Selasa, 12 Maret 2019

Jika Pasien Mengalami Konflik Batin

Hidup manusia dalam dunia yang berdosa sering diwarnai dengan realita dan pengalaman-pengalaman yang tidak fair atau menyakitkan. Hal ini bisa mengakibatkan respon berupa keluhan, pemberontakan, kecemasan atau ketidakberdayaan menghadapi hidup. Seringkali respon tersebut juga dimanifestasikan dalam bentuk keluhan fisik yang pada akhirnya "menutupi" konflik yang sebenarnya. Keluhan fisik ini lebih menjadi perhatian utama dan terasa lebih "layak" bagi pasien untuk diungkapkan kepada dokter daripada ia datang dengan psychological problem. Keadaan demikan biasa disebut sebagai Psychosomatic Disorder, yaitu suatu penyakit yang disebabkan oleh satu kombinasi dari faktor organis dan psikologis. Beberapa ayat Alkitab juga menyatakan bahwa adanya hubungan antara kondisi psikologis dengan kesehatan atau keluhan fisik, seperti: Mazmur 38:1-14 (rasa bersalah mengakibatkan sakit kepala, kehabisan tenaga, jantung berdebar); Amsal 14:30 (iri hati membusukan tulang) dan Amsal 17:22 (semangat yang patah mengeringkan tulang).

Untuk memperjelas hal ini, perhatikan satu kasus yang ada: Seorang wanita telah menikah sejak usia 23 tahun. Ia tampak baik-baik saja, hingga pada usianya yang ke-28, ia mulai merasa sakit pencernaan, merasa kelelahan dan seringkali pusing. Suaminya sangat memperhatikannya dan berusaha memberikan medical care yang terbaik. Selama 3 tahun terakhir ini ia sudah menjalani berbagai medical and surgical treatment. Namun, ia justru semakin tertekan dan penyakit pun tak kunjung membaik.

Kasus di atas perlu ditangani secara medis maupun psikologis melalui konseling. Penanganan medis dilakukan setelah dokter mengetahui psychosomatic history dan memberikan psychosomatic medicine. Sedangkan penanganan psikologis yang dilakukan adalah mencoba menolong pasien untuk menyadari apa sebenarnya yang sedang terjadi di dalam dirinya. Apakah konflik batin yang menekan dan mengusai hidupnya sehingga secara tidak sadar termanifestasi dalam bentuk keluhan fisik? Bagaimana menolong pasien memakai sarana jalan yang sesuai dengan iman Kristen dalam mengatasi konflik batinnya dan mengalami pertumbuhan menuju kedewasaan rohani? David B.
Benner[1] menyatakan beberapa penyebab psychomatic disorders antara lain genetic predisposition, stressful environment situation, learned covert physiological responses dan faulty personal dan family coping styles. Sedangkan Edward W. & O. Spurgeon E.[2] mengungkapkan bahwa "Sometimes the patient's greatest suffering suffering is from immediate deprivations. In still other instances it may be a combination of the two." 

Untuk menolong pasien ini, sebut saja ibu X, beberapa prinsip konseling ini perlu dipikirkan:
  • Pahami keluhan fisik dan mencoba mengerti konflik batinnya. Sikap pertama yang perlu diekspresikan oleh saudara adalah memahami bahwa keluh kesah pasien secara fisik adalah realita, bukan imajinasi pasien semata. Sikap ini sangatlah penting, karena secara umum ia akan cenderung resistan bila saudara secara langsung mengindikasikan bahwa penyakit ini hanyalah usaha menghindar atau menekan permasalahan yang sebenarnya. Ia akan menolak jika saudara mengatakan bahwa proses kesembuhan hanya bisa terjadi bila ia berbenah diri dalam attitude, style of life, values, motives dan memperbaiki relasi yang ada. Bahkan, kemungkinan besar ia akan pindah dan mencari dokter yang bisa memberikan "right medicine" kepadanya.
Selanjutnya, cobalah membimbing pasien ke dalam suasana percakapan yang kondusif sehingga memungkinkan ia mempunyai kesempatan terbuka dan bebas untuk mengekspresikan dirinya (perasaan dan persoalan) secara tepat. Suasana yang kondusif ini hanya bisa terjadi bila saudara mau belajar memiliki hati yang empati. Empati adalah kesediaan diri untuk menempatkan diri pada tempat orang lain, merasakan apa yang dirasakan orang lain dan mengerti dengan pengertian orang lain”[3] (dalam hal ini adalah pasien). Sikap ini merupakan salah satu prinsip konseling yang terpenting (1 Korintus 9:22).

Melalui pembicaraan lebih lanjut tentang perasaan dan persoalannya terungkap bahwa: Ternyata, ia anak tertua dari 5 bersaudara yang memiliki jarak usia berdekatan (berbeda 1,5 tahun) dengan adik-adiknya. Ketika ia masih kecil, ibunya sangat lelah merawat anak-anaknya sehingga mengharuskan si sulung untuk membantunya. Hal ini, berakibat ia harus memikul banyak tanggung jawab yang tidak sepadan dengan usianya. Ia tumbuh sebagai anak dengan "growing up too old too soon". Banyak keinginan dan kebutuhannya yang tidak diperhatikan dan dipenuhi. Ia merasa tidak mendapatkan dan merasakan kasih sayang.


  • Coba menangkap pola pikir dan perasaannya berdasarkan pembicaraan singkat yang mungkin dilakukan selama proses medikasi, cobalah untuk menganalisanya. Ibu X rupanya seorang wanita yang tumbuh dengan penuh tuntutan sejak masa kecilnya sebagai anak tertua. Keberadaannya dihargai dan diterima hanya ketika ia bersikap sebagai "a good girl" seperti: tidak mengisi waktu dengan bermain, melainkan menjaga adik-adik dan membersihkan rumah. Sebaliknya, ia merasa tidak diterima sebagai anak kecil yang menginginkan permainan, ia tidak selalu bisa menjaga kondisi rumah agar tetap bersih dan ia butuh sentuhan kasih sayang.
Seorang psikolog besar, Carl Rogers mengungkapkan bahwa kondisi seperti ini akan mengakibatkan ibu X tumbuh dengan perkembangan diri (jiwa) yang tidak sehat. Penghargaan kepadanya adalah penghargaan yang bersyarat, berdasarkan apa yang dilakukannya (baik-buruk) menurut penilaian orang tua. Ia dihargai karena "What I do" dan sebaliknya tidak diterima dengan kondisi apa adanya "Who I am".

Melalui analisa diatas, cobalah tangkap pola pikir dan perasaannya. Apakah "baik-buruk" menjadi dasar hubungan dengan orang lain, suami dan keluarga saat ini? Baik berarti ia harus mengerjakan segala sesuatu seperti ia saat masih kecil? Apakah tanggung jawabnya sebagai istri terasa sebagai "beban" seperti ia menjaga adik-adiknya? Apakah ia merasa lelah dibebani banyak hal, merasa suami tidak mengerti dan menerimanya apa adanya? Apakah ia merasa bersalah jika tidak selalu bisa menyenangkan orang lain dan berkorban baginya? 

Jika saudara berhasil menangkap pola pikir dan perasaannya, saudara akan mulai mengenal dan menyadari "dengan pribadi seperti apa" saudara sedang berhadapan. Tentu saja saudara tidak dapat menyamaratakan setiap pribadi dalam kasus yang sama karena setiap pribadi adalah unik.


  • Coba menolong dia bisa memilih cara yang sehat untuk mengatasi pergumulan dan konflik-konflik batinnya. Beberapa cara yang sehat dan sesuai dengan iman Kristen dalam mengatasi konflik batinnya antara lain: Belajar mengenali diri sendiri secara jujur sehingga sadar adanya pola-pola kerja pikir dan perasaan yang bisa menghambat atau merugikan proses pertumbuhan kedewasaan diri. Belajar mulai mengatasi kelemahan atau sisi-sisi negatif yang merugikan tersebut dalam terang Firman Tuhan.”[4] Pada akhirnya, bagi saudara sekalian para dokter Kristen:
"It is the fulfillment and the triumph of love that it is able to reunite the most radically separated beings, namely individual persons."
Paul Tillich.


Maria Lusiana
Dosen Pembimbing Konseling STTRII;
Alumnus Fak. Teknologi Pertanian-UGM (S1),
STTRII program Magister Counseling (S2)



Kepustakaan:
[1] Benner, David. B. “Baker Encyclopedia Psychology”. (Grand Rapids, Michigan: Baker Book House, 3nd. Ed., 1990), hal. 956.
[2] Weiss, Edward & O. Spurgeon E “Psychosomatic Medicine: The Clinical Application of Psychopathology to General Medical Problems”. (Philadelphia: W.B. Saunders Co., 1943), hal. 635.
[3] Susabda, Yakub B. “Pastoral Konseling I”. (Malang: Gandum Mas).
[4] Buletin Psikologi PARAKALEO. Departemen Konseling STTRII. VI.VII, No.3, Ed.Juli-Sept 2000.





Senin, 28 Januari 2019

Manusia Baru: Jasmani atau Rohani?

Buta itu susah. Tidak percaya? Coba seduh kopi atau teh. Dengan mata tertutup berjalanlah dari ruang tamu ke dapur. Di dapur dengan mata masih tertutup tuanglah air mendidih ke dalam gelas. Susah bukan? Ini masih di rumah. Bagaimana di luar rumah? Di Indonesia fasilitas umum kurang, jika tidak ingin dikatakan tidak, memberikan tempat dan perhatian terhadap orang buta. Jangankan orang buta, yang memakai kursi roda saja tidak mungkin dapat menikmati indahnya sore hari kecuali di rumah sakit. Jika di Indonesia fasilitas untuk pejalan kaki saja masih langka dapat dibayangkan betapa rendahnya perhatian kita terhadap orang buta. Suatu bangsa dikatakan maju dan beradap bukan hanya diukur dari kemajuan ekonominya. Di balik perhatian yang serius terhadap orang buta terdapat pemahaman kesamaan derajat dan hak antara yang buta dan yang celik. Selama masih terjadi diskriminasi terhadap orang buta maka dapat dikatakan bangsa tersebut masih memiliki pemahaman yang rendah akan hak dan martabat manusia. Ingatlah menjadi buta bukanlah pilihan seseorang. Jika orang Kristen ingin dikenal sebagai 'manusia baru' ia harus memperjuangkan fasilitas umum bagi orang buta.

