Selasa, 17 Januari 2017

Doctors Who Follow Christ (AMBROISE PARÉ)

AMBROISE PARÉ
(CA. 1510-1590)

Ahli Bedah Moderen Pertama



“..maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit”  (Lukas 7:47)


Para dokter tidak selamanya baik hati terhadap rekan sesama dokternya. Oposisi medik terhadap penemuan Lister mengenai pembedahan antiseptik dan pengembangan vaksinasi dari  cacar sapi (cowpox) oleh Jenner menunjukkan betapa sengitnya satu inovasi bisa ditemukan. Paré juga mengalami penderitaan dari kawan sebayanya. Di dalam masa hidupnya ia dicemooh karena asal usulnya yang dari kelas rendah dan penggunaan logat Perancisnya di dalam tulisan-tulisannya. Walaupun demikian, kita mengingatnya sebagai seorang inovator terbesar dalam bidang pembedahan.  


Tahun 1536 seorang tukang cukur muda belajar sambil bekerja diantara para prajurit Perancis yang menyerang Turin. Ia berada di sana sebagai seorang ahli bedah. Pada masa itu para dokter tidak mengadakan pembedahan. Tugas pembedahan tersebut tidak pantas bagi kodrat mereka sebagai dokter karena itu merupakan suatu tugas yang hanya pantas bagi seorang tukang cukur rendahan.

Ambroise Paré, ahli bedah dan tukang cukur tidak pernah melihat peperangan sebagai alasan kepeduliannya terhadap para prajurit. Ia digerakkan oleh penderitaan para prajurit. “Saya kasihan dengan mereka” tulisnya. Pity (kasihan) berulang kali muncul dalam kisah pengalamannya yang menyedihkan. Melalui kebanyakan sejarah, seni penyembuhan lebih berseni sedikit dari pada kesalahan/eror, lebih kurang menyembuhkan dari pada membunuh. Situasi tersebut meningkat dalam skala ukuran belas kasihan seorang Ambroise Paré. Ia tidak menyembunyikan dirinya dari penderitaan akibat perang, tetapi ia mengurangi ketakutannya sebanyak mungkin, dan menjadi seorang tabib yang terampil sejalan dengan proses.

Paré tidak mengikuti pelatihan formal. Mungkin ini juga yang dibuktikan bahwa pengalaman dapat mengajar dengan lebih baik seorang pria yang senang mengamati dari pada kesalahan dalam banyak buku. Paré sendiri kurang membaca karena ia memberitahukan kepada kita mengenai buku Jean Vigo, Of Wounds in General. Namun fakta-faktalah, bukan teori, yang membimbing dia. Satu malam ia kehabisan minyak yang biasa dipakainya untuk membakar luka tembak yang diderita para prajurit. 

"Saya memaksakan diri untuk memakai satu campuran (medicament) dari kuning telur, minyak mawar dan minyak tusam (turpentine) yang bersifat digestif. Malam itu saya susah tidur, ketakutan kalau mereka-mereka yang menderita luka itu meninggal atau keracunan karena kurangnya minyak untuk cauterization yang seharusnya saya lakukan pada mereka, dan hanya memakai medicament sebagai gantinya. Saya bangun pagi-pagi benar dan mengunjungi mereka, dan diluar dugaan saya, saya menemukan bahwa mereka yang hanya diberikan medicament justru hanya sedikit merasa sakit dan luka mereka tidak mengalami imflamasi ataupun pembengkakan, mereka bisa tidur nyenyak sepanjang malam; sementara yang lainnya yang saya pakaikan minyak merasa demam, sangat kesakitan dan luka mereka membengkak. Kemudian sejak itu saya berketetapan untuk tidak melakukan cauterization pada luka tembak mereka lagi."

Patut disesalkan bahwa buku Paré tidak dibaca dengan baik pada masa itu. Dua ratus tahun kemudian para dokter yang tidak terpelajar masih tetap menggunakan cara-cara cauterization yang tua/lama dan kejam.

Wawasan bercampur dengan kepolosan dalam Paré. Dalam satu paragraf ia belajar menangani luka tembak dengan belas kasihan. Dan dalam paragraf berikutnya ia berkisah tentang obat yang baik untuk mengatasi luka tembak yang diperolehnya dengan membujuk seorang ahli bedah yang terkenal. Obat tersebut terdiri dari rebusan minyak bunga bakung, newborn pups (anak anjing yang baru lahir), cacing tanah, dan minyak tusam. Paré selalu konsisten, ia berupaya mendapatkan hasil yang pragmatis dan berpikir bahwa ia telah memperolehnya dari kedua kasus tersebut.

Paré seorang yang percaya bahwa semua orang sederajat (egalitarian). Ia memiliki keyakinan dalam memperlakukan manusia secara utuh, baik mereka yang biasa-biasa saja maupun yang berharga. Kisah-kisah dalam metodenya semakin banyak. Pada waktu Duke d’Auret menderita luka tembak Pare berkeras menempatkan bunga-bunga diruangan perawatannya untuk mengurangi  bau amis/busuk dari luka tembaknya dan meyakini bahwa pasien yang sedang dalam pemulihan ini bisa terhibur dengan musik, humor, dan suara hujan yang artifisial untuk menenangkan sarafnya dan  mempercepat kesembuhannya. Sang Duke sembuh. Pada waktu seorang prajurit yang terluka sangat parah diserahkan oleh rekan prajuritnya maka Paré mendapatkan izin dari komandan pasukan untuk mengobatinya. Prajurit tersebut pun sembuh.

