Rabu, 18 Oktober 2017

Beban Melampaui Batas

".... datanglah seorang kepala rumah ibadat yang bernama Yairus. Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia di depan kaki-Nya dan memohon dengan sangat kepada-Nya... Lalu pergilah Yesus dengan orang itu. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia dan berdesak-desakan di dekat-Nya. Adalah disitu seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan." Markus 5:22-25



Pekerjaan yang tertunda karena tugas lain yang mendesak, gangguan yang terus menerus, tuntutan yang tak putus-putusnya, desak-desakan, halangan-halangan, kelelahan. Inikah gambaran hari-hari saya? Bukan, tapi gambaran hari-hari dalam kehidupan Yesus Kristus. Dan tanggapan-Nya adalah kesungguhan, penuh perhatian, murah hati, penyembuhan atau dengan kata lain: mengasihi, 'Wanita itu menyentuh jubah-Nya.... seketika itu juga Yesus tahu, ada kuasa yang keluar dari diri-Nya... Tetapi Dia berkata: "Anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu." '


Lalu apa tanggapan saya terhadap situasi yang sama? Marah, kasar, mudah tersinggung dan sakit hati, mengasihi diri sendiri lebih dari pasien dan bahkan dari Tuhan? Saya lupa bahwa tak ada sesuatu pun yang terjadi pada saya tanpa persetujuan-Nya. Dialah yang mengizinkan setiap dering telepon yang mengganggu dan setiap tambahan pasien di klinik. Setiap gangguan merupakan kesempatan bagi saya untuk menunjukan pimpinan-Nya, bukan kejengkelan.

Hidup saya harus dikuasai Roh Kudus, sehingga ketika saya tertekan, kasih-Nya melimpah, memberi ketenangan.


Tuhan Yesus, sama seperti pasien-Mu yang lain, saya juga membutuhkan kesembuhan. Saya mengaku bahwa saya pemarah dan penggerutu. Di antara kesulitan-kesulitan hari ini, tolong saya untuk selalu dengan-Mu, sehingga kuasa, damai dan kesabaran-Mu memenuhi hati saya dan melimpah dalam hubungan kerja saya.

Bacaan selanjutnya: Markus 5:22-34

Oleh dr. Jane Goodall dalam Diagnose Firman

Senin, 02 Oktober 2017

Aku Akan Selamanya Tahu

Aku hendak mengingat perbuatan-perbuatan TUHAN. ---Mazmur 77:12


Aku bisa berkata: "Ya, Tuhan, aku tahu," oleh karena pengalaman pribadiku dengan Mazmur 77. Dia menopangku ketika aku "buta" dan gelap mata sebagai orang Kristen, ketika aku sengaja berbuat dosa, dan bahkan ketika akhirnya aku menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatku, lalu takluk di bawah kedaulatan-Nya. Ia menuntunku melewati masa-masa sukar ketika aku ragu apakah aku mampu menyelesaikan sekolahku, dan kesukaran lainnya. Aku juga teringat, tanggung jawab mahasiswa kedokteran di negara-negara berkembang, yang harus bekerja sebagai dokter atau ahli bedah selama menempuh mata kuliah pilihan. Ternyata, Allah kadang kala memberikan kepada kita tugas-tugas di luar kemampuan kita agar kita dapat lebih memahami kekuatan-Nya.

Dalam hati aku bertanya, apa gerangan yang dipikirkan Abraham saat ia mengikat tangan Ishak untuk dikorbankan, sementara pada saat yang sama ia tahu Allah berjanji, akan lahir banyak keturunannya melalui Ishak (Kej 17:19). Kesetiaan Allah di masa lalu telah menguatkan Abraham sehingga kebingungannya saat itu maupun pemenuhan janji masa mendatang kepada Dia yang telah memberikan janji itu yang telah dipercayakan sepenuhnya kepada Dia. Dia juga harus berkata, "Aku akan selamanya tahu."

Doa: Allah penciptaku, aku memuji-Mu dan meyakini pemeliharaan-Mu atas hidupku. Aku tahu bahwa Engkau mempunyai rencana terhadapku dan aku memuji-muji-Mu atas jalan yang selama ini telah Engkau tunjukkan dengan jelas. Lewat sedikit kesempatan yang Engkau beri sebagai penderma kesehatan; kiranya aku senantiasa menyadari bahwa di dalam tangan-Mu, yang sedikit ini mampu berkarya. Jangan biarkan awan gelap membutakan aku terhadap kekuatan dan pemeliharaan-Mu yang sempurna, dan jangan biarkan keadaan yang tidak jelas menghalangiku dari pengetahuan tentang kehendak-Mulah yang pasti terjadi.


