Jumat, 03 April 2020

Apakah yang Aku Peroleh?


Petrus pernah mengajukan satu pertanyaan kepada Tuhan Yesus. Pertanyaan Petrus sederhana saja. Petrus bertanya: ‘Kami telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau; jadi apakah yang akan kami peroleh?’. Pertanyaan Petrus kelihatannya sederhana, apa yang akan kami perolehPermohonan yang wajar. Tetapi Tuhan Yesus menjawabnya secara panjang lebar. Jawaban yang menyingkapkan pertanyaan Petrus tidak sesederhana seperti yang terlihat. 

Pertanyaan Petrus suatu pertanyaan serius. Tetapi sebelum kita membedah pertanyaan Petrus, perlu ditelusuri mengapa Petrus sampai mengajukan pertanyaan itu. Jawabnya terungkap dalam peristiwa sebelumnya yang direkam dalam Matius 19:16-26. Seorang muda yang kaya datang kepada Yesus dan bertanya bagaimana memperoleh hidup kekal? Yesus menjawab pencarian orang muda yang kaya itu dengan suatu perintah untuk menjual segala milikmu dan mengikut Yesus. Tetapi orang muda yang kaya itu tidak siap untuk menukar keutamaan hartanya dengan Yesus. Orang muda yang kaya itu lebih mengasihi harta ketimbang Yesus. Petrus mengamati peristiwa ini. Dalam logika Petrus, jika ia sudah mengikut Yesus dan meninggalkan segalanya, tentulah upah yang diterimanya lebih besar dari harta yang dimiliki orang muda yang kaya itu. 

Sekarang waktunya untuk bertanya kepada Yesus, apa yang akan diperoleh Petrus? Bagaimana Tuhan Yesus menjawab permintaan Petrus? 

Yesus memenuhi permohonan Petrus dengan menunjuk tiga hak istimewa yang diterima para pengikut-Nya. Tiga hak istimewa itu adalah: menghakimi dua belas suku Israel dan menerima seratus kali lipat serta memperoleh hidup kekal (Matius 19:28-29). Tiga hak istimewa yang membedakan murid-murid Yesus dengan manusia lainnya yang bukan murid Yesus. Istilah menghakimi dapat menunjuk kepada jabatan atau tugas. Murid-murid diangkat menjadi hakim atau murid-murid diberi tugas untuk menghakimi selama periode tertentu. Murid diberi hak istimewa sebagai pemimpin pada waktu penciptaan kembali (19:28). Apa maksudnya penciptaan kembali? Ungkapan penciptaan kembali menunjuk kepada periode antara kenaikan Yesus ke surga setelah bangkit dari kematian dan kedatangan Yesus yang kedua kali. Tidak hanya jabatan dan tugas sebagai pemimpin, murid juga diberi hak istimewa menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup kekal.

Tuhan Yesus mengabulkan permintaan Petrus. Ada upah tersedia bagi mereka yang mengikut Yesus. Itu hak istimewa yang diberikan kepada murid-murid Yesus. Tetapi Tuhan Yesus segera mengingatkan mereka melalui suatu perumpamaan bahwa semua manusia pada dasarnya setara. Perumpamaan yang lebih tepat disebut sebagai perumpamaan tuan dan pekerja Tuhan Yesus mengajarkan tentang kesetaraan manusia. Tidak ada manusia yang lebih berharga atau lebih tinggi dari manusia lainnya. Apa maksud setara disini? Kesetaraan dalam hal apa? Kesetaraan dalam kesempatan? Kesetaraan dalam ekonomi? Bukan! Kesetaraan yang dimaksud adalah kesetaraan sebagai manusia. Pengakuan manusia lain sebagai manusia. Itulah kesetaraan. Maksudnya manusia harus memperlakukan manusia lainnya sebagai manusia, bukan sebagai benda atau objek. Yesus menyadarkan murid-murid-Nya akan kesetaraan semua manusia. Jika mereka menyadari kesetaraan manusia, tidak masuk akal bila mereka menuntut, seperti pertanyaan Petrus, apa yang akan kuperoleh? Meskipun murid-murid menerima tiga bentuk hak istimewa, mereka harus menyadari bahwa itu semua adalah pemberian. Pemberian yang berasal dari kasih Yesus. Kasih itu memberi bukan menuntut. Yesus menjawab tuntutan Petrus karena kasih-Nya kepada Petrus. Tuntutan Petrus dijawab Yesus dengan kasih yang memberi. Lebih jauh Yesus memperlihatkan bahwa kasih dalam bentuk terdalam berarti memberi hidup kepada orang lain (Matius 20:17-19).

Tetapi apakah murid-murid mengerti ajaran Yesus? Tidak. Dua murid lain yang juga dekat dengan Yesus, disamping Petrus, yakni Yakobus dan Yohanes meminta posisi terhormat dalam kerajaan Yesus. Ungkapan ‘tahta kemuliaan’ pada 19:28 membuat mereka cemas dan cemburu. Apakah Petrus memperolehnya? Bagaimana mereka berdua? Apa yang mereka peroleh? Mereka tidak rela jika Petrus memperolehnya. Apa akal? Yohanes dan Yakobus melibatkan ibunya dalam pertarungan memperoleh kemuliaan lebih besar dari Petrus.Yakobus dan Yohanes meminta kuasa pada Yesus. Mereka ingin lebih besar dan berkuasa dari Petrus. Bagaimana Yesus merespons permintaan mereka? 

Yesus mengingatkan Yakobus dan Yohanes bahwa permintaan mereka tidak seperti yang mereka bayangkan. Mereka membayangkan posisi mulia di samping tahta kemuliaan Yesus. Tetapi Yesus menunjuk pada arah berbeda yakni ke arah salib. Itulah sebabnya Yesus menjawab ‘Dapatkah kamu meminum cawan yang harus Kuminum’ (20:22). Cawan yang dimaksud di sini adalah murka Allah atau penghukuman Allah. Yesus melihat salib. Salib adalah tempat di mana Allah mencurahkan murka-Nya. Dalam penglihatan demikian tentu tidak mungkin kedua murid berada di salib di sisi kiri dan kanan-Nya. Posisi di kiri dan kanan Yesus adalah para pencuri seperti dilaporkan dalam 27:38. 

Posisi yang dalam pengertian Yesus telah ditentukan oleh Bapa-Nya seperti tertulis dalam Yesaya 53:12 ‘ia terhitung di antara pemberontak-pemberontak’. Terhadap jawaban Yesus kedua murid menegaskan bahwa mereka sanggup meminum cawan. Tetapi maksud murid-murid seperti terlihat dalam 26:33-35 merupakan suatu sikap bahwa mereka bersedia membayar harga untuk memperoleh kemuliaan kelak yang akan diberikan Yesus di sisi kiri dan kanan-Nya. Mereka memahami penderitaan Yesus yang disampaikan pada 20:17-19 hanya sebatas penderitaan dalam perjuangan untuk mencapai kesuksesan. Kekuasaan dan sukses diperoleh setelah melewati penderitaan. Ini pikiran murid-murid, bukan pikiran Yesus. Meski demikian, Yesus membenarkan bahwa murid-Nya akan meminum cawan. Apa maksudnya? Apakah kedua murid kelak akan mati martir? Hanya Yakobus yang martir sekitar tahun 44 EK (Kisah Para Rasul 12:1-2), sedang Yohanes tidak. Mungkin maksudnya menunjuk kepada kesediaan murid kelak untuk meneladani Yesus. Teladan dalam hal apa? Kasih. Mengasihi manusia berarti melayani bahkan memberi hidup. Melayani dan memberi hidup tidak lain merupakan suatu bentuk kuasa. Kuasa yang berbeda dengan kuasa dunia ini (20:25). Yesus tidak menolak kuasa dunia ini. Tetapi Yesus sedang memberi alternatif lain terhadap suatu bentuk kuasa yang dikenal manusia. Kuasa yang lebih besar yakni melayani dan memberi hidup. Yesus memberi hidup-Nya kepada semua orang, bukan ‘banyak orang’ seperti terjemahan LAI-TB. Istilah ‘polloi’ lebih bersifat inklusif (semua) ketimbang eksklusif (banyak). Terjemahan yang tepat adalah ‘untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi semua orang’.

Pertanyaan Petrus, kelihatannya sederhana. Tetapi jawaban Yesus yang panjang menyingkapkan pertanyaan Petrus merupakan pertanyaan penting. Pertanyaan Petrus menyingkapkan tiadanya kasih karena ingin memperoleh ketimbang memberi. Pertanyaan Petrus menafikan kesetaraan manusia karena ia memiliki hasrat untuk mengekploitasi manusia lainnya untuk kepentingan diri sendiri. Pertanyaan Petrus menguak sikap ingin menguasai karena ingin dilayani ketimbang melayani. Jika Petrus, seorang murid yang dekat dengan Yesus, sampai mengutarakan keinginan demikian, barangkali tidak salah jika dikatakan bahwa pada dasarnya manusia memiliki mentalitas apa yang kuperoleh dalam dirinya. Ada manusia yang berhasil mengartikulasikan hasrat tersebut bahkan menggapainya dengan berbagai cara. Tetapi lebih banyak manusia tidak memenuhinya. Mentalitas seperti itu perlu ditransformasi secara radikal. Mentalitas apa yang kuperoleh tidak sesuai dengan norma kerajaan Allah. Cara pandang Petrus demikian perlu diubah radikal. Bukan mentalitas apa yang kuperoleh melainkan mentalitas apa yang kuberi yang perlu ditumbuhkembangkan oleh setiap pengikut Yesus. Mentalitas apa yang kuberi? Mencerminkan kasih yang didasarkan pada kesadaran kesetaraan manusia dan merupakan implementasi kuasa yang melayani orang lain. Ringkasnya, konsep-konsep kasih, keadilan dan kuasa terangkum ringkas dalam sikap hidup apa yang kuberi?

