Kamis, 15 September 2016

Memandang ke Masa Depan

Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! ---Filipi 4:4



Dalam kitab Filipi, Paulus berulang-ulang mengingatkan pembacanya untuk bersukacita. Katanya ia telah mengalami bagaimana rasanya "keadaan kenyang atau keadaan lapar" atau "hidup berkelimpahan maupun ... keadaan kekurangan". Ia jelas menyatakan bahwa sukacitanya tidak tergantung pada keadaannya (Filipi 4:11-12).

Bagaimana Paulus mampu tidak mengizinkan keadaan memengaruhi sukacitanya? Tergantung pada apakah sukacitanya itu? Pasti jawabannya terdapat dalam diri Dia, yang menjadi dasar sukacita, yakni Tuhan Yesus. Tapi pertanyaan pokok bagi kita adalah, apa artinya? Jika Paulus tidak mengizinkan keadaan memengaruhi sukacitanya, ia pasti lebih menghargai sesuatu yang lain daripada apa yang terjadi pada dirinya. Ia mengungkapkan pada kita pusat pikirannya, "Kewarganegaraan kita terdapat di dalam surga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus ..." (Filipi 3:20)

Hati dan pikiran Paulus tidak terarah pada hal duniawi atau keadaannya sekarang. Hati dan pikirannya tertuju ke surga, dan apa yang akan datang. Allah telah memberinya visi khusus tentang surga, di samping penderitaan berat dalam tubuhnya yang harus ia tanggung sampai tiba di surga (2 Korintus 12:2-10). Tanggapannya adalah bersukacita atas apa yang disediakan bagi dia kelak.

Sebagai orang yang percaya kepada Tuhan Yesus Yang Mahamulia, kita juga tahu bahwa jalan di hadapan kita tidak selalu mudah. Tapi kita memiliki warisan yang tersimpan bagi kita, sama seperti Paulus. Mari kita mengikut teladannya dan bersukacita senantiasa, apa pun keadaan kita.


Baca: Yohanes 17:13-19; Ibrani 12:1-3; 1 Petrus 1:3-9.


Disadur dari: Sumber Hidup Praktisi Medis 2002.

Rabu, 07 September 2016

Kamp Medis Nasional Alumni XI 2016


Halo rekan-rekan medis :)    
Kamp Medis Nasional Alumni sudah H-2 nih. Selamat mempersiapkan hati dan diri menuju hari-H kamp ini ya.
Sampai bertemu tanggal 9 di Wisma Kinasih!




Senin, 15 Agustus 2016

Hubungan Baik Dengan Pasien

Demikian aku datang kepada orang-orang buangan yang tinggal di tepi sungai Kebar di Tel-Abib dan di sana aku duduk tertegun di tengah-tengah mereka selama tujuh hari. ---Yehezkiel 3:15


Sebelum menasihati para tahanan di Babel, Yehezkiel tinggal bersama mereka untuk bisa lebih memahami keadaan mereka. Ini sesungguhnya inti dari semua hubungan baik. Bagaimana jika aku sendiri menjadi salah seorang pasienku? Tuhan Yesus berkata kepada kita, "Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka" (Matius 7:12). Kita perlu menyayangi orang lain, artinya "menderita bersama" mereka, seperti yang Kristus lakukan (Matius 15:32). Jika kita sendiri mengalami apa yang kita perbuat terhadap orang lain, kita akan menjadi praktisi yang lebih memahami, dan  bahkan juga lebih kompeten.

Teman-teman Ayub dikenal karena ketidakpekaan mereka terhadap penderitaan Ayub. "Aku pun dapat berbicara seperti kamu, sekiranya kamu pada tempatku," protes Ayub. Tapi, "Aku ... tidak menahan bibirku mengatakan belas kasihan" (Ayub 16:4, 5). Sikap tidak memikirkan diri sendiri akan membesarkan hati mereka yang sedang menghadapi krisis. Kita harus waspada terhadap dosa memikirkan diri sendiri! Ada seorang Kristen yang, untuk mengingatkan dirinya, menaruh tulisan sederhana di atas mejanya, "Orang lain."

Pasien baru akan merasa gugup dan takut, seperti kita dulu sebagai mahsiswa menghadapi ujian lisan! Kita perlu memiliki ketenangan yang membangkitkan rasa percaya. Sikap ramah terhadap pasien, ketika menjelaskan prosedur atau untung rugi suatu tindakan, mengisyaratkan kita berada di pihak mereka. Ada banyak godaan dalam pekerjaan kita, untuk bersikap cepat marah, atau cepat mengecam orang lain. Supaya kita bisa berbuah bagi Dia, kita perlu hidup dekat dengan Kristus dan berkomunikasi dengan Dia setiap hari (Yohanes 15:5). Buah Roh Kristus adalah kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran. kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri (Galatia 5:22-23). Seperti kita, buah juga butuh waktu  untuk matang!---tapi cara hidup kita berbicara lebih banyak daripada yang diucapkan oleh bibir kita.


