Kamis, 20 Juli 2017

Pekerjaanku, Tuhanku?

Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku. ---Keluaran 20:3


Tidak pernah kubayangkan bahwa aku akan tidak taat pada perintah "Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku." Aku sudah Kristen selama bertahun-tahun dan senang terlibat di kegiatan gereja maupun keluarga Kristen. Tentu saja tidak ada allah lain yang mendapat tempat di dalam hidupku. Tapi apa sebenarnya definisi allah itu? Sesuatu yang bisa dianggap allah adalah makhluk-makhluk gaib yang menjadi kekuatan utama untuk menggerakkan kehidupan seseorang, sumber-sumber kenyamanan-kekuatan-upah, dan yang berkuasa menghakimi dan mengatur. Jadi, bagaimana dengan pekerjaanku? Memang pekerjaanku tidak termasuk kekuatan gaib! Selain itu, ada banyak hal yang memenuhi kriteria yang disebutkan diatas, dan sejujurnya hal-hal itu menyita sebagian besar kehidupanku.

Harus diakui, ada banyak hal yang baik di dalam pekerjaanku. Pekerjaan ini terhormat; menuntut dan mempertahankan standar moral yang tinggi, biasanya; bertujuan menolong dan menyembuhkan orang per orang maupun kelompok; berjuang dengan masalah-masalah yang muncul dari sifat manusia; di dalam pekerjaan ini terdapat hikmat yang sangat besar. Banyak orang Kristen memberikan sumbangan melalui profesi ini. Lalu apa masalahku?

Pada dasarnya, aku merasa, itu tergantung prioritasnya. Segalanya berjalan baik jika aku lebih mendahulukan kesetiaanku kepada Tuhan daripada kesetiaanku kepada pekerjaanku, jika Tuhan tetap mengontrol di dalam kehidupan profesionalku. Namun jika kehidupan profesionalku justru yang mengontrolku dan aku memujanya melebihi Tuhan, maka aku telah melanggar perintah Tuhan itu. Aku yakin, banyak orang dalam berbagai macam profesi menghadapi masalah ini. Mari kita waspada!  Kita harus terus menguji kesetiaan kita kepada Tuhan dalam doa, dengan membaca Alkitab dan memelihara persekutuan dengan orang Kristen lainnya. Berjaga-jagalah, jangan sampai Anda mengabaikan peringatan ini sehingga Anda membiarkan pekerjaan menjadi tuhan Anda.

Baca: Efesus 4:1-16



Ditulis oleh J Harold Jones dalam Sumber Hidup Praktisi Medis

Rabu, 12 Juli 2017

Pekerjaan Anda Sebagai Pelayanan

Hendaklah Tiap-tiap Orang Tinggal dalam Keadaan Seperti Pada Waktu Ia Dipanggil

"Selanjutnya hendaklah tiap-tiap orang tetap hidup seperti yang telah ditentukan Tuhan baginya dan dalam keadaan seperti waktu ia dipanggil Allah. Inilah ketetapan yang kuberikan kepada semua jemaat. 18 Kalau seorang dipanggil dalam keadaan bersunat, janganlah ia berusaha meniadakan tanda-tanda sunat itu. Dan kalau seorang dipanggil dalam keadaan tidak bersunat, janganlah ia mau bersunat. 19 Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak penting. Yang penting ialah mentaati hukum-hukum Allah. 20 Baiklah tiap-tiap orang tinggal dalam keadaan, seperti waktu ia dipanggil Allah. 21 Adakah engkau hamba waktu engkau dipanggil? Itu tidak apa-apa! Tetapi jikalau engkau mendapat kesempatan untuk dibebaskan, pergunakanlah kesempatan itu (atau: Tetapi jika engkau dapat menjadi bebas, gunakan keadaanmu sekarang). 22 Sebab seorang hamba yang dipanggil oleh Tuhan dalam pelayanan-Nya, adalah orang bebas, milik Tuhan. Demikian pula orang bebas yang dipanggil Kristus, adalah hamba-Nya. 23 Kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar. Karena itu janganlah kamu menjadi hamba manusia. 24 Saudara-saudara, hendaklah tiap-tiap orang tinggal di hadapan Allah dalam keadaan seperti pada waktu ia dipanggil." ---  1 Korintus 7:17-24.

Perhatikan ayat 17, “Hendaklah tiap-tiap orang tetap hidup seperti yang telah ditentukan Tuhan baginya dan dalam keadaan seperti waktu ia dipanggil Allah.” Lalu ayat 20, “Baiklah tiap-tiap orang tinggal dalam keadaan, seperti waktu ia dipanggil Allah.” Kemudian ayat 24, “Saudara-saudara, hendaklah tiap-tiap orang tinggal di hadapan Allah dalam keadaan seperti pada waktu ia dipanggil.” Ketiga pernyataan dari prinsip Paulus ini membagi teks itu menjadi dua bagian. Mungkin ada gunanya untuk membayangkan hal-hal ini sebagai tiga potong roti dalam sandwich dua lapis. Di antara dua bagian atas ada ayat 18 dan 19, di mana prinsip itu diterapkan pada perihal bersunat dan tidak bersunat. Di antara dua bagian bawah ada ayat 21-23, di mana prinsip itu diterapkan pada perhambaan dan kebebasan. Tetapi sebelum kita dapat memahami penerapan-penerapan ini, kita perlu menjelaskan kata kunci dalam prinsip itu sendiri.


Panggilan Jenis Apa yang Terlihat?