Sebagai warga kerajaan Allah yang melayani di bidang medis, mulailah hari dengan pertanyaan apa yang kuberi hari ini kepada sesamaku? Cobalah melihat pasien bukan dalam kerangka pikir apa yang kuperoleh dari pasien ini?, melainkan melihatnya dengan kacamata norma kerajaan Allah, apa yang kuberi kepadanya hari ini? Dengan memiliki sikap hidup apa yang kuberi, hidup lebih bermakna dan berarti. Bukankah kasih itu berarti memberi? Dan bukankah memberi lebih berbahagia dibanding menerima?
_________________________________________________________________
"Apakah yang Aku Peroleh" oleh Pdt. Armand Barus 
Dalam Majalah Samaritan Edisi Tahun 2008

Jumat, 20 Maret 2020

Task Force Covid-19

Dalam status Bencana Nasional Covid-19 di Indonesia, Perkantas terpanggil untuk melakukan aksi penggalangan dana.

Dana ini akan digunakan untuk:
- Pembelian/pembuatan hand sanitizer
- Pembelian masker dan
- Kebutuhan logistik lainnya yang berkaitan dengan Covid-19

Kami membentuk tim Task Force untuk Covid-19 yang sudah mulai bekerja mengisi gap peran-peran yang dibutuhkan dalam surveilans kontak, memfasilitasi layanan, dukungan hygiene dan edukasi self-isolation bagi kebutuhan rekan-rekan pelayanan yang membutuhkan atau nantinya komunitas yang lebih luas dalam jangka panjang.

CP : Rudi Andika (wa.me/6285647107432), PMdN (wa.me/6287884522383)

Bantuan anda bisa dikirim melalui:
Bank BCA No. Rekening: 1063305000
a.n. Yayasan Perkantas
(Diberi angka 1 di akhir donasi misal Rp. 100.001)

Setiap dukungan sahabat sekalian akan sangat berarti. Tuhan Yesus memberkati kita sekalian.

Jumat, 14 Februari 2020

Kelelahan Spiritual

Hampir semua tenaga kesehatan tahu, apa itu kelelahan. Pekerjaan penuh tuntutan yang dijalani terus-menerus selama berjam-jam dapat menyebabkan keletihan di dalam diri kita semua. Kelelahan spiritual merupakan suatu bentuk keletihan dalam jiwa kita, dalam diri kita yang paling dalam. Keletihan spiritual ini tidak dapat ditolong dengan bekerja keras selama berjam-jam, demikian pula penyebabnya bukanlah bekerja berjam-jam. Kelelahan spiritual muncul bila kita tidak lagi percaya bahwa Kristus menyampaikan kebenaran saat Ia berkata, "Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya?”1



Menurut pengamatan saya, dalam dunia kedokteran sangat sulit mencegah kelelahan jenis ini. Hal ini, sebagian disebabkan oleh posisi dunia kedokteran dalam jiwa bangsa kita. Dengan berkembangnya Inggris menjadi negara yang makin post-Christian, masyarakat secara alami cenderung mencari-cari sumber pengharapan baru di sekitarnya. Salah satu sumber yang sering diharapkan adalah sang dokter. Pengharapan akan penyembuhan medis dalam benak masyarakat merupakan cara paling sederhana untuk mendapatkan keselamatan. Rumah sakit berubah menjadi kuil-kuil dan para dokter sebagai imam-imam dalam agama baru ini. Dalam bukunya How to be Good, Hick Hornby menggambarkan tentang seorang dokter umum bernama Katie Carr yang telah terperangkap dalam pemujaan dunia kedokteran ini. Katie Carr percaya statusnya sebagai dokter membuatnya menjadi baik. "Dengar," katanya. "Saya bukan seorang yang jahat. Saya seorang dokter. Salah satu alasan saya ingin menjadi seorang dokter adalah bahwa dengan menjadi dokter saya dapat berbuat baik, bukannya karena akan menerima penghasilan yang tinggi atau hal-hal yang mempesona lainnya. Hal-hal berikut ini terdengarnya baik bagi saya, "Saya ingin menjadi seorang dokter", "Saya sedang belajar untuk menjadi seorang dokter", "Saya seorang dokter umum yang berpraktek di sebuah klinik kecil di bagian utara kota London". Menurut saya hal ini membuat saya sebagai seorang yang baik, profesional, tampak cerdas, tidak terlalu menyolok, terhormat, dewasa, penuh perhatian dan lain sebagainya. Saya seorang yang 'baik', seorang 'dokter'.




Mudah bagi kita untuk menyenangi status yang kita dapatkan secara otomatis sehubungan dengan profesi kita dalam dunia kedokteran. Kita dimabukkan oleh ide-ide bahwa kecakapan yang kita miliki merupakan jawaban atas masalah yang ada pada masyarakat sebagaimana halnya kita diperlakukan oleh para pasien kita dalam kehidupan kita setiap hari. Namun ada suatu sinisme yang menyertai pemujaan profesi dokter seperti ini. Bila kita meletakkan suatu pengharapan yang tidak masuk akal dalam segala sesuatu hal, kita tidak akan jauh dari suatu kekecewaan yang menghancurkan dan sinisme. Dalam bukunya The End of Christendom, Malcom Muggeridge melukiskan hal ini sebagai pengharapan yang tolol dan keputusasaan yang tolol. Menurut Malcom, "Di satu pihak, sebagian kebijakan baru, penemuan baru tentu saja akan membawa perbaikan sebagaimana seharusnya: suatu bahan bakar baru, suatu obat baru, suatu pemerintahan dunia yang baru. Namun di pihak lain beberapa bencana baru secara pasti juga, akan kehancuran. Kapitalisme akan runtuh, bahan bakar akan habis, plutonium akan melumpuhkan kita. Sampah nuklir akan membunuh kita, dan lain sebagainya."




Keadaan jatuh bangun yang liar ini, persis seperti yang kita temukan dalam kitab Pengkhotbah, suatu meditasi kehidupan, sebagaimana dituliskan penulisnya sebagai "di bawah matahari". Hal ini merupakan  hidup tanpa Tuhan, atau setidaknya hidup tanpa Tuhan sebagai penggerak pengasih yang aktif dalam hidup kita. 




Dalam dua pasal pertama kitab Pengkhotbah, penulis yang menyebut dirinya "Sang Guru", menceritakan bahwa ia secara aktif menjelajahi sumber-sumber kepuasan yang potensial "di bawah matahari". Ia bersenang-senang dalam tertawa, alkohol, nafsu seksual, harta benda,.. namun hal ini tidak memuaskan. Lalu ia mengejar hikmat, yang akhirnya malah membuatnya lebih mengerti akan kesia-siaan hidup. Seperti seorang pria yang berkata kepada dr. Johnson: "Anda seorang filsuf, dr. Johnson. Saya juga telah pernah berupaya menjadi seorang filsuf dalam hidup saya, namun saya tak tahu kenapa, kegembiraan selalu membongkarnya." Terutama menurutnya, kematian membawa pukulan yang fatal terhadap pengharapan kita yang keliru. Dalam dunia kedokteran, kita mengetahui bahwa riwayat kesehatan setiap orang akan diakhiri oleh apa yang sebagian orang Amerika menyebutnya sebagai suatu negative patient outcome, yaitu kematian. Hidup dalam dunia yang demikian, dunia di mana semua orang hanya mencari kehidupan "di bawah matahari", tak dapat ditawar lagi, akan menarik kita kepada sinisme dan kelelahan spiritual yang dalam. Lalu kemudian, seperti diungkapkan oleh Pengkhotbah, hal ini mulai menjadi jelas sehingga sang Pengkhotbah tak dapat terus bertahan dengan sikap skeptisnya. Terobosan iman tak terbendung.






Iman Sang Pengkhotbah

Bagi saya, hal ini dilambangkan dalam Pengkhotbah 11:1. Di sini, sang Pengkhotbah menegaskan bahwa dunia merupakan suatu tempat membingungkan yang kacau balau. Berusaha melakukan segala sesuatu yang bernilai dalam dunia yang nyata adalah seperti menebar remah-remah roti dalam sungai. Engkau hanya melepaskannya dan kemudian remah-remah roti itu mengapung ke mana, kita tak mengetahuinya lagi. Apakah bernilai menunjukkan kasih yang sesungguhnya kepada pasien yang hanya meminum obat dan kemudian pergi? Bukankah akan lebih sedikit "harga yang dibayar" bila kita hanya bersikap profesional dengan tetap menjaga jarak? Apakah saya pernah melihat buah dari berdoa bagi pasien-pasien saya? Atau apakah semua berlalu bersama angin? 

Benar. Semua berlalu bersama angin, remah-remah roti yang tertebar ke sungai, semuanya melayang ke tempat yang tidak kita ketahui. Namun ada hasil-hasil. Kita hanya membutuhkan perspektif yang lebih jauh. Pengkhotbah berkata, kita akan memetik buah setelah beberapa waktu berselang. Kita bahkan mungkin memiliki kesempatan melihat hasilnya semasa kita hidup, namun tak ada jaminan. Tuhan Yesus sangat jelas menunjukkan bahwa upah yang utama adalah pada hari penghakiman, "Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan.”2

Hanya terkadang saja kita mendapatkan dorongan yang membesarkan hati kita untuk tetap terus maju. Saya mengenal sepasang suami istri yang pada tahun 1970-an bekerja di suatu rumah sakit di negara muslim. Belakangan ini, sang istri secara secara tidak sengaja bertemu dengan seorang lelaki muda yang baru menjadi Kristen. Lelaki muda ini menceritakan kepadanya bahwa sewaktu bayi ia pernah sakit parah dan oleh ibunya dibawa ke rumah sakit di mana suami istri ini pernah bekerja. Selanjutnya, ibu sang bayi ini selalu mengajarkannya untuk menghormati orang-orang Kristen dengan perkataannya, "Orang Kristenlah yang telah menyelamatkan hidupmu." Setelah tumbuh dewasa, ia mulai mencari-cari secara spiritual, dan akhirnya diubahkan. "Lemparkan rotimu ke air, maka engkau akan mendapatkannya kembali lama setelah itu.”3


Mengolah Tanda-Tanda Iman
Kita perlu mengolah tanda-tanda iman seperti yang disebutkan dalam Pengkhotbah 11:2-6. Hal pertama adalah kemurahan hati, atau kebebasan. Mengetahui bahwa hidup tak dapat di prediksi seharusnyalah tidak melumpuhkan kita. Tak satupun dari kita yang mengetahui siapakah diantara pasien-pasien kita yang akan merespon kasih Kristiani dan perhatian kita, dan doa-doa yang akan dijawab "ya" oleh Tuhan. Oleh karenanya kita perlu dengan yakin membiarkan Tuhan menyortir apa yang akan yang akan Ia lakukan dengan pemberianNya. 

