Kamis, 29 Agustus 2019

Kecanduan: Membantu Orang Lain dan Diri Kita Sendiri (Bagian 1)

Pengobatan atas banyak kecanduan, termasuk kecanduan obat-obatan, merupakan bagian dari tugas para dokter: Para pengguna obat-obatan mempunyai hak yang sama seperti pasien-pasien lainnya. Kita perlu memikirkan posisi kita sendiri berkenaan dengan perawatan dan pengobatan kepada mereka yang mungkin kecanduan akan sesuatu.


Definisi
Definisi yang mungkin paling sederhana adalah penggunaan atas hal-hal yang berhubungan dengan zat-zat kimia. Definisi ini berasal dari Klarifikasi Penyakit International (ICD). Mereka menetapkan kecanduan sebagai suatu bentuk penggunaan zat-zat psikoaktif, yang menyebabkan kerusakan terhadap kesehatan baik fisik dan mental.

Para pengguna akan selalu berusaha mencari cara untuk mendapatkan zat-zat tersebut, baik dengan cara membuat resep obat atau cara yang lain, yang mereka pikir dapat membantu mereka untuk menghindari rasa kesepian. Jadi obat-obatan atau pengadaannya, menjadi suatu hal terpenting dalam kehidupan para pengguna. 'Dimana saya dapat memperoleh...?' dan 'Bagaimana saya dapat membayar...?' merupakan pikiran-pikiran pertama yang muncul ketika baru bangun pagi.


Penyebab Kecanduan
Daftar 'kemungkinan' sangat panjang; kita dapat kecanduang hampir terhadap apa saja. Hal-hal yang berhubungan dengan tubuh kita atau keinginan-keinginan tubuh (seperti makanan, penurunan berat badan, olahraga, atau sex) dapat membuat kita kecanduan, sama halnya dengan apa yang dapat dilakukan dari keuntungan materi atau barang milik (seperti uang dan berbelanja).

Banyak orang dapat menjadi kecanduan terhadap suatu rangsangan atau risiko (seperti perjudian, percabulan, TV, game), atau kecanduan dapat berkembang dari hal-hal yang kurang nyata (seperti kasih sayang yang tidak pantas kepada seorang yang spesial, kebutuhan akan dukungan, atau kebutuhan untuk merasa bersalah).

Ada pula kemungkinan kecanduan akan upacara keagamaan, sebagai contoh, kecanduan akan 'pekerjaan' keagamaan (termasuk ketertarikan pada ilmu gaib) atau bahkan terhadap tata cara ibadah yang khusus. Semua tindakan ini dapat dilihat sebagai usaha percobaan untuk memenuhi kebutuhan normal manusia.


Keuntungan dan Kerugian Penggunaan Zat
Selama berabad-abad, bagi banyak agama, penggunaan obat-obatan telah terlihat sebagai suatu perantara bagi pengalaman rohani, suatu jalan menuju Allah (contoh: pemakaian ganja pada aliran Rastafarianisme). Juga, ganja telah digunakan dalam pengalaman-pengalaman pribadi seorang manusia biasa (contoh: 'perasaan damai luar biasa' Coleridge diperoleh dari penggunaan mandat). Contoh yang paling terkenal pada zaman modern adalah penggunaan LSD yang menimbulkan halusinasi-halusinasi.

Menggunakan beberapa zat kimia mungkin membuat orang-orang merasa lebih relax, atau membantu mereka untuk berhenti mengkhawatirkan banyak hal (yang sebaliknya hal ini berarti suatu penghalang untuk menyembah Tuhan) tetapi apakah pengalaman-pengalaman tersebut benar-benar suatu tindakan yang benar?

Para pengguna mungkin menceritakan bahwa mereka merasa lebih hidup dan penggunaan obat-obatan membuat mereka lebih dewasa secara mental, memberi pemenuhan secara pribadi dan berarti. Paul McCartney mengatakan bahwa LSD membuat mereka menjadi 'Seorang anggota masyarakat yang lebih baik, lebih jujur, lebih toleransi'. Para pengguna heroin menceritakan tentang rasa penerimaan dan penemuan akan apa yang selama ini mereka cari.

Para pengguna alkohol, obat perangsang, dan madat menceritakan tentang rasa kebersamaan yang tinggi, dan para pengguna ekstasi sering merasakan suatu perasaan yang kuat terhadap ikatan kebersamaan. Tetapi adakah perubahan yang terlihat dalam diri dan perilaku orang-orang tersebut terhadap orang lain? Sebab obat-obatan, dapat menjadikan rasa kebersamaan dan persahabatan dapat dijalankan dalam pengertian yang salah.

Banyak pengguna benar-benar perduli dan hati-hati terhadap orang lain, tetapi semua situasi tersebut justru dapat terlihat membahayakan. Rasa kebersamaan dapat berubah dengan cepat menjadi penyerangan dan kejahatan. Juga karena rasa toleransi, antara pengguna dapat saling memberi sehingga tampak rangkaian penggunaan tidak terputus.


Jenis-jenis Kecanduan
Pada mulanya jenis-jenis kecanduan semata-mata berasal dari akibat tingginya 'kelemahan moral' (dalam terminologi orang Kristen, 'dosa') akan ilmu biologi atau jenis obat-obatan.