Sekarang ini, kita perduli dan berpikir bahwa suatu operasi atau pembedahan harus diikuti dengan rehabilitasi. Beberapa ahli bedah di zaman itu kelihatannya kurang perduli dengan hal itu, tetapi Paré perduli. Baginya tidak cukup hanya menyelamatkan nyawa seseorang melalui operasi amputasi, ia harus juga dimampukan untuk berfungsi setelah itu. Untuk memfasilitasi hal ini maka seorang dokter yang baik dengan pandainya mengembangkan anggota tubuh artifisial.

Keberhasilan demi keberhasilan dialami oleh Paré setiap kali ia menggunakan pisaunya. Tetapi ia tidak menjadi bangga diri. “Saya mengoperasinya dan Tuhan menyembuhkannya” demikian pernyataan yang senantiasa diungkapkannya. Para prajurit yang diobatinya sangat menghargai perhatiannya terhadap kesejahteraan mereka. Para prajurit musuh memanggul dia di bahu mereka dan mengaraknya sepanjang jalan ketika ia berhasil mengoperasi rekan-rekan prajurit mereka. Di waktu lain prajuritnya sendiri mengumpulkan uang persembahan dan memberikan kepadanya.

Paré berjuang demi kebenaran. Sayang sekali buku-bukunya, karena ditulis dalam bahasa Perancis dicemooh oleh para penguasa yang memakai bahasa Latin dan Yunani sebagai bahasa yang pantas dalam membahas gagasan-gagasan di bidang medis. “Hippocrates menulis dalam bahasa Ibunya” ingat Paré. Walaupun para penguasa bersikap berat sebelah, tulisan-tulisan Paré tersebar secara luar biasa, terima kasih untuk pihak penerbit.

Seorang dokter bernama Gourmelen mulai cemburu. Ia  mulai mengadakan aksi-aksi yang tidak bermoral dalam menentang Paré, ia meminta agar buku-buku medis perlu disetujui terlebih dahulu oleh fakultas kedokteran Paris sebelum diterbitkan. Gugatan Gourmelen diamat-amati oleh seluruh profesional medis. Mereka juga membenci tukang cukur yang magang, yang sedang menjadi orang kaya baru ini.  Menghadapi pihak oposisi ini Paré sangat dibantu oleh teman-temannya. Para raja Perancis menyokong dia dan ia berhasil melayani empat dari mereka. Hal ini yang membuat ia mampu bertahan menghadapi pihak oposisi. Bagimanapun juga, para saingan sulit mati dan setelah kematian Paré penguasa Perancis yang reaksional membuang buku-buku Paré dan kembali ke metode lama. Bagi para dokter yang bersikap terbuka, teknik pembedahan Paré bagaikan sebuah alkitab bidang bedah hingga John Hunter (1728-1793) menggantinya dengan metode-metode yang lebih baik di abad ke-18.

Jauh ke depan setelah zamannya, Paré telah memberikan banyak sumbangan bagi dunia medis, termasuk inovasi-inovasi dalam bidang obstetrik. Dari contohnyalah maka benang penjahit luka untuk menghentikan pendarahan menjadi semakin sering dipakai, sebagimana dalam surgical truss. Pemikirannya menuntun dia ke suatu pemikiran yang samar mengenai infeksi yang bisa ditularkan. Tidak takut akan celaan, ia membedah jenasah untuk mendapatkan pengenalan anatomi. Dalam beberapa kasus ia bahkan mengadakan pembedahan mayat. Ia mendukung pemantauan tingkat kesehatan masyarakat.

Jika diamati maka kita bisa melihat bahwa Paré adalah seorang pembuat eksperimen (penguji coba). Ia mau mencoba obat-obatan para istri tua untuk melihat apakah mereka bisa menyembuhkan, sebagian bisa dan sebagian lagi tidak bisa. Jika ia tidak selalu bisa mengatakan perbedaannya, namun observasi obyektif dan eksperimentasi merupakan tujuan dan sumbangannya yang terbesar bagi dunia medis. Gagasan-gagasannya mengenai teknik dan diagnosis telah berakhir setelah empat abad. Selama bertahun-tahun, misalnya ia menguji suatu perlakuan untuk luka bakar yang diperlihatkan kepadanya oleh seorang wanita tua dan ia menunjukkan secara meyakinkan luka bakar tersebut diobati dengan obat-obatannya sembuh tanpa blebs sedangkan pengobatan tradisional meninggalkan  tanda-tanda yang tidak sedap dipandang mata.

Jelas dari beberapa cerita tentangnya, Paré adalah seorang Calvinis Perancis. Ada bukti bahwa keluarganya merupakan Huguenot dan bahwa pendeta dari aliran itu merupakan gurunya yang pertama. Orang sejamannya berkata bahwa raja melindungi hidupnya selama masa “St. Bartholomew’s Day Massacre” dimana ribuan kaum Huguenot dibunuh. Semua bukti-bukti menunjukkan bahwa ia adalah orang percaya sejati. Kita tidak menemukan rasa mengasihani diri dalam tulisan-tulisannya yang lain, sebagaimana  secara alamiah tertabur dalam karya-karyanya.  Ia  meminta dengan sangat para ahli bedah muda agar bekerja bukan demi uang tetapi melaksanakan tugas mereka sampai akhir, bahkan dalam kasus yang tanpa harapan. Ia sederhana dan rendah hati, suatu kualitas yang bersumber secara langsung dari rasa belas kasihannya yang mendalam dan tidak fanatik. Bukan saja ia mengembalikan alasan dari segala keberhasilannya kepada Allah tetapi tulisan-tulisannya juga menghembuskan belas kasihan kristiani bagi semua yang menderita sakit.

