidikan. Di beberapa negara, penggantian biaya kesehatan oleh asuransi dikaitkan dengan pencapaian target faktor risiko, sebagai faktor pendorong.


(European Heart Journal, 2010; DOI: 10.1093/eurheartj/ehq026).

Disadur dari : Medical Update, Juni 2010.

Selasa, 12 Juli 2016

Berhala Kesia-siaan

Mereka yang berpegang teguh pada berhala kesia-siaan, merekalah yang meninggalkan Dia, yang mengasihi mereka dengan setia. - Yunus 2:8


Sewaktu Anda membaca renungan hari ini apa yang Anda hadapi? Mungkin banyak kamar pasien yang harus dikunjungi atau tugas jaga malam penuh kesibukan, di tengah menggunungnya tugas laporan tertulis yang diwajibkan kantor dan tanggung jawab baru di rumah? Pikiran Anda mungkin penuh rasa khawatir, nama-nama orang untuk dikunjungi dan hal-hal yang perlu dilakukan. Tapi kapankah Anda pernah bertanya dalam hati, "Apa sebenarnya tujuanku hari ini, minggu ini atau tahun ini?" Terlalu sering, sebagai dokter dan praktisi medis, kita cenderung melihat aktivitas yang tidak ada akhirnya sebagai bukti standar moral yang tinggi, dan merasa bangga karena banyaknya hasil yang dicapai dalam waktu singkat. Tapi Yunus menyadari dari dalam perut ikan besar : "Mereka yang berpegang teguh pada berhala kesia-siaan, merekalah yang meninggalkan Dia, yang mengasihi mereka dengan setia." Mereka kehilangan anugerah yang seharusnya menjadi milik mereka.

Keselamatan datang dari Tuhan saja. Ketika kita lupa hal ini, kita tanpa disadari menyimpang dari jalan yang benar. Moto para profesional walaupun tidak disebut, "Aku bertindak, maka aku ada" mesti dibalik "aku ada (di dalam Kristus), maka aku bertindak (melakukan apa yang dikehendaki-Nya)." Yunus harus sampai ke titik di mana jiwanya "letih lesu", baru dia ingat Tuhan dan keselamatan-Nya, lalu dapat taat kepada-Nya (Yunus 2:7). Jika ambisi kita terarah kepada yang lain, kita tidak dapat atau tidak ingin melakukan kehendak Tuhan. 

Singkirkan segala kekhawatiran, hanya ada dua pertanyaan penting yang perlu dipikirkan setiap hari: 1. Bagaimana aku dapat bertumbuh dalam pengenalan akan Kristus? 2. Dimana aku dapat paling efektif melayani Dia?

"Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia daripada semuanya" (Filipi 3:8)



Baca: Yunus 2-2:10

Disadur dari: Sumber Hidup Praktisi Medis 2002.

Jumat, 01 Juli 2016

Apa yang Harus Aku lakukan?

Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN daripadamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu? -Mikha 6:8


Statistik dan konsensus memang penting dalam mengambil keputusan klinis, tapi kita tidak dapat menentukannya hanya dengan menekan tuts komputer. Penilaian klinis selalu diperlukan. Hal ini juga berlaku bagi pilihan-pilihan dalam lingkup etika dan moral. Alkitab bukanlah buku pegangan moral yang melarang orang berbuat ini dan mengharuskan orang berbuat itu. Juga bukan sederetan rumusan yang menentukan perilaku yang saleh. Bahkan Kesepuluh Perintah Tuhan pun lebih merupakan pernyataan umum, yang menunjukan batas-batas perilaku, dan yang memerlukan penafsiran serta penerapan, misalnya Matius 5:27, 28.


Keseimbangan antara kebenaran dan kasih, keadilan dan pengampunan, teruntai terus dalam seluruh Alkitab bagai sehelai benang emas yang memandu kita membuat keputusan (Efesus 4:15). Hal-hal itu dilambangkan dengan sangat jelas di kayu salib, di mana arah vertikalnya adalah keadilan Sang Bapa, dan arah horizontalnya adalah kedua lengan Sang Anak terentang lebar penuh kasih. Keduanya itulah yang membentuk kerangka kerjaku dalam mengambil keputusan mengenai setiap pasien hari ini atau besok. Apakah yang harus kuberikan kepada pasien ini? Apakah yang harus kukatakan kepada orang tua yang penuh kekhawatiran ini? Berapa besarkah biaya yang akan kutetapkan bagi laki-laki ini? Ke manakah, atau kepada siapakah pasien perempuan ini akan kurujuk? Aku tidak mungkin selalu benar dalam berbuat sesuatu, namun kemungkinan untuk itu makin besar bila aku belajar menerapkan bagian akhir ayat teks di atas- "...hidup dengan rendah hati di hadapan Allah." Betapa seringnya aku gagal dan baru kemudian kusadari, sesungguhnya aku tidak meminta pertolongan Tuhan (Yak 1:5).