Kata yang muncul dalam setiap pernyataan prinsip itu dan sembilan kali seluruhnya di paragraf ini adalah kata “panggilan.” Ketika Paulus mengatakan di ayat 17, “Selanjutnya hendaklah tiap-tiap orang tetap hidup ... dalam keadaan seperti waktu ia dipanggil Allah,” dan ketika ia mengatakan di ayat 24, “Hendaklah tiap-tiap orang tinggal di hadapan Allah dalam keadaan seperti pada waktu ia dipanggil,” ia sedang merujuk kepada suatu panggilan ilahi di mana kita ditarik untuk percaya kepada Kristus. Kita sering menggunakan kata “panggilan” untuk merujuk kepada pekerjaan kita: panggilan saya adalah menjadi ibu rumah tangga; panggilan saya adalah untuk menjadi penjual barang-barang; dan lain-lain. Tetapi bukan begitu cara Paulus menggunakannya dalam delapan dari sembilan kali kata itu muncul dalam paragraf ini. Satu kali ia menggunakan kata “panggilan” dalam arti vokasional (pekerjaan), yaitu di ayat 20. Secara literal ayat itu mengatakan, “Baiklah tiap-tiap orang tinggal dalam “panggilan” (bukan keadaan), seperti waktu ia dipanggil Allah.” Kata “panggilan” di sini merujuk kepada vokasi (pekerjaan) atau posisi dalam kehidupan. Dan di tengah pekerjaan atau posisi dalam kehidupan ini, panggilan yang lain datang dari Allah. Panggilan ini adalah tarikan Roh Kudus ke dalam persekutuan dengan Kristus. Secara sangat sederhana, panggilan Allah yang datang kepada seseorang dalam vokasinya merupakan kuasa Allah untuk menobatkan jiwa melalui Injil.

Semua ini dijelaskan di 1 Korintus 1. Di pasal 1, ayat 9, Paulus mengatakan, “Allah, yang memanggil kamu kepada persekutuan dengan Anak-Nya Yesus Kristus, Tuhan kita, adalah setia.” Maka semua orang Kristen, dan hanya orang Kristen, yang dipanggil dalam arti ini. Panggilan dari Allah ini berbeda, di satu sisi, dari “panggilan” vokasional kita dan, di lain sisi, dari panggilan umum untuk bertobat yang datang kepada semua orang. Ketika Yesus berkata di Matius 22:14, “Banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih,” ia merujuk kepada panggilan Injil yang ditujukan kepada seluruh dunia, yang didengar oleh banyak orang tetapi mereka menolaknya untuk kebinasaan mereka sendiri.

Tetapi ini bukanlah panggilan yang Paulus maksudkan. Panggilan Allah yang menempatkan kita ke dalam persekutuan yang penuh kasih dan percaya dengan Yesus merupakan suatu panggilan yang kuat dan efektif yang membawa kita kepada Sang Anak (Yohanes 6:44, 65). Ini terlihat paling jelas di 1 Korintus 1:23, 24, di mana Paulus mengatakan, “Kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan, tetapi untuk mereka yang dipanggil, baik orang Yahudi, maupun orang bukan Yahudi, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah.” “Yang dipanggil” bukanlah semua orang yang mendengar khotbah, tetapi orang-orang yang menerima khotbah itu sebagai hikmat. Kita dapat menguraikan ayat-ayat itu untuk menunjukkan perbedaan antara panggilan yang umum dan panggilan yang efektif: Paulus mengatakan, “Kami memanggil setiap orang untuk percaya kepada Kristus yang disalibkan, tetapi banyak orang Yahudi menemukan panggilan ini adalah batu sandungan, dan banyak orang bukan Yahudi menemukan panggilan ini adalah kebodohan, tetapi orang-orang yang dipanggil (yaitu, secara kuat dan efektif ditarik kepada Kristus) menemukan panggilan Injil adalah kuasa dan hikmat Allah.”

Karena itu, ketika Paulus berkata di 1 Korintus 7:17, 20, dan 24 bahwa kita harus tetap tinggal dan hidup bersama dengan Allah dalam keadaan seperti pada waktu kita dipanggil, ia memaksudkan: Tetaplah dalam keadaan seperti ketika kamu bertobat, ketika kamu ditarik oleh Allah ke dalam persekutuan yang penuh kasih dan percaya dengan Anak-Nya.


Prinsip yang Diterapkan pada Orang Yahudi dan Orang Bukan Yahudi

Kini kita perlu melihat bagaimana Paulus menerapkan prinsip ini pada zamannya, dan apa artinya itu bagi kita pada zaman ini. Dalam proses itu, alasan theologis untuk itu akan muncul juga. Paulus menerapkan prinsip itu pertama-tama bukanlah untuk vokasi, tetapi untuk perihal bersunat dan tidak bersunat. Ia menerapkannya demikian: jika Anda bertobat sebagai orang bukan Yahudi, jangan mencoba untuk menjadi orang Yahudi. Jika Anda bertobat sebagai orang Yahudi, jangan mencoba untuk menjadi orang bukan Yahudi. Pada dasarnya, itulah arti dari tidak bersunat dan bersunat. Hal ini memiliki implikasi-implikasi kultural yang luas: jika Anda adalah orang kulit hitam, jangan mencoba untuk menjadi orang kulit putih; jika Anda adalah orang kulit putih, jangan mencoba untuk menjadi orang kulit hitam; jika Anda adalah orang Meksico, jangan mencoba untuk menjadi orang Amerika; jika Anda adalah orang Amerika, jangan mencoba untuk menjadi orang Meksiko.

Lalu Paulus memberikan alasan theologis untuk nasihat ini. Ayat 19 mengatakan secara literal, “Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak penting, (Yang penting ialah) mentaati hukum-hukum Allah.” Ini adalah hal yang paling menyakitkan hati yang pernah Paulus katakan kepada orang Yahudi: Sunat tidak penting. Dan jika kita memahami penerapan kulturalnya yang luas, itu menyakiti hati kita semua. Tetapi itu benar. Perhatikan bagaimana dasar pemikiran Paulus yang secara radikal berbeda adalah untuk memelihara ciri-ciri khas budaya Anda ketimbang mengikuti arus pemikiran zaman kita. Kita mengatakan, putih itu indah, hitam itu indah, merah itu indah, kuning itu indah; karena itu, jangan mencoba berganti budaya. Paulus mengatakan, putih itu tidak penting, hitam itu tidak penting, merah itu tidak penting, kuning itu tidak penting, tetapi menaati hukum-hukum Allah itu penting; karena itu, jangan mencoba untuk berganti budaya. Tinggallah di mana Anda berada dan taatilah Allah. Paulus adalah pemikir yang sangat tidak mengikuti mode, karena itu sampai selamanya ia relevan. Ia secara radikal berorientasi pada Allah. Segala sesuatu, segala sesuatu harus tunduk terhadap keutamaan Allah.