Saya memiliki seorang teman yang buta. Ia beruntung karena tinggal di negara maju. Mengapa saya katakan beruntung? Setiap fasilitas umum yang dibangun pemerintah harus memperhatikan kepentingan pergerakan teman saya ini. Ia juga beruntung karena memiliki seekor anjing yang bertindak sebagai 'mata' baginya. Kira adalah nama anjing itu. Kira begitu terlatih sehingga tahu kapan harus menyeberang jalan. Dia akan berhenti ketika lampu menyala merah dan sabar menunggu hingga lampu berubah hijau. Anjing saja begitu patuh terhadap tertib lalu lintas yang dibangun manusia. Malu rasanya jika manusia harus belajar pada Kira soal disiplin. Ada lagi yang luar biasa. Ketika Kira dibawa ke persekutuan doa maka ia akan duduk tenang menanti persekutuan doa selesai. Tidak pernah ia mengganggu suasana persekutuan. Dengan hikmat ia duduk seolah menikmati suasana persekutuan. Saya tidak tahu apakah ini karena dia sudah dilatih atau ada faktor lain. Ringkasnya, teman saya ini dengan Kira dan fasilitas umum yang mendukung benar-benar mandiri. Ada yang lebih penting lagi.Teman saya ini adalah orang Kristen yang setia dan rajin mendoakan pekerjaan-pekerjaan Tuhan di belahan dunia lain. Buta tidak membatasinya untuk 'melihat' dunia ini sebagai tempat pelayanan.

Alkitab mencatat hidup seorang buta. Tepatnya dalam Yohanes 9. Jika kita membandingkan teman saya ini dengan orang buta dalam Yohanes 9. Jika kita membandingkan teman saya ini dengan orang buta dalam Yohanes 9, mungkin anda akan setuju bahwa keadaan dan situasi keduanya berbeda. Orang buta dalam Yohanes 9 ini tidak mandiri. Bagaimana tidak. Sepanjang hari ia hanya duduk meminta-minta. Ketergantungan pada orang lain sudah begitu melekat padanya sehingga ia mendapat 'label' sebagai peminta-minta (ayat 8). Masyarakat mengenalnya sebagai pengemis. Kita tentu maklum. Karena ia sudah buta sejak lahirnya dapat dibayangkan ia tidak pernah dilatih memiliki keahlian. Untuk hidup ia sangat bergantung pada belas kasihan orang lain. Tidak ada yang bisa dilakukannya selain duduk dan meminta-minta. Keadaannya bertambah sulit karena minimnya fasilitas umum yang menolongnya untuk hidup sebagaimana manusia lainnya. Kita tidak diberi tahu apakah ia memiliki hewan peliharaan, anjing misalnya, yang bertindak sebagai 'mata' baginya. Jika kita bandingkan orang buta ini dengan teman saya, maka terlihat perbedaan yang sangat menyolok. Yang satu mandiri sedang yang lainnya tidak. 

Ada label lain yang melekat padanya selain sebagai peminta-minta. Ia orang berdosa. Persepsi umum masyarakat pada masa itu adalah ia buta karena dosa. Dosa dan penyakit tidak dapat dipisahkan. Itu pengertian masyarakat pada zaman itu. Apakah ia buta karena dosanya sendiri atau dosa orang tuanya? Ini perdebatan teologis. Murid-murid Yesus tertarik memperdebatkannya (ayat 2). Pertanyaan murid-murid kepada Tuhan Yesus memperlihatkan bahwa sebenarnya mereka tidak memiliki rasa simpati kepada orang buta ini. Mereka hanya tertarik perdebatan teologis soal dosanya ketimbang orangnya. Tetapi jawaban Tuhan Yesus sangat mengejutkan. Yesus menepis debat teologis pada murid. Yesus mengatakan bahwa melalui orang buta ini karya Allah akan dinyatakan. Tuhan Yesus lebih memperhatikan orangnya ketimbang label-label yang melekat padanya. Tuhan Yesus, dengan satu perbuatan yang mengejutkan, mencelikkan orang buta ini. Adukan tanah yang dioleskan pada mata orang buta diperintahkan untuk dibersihkan di kolam Siloam. Kita tidak tahu berapa jauhnya jarak ke kolam Siloam dan bagaimana orang buta ini menemukan kolam Siloam. Dan orang buta itu juga tidak bertanya mengapa harus ke kolam Siloam. Anehnya, orang buta ini patuh. Ia mencuci di kolam Siloam dan...ia melihat. Kita tidak bisa membayangkan bagaimana perasaannya ketika pertama sekali melihat matahari, melihat manusia, melihat laki-laki, melihat perempuan, melihat anak-anak, melihat orang yang tua, melihat rumah-rumah di Yerusalem. Apakah ia begitu terpesona melihat dunia ini sehingga ia lupa berterima kasih kepada Tuhan Yesus? Kita tidak tahu mengapa ia tidak kembali kepada Tuhan Yesus. Sedikitnnya sebagai orang Timur yang baik ia harus berterima kasih. Apakah hal ini menunjukan bahwa menerima kesembuhan ilahi bukan merupakan jaminan untuk percaya kepada Tuhan Yesus? Nampaknya tidak salah jika jawabannya adalah 'ya'.

Orang buta yang celik, tanpa menghiraukan Tuhan Yesus, segera kembali ke rumahnya. Kita tidak diberi tahu bagaimana ia tahu rumah yang tidak pernah dilihatnya adalah yang benar. Hal ini dianggap tidak penting sehingga tidak dicatat. Reaksi tetangga-tetangganya maupun teman-temannya dianggap lebih utama untuk menegaskan peristiwa ajaib ini. Mereka tidak percaya. Mustahil orang buta sejak lahir melihat kembali. Namun dengan tegas orang buta yang celik menepis keraguan-raguan mereka. Dahulu buta sekarang celik merupakan bukti yang terbantahkan. 

Tetangga-tetangganya dan teman-temannya bukannya merayakan peristiwa luar biasa yang telah dialami orang buta ini. Bukankah sebaiknya mereka mengadakan pesta syukuran untuk kesembuhan teman mereka yang sejak lahirnya buta? Lagi-lagi mereka lebih tertarik soal teologis ketimbang celiknya teman mereka. Bagi mereka tidak penting teman yang dahulu buta sekarang celik. Peristiwa celiknya teman buta ini terjadi pada hari Sabat. Ini merupakan persoalan teologis serius. Lebih serius dari celiknya teman mereka yang buta. Mereka membawa masalah ini kepada pemimpin-pemimpin agama Yahudi. Mengapa? Apakah mereka bermaksud agar pemimpin-pemimpin agama memutuskan agar ia tetap buta saja? Apakah mereka tidak siap melepas label-label yang telah ditempelkan pada orang buta ini? Apakah mereka tidak mau menerimanya? Apakah mereka ingin agar pemimpin-pemimpin agama menghukum orang yang menyembuhkannya? Apapun alasannya terlihat bahwa soal teologis dianggap lebih penting dari soal orang buta ini. Mereka tidak ubahnya seperti murid-murid Yesus.

Orang buta yang sejak lahir ini bukannya menerima suatu perayaan syukuran, malahan suatu 'pengadilan'. Ia harus diadili karena ia sekarang melihat. Namun saat diadili terjadi peristiwa yang tidak terduga. Pengenalannya terhadap Yesus yang menyembuhkannya semakin dalam. Mulanya ia hanya tahu nama yang menyembuhkannya, Yesus (ayat 11). Kemudian ketika berdebat dengan pemimpin-pemimpin agama ia sampai pada kesimpulan bahwa Yesus adalah nabi (ayat 17). Para pemimpin agama merasa perlu mengkonfirmasi orangtuanya apakah benar ia buta sejak lahir. Orang buta yang celik kemudian menegaskan bahwa Yesus bukan orang berdosa (ayat 25, 31) seperti yang dituduhkan pemimpin-pemimpin agama. Pada puncak perdebatannya dengan pemimpin-pemimpin agama dua pemahaman baru muncul. Pertama, Yesus yang menyembuhkan didengar Allah (ayat 31) dan, kedua, Yesus datang dari Allah (ayat 33). Pengadilan yang seharusnya memojokannya malahan menjadi sarana di mana pengenalannya akan Yesus semakin dalam. Dari hanya mengenal nama Yesus ia sampai kepada kesimpulan bahwa Yesus diutus Allah.

Tetapi ada yang lebih indah lagi. Sebagai akibat kekerasan hatinya mempertahankan pengenalannya akan Yesus, ia dibuang. Kita tidak tahu apakah ia dilemparkan keluar dari ruang pengadilan itu atau ia dikucilkan dari masyarakat atau diberhentikan keanggotaannya dari sinogage. Apapun yang terjadi ia tidak sendirian. Tuhan Yesus mencarinya. Meski ia dahulu tidak kembali kepada Tuhan Yesus setelah dicelikkan, namun Tuhan Yesus tidak melupakannya. Ketika berjumpa dengannya, Tuhan Yesus tidak menegur kealpaannya dahulu. Bahkan Tuhan Yesus mengundangnya untuk percaya kepada-Nya. Orang buta ini tanpa ragu segera memproklamirkan imannya dan menyembah Yesus (ayat 38). Iman membawa kepada penyembahan pada Yesus.

Lantas apa hubungan peristiwa celiknya orang buta sejak lahir dengan judul diatas? Ada beberapa hal yang terungkap jelas dari uraian diatas:

1. Menerima atau mengalami penyembuhan ilahi tidak selalu membawa seseorang kepada Tuhan Yesus. Sebaliknya, mengalami penyembuhan ilahi bukanlah merupakan bukti bahwa seseorang telah percaya kepada Yesus. Tidak penting apakah seseorang sempurna secara jasmani untuk datang kepada Tuhan Yesus. Lebih baik buta namun percaya pada Yesus dan mampu melihat seluruh dunia sebagai tempat pelayanan ketimbang celik dan menerima kesembuhan ilahi tetapi tidak percaya pada Yesus.

2. Menjadi manusia baru berarti percaya kepada Tuhan Yesus. Menjadi manusia baru bukan soal mengalami perubahan jasmaniah. Menjadi manusia baru adalah soal spiritual bukan soal menerima kesembuhan ilahi. Menjadi manusia baru berarti memiliki hubungan pribadi dengan Yesus. Hubungan dengan Yesus terungkap dalam bentuk penyembahan kepada-Nya. Ibadah kepada Yesus di tengah-tengah dunia ini merupakan bukti manusia baru.

3. Pertemuan dengan Tuhan Yesus akan mengundang pertanyaan dari tetangga-tetangga maupun dari masyarakat. Pertanyaan-pertanyaan ini menuntut jawab. Dalam istilah yang kita kenal, hal ini disebut sebagai bersaksi. Ketika bersaksi bagi Yesus, ada akibat yang harus ditanggung. Namun Tuhan Yesus tidak pernah melupakan bahkan meninggalkan orang yang bersaksi bagi-Nya. 'Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, disitupun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa' (Yohanes 11:26). Mustahil seseorang mengatakan ia manusia baru dalam Kristus jika tidak bersaksi Yesus adalah Kristus.

Ringkasnya, manusia baru adalah manusia yang percaya kepada Tuhan Yesus dan bersaksi bagi-Nya. Ini lebih penting ketimbang menerima kesembuhan ilahi.