Inilah salah satu alasan mengapa saya bukanlah penggemar dari hidup yang berfokus penuh. Sangatlah umum bagi para dokter Kristen untuk merasa bahwa profesi medik sangat penuh tuntutan dengan begitu banyak kesempatan, sehingga pelayanan mereka harus terfokus pada dunia tersebut, Bagi saya tampaknya suatu fokus yang tak seharusnya pada suatu bidang dapat memimpin kepada suatu kesembronoan, ketidakbijaksanaan, atau bahkan kurangnya kepekaan akan kesempatan di bidang-bidang lain.

Sang Pengkhotbah berkata bahwa engkau tak tahu pelayanan mana yang akan menghasilkan buah, oleh karenanya lebarkanlah pelayananmu. Hal ini dapat berupa mengajar di sekolah minggu, terlibat dalam kelompok kecil pemahaman alkitab, atau berteman dengan orang yang tersingkirkan. Tuhan Yesus melakukan keseimbangan ini dengan benar. Ia memiliki fokus yang "mengarahkan wajahNya ke Yerusalem" akan tetapi juga akan berpaling menolong orang-orang, kadang-kadang untuk melengkapi kegusaran murid-muridnya yang penuh perhitungan.


Berikanlah Bahagian Kepada Tujuh, Bahkan Kepada Delapan Orang4
Karakteristik  kedua dari iman serupa Pengkhotbah adalah keberanian. Di sini Pengkhotbah menceritakan kepada kita bahwa sekali sesuatu telah terjadi, hal itu sudah terjadi. Engkau melihat awan-awan hujan yang siap menurunkan muatannya, hal itu berarti akan turun hujan. Engkau melihat sebuah pohon jatuh ke suatu arah, maka pohon itu akan terbaring di situ. Hidup tidak menawarkan pengulangan kembali.

Mungkin engkau mengetahui bahwa ada aspek-aspek kehidupanmu yang memerlukan perhatian. Mungkin itu adalah keterlibatan di gereja, panggilan untuk pelayanan lainnya, untuk mengembalikan kehidupan doamu sebagaimana seharusnya, atau untuk menjadi lebih terbuka akan imanmu di tempat kerja.

Engkau telah menemukan Kristus, janganlah menyia-nyiakan hidupmu seolah-olah tak ada perubahan yang ditimbulkannya. Beberapa tahun lalu, Os Guinness menuliskan sebuah buku yang sepenuhnya saya akan rekomendasikan. Judulnya adalah The Call. Sub-judul buku ini meringkaskan pangglan Kristus dalam hidup kita:
          Segala sesuatu sebagaimana adanya kita.
          Segala sesuatu yang kita miliki.
          Segala sesuatu yang kita lakukan.
          Jangan menjadi lelah. Jangan menjadi sinis. Ikutlah Kristus- hal ini bernilai.


Catatan:
1. Matius 16:26. Lihat juga Markus 8:28 dan Lumas 9:25.
2. Lihat Matius 25:31-40.
3. Pengkhotbah 11:1.
4. Pengkhotbah 11:2-6.
__________________________________________________________________

Ditulis oleh Peter Commont, Pendeta di Magalen Road Church, Oxford - Berdasarkan pembicaraan yang diberikan dalam studi CMF di Oxford, November 2003. Diterjemahkan oleh dr. Maria F. Ham, Sp.PA.
Dalam Majalah Samaritan No. 3/Juli-September 2005.

Kamis, 30 Januari 2020

Saat Memilih dan Mengejar Karier

Bidang kedokteran merupakan profesi dengan jamnan gaji dan masa depan yang menjanjikan, yang apabila kita tidak bijaksana dalam menjalaninya sebagai seorang Kristen akan dapat menjadikan profesi kita itu sebagai berhala. Sesungguhnya bidang kedokteran merupakan kesempatan indah untuk melayani sesama dalam kehidupan, bisa merasakan melalui tulusnya para pasien dalam memberikan kepercayaan dan keyakinan kepada kita. 

Sehubungan dengan itu, marilah kita memikirkan beberapa pertanyaan dasar yang sering ditanyakan oleh para mahasiswa FK ketika mereka diperhadapkan kepada sejumlah peluang dan tantangan karier di bidang medis.



Haruskah Seorang Dokter atau Mahasiswa FK Berambisi?

Istilah "ambisi" seringkali digunakan untuk menunjukan sikap atau perilaku yang tidak baik atau negatif, yaitu untuk orang yang melakukan seuatu pekerjaan yang hasilnya hanya untuk kepentingan diri sendiri; sikap keegoisan. Namun demikian, "ambisi" juga tidak selalu memiliki artian yang negatif.

Dalam kehidupan seorang Kristen bahkan diharuskan memiliki ambisi di dalam mencari kehendak Allah dan membangun kerajaan-Nya di muka bumi. Rasul Paulus menjadi teladan mengenai hal ini. Ia memiliki ambisi yang luar biaa, yang diibaratkannya sebagai semangat seorang atlit di dalam memenangkan suatu pertandingan olahraga. Rasul Paulus semakin memperjelas konsepnya dengan mengatakan bahwa ambisinya tidak didasarkan pada perkara dunia namun pada perkara yang di atas (Kol 3:1-2). Paulus hanya mengarahkan pada satu tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus (Fil 3:14). Rasul Paulus menyebutkan kepentingan diri sendiri sebagai perbuatan daging (Gal 5:20) dan karenanya memperingatkan kita untuk tidak mencari "kepentingan sendiri atau pujian yang sia-sia" (Fil 2:3)

Dalam realitas hidup kita harus ingat bahwa Allah adalah Alpha dan Omega, yang Awal dan yang Akhir. Itulah yang akan selalu menjadi prioritas utama di dalam kehidupan kita. 


Bolehkah Kita Berkeinginan Mencapai Puncak Karier Tertinggi?

Segalanya tergantung pada apa arti "puncak karier" buat kita! Hierarki Allah berbeda dengan hierarkinya para profesional. Sebagai seorang Kristen kita meyakini bahwa puncak karier adalah posisi yang telah ditentukan Allah bagi kita, di mana kita memberikan talenta dan bakat terbaik untuk melayani Allah di tempat itu. Dalam posisi karir yang tinggi belum tentu punya kesempatan melayani lebih banyak. Buktinya klinik FK mahasiswa bisa lebih dekat menjangkau semua tingkatan pasien ketimbang dokter praktek yang profesor; atau misalnya pada beberapa cabang medis seperti Patholigy dokternya tidak melayani pasien secara langsung. Dan juga memang benar kalau pada beberapa jabatan posisi yang lebih tinggi akan memberikan lebih banyak kesempatan bagi pejabatnya untuk membuat dan memengaruhi kebijakan kesehatan masyarakat luas, sementara posisi yang lebih rendah hanya memiliki pengaruh yang lebih terbatas dan tidak sekaligus tapi bertahap satu demi satu.

Ambisi dan melayani bukanlah merupakan dua hal yang bertolak belakang, yang terpenting adalah suatu sikap yang benar terhadap karier yang kita miliki, sebagai suatu yang utuh, dengan iman yang sungguh-sungguh. Alkitab meyakinkan kita bahwa Allah akan menyertai dan meluruskan jalanmu, oleh karena itu percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu maka Ia akan meluruskan jalanmu" (Ams 3:5-6)


Bagaimana Kita Memahami Arti Kesuksesan?

Tergantung juga pada standar sukses yang kita buat; apakah uang, ketenaran, daftar tunggu pasien di ruangan kita, raio antara yang berterima kasih dan yang komplain?

Kriteria Yesus tentang sukses sangat paradoks: "Barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu" (Mat 20:27). Bahkan seorang pemimpin harus menjadi  hamba dari yang dipimpinnya. Namun apakah kriteria pemimpin yang Tuhan Yesus berikan masih realistik di jaman modern seperti sekarang? Kita tahu bahwa antara jaman Yesus dan sekarang telah terjadi banyak perubahan yang revolusioner.

"Sebagai seorang Kristen kita meyakini bahwa puncak karier adalah posisi yang ditentukan Allah bagi kita, di mana kita memberikan talenta dan bakat terbaik untuk melayani Allah di tempat itu."

Mengacu pada kriteria Yesus dan kebutuhan kesuksesan pada saat sekarang, lantas kita berkeinginan untuk dapat melayani pasien, pekerjaan kita (teman kerja), serta tempat kerja kita (RS/Klinik), dalam saat yang sama sekaligus. Bukan sikap demikian yang diinginkan dan bukan pula berarti bahwa dalam menjalankan tugas, kita melebihi batas tanggung jawab yang diberikan kepada kita, termasuk waktu kerja yang melewati batas, namun yang dituntut adalah sikap pikir kita, yaitu tidak memaksa kehendak untuk mendapatkan keuntungan pribadi baik itu berupa uang atau kesenangan pribadi. Jadi misalnya, dalam hal melayani rekan sejawat, bisa dalam artian memintanya untuk menggantikan tugas Anda bilamana Anda harus meninggalkan tempat tugas Anda karena orang lain sedang membutuhkan pertolongan Anda.


Bagaimana Mengetahui Bidang Medis yang Sesuai?

Kebanyakan mahasiswa FK dengan proses penyeleksian yang ada, sebenarnya adalah orang-orang yang memiliki banyak talenta (multi-talenta) dan juga banyak pengalaman yang sudah mereka jalani di berbagai cabang medis. Kebanyakan dari kita memiliki dua atau lebih spesialisasi yang tidak sesuai dan jika memang demikian, orang Amerika menyebutnya "finger negative" dan Anda tidak diizinkan untuk melakukan bedah!