Huguenot atau bukan, ia merupakan orang yang penuh belas kasihan dan baik hati. Di usia delapan puluh, dokter yang gagah berani ini menghentikan suatu prosesi keagamaan di Paris selama penyerangan terhadap Henry dari Navarre dan ia menghadap Uskup Lyons bukan karena tegar tengkuk tetapi demi membela Henry dari Navarre. Sang Uskup menjadi ramah dan pengepungan dibubarkan seminggu kemudian, mungkin karena pemunculan Paré. Dalam hal ini membuktikan bahwa hatinya selalu tertuju pada kebenaran. Paré meninggal tidak lama ketika penyerangan semakin meningkat.


Generasi-generasi berikutnya memuja-mujanya. Kisahnya diulang-ulang dalam berbagai kumpulan biografi medis. Ia berada diantara para dokter yang sangat terkenal dalam semua generasi.


Sumber:
Diterjemahkan dari buku "Doctors Who Follow Christ, Thirty-two Biographies of Eminent Physiciand & Their Christian Faith(Dan Graves, Grand Rapids-USA: Kregel Publications,1999)

Selasa, 10 Januari 2017

Doctors Who Follow Christ (HERMANN BOERHAAVE)

HERMANN  BOERHAAVE
(1668 - 1738)


PAKAR DI BIDANG INSTRUKSI KLINIS



“..Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan TUHANlah yang terlaksana”
(Amsal 19 :21)


Para dokter terbesar adalah guru. Hermann Boerhaave  mengajari satu generasi dokter di seluruh Eropa. Para mahasiswa mengenalnya sebagai seorang guru yang mereka hormati dan teladani oleh karena dengan kerajinannya ia tidak hanya mengajar tentang kedokteran tetapi juga kimia dan botani. Kepribadiannya yang menarik memampukannya untuk menyalurkan metode-metodenya yang bisa ditiru kepada para mahasiswa. Ia menciptakan dokter-dokter yang simpatik dengan caranya sendiri.


Angka harapan hidup bayi sangat rendah pada waktu hermann Boerhaave lahir. Beberapa orang saudaranya yang lahir sebelum dia meninggal saat masih bayi. Mungkin inilah alasan dari Pdt. Jacobus Boerhaave untuk membaptis Hermann sesaat setelah ia dilahirkan. Hermann bertahan hidup di Voorhout, suatu daerah yang berjarak beberapa mil dari Leyden, Belanda. Ibunya meninggal ketika ia berusia lima tahun. Jacobus kemudian menikahi Eva du Bois, anak perempuan seorang Pendeta. Eva ini menjadi seorang teman bagi anak tirinya walaupun ia kemudian melahirkan anak-anaknya setelah menikah dengan Ayah Hermann. Ia mengasihi Hermann seperti anaknya sendiri. Jacobus, seorang yang terpelajar, membimbing Hermann dan memberikan kepadanya contoh kerajinan, kerja keras, dan kesederhanaan serta penghematan yang biasanya dilakukan oleh keluarga yang kurang mampu.

Minat kita dibentuk oleh peristiwa-peristiwa yang diluar pilihan kita. Demikian juga halnya dengan Hermann Boerhaave. Pada usia 12 tahun ia menderita borok di kakinya. Luka ini resisten terhadap semua bentuk pengobatan sehingga memaksanya tidak aktif mengejar ilmu. Masalah belum juga selesai. Mungkin hal tersebut adalah masalah tuberkolosis. Setelah satu tahun, Jacobus memutuskan untuk mengirim anak laki-lakinya untuk belajar ke Leyden, di tempat dimana ia mungkin bukan hanya akan menerima perawatan medis yang lebih baik tetapi juga memperoleh pendidikan yang tidak pernah diperolehnya di Voohout. Herman yang berusia 13 tahun dengan segera diterima di Universitas Leyden yang 2 tahun kemudian dimasukinya sebagai mahasiswa teologi.  Borok yang dideritanya tetap menyiksanya dan membangkitkan dalam dirinya minat yang mula-mula terhadap bidang medis. Pada saat seluruh pertolongan para dokter terbukti sia-sia, ia merawat dirinya sendiri dengan ramuan obat rumahan yang diraciknya sendiri yang terdiri dari campuarn garam dan air seni/urine. Sangat mengherankan karena lukanya menjadi sembuh.

Sebelum Hermann menyelesaikan studinya di universitas,  ayahnya, Jacobus, meninggal.  Pendidikan sang anak terancam putus karena Ibu tirinya hanya ditinggalkan dengan peninggalan yang sangat sedikit dan 9 orang anak. Namun Hermann yang berusia 15 tahun mendapatkan beasiswa yang berlaku surut. Hal ini sangat membantu beban keuangan Ibu tirinya dalam hal pendidikannya.

Jacobus ingin anaknya menjadi seorang pendeta, oleh karena itu Boerhaave masuk sekolah filsafat yang menjadi prasyarat dalam study teologinya. Filsafat pada waktu itu bukan hanya mengenai metafisika dan etika tetapi juga ilmu pasti alam. Jadi, tanpa disadarinya, jejak kaki Boerhaave sudah tertanam dijalan menuju ke dunia kedokteran. Diluar tugas-tugas belajarnya, Boerhaave juga mendaftarkan dirinya untuk kelas bahasa Latin, Yunani dan retorika. Ia melakukan hal tersebut karena ia terpilih sebagai utusan untuk mengikuti acara debat publik pada usia 17 tahun, dan di usia 21 ia memenangkan medali emas untuk suatu lomba pidato. Di usia 22 tahun ia mengambil gelar doktor filsafatnya pada tahun 1690, dan segera meneruskan kuliah teologinya.

Boerhaave bukan siapa-siapa jika tidak rajin. Jadi dengan memahami imannya dan menjadi seorang teolog terbaik, ia mempelajari Kitab Suci dalam bahasa aslinya dan membaca semua sejarah bapa-bapa gereja sebagai pelajaran tambahan. Baginya Kitab Suci sendiri mengajarkan jalan keselamatan. Ia berencana menulis tesis yang mempertanyakan mengapa banyak sekali individu di masa awal-awal boleh bertobat datang kepada Kristus oleh penginjilan sedikit orang dan hanya sedikit saja yang bertobat di zamannya dimana banyak orang yang berpendidikan teologi.