______________________________________________________
Oleh: Armand Barus - Puket I STT Cipanas
Dalam Majalah Samaritan Edisi III Tahun 2007


Jumat, 30 November 2018

Tubuh Orang Percaya = Bait Roh Kudus

Chock Kuk Sui, pakar dalam ilmu dan seni penyembuhan dengan tenaga prana menyatakan bahwa "prana atau ki, adalah energi vital atau tenaga hidup yang disebut pneuma oleh orang Yunani, mana oleh orang Polinesia, dan ruah (nafas kehidupan) oleh orang Yahudi."

Dari matahari dihasilkan prana matahari yang memperkuat dan yang dapat diserap selama berjemur di bawah matahari dan minum air yang terpapar sinar matahari. Dari udara dihasilkan prana ozon yang paling efektif bila dihirup melalui pernafasan berirama yang lambat dan dalam dan melalui pusat energi (disebut: cakra) dari aura-dalam dan aura-luar kita, yang merupakan tubuh halus (eterik) atau pembungkus. Dari tanah dihasilkan prana bumi yang masuk ke dalam diri kita melalui telapak kaki. 

Selanjutnya Choa Kok Sui mengatakan, pohon dan tanaman menyerap prana dari matahari, udara, dan tanah serta memancarkan sejumlah besar kelebihan prana. Beberapa pohon tertentu, misal pohon pinus atau pohon raksasa yang sehat dan tua, memancarkan sebagian besar kelebihan prananya. Orang yang lelah atau sakit banyak mendapatkan manfaat dengan berbaring atau beristirahat di bawah pohon tersebut. Hasil yang lebih baik dapat diperoleh dengan meminta secara lisan kepada pohon itu untuk membantu orang yang sakit menjadi sembuh.


Tubuh Bioplasmik

Para pewaskita dengan menggunakan kemampuan psikis telah mengamati setiap orang dikelilingi dan dirasuki tubuh energi bercahaya yang disebut tubuh bioplasmik. Tubuh bioplasmik berarti tubuh energi yang hidup yang terbentuk dari bahan halus yang tidak tampak atau bahan eterik.

Penyembuhan dengan tenaga prana didasarkan atas struktur keseluruhan tubuh manusia. Tubuh seseorang sebenarnya terdiri dari dua bagian: tubuh fisik dan tubuh energi yang tidak tampak atau tidak kelihatan yang disebut tubuh bioplasmik.

Seperti halnya tubuh fisik yang mempunyai pembuluh darah dengan aliran darah di dalamnya, tubuh bioplasmik mempunyai saluran bioplasmik halus yang tidak tampak atau meridian dengan aliran ki dan bahan bioplasmik di dalamnya dan didistribusikan ke seluruh tubuh. Dalam ilmu yoga saluran-saluran disebut nadi mayor dan nadi minor. Melalui saluran tersebut mengalir prana atau ki yang memberi makan dan memperkuat seluruh tubuh.

Tubuh bioplasmik menyerap, mendistribusikan, dan memberikan energi dengan prana atau ki ke seluruh tubuh fisik. Tanpa prana seluruh tubuh akan mati. Tubuh bioplasmik bertindak sebagai cetakan atau pola untuk tubuh fisik. Tubuh fisik dibentuk dari tubuh bioplasmik, jika salah satu sakit, maka yang lain juga akan sakit, dan jika salah satu sembuh yang lain juga menjadi sembuh. Tubuh bioplasmik melalui sinar kesehatan dan aura bertindak sebagai bahan pelindung terhadap kuman penyakit dan bahan bioplasmik yang berpenyakit.



Pendekatan Theologis

Pendekatan praktis membuktikan penyembuhan dengan tenaga prana memberikan indikasi bahwa power/kuasa yang memungkinkan terjadinya penyembuhan disebabkan oleh kekuatan dan kuasa yang datangnya dari prana atau ki, dan penyembuh merupakan sarana penyalur kuasa penyembuhan.

Ditinjau dari etimologi, istilah prana atau ki apabila dihubungkan kepada Teologia Perjanjian Lama, dari bahasa Ibrani ruah memiliki arti jamak yakni: Roh Allah (Kej.1:2), nafas hidup (Kej.2:7), Roh Kudus (Yes.63:10), roh-roh jahat/setan-setan (Ul.32:7). Perjanjian Baru, dari bahasa Yunani pneuma memiliki arti jamak, yakni: Roh Allah (Mat.12:28), Roh Kudus (Mat.1:20), Roh Kristus (Rom.8:9), Roh Yesus (Kis.16:7), Roh Kebenaran (Yoh.14:6), roh-roh jahat (Mat.10:1).

Para pakar dunia "Ilmu dan Seni Penyembuhan dengan Tenaga Prana" pada dasarnya membangun hipotesa mereka diatas pengertian istilah "prana" adalah energi vital atau tenaga hidup dan nafas kehidupan dari dunia mistik. Hal ini dapat dibuktikan dalam berbagai literatur, di antaranya salah satu pakar dalam dunia ini ialah Choa Kok Sui, ia mempraktikan penyembuhan dengan tenaga prana didahului pegalaman dan pengetahuannya dengan dunia mistik, pedukunan, dunia ramal, dunia yoga. Hal ini dinyatakan dalam bukunya "Ilmu dan Seni Penyembuhan Dengan Tenaga Prana, Sebuah Tuntunan Praktis". Dalam pendahuluan bukunya ia berkata: "Pengarang pada usia sangat muda telah sangat tertarik dengan yoga, fenomena psikis, mistik, ki kung Cina (seni mengumpulkan tenaga dalam)...da juga telah melakukan hubungan yang akrab dengan para ahli yoga, penyembuh, pewakita, praktisi ki kung Cina dan beberapa orang aneh yang mempunyai kontak telepati dengan guru spiritual mereka".

Penjelasan dan pemahaman di atas membuktikan, bahwa penggunaan istilah "prana" di dalam penyambuhan dengan tenaga prana dihubungkan kepada dunia mistik, dunia supranatural, bahwa dunia ini tidak berasal dari Allah di dalam Tuhan Yesus, melainkan datangnya dari roh-roh jahat, iblis, kuasa kegelapan (bandingkan Mat.10:1, Ef.6:11-12).



Tinjauan Teologis

Para pakar ilmu dan seni penyembuhan dengan tenaga prana meyakini, bahwa sumber utama "prana" dihasilkan dari matahari, udara, dan tanah/bumi. Bertolak dari pemahaman penggunaan istilah prana yang berpusat pada roh-roh jahat yang menyatakan kuasanya. Dalam hubungan dengan matahari, udara, dan tanah/bumi, firman Allah mengungkapkan, dimensi pemujaan kepada Rimon-Dewa matahari (lih.2Raj.5:18), pemujaan kepada Asytera-Dewi kesuburan tanah (2 Raj.23:4,6) dan melawan tipu roh-roh jahat di udara (lih.Ef.6:12). Dimensi ini mengungkapkan tabir kegelapan yang menggunakan unsur-unsur semesta (kosmos) memberi jaminan semu untuk bertindak dan menyamar sebagai "Malaikat terang" (lih.2 Kor.11:14) menjadi sumber utama prana. Dengan demikian, penyembuhan dengan tenaga prana kembali memperilah roh-roh jahat di udara (paham animis) dan ketergantungan pada kuasa dalam alam semesta (paham panteisme). 

Penjelasan di atas memberikan indikasi, bahwa penyembuh-penyembuh dengan tenaga prana menerima kuasa untuk membuat mujizat kesembuhan yang datangnya dari iblis, roh-roh jahat sebagai sumber pemberi kuasa, seperti yang dikatakan firman Tuhan: "Hal itu tidak usah mengherankan, sebab iblis menyamar sebagai Malaikat Terang. Jadi bukanlah suatu hal yang ganjil, jika pelayan-pelayannya menyamar sebagai pelayan-pelayan kebenaran. Kesudahan mereka akan setimpal dengan perbuatan mereka." (2 Kor.11:14-15).

Kelihatannya puncak dari pergeseran usaha manusia memperilah yang lain dan meninggalkan Penciptanya itu adalah usahanya memperilah "diri/aku" (self) manusia itu sendiri. Manusia ingin menjadi seperti Allah (bandingkan tipu daya iblis mulai dari Kitab Kejadian 3:5).



Pandangan Theologis tentang Tubuh Bioplasmik

Tubuh bioplasmik memainkan peran penting dalam penyembuhan dengan tenaga prana. Alasannya adalah, karena setiap orang dikelilingi dan dirasuki tubuh energi bercahaya yang disebut tubuh bioplasmik. Pandangan ini berarti menolak karya ciptaan Allah yang mulia terhadap manusia yang dinyatakan oleh Firman Allah: "Berfirmanlah Allah: Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, ... Maka Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya, menurut gambar-Nya diciptakan-Nya dia, laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka ... Ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk hidup." (Kej.1:26-27; 2:7). Allah tidak menciptakan dua bentuk tubuh bagi setiap orang seperti yang diungkapkan oleh para penyembuh dengan tenaga prana. Dengan demikian tubuh bioplasmik tidak dapat diterima sebagai pola untuk tubuh fisik.

Dari penjelasan di atas terbukti, iblis, roh-roh jahat memutarbalikan kebenaran Allah tentang penciptaan tubuh manusia menurut gambar dan rupa Allah. Rekayasa ini dimaksukan agar manusia meragukan iman mereka kepada Allah dan firman-Nya di dalam Tuhan Yesus Kristus.

Pokok kedua dari pengrtian tubuh manusia menurut Alkitab PB, bagi setiap orang yang percaya kepada Tuhan dan Juruselamatnya dinyatakan, "bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri. Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu (1 Kor.6:19-20). Pernyataan firman Allah ini sekaligus menolak pandangan "tubuh bioplasmik" yang dibangun oleh iblis untuk meragukan tubuh orang yang percaya kepada Kristus sebagai "bait Roh Kudus".



Praktik Penyembuhan Pranik dalam Terang Firman Allah

Para penyembah tenaga prana harus mengikuti latihan-latihan untuk memiliki kepekaan terhadap kekuatan dan kuasa tenaga "prana" yang dimilikinya, juga agar memiliki kepekaan akan kerusakan bagian dari tubuh bioplasmik yang berdampak pada tubuh fisik. Latihan ini tidak lepas dari dunia mistik dan relasi dengan pewastika/peramal/tukang sihir/petenung, maka "penyembuh pranik melibatkan penggunaan prana dan manipulasi bahan bioplasmik tubuh penderita" yang dalam praktiknya bergantung pada kekuatan "spiritisme" dan itu tidak lain dari dunia roh-roh jahat, suatu bentuk pemujaan kepada dunia roh.