Bukan orang Kristen saja yang bisa melayani dengan penuh kasih, atau yang mempunyai standar etis tinggi. Tapi, kita memang memiliki sumber daya dalam hubungan kita dengan Allah. Ia menawarkan anugerah-Nya saat kita menghadapi tekanan dan ketegangan terus-menerus. Kekuatan doa tersedia bagi kita sepanjang hari.

Baca: Kolose 3:1-17




Disadur dari: Sumber Hidup Praktisi Medis

Selasa, 09 Agustus 2016

Kebahagiaan Adalah ....

Bukankah ada tertulis dalam kitab Tauratmu:  Aku telah berfirman: Kamu adalah ilah? ---Yohanes 10:34


Aku mencintai pekerjaanku. Orang pernah mengatakan bahwa praktik dokter umum memberi kita pandangan tentang manusia, dan merupakan suatu kehormatan melakukan pekerjaan yang Anda impikan dan tahu bahwa Anda melakukannya dengan baik. Tentu saja ada tekanan, kadang kesakitan, tapi selalu ada perasaan bahagia dalam pekerjaan normal. Dalam membuat diagnosis yang tepat, menerima kartu ucapan terima kasih dari pasien, atau melihat mahasiswa-mahasiswaku menguasai keahlian baru, aku merasakan semangat yang sama seperti yang diungkapkan oleh Eric Liddell, pelari olimpiade: "Ketika aku berlari, aku merasakan kebahagiaan Tuhan."

Os Guiness menulis, "Kadang kita sebagai manusia tidak pernah lebih berbahagia saat kita menunjukan bakat terdalam yang memperlihatkan diri kita yang sesungguhnya." Bukankah karena kita diciptakan sesuai dengan gambar dan rupa Tuhan? Kita mungkin biasa berpikir "menyerupai Tuhan" sebagai istilah moral, tapi kreativitas juga adalah bagian dari gambar dan rupa Allah di dalam diri kita. Mengutip John Elredge dari bukunya, Journey of Desire, gambaran yang dimaksud "bukanlah kualitas karakter melainkan kemampuan alami kita." Karena itu Tuhan mengumumkan keserupaan kita dengan diri-Nya dalam konteks posisi kita di dalam ciptaan. Kita "berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burng-burung di udara ..." (Kejadian 1:26-28)

Ini yang membedakan kita dengan ciptaan lainnya dan memberi kita potensi untuk berbahagia dalam pekerjaan kita. Sebagai praktisi medis, kita memiliki peran yang dapat memberikan kepuasan batin. Memberikan kita kesempatan yang besar dalam mengembangkan kemampuan dan karakter pribadi saat kita melatih kemampuan yang diberikan Tuhan, sebagai bagian dari gambar dan rupa-Nya.

Baca" Kejadian 1; Mazmur 104:1-15


Disadur dari: Sumber Hidup Praktisi Medis 2002.

Jumat, 05 Agustus 2016

Melayani Sampah Masyarakat

Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. --Matius 25:40



Begitu banyak pasien di unit gawat darurat kami adalah pasien langganan dengan keluhan yang tidak begitu serius, bahkan sering mengada-ada. Beberapa orang di antaranya kotor dan kasar -- anggota masyarakat yang kurang berada. Sebagian besar staf memandang mereka orang yang hanya membuang-buang waktu kami, prmborosan pada sistem kesehatan yang sudah penuh tekanan, dan pikiranku ternyata sering begitu juga.

Suatu malam aku disadarkan akan dosa ini. Seorang anggota staf yang vokal berkata bahwa dia tidak memilih untuk hidup bersama sampah masyarakat jadi mengapa ia harus berbagi tempat kerja dengan mereka? Aku tersentak membayangkan Tuhan Yesus sebagai "gambar Allah yang tidak kelihatan" yang kita layani (Kolose 1:15). Bagi Dia tidak masalah membagi hidup dengan orang yang tidak mampu. Kehidupan-Nya di dunia total dihabiskan untuk bergaul dengan mereka yang dikenal sebagai sampah masyarakat, bahkan Ia menghampiri, menyentuh, dan menyembuhkan penderita kusta yang menjijikan. Ia memilih Matius, pemungut cukai yang dibenci orang sebagai salah satu murid-Nya yang pertama.