Hal ini mutlak untuk wajib dipahami agar kita tidak menciptakan suatu legalisme baru. Legalisme lama mengatakan, “Anda harus disunat untuk diselamatkan (Kisah Para Rasul 15:1). Anda harus menjadi orang kulit putih agar diakui.” Legalisme baru mengatakan, “Anda tidak boleh disunat jika Anda ingin diselamatkan. Anda tidak boleh menjadi kulit putih jika Anda ingin diterima.” Kita akan menyelewengkan ajaran Paulus dan salah menanggapi maksudnya jika kita mengambil kalimat, “Biarlah yang tidak bersunat tidak disunat” (ayat 18), dan menjadikannya suatu larangan mutlak akan adaptasi-adaptasi kultural (budaya). Paulus tidak sedang menjatuhkan hukuman penuh atas semua orang yang mengadopsi aspek-aspek dari budaya lain dan melepaskan aspek-aspek budaya mereka sendiri. Ini jelas dari fakta bahwa ia menyuruh Timotius disunat (Kisah Para Rasul 16:3), dan dari pernyataannya sendiri bahwa ia menjadi segala-galanya bagi semua orang agar ia dapat menyelamatkan beberapa orang dari antaranya (1 Korintus 9:22).

Apa yang Paulus sedang kerjakan ialah menunjukkan bahwa ketaatan kepada hukum-hukum Allah jauh lebih penting daripada ciri-ciri khas kultural apa pun, sehingga perubahan biasa dari ciri-ciri khas ini tidaklah penting bagi orang Kristen. Dengan kata lain, janganlah hal-hal: apakah Anda disunat atau tidak, atau apakah Anda kulit putih atau kulit hitam atau kulit merah atau orang dari bangsa tertentu, dijadikan persoalan besar. Tetapi sebaliknya, jadikanlah ketaatan sebagai persoalan penting; jadikan seluruh tujuan hidup Anda adalah untuk menaati hukum moral Allah. Waktu itu dan hanya waktu itulah sunat (sebagaimana Paulus implikasikan di Roma 2:25) dan ciri-ciri khas kultural lainnya menjadi indah, dalam suatu cara yang sangat sekunder dan derivatif sebagai ekspresi ketaatan iman. Pendeknya, penerapan prinsip Paulus pada ciri-ciri khas kultural adalah demikian: Jangan rewel dan jangan bermegah atas ciri khas kultural Anda sekarang; semua itu tidak penting bagi Allah dibandingkan dengan apakah Anda memberikan seluruh diri Anda, jiwa, pikiran dan tubuh, untuk menaati hukum-hukum-Nya, yang semuanya digenapi di dalam hal ini: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Roma 13:8-10; Galatia 5:14).


Prinsip yang Diterapkan pada Hamba dan Orang Bebas

Lalu Paulus beralih ke ayat 21-23 untuk menerapkan prinsipnya untuk hal apakah seseorang itu hamba atau orang bebas. Masalah terjemahan di ayat 21 sungguh berat. Kebanyakan versi modern mengatakan, “Adakah engkau hamba waktu engkau dipanggil? Itu tidak apa-apa! Tetapi jikalau engkau mendapat kesempatan untuk dibebaskan, pergunakanlah kesempatan itu.” Mungkin ini benar, tetapi saya merasa sulit untuk menerimanya, karena prinsip yang sedang ia gambarkan diekspresikan di ayat 20 sebagai “Baiklah tiap-tiap orang tinggal dalam keadaan, seperti waktu ia dipanggil Allah.” dan di ayat 24 sebagai “Hendaklah tiap-tiap orang tinggal di hadapan Allah dalam keadaan seperti pada waktu ia dipanggil.” Di antara hal-hal ini tampaknya sangat janggal untuk mengatakan, “Jika kamu dapat memperoleh kebebasanmu, lakukanlah.” Bukan hanya itu, tetapi terjemahan ini tidak berlaku adil terhadap semua kata dalam bahasa Yunani (“bahkan” dan “lebih baik”) yang muncul dalam terjemahan alternatif: “Apakah kamu dipanggil sebagai hamba? Jangan biarkan itu menjadi suatu kesusahan bagi kamu; tetapi, bahkan jika kamu dapat menjadi orang bebas, lebih baik gunakan (posisimu sekarang).” Benar-benar kontras, bagi saya ini seharusnya diekspresikan sebagai: “Jangan biarkan status hambamu membuat kamu cemas, tetapi sebaliknya gunakan itu.” Gunakan itu untuk menaati Kristus, sehingga “memuliakan ajaran Allah dan Juruselamat kita yang agung” (Titus 2:10).

Saya pikir analisis terakhir itu benar bahwa bukanlah suatu larangan mutlak untuk menerima kebebasan, kecuali kalau ayat 18 merupakan suatu larangan mutlak untuk sunat. Tetapi jika Anda menerjemahkan itu sebagai perintah untuk mencari kebebasan, maksud yang sebenarnya dari nas itu tidak jelas. Maksudnya adalah: ketika Anda dipanggil ke dalam persekutuan Kristus, Anda memperoleh serangkaian prioritas radikal baru yang berpusat pada Kristus; sedemikian sehingga jika Anda adalah seorang hamba, itu seharusnya tidak membuat Anda rewel. “Apakah Anda seorang hamba ketika dipanggil? Tidak apa-apa.” Apakah pekerjaan Anda pekerjaan yang kasar? Tidak apa-apa. Apakah itu suatu pekerjaan yang tidak dihargai setinggi profesi-profesi yang lain? Tidak apa-apa. Ini adalah pokok yang sama yang sedang Paulus buat terhadap perbedaan-perbedaan kultural seperti sunat: Apakah Anda tidak bersunat? Tidak apa-apa. Apakah Anda bersunat? Tidak apa-apa.