Memperhatikan praktik penyembuhan yang pada prinsipnya sama dengan praktik akupunktur dan refleksiologi menunjukan, bahwa praktik penyembuhan dengan tenaga prana berdasarkan Ulangan 18:10-13 adalah suatu kekejian di hadapan TUHAN. Setiap orang yang beriman kepada Tuhan yesus dan meyakini Alkitab adalah firman Allah, haruslah dengan tegas menolak praktik ini. Orang percaya telah diingatkan oleh Tuhan Yesus dalam khotbah-Nya di bukit: "... bahwa banyak orang membuat mujizat bahkan demi nama-Nya namun hanya manipulasi semata-mata, pada akhirnya mereka ditolak dan tidak ada tempat dalam Kerajaan Sorga (lihat Matius 7:21-23).

Dari uraian diatas dapat disimpulakn (1) tenaga dalam sebagai kekuatan yang inherent dalam diri manusia (dunia yoga=prana=chi/zen=ki) disalurkan dalam praktik penyembuhan (2) ayat-ayat dari kitab suci dari berbagai agama di dunia digunakan sebagai doa, hal sinkretisme, dan dijadikan sebagai mantera dalam praktik penyembuhan (3) tidak diragukan lagi bahwa dunia penyembuhan dengan tenaga prana adalah praktik perdukunan atau tukang sihir atau 'orang pintar'.

Kesimpulah dari sudut iman Kristen (1) setiap orang yang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus dan meyakini Alkitab adalah firman Allah harus tegak menolak praktik ini (2) karena tubuh orang percaya adalah bait Roh Kudus untuk memuliakan Allah, maka apabila orang percaya yang telah masuk dalam praktik atau telah disembuhkan dengan cara prana, hendaklah ia segera minta didoakan oleh hamba Tuhan untuk dilepaskan dari ikatan tipu muslihat iblis (lihat Mat.18:18-19)


______________________________________________
"Tubuh Orang Percaya = Bait Roh Kudus" oleh Pdt. Yunus Leiwakabessy, M.Div dalam Majalah Samaritan Edisi 1 Tahun 1999.

Senin, 19 November 2018

Buah Roh atau Buah Daging

          Seseorang mengirim surat kepada Dr. Morris Cerullo. Dia menyatakan bahwa, penyakit kataraknya telah sembuh tanpa operasi dokter, tetapi dengan menggunakan doa yang dikirimkan oleh penginjil tersebut.1

          Seorang arsitek dari Toronto memberi kesaksian dalam ibadah di gereja Airport Vineyard. Ia telah sembuh dari keretakan pada tulang punggung yang mengakibatkan dirinya sulit bergerak dan harus istirahat kerja selama 4 tahun, karena telah didoakan dalam ibadah tersebut pada tahun lalu.2

          Di Indonesia, ada juga orang yang sembuh dari sakit-penyakit setelah menerima Holy Laughter. Ruth, tidak pincang lagi. Dan Kenny, tidak sesak napas lagi.3 Namun, ada seorang hamba Tuhan yang mendoakan supaya kakeknya sadar dari koma dan sembuh dari penyakitnya. Tapi kakek itu tak sadar dari komanya sampai meninggal dunia. Tujuh tahun kemudian, ayahnya terserang kanker. Setiap hari dia berdoa supaya ayahnya sembuh. Tetapi kanker itu merengut nyawa ayah yang dikasihi dan telah menjadi anak Tuhan itu.4

          Sama-sama sakit dan sama-sama didoakan oleh orang Kristen, mengapa ada yang sembuh dan mengapa ada yang tidak sembuh? Apakah yang sembuh telah menerima kesembuhan ilahi dan yang tidak sembuh tidak mengalami kesembuhan ilahi? 


Derita Sakit-Penyakit

          Sebelum melihat tentang kesembuhan Ilahi, perlu kita mengerti, mengapa manusia menderita sakit-penyakit. Ada beberapa prinsip dalam pokok Alkitab yang menunjukan akar dan penyebab semua penderitaan manusia, termasuk penyakit dalam dunia ini. Dalam Kejadian 1:31 dinyatakan bahwa "... Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik." Secara total "baik" artinya tanpa penderitaan, tanpa kesakitan, tanpa kejahatan dan tanpa tragedi.5 Tetapi dalam Kejadian 3:16-17 disebutkan tentang akibat dosa yang telah dilakukan manusia. Dari sanalah muncul kesakitan dan kematian. 

          Akibat dosa, mempengaruhi tubuh.6 Pada saat manusia mulai makan dari pohon yang dilarang itu, ia menjadi makhluk yang akan mati. Pencemaran yang mematikan mulai bekerja seketika itu juga. Kesakitan dan derita yang akan dialami laki-laki maupun wanita, timbul dari pelanggaran mereka.7 Ini tidak berarti bahwa setiap penyakit merupakan akibat langsung perbuatan dosa seseorang (Ayub 1,2; Yohanes 9:3; 2 Korintus 12:7). Maksudnya adalah pada hakekatnya, penyakit fisik dan mental merupakan akibat dosa Adam. Kita manusia sebagai keturunannya mengalami akibat tersebut. Dan dampak dosa bagi lingkungan jelas berubah. Semula mereka berada dalam lingkungan yang pali indah dan sempurna, kini terpaksa tinggal di lingkungan yang ganas dan tidak sempurna.8

          Jadi, tidaklah mengherankan bila di dunia ini sama sekali tidak ada orang yang memiliki kesehatan yang sempurna. Hal ini berkaitan dengan jatuhnya manusia pertama ke dalam dosa.9


Tentang Kesembuhan Ilahi

          Kita mengerti sekarang, bahwa derita sakit-penyakit adalah karena dosa manusia. Tetapi Allah itu baik (Roma 8:28-29). Yang disebut kebaikan itu bukan berarti orang yang telah menjadi umat Allah bebas dari sakit-penyakit. Kebaikan itulah maksud Allah, yaitu supaya kita menjadi serupa dengan gambaran Tuhan Yesus Kristus.10 Hal senada juga dinyatakan oleh Witness Lee.11  Dan maksud itu mendapat prioritas di atas segala sesuatu dan Allah tidak akan membiarkan apa pun mengganggu pekerjaan-Nya yang besar itu di dalam kehidupan seorang Kristen. Berati penyembuhan dapat ditunda... bahkan tidak disembuhkan.12

          Allah telah menjelma menjadi manusia, yaitu Yesus Kristus. Dia mati di kayu salib untuk menanggung dosa manusia dan bilur-bilur-Nya menyembuhkan manusia yang percaya kepada-Nya (1 Petrus 2:24). Penyembuhan dari Juru Selamat itu terutama dalam bentuk rohani, bukan jasmani.13 Penyembuhan dari kematian. Kita dahulu mati karena dosa (Efesus 2:1), tetapi penderitaan kematian Kristus telah menyembuhkan kematian kita sehingga kita dapat hidup dalam kebangkitan-Nya.14 Manusia akan mengalami bukan saja kematian fisik, tetapi juga kematian kekal. Namun kematian Kristus membawa kepada kehidupan kekal.15

          Manusia akan bebas dari derita dan sakit-penyakit pada waktu Kristus datang kembali (1 Yohanes 3:2). Maut dan penyakit akan dilenyapkan dari umat percaya untuk selama-lamanya (Filipi 3:20-21). Itulah kehidupan kekal.

Memang, ketika bertugas di dunia Tuhan Yesus juga menyembuhkan sakit secara jasmani. Tapi seringkali Dia menyuruh orang untuk tidak menyiarkannya (Matius 8:8, Markus 5:43, 7:36). Ini karena Tuhan Yesus sendiri tidak menghendaki orang-orang menjadi percaya hanya dengan tujuan memperoleh tanda ajaib dan mujizat.16  Dan dalam peristiwa tanda-tanda dan mujizat yang dilakukan-Nya, pertobatan dan iman tidak selalu mengiringinya. Ada kalanya pertobatan dan iman terjadi tanpa adanya tanda-tanda dan mujizat.17

          Bila Allah menghendaki penyakit sembuh, Allah bermaksud supaya orang itu menjadi serupa dengan Kristus. Allah menyembuhkan bisa melalui karunia iman, karunia kesembuhan atau melalui cara-cara medis. Jika orang Kristen sakit ingin beriman untuk kesembuhan, ia harus pasti bahwa Allah telah memberi iman itu kepadanya. Jika tidak memilikinya ia harus mencari pertolongan dokter, pertolongan medis telah disediakan Allah.. obat-obatan dan dokter (seperti Lukas) juga dari Allah.18

          Ada contoh tragis. Hobert Freeman yang tinggal dekat Fort Wayne, Indiana; mengajarkan bahwa Allah menghendaki penyembuhan semua penyakit orang-orang percaya, tanpa jasa medis (memaksa Allah dengan kehendaknya sendiri). Akibatnya, lebih dari 50 anggota 19 gereja termasuk bayi-bayi meninggal karena menolak jasa medis.19

          Jika Allah menghendaki kesembuhan melalui karunia penyembuhan, perhatikanlah I Korintus 12:4-12. Roh yang memberi macam-macam karunia adalah untuk kepentingan bersama (ayat 7), bukan untuk kepentingan golongan maupun penginjil tertentu. Karunia-karunia itu menyinggung persekutuan dan karena itu harus dipakai untuk kesejahteraan persekutuan itu sebagai keseluruhan, supaya karunia itu membawa keharmonisan dan Roh Allah memegang kendali secara berdaulat.20  Jadi Allah tidak bisa didikte atau disuruh, dan manusia tidak bisa memaksa-Nya dengan bergulingan, rebah, melompat-lompat apalagi tertawa tanpa kendali.

          Apabila Allah menghendaki penyakit tidak disembuhkan, Allah juga bermaksud supaya si penderita menjadi semakin serupa dengan Kristus. Fanny Crosby seumur hidup buta, namun menulis beratus nyanyian rohani, telah memberi semangat dan menghibur orang-orang Kristen. Begitu juga Ken Medema yang buta, mengubah derita penyakit menjadi puji-pujian akan kemuliaan Allah. John Milton, yang meski buta mengarang buku Paradise Lost, yang memuliakan dan memuji kebesaran Allah. Para utusan Injil seperti, David Livingstone, William Carey, Amy Carmichael dan sebagainya. Mereka menderita sakit penyakit, tetapi mereka menjadi semakin serupa dengan Kristus.

          Seorang rasul besar; Paulus, memiliki duri dalam daging yang kalau dirasakan mengganggu pelayanannya. Tetapi dengan itu hidup Kristus makin nyata dalam hidup dan matinya (Filipi 1:20).


Buah Daging atau Buah Roh?