Baca: Ibrani 11:11-19; Ratapan 3:22-24.


Oleh: Patrick Masokwane dalam Sumber Hidup Praktisi Medis

Selasa, 19 September 2017

Divine Heartbeat

Luke 15:11-31 
While he as still a long way off, his father saw him coming. Filled with love and compassion, he ran to his son, embraced him, and kissed him (v.20).


If we could listen to the heartbeat of God, what would we hear? Peo---ple. Peo---ple. Peo---ple... This reality amazes both mortals and angels. The psalmist asks, "What are mere mortals that you should think about them, human beings that you should care for them?" (Psalm 8:4). And angels watched in holy awe at the unfolding of God's redemption plan for mankind (1 Peter 1:12).

God's love for people is amazing---especially when you consider that ministering to people is often difficult, tiring, and heavy on heartache. People are fickle---good one moment, bad the next. Look at King David. Look at the apostle Peter. Look at me. We are consistently inconsistent!

Yet we repeatedly find similar storylines to Luke 15:11-31 in God's Word. Let's take a look at the pattern:
  • Man disobeys God---The younger son overtly disobeyed his father. The older brother appeared to outwardly honor his father, while he was inwardly unhappy with him (vv.13, 29-30).
  • God initiates reconciliation---The father went out to meet both of his sons (vv,20,28), His heart was "filled with love and compassion" (v.20). And he humbled himself and begged (v.28) his older son to rejoice with him in the family reunion.
  • Two responses---The younger son repented, while the older brother would not rejoice with his family despite his father's pleas.

God's love for people should be our clear example. As we come to understand His heartbeat, it compels us to love others. The apostle Paul captured the heart of God and the ministry He's given us when he wrote, "We are Christ's ambassadors; God is making His appeal through us. We speak for Christ when we plead, 'Come back to God' " (2 Corinthians 5:20).


Read more: 
Hosea 11:7-8 "My people are determined to desert Me. They call Me the Most High, but they don't truly honor Me . . . . My heart is torn within Me, and My compassion overflows."

Next: 
How do you show God's love to others? In what ways can you be His ambassador of reconciliation?



/Poh Fang Chia/Our Daily Journey with God Volume 1

Selasa, 12 September 2017

Suam-suam Kuku? Tidak, Terima Kasih!

Engkau tidak dingin dan tidak panas --- Wahyu 3:15


Apakah Anda suka es krim atau sup panas yang enak? Mungkin ya, jika keduanya pada suhu seharusnya, namun tidak suka, jika keduanya suam-suam kuku! Begitu juga dengan pesan Kristus bagi jemaat di Laodikia (Why 3:14-22). Ayat 16 bisa diungkapkan dengan kata lain, "Engkau membuat-Ku mual". Laodikia adalah jemaat "separuh baya" dan surat ini berbicara tentang bahaya-bahaya pada usia separuh baya. "Engkau berkata: Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa". Seberapa banyak dari kita yang telah berpikir demikian dalam hati, walaupun tidak dikatakan dengan kata-kata? Kita telah punya praktik yang baik atau posisi mengajar yang pasti: sekarang semuanya akan baik-baik saja.

Surat ini ditujukan baik kepada jemaat Laodikia sebagai keseluruhan maupun kepada setiap pribadi di dalamnya, "Jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku ..." Baiklah kita menyelidiki hidup kita. Di mana prioritasku sekarang? Berapa sumbanganku dibandingkan dengan pengeluaran untuk membeli barang-barang mewah? Bagaimana semangatku bagi Kristus dibandingkan dengan 10-20-30 tahun yang lalu?

Kristus hendak mengajak kita kembali kepada asas-asas utama. "Lihat, Aku berdiri di depan pintu dan mengetuk" merupakan suara Kristus yang diabaikan. Profesor O. Hallesby dari Norwegia memakai ayat ini sebagai gambaran doa. Akankah aku meminta Kristus yang bangkit untuk datang ke dalam keadaan saat ini, pada hubungan itu, atau kepada pasien yang berikutnya? Akankah aku menerima Dia untuk berbagi denganku dan melayangkan anugerah-Nya? Apakah aku menyambut suara-Nya setiap hari seperti pada mulanya?

Doa: Tuhan Yesus, aku mendengar suara-Mu. Datanglah lagi ke dalam hidupku hari ini. Jadilah Tuhan atas semua yang aku miliki dan semua keberadaanku. Kerjakanlah anugerah-Mu melalui semua pekerjaanku dan semua hubunganku hari ini dengan orang lain. Demi nama-Mu. Amin.

Baca: Wahyu 3:14-22; Lukas 12:13-21; Kolose 3:1-4.