Boerhaave tinggal serumah dengan Ibu tirinya yang sudah kembali lagi ke Leyden. Sebagai tambahan bagi studinya ia mulai mengajar matematika untuk menambah penghasilan dan meringankan beban Ibu tirinya dari segi keuangan. Ia juga menerima jabatan yang cukup tinggi saat ia dipercayakan untuk menyusun katalog dari sejumlah buku yang merupakan koleksi sumbangan buku untuk universitas Leyden. Ketekunannya mengerjakan tugasnya tersebut membuat ia dikenal sebagai seorang tokoh dan direkomendasi untuk mempelajari kedokteran.  Sebagaimana janggalnya bagi kita, memang dimasa itu suatu hal yang tidak masuk akal juga bahwa seorang yang mempelajari teologi akan belajar kedokteran. Para pendeta, yang waktu itu biasanya orang-orang yang terdidik dan terpandang di masyarakat, sering kali juga diminta nasehat mengenai kesehatan karena sangat kurangnya tenaga yang memenuhi syarat untuk hal tersebut. Dengan pengetahuan kedokteran Hermann Boerhaave menjadi lebih berarti di mata jemaatnya.

Bagaimanapun juga ia tidak pernah menjadi seorang pendeta. Satu dari sekian peristiwa dalam hidupnya menjadi cara dimana Tuhan mengatur kembali jalan hidupnya. Yaitu pada suatu waktu, saat sedang mengayuh sebuah perahu di sungai ia mengucapkan sebuah kalimat yang mengubah hidupnya dan sejarah kedokteran.  Seorang filsuf Yahudi bernama Spinoza telah menerbitkan sebuah buku mengenai praktek bidat yang percaya akan kekuatan alam. Mimbar-mimbar gereja protestan di Belanda semua menentang bidat ini. Di dalam perahu, beberapa orang sesama penganut protestan yang angkuh sedang berbicara menentang Spinoza bukan berdasarkan argumen yang masuk diakal tetapi dengan  ad hominen menyerang sang filsuf sebagai seseorang yang meninggalkan Tuhan. Salah seeorang pria dari antara mereka mulai bersemangat. Lelah dengan pembicaraan yang kosong tersebut, Boerhaave menantang pria tersebut dengan suatu pertanyaan yang sangat sederhana : apakah dia pernah membaca tulisan Spinoza? Ternyata dia belum pernah membaca tulisan Spinoza. Karena merasa malu pria itu akhirnya terdiam. Kalimat tersebut ternyata sangat penting. Seorang penonton peristiwa itu menulis nama Boerhaave. Gosip pun beredar, Boerhaave dicap sebagai seorang Spinozist (penganut paham Spinoza). Tentu saja hal ini tidak benar. Ia bahkan pernah mengkritik Spinoza dalam pidato wisudanya beberapa tahun sebelumnya. Namun demikian, ia tahu setelah itu bahwa tidak akan ada lagi mimbar gereja yang akan terbuka baginya. Akhirnya ia memutuskan untuk menjadi seorang dokter.

Boerhaave menyelesaikan studi kedokterannya dalam waktu yang relatif singkat, hanya dalam waktu 2,5 tahun. Bukan di Leyden tetapi di Hardenwijk dimana biayanya lebih murah. Walaupun ia terus mempelajari Kitab Suci secara pribadi setelah ia menjadi dokter, fokusnya sekarang adalah kedokteran. Ia membuka tempat praktek kecil di Leyden, dimana ia bekerja dari rumah Ibu tirinya dan mengunjungi pasiennya yang hanya sedikit. Jika dilihat maka hanya sedikit saja yang diperolehnya dari karir yang dipilihnya ini, pendapatannya sebagai dokter lebih sedikit dibandingkan jika ia mengajar matematika.

Namun Boerhaave tidak pernah membuang-buang waktu. Melanjutkan pola yang sudah diterapkannya selama itu, di sela-sela waktu senggangnya ia belajar kimia dan bidang sains lainnya. Ketekunannya ini pada akhirnya mendapatkan ganjarannya. Pada waktu posisi pengajar (dosen) di universitas Leyden terbuka, salah seorang yang terkemuka di universitas tersebut mendekati dan menawarkan padanya posisi tersebut, bukan sebagai profesor penuh waktu, tetapi hanya sebagai dosen. Boerhaave yang sederhana & rendah hati sempat ragu-ragu, tetapi akhirnya menyetujui tawaran tersebut. Keputusannya ini membuka pintu baginya untuk terkenal ke seluruh dunia.

Tahun-tahun disaat mana ia mempelajari dan menerapkan berbagai cabang pengetahuan membuatnya mencapai apa yang sangat sedikit orang capai. Ia  melimpah dengan berbagai wawasan dan pengetahuan.  Para mahasiswa datang, mendengarkannya dan mengisi buku catatan mereka pelajaran kedokteran yang begitu praktis dan mudah diikuti. Inilah seorang guru yang terbukti tahu sesuatu. Apalagi? Ia begitu terbuka, praktis, dan berjiwa sosial dengan karakter yang tanpa cacat. Tidak seperti banyak pribadi terpelajar lainnya, ia cepat memberikan perhatian pada orang lain dan bahkan tidak pernah berselisish dengan orang yang paling mencelanya.