          Prinsip ajaran Gerakan Zaman Baru beranggapan bahwa, manusia dalam dirinya mempunyai potensi untuk mengolah tenaga batin dan tenaga alam untuk dirinya sendiri dan dalam usahanya menguasai keberuntungan dan kesehatan dirinya.21

          Jadi kesehatan dan keberuntungan merupakan hasil usahanya dan untuk kepentingannya sendiri. Cara mencapai usaha ya, memakai caranya sendiri. Sedangkan yang ditekankan dalam ajaran Word of Faith adalah sehat dan makmur yang dilihat dan diukur secara lahiriah. Hidup yang berkelimpahan materi dan kesehatan yang sempurna adalah tujuannya. Di luar ini bukanlah kehendak Allah.22

          Di samping itu, manusia adalah alah-alah kecil sehingga mereka menganggap diri mereka memiliki sifat keallahan yang ditunjukkan dengan "kesembuhan pelepasan... kemakmuran uang, mental... fisik dan kemakmuran keluarga.”23

          Kemudian Vineyard Fellowship dengan ajaran Signs and Wonders menekankan, bahwa iman yang berhasil dibuktikan dengan tanda-tanda dan mujizat, tidak beriman. Jadi, ajaran-ajaran itu mengajarkan orang untuk mencintai dunia dan dirinya sendiri dan tidak menekankan sikap hidup berkorban dan memperhatikan sesamanya.

          Rasul Paulus menasehati orang percaya di Filipi dan relevan untuk orang percaya masa kini, bahwa tujuan umat Allah hidup di dunia adalah untuk memberi buah (Filipi 1:21-22). Karena terbatasnya tempat, berikut ini penulis kutip buah Roh Pentakosta (dari Kisah Para Rasul) dalam buku Toronto Blessing karangan Ir. Herlianto, M.Th. Buah-buah itu adalah:

1. Keberanian para rasul untuk bersaksi dan berkorban demi pemberitaan firman Yesus (1:8; 2:14; 4:13).
2. Mereka memberitakan pertobatan, penebusan Kristus, kebangkitan kebangunan Mesias (2:21-24; 31-32; 38; 4:12) dan menTuhankan Yesus (2:36)
3. Pelayanan para rasul disertai kuasa dan mujizat; terjadi kebangunan rohani yang menghasilkan pertobatan dan perubahan hati.
4. Mereka hidup dalam kasih karunia yang melimpah, tetapi tidak diukur dan dilihat secara lahiriah (4:33).
5. Mereka bertekun dalam pengajaran rasul (2:42).
6. Mereka hidup dalam persekutuan berjemaat, dibabtis dan perjamuan kasih (2:42).24

          Adalah kenyataan sepanjang sejarah umat manusia, mereka lebih terpikat akan sesuatu yang tidak biasa, dan sesuatu yang hebat.25 Begitu mendengar atau melihat sesuatu yang mengherankan dan lain dari yang lain, mereka mudah tergoda dan terpikat.

          Bila kesembuhan Ilahi adalah merupakan buah Roh, itu berasal dari Allah untuk membawa manusia menjadi serupa dengan Kristus. Kesembuhan itu bisa melalui karunia iman atau karunia menyembuhkan, juga melalui jasa medis serta obat-obatan. Dalam kesembuhan Ilahi, penderita masih bisa menderita sakit jasmani, karena yang terutama adalah sembuh secara rohani. Dan si penderita menang atas derita sakit penyakit dan hidup memuliakan Allah.

          Jadi, bagaimana orang yang sembuh karena hasil doa kiriman Dr. Morris Cerullo atau karena Holy Laughter, silahkan dinilai apakah kesembuhan itu merupakan buah Roh atau buah daging.



Sumber Acuan:

1. Bahana, Juni 1994, 70.
2.   "  , Mei 1995, 36.
3. Ibid.,  52.
4. Christianity Tiday, November 16, 1983.
5. Billy Graham, Hingga Harmagedon, 74.
6. Charles Ryrie, Teologi Dasar I, 294.
7. Thiesen, Teologi Sistematika, 281.
8. Ibid., 282.
9. Richard A. Sipley, Mengerti Kesembuhan Ilahi, 136.
10. Ibid., 105.
11. Witness Lee, Perjanjian Baru, 788.
12. Sipley, 106.
13. Graham, Roh Kudus, 258.
14. Lee, 1395.
15. Bibliotheca Sacra, January 1965, 50.
16. Herlianto, Toronto Blessing, 73.
17. Obid.
18. Graham, Roh..., 261.
19. Christianity Today, November 16, 1983; 13.
21. Herlianti, 76. 
22. Ibid., 32.
23. Ibid., 29.
24. Ibid., 30.
25. Graham, Roh ..., 256.
26. Herlianto, 76.


_____________________________________________
Buah Roh atau Buah Daging oleh Nanni. M. Priyono, S.Th
Dalam Majalah Samaritan Edisi 1 Tahun 1999.




Jumat, 02 November 2018

Sumpah: Suatu Janji yang Diikrarkan dalam Nama Tuhan

          Tulisan ini adalah uraian sederhana mengenai SUMPAH, yang dibagi ke dalam beberapa bagian, yaitu: Arti kata penggunaan sumpah, bolehkah orang Kristen bersumpah, dan tanggung jawab orang yang bersumpah. Judul di atas adalah juga merupakan tesis penulis dalam artikel ini, dengan keyakinan bahwa sumpah adalah suatu janji yang diikrarkan oleh seseorang dalam nama Tuhan.


Arti Kata dan Penggunaan Sumpah dalam Alkitab
          Dalam Alkitab berbahasa Ibrani, kata yang diterjemahkan sebagai 'sumpah' adalah kata "syevu'a" dan kata "ala" adalah kata yang sering muncul. Kedua kata ini menjadi suatu kata "Horkos" di dalam kitab berbahasa Yunani. Sumpah adalah suatu kutukan atas orang yang melanggar kata-katanya sendiri (misal dalam 1 Samuel 19:6). Sumpah seperti ini dikenal dengan sumpah serapah. Namun sumpah memiliki perluasan makna, yaitu seseorang yang mengucapkan suatu janji bahwa ia telah dan akan bertindak sesuai dengan yang diharapkan atau di ucapkan. Beberapa ahli (seperti A lelievre, Vocabulary of the Bible, 1985) berpendapat bila orang Ibrani (Israel) bersumpah atas nama Allah, maka ia berharap Allah untuk bertindak, atau 'mempercayakan kepada Allah tugas bertindak terhadap seseorang yang melakukan sumpah palsu atau kesaksian palsu.

          Dalam Alkitab, pembaca dapat melihat bahwa pengucapan sumpah dapat dilakukan dengan berbagai cara (lihat Kejadian 24:2-3; Ulangan 32:40) dan berbagai rumusan (Kejadian 31:50; Bilangan 5:22; Hakim-hakim 8:19, II Raja-raja 2:2; Yeremia 42:5; Matius 5:34-36, 23:16). Namun sering kali dampak-dampak yang mengerikan dari sumpah yang tidak dipenuhi dan tidak dikemukakan (II Samuel 3:9 namun lihat juga Yeremia 29:22). Dalam hukum Musa, sumpah menjadi sesuatu yang penting untuk diperhatikan (Keluaran 20:7; Imamat 19:12). Namun bangsa Israel tidak boleh mengucapkan sumpah demi dewa-dewa Kanaan (Yeremia 12:16, Amos 8:14). Alkitab memberitahukan bahwa Allah mengikatkan diri dengan umat-Nya dengan sumpah (Kejadian 1:24), juga janji-janji-Nya kepada Daud (Mazmur 110:1-4).


Dua Jenis Sumpah
          Dalam masa-masa selanjutnya (di masa modern) muncullah pembagian sumpah ke dalam dua jenis. Jenis pertama di sebut sebagai SUMPAH PROMISSOIR, dan jenis kedua adalah SUMPAH ARSSETOIR. Sumpah Promissoir adalah sumpah-sumpah yang mengandung janji-janji misalnya dalam sumpah yang dituntut dari seorang pegawai pemerintah pada waktu menduduki jabatan tertentu. Dalam sumpah ini seseorang berjanji bahwa ia akan melaksanakan tugas-tugas dan kewajibannya dengan sebaik-baiknya. Sumpah Assetoir adalah sumpah yang meneguhkan kebenaran suatu keterangan yang diberikan. Dalam pengucapan sumpah jenis ini, yang bersumpah adalah seorang saksi dari suatu perkara. Di sini ia di tuntut untuk mengatakan segala sesuatu yang diketahuinya dengan sejujur-jujurnya. Sumpah jenis ini dilakukan dalam perkara-perkara hukum pidana, hukum proses, hukum sipil, hukum tentara, dan hukum-hukum lainnya yang setaraf dengan itu.


Bolehkah Orang Kristen Bersumpah?
          Sampai hari ini, di kalangan Kristen, masih terdapat dua pemahaman yang berbeda mengenai boleh atau tidak mengucapkan sumpah. Pendapat yang memperbolehkan mengucapkan sumpah, memiliki landasan berpikir bahwa mengucapkan sumpah justru membuat orang menjadi serius dan berhati-hati, baik di dalam tindakan maupun dalam perkataannya. Sedangkan mereka yang berpendapat tidak boleh mengucapkan sumpah berdasarkan pendapat mereka terhadap pesan Matius 5:33-37. Dalam Matius 5:33-37 memang dikatakan bahwa "Seorang anak Tuhan tidak diperbolehkan untuk mengangkat sumpah". Tetapi maksud dari ayat tersebut adalah agar orang percaya jangan mengangkat sumpah dusta (sumpah palsu), atau usaha-usaha untuk mengganti kebenaran dengan mengangkat sumpah. Di dalam Alkitab Perjanjian Baru juga terdapat beberapa ayat (seperti dalam Matius 26:63-64; II Korintus 1:23; I Tesalonika 2:5), dimana Allah ditampilkan sebagai seorang saksi. Oleh sebab itu orang Kristen tidak disalahkan bila ia mengangkat sumpah, termasuk dihadapan pemerintah, asalkan orang tersebut tidak mengangkat sumpah bohong atau sembrono. Karena pada saat orang mengangkat sumpah, ia tidak menjadikan Allah menjadi seorang saksi. Sehingga pada saat ia mengangkat sumpah, ia harus benar-benar berada di dalam keadaan kebenaran dan kesadaran penuh (veritas in mente). Ia juga harus dapat membedakan mana yang benar dan yang tidak benar (iuscium in iurante). Serta, harus ada keadilan dalam penyeselaian perkara yang membutuhkan pengangkatan sumpah tersebut (iustitia in objecto). Itulah sebabnya diusulkan agar dalam pengangkatan sumpah tidak perlu menggunakan Alkitab. Kesetiaan terhadap sumpah harus dibatasi dan ditentukan oleh kehendak Allah. Tuhan tidak menghendaki kita mentaati sumpah secara mekanis, otomatis dan terpaksa, tetapi ketaatan kepada kewajiban dan pengakuan kita harus dibangun di atas kesadaran bahwa kita adalah hamba-hamba Tuhan yang harus mengabdi kepada Tuhan semata-mata dan menjadi hamba kebenaran.