Oleh: Bae Do Sun dalam Sumber Hidup Praktisi Medis.

Senin, 28 Agustus 2017

The Power of Gratitude

Be thankful in all circumstances, for this is God’s will for you who belong to Christ Jesus. – 
1 Thessalonians 5:18

Let your roots grow down into Him, and let your lives be built on Him. Then your faith will grow strong in the truth you were taught, and you will overflow with thankfulness. – 
Colossians 2:7


Recent studies have shown that practicing gratitude leads to a healthier, more fulfilling, others-centered life. People who focus on what they are thankful for (versus who dwell on hassles and frustration) are in a better place than those who don’t. They are less likely to get sick and are more active, hopeful, and thoughtful of other people.

God desires that those who follow Him exhibit a grateful heart. For example, the Psalms tell us, “It is good to give thanks to the Lord” (Psalm 92:1). In the New Testament, Paul encouraged his fellow Christians to be “thankful in all circumstances” (1 Thessalonians 5:18).

Could it be that one of the reasons the pages of Scripture lift up the importance of thankfulness is for the mutual benefit of others and us? It definitely appears that way! Apparently, being thankful is better for all concerned. In the end, gratitude procedures enriched people who want to spread the love and joy of God to others.


Don’t misunderstand. Incorporating gratitude into our lives is not about walking around with a cheesy grin on our face, denying the heartaches or injustice of life. We don’t have to sacrifice reality to be grateful. We simply need to adopt a gratitude focus that affects every moment of each day (Ephesians 5:20).

Like everything else in life that’s meaningful, practicing gratefulness takes work. For some who have a habit of focusing on the negative, it may take a lot of effort to change their tune. But everyone is capable of being thankful. And when we live it out, we are showing the world that our awesome God is worthy of all our praise and thanks (Psalms 75:1). He is glorified and others are blessed by our gratitude attitude./Jeff Olson - Our Daily Journey


Jumat, 18 Agustus 2017

A Transforming Vision

Read: Hosea 4:1-3 "Hear the word of the Lord, O people of Israel! The Lord has brought charges against you, saying: "There is no faithfulness, no kindness, no knowledge of God in your land" (v.1).


Where there is no vision, the people perish," states the well-known proverb (29:18 KJV). Or, as the New Living Translation puts it: "When people do not accept divine guidance, they run wild." In this most simple of statements lies a profound spiritual truth. When we lost sight of God's revealed wisdom, we experience moral decay. Like the Israelites with their golden idol, we descend into "revelry" (Exodus 32:1-6). Like the people of Jeremiah's day, we spiral into injustice (Jeremiah 7:5-10). The cry of the Old Testament prophets was always twofold: God's people have lost their vision of Him, and as a result they are "running wild" to the point of destruction. 

This was the situation in Hosea's day. There was no knowledge of God left in the land of Israel (4:1), for the priests and the people has lost their vision of God and His truth (vv.6,9). The city was now filled with murder, theft, and prostitution (vv. 2, 13). The wealthy were oppressing the poor (Amos 8:4-6). Hosea sums up the situation this way: "Your land is in mourning, and everyone is wasting away" (4:3).


Again, when we lose our vision of God and His revealed truth, we experience moral decay. I see this principle at work in my own life. When I lose sight of God through selfishness, busyness, or forgetfulness, I begin to lose control of temptation, worry, and sin. My love for my neighbor diminishes and my concern for the poor declines. The reason is clear: God is our model and His nature is our guide. His holiness fuels our holiness; His love motivates our love; His faithfulness inspires our faithfulness. We become what we worship.

Today, let's ponder Jesus, who gave us the ultimate vision of God (Hebrew 1:3). He longs to make us "into His glorious image" (2 Corinthians 3:18). 

Next: Do any of the temptation you're facing or sins you're wrestling with reflect a deficiency in your understanding of God? How should you imitate God today?


by Sheridan Voysey, Our Daily Journey with God Vol. 1

Jumat, 11 Agustus 2017

Sang Tabib Agung dan Kebersihan Klinis

Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya. ---Markus 7:20


Orang-orang Farisi mengeluh kepada Tuhan Yesus bahwa murid-muridnya tidak mematuhi aturan mencuci tangan sebelum makan. Tampaknya aturan tersebut memberikan contoh kesehatan yang baik dan standar masyarakat yang lebih tinggi. Tapi Tuhan Yesus memberitahukan kepada mereka bahwa tindakan mereka tidaklah lebih dari membersihkan bagian luar yang sifatnya hanya di permukaan.