Gaya hidup, gereja, dan keluarga merupakan pertimbangan yang paling penting di dalam seseorang memilih bidang yang sesuai. Hampir seluruh mahasiswa membutuhkan bantuan dari dosen dan teman, baik di kampus maupun di gereja, untuk menolong mereka mencapai penilaian yang realistik mengenai talenta dan bakat mereka. Sayangnya, kurikulum mata kuliah yang ada tersusun sedemikian rupa sehingga mengurangi manfaat pertemuan antara dosen dan mahasiswa secara pribadi. Para mahasiswa berpindah dengan sangat cepat pada berbagai RS berbeda sehingga dosen juga mengalami kesulitan memberikan penilaian tentang bakat mereka masing-masing. Jelaslah bahwa disini masalah yang harus dihadapi! Bagaimanapun, sementara itu, saran bagi para mahasiswa adalah dengan berusaha mencari orang yang benar-benar mengetahui kelebihan dan kekuranganmu untuk memberikan nasehat.

Sebuah buku panduan sekular yang sangat baik mengenai karier di bidang medis adalah "So You Want to be a Brain Surgeon?" Buku ini memberikan saran praktis tentang kualitas pribadi yang dibutuhkan oleh masing-masing bidang spesialisasi, dan juga catatan-catatan yang dibuatnya dengan sekilas yang membandingkan antara berbagai pekerjaan. Pada akhirnya, kita semua harus senantiasa berdoa dan mempercayakan hidup kita dalam tangan Tuhan, karena bagi Dialah segala yang kita miliki.


Bagaimana dengan Kegagalan?

Ada orang yang melihat kegagalan dalam ujian atau mendapat pekerjaan sebagai pertanda yang jelas dari Tuhan bahwa Tuhan menginginkan kita untuk merubah arah jalan kehidupan kita. Pemikiran demikian belum tentu benar. Ada banyak alasan seseorang mengalami kegagalan, di antaranya karena hasil yang dicapainya tidak sesuai harapan, kegagalan juga merupakan kesempatan untuk mengevaluasi tugas pekerjaan kita.

Memang tidak biasa bagi seseorang untuk gagal pada ujian akhir kuliah di kesempatan pertamanya. Namun bagaimanapun hal itu juga merupakan kesempatan pertamanya. Kesempatan untuk menilai kembali motivasi belajar kita, membangun rasa percaya diri, dan juga rasa simpati kita terhadap orang lain yang mengalami hal serupa. Mungkin baik buat kita untuk melakukan re-organisasi skala prioritas-prioritas yang kita buat dalam kerangka konsep sukses yang baru. Itu penting karena mereka yang bertitel profesor pun juga banyak yang mengalami kegagalan dalam ujian dan tidak mendapatkan pekerjaan untuk lamaran yang mereka ajukan.

Menghadapi kegagalan, kita dapat menaruh harapan dan percaya kita ke dalam tangan Tuhan yang telah mempunyai rencana atas hidup kita. Ia memberikan kepada kita harapan dan masa depan (Yer 29:11). Jika kita tetap mengikuti-Nya, maka Ia berjanji akan menolong dan membawa kita ke tempat yang disediakan-Nya (Maz 37:3-6).


Bagaimana Membagi Waktu antara Karier, Rumah, dan Gereja?

Di dalam kehidupan, kita sering diperhadapkan pada pilihan, prioritas, dan pengaturan berbagai aktivitas rutin. Kontradiktif dengan harapan masyarakat ternyata tidak ada suatu formula yang ajaib, atau pun satu ayat di dalam Alkitab yang memberikan jawaban yang mudah atas (dan menghilangkan) rasa stress yang kita hadapi dalam tugas karier kita.

Bahkan beberapa bidang spesialisasi tertentu menuntut banyak waktu, energi, serta ketegangan saraf, yang mungkin akan mempengaruhi tugas dan tanggung jawab kita di rumah.

Anda harus memiliki beberapa rancangan dan membuat berbagai alternatif yang memungkinkan dari berbagai aktivitas yang sedang Anda kerjakan pada saat sekarang dan membahasnya bersama dengan suami/istri Anda dan apabila perlu dengan anggota keluarga lainnya.

Mungkin tepat apabila seorang dokter hanya bekerja di beberapa tempat sehingga pada sorenya ia punya waktu dalam aktivitas gereja atau pelayanan lainnya. Hal tersebut sama nilainya dengan orang yang dengan penuh iman mempelopori tugas pelayanan kedokteran di negara-negara berkembang, yang membutuhkan pengorbanan yang amat sangat dari sesuatu yang paling dekat dan dalam dengan dirinya.


Pengorbanan bagaimanakah yang seharusnya untuk mendapatkan masa depan yang sukses di bidang medis? Batasan apakah yang harus saya taruh di dalam ambisi karier?

Dua pertanyaan ini seperti dua sisi pada satu mata uang logam. Segala macam pekerjaan dan prestasi yang bermanfaat selalu mengandung pengorbanan yang harus dikalkulasikan dan dihitung pertama kali seperti yang Tuhan Yesus rekomendasikan kepada mereka yang berkeinginan mengikut-Nya (Luk 14:28-33). Akan tetapi pengorbanan yang secara sengaja kita berikan tidak sama dengan mengabaikan tanggung jawab kita secara tidak sengaja pada tanggung jawab kita yang lain.

Kedokteran dapat menjadi sangat menggairahkan terutama pada saat kita memperoleh penghasilan keuangan yang sangat besar dari praktek sendiri. Akan tetapi batasan perlu diberikan dalam hal waktu dan energi, untuk dapat melakukan aktivitas lain. Kita perlu juga memberikan batasan waktu dan energi kita untuk tugas pelayanan Kristen tertentu, untuk keluarga, dan rekreasi untuk melepaskan diri dari tekanan pekerjaan.

Saya memberikan batasan pribadi saya dengan tidak merencanakan aktivitas akademik atau rumah sakit pada hari Minggu, kecuali untuk alasan darurat.


Kesimpulan

Kesibukan yang tiada henti dimaksudkan sebagai "suatu aktivitas rutin yang berkelanjutan dalam kompetisi yang berlebihan". Gambaran demikian tidak seharusnya terjadi dalam karier medis orang Kristen. Kompetisi dan aktivitas yang berlebihan akan selalu nyata di dalam kehidupan, akan tetapi karier orang Kristen ditandai dengan iman yang tenang dalam rencana Allah dan rasa percaya diri bahwa Anda ada pada tempat yang benar dalam menyalurkan bakat khusus dalam pelayanan Allah. Akhirnya, Anda tidak harus menunggu sampai Anda menjadi seorang praktisioner atau seorang konsultan yang mapan baru melayani tugas pelayanan Allah di kedokteran; sebagai seorang mahasiswa FK Anda punya kesempatan yang mungkin tidak akan pernah terulang kembali. Mahasiswa FK harus meluangkan banyak waktu dengan pasien-pasien, bersaksi, dan melayani, sebanyak mungkin Anda menjadi "garam dan terang" di Fakultas Kedokteran.


______________________________________________________________
Oleh: Alan Johnson/Nucleus, CMF Student  Journal, Career Choices, July 2000/Teguh W.
Dalam Majalah Samaritan No.4/November 2000 - Januari 2001.

Jumat, 13 Desember 2019

Kenikmatan Hidup Anugerah Allah (Renungan Pkh. 5:8 - 6:12)

Apa salahnya menjadi kaya? Sulit dijawab. Seharusnya tidak ada masalah, tetapi disilusi tentang kekayaan dan apa yang dapat dilakukan dengan uang, membuat kekayaan kadang menitis menjadi berhala yang kejam yang mengutuk para penyembahnya dengan ketamakan dan kekosongan hidup sekaligus. Mata tidak pernah puas dan mulut enggan berkata cukup. Kelicikan tanpa hati nurani mendehumanisasikan diri sendiri sampai ke taraf mirip binatang yang memangsa sesamanya demi sebuah ambisi. Mata melirik ke kanan kiri, melihat tiap peluang menghasilkan uang. Lipatkan uang, uang memancing uang. Kekayaan meroket sampai ke taraf daya beli tak terbatas, mampu memiliki apapun yang diinginkan. Lalu yang menyusul adalah seks dan citra, di mana perzinahan dan keangkuhan melangsungkan perkawinan silang sambil mengecap arak kebinasaan. Dan seperti dikatakan Malcolm Muggeridge, orang-orang tak ubahnya seperti kawanan babi dari Gadara yang sambil lari-lari kecil dan dorong-dorongan kegirangan kian lama kian mendekat ke bibir tebing maut, yang menjulang di atas laut. 


***


Ada sebuah cerita tentang seorang konglomerat. Pada suatu sore setelah melewati satu minggu yang sangat sibuk, di bawah mobil Mercedes yang mewah dan sejuk, ia dibawa pulang supir dalam kondisi lelah secara jasmani dan mental. Duduk setengah tidur sambil mengurut kepalanya yang berat, mobil melaju melewati sebuah daerah pegunungan. Hijau sawah dan lebat hutan tak menarik perhatiannya. Pikiran berkecamuk dengan harga saham, investasi dan lobi dagang. Betapa minggu yang berat.

Mendekat sebuah perkampungan, mobil melambatkan lajunya. Dan akhirnya berhenti di tengah jalan. "Ada apa?" tanya si konglomerat pada supir. Lalu supir tersebut menunjuk ke depan di mana segerombolah babi seang melintasi jalan. Ia melihat ke depan, dan segera ingin berbaring kembali. Tetapi, tunggu dulu. Ada yang menarik perhatiannya. Ia melihat ke depan kembali dan semakin terheran. Ternyata segerombolan babi itu tidak digiring dari belakang oleh banyak orang. Tidak juga diikat dengan tali. Tetapi hanya seorang pemuda kurus berjalan di depan dan inilah anehnya. Semua babi itu dengan perlahan dan teratur mengikuti dari belakang dengan tertib. Padahal babi adalah binatang yang paling susah diatur. Selalu menentang dan berontak.

Karena tertarik konglomerat itu keluar dari mobilnya, untuk melihat bagaimana keanehan itu bisa terjadi. Begitu mendekat ia pun mengerti. Ternyata pemuda kurus tersebut membawa sebuah keranjang berisi daun kacang dan kacang busuk. Dan setiap kali ia melemparkan kacangnya ke belakang maka babi-babi itu mengikut ke mana saja kacang itu dilemparkan untuk memungut dan menikmati makanan ringan tersebut dengan muncungnya.