Sikap menyimak Firman Tuhan setiap hari dan disertai sikap hati berdoa sepanjang hari, jelas penting bagi keberlangsungan praktis klinis yang baik, seperti halnya membaca majalah ilmiah dan mendengarkan dosenku juga. Dan ketika ada kesalahan apakah aku perlu minta maaf? Mikha 7:18, 19 mengatakan, Allah kita mengampuni dosa dan tidak terus-menerus marah, melainkan senang menyatakan kasih setia-Nya.

Baca: Mikha 6:6-8; Matius 5:17-37; Filipi 4:4-8.



Disadur dari : Sumber Hidup Praktisi Medis 2002.

Rabu, 29 Juni 2016

Undangan HUT Perkantas

Vision is a picture of the future that produces a passion in the heart of people - Bill Hybels

Shalom! 
Bersyukur kepada Tuhan karena berkat kasih penyertaan-Nya, pelayanan Perkantas dapat berjalan sampai usianya yang ke 45 pada tanggal 29 Juni 2016 ini.
Pernahkah terpikirkan, apa yang menjadi 'penggerak' pelayanan Perkantas sehingga dapat beranjak masuk pada usianya yg ke 45 tahun ini? Lalu apakah di jaman post-modern ini, kita masih digerakkan oleh 'penggerak' yang sama?

Mengundang rekan-rekan untuk bersama-sama hadir di Ibadah Syukur HUT Perkantas 45 yang akan diadakan pada:
Hari, Tanggal: Sabtu, 2 Juli 2016
Waktu: 16.30 - 19.00 WIB
Tempat: GKY Mangga Besar, Jl. Mangga Besar I/74
Tema: Driven by Vision (Matius 5:13-16)
Pembicara: Ir. Tadius Gunadi, MCS
Mari bersama-sama mendoakan dan menghadiri Ibadah Syukur ini 😊

Contact Person:
Indra (085780577958)
Elisabeth (081397443225)

Senin, 27 Juni 2016

Tubuh Kita, Persembahan yang Hidup

Karena itu, saudara-saudara, oleh kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itulah ibadahmu yang sejati. - Roma 12:1


Jika keselamatan kita semata didasarkan pada anugerah dan kemurahan Tuhan, maka motivasi apa yang seharusnya mendasari seluruh kegiatan kita di dalam Kerajaan Allah? Ayat di atas memberi jawabnya. Mengawali pasal ini dengan "Karena itu", Rasul Paulus mengatakan, karena begitulah kepribadian Allah, tak terbatas hikmat-Nya, pengetahuan-Nya, dan kemurahan-Nya, maka tanggapan kita terhadap apa yang dilakukan-Nya bagi kita seharusnya menyerahkan diri kita sebagai persembahan yang hidup. Dengan begitu barulah kita mampu berkenan kepada Allah.

Daripada berusaha keras memperoleh keselamatan, lebih baik kita ubah motivasi kita ingin menjadi orang yang berkenan kepada Tuhan sebagai ungkapan syukur karena kita telah menerima keselamatan. Karena itu, apa yang kita lakukan adalah untuk Tuhan, sebuah persembahan yang diberikan kembali kepada Dia. Itulah yang berdampak kepada Dia, yang menyenangkan hati-Nya. Kemampuan agar dapat berkenan kepada Allah Pencipta kita, semestinya memberi kita sukacita dan terus memotivasi kita untuk mengembangkan pekerjaan dalam kehidupan kita, yang dapat kita persembahkan kepada-Nya.

Rasul Paulus selanjutnya memberi tahu, inilah hakikat ibadah yang sejati. Kita sering berpikir ibadah terjadi hanya saat kita menyanyikan lagu-lagu rohani pada hari Minggu. Tapi Paulus memperluas definisi itu. Bagi Paulus, ibadah mencakup segala sesuatu yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari, yang dilakukan sebagai persembahan syukur bagi Tuhan. Memang ibadah mencakup kegiatan yang dilakukan di gereja setiap hari Minggu, tapi juga termasuk waktu Anda bekerja. Karena itu, bekerjalah agar Anda dapat memahami apakah yang sedang Anda lakukan itu menyenangkan Tuhan, berkenan kepada-Nya. Bersukacitalah dalam kenyataan itu dan biarlah hal itu memotivasi Anda sepanjang hari.


Baca: 1 Tesalonika 4:1-10; Ibrani 13:15,16.

Disadur dari; Sumber Hidup Praktisi Medis 2002.

Jumat, 24 Juni 2016

Tuhan Yesus Sedang Bekerja

Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon, "Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan." Simon menjawab, "Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena perkataan-Mu itu, aku akan menebarkan jala juga." - Lukas 5:4,5


Bayangkan skenario ini: Anda telah bekerja sebagai ahli selama beberapa tahun. Anda terdidik dan terlatih dalam pekerjaan itu, dan tahu cara menerapkan pengetahuan Anda pada situasi setempat. Kemudian, ketika ada kesulitan, seseorang di luar bidang Anda memberitahu Anda apa yang harus Anda lakukan. Bagaimana perasaan Anda? Apa reaksi Anda? Persis seperti itulah yang dialami Simon dan rekan-rekannya. Setelah sepanjang malam berusaha keras menangkap ikan, namun sia-sia, Tuhan Yesus meminjam perahu Simon ganti mimbar lalu mengajar banyak orang. Demikianlah seusai mengajar, terjadi percakapan seperti kutipan diatas. Tuhan Yesus memberitahu Simon apa yang harus ia lakukan dan Simon patuh. Simon menyadari otoritas Tuhan Yesus ketika Ia berbicara ke dalam pekerjaan Simon.