Maksud "dr. Yesus", secara rohani tidaklah cukup sekadar melakukan sesuatu asal-asalan saja. Kita harus bertindak lebih jauh dari sekadar membersihkan bagian dalam kuku-kuku dengan teliti. Kita harus masuk lebih dalam hingga bahkan hati kita yang terdalam pun bersih. Dan standar kebersihan ini tidak mudah dicapai. Kita harus mengaku, bukan hanya sekali, tapi terus-menerus. Kita tidak punya pilihan selain berkata, "Tuhan, ini kotoran, ini salah, ini seharusnya tidak ada tetapi ternyata ada dalam hidupku. Dan aku ingin kotoran ini dihapuskan." Lalu kita perlu meminta kepada-Nya agar Ia mengampuni kita, bila ada unsur dosa juga di dalamnya. Seperti kata Tuhan Yesus, "Sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinaan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, perbuatan tidak senonoh, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Semua hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang" (Markus 7:21-23).

Bagian dalam kita perlu dibersihkan. Kita juga membutuhkan perlindungan sebagai perisai agar kita tidak tercemar. Karena itu kita harus memakai segenap perlengkapan senjata Allah (Efesus 6:1-18). "Pembedahan" di tangan sang Tabib Agung, atau salah satu asisten-Nya, seperti konselor atau pendeta, mungkin menyakitkan. Namun sekali masalah itu dihapuskan dari hidup kita, kita akan menyadari bahwa rasa sakit dan usaha tersebut sangat bernilai. Kapan pun hati dan pikiran kita kotor, Allah menunggu untuk membersihkan kita hingga bersih. Sang Tabib Agung tahu bagaimana dan di mana harus menggosok dengan tepa.

Baca: Markus 7:1-15; Lukas 11:37-40


Oleh David Short dalam Sumber Hidup Praktisi Medis

Kamis, 20 Juli 2017

Pekerjaanku, Tuhanku?

Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku. ---Keluaran 20:3


Tidak pernah kubayangkan bahwa aku akan tidak taat pada perintah "Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku." Aku sudah Kristen selama bertahun-tahun dan senang terlibat di kegiatan gereja maupun keluarga Kristen. Tentu saja tidak ada allah lain yang mendapat tempat di dalam hidupku. Tapi apa sebenarnya definisi allah itu? Sesuatu yang bisa dianggap allah adalah makhluk-makhluk gaib yang menjadi kekuatan utama untuk menggerakkan kehidupan seseorang, sumber-sumber kenyamanan-kekuatan-upah, dan yang berkuasa menghakimi dan mengatur. Jadi, bagaimana dengan pekerjaanku? Memang pekerjaanku tidak termasuk kekuatan gaib! Selain itu, ada banyak hal yang memenuhi kriteria yang disebutkan diatas, dan sejujurnya hal-hal itu menyita sebagian besar kehidupanku.

Harus diakui, ada banyak hal yang baik di dalam pekerjaanku. Pekerjaan ini terhormat; menuntut dan mempertahankan standar moral yang tinggi, biasanya; bertujuan menolong dan menyembuhkan orang per orang maupun kelompok; berjuang dengan masalah-masalah yang muncul dari sifat manusia; di dalam pekerjaan ini terdapat hikmat yang sangat besar. Banyak orang Kristen memberikan sumbangan melalui profesi ini. Lalu apa masalahku?

Pada dasarnya, aku merasa, itu tergantung prioritasnya. Segalanya berjalan baik jika aku lebih mendahulukan kesetiaanku kepada Tuhan daripada kesetiaanku kepada pekerjaanku, jika Tuhan tetap mengontrol di dalam kehidupan profesionalku. Namun jika kehidupan profesionalku justru yang mengontrolku dan aku memujanya melebihi Tuhan, maka aku telah melanggar perintah Tuhan itu. Aku yakin, banyak orang dalam berbagai macam profesi menghadapi masalah ini. Mari kita waspada!  Kita harus terus menguji kesetiaan kita kepada Tuhan dalam doa, dengan membaca Alkitab dan memelihara persekutuan dengan orang Kristen lainnya. Berjaga-jagalah, jangan sampai Anda mengabaikan peringatan ini sehingga Anda membiarkan pekerjaan menjadi tuhan Anda.

Baca: Efesus 4:1-16



Ditulis oleh J Harold Jones dalam Sumber Hidup Praktisi Medis

Copyright 2007, Pelayanan Medis Nasional (PMdN) Perkantas

Jl. Pintu Air Raya 7, Komplek Mitra Pintu Air Blok C-5, Jakarta Pusat
Telp. (021) 3522923, 3442463-4 Fax (021) 3522170
Twitter : @MedisPerkantas
Download Majalah Samaritan Versi Digital : https://issuu.com/samaritanmag