Tanggung Jawab Orang yang Bersumpah
          Yehezkiel berkata bahwa orang yang mengingkari sumpah dapat dihukum mati (Yeremia 17:16), walaupun di dalam Kitab Taurat kesalahan ini dapat diampuni jika ia memberikan korban pengakuan dosa (Imamat 5:4; 6:1-4). Kristus mengajarkan bahwa sumpah mengikat (Matius 5:33). Kristus sendiri diperhadapkan ke meja pengadilan dengan sumpah (Matius 26:63). Demikian pula dengan Paulus, ia pernah bersumpah (II Korintus 1:23; Galatia 1:20). Itulah sebabnya dalam kehidupan sehari-hari orang Kristen haruslah memiliki kehidupan yang sama sucinya dengan ketika ia mengangkat sumpah. Setiap orang Kristen tidak boleh memiliki dua ukuran tentang kebenaran. Bila seseorang (termasuk orang Kristen) mengangkat sumpah namun ternyata ia tidak memenuhi kewajibannya (sumpah promissoir) atau menyatakan suatu dusta (sumpah assertoir), maka ia berarti telah menyebut nama Tuhan dengan sia-sia. Larangan untuk menyebut nama Tuhan dengan sia-sia ini dengan tegas diberikan oleh Allah dalam Keluaran 20:7, dan menjadi hukum yang ketiga dari sepuluh perintah Allah (dekalog). Bila seorang bersumpah, maka ia telah mengundang Tuhan menjadi saksi atas segala sesuatu yang diucapkannya. Sehingga apabila ia melanggar sumpahnya tersebut, bukan saja ia telah berdosa terhadap pihak (manusia atau lembaga) yang meminta sumpahnya, melainkan juga terhadap Allah, sebagai Saksi atas segala ucapannya itu. Selain itu, penggunaan nama Tuhan dalam sumpah berarti menggunakan nama Yang berkuasa. Oleh sebab itu tidak boleh digunakan secara sembarangan. Setiap orang yang mengangkat sumpah tetapi akhirnya melanggarnya, maka ia telah menginjak-injak kekudusan nama Tuhan, dan selanjutnya Tuhan akan memandangnya sebagai orang yang bersalah, yang akhirnya akan mendapatkan hukuman dari-Nya.

          Bila kita menyadari akan makna kehidupan ini, maka sesungguhnya setiap manusia hidup berada di atas 'sumpah'. Bukankah setiap manusia akan memberikan pertanggungjawaban kepada Allah (Pencipta) mengenai segala sesuatu yang kita lakukan (Roma 14:12). Bukankah setiap ucapan kita dapat memberkati tetapi juga dapat menjerat kita (Matius 13:36). Setiap bidang pekerjaan memiliki tanggung jawab masing-masing, bukan saja terhadap manusia (badan/lembaga/penguasa) tetapi juga (terlebih lagi) kepada Allah, walaupun tidak semuanya harus mengangkat sumpah (baik promissoir ataupun assetoir) dalam permulaan pekerjaannya. Kita mengambil salah satu contoh pekerjaan atau jabatan yang telah diambil sumpahnya sebelum seseorang menduduki jabatan tersebut, yaitu dokter. Setiap dokter telah disumpah untuk memenuhi kewajibannya dan tanggung jawabnya terhadap segala sesuatu yang harus dilakukan terhadap pasiennya. Semua tujuannya adalah untuk kebaikan si pasien, dan semuanya harus dilakukan secara profesional menurut standar profesi kedokteran tanpa memandang latar belakang si pasien. Apabila dokter ini, dalam kenyataannya tidak melakukan kewajiban dan tanggung jawabnya, walaupun disertai berbagai argumentasi, maka ia telah melanggar sumpahnya, dan oleh karena itu, ia akan mendapat hukuman atas perbuatannya. Mungkin banyak yang lolos dari hukuman ini, tetapi semua yang lolos itu hanya lolos dari hukuman manusia atau lembaga atau pemerintah/penguasa di bumi ini. Tetapi tidak demikian di dalam pengadilan Tuhan. Ia akan tetap diperhitungkan sebagai seorang yang bersalah karena ia telah melibatkan nama Tuhan di dalam pekerjaannya, dan karena semua sumpahnya itu telah diucapkannya dengan kesadaran penuh.


____________________________________________________
Sumpah: Suatu Janji yang Diikrarkan dalam Nama Tuhan oleh Poltak YP Sibarani
Dalam Majalah Samaritan Edisi 3 Tahun 1999.

Selasa, 18 September 2018

Menjadi Rekan Sekerja Allah Melalui Profesi


          Kecenderungan dalam profesi medis dewasa ini ialah mencari untung, mencari tempat yang enak. Karena itu kasus-kasus malpraktis begitu banyak terjadi, baik yang terbuka maupun yang ditutup-tutupi. Dokter-dokter baru lulus mau mencari tempat yang enak, spesialis mau ditempatkan pada tempat yang banyak uangnya. Banyak dokter-dokter berambisi menjadi super spesialis serta gelar tinggi lainnya. Sayangnya ambisi-ambisi itu disertai dengan kemalasan, ketidakjujuran, jalan pintas. Kita mau menjadi hebat dan wah, tetapi penghargaan itu sering melampaui kemampuan kita.

          Mengapa kecenderungan seperti ini terjadi? Sebab, konsumerisme zaman ini mengikat kita dengan berhala modern. Kecenderungan orang sekarang tidak menyembah Allah Yang Maha Kudus tetapi mengharapkan yang nyata, yang dapat dilihat dan dipegang. Tidak heran sekarang kita menjadi budak keinginan kita, harta, uang, ambisi yang pada akhirnya akan menurunkan hakekat dan martabat kita sebagai manusia ciptaan Allah.

          Contoh bahwa konsumerisme sudah masuk dalam dunia kedokteran antara lain adalah kredit yang dipergunakan untuk memenuhi kepuasan pribadi. Kehidupan modern memang mangajar orang terus berhutang. Akhirnya ia akan dikejar-kejar hutang dan pasien menjadi korban. Kita tahu bahwa banyak pemeriksaan yang tidak seharusnya dilakukan, hanya untuk meningkatkan pendapatan si dokter. Yang seharusnya diperiksa justru tidak diperiksa walaupun murah dan mudah. Sering pemeriksaan CT Scan, USG, dan MRI sudah dipesan tapi belum dilakukan pemeriksaan fisik yang teliti. Pemeriksaan colok dubur sangat murah, mudah dan akurat untuk diagnosa rektal. Tetapi banyak pemeriksaan canggil dilakukan tanpa pemeriksaan ini.

          Semua penilaian ini disampaikan dr. darmawan sembiring Pelawi (alm.) dalam makalahnya "Profil dan Tantangan Dokter Kristen, Serta Bahaya Sekularisme". Penilaian ini mungkin benar, tapi apakah mungkin seorang profesional, dokter khususnya memiliki kecenderungan ini karena mereka belum memahami bahwa, suatu pekerjaan, itu penting bagi Allah, bukan hanya untuk diri dan keluarga? Mungkin saja. Karena itulah kita perlu tahu bahwa, pekerjan merupakan bagian terbesar dalam kehidupan manusia yang dipandang serius oleh Allah. Karena apa? Karena Allah sendiri adalah pekerja (lihat Kejadian 1 dan Kolose 1:16-17); karena Allah yang menciptakan manusia sebagai pekerja (lihat Kejadian 1:26, 28-29, Pengkhotbah 3:13), dan karena Allah yang menciptakan manusia sebagai rekan kerjanya (Kejadian 2:8, 15) maksudnya, Allah menanam pohon-pohon di taman itu dan manusia mengusahakannya. Ini merupakan kerjasama yang pertama, kerjasama yang erat.

          Demikian paparan Dough Sherman dan William  Hendricks dalam buku "Pekerjaan Anda Penting Bagi Allah". Dough Sherman adalah pendiri dan pemimpin perusahaan Career Impact Ministries (CIM) suatu organisasi Kristen yang membantu tenaga-tenaga bisnis dan profesional untuk mengintegrasikan iman mereka ke dalam karir mereka. William Hendricks adalah direktur eksekutif dari CIM. "Oleh sebab itu segala sesuatu tentang pekerjaan kita harus arahkan ke arah Dia - maksud dari motif kita, keuntungan kita dan penggunaannya, keputusan kita, masalah kita, hubungan kita, sasaran kita, peralatan kita, keuangan kita - segala sesuatu," tegas mereka pula. Jadi, alangkah salahnya bila ada orang yang memandang pekerjaannya sebagai sesuatu yang murni sekuler, yang memandang pekerjaan dari Allah tidak saling berhubungan.

          Kalau tadi dr. Darmawan sudah mengemukakan penilaiannya mengenai kecenderungan konsumerisme dalam profesi medis dewasa ini, ada hal-hal lain yang dilihat Dough dan William yang menghambat seorang profesional atau bekerja untuk menerapkan pengertian suatu pekerjaan itu dianggap penting oleh Allah. Apa saja? Suatu pertanda bahwa agama dan pekerjaan sudah tidak saling menjalin hubungan adalah adanya karierisme atau pemuja karier dalam generasi kita ini, katanya. Yang dimaksud dengan karierisme disini ialah pemujaan terhadap karier sedemikian rupa sehingga karier itulah yang menentukan harga diri seseorang, menjadi pusat pengendali kehidupan seseorang, dan menjadi prioritas yang paling tinggi. Akibatnya, karier menjadi sesuatu yang tidak boleh disentuh. Pernikahan, anak-anak, persahabatan, bahkan nilai-nilai moral bila perlu, harus disesuaikan dengan tuntutan karier, kalau tidak maka akan tertinggal.

          Lebih jauh dibahas, siapakah yang bertanggung jawab atas pemujaan karier, yang sudah merupakan agama baru, teristimewa bagi banyak orang yang tergolong dalam "the baby boom?" Apapun penjelasannya nanti, fenomena ini pasti merupakan gejala dari sebuah masyarakat yang sedang dilanda sekularisme, yang secara berangsur-angsur mengurangi peran Allah dalam kebudayaan, dan merupakan penolakan terhadap agama karena dianggap sudah tidak relevan lagi. Dengan kata lain, generasi ini telah hidup dengan seperangkat aturan yang baru. Aturan lama mengatakan, "Sangkalilah dirimu". Aturan baru mengatakan, "Penuhilah keinginan hatimu". Aturan lama mengatakan, "Kasihilah Tuhan Allahmu". Aturan baru mengatakan, "Kasihilah tuhan, yaitu dirimu sendiri".

          Dikatakannya pula, walaupun kebanyakan dari kita tetap akan mendefinisikan sukses sebagai hal yang berkaitan dengan kekayaan, ketenaran, atau kekuasaan, namun tindakan kita menunjukan bahwa yang penting bagi kita bukanlah hal-hal itu, tetapi apa yang dikatakan orang tentang kita, Mereka mengatakan bahwa kita berhasil, dan itu berarti lebih dari sekedar berhasil (entah apapun artinya). Kesan yang ditimbulkannya lebih berharga daripada meterinya.