Hasilnya sungguh dramatis. Sejumlah besar ikan terjaring. Tiba-tiba pekerjaan Simon sangat berhasil, dan menjadi berkat bagi rekan-rekannya. Melalui pertemuan itu, Tuhan Yesus mencelikkan mata Simon. Simon sadar dirinya berdosa dan Tuhan Yesus adalah Allah. Tapi, dampak yang dilakukan Tuhan Yesus melalui pekerjaan Simon bukan hanya kepada Simon. Mata rekan-rekannya, Yakobus dan Yohanes, juga celik. Mereka bertiga memilih untuk mengabdikan hidup mereka dengan menjadi pengikut Kristus.

Tuhan Yesus rindu dan senang berbicara ke dalam pekerjaan yang kita tekuni. Saat kita melakukan Firman-Nya, dan belajar mengenali suara-Nya serta menanggapi pimpinan-Nya dalam situasi-situasi tertentu, kita akan menjadi seperti Simon, melihat hasil serupa. Namun, terlebih dahulu kita harus mempersilakan Tuhan Yesus masuk ke dalam dunia pekerjaan kita, menyadari otoritas-Nya, dan mendengarkan suara-Nya, serta bertindak menurut pimpinan-Nya. Apapun pengetahuan dan keahlian kita, kita juga harus berkata, "Karena perkataan-Mu itu, aku akan..."


Tuhan Yesus, Engkau kusambut ke dalam pekerjaanku. 
Biarlah aku mendengar perkataan-Mu dan menaatinya. Amin.


Baca: Lukas 5:1-11; Kolose 3:17-24.

Disadur dari : Sumber Hidup Praktisi Medis 2002

Senin, 20 Juni 2016

Berubah dan Membusuk?

Aku, TUHAN, tidak berubah. - Maleakhi 3:6


Baru-baru ini aku membaca ulang sebuah buku lama berjudul The Indian Mutiny (Pemberontakan Orang India). Aku pernah ke India beberapa kali untuk bekerja dalam waktu yang singkat, di sebuah rumah sakit Kristen. Aku segera menyadari bahwa banyak temanku orang India menganggap peristiwa-peristiwa yang dibahas dalam buku itu sebagai tahap dalam perang memperjuangkan kemerdekaan, bukan suatu pemberontakan! Betapa pandangan terhadap peristiwa-peristiwa dan pendapat-pendapat yang dipertahankan dengan tulus itu bisa berubah. Apa yang pernah dianggap masuk akal, sering akhirnya jadi jauh berbeda. Kekejian seperti perbudakan dan apartheid, pernah disanjung-sanjung di daerah tertentu, kini merupakan aib memalukan bagi keturunan para pendukungnya. Demikian juga halnya dalam perawatan kesehatan. Dulu terapi dianggap pengobatan alternatif, sekarang jadi kontraindikasi karena ternyata kurang sempurna, atau telah diganti dengan yang lebih baik.

Allah tidak berubah. Ia tidak perlu berubah karena sebagai pusat dari pengetahuan dan hikmat, kedaulatan dan pemerintahan-Nya sempurna sejak awal. Aku tidak tahu bagaimana Tuhan Yesus memandang "pemberontakan" di India itu. Namun, jelas Ia berpihak pada orang miskin yang tertindas. Kesetiaan Allah-lah yang membuat Alkitab sangat mempesona. Bahkan saat aku tidak bisa menjelaskan, atau tidak mengerti sama sekali tentang apa yang dikatakannya, Alkitab selalu menarik. Sayangnya, orang sering menafsirkan Alkitab untuk dicocokan dengan praduga mereka dan mengambil pernyataan-pernyataan mendukung, sambil dengan hati-hati menghindari atau menyingkirkan apapun yang bertentangan dengan praduga mereka. Jadi, adalah baik jika mahasiswa teologi yang pemberani, sesekali menentang pandangan-pandangan sesat yang dianggap mapan. Beberapa diantara mereka mungkin dipenjarakan dan dihukum mati karena melakukan itu. 

Mari kita menghindari kecenderungan untuk mengkritik, dan segera membuka Alkitab, mencari kebenaran di dalamnya bagi diri kita. Lalu kita menceritakan dan menguji tafsiran-tafsirannya dengan sesama orang percaya. Mengapa tidak memulai hari ini juga, dengan membaca ulang pasal-pasal pembukaan Kitab Kejadian berikut uraiannya tentang karya Pencipta Yang Mahabijak itu?

Baca : Kejadian 1.


Disadur dari : Sumber Hidup Praktisi Medis 2002.
Copyright 2007, Pelayanan Medis Nasional (PMdN) Perkantas
Jl. Pintu Air Raya Blok C-5 Jakarta
Telp. (021) 3522923, 3442463-4 Fax 021- 3522170
Twitter : @MedisPerkantas