Saat ini kita perhatikan bahwa para dokter akan melihat  banyak kasus-kasus aktual selama masa magang mereka. Boerhaave merupakan salah satu yang membuat hal itu menjadi suatu praktek yang berlaku universal. Ia memberikan bedside lecture dalam dua bangsal yang masing-masing terdiri atas enam tempat tidur, satu bangsal untuk mahasiswa laki-laki dan yang lainnya perempuan. Dengan menyeleksi pasien secara hati-hati, ia memastikan bahwa murid-muridnya melihat sebanyak mungkin kasus-kasus yang menarik. Dan dalam bangsal-bangsal yang kecil tersebut ia mengajar murid-muridnya secara metodis seni memeriksa pasien dan bagaimana mendiagnosanya.  Jika Anda menanyai dia  maka ia akan menjawab bahwa pekerjaan dari kehidupannya adalah untuk melakukan fungsi-fungsi tubuh secara sistematis dengan menentukan secara tepat hukum-hukum fisika dan kimia dalam setiap tindakan. Hal yang sesungguhnya ia ciptakan adalah tentang kebiasaan bedside lecture dan metode diagnosis yang menjadi begitu mengesankan di seluruh Eropa dan membuatnya disejajarkan dengan Hippocrates, bapak kedokteran Yunani. Ia memenangkan nama besar ini pada saat sebuah surat dari Cina Mandarin tiba dialamatnya, yang tertulis “Kepada Boerhaave yang temasyhur, dokter di Eropa”.

Metode Boerhaave tersebar dengan cepat ke seluruh Eropa karena ia memutuskan untuk mengajar dalam bahasa Latin, yang membuatnya diterima secara universal oleh karena pada waktu itu bahasa Latin masih merupakan lingua franca bagi kaum terpelajar di Eropa. Tetapi faktor menyebarnya tersebut terutama adalah karena kepribadiannya. Sebagaimana para guru besar, maka pengaruhnya terlihat melalui murid-muridnya karena ia mengajar setengah dari jumlah dokter yang ada di Eropa termasuk salah satunya dr. Albrecht Haller yang terkenal juga di tahun 1708-1777 dan Gerard van Sweiten (1700-1772). Kedua orang pria ini banyak memberikan kepada kita catatan-catatan dari kuliah yang disampaikan Boerhaave. Dari mereka kita belajar bahwa prosedurnya adalah mengunjungi pasien setiap hari, menegur mereka dengan penuh perhatian, belas kasihan, dan keramahan. Pada saat seorang pasien yang sakit datang padanya, ia menanyakan beberapa pertanyaan, mencatat sejarah klinis, mempertimbangkan keluhan pasien, dan dicatat bersama dengan diagnosis dan prognosisnya. Tiap hari ia meng-update catatan-catatan ini sesuai dengan kemajuan pasien.  Mahasiswa tingkat akhir dilibatkan untuk memberikan nasehat (advice).

Tentu saja, tidak semua dokter di Eropa yang bisa duduk dalam kelas kuliah Boerhaave. Mereka yang tidak bisa itu boleh mencatat saran atau petunjuk untuk pasien yang diberikannya dengan rela. Kerelaannya untuk melayani membuatnya dikasihi. Ia begitu dikasihi sehingga suatu waktu lonceng-lonceng gereja dibunyikan untuk menandai kesembuhannya dari sakit encok. Popularitasnya diperolehnya oleh karena kepeduliannya terhadap orang lain. Baginya kaum miskin adalah pasiennya yang paling utama karena TUHANlah yang membayar biaya pengobatan mereka.  Bukankah Kristus juga mengkhususkan pelayanan-Nya kepada mereka yang miskin?

Dari semua kebijaksanaan dan hikmatnya, gagasan-gagasan Boerhaave seringkali salah. Ia menganut teori mekanistitik tubuh Cartesian, karena itu kadang-kadang ia mencari secara langsung penyebab-penyebab mekanis dari aktifitas tubuh walaupun tidak semua bisa dijelaskan dalam konteks tabung dan katup. Dengan pandangannya yang seperti ini tidak mengejutkan jika ia merupakan dokter pertama yang berpengaruh dalam hal pemakaianan termometer secara luas pada saat itu. Dan hal tersebut merupakan sesuatu yang praktis bagi seorang mekanis untuk dilakukan waktu itu dan merupakan juga standar praktek saat ini.

Tetapi Boerhaave bukanlah seorang Cartesian yang fanatik. Teori-teori mekanistiknya diperlembut oleh penolakannya untuk dibatasi oleh hanya satu teori saja; ia meminjam gagasan apa saja yang kelihatannya tepat. Salah satu pengaruhnya adalah seorang dokter penuh inovatif dari Inggris, Thomas Sydenham, yang mengidentifikasi sejumlah penyakit dan memberikan deskripsinya yang jelas (sebagai imbalannya, Boerhaave melatih para dokter yang mendirikan Edinburgh Medical School, yang mentransformasi praktek kedokteran Inggris).  Boerhaave menggabungkan pengetahuan medis/kedokteran ke dalam sintesa terbaik yang mungkin.  Hal inipun menjelaskan otoritasnya.

Lebih dari seorang dokter, Boerhaave juga secara metodis belajar sendiri tentang ilmu tumbuhan dan kimia.  Ketika jabatan profesor bidang botani dan kimia terbuka maka ia diminta untuk menduduki jabatan tersebut.  Jadi, dalam satu kurun waktu, sang guru yang brilian dan pekerja keras ini secara simultan memegang sekaligus tiga jabatan profesor dari lima bidang yang ada di universitas Leyden, yaitu bidang kimia, botani dan kedokteran, hal ini makin menambah prestisenya di universitas dalam ketiga bidang tersebut.  Sebagai seorang profesor bidang botani, Boerhaave bertanggung jawab terhadap sekolah pertanian dan melipat gandakan sejumlah spesimen yang ada menjadi lima ribu spesimen, membuat katalognya sehingga dari daftarnya saja orang yang membaca cetakannya bisa melihat keseluruhan koleksi spesimen yang ada.  Menyadari akan kebutuhan nomenklatur/penamaan maka Boerhaave ikut mendukung pekerjaan Carl Linnaeus (1707-1778) yang memberikan tiap tumbuhan dua nama : genus dan species.