Tersenyum dan menggeleng-geleng kepala, ia mengerti bagaimana keanehan itu bisa terjadi. Sedikit berteriak, ia menyapa anak muda itu, "Banyak ya babinya..!!"

Menoleh ke samping, anak muda itu menjawab, "Lumayan pak..!!"

"Mau dibawa kemana babi ini..?" tanyanya iseng, sambil menutup hidung.

"Kesana pak, rumah potong babi...!" sahutnya sambil tersenyum.

"Apa..? Rumah potong...?" Si konglomerat termenung, sementara gerombolan babi itu digiring ke rumah potong. Lalu ia berjalan perlahan dan masuk ke mobilnya. Tetapi ia diam saja, sampai supir bingung dan bertanya, "gimana pak, kita jalan?"

Ditatapnya supirnya dan ia berkata dengan sedih, "Saya seperti babi itu. Digiring dan dibawa ke rumah potong untuk disembelih..."


***


Uang tidak dapat membeli segalanya. Kita dapat membeli makanan, tetapi tidak membeli selera makan. Kita dapat membeli spring-bed, tetapi tidak dapat membeli tidur yang nyenyak. Kita dapat membeli entertainment, tetapi tidak dapat membeli sukacita. Seperti kata pengkhotbah, hidup yang nikmat adalah karunia Allah (Pkh 5:17-19). Seorang buruh kasar sering makan lebih lahap dari pada majikannya. Walaupun makannya jauh lebih sederhana. Sementara sang majikan memandang dengan campuran bosan dan sedikit muak sambil menggosok-gosok perut gembulnya memandang meja penuh hidangan berminyak. Seorang petani tidur dengan nyenyak beralaskan tikar berselimut sarung, sementara banyak konglomerat tidur gelisah di atas tilam magnetik yang katanya anti-stres. Inilah yang dikatakan pengkhotbah dengan kesia-siaan dan usaha menjaring angin (Pkh 5:9,15).

Kehidupan tidak bisa dinilai dengan penampilan. Sering rumput tetangga kelihatn lebih hijau. Apalagi agen propaganda hedonisme begitu ulung menawarkan produk-produk yang sarat tipu daya. Padahal di kedalamannya ada kekosongan yang hanya menunggu untuk ditelanjangi sang waktu. Lihat sejenak kaum selebritis, ekonomi, hukum atau politik. Tampil di layar kaca dengan senyum dan tawa. Ditambah penampilan selangit, dengan muka licin dan tubuh semampai. Kerlap-kerlip dunia yang membuat mata silau dan melemparkan angan ke alam mimpi. Betapa menggiurkan untuk menyimpulkan bahwa mereka memiliki segalanya, mereka bahagia dan inilah hidup. Benarkah demikian? Benarkah mereka bahagia? Benarkah mereka menikmati hidup yang mereka jalani? Benarkah mereka tidak pernah menyesali apa yang mereka miliki? Benarkah mereka puas dengan apa yang mereka punya?

Tetapi kenapa merekalah justru golongan orang yang sering kawin-cerai? Mengapa merekalah yang sering terlibat dengan narkotika dan obat-obatan? Kok, mereka juga yang suka mengadakan pesta pora dan kehidupan seks yang liar? Bukankah ini menunjukan, justru mereka sangat tidak puas dengan hidup mereka? Dalam semerbak dan warna-warni, yang ada hanyalah sebuah dataran kosong yang tak berisi. Datar dan membosankan. Mungkinkah di kedalaman hati yang terdalam mereka sebenarnya cemburu pada anak gembala kecil yang bersahabat dengan alam, dan pulang ke rumah, ke pangkuan ibunya dengan hati bebas ceria penuh tawa dan gelak canda?

Saya mengenal beberapa misionaris. Yang hidup sederhana dan tinggal jauh dari kampung halaman. Mengabaikan kesempatan berkarir bagi diri sendiri dan menjawab panggilan bagi suatu misi. Mereka hidup gembira dan bebas lepas. Mereka tidak mengejar kebahagiaan, tetapi mereka bahagia. Mereka tidak mengejar kekayaan, tetapi mereka "kaya". Mereka tidak mengejar popularitas, tetapi mereka dikenal sampai ke alam sorga. Pun saya membaca tentang Bunda Teresa yang hartanya hanya dua pasang pakaian, sepasang sepatu, sebuah piring, sebuah cangkir dan sebuah sendok, namun dalam bukunya The Heart of Joy saya sulit menemukan ungkapan sukacita yang menandingi ungkapan sukacita yang dimilikinya. Dalam hal ini berlaku, yang mencari tidak mendapatkan, tetapi yang tidak mencari menemukan. Pada akhirnya kenikmatan hidup adalah anugerah Allah, seperti hidup itu sendiri adalah suatu anugerah.


***


Seluruh Alkitab tidak menyalahkan kekayaan. Saya pun setuju, tidak ada salahnya menjadi kaya. Yang salah adalah menggunakan kekayaan untuk diri sendiri. Tidak berdosa menjadi orang kaya, sama seperti tidak berdosa menjadi orang miskin. John Wesley pernah berkata, "Hai para pengusaha Kristen, cari uang sebanyak-banyaknya, dan persembahkan sebanyak-banyaknya bagi Tuhan". Memang dalam konsep kristiani memiliki uang berarti menjadi pengelola, seperti yang diindikasikan Perumpamaan Tentang Talenta. Memiliki untuk memberi adalah konsep dasar Kristiani tentang kekayaan.

"Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya" (Pkh 5:9). Ke padang kenikmatan dan kepuasan. Ke dalam kehidupan yang penuh makna dan kedalaman. Ke sanalah Allah menuntun kita. Dan itu berarti hidup sesuai panggilan. Kehidupan kemuridan yang dipanggil untuk taat, dipanggil dalam kesederhanaan bahkan dipanggil untuk menderita itulah jalan menuju kehidupan yang nikmat dan bahagia. Sesungguhnya padang hijau kelimpahan bukan dibeli dengan harta, uang dan kekayaan tetapi anugerah yang diberikan kepada mereka yang hidup dalam pengabdian, pengorbanan dan penderitaan. Terpujilah Tuhan!
_____________________________________________________________
Oleh Denni Boy Saragih Dalam Majalah Samaritan Edisi Tahun 2001.

Kamis, 05 Desember 2019

Kebutuhan Mahadasariah Manusia di Mata Medis Kristen



Dalam menekuni profesinya di bidang kedokteran, yang senantiasa mengantarnya kepada perjumpaan-perjumpaan dengan manusia-manusia yang membutuhkan pertolongan medis, seorang dokter Kristen membutuhkan insight dari Allah. Pengertian yang jelas, jernih dan dalam tentang sesuatu, khususnya tentang kebutuhan mahadasariah dari manusia-manusia yang dihadapinya. Hanya dengan memiliki insight dari Allah perjumpaan-perjumpaan tersebut dapat berubah menjadi lebih daripada sekedar pelayanan sosial, apalagi bisnis komersial, tetapi jauh lebih mulia, yaitu pelayanan yang bersifat Injili. Pelayanan yang didorong, dirembesi dan dinafasi oleh semangat memberitakan kabar baik yang menyelamatkan.


Insight Ilahi Kondisi Mahadasariah Manusia
Ada beberapa kata kerja untuk "melihat" dalam bahasa Yunani. Tiga di antaranya adalah "blepo", "horao" dan "eidon". Kata yang pertama, blepo, biasanya digunakan untuk menyatakan kemampuan melihat sebagai lawan dari kebutaan jasmani. Melek sebagai lawan dari merem.1 Kedua kata lainnya, horao dan eidon memiliki cakupan arti yang lebih luas. Kata Ibraninya adalah "ra'ah". Keduanya dapat berarti "melihat", "memperhatikan" atau “mengerti”.2 Dalam PB, khususnya dalam Kitab-kitab Injil, aktivitas melihat seringkali dihubungkan dengan aktivitas mendengar; keduanya dilihat sebagai keseluruhan aktivitas untuk memahami dan mengerti (mis. Mrk 4:12; Mat 13:14-15; Kis 28:26-27; Rm 11:8).3

Berbicara tentang insight berarti berbicara tentang pengertian yang jelas, jernih dan dalam tentang sesuatu. A clear understanding. Sesuatu di sini secara khusus adalah sebuah kondisi atau kebutuhan. Bukan hanya di masa kini, tetapi juga di masa yang akan datang. Manusia yang memiliki insight adalah manusia yang memiliki pengertian atau kesadaran yang jelas, jernih dan dalam tentang sebuah kondisi atau kebutuhan mahadasariah baik di masa kini maupun di masa yang akan datang.


"Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala" (Mat 9:36)


Matius 9:36 mencatat pengertian yang menakjubkan dari kata "melihat". "Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala". Disini kita berjumpa dengan kata "eidon", artinya melihat, memperhatikan dan mengerti.

Saya yakin bahwa bukan cuma Yesus yang matanya melek pada saat itu. Saya juga yakin bahwa bukan cuma Yesus yang melihat orang banyak di kota-kota dan di desa-desa di bumi Galilea. Banyak yang melek. Banyak yang melihat. Tetapi saya juga yakin bahwa tidak satupun dari semua orang yang melek dan melihat orang banyak itu mengalami perasaan luar biasa seperti yang dialami oleh manusia Yesus. "Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan". Hal yang serupa kita jumpai dalam bagian-bagian lain -- 14:14: "Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka ..."; 15:32: "Lalu Yesus memanggul murid-murid-Nya dan berkata: 'Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak itu"; 20:34: "Maka tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan, lalu Ia menjamah mereka ...."