Dalam Kerajaan Allah di surga, yang digambarkan dalam Pesta Perjamuan (Lukas 14:15-24), tamu-tamu penting bukanlah mereka yang kaya, yang hanya berminat pada hal-hal duniawi. Mereka yang miskin dan tidak dipandanglah yang mendapat bagian dalam kemuliaan-Nya!

Sebagai doketer Kristen, kita mempunyai tugas untuk meneladani Tuhan Yesus dan menunjukan kasih serta pelayanan kepada mereka yang kurang beruntung ketimbang kita. Inilah perintah yang digemakan melalui PL dan PB, bagi kita pendosa yang dikasihani, yang selamat hanya oleh anugerah-Nya (Efesus 2:8). Di dunia di mana "kaya berarti berkuasa", teladan ini bertolak belakang dengan kebiasaan yang ada dan merupakan cara sempurna untuk memuliakan Kristus di depan angkatan yang tidak percaya.

Baca: Yesaya 58:6-10; Markus 10:42-45; Yakobus 1:26-2:17)


Disadur dari: Sumber Hidup Praktisi Medis 2002

Selasa, 02 Agustus 2016

Pendidikan Kedokteran yang Berkelanjutan

Usahakanlah supaya engkau layak dihadapan Allah ... yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu. ---2 Timotius 2:15


Agar tidak ketinggalan zaman dan mempertahankan standar yang baik, pelajaran dasar kita perlu diperbaharui di seluruh karier profesional. Banyak dokter ikut Pendidikan Kedokteran yang Berkelanjutan (PKB) dan kebanyakan setuju bahwa ini kegiatan "yang harus dilakukan". Tidakkah Pendidikan Spiritual yang Berkelanjutan (PSB) juga harus dikembangkan? Sayangnya, cara kita mengatur hidup kita memberi kesan bahwa kita tidak memikirkannya. Tidak ada insentif yang nyata seperti PKB, yang dapat meningkatkan penghasilan kita selain juga menjaga kita untuk menghindari malapraktik.

Namun, berusaha menjadi layak di hadapan Tuhan, membuat kita serius berpikir. Tuhan melihat semua pilihan rahasia dan motivasi kita yang tersembunyi. Sebagaimana tidak mudahnya agar tetap dapat mengikuti perkembangan dalam ilmu kedokteran, demikian pula berjalan sesuai dengan tujuan Allah dalam hidup kita. Alkitablah buku panduan kita. Tapi mempelajari Alkitab membutuhkan upaya terus-menerus dan makan waktu. Kata Paulus, cara kita dapat memahami Alkitab adalah orthotomeo, akar kata Yunani yang sama dengan ortopedi dan osteotomi. Kita harus potong lurus dalam penelaahan Alkitab. Ini berarti lebih dari sekadar membacanya tiap hari. Kita harus memberikan waktu membandingkan perikop demi perikop, serta menerapkan apa yang kita dapatkan dalam kehidupan kita. Seperti dikatakan John Stott, "menelaah Firman Allah sedemikian rupa sehingga kita bukan hanya mengikuti jalan Tuhan, tapi juga membuat orang lain dapat mengikutinya dengan mudah." Kita tidak boleh menjadi kendur. Kita harus sama rajinnya dalam PSB sama seperti PKB.


Sabda-Mu abadi, suluh langkah kami.
Yang mengikutinya hidup sukacita.
Tolong, agar kami rajin mendalami
Lalu melakukan sabda-Mu, ya Tuhan.
---Kidung Jemaat No. 50:1, 6
HW Baker (1821 - 1861)


Baca: 2 Timotius 2:1-21; Ibrani 4:12-16.




Disadur dari: Sumber Hidup Praktisi Medis 2002

Jumat, 29 Juli 2016

Apakah Kebenaran Menyakitkan?

Semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dam patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu. ---Filipi 4:8


Aku diundang untuk turut menjalankan klinik kesehatan di sebuah perkampungan bekas wilayah Uni Soviet. Seorang perempuan separuh baya memiliki sebuah benjolan yang semakin besar di payudara sebelah kanannya sejak tiga bulan lalu. Ia ingin pergi ke pusat diagnostik di kota, namun tidak mampu membayar biaya konsultasinya. Kini benjolannya disertai dengan gejala-gejala dan tanda-tanda penyakit metastasis.