Paulus mungkin telah memberikan alasan theologis yang sama untuk posisi ini seperti yang telah ia berikan di ayat 19. Ia mungkin telah mengatakan, “Sebab menjadi seorang hamba atau orang bebas tidak penting. Yang penting ialah mentaati hukum-hukum Allah.” Ini benar. Tetapi Paulus memperdalam pemahaman kita dengan suatu alasan theologis yang baru. Alasan seseorang dapat mengatakan, “Tidak apa-apa,” meskipun ia adalah seorang hamba, adalah ini: ayat 22, “Sebab seorang hamba yang dipanggil oleh Tuhan dalam pelayanan-Nya, adalah orang bebas, milik Tuhan.” Dan alasan orang yang bebas itu dapat mengatakan, “Tidak apa-apa,” adalah sama: “Demikian pula orang yang dipanggil dalam keadaan bebas adalah hamba Kristus.” Saya suka memperhatikan Paulus menerapkan theologinya seperti ini. Ia sedang mengatakan bahwa di dalam Injil ada suatu penangkal bagi keputusasaan dalam pekerjaan-pekerjaan yang kasar dan suatu penangkal untuk kesombongan dalam pekerjaan-pekerjaan yang sangat dihargai. Ia melihat kepada hamba yang mungkin merasa putus asa, lalu mengatakan, “Di dalam Kristus kamu adalah orang bebas. Kamu telah dibeli dengan suatu harga. Jangan biarkan seorang pun memperhamba jiwamu. Bersukacitalah di dalam Tuhan dan berharaplah pada Dia dan kamu akan lebih bebas dari semua orang bangsawan yang cemas.” Lalu ia melihat kepada bangsawan yang bebas, lalu berkata, “Jangan menjadi sombong, karena dalam Kristus kamu adalah seorang hamba. Ada satu Orang yang memiliki otoritas atasmu, dan kamu harus rendah hati dan taat.”

Hasil dari hal ini adalah entah seseorang itu hamba atau orang bebas, janganlah hal itu menjadi sebab keputusasaannya atau keangkuhannya. Ia harus dapat mengatakan, “Tidak apa-apa.” Ia tidak boleh sombong jika ia adalah seorang dokter atau pengacara atau eksekutif, dan ia jangan mengasihani diri sendiri atau depresi jika pekerjaannya kurang dihargai masyarakat. “Maka saudara-saudara,” Paulus simpulkan di ayat 24, “Hendaklah tiap-tiap orang tinggal di hadapan Allah dalam keadaan seperti pada waktu ia dipanggil.” Di hadapan Allah! Itulah frasa yang sangat penting. Apa yang penting di dalam hidup dan dalam kehidupan kekal ialah tinggal dekat dengan Allah dan menikmati hadirat-Nya. Yang penting bukan apakah pekerjaan Anda tinggi atau rendah di mata manusia. Yang penting adalah apakah kita sedang dikuatkan dan dijadikan rendah hati di hadapan hadirat Allah.
Menempatkan kedua penerapan dari prinsip Paulus ini bersama-sama, ajaran itu tampak demikian: menaati hukum-hukum Allah (ayat 19) dan menikmati hadirat-Nya (ayat 24) jauh lebih penting daripada budaya Anda atau pekerjaan Anda, sehingga Anda seharusnya tidak merasa terdorong untuk mengubah posisi Anda. Anda jangan digerakkan dari yang satu oleh ketakutan atau keputusasaan, tidak juga dipikat ke yang lain oleh kekayaan atau keangkuhan. Anda harus mampu mengatakan kepada posisi Anda, “Tidak apa-apa. Itu bukanlah hidup saya. Hidup saya adalah menaati Allah dan menikmati hadirat-Nya.”


Empat Implikasi Praktis

Biarlah sekarang saya menyimpulkan dengan beberapa implikasi praktis. Pertama, Allah itu sangat jauh lebih peduli dengan cara Anda melakukan pekerjaan yang sekarang Anda miliki ketimbang dengan apakah Anda mendapat pekerjaan yang baru. Dalam jemaat ini, kita memiliki perawat, guru, tukang kayu, artis, sekretaris, pemegang buku, pengacara, resepsionis, akuntan, pekerja sosial, orang yang memperbaiki banyak macam hal, insinyur, manajer kantor, pelayan, tukang ledeng, penjual barang-barang, penjaga keamanan, dokter, personil militer, konselor, pegawai bank, pejabat polisi, ahli dekorasi, musisi, arsitek, pelukis, orang yang membersihkan rumah, administrator sekolah, ibu rumah tangga, misionari, pendeta, pembuat lemari, dan banyak lagi. Apa yang kita semua perlu dengar adalah bahwa yang ada pada hati Allah bukanlah apakah kita beralih dari satu pekerjaan ke pekerjaan yang lain, tetapi apakah dalam pekerjaan kita yang sekarang kita sedang menikmati hadirat Allah yang dijanjikan dan menaati hukum-hukum-Nya dalam cara kita melakukan pekerjaan kita.

Kedua, sebagaimana telah kita lihat, perintah untuk tinggal dalam panggilan di mana Anda berada ketika bertobat tidaklah mutlak. Itu tidak melarang semua perpindahan pekerjaan. Kita tahu hal ini bukan hanya karena perkecualian-perkecualian yang Paulus izinkan terhadap prinsipnya di sini 1 Korintus 7 (bdk. ayat 15), tetapi juga karena Kitab Suci menggambarkan dan menyetujui perubahan-perubahan seperti itu. Ada ketetapan untuk membebaskan budak-budak di Perjanjian Lama, dan kita juga sangat kenal dengan seorang pemungut cukai yang menjadi pengkhotbah maupun nelayan-nelayan yang menjadi misionari. Di samping ini, kita tahu bahwa ada beberapa pekerjaan yang tidak dapat Anda teruskan jika Anda mau menaati hukum-hukum Allah: misalnya, prostitusi, banyak bentuk hiburan yang tidak sopan dan bobrok, dan yang lain, di mana Anda mungkin dipaksa untuk mengeksploitasi orang.