Sebagai contoh, sebuah surat dari seorang dokter penjara yang mempertanyakan ide tentang penyalahgunaan obat-obatan sebagai suatu penyakit, dalam arti bahwa penyakit tersebut menjadi suatu 'serangan yang merugikan kesehatan'. Ia menulis "inti penyalahgunaan obat-obatan berasal dari otonomi tubuh seorang individu untuk memilih apakah menyalahgunakan obat-obatan atau tidak". Dengan menggunakan suatu jenis pengobatan, menguatkan mitos yang menyatakan bahwa kecanduan merupakan perantara yang pasif dari suatu proses penyakit; di mana kecanduan-kecanduan tersebut tidak punya kendali.

Sebaliknya, dalam tulisannya di Lancet, O'Brien membuat suatu kasus yang menarik pada ketergantungan obat-obatan yang dinyatakannya sebagai suatu penyakit yang kronis, dan ia membandingkannya dengan penyakit-penyakit kronis lainnya seperti asma, diabetes, dan hipertensi. Keempat penyakit ini sama membutuhkan perawatan yang baik, baik itu farmakologikan, fisikasosial, atau kedua-duanya. Dia membuktikan bahwa sekali penggunaan obat-obatan menuju ke arah ketergantungan, akan ada suatu kondisi yang terpengaruh. Melihat kondisi keemoat penyakit tersebut dapat dikatakan, bahwa ada suatu pertemuan antara faktor genetik, biologis, perilaku, dan lingkungan pada aetiologi mereka.

Perawatan tidak baik atas penyakit-penyakit tersebut biasanya berhubungan dengan penyakit jiwa, kurangnya dukungan keluarga, dan golongan-golongan ekonomi rendah.

Banyak penelitian telah dilakukan terhadap kasus biologis, obat-obatan, keluarga, dan perilaku dari dari pecandu atau yang memiliki kecenderungan kecanduan. Penelitian pada ketergantungan alkohol menunjukan pentingnya faktor keluarga non-genetik, dan juga beberapa bukti komponen genetik, melalui penelitian kembar dan adopsi.

Para psikiater mengenal beberapa tipe kepribadian yang saling menyerupai dari mereka yang mengalami kecanduan, seperti pengambilan resiko, pencarian sifat-sifat baru, dan kekacauan-kekacauan dalam kepribadian, anti-sosial. Penyakit-penyakit mental yang memberi kecenderungan depresi, kegelisahan (terutama penyakit ketakutan sosial) dan kadang-kadang penyakit organ otak atau schizofrenia, terlihat juga pada mereka yang kecanduan.

Ketergantungan mungkin merupakan suatu interaksi kompleks antara ciri-ciri ilmu farmasi tentang obat-obatan, karakteristik biologis, dan kepribadian dari si pengguna, serta lingkungan sosial. Sebagai dokter-dokter Kristen, kita perlu mengetahui pandangan Tuhan tentang masalah ini, dan mencari di mana letak pemikiran dan kepercayaan kita yang lebih baik dalam berbagai pandangan ini. Mungkin belum ada jawaban yang 'benar', tetapi kita perlu mempunyai suatu pandangan.


Penggunaan Zat Kimia
Dapatkah kita menggunakan zat-zat kimia dengan bijaksana? Jawaban tentang hal ini, dalam prinsip, seharusnya 'ya'. Semua dokter ingin bertanggung jawab atas keamanan setiap penulisan resep obat-obatan (beberapa di antaranya mungkin mempunyai fungsi yang ilegal, contoh: diamorfin, benzodiazepin). Yesus minum alkohol dengan bertanggung jawab dan menggunakannya dengan cara yang lain.

Tak ada satu pun yang telah Tuhan ciptakan bersifat tidak baik (Kejadian 1:31), jadi setidak-tidaknya tidak ada satupun dari obat-obatan asli yang ada bersifat tidak baik. Namun kita dipanggil untuk menyembah Allah saja (Kel 20:2,3) dan dipanggil untuk menjadi orang-orang kudus, menyatu dalam pelayanan-Nya. Kita dapat menyerupai Yesus sepanjang yang dapat kita lakukan (1 Petrus 1:16). Tentu saja seluruh tubuh kita diharapkan dapat menjadi bait yang kudus dan diberikan sebagai persembahan yang hidup kepada Allah (1 Kor 6:19; Rom 12:1).

Dalam terang Firman Tuhan ini, ketika memutuskan entah itu menggunakan obat-obatan, akan sangat bijaksana bila kita mempertimbangkan apakah zat-zat kimia dalam obat-obatan tersebut dapat mengakibatkan kecanduan; apakah kita mungkin kehilangan kendali, atau mendapatkan bahwa obat-obatan telah datang untuk menguasai kehidupan kita? Setidak-tidaknya, kebanyakan dari zat-zat kimia tertentu dapat mengakibatkan kecanduan psikologis. Juga, apakah obat-obatan membahayakan tubuh kita, dan dalam dosis berapa?

Masalah-masalah atau emosi-emosi kita dapat dilihat sebagai bagian dari pertumbuhan rohani kita, yang mendesak kita untuk berkomunikasi dengan Allah, seperti yang terlihat dalam kehidupan Elia dan Ayub. Kedua orang ini sangat menderita dan mengalami depresi yang sangat serius, namun mereka masih tetap tidak memutuskan komunikasi dengan Allah. Mereka berteriak dan marah kepada Allah, tetapi mereka tidak mengingkari emosi mereka atau dengan kata lain, mengeluarkannya. Dengan mengeluarkan masalah-masalah mereka kepada Allah, membawa mereka keluar dari depresi ke kedewasaan iman yang lebih dalam kepada