Kontribusi Boerhaave sebagai seorang ahli kimia juga tidak pernah tanpa orisinalitas; ia merupakan orang yang pertama mengisolasi urea. Text Booknya yang berjudul Element of Chemistry memberikan beberapa hukum. Bidang kimia belum mencapai tingkat elevasi tersebut. Namun demikian itu merupakan penelitian yang baik, jelas, mudah dipahami, dan berdasarkan pada pengalaman pribadi sehingga itu menunjukkan pengaruhnya yang jelas terhadap seorang inovator besar lainnya yang bernama Robert Boyle.

Berulang-ulang penulis biografinya menemukan bukti pengaruh dari orang-orang kristen yang berpengaruh dalam latar belakang kehidupan orang-orang besar dari dunia Barat, dan ini benar terjadi pada Boerhaave. Ia menjadi besar sebagian karena keluarganya dan imannya. Sebagaimana yang sudah kita catat, ayahnya yang saleh secara pribadi membimbing dia dalam pendidikannya. Ibunya juga seorang yang saleh dan alim. Walaupun ia  hanya memiliki kenangan yang sangat sedikit akan Ibunya, tidak diragukan bahwa Ibunya ini berperan dalam pembentukan karakter awalnya di masa kecil.  Ibu tirinya mempunyai peran yang jauh lebih besar, dan ia juga memiliki iman yang sangat besar. Boerhaave sendiri adalah seorang murid Kristus yang taat dan seorang yang belajar Alkitab sampai ia meninggal.

Karakternya membuktikan imannya. Ia begitu setia terhadap orang yang membantunya. Misalnya pada waktu ia lumpuh sehingga ia hanya bisa menolong sedikit sekali untuk Ibu tirinya, sebagai imbalan kebaikannya ia membalas jasa Ibu tirinya ini dengan membantu saudara-saudari tirinya ketika ia sudah mempunyai kedudukan dan mampu untuk melakukannya.

Guru besar Belanda ini menderita encok dan pembengkakan sendi-sendinya di saat-saat akhir hidupnya. Ia sangat kesakitan tetapi ia tidak mengeluh. Sepanjang hidupnya ia merasa riang gembira dan penuh dengan humor dalam percakapannya. Pada saat ia mendekati ajalnya, ia menerima penderitaannya dengan ketabahan seorang kristen, katanya: "Seseorang yang mengasihi Allah seharusnya berpikir bahwa tak satupun yang paling diinginkannya kecuali apa yang memperkenankan hati Tuhan Yang Maha Kuasa”. Dengan sikap seperti ini ia meneladani Kristus yang meletakkan kehendak dan kemuliaan Allah diatas segalanya.

Ia juga seperti Kristus dalam hal yang lain. Sebagaimana kata seorang kritikus bidang sastra yang terkemuka pada waktu itu, Samuel Johnson (1709-1784) mengenai dirinya: “..Belas kasihan dan kebergantungannya kepada Tuhan merupakan dasar dari semua kebajikannya dan prinsip dari semua tingkah laku dan tindakannya”. Jadi kesabarannya seperti Kristus. Saat ditanya bagaimana ia bisa dengan tenang menerima provokasi yang serius, Boerhaave mengaku bahwa sebenarnya ia seorang pemarah, tetapi karena terbiasa berdoa dan bersaat teduh ia mampu mengendalikan dirinya. Memang, setiap pagi begitu bangun dari tidurnya ia menyediakan waktu selama satu jam untuk saat teduh dan berdoa. Katanya ini memberikan kepadanya kekuatan untuk hari itu.  Dengan meneladani Kristus, katanya lebih lanjut, ia menemukan ketenangan.

Ia juga meneladani “TUAN”nya dalam hal mengampuni musuhnya. Pada waktu pengikut Cartesian memfitnahnya karena menolak doktrin-doktrin dari sekolah filsafat mereka dan menuduhnya merusak kekristenan (kritikannya adalah mengenai hal yang menyatakan bahwa seseorang bisa menjadi Kristen hanya jika melalui Cartesian),  maka para penguasa Leyden mengambil tindakan terhadap mereka. Para penguasa ini ingin menjatuhkan hukuman yang lebih lagi terhadap mereka jika Boerhaave memintanya, tetapi sang dokter besar ini hanya menjawab bahwa “baginya sudah cukup balasannya” jika penentangnya dibiarkan dengan peringatan yang sudah diterima mereka.

Kontribusi Boerhaave bagi dunia kedokteran bukanlah penemuan penyakit-penyakit baru atau penanganan masalah yang sulit seperti tingginya angka kematian bayi yang terus meningkat. Memang salah seorang dari anaknya meninggal saat masih bayi. Namun ia mengajar para penerusnya untuk mencatat dan menganalisa penyakit yang menyebabkan hal itu, memberikan waktu untuk itu dan menambah pengetahuan mereka. Yang patut disayangkan adalah bahwa sangat sedikit orang yang memiliki jiwa atau semangat Boerhaave. Banyak pengetahuan yang berguna terpahat di atas batu. Dia yang sangat lapar untuk mengembangkan penelitian medis akan sedih mendapati bahwa kemajuannya dalam banyak hal diperlambat oleh mereka yang setia akan kenangannya. Mereka melarang murid-murid baru mengembangkan atau meng-update kompilasi-kompilasi yang ditinggalkan Boerhaave, bahkan dalam terang pengetahuan baru. 