Paulus tidak mengatakan bahwa seorang pencuri profesional atau seorang pelacur bakti di jemaat Korintus harus tetap dalam panggilan saat mereka dipanggil. Masalah di dalam jemaat Korintus adalah: Ketika kita datang kepada Kristus, apa yang harus kita tinggalkan? Dan jawaban Paulus adalah: Kamu tidak perlu meninggalkan pekerjaanmu jika kamu dapat tetap meneruskan pekerjaan itu di hadapan Allah. Kepedulian Paulus bukan untuk menyalahkan perubahan-perubahan pekerjaan, tetapi untuk mengajarkan bahwa Anda dapat memiliki pemenuhan dalam Kristus apa pun pekerjaan Anda. Ini merupakan suatu ajaran yang sangat tidak mengikuti mode dalam masyarakat Barat masa kini, karena hal ini menggentarkan ambisi duniawi. Kita perlu berpikir keras dan panjang tentang apakah apa yang kita komunikasikan kepada anak-anak kita tentang kesuksesan itu alkitabiah atau hanya pandangan duniawi. Firman Allah bagi kita semua “pencari keberhasilan” adalah demikian: Ambil semua ambisi dan dorongan yang Anda curahkan ke dalam usaha Anda mencapai kesuksesan dan sebaliknya curahkan itu ke dalam semangat rohani untuk menanamkan suatu rasa nikmat akan hadirat Allah dan ketaatan pada kehendak-Nya yang dinyatakan dalam Kitab Suci.

Ketiga, bagi Anda para muda-mudi yang belum memasuki suatu profesi, implikasi dari teks kita adalah demikian: Ketika Anda menanyakan kepada diri Anda pertanyaan: “Apakah kehendak Allah bagi hidup saya?” Anda harus memberikan jawaban yang jelas: “Kehendak-Nya adalah agar saya memelihara persekutuan yang erat dengan Dia dan memberikan diri saya untuk menaati hukum-hukum-Nya.” Kehendak Allah yang dinyatakan bagi Anda (satu-satunya kehendak yang menuntut tanggung jawab Anda dalam menaatinya) adalah pengudusan Anda (1Tesalonika 4:3), bukan vokasi Anda. Berikanlah diri Anda pada pengudusan itu dengan segenap hati Anda, dan ambillah pekerjaan apa pun yang Anda inginkan. Saya yakin bahwa, jika semua anak muda berusaha sekeras-kerasnya untuk tinggal dekat dengan Allah dan menaati perintah-perintah Kitab Suci, Allah akan menyebarkan mereka dalam dunia, tepat di mana Ia ingin mereka berpengaruh bagi Dia.

Keempat, dan akhirnya, teks ini mengimplikasikan bahwa pekerjaan yang sekarang Anda miliki, selama Anda ada di sana, merupakan penugasan Allah bagi Anda. Ayat 17 mengatakan, “Hendaklah tiap-tiap orang tetap hidup seperti yang telah ditentukan Tuhan baginya.” Allah itu berdaulat. Bukanlah kebetulan kalau Anda berada di mana Anda berada [sekarang]. “Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi TUHANlah yang menentukan arah langkahnya” (Amsal 16:9). “Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan TUHANlah yang terlaksana” (Amsal 19:21). “Undi dibuang di pangkuan, tetapi setiap keputusannya berasal dari pada TUHAN” (Amsal 16:33).

Anda berada di mana Anda berada oleh penugasan ilahi, bahkan jika Anda berada di sana karena penipuan. Pekerjaan Anda adalah penugasan pelayanan Anda, sebagaimana pekerjaan saya. Bagaimana Anda memenuhi tuntutan-tuntutan dari pekerjaan itu sama pentingnya dalam kehidupan seperti apa yang Anda lakukan [di sini] pada hari Minggu. Karena banyak di antara kita yang mungkin bermaksud memulai lembaran baru besok pagi. Marilah kita semua berdoa sebelum kita berangkat bekerja: “Allah, pergilah bersama aku hari ini dan jagalah agar aku tetap sadar akan hadirat-Mu. Kuatkan hatiku ketika aku cenderung putus asa, dan rendahkanlah hatiku ketika aku cenderung angkuh. Ya Allah, berilah aku anugerah untuk menaati hukum-hukum-Mu, yang aku tahu semua dirangkum sedemikian, mengasihi sesamaku manusia seperti aku mengasihi diriku sendiri. Amin.”


Oleh John Piper terjemahan dari Desiring God
dalam http://id.gospeltranslations.org

Selasa, 04 Juli 2017

It's All About The Heart

1 Samuel 16:1-7
Don't judge by his appearance or height. .... The Lord doesn't see things the way you see them. People judge by outward appearance, but the Lord looks at the heart (v.7).


Cardiopulmonary resuscitation (CPR) is an emergency procedure performed on people suffering cardiac arrest. When I first learned CPR 25 years ago the focus was on both chest compressions and rescue breathing. "Pump and blow" is what we dubbed it.

 Today, the focus is primarily on the heart. When you approach someone who has collapsed in cardiac distress, new research suggests that you should focus on chest compressions. Supposedly, there is a sufficient amount of oxygen in the blood to keep vital organs working for a time. What the body lacks more immediately is a pumping heart to circulate the blood.

When you think about it, all of life comes down to the condition of one's heart. Over and over again the Bible stresses that a spiritually healthy heart is vital.Throughout its pages we are told to search for, serve and love God and others with all our heart (Deuteronomy 4:29; Matthew 18:35). It tells us to hide God's Word in our heart so we won't sin against Him (Psalm 119:11). It warns us that a "deluded heart" is what misleads us into worshiping false gods (Isaiah 44:20 NIV). And it urges us to "guard" our heart "above all else, for it determines the course of your life" (Proverbs 4:23).