          "Pandangan sekuler tentang pekerjaan jelas merupakan cara pendekatan terhadap kehidupan ini yang menghancurkan diri. Pandangan sekuler menuntut agar orang itu mencapai prestasi-prestasi yang hanya dapat dilakukan oleh Allah. Anda mungkin beranggapan bahwa berhala itu adalah patung kecil yang terbuat dari batu atau kayu yang disembah oleh orang-orang kafir di daerah pedalaman. Tetapi para ahli antropologi mendefinisikan berhala itu sebagai apa saja yang dianggap sakral, sehingga harga diri kita ditetapkan olehnya, dan hal itu yang menjadi pusat pengendali kehidupan kita, dan merupakan hal yang diberikan prioritas yang paling tinggi.

          "Menurut definisi ini, pekerjaan telah menjadi berhala bagi banyak orang dalam masyarakat kita. Bagaimana dengan Anda? Apakah pekerjaan Anda yang menentukan siapa sebenarnya Anda? Anda mungkin bisa mengelak dan tidak menjadikan pekerjaan Anda sebagai berhala Anda. Tetapi tidak ada artinya apabila Anda tetap saja meninggalkan Allah di rumah. Di dalam kedua keadaan itu, tetap saja satu bagian utama dalam kehidupan Anda dijalankan terpisah dari Allah, dan hal ini tidak patut jika Anda berkeinginan untuk menjadi pengikut Kristus," jabar kedua penulis itu tegas.

          Dengan sejumlah penghalang atau penghambat yang sudah dipaparkan, baik yang timbul dari dalam diri sampai dari lingkungan, yang membuat seorang pekerja tidak dapat memandang pekerjaannya sebagai milik Allah, apakah lantas tepat bila membiarkan mereka dalam kesalahan pandangannya? Dengar arif dr. Darmawan menjabarkan dalam makalahnya, bagi dokter Kristen yang terpenting adalah rencana, kehendak dan panggilan Allah dalam hidupnya. Karena itu, inilah doa dan kerinduan setiap dokter Kristen: "Tuhan biarlah kehendakmu yang jadi". Hidupku adalah milik Tuhan dan buat Tuhan. Tuhan punya rencana yang sangat mulia di dalam kehidupan anak-anak-Nya. Tidak jadi masalah penilaian orang lain terhadap kita, penilaian akhir dan yang benar adalah dari Allah Bapa sendiri. Hidup Tuhan Yesus itu menjadi teladan bagi kita semua. Dia tidak tertarik akan penilaian orang lain terhadap dirinya, padahal pada zaman itu bila ingin menjadi pemimpin agama perlu mencari dukungan dan popularitas dari masyarakat. Tetapi yang diajarkan oleh Tuhan Yesus adalah sebaliknya: Barangsiapa ingin menjadi besar diantara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu (Matius 2:26-27). Di dalam kerajaan Allah karena Rajanya berpredikat hamba, maka kualitas pengikut-Nya ditentukan sejauh mana ia meneladani Rajanya yang rela menjadi hamba.

          Konsep ini, tambahnya, tentu sangat berlawanan dengan konsep sukses dari dunia sekarang. Konsep sukses dari dunia sekarang. Konsep sukses orang percaya memang adalah merupakan suatu kebutuhan bagi dunia ini, orang-orang rela membayarnya dengan harga sangat mahal bahkan sampai mengorbankan anak, isteri dan keluarga. Padahal segala popularitas, kekayaan, kemegahan dan kesuksesan dunia ini hanyalah bersifat sementara, yang akan diakhiri dengan suatu kekosongan belaka. Ahli bedah yang terkenal pada waktunya juga akan kehilangan kemampuannya, sehingga tidak bisa lagi melakukan operasi, kemudian akan mengalami suatu kekosongan yang sangat dalam. Dunia ini sedang lenyap dengan segala keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.

          "Firman Tuhan mengatakan bahwa orang percaya adalah garam dan terang di tengah dunia. Bagian Firman Tuhan ini dengan jelas membedakan antara orang percaya dan orang dunia. Perbedaan kita dengan orang dunia ini seperti gelap dan terang, antara sorga dan neraka. Adalah kewajiban yang mendasar pula bahwa terang dan garam itu harus memasuki dunia. Kita memang berbeda dengan dunia karena itu kita harus mempengaruhi dan bukan dipengaruhi oleh dunia ini dengan cara terjun/masuk ke dalam dunia," katanya lagi.

          Masih pandangan dr. Darmawan, prinsip kedokteran: First do not harm perlu kita hayati. Sebagai dokter dengan rendah hati kita harus mengakui bahwa kita bisa membuat kesalahan yang menyebabkan penderitaan pasien. Kesalahan itu bisa karena over diagnosis, overtreatment, atau karena under diagnosis, undertreatment. Ada dokter yang sengaja menakut-nakuti pasiennya dengan diagnosa yang berlebihan dengan maksud untuk menonjolkan diri bahwa si dokter mampu mengobatinya. Menonjolkan diri dengan kepalsuan dan kebodohan. Ada juga dokter setiap ditanya pasien berkata: "Tak apa-apa semua, semua baik". Padahal sebenarnya apa-apa dan tidak berjalan dengan baik. Beranikah sebagai dokter Kristen mengaku di depan masyarakat bila kita bersalah dan berani bertanggung jawab atasnya? Ambisi kesuksesan sudah merampok hakiki dalam salib Kristus. Kita mau disebut Kristen yang baik, Kristen yang beriman, yang sukses tapi menyangkal kuasa salib, tidak mau memikul salib. "Bagaimana mungkin seseorang mau menjadi pengikut Kristus dan dokter Kristen tetapi tak mau memikul salib?" tanyanya.

          Sejalan dengan ucapan dr. Darmawan, Dough dan William menegaskan, bahwa pekerjaan Anda penring bagi Allah, karena itu sangatlah penting bagi Allah agar tidak menyisihkan Allah dari pekerjaan Anda. Ada ucapan menarik dari dokter David Livingstone pionir misi di Amerika dalam ceramahnya di depan mahasiswa Universitas Cambridge 1857, yang tertulis dalam makalahnya dokter Darmawan: "Adakah yang terlalu besar yang kita serahkan bagi Dia?"

          Jawabnya memang tidak ada yang terlalu besar yang kita miliki, yang dapat diserahkan bagi-Nya. Seorang dokter Kristen bisa menjadi seorang profesional di bidangnya sekaligus menjadi rekan kerja Allah, kalau saja ia mau. Dokter Santoso Karo-karo, berdialog di RS Mitra Keluarga menggarisbawahi, bahwa seorang profesional dalam bidang kesehatan yang sudah menerima kasih terlebih dahulu dari Kristus harus lebih baik dalam memberikan pelayanan kepada kliennya, artinya kompetensi dan ketrampilannya harus lebih baik, kasih di dalam pelayanannya harus lebih baik dibandingkan dengan profesional yang belum menerima kasih dari Kristus.

          "Lebih konkret lagi, kalau orang luar nilai skill dan ketrampilannya 8, dia harus punya nilai 9 atau bahkan 10. Kalau orang lain memberikan kasih di dalam pelayanan dengan nilai 7, maka dia harus mempunyai nilai 9 atau 10 juga. Saya percaya imbalan yang lebih besar akan diberikan oleh Tuhan," tegasnya kepada dr. Sugi.


__________________________________________________
Oleh Ida Cyntia S. dalam Majalah Samaritan Edisi 3 Tahun 1999.



Jumat, 07 September 2018

How Do I Know What I’m Called to Do? (Bagaimana Saya Tahu Saya Dipanggil Untuk Melakukan Apa?)



Tuhan tidak harus datang dan memberitahu saya apa yang harus saya lakukan bagiNya, Ia mengajak saya ke dalam suatu hubungan dengan diriNYA dimana saya mendengar panggilanNya dan mengerti apa yang Dia kehendaki saya lakukan dan saya melakukannya semata karena mengasihiNya…Ketika orang-orang berkata mereka mendapat sebuah panggilan untuk tugas ke luar negeri atau ke ladang pekerjaan tertentu, maksud mereka hubungan mereka dengan Tuhan lah yang memampukan mereka menyadari apa yang bisa mereka lakukan untuk Tuhan.
-Oswald Chambers-


          Berulang kali saya bertanya kepada Tuhan, apa panggilanNya untuk saya lakukan. Pada suatu waktu, saya sedang berada di bagian paling atas tangga sambil membersihkan kaca jendela rumah kami. Sementara bekerja saya merasa biasa saja sampai suatu saat saya melihat ke bawah dan menyadari betapa tingginya saya dari tanah. Jika saya jatuh, saya pasti akan luka berat dan tidak ada yang bisa menolong apalagi untuk memanggil ambulans.

          Terkadang saya pikir panggilan Tuhan seperti itu. Hal-hal tidak berjalan dengan baik. Hidup memang tidak mudah. Situasi saya tidak seperti yang saya bayangkan. Saya tidak mendengar paduan suara yang menyanyikan lagu “Hallelujah Chorus” seperti paduan suara surgawi meskipun saya juga cukup bahagia dengan suara halus  dan pelan yang berkata “baik sekali pekerjaanmu”. Tetapi saya berlambat-ambat dan mulai melihat ke bawah dan mulai merasa berada di tempat yang salah dan melakukan hal yang salah. Apakah saya berada di jalur kehendak Allah ataukah suatu kecelakaan telah membawaku ke tempat ini?

          Dan saya rasa terkadang cara itulah, setelah beberapa dekade mencari kehendak Allah bagi hidup saya, yang membawa saya ke sebuah rumah sakit misi di Afrika, ke dalam situasi peperangan dan wilayah kelaparan paling parah di dunia dan di media nasional berusaha menyampaikan suara kebenaran di hadapan budaya permusuhan yang semakin meningkat.

          Saya bukan seorang kristen super dan saya percaya Anda juga. Di tengah kehidupan yang hiruk pikuk dunia kedokteran dan kedokteran gigi, jangan terkejut ketika Anda terbangun suatu hari dan bertanya apakah Anda benar-benar terpanggil untuk misi ke luar. Jika hal itu belum terjadi maka hal itu akan terjadi.

          Bagaimana Anda mengatasi keraguan dan bagaimana cara Anda melakukannya melalui banyak pergumulan, akan memengaruhi bukan hanya kehidupan Anda tetapi juga beribu-ribu orang lain yang bersentuhan dengan kehidupan Anda.

          Saya seorang penggemar basket Universitas Kentucky (UK).  Itu merupakan cabang olah raga dan Tim satu-satunya yang sangat saya suka. UK mempunyai tradisi menang selama 75 tahun, tetapi tahun ini benar-benar buruk.  Saya tidak ingat apa penyebab kekalahan mereka. Kemarin mereka membuat operan-operan bola yang buruk, hanya berjalan-jalan, angka di layar tidak beranjak, berulang-ulang membuang bola dan melakukan tembakan-tembakan bola yang buruk. Kurangnya menggunakan keterampilan-ketrampilan dasar dengan baik membuat Tim mengalami masalah berulang-ulang. Mereka bukan tidak berbakat. Mereka bukan kurang pengalaman. Mereka hanya perlu kembali pada dasarnya untuk sinkron kembali.