Sumber:
Diterjemahkan dari buku "Doctors Who Follow Christ, Thirty-two Biographies of Eminent Physiciand & Their Christian Faith(Dan Graves, Grand Rapids-USA: Kregel Publications,1999)

Senin, 09 Januari 2017

Shalom rekan-rekan medis yang dikasihi Tuhan Yesus.

RS Siloam Makassar membutuhkan tenaga dokter umum, dokter spesialis mata dan dokter spesialis saraf sebagai dokter full time. Jika ada rekan-rekan medis yang berminat, dapat menghubungi Dr. Chenny Muljawan (FB) / Chenny@siloamhospitals.com (email)

Terima kasih. Tuhan Yesus memberkati.

Selasa, 03 Januari 2017

Kekristenan Melalui Kedokteran

Ia berkata kepada Simon: "Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan." Simon menjawab: "Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena perkataan-Mu itu, aku akan menebarkan jala juga." Setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak. ---Lukas 5:4-6



Kurangnya kesempatan untuk menangani kebutuhan rohani pasien bisa membuat seorang dokter Kristen kecewa. Ada banyak alasannya, termasuk kurangnya waktu dan banyaknya pasien yang perlu dilayani, sementara tenaga yang tersedia tidak memadai. Seringkali para senior juga tidak menganggapnya sebagai prioritas. Cara pengobatan bio-psiko-sosial cenderung membuat kita bekerja tanpa perlu beriman kepada Tuhan. Menunjukan kepada teman sejawat bahwa kekristenan bisa mempengaruhi pekerjaan kita sebagai dokter juga adalah tantangan tersendiri. Keterkaitan kekristenan dalam dunia medis menimbulkan banyak pertanyaan, yang jawabannya tidak selalu jelas. Dari luar mungkin kelihatannya tidak banyak tempat bagi nilai-nilai rohani dalam profesionalisme masa kini.

Para murid berpikir begitu juga mengenai pekerjaan mereka, ketika Tuhan Yesus menyuruh mereka membuang jala lagi setelah bekerja keras sepanjang malam tanpa hasil. Kita seakan bisa mendengar Petrus berkata: "Tuhan, jika engkau hendak memakai perahu kami sebagai mimbar untuk ceramah boleh saja--tapi jangan mengajari kami cara menjala ikan! Itu keahlian kami." Namun, para murid menaati perintah Tuhan Yesus dan membuang jala mereka---yang kemudian penuh dengan ikan. Petrus berlutut di kaki Tuhan Yesus ... karena ia melihat kuasa Allah.

Apakah kita bersedia "membuang jala" dalam pekerjaan kita di dunia medis untuk Tuhan? Apakah kita memiliki mata dan visi untuk memperkenalkan pasien kita kepada Sang Penyembuh dan menantikan hasilnya? Apakah kita menanggapi hal ini seperti yang dilakukan Petrus... berlutut di hadapan Tuhan dan mengakui semua kekurangan kita?


Baca: Lukas 5:1-11

Oleh : Anthony Herbert
Disadur dari Sumber Hidup Praktisi Medis

Selasa, 20 Desember 2016

Hidup dalam Hadirat Tuhan

Ia bertahan sama seperti ia melihat apa yang tidak kelihatan. ---Ibrani 11:27




Kita semua mengenal pencobaan --godaan-godaan dan juga ancaman serta tekanan-- yang mungkin terjadi dalam kehidupan kita, dan yang sering mulai melemahkan iman kita. Yang kita butuhkan ialah ketabahan, keteguhan, dan ketahanan hingga akhir --tapi darimana kita memperolehnya? Dalam situasi yang sulit, aku senantiasa mengingat sebuah kotbah indah dari seorang teolog Swiss yang aku baca beberapa tahun lalu.

Musa, orang yang dimaksudkan dalam ayat dari Kitab Ibrani diatas, adalah seorang yang mengalami berbagai pencobaan: ia punya kesempatan karier gemilang sebagai anak angkat dari putri Firaun, lalu dimusuhi Firaun dengan kebencian, dan kemudian harus menghadapi pemberontakan bangsanya selama perjalanannya di padang gurun. Ia tetap tabah! Dari mana ia menerima kekuatan yang dibutuhkannya? Apa rahasianya? Musa telah belajar menjadikan Tuhan sebagai pandunya. Ia hidup bergaul dengan Tuhan dan melihat Tuhan muka dengan muka. Ia melakukan segala sesuatu dalam pengertian bahwa Tuhan ada di sisinya. 

Sudahkah Anda memperhatikan betapa orang mengubah perilakunya ketika menjadi sadar akan kehadiran seseorang yang sangat penting bagi mereka? Musa percaya bahwa Tuhan berdiri di antara dia dan dunia sekelilingnya, dan keyakinannya itu memberikan kekuatan dan keteguhan yang ia butuhkan. Demikian juga kita pada masa kini, Tuhan Yesus telah berjanji untuk menyertai kita setiap hari di setiap situasi dan Ia selalu menepati janji-Nya. Jadi, mari kita belajar dari Musa untuk hidup dalam hadirat Tuhan Yesus Kristus setiap hari, dengan keyakinan bahwa "Roh yang ada di dalam kamu lebih besar daripada yang ada di dalam dunia" (1 Yohanes 4:4).

Baca: Mazmur 16.