While people focus on outward appearance, God "looks at the heart" (1 Samuel 16:7). He knows that the real story of our lives springs from what is inside of us. It's not so much what we see on the surface. It's what we can't see below the surface that is the most important part. 

Don't get caught up in focusing on the externals of life. Don't stop there. Look inside where it counts the most.
What's the condition of your heart today? 
Next: 
What are some external things you tend to focus on too much? How can you pursue a spiritually healthier heart today?   ---- Jeff Olson @ Our Daily Journey with God, Annual Edition V.1

Kamis, 15 Juni 2017

Ketika Yesus Menyembuhkan

Lalu tersebarlah berita tentang Dia di seluruh Siria dan dibawalah kepada-Nya semua orang yang buruk keadaannya, yang menderita berbagai penyakit dan sengsara, yang kerasukan setan, yang sakit ayan dan yang lumpuh, lalu Yesus menyembuhkan mereka. ---Matius 4:24


Ketika kita melihat rincian akan penyembuhan yang Tuhan Yesus lakukan selama pelayanan-Nya di dunia, kita dapati perhatian-Nya selalu terarah pada manusia lebih daripada penyakit yang membuat mereka menderita. Memang, sering sukar melakukan diagnosis yang spesifik.

Ia menyentuh penderita kusta, yang tak seorang pun mau menyentuhnya, untuk meyakinkan mereka
akan kepedulian-Nya atas mereka. Ia mengoleskan tanah liat pada mata orang buta, kepada yang lain Ia hanya berbicara. Kepada seorang laki-laki yang diturunkan dari atap, pertama-tama Ia mengampuni dosanya sebelum Ia menunjukan kuasa-Nya atas kelumpuhan orang itu. Ketika Ia menyembuhkan laki-laki tuli, Ia menyingkirkan laki-laki itu dari keramaian dan menyentuh telinga dan lidahnya. Lalu Ia mengarahkan laki-laki tuli itu pada Sumber Kesembuhan pada saat Ia memandang ke surga. Akhirnya Ia mengucapkan sepatah kata yang dapat dengan mudah dimengerti seorang tuli dari gerak bibir: "Eph-pha-tha".

Ketika Tuhan Yesus memanggil kita pada pelayanan penyembuhan, baik dengan cara konvesional, maupun melalui alat-alat kesehatan, Ia mengajar kita dengan teladan-Nya bahwa kebutuhan-kebutuhan seseorang seringkali merupakan hal yang lebih besar daripada penyakit dan penyebabnya. Kata "penyembuhan" (atau "menyembuhkan") sering diterjemahkan dari kata bahasa Ibrani yang juga diterjemahkan dari kata bahasa Ibrani yang juga diterjemahkan dengan kata "penyelamatan". Ketika kita mempraktikan penyembuhan tubuh, kita perlu menyadari bahwa pasien kita juga butuh pemulihan batin.

Baca: Matius 11:28-30; Markus 7:32-37.


Oleh: George L Chalmers
Dalam Sumber Hidup Praktisi Medis

Jumat, 09 Juni 2017

Dapatkah kita memberi apa pun kepada Kristus?

Ketika pemazmur berkata, “Bagaimana akan kubalas kepada TUHAN segala kebajikan-Nya kepadaku?”, jawabannya adalah, “Aku akan mengangkat piala keselamatan, dan akan menyerukan nama TUHAN” (Mazmur 116:12-13). Jadi, jika kita mengartikannya menjadi Natal: Yesus memberikan diri-Nya sendiri kepada kita sebagai anugerah dan kita bertanya, “Sekarang balasan apa yang bisa saya berikan kepada Yesus atas semua berkat dari pelayanan-Nya?” Jawabnya: Mintalah pertolongan-Nya. Itulah pemberian yang Ia inginkan.

Alasan mengapa Kristus menginginkannya adalah karena Ia selalu ingin mendapatkan kemuliaan, sementara kita mendapatkan berkat. Kemuliaan datang kepada-Nya ketika kita bergantung pada-Nya dan bukannya berusaha memperkaya Dia. Jika kita datang kepada-Nya dengan membawa hadiah-hadiah — sehingga seakan-akan ia membutuhkan sesuatu — maka kita menempatkan-Nya dalam posisi orang yang kekurangan, dan kita yang memberi sokongan. Ia selalu ingin menjadi Sosok yang berkecukupan. Karena itu, satu-satunya hadiah yang bisa kita bawa kepada Yesus adalah pujian, ucapan syukur, kerinduan, dan kebutuhan.

Sebuah mata air tidak dimuliakan dengan kita mengangkat ember-ember air kotor ke atas gunung lalu menumpahkan isinya ke mata air itu. Sebaliknya, sebuah mata air — yaitu sumber air di gunung — akan dimuliakan ketika kita rebah di tepi alirannya, kemudian membenamkan wajah kita, meminumnya, lalu bangkit kembali sambil berkata, ”Ah!” Itulah yang disebut penyembahan. Kemudian kita mengambil sebuah ember, menceburkannya ke dalam mata air itu, lalu menuruni bukit menuju ke orang-orang di lembah yang tidak tahu bahwa mata air itu ada, dan kita berkata, “Cicipilah! Ini ada di atas sana, nama-Nya Yesus!” Hadiah yang diinginkan mata air itu adalah orang-orang yang minum; karena dengan demikian, mata air itu tampak berlimpah, kaya, dan berkecukupan. Dan Ia menginginkan kita seperti itu.


Bukankah kita memberi kepada Allah jika kita memberi kepada orang miskin (Matius 25:40)?
Ya, tapi apa yang kita berikan? Jelas sekarang Yesus sudah berada di surga, sudah bangkit, penuh kemenangan, dan menyediakan semua yang akan kita bawa kepada orang miskin. Pengajarannya sangat jelas, “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus” (Filipi 4:19).
Jadi, jika Anda memiliki sesuatu untuk dbawa kepada seorang tahanan, pakaian untuk dipakaikan kepada yang telanjang, minuman untuk orang yang haus, atau pelayanan untuk pengungsi, Anda mendapatkan semua itu dari Yesus. Anda tidak mungkin memperkaya Yesus. Jadi, apa yang bisa Anda berikan kepada Yesus? Anda memberi-Nya kehormatan, sanjungan, dan kemuliaan.