          Saya menemukan hal yang sama terjadi pada saya ketika keraguan saya datang dan saya bertanya pada Tuhan. Saatnya kembali ke dasar.

          Dr. Tom Hale melakukan pelatihan mengenai hal-hal mendasar yang dituangkannya dalam bukunya yang berjudul “Menjadi Misionari”. Ia mengingatkan kita bahwa semua kita menerima “panggilan umum” dari Tuhan untuk menjadi seorang misionari (pribadi yang memiliki misi) pada waktu kita masuk dalam hubungan pribadi denganNya melalui kasih karunia keselamatan (Efesus 2:8). Tuhan tidak berhenti sampai di sana. Ia meminta kita untuk mengasihi Dia dengan segenap hati, jiwa dan roh sehingga Ia bukan hanya Juruselamat kita tetapi juga Tuhan kita (Matius 16:24). Kita mengasihi Dia bukan sekedar perasaan emosional belaka untuk menyenangkan Dia (2 Tim 2:22).  Kita percaya dalam Kristus bahwa kita berpikir dan bertindak sesuai dengan apa yang dimintaNya kita lakukan, selain kesetiaan kita yang terus menerus kepadaNya.

          Dan Dia memberitahu kita apa yang harus dilakukan. Misi kita adalah menjadi “saksinya” dan menyaksikan apa yang sudah Dia lakukan dalam kehidupan kita (Kis. 1:8). Kesaksian tersebut dilakukan dengan perkataan dan disahkan oleh perbuatan baik. Juga belas kasihan dan kepedulian kita yang dijabarkan melalui tindakan melayani yang  tidak bisa diabaikan atau disangkali. Jadi panggilan umum untuk menjadi misionari jelas bagi kita. Pertanyaannya adalah dimana? Tuhan melanjutkan...

          Ia memberikan panggilan-panggilan yang spesifik kepada orang-orang tertentu. Dari Musa sampai Maria, dari Yunus sampai Yohanes Pembaptis dan dari ke-12 murid ke Rasul Paulus kita membaca kesaksian demi kesaksian mengenai panggilan Tuhan secara pribadi untuk melakukan hal-hal yang spesifik. Mengapa? Karena panggilan-panggilan tertentu membutuhkan kuasa khusus untuk melakukannya.

          Saya sedang berbaring di atas atap sebuah flat di Mogadishu, Somalia pada suatu malam di bulan Desember 1992. Nyamuk-nyamuk mengaburkan pemandangan bintang-bintang yang indah di langit yang gelap. Tidak ada lampu yang menyala di kota yang sedang bergolak dengan perang saudara ini. Kelelahan setelah perjalanan ke kota yang sangat menyiksa, saya masih belum bisa tidur karena bunyi suara tembakan yang sporadis, suara granat yang meledak, suara pesawat tempur yang terbang rendah untuk mendarat di lapangan udara.

          Saya ditempatkan di bagian logistik bersamaan dengan Tim Medis diangkut ke kota berpenduduk lebih dari setengah juta orang. Mereka tidak mempunyai akses untuk memfungsikan rumah sakit dan merawat para pasien sekarat yang kekurangan antibiotik (yang termurah sekalipun) dan pengobatan malaria.

          Tuhan dan saya bercakap-cakap saat itu.  “Oke..” saya memulai percakapan saya dengan Tuhan. “Tuhan..siapakah pria dengan istri beserta tiga orang anak kecil kerjakan di tengah-tengah daerah peperangan ini dimana tiap saat aku bisa saja mati terbunuh..?”. “Tuhan aku tidak tahu bagaimana melakukan ini, aku harus mulai dari mana?”. “Tuhan, benarkah kami bisa membuat perubahan?” ..Kemudian datanglah sebuah suara halus dengan pelan berkata “David, kau berada disini bukan karena kebetulan atau karena lelucon. Aku telah memangggilmu dan Aku bersamamu. Percaya saja padaKu..”

          Saya membutuhkan itu. Itulah yang memberikan kepada saya kedamaian saat memimpin sebuah Tim Medis yang melihat selama sembilan tahun lebih dari 45.000 orang yang putus asa, termasuk tetap bertahan terhadap penyerangan, penculikan, pengawal-pengawal bersenjata dan “Blackhawk Down”.

          Bagaimana Anda bisa mengidentifikasi panggilan spesifik seperti itu? Sebuah panggilan yang esensial jika Anda melayani Tuhan di bidang misi medis di suatu daerah atau wilayah yang sangat melarat di dunia ini? Panggilan umum datang melalui Alkitab, tetapi panggilan khusus atau spesifik datang melalui suara Roh Kudus. Beberapa bisa saja se-dramatis yang dialami Paulus dalam perjalanan ke Damaskus tetapi bagi orang lain itu mungkin bukan melalui sebentuk sinar atau tulisan di dinding tetapi melalui khotbah, lagu, ayat Alkitab atau pengalaman. Tuhan berbicara dalam cara yang jelas dan mendalam. Seperti Anda, saya berdoa agar sesuatu yang dramatis yang bisa terjadi dengan jelas dan luar biasa yang mana saya bisa buat gambarnya dan taruh dalam dompet saya.  Kataku “..tulislah itu Tuhan di dinding, aku sudah menyiapkan kameraku..”

          Namun Tuhan tidak hanya bekerja dengan cara seperti itu. Pada umumnya panggilan Tuhan merupakan suatu keyakinan yang bertumbuh sedikit demi sedikit, yang Tuhan taruh di dalam hati Anda. Keyakinan tersebut mungkin sudah mencapai puncaknya pada saat Anda meresponi panggilan mimbar atau mendengar Tuhan berbicara, tetapi panggilan itu menjadi konkrit setelah sekian waktu lamanya. 

          Itu bukan berarti Anda tidak pernah meragukannya atau berusaha merasionalkan cara Anda diluar ketaatan total bagaimana pun caranya panggilanmu datang. Setiap panggilan membutuhkan iman yang akan mengkonversikannya ke dalam ketaatan. Mungkin Anda masih berada dalam proses awal atau Anda butuh memperbaharui atau mendengarkan kembali panggilan Anda. Apa yang harus Anda lakukan ?

          Pertama, Allah menghendaki komitmen Anda yang total. Sadari bahwa Anda tidak bisa membuat perencanaan hidup Anda yang lebih baik dari pada Allah dan bersedialah menerima panggilanNya bahkan sebelum Anda mengetahui apa itu. 

          Kedua, carilah petunjukNya. Sama seperti Samuel berkata : “..berbicaralah Tuhan karena hambaMu mendengarkan..”. Jika Allah sedang mendorong Anda untuk bermisi, berikanlah Dia kesempatan untuk berbicara melalui perjalanan misi (mission trips), membaca biografi para misionari, menghadiri konferensi-konferensi misi dan membaca Alkitab. Pelajari beberapa pelayanan misi. Daerah manakah orang miskin paling banyak? (Where the needs the greatest?). Dimanakah tempatnya agar para dokter dan dokter gigi misionari bisa sangat berguna? Sebagaimana kata David Bryant: ”Allah tidak pernah memimpin Anda ke tempat yang benar-benar Anda tidak tahu”

          Ketiga, bicaralah kepada Tuhan secara teratur dan mintalah Dia berbicara kepada Anda. Allah tidak menulikan telingaNya kepada orang-orang yang dengan sungguh mencari kehendakNya.

          Keempat, kerjakanlah hal-hal yang mempersiapkan Anda untuk panggilanNya bagi Anda.  Jadilah pemberi layanan kesehatan terbaik. Terlibatlah dalam pelayanan terhadap kaum miskin dimana Anda berada. Pelajari Alkitab sebanyak mungkin dan praktekkan itu dengan menjadi saksi kepada teman non kristen dan pasien Anda. Seperti kata Rasul Paulus: “..berdoa supaya Allah kita menganggap kamu layak bagi panggilanNya dan dengan kekuatanNya menyempurnakan kehendakmu untuk berbuat baik dan menyempurnakan segala pekerjaan imanmu” (2 Tesalonika 1:11)

          Terakhir, bertindaklah sesuai petunjuk yang Anda peroleh. Sangat sulit mengendarai mobil yang sedang berhenti di tempat parkir. Saya juga melihat banyak orang terduduk kembali, mengejar prioritas-prioritas mereka sendiri dan mengklaim bahwa mereka mau saja pergi asalkan Tuhan bicara. Jika Anda melangkah maju, maka Allah akan menghormati iman Anda dan menguakkan jalanNya lebih lebar lagi bagi kehidupan Anda ke depan.

          Ingat, kehendak dan pimpinan Tuhan bagi kehidupan Anda mungkin berubah. Saya berpikir saya akan menjadi misionari di Kenya sepanjang hidup saya dan akan dikuburkan di bukit samping rumah sakit. Saya senang menjadi dokter misionari dan melakoninya dengan baik, tetapi Tuhan hanya mengizin kami mengalaminya selama satu musim saja. Saat Tuhan mengganggu ketenangan roh saya dan mulai memanggil saya keluar dari apa yang saya sukai, sekali lagi saya harus kembali ke awal.  Membutuhkan waktu kurang lebih setahun dan banyak percakapan dengan Tuhan sebelum akhirnya saya beriman melakukan apa yang Ia kehendaki saya lakukan, yakni meninggalkan Kenya dan kembali ke Amerika Serikat untuk memimpin World Medical Missions sebelum itu menjadi CMDA (Christian Medical & Dental Association) Amerika Serikat. Anda harus percaya, tidaklah mudah meninggalkan Kenya dibandingkan waktu saya  berkemas membawa keluarga saya yang masih baru dan menuju ke suatu tempat yang hampir mengeliling setengah dari bumi ini jauhnya untuk memulai pelayanan sebagai misionari. Tetapi saya senang sekali saya mentaati panggilan Tuhan.

          Tidak ada kepuasan atau rasa aman yang lebih besar dari pada kehidupan yang berpusat pada kehendak Allah. Kejarlah itu dengan bersemangat.

__________________________________________________________________
by David Stevens, M.D.
Sumber : http://www.cmda.org/AM/Template.cfm?Section=Your_Call1&TEMPLATE=/CM/ContentDisplay.cfm&CONTENTID=14642

Copyright 2007, Pelayanan Medis Nasional (PMdN) Perkantas

Jl. Pintu Air Raya 7, Komplek Mitra Pintu Air Blok C-5, Jakarta Pusat
Telp. (021) 3522923, 3442463-4 Fax (021) 3522170
Twitter : @MedisPerkantas
Download Majalah Samaritan Versi Digital : https://issuu.com/samaritanmag