Disadur dari Sumber Hidup Praktisi Medis

Jumat, 09 Desember 2016

Tiga Misteri

Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan melalui Dia, 

tetapi dunia tidak mengenal-Nya. ---Yohanes 1:10



Ayat ini berhubungan dengan tiga keajaiban di dunia ini:

          1. Allah yang tidak kelihatan  datang ke dunia dengan wujud yang kelihatan. Kelahiran yang ajaib melawan hukum-hukum fisiologi alami, namun bayi itu dibaringkan di dalam palungan! Kemudian, para pemimpin agama tercengang karena pengetahuan seorang bocah laki-laki berusia dua belas tahun. Sementara orang tuanya telah mencari Dia dengan khawatir, dan pada saat Ia menemukannya dalam bait Allah, mereka heran akan apa yang dikatakan tentang Yesus (Lukas 2:48-49). "Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau" kata Maria. "Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?" jawab-Nya dengan cara penuh teka-teki. Anak ini kemudian menjadi pengkhotbah keliling, yang memutarbalikkan kemapanan agama yang sudah ada sehingga para pemimpin agama memutuskan Ia harus ditangkap dan dihukum mati.

          2. Orang ini yang datang ke dalam dunia, telah menciptakan segala sesuatu dari ketiadaan. Akhir-akhir ini ada banyak teori tentang penciptaan dunia hingga menjadi seperti sekarang ini. Kita kagum dengan keindahan bumi kita. Teleskop dan mikroskop memberikan kekaguman baru. Daya cipta-Nya tidak dibatasi dengan apa yang terlihat. Alkitab mengungkapkan bahwa Ia adalah Pencipta segala sesuatu---baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan (Kolose 1:16-17). 


          3. Sang Pencipta yang datang ke dunia, yang tampak sebagai manusia, tidak dikenali oleh umat-Nya sendiri! Pada hari Ia disalib, sekitar 2000 tahun lalu, para pemimpin mengejek, "Biarlah sekarang Ia menyelamatkan diri-Nya sendiri, jika Ia adalah Mesias, orang yang dipilih Allah" (Lukas 23:35). Sebagian besar orang Yahudi masih tidak mengenalinya sebagai Mesias. Bagaimana dengan yang lain? Bagi kaum mayoritas, orang Galilea ini tetap seorang asing yang tidak dikenal. Namun, akan ada saatnya semua mata akan melihat Dia dan mengenal-Nya. Jika kita mengenal-Nya hari ini, marilah kita bersukacita dan menceritakannya kepada orang lain.



Baca: Kejadian 1:1-5; Mazmur 19:1-6; Lukas 24:13-32.


Disadur dari: Sumber Hidup Praktisi Medis.

Selasa, 29 November 2016

Shalom, rekan-rekan medis yang dikasihi Tuhan Yesus.

Klinik Misi Hohidiai Kusuri Maluku Utara, sangat kekurangan tenaga dokter dan butuh 1 orang dokter selama 3 minggu (dari tanggal 27 November - 19 Desember 2016 atau tanggal 1 Desember - 19 Desember 2016). Dalam waktu 3 minggu ini, Klinik Hohidiai tidak ada dokter. Jika ada rekan-rekan yang bersedia melayani dan bermisi, bisa menghubungi Yonius (wa / sms) ke 0812 1452 6700. 

Terima kasih.

Dasar Bagi Penghargaan Diri

Jawabnya kepada-Nya: "Ah Tuhanku, dengan apakah akan kuselamatkan orang Israel? Ketahuilah, kaumku adalah yang paling kecil di antara suku Manasye dan aku pun seorang yang paling muda di antara kaum keluargaku." ---Hakim-hakim 6:15


          Aku sering merasa tidak berarti, tidak hanya di mata dunia tapi juga dalam profesiku dan di dalam gereja. Aku bukanlah dokter terbaik ataupun orang Kristen terbaik, cara hidupku jauh di bawah standar yang kuketahui. Kadang-kadang aku bertanya dapatkah orang lain melihat Kristus dalam diriku? Lalu aku melihat tokoh Alkitab seperti Gideon, yang dipesan Allah, "Pergilah dengan kekuatanmu ini." Pengelakannya, "Ah Tuhanku..." menyatakan betapa ia merasa kecil dan lemah. Ia kurang percaya, kurang berani, dan yakin bahwa ia tidak layak untuk tugas itu. Namun, sesuai tindakan Tuhan, seperti tercantum di seluruh Alkitab, Ia memilih orang yang lemah untuk menunjukan kekuatan-Nya. Sekalipun disapa sebagai "pahlawan yang gagah perkasa". Gideon takkan menjadi pahlawan dengan usahanya sendiri. Ia harus masuk ke dalam pekerjaan yang Tuhan kerjakan sebelum menjadi pemimpin militer yang berhasil.

          Sangat baik untuk mengingat bahwa Pencipta alam semesta berpihak kepada yang miskin dan yang tidak dipandang, dengan pendosa dan kaum terbuang. Dengan kehormatan yang diberikan kepada kita sebagai praktisi medis, kita jarang melihat diri kita seperti itu. Namun bila kita melihat dengan jujur di balik kacamata profesional, kita jatuh miskin dan tidak terpandang cukup cocok. Miskin rohani adalah ketidakmampuan memperoleh keselamatan atau memperbaiki kondisi spriritual kita dengan usaha sendiri---mengakui ini berarti memperoleh berkat (Matius 5:3).

          Dengan mengakui kelemahan kita kepada Pencipta kita, kita mengizinkan Dia menguatkan kita untuk melakukan pekerjaan-Nya di dunia. Tak ada dasar citra diri yang lebih besar daripada kenyataan bahwa Allah yang hidup bersedia mati bagi kita--dan hidup di dalam kita.


Baca: Hakim-hakim 6:11-16; Matius 5:3-10; 2 Korintus 12:9-10.

Disadur dari: Sumber Hidup Praktisi Medis.

Copyright 2007, Pelayanan Medis Nasional (PMdN) Perkantas

Jl. Pintu Air Raya 7, Komplek Mitra Pintu Air Blok C-5, Jakarta Pusat
Telp. (021) 3522923, 3442463-4 Fax (021) 3522170
Twitter : @MedisPerkantas
Download Majalah Samaritan Versi Digital : https://issuu.com/samaritanmag