"Belas kasihan". Perasaan itu yang bangkit dalam diri Yesus sementara melihat orang banyak. Dan belas kasihan yang dimaksud bukanlah sembarang belas kasihan. Di sini penulis Injil menggunakan katya "splagchnizomai". Kata ini memiliki nuansa dramatis yang sangat kuat untuk menunjukan perasaan kasihan yang mendalam.4 Kata bendanya "splagchnon", digunakan secara harafiah untuk menunjuk kepada organ-organ dalam tubuh, seperti hati, usus, ginjal, dan sebagainya. Kata lainnya adalah jeroan. Organ-organ dalam alias jeroan itu secara kolektif dipandang sebagai tempat perasaan. Lubuk hati. Splagchnon merupakan kata Yunani yang paling kuat untuk perasaan kasihan.5

Dengan menggunakan kata ini, penulis Injil mengajak kita untuk menyelami perasaan Tuhan kita sementara melihat orang banyak itu. Hati-Nya iba, bahkan pedih seperti teriris-iris. Perasaannya sedih, bahkan perih seperti terkoyak-koyak. "Jeroan"-Nya bergetar bahkan berdetak kencang seperti mau menangis dan menjerit! Mengapa bisa demikian? Mengapa cuma Yesus yang "urat nadi" kasihannya berdenyut kencang sementara melihat orang banyak itu? Karena semua orang hanya melihat asal melihat. Mereka tidak pernah sungguh-sungguh memperhatikan dan menyadari apa yang sebenarnya sedang berlangsung di sekeliling mereka. Apa yang mereka pikirkan hanyalah diri sendiri dengan seabreg kepentingan dan kebutuhannya. Mata mereka benar-benar dibuka hanya untuk urusan mereka sendiri. Seolah-olah bola mata mereka bertuliskan "for my own business only". "Hanya untuk urusanku sendiri". Karena itu mereka tidak pernah melek untuk melihat kondisi dan kebutuhan orang lain. 

Yesus lain. Dia benar-benar melek bagi sesamanya manusia. Dia melihat kondisi lahiriah mereka. Mata-Nya menatap penderitaan mereka. Sakit penyakit yang memerosotkan kondisi lahiriah mereka. Kebutaan yang menggelapkan pandangan mereka untuk menyaksikan keindahan alam raya. Ketulian dan kebisuan mereka yang mengasingkan mereka dari dunia pergaulan yang memutlakkan dan mengagungkan suara dan pendengaran. Kusta yang menggerogoti jasmani mereka dan yang menyingkirkan mereka secara kejam dari keluarga dan saudara-saudara mereka. Dia juga melihat kemiskinan mereka yang membuat mereka hanya bisa gigit jari sementara menyaksikan orang-orang berduit berjalan dengan jubah maha indah dan kepala menengadah ke atas di depan mereka tanpa peduli kepada mereka. Bahkan tanpa menoleh kepada mereka barang sekejab pun.

Yesus melihat semuanya itu. Dan di dalam hatinya berkecamuk perasaan kasihan yang mendalam karena semuanya itu. Dia mengerti secara jelas, jernih dan dalam kebutuhan dasariah mereka, yaitu kesembuhan lahiriah dari segala penyakit, cacat dan kelemahan mereka. Karena itu Dia memberikan diri-Nya siang malam dan tanpa kenal istirahat untuk melayani mereka. Kitab Suci mencatat Dia "melenyapkan segala penyakit dan kelemahan" mereka (ay. 35). Dia benar-benar mempedulikan kondisi lahiriah mereka, dan benar-benar memberikan diri-Nya untuk melayani kebutuhan mereka akan kesembuhan lahiriah.

Tetapi Yesus bukan cuma melihat semuanya itu. Dan bukan cuma semuanya itu, bahkan bukan terutama semuanya itu yang membuat "jeroan"-Nya bergetar dengan sangat kuat. Yang Yesus lihat bukan cuma kesakitan dan kemiskinan mereka yang perlu segera diobati. Matanya menembusi segala kondisi lahiriah yang sangat menyedihkan itu dan melihat sampai kepada kondisi yang paling dalam, dalam diri manusia : Kondisi batiniah. Penglihatan-Nya yang mahatembus itu menatap kebutuhan manusia yang paling hakiki. "Mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala," kata penulis Injil. Terjemahan lainnya adalah: "Mereka telah dibuat lelah dan telah ditelantarkan seperti domba yang tidak bergembala." Terjemahan harafiahnya sangat mengerikan: "Mereka telah dikoyakan dan telah dicampakan seperti domba yang tidak bergembala". Ini merupakan pernyataan metaforis tentang kondisi umat Allah yang telah menjadi korban kejahatan para pemimpin mereka. Ibarat kawanan domba yang tidak bergembala, mereka tidak dipelihara dan tidak dilindungi oleh pihak yang seharusnya memelihara dan melindungi mereka. Akibatnya mereka tersesat, lelah, sengsara dan akhirnya mati kelaparan atau menjadi mangsa binatang buas.

Melalui pernyataan metaforis tentang kondisi umat ini, penulis Injil pertama mengingatkan kita kepada kecaman ilahi yang keras bagi gembala-gembala Israel yang jahat dalam Yehezkiel 34:2-6: Celakalah gembala-gembala Israel, yang menggembalakan dirinya sendiri! Bukankah domba-domba yang seharusnya digembalakan oleh gembala-gembala itu? Kamu menikmati susunya, dari bulunya kamu buat pakaian, yang gemuk kamu sembelih, tetapi domba-domba  itu sendiri tidak kamu gembalakan. Yang lemah tidak kamu kuatkan, yang sakit tidak kamu obati, yang luka tidak kamu balut, yang tersesat tidak kamu bawa pulang, yang hilang tidak kamu cari, melainkan kamu injak-injak mereka dengan kekerasan dan kekejaman. Dengan demikian mereka berserak, oleh karena gembala  tidak ada, dan mereka menjadi makanan bagi segala binatang  di hutan. Domba-domba-Ku berserak dan tersesat di semua gunung dan di semua bukit  yang tinggi; ya, di seluruh tanah itu domba-domba-Ku berserak, tanpa seorangpun yang memperhatikan atau yang mencarinya.


Yang menjadi kebutuhan dasariah manusia adalah kesehatan. Tetapi yang merupakan kebutuhan mahadasariah manusia adalah Injil, kabar baik tentang keselamatan yang Tuhan Yesus telah karyakan dan yang Allah Bapa telah sediakan!



Umat Allah membutuhkan pemimpin untuk melindungi, memelihara dan menuntun mereka di jalan yang benar. Allah yang mahabaik mendengar seruan umat kesayangan-Nya. Dia memberikan pemimpin-pemimpin kepada mereka. Nabi, imam dan raja dibangkitkan-Nya di sepanjang sejarah. Tetapi pada kenyataannya tidak semua pemimpin setia kepada panggilan ilahi mereka. Banyak di antara mereka yang tidak memperdulikan umat, bahkan memanfaatkan posisi mereka untuk memanfaatkan dan menindas umat demi kepentingan dan keuntungan sendiri. Lebih daripada itu, ternyata kejahatan mereka menular secara cepat pada diri umat. Karena dosa mereka, umat menjadi umat yang berdosa. Umat bukan lagi cuma korban kejahatan, tetapi sekaligus pelaku kejahatan. Dengan demikian semua orang, besar dan kecil, tua dan muda, raja, nabi, imam dan rakyat jelata, menjadi pelaku kejahatan. Ibarat domba yang tidak bergembala, umat tersesat dan menuju kebinasaan, "sebab upah dosa adalah maut" (Rm 6:23). Itulah yang terjadi di sepanjang sejarah dunia sampai dengan saat ini. Bumi penuh sesak dengan manusia-manusia yang sedang menuju kebinasaan!

Sedang menuju kebinasaan. Itulah kondisi mahadasariah dari setiap manusia. Pengertian yang jelas, jernih dan dalam tentang kenyataan yang maha menyedihkan inilah yang terutama membuat perasaan kasihan yang mendalam bangkit dalam hati Yesus. Pengertian yang sama seharusnya dimiliki orang-orang yang dipanggil oleh Allah untuk berkarya di bidang kedokteran. Melek lah seperti Yesus melek!

Dunia ini penuh sesak dengan manusia-manusia yang sedang mencari-cari kepuasan hidup. Dan dunia dengan segala filsafatnya yang kontra Allah senantiasa dan dengan gencar menawarkan kepada mereka kepuasan hidup dalam hal-hal tertentu. Di antaranya kekayaan, ketenaran, kekuasaan, dan di atas semuanya itu kesehatan lahiriah. Akibatnya mereka berusaha mengejar semuanya itu. Tetapi, apa yang akan mereka peroleh dari semua pengejaran itu? Apakah setelah menjadi kaya, beroleh popularitas, memegang kekuasaan, dan memiliki kondisi lahiriah yang prima, mereka benar-benar mengalami kepuasan? Tidak. Sama sekali tidak!

Penulis kitab Pengkhotbah memberikan ajaran yang sangat berharga tentang pengejaran kepuasan hidup. Semuanya akan berakhir pada kesia-siaan! Tetap ada kekosonngan di hati para pengejar kepuasan hidup. Bahkan, yang lebih mengerikan, semua pengejaran itu tanpa mereka sadari menjadikan mereka makhluk yang jahat dan semakin jahat. Mereka benar-benar disesatkan oleh semangat yang jahat dari jaman ini. Sementara mengejar kepuasan hidup, mereka tanpa sadar ditindas oleh tirani dosa yang menyeret mereka ke dalam keterikatan yang semakin kuat terhadap dosa. Akhirnya mereka harus mengalami kebinasaan, "sebab upah dosa adalah maut" (Rm 6:23).


Seperti Yesus Melihat
Manusia-manusia yang kita jumpai sedang menuju kebinasaan! Melek-lah seperti Yesus melek! Tidakkah "urat nadi" kasihan Anda berdenyut kencang? Tidakkah hati kalian iba, bahkan pedih seperti teriris-iris? Tidakkah perasaan Anda sedih, bahkan perih seperti terkoyak-koyak? Tidakkah "jeroan" kalian bergetar, bahkan berdetak kencang seperti mau menangis dan menjerit!