Perempuan itu bertanya kepadaku apakah benjolannya adalah kanker atau bukan. Aku merasa bingung. Apakah sebaiknya kukatakan kecurigaan klinisku walaupun aku tahu ia mungkin tidak akan mendapat pengobatan yang memadai? Akan lebih mudah buatku diam saja dan membiarkan perempuan itu pergi tanpa diberi tahu. Namun, aku tidak dapat membiarkan ia mati terabaikan, maka meskipun penerjemahku mendesakku bahwa di negaranya tidak lazim seorang dokter menyatakan perasaan kepada pasien, aku tetap melakukannya. Perempuan itu kemudian berterima kasih atas kejujuranku dan mengatakan bahwa sebetulnya jauh di lubuk hatinya ia telah mengetahui diagnosinya. Lalu ia pergi, membawa surat rujukanku menghadapi masa depan yang tidak pasti.

Ini adalah cerita unik, tapi pasti banyak dokter Kristen akan menghadapi situasi di mana menyatakan yang sebenarnya merupakan suatu risiko. Seberapa pentingkah kita perlu menjunjung tinggi kebenaran setiap waktu? Pandangan kebenaran secara menyeluruh dicontohkan Tuhan Yesus yang dalam diri-Nya mewujudkan kebenaran (Yoh 14:6). Tuhan Yesus selalu mengatakan kebenaran (Yohanes 3:3) dengan mengetahui benar kuasa kebenaran yang memerdekakan (Yohanes 8:32)

Sebagai orang Kristen kita harus meneladani Allah (Efesus 5:1), jadi mengatakan kebenaran dalam kasih adalah perintah, bukan suatu pilihan. Marilah kita berani mengatakan kebenaran kepada pasien dan rekan sejawat kita, apapun konsekuensinya.

Baca: ayat-ayat kutipan dan konteksnya.



Disadur dari : Sumber Hidup Praktisi Medis 2002.

Senin, 25 Juli 2016

Stamina dari Tuhan

Tidakkah kautahu, dan tidakkah kaudengar? TUHAN ialah Allah kekal yang menciptakan bumi ... Dia memberi kekuatan ... Orang-orang muda menjadi lelah dan lesu, dan teruna-teruna jatuh tersandung, tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah. ---Yesaya 40:28-31


Kata-kata ini menimbulkan pengharapan pada setiap dokter--mengingatkanku bahwa TUHAN mengatur baik di dalam maupun di luar bagian kecil dari departemen korban kecelakaan tempatku sekarang bekerja. Sering sulit bagi mereka yang diluar profesi kedokteran membayangkan betapa beratnya mengurus pasien yang berdatangan tiada habisnya. Hal itu dapat menyita stamina dokter terkuat sekalipun, dan tidak lama kemudian pekerjaan terhormat itu dapat menjadi pergumulan mati-matian untuk bertahan dari keadaan yang membuat kita sinis dan jenuh.

Sebagai orang Kristen, kita memiliki kehormatan besar untuk mengenal Tuhan Yesus, Imam besar kita, yang telah pergi mendului kita dan mengenal kelemahan-kelemahan kita (Ibrani 4:14-15). Alkitab menceritakan beberapa manusia yang lemah dan lesu yang dilewatkan oleh kuasa Tuhan. Elia diselamatkan dari keinginannya untuk mati sesudah mengalahkan nabi-nabi Baal; Petrus mengandalkan kekuatan Tuhan selama di penjara---yang berakhir dengan pembebasannya yang ajaib. Bahkan Tuhan Yesus, walaupun Dia sepenuhnya Allah dan sepenuhnya manusia, meminta kekuatan dari Bapa-Nya untuk melalui pergumulan-Nya di Getsemani, saat Dia siap untuk minum dari cawan kemurkaan Allah karena dosa manusia (Matius 26:39).

Tidak terhitung contoh-contoh stamina dari Allah di seluruh Alkitab, digabung dengan banyak kesaksian dari orang Kristen masa kini yang mirip. Jadi mari kita menghadapi cobaan---baik mental maupun fisik dengan meningkatkan semangat dan keyakinan kita, karena kita tahu Tuhan Yesus yang telah memanggil kita adalah setia, dan Ia akan menggenapinya (1 Tesalonika 5:24).

Baca: 1 Raja-raja 19:3-18; Yohanes 17:1-26; Kisah Para Rasul 12:1-11.


Disadur dari : Sumber Hidup Praktisi Medis 2002.
Copyright 2007, Pelayanan Medis Nasional (PMdN) Perkantas
Jl. Pintu Air Raya Blok C-5 Jakarta
Telp. (021) 3522923, 3442463-4 Fax 021- 3522170
Twitter : @MedisPerkantas