Ingatlah juga bahwa di dalam kutipan ayat ini Yesus menyebut orang-orang yang menerima berkat itu “saudara-Ku”. Itu artinya, jika Anda memberi kepada orang miskin, Anda memilih untuk memberkati saudara-saudara Yesus, atas biaya Anda sendiri. Anda memperlakukan mereka dengan sikap hormat karena mereka kepunyaan Yesus.

Yesus tidak membutuhkan makanan atau pakaian. Apa yang menyenangkan-Nya adalah ketika Ia menerima hormat melalui nama-Nya ketika kita berkata, “Kepada saudara-Nyalah aku akan mengasihi dan berkorban.” Jadi, selama kita berbicara tentang memberi kepada Yesus — dalam konteks Matius 25:40 — kita harus memahami bahwa apa yang sedang terjadi adalah bahwa Kristus sedang dihormati, dimuliakan, dan dihargai, karena saudara-saudara Kristuslah yang akan kita layani.


Oleh John Piper
Diterjemahkan oleh Verawaty Pakpahan dalam id.gospeltranslations.org

Jumat, 02 Juni 2017

Apa yang Begitu Penting dari Pengharapan Kristen?

Apa yang begitu penting dari pengharapan Kristen?


Apabila masa depan kita tidak dijamin dan dipuaskan oleh Tuhan, maka kita akan merasa khawatir secara berlebihan. Hal ini bisa mengakibatkan ketakutan yang melumpuhkan atau cara mengatur diri, menjadi serakah. Pada akhirnya kita akan berpikir tentang diri kita sendiri, masa depan kita, masalah-masalah kita dan potensi kita, dan hal-hal tersebut menghalangi kita untuk melakukan kasih kepada orang lain. Dengan kata lain, pengharapan adalah tempat asal kasih orang Kristen yang melibatkan pengorbanan diri. Hal ini terjadi karena kita membiarkan Tuhan memikirkan kita sehingga kita tidak sibuk melakukan banyak hal untuk memikirkan diri sendiri. Kita berkata, “Tuhan, saya hanya ingin berada di dekat orang-orang lain besok, karena saya tahu Tuhan akan ada di sana untuk saya.”

Apabila kita tidak memiliki pengharapan bahwa Kristus ada untuk kita, maka kita akan terikat pada pertahanan diri dan penguatan diri. Tetapi apabila kita menyerahkan diri kita untuk di rawat dan diperhatikan Tuhan untuk masa depan kita – baik lima menit ataupun lima abad dari sekarang – maka kita bisa terbebas dari memikirkan diri sendiri dan kita bisa mengasihi orang lain. Dengan begitu kemuliaan Tuhan akan terpancar lebih jelas, karena dengan cara itulah Dia akan tampak. Pada saat Tuhan memuaskan kita dengan mendalam sehingga kita bebas dan mampu mengasihi orang lain, maka manifestasi Tuhan akan lebih terlihat. Dan itulah yang kita inginkan lebih dari apapun.


Apakah perbedaan antara definisi Kristen tentang pengharapan dan bagaimana pengharapan itu digunakan?

Dalam kosa kata Bahasa Inggris biasanya kata 'pengharapan' dibedakan dari kata kepastian. Kita akan berkata, “Saya tidak tahu apa yang akan terjadi, tetapi saya harap hal itu terjadi.”
Jika anda membaca kata 'pengharapan' dalam Alkitab (seperti yang tertulis pada 1 Petrus 1: 13 –“...letakkanlah pengharapanmu seluruhnya atas kasih karunia yang dianugerahkan kepadamu pada waktu penyataan Yesus Kristus”, pengharapan bukanlah pemikiran yang tidak pasti. Pengharapan bukanlah kalimat seperti ini, “Saya tidak tahu apakah akan terjadi, tapi saya harap hal itu terjadi.” Hal itu sama sekali bukan hal yang dimaksud dari pengharapan Kristen.

Pengharapan Kristen adalah pada saat Tuhan sudah berjanji bahwa sesuatu akan terjadi dan anda meletakkan kepercayaan anda di dalam janji tersebut. Pengharapan Kristen adalah sebuah kepercayaan bahwa sesuatu akan terjadi dengan pasti karena Tuhan sudah menjanjikannya dan hal itu pasti terjadi.


Bagaimana kita membangun pengharapan kita di dalam Tuhan?

Pengharapan adalah bagian penting dari iman. Iman dan pengharapan, dalam pikiran saya, adalah kenyataan yang saling bersentuhan: pengharapan adalah iman tentang waktu yang akan datang. Jadi sebagian besar bagian dari iman adalah pengharapan.

Alkitab berkata, “Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.” (Roma 10:17). Hal ini mengandung pengertian bahwa pengharapan, seperti iman, juga dikuatkan oleh firman Tuhan. Pengharapan timbul dari membaca janji-janji Nya yang hebat dan berharga, dan melihat kepada Kristus yang telah menebus mereka.

Saya akan menyimpulkan seperti ini: Ayat Alkitab yang paling penting bagi saya, mungkin, adalah Roma 8:32 :
"Ia, yang tidak menyayangkan anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?"
Sekarang, bagian terakhir dari pengharapan adalah melakukannya. Tetapi hal itu didasari oleh pernyataan yang kokoh seperti batu karang bahwa “Tuhan tidak menyayangkan anak-Nya sendiri.”
Jadi, inti dari apa yang kita lihat dalam alkitab untuk membangun pengharapan kita adalah, apa yang sudah dilakukan Kristus kepada saya dalam kondisi keberdosaan saya, sehingga saya mampu mengetahui bahwa saya tidak akan menghadapi penghakiman dan penghukuman dan bahwa segala sesuatu bekerja bersama-sama untuk kebaikan saya? Dan jawabannya adalah bahwa Kristus mati untuk saya, bangkit lagi untuk saya, sehingga segala janji-janji Tuhan berlaku di dalam Dia.