Sementara merenungkan bagian ini, saya teringat kepada ucapan salah seorang kakak rohani saya. Setelah beberapa tahun menggulati studi di jurusan arsitektur, dia menyerahkan diri menjadi hamba Tuhan purna waktu dan mulai menekuni theologia di sebuah sekolah theologia. Waktu itu saya dan beberapa teman saya yang sama-sama mahasiswa Universitas Trisakti mewawancarainya untuk keperluan buletin PMK kami. Seorang teman saya bertanya kepadanya, "Mengapa kakak menyerahkan diri menjadi hamba Tuhan purna waktu?" Dia menjawab, "Setiap kali saya melihat mahasiswa-mahasiswi naik-turun tangga di kampus, saya menyadari bahwa mereka sedang menuju kepada kebinasaan". Mengingat kata-kata itu, saya sangat terharu. Bukan cuma kakak rohani saya itu yang melihat mahasiswa-mahasiswi naik turun tangga, tetapi berapa banyak di antara mereka yang melihat apa yang kakak rohani saya itu lihat. Sebuah kondisi yang maha menakutkan! Dia melihat mereka sedang menuju kepada kebinasaan. Karena itu dia menyerahkan diri untuk menjadi pemberita Injil Tuhan. Agar mereka mendengar kabar baik tentang keselamatan yang telah dikerjakan oleh Yesus dan yang disediakan bagi setiap manusia yang mau percaya kepada-Nya. Agar mereka bukan menuruni tangga neraka, tetapi menaiki tangga surga. Agar mereka tidak binasa!

Apa panggilan seorang dokter Kristen? Bukan sekedar memberikan pelayanan medis kepada para pasien, tetapi mewartakan keselamatan di dalam Tuhan Yesus bagi manusia-manusia yang sedang menuju kebinasaan! Yang menjadi kebutuhan dasariah manusia adalah kesehatan. Tetapi yang merupakan kebutuhan mahadasariah manusia adalah Injil, kabar baik tentang keselamatan yang Tuhan Yesus telah karyakan dan yang Allah Bapa telah sediakan!

Setiap pasien Anda harus mendengar kabar baik itu. Setiap pasien Anda harus disadarkan bahwa dia sedang menuju kebinasaan karena dosa-dosanya. Manusia harus dipanggil untuk bertobat dari dosa-dosanya. Manusia harus diyakinkan bahwa Yesus datang ke dalam dunia dan mati di kayu salib untuk menanggung hukuman ilahi atas dosa-dosanya. Manusia harus ditantang untuk menerima Yesus sebagai Juruselamat pribadinya dan Tuhan atas diri dan hidupnya!

Biarlah insight ilahi yang agung ini memenuhi hatimu, merembesi setiap sel tubuhmu dan menggerakkan seluruh anggota tubuhmu untuk melaksanakan misi pemberitaan Injil!


Yang Yesus lihat bukan cuma kesakitan dan kemiskinan mereka yang perlu segera diobati. Matanya menembusi segala kondisi lahiriah yang sangat menyedihkan itu dan melihat sampai kepada kondisi yang paling dalam diri manusia. Kondisi batiniah.


Referensi:
1.   Geoffrey W.  Bromiley, Theological Dictionary of the New Testament: Abridged in One Volume (Grand Rapids: Eerdmans, 1992) 706-7, 710. 
2.   Ibid. 706, 710.
3.   Ibid. 710.
4.   Donald A. Hagner, Matthew 1-13 (WBC 33A; Dallas: Word, 1993) 260.
5.   Fritz Rienecker dan Cleon Rogers, Linguistic Key to the Greek New Testament (Grand Rapids: Zondervan, 1980) 545.
______________________________________________________________________
Oleh: Pdt. Erick Sudharma dalam Majalah Samaritan Edisi 2 Tahun 2001.

Senin, 25 November 2019

Rumah Sakit Ladang Misi yang Unik (Bagian 2-Akhir)

Digarami
Bagian kedua dari kesaksian kita adalah berbicara tentang Tuhan; menceritakan pada orang lain tentang Kabar Baik. Paulus menuliskan hal ini dengan jelas di dalam Roma 10:14. "Bagaimana mereka dapat percaya jikalau mereka tidak pernah mendengar?". Tentu saja tidak bijaksana untuk memberitakan Injil setiap kali kita berdialog dengan seorang pasien. Kita perlu melihat lebih dulu apa yang menjadi kebutuhannya dengan doa dan baru kemudian menginjili mereka. Bertanya  pada pasien apakah mereka memiliki iman dalam riwayat kehidupan sosialnya merupakan suatu cara yang efektif dan tidak mengancam untuk membuka pembicaraan mengenai Yesus. Pertanyaan mengenai iman menjadi sangat penting bagi banyak orang bila dihadapkan dengan penyakit dan kematian. Cara bertanya yang hati-hati dapat menarik masalah ini ke permukaan dan merincikannya.

Baru-baru ini, saya akhirnya berhasil mengerahkan semangat saya untuk bertanya mengenai iman mereka pada waktu mencatat riwayat kehidupan sosial seorang pasien. Tindakan saya ini membutuhkan banyak sekali doa, baik dari diri saya sendiri maupun dari orang lain, sebelum semuanya menjadi lebih mudah. Semuanya berjalan sangat baik, Saya teringat ketika pertama kali saya bertanya tentang hal tersebut. Saya harus bertanya pada seorang wanita miskin tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan kehidupan sosialnya; hari apa ia biasa pergi, berapa kali dalam seminggu ia pergi ke suatu tempat, dan apa warna anjingnya; namun saya tetap tidak dapat masuk ke dalam pertanyaan inti. Lalu saya merasa bahwa Allah berbicara agar saya segera beralih pada pertanyaan: "Ehm, apakah Anda memiliki iman yang dapat menolong Anda dalam situasi seperti ini?". "Anda bilang apa?" jawab wanita itu. "Iman, agama, seperti Yesus," jawab saya dengan muka mulai memerah. Tapi kemudian kami sudah terlibat dalam percakapan yang luar biasa dan saya berterima kasih pada Tuhan karena saya diberi kekuatan untuk memulainya dan menyelesaikannya.

Setelah kita selesai menyaksikan tentang Kristus kepada pasien, maka akan lebih baik bila kita berdoa bersama mereka jika kita menginginkannya. Terakhir kali saya melakukan hal ini, saya menjadi sangat terkejut ketika mendapati tiga pasien wanita lain di seberang kami ikut berdoa bersama kami! Peristiwa ini menjadikan mereka orang Kristen dan pasien khusus ini menjadi sangat tertolong oleh pelayanan doa selama dalam masa perawatannya.


Raja yang Melayani
Kita telah berbicara kepada pasien dan telah berdoa bagi mereka. Saya akan menyelesaikan diskusi ini dengan mengatakan sesuatu tentang pelayanan. Setiap saya memikirkan masalah ini, saya selalu teringat akan kata-kata Yesus dalam Injil Matius; "Anak Manusia datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani". "Bagaimana kita akan melayani pasien-pasien kita kita sama seperti yang telah Yesus lakukan?"

Kekurangan waktu merupakan salah satu musuh utama bagi seorang dokter muda. Jadi pertama-tama, cantumkan ini dalam kepala Anda - berilah waktu untuk orang lain. Berhentilah dari kesibukan atau rutinitas, meskipun hanya untuk beberapa detik. Tanyakan pada pasien Anda bagaimana keadaan mereka. Jadilah seperti Timotius dan perhatikanlah kesejahteraan mereka (Filipi 2:20). Sangat mudah untuk melihat seorang pasien dan proses penyakit yang sedang berlangsung daripada melihat seorang manusia yang diciptakan sesuai dengan rupa Allah.

Tidak lama setelah saya memulai pekerjaan saya di rumah sakit, saya mulai menemukan diri saya semakin terikat oleh tugas-tugas sehari-hari. Jika Anda adalah seorang perencana yang obsesif seperti saya, lembar kertas resep akan terlihat melambai-lambai di muka Anda dan siapa pun yang saat itu ingin berbicara dengan Anda pada saat Anda sedang mengerjakan sesuatu, pasti akan membuat Anda marah. Dulu saya selalu berkeliling melakukan pemeriksaan pasien dengan membawa catatan, mata yang selalu menunduk ke bawah dan pikiran yang hanya difokuskan pada misi saya ketika itu: berkeliling untuk memeriksa pasien. Sejenak kemudian, sikap ini benar-benar sangat membosankan saya, sehingga saya kembali kepada Alkitab.


"Bertanya pada pasien apakah mereka memiliki iman dalam riwayat kehidupan sosialnya merupakan suatu cara yang efektif dan tidak mengancam untuk membuka pembicaraan mengenai Yesus. Pertanyaan mengenai iman menjadi sangat penting bagi banyak orang bila dihadapkan dengan penyakit dan kematian."


Agenda Yesus sangat jelas. Lihat Lukas 5:31-32: "Aku tidak datang untuk memanggil orang benar tetapi orang yang berdosa untuk bertobat." Intrik-intrik yang ada di sekitar Yesus sedemikian hebatnya sehingga ia sering terganggu di dalam perjalanannya (cerita tentang wanita Kanaan dalam Matius 15"21-28 merupakan sebuah contoh yang baik). Pada kenyataannya, banyak dari pelayanan Yesus, seperti yang tertulis dalam Injil, dilaksanakan di tengah-tengah inrik.

Pelayanan di rumah sakit juga dapat berarti merubah tabel sistem hierarki medis yang telah berusia tua dan mapan. Yesus mengajarkan bahwa "siapa yang terdahulu akan menjadi yang terkemudian dan sebaliknya" (Matius 19:30). Sangat sering saya mendengar orang berkata bahwa dia tidak harus melakukan hal ini/itu karena hal itu bukan merupakan pekerjaannya atau karena mereka tidak dibayar untuk melakukan hal itu.

Juga sangat mudah bagi kita untuk menolak melakukan sesuatu bagi pasien karena hal itu merupakan 'pekerjaan perawat' atau mudah saja untuk membuat kekacauan dan mengharapkan staf kita untuk membersihkannya. Sebagai dokter Kristen jadilah beda, bantulah perawat jika Anda tidak sibuk, bersiap menyingsingkan lengan untuk membantu meskipun hal itu tidak tercantum dalam deskripsi kerja Anda. Ini akan menjadi kesaksian yang luar biasa mengenai kerendahan hati dan hamba Kristus.

Masa kerja sebagai dokter muda berakhir dalam waktu 3 bulan. Namun saya masih saja kagum dengan cara Tuhan yang luar biar biasa untuk menggunakan tenaga kesehatan Kristen yang kemampuannya serba terbatas untuk menjangkau pasien. Saya sungguh ingin memberikan semangat pada Anda yang telah memikirkan tentang sharing iman, untuk terus maju dan membuat lompatan besar. Saya akan tutup kesaksian ini dengan mengutip perkataan yang luar biasa dari seorang wanita Irlandia yang saya temui.

Ia hampir meninggal dan secara fisik kelihatan sangat mengerikan. Saat saya duduk di tepi tempat tidurnya dan menggenggam tanggannya, ia berpaling dan tersenyum pada saya. Wajahnya yang kurus dan matanya yang kuyu menjadi tidak berarti ketika saya melihat cahaya dan semangat di matanya. Secara otomatis, saya bertanya padanya apakah ia mengenal Yesus. "Oh ya, dokter, saya tahu," jawabnya. "Ia sedang duduk di tepi tempat tidurku di sebelah Anda." Wanita tua ini tahu bahwa ia akan berada bersama Tuhan. Sukacitanya tidak tertahankan. Pengalamannya melihat Yesus telah merubah hidupnya dan ia berpulang dengan sukacita.

Inilah yang membuat pelayanan penginjilan di rumah sakit begitu berharga.


________________________________________________________
Sumber: Sharing Christ with Patients, "Nucleus". Januari 2001, Liz Croton/Terjemahan dr. Renny Limarga
Dalam Majalah Samaritan Edisi I Tahun 2001

Rabu, 09 Oktober 2019

Rumah Sakit Ladang Misi yang Unik (Bagian 1)

Bulan-bulan pertama berada di sebuah rumah sakit besar di dalam kota seperti menyaksikan pertunjukan sulap dengan menggunakan bola yang licin. Saya tidak pernah tahu apa yang sedang mengintai di sudut ruangan dan benda apa lagi yang akan saya jatuhkan selanjutnya.

Sebagai seorang Kristen, pemeliharaan iman merupakan hal yang sangat penting bagi saya. Tapi pada hari pertama saya dipertemukan dengan seorang senior yang menyatakan bahwa ia adalah seorang atheis, dan yang kedua, ia akan mengubah saya.

Keadaan ini mengingatkan saya pada seorang teman gereja yang berlatar belakang seorang perawat. Suatu kali ia pernah berkata bahwa ia tertantang untuk memikirkan sebuah tempat yang memiliki banyak keanekaragaman di dalamnya. Suatu tempat dimana terdapat begitu banyak orang dengan berbagai latar belakang, dan semuanya memiliki kepentingan yang berbeda. Masing-masing tidak dapat saling menolong, tetapi satu sama lain dihadapkan dengan berbagai macam karakter yang pernah ditemui Yesus selama selama pelayanan-Nya di dunia. Legion, iblis yang menguasai manusia (Lukas 8:27-33); wanita yang mengalami pendarahan (Lukas 8:42-48); orang lumpuh yang diturunkan melalui atap rumah (Lukas 5:17-20) dan tentunya si orang lumpuh dari Bethesda (Yohanes 5:1-15).

Yesus membuat kehidupan individu-individu tersebut berbalik. Satu menit yang lalu mereka masih dalam keadaan sakit dan tiba-tiba mereka telah disembuhkan. Bahkan mereka tidak perlu kembali lagi untuk perjanjian kontrol lanjutan. Sembuh dari penyakit yang tak dapat disembuhkan atau dari penyakit yang kronis, bukanlah merupakan masalah bagi Pencipta alam semesta ini.

Jika kita meninjau kembali ke belakang, yakni pada awal dari penginjilan, maka kita akan menemui Yohanes Pembabtis. Ia adalah pembuka jalan bagi Yesus, orang yang memberitakan tentang kedatangan-Nya. Apakah ia menggunakan papan reklame besar untuk mengiklankan keajaiban Yesus? "Keajaiban gratis - mari sembuhkan diri Anda". Tentu saja tidak... kata-katanya sangat sederhana: "Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat." (Matius 3:2). Ini merupakan kunci pesan Yesus, ditetapkannya Perjanjian Baru, pengampunan dosa melalui pengorbanan Yesus bagi kita di Kalvari. Inilah Kabar Baik yang sejati dari Penginjilan.


Penggambaran Peran
Mari kita terbang sejenak ke abad 21. Anda mengambil peran utama. Anda sedang duduk di ruangan A & E (Accident & Emergency) dengan kopi yang sudah mulai dingin. Anda masih harus memeriksa 8 orang pasien lagi. Di hadapan Anda duduk seorang wanita setengah baya. Ia menderita infeksi paru-paru, terlalu banyak merokok dan seorang ahli sejarah yang miskin.

Pada saat Anda sudah hampir tiba pada batas kesabaran Anda, karena mendengarkan ceritanya yang panjang, tiba-tiba ia mencucurkan air mata sambil bercerita bahwa ia tidak mempunyai harapan lagi untuk masa depan. Anda merasa kasihan dan menambah 20 menit lagi untuk konsultasi. Apa yang Anda katakan? Bukankah lebih mudah untuk menggumam "jangan kuatir", dan mulai memberikan ia ofloxacin 400 mg lalu bergegas meninggalkannya?

Apa yang pernah Yesus lakukan? Sebagai orang Kristen kita dipanggil untuk menjadi serupa dengan Dia (Efesus 5:1). Yesus sendiri tidak asing lagi berhubungan dengan masalah sosial. Perjumpaan-Nya dengan wanita di sebuah sumur dalam Yohanes 4 menunjukan perhatian-Nya. Dia 'berhubungan' dengan 'pasien-Nya' dengan penuh rasa kasih dan ketulusan hati, menyembuhkan mereka bilamana perlu, namun selalu membangkitkan rasa keingintahuan mereka tentang Bapa (Yohanes 4:13-15, 21-24). Yesus pasti sudah akan menemui wanita di dalam ruang A & E tersebut dan mengasihinya. Dengan tidak mementingkan diri sendiri Ia akan mendengarkan tentang kekuatiran wanita tersebut dan menceritakan pada-Nya tentang Kabar Baik.


Hari Demi Hari
Jika saya mau jujur, menceritakan Kristus kepada pasien merupakan satu hal yang paling sulit saya lakukan. Saya merasa sangat sulit untuk 'mengklinisikan' Allah, untuk melihat Dia diantara tugas-tugas harian saya yang rumit yang harus saya jalani. Saya juga merasa takut, sama seperti ketakutan yang mungkin juga Anda alami. Bagaimana jika saya menyinggung perasaannya? Bagaimana jika seorang pasien yang saya 'layani' memutuskan untuk menceritakan Kabar Baik tersebut pada konsultan saya pada pagi berikutnya?

Kita telah melihat dari contoh-contoh di atas bahwa Allah kita merasa hal ini sangat penting dan di dalamnya ada dorongan yang luar biasa. Paulus juga menunjukan imannya dengan cara memberitakan Perjanjian Baru tanpa mengenal waktu. Aktif menceritakan iman kita mungkin tampaknya mengerikan, namun pada saat yang sama juga membuat kita merasa dihargai: 'Dan aku berdoa agar persekutuanmu dalam iman turut mengerjakan pengetahuan akan yang baik di antara kita untuk Kristus (Filemon 1:16). Jadi, kita tidak mempunyai alasan untuk takut. Allah sudah berjanji pada kita, bahwa Ia akan memberi kekuatan dan meneguhkan kita dalam pekerjaan kita dalam nama-Nya (Yesaya 41:10).


Doa Mengubah Segalanya
Menceritakan iman kita merupakan suatu bagian integral dalam perjalanan kita bersama Allah. Kita tahu bahwa rumah sakit merupakan ladang misi yang unik, namun dari mana kita akan memulainya? Pertama-tama kita harus berdoa. Komit untuk menyerahkan hari itu bagi Tuhan dan membiarkan Ia membawa Anda pada pasien-pasien yang diperuntukkan bagi Anda.

Saya teringat bahwa saya pernah dibimbing oleh Roh Kudus kepada seorang peminum alkohol dengan DTs. Saya bertanya padanya, apakah ia memiliki iman yang akan menolongnya pada situasi seperti ini atau apakah ia tidak yakin akan adanya iman (suatu awal pembicaraan yang sangat baik dan suatu tindakan yang baik untuk meneruskannya!).

Ia membuka hatinya tentang kerinduannya untuk kembali bersekutu dengan Tuhan. Saya menawarkan diri untuk berdoa baginya dan ia menerima Yesus ke dalam hatinya. Pada saat terakhir saya menyadari bahwa ada seorang suster sedang menatap tajam dan ada pula wanita tua uang berada di ruang sebelah sedang dengan dengan kalut menyesuaikan alat bantu dengarnya supaya dapat mendengar dengan lebih baik.

Bagi dokter yang sibuk, waktu adalah salah satu halangan terbesar untuk berdoa. Kebanyakan doa-doa saya dilakukan dengan berbisik pada saat saya sedang berjuang dengan sungguh-sungguh membuat catatan, berjalan ke sana-ke mari dalam antrian makan malam, atau pada saat sedang menunggu jawaban telepon. Tapi biasanya kita berputar-putar di sekitar pernyataan "Tuhan, tunjukanlah pada saya siapakah yang harus saya hampiri hari ini". Meskipun demikian, Tuhan adalah setia dan dengan lembut Ia akan menguatkan usaha kita yang lemah dan berbuat lebih banyak lagi bagi mereka, lebih daripada yang pernah kita bayangkan (Efesus 3:20).



"Anak Manusia datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani". Bagaimana kita akan melayani pasien-pasien kita sama seperti yang telah Yesus lakukan?


Bersambung (Part 2-akhir) : Digarami, Raja yang Melayani...
________________________________________________________
Sumber: Sharing Christ with Patients, "Nucleus". Januari 2001, Liz Croton/Terjemahan dr. Renny Limarga
Dalam Majalah Samaritan Edisi I Tahun 2001

Copyright 2007, Pelayanan Medis Nasional (PMdN) Perkantas

Jl. Pintu Air Raya 7, Komplek Mitra Pintu Air Blok C-5, Jakarta Pusat
Telp. (021) 3522923, 3442463-4 Fax (021) 3522170
Twitter/IG : @MedisPerkantas
Download Majalah Samaritan Versi Digital : https://issuu.com/samaritanmag