Sekarang, marilah kita mengalihkan pandangan kita dari situasi-situasi yang menyerang kita. Marilah lihat kepada Kristus, marilah lihat janji-janji Nya dan peganglah erat-erat janji tersebut. Pengharapan berasal dari janji-janji Tuhan yang berakar di dalam hal-hal yang dilakukan Kristus.


Oleh John Piper 
Terjemahan Hondho Wahyu dalam id.gospeltranslations.org

Selasa, 23 Mei 2017

Hidup oleh Iman

Tetapi orang-Ku yang benar akan hidup oleh iman. – Ibrani 10:38



Iman dan seluruh proses hidup oleh iman tampaknya sangat tidak jelas dan tidak pasti bagi orang tidak percaya. Namun, itulah jalan yang ditentukan Allah bagi kita. Banyak orang, dan bahkan mungkin orang percaya, menuntut untuk hidup berdasarkan sesuatu yang lebih konkret. Suatu hari, saat aku menundukan kepala untuk berdoa di kantor, Tuhan mengingatkanku tentang Firman dari Ibrani 10, yang dikutip di atas. Bagiku, sepertinya Ia mengatakan bahwa orang Kristen tidak hidup oleh akal!

Misteri iman adalah ketidaklogisannya. Bila kita dapat menguasai seluruh artinya, maka itu bukan lagi iman. Bila kita menunggu untuk mengerti, itu juga bukan iman. Orang Kristen baru yang sudah hidup oleh iman cenderung ingin menata kembali kehidupan lamanya, yang tidak bergantung pada Tuhan. Hidup yang demikian bukanlah hidup oleh iman. Jemaat Galatia jatuh ke dalam perangkap ini dan, karenanya, dicap bodoh. Setelah memulai hidup oleh iman, mereka kemudian ingin hidup oleh akal, atau oleh hukum. Godaannya sangat nyata, karena masyarakat pun memperkuat kecenderungan kita untuk mau tahu secara tuntas sebelum melangkah.

Seorang perempuan muda merasa sangat yakin bahwa Allah memanggilnya ke pelayanan baru. Namun, sebelumnya ia ingin tahu secara rinci syarat perjanjian kerjanya dan gaji serta tunjangannya. Ketika perinciannya tidak langsung diberikan, ia menolak untuk pindah. Keputusannya bergantung pada akalnya. Banyak dari kita mungkin akan melakukan yang sama. Tapi keputusan perempuan itu tidak berdasarkan iman. Apakah ia menyia-nyiakan panggilan Tuhan? Abraham tidak pernah menerima “rincian syarat-syarat perjanjian dan tunjangan kerja”. Ia hanya menerima perintah dan janji. Ia diperintakan untuk pergi dan dijanjikan bahwa Allah akan menyertai dan memberkatinya. Apakah Anda berjalan dengan iman? Apakah Anda bersedia pergi saat Tuhan memerintahkannya, ataukah Anda ingin tahu dulu rincian persyaratan perjanjian kerja-Nya?


Baca: Galatia 3:1-14; Ibrani 11:1-3; 11-19


Oleh Tokunboh Adeyemo

Disadur dari Patterns for Life, 1996. Dalam Sumber Hidup Praktisi Medis.

Rabu, 10 Mei 2017

Tidak Perlu Khawatir

Janganlah hendaknya kamu khawatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan ucapan syukur. ---Filipi 4:6




Ada sisi lain tentang kedaulatan Tuhan. Jika Tuhan benar-benar mengatur keadaanku, dan Tuhan mengerjakan segala sesuatu menurut kehendak-Nya, dan Dia hanya ingin yang terbaik bagiku (Roma 8:28), lalu buat apa aku khawatir? Paulus berhasil sepenuhnya mengerti konsep ini dan mewujudkannya dalam hidupnya sehari-hari. Itu sebabnya mengapa ia menulis kalimat di atas. Ia berkata kepada jemaat di Filipi supaya jangan khawatir tentang apa pun juga, tapi dalam segal hal mereka harus menyatakan keinginan mereka pada Allah.

Semua ini lebih mudah dikatakan daripada dilakukan. Kenyataannya, kita memang merasa takut, khawatir, dan gelisah akan apa yang akan terjadi. Tapi Tuhan juga mengerti itu dan masih mengasihi kita. Ia tahu kemampuan kita untuk hidup tanpa khawatir dan takut, akan tumbuh perlahan dalam proses kita belajar percaya kepada-Nya. Paulus tahu tidak ada alasan untuk khawatir, karena ia telah mengalami tindakan nyata Allah memelihara dia. Bukan sekedar pemahaman intelektual, tapi pengalaman dalam hidup sehari-hari.



Mungkin seseorang yang membaca ini sedang menghadapi perubahan besar dalam hidupnya atau pekerjannya, dengan banyak faktor yang tidak diketahui. Apakah ini berarti orang itu memasuki keadaan yang tidak diketahui itu, dengan iman yang buta? Tidak, kita perlu menyerahkan kekhawatiran dan ketakutan kita kepada Tuhan, dan belajar untuk percaya kepada-Nya. Saat kita mengalami pemeliharaan-Nya, kekhawatiran kita akan berkurang. Kepercayaan kita akan bertambah dan mungkin sekali kita akan menyadari bahwa pengalaman sulit ini sebenarnya bagian dari rencana Allah untuk kita dalam menghadapi perubahan yang akan datang.


Baca: Lukas 12:22-24; 1 Petrus 5:7-11



Penulis: Jeffrey Barrows
Dalam Sumber Hidup Praktisi Medis

Copyright 2007, Pelayanan Medis Nasional (PMdN) Perkantas

Jl. Pintu Air Raya 7, Komplek Mitra Pintu Air Blok C-5, Jakarta Pusat
Telp. (021) 3522923, 3442463-4 Fax (021) 3522170
Twitter : @MedisPerkantas
Download Majalah Samaritan Versi Digital : https://issuu.com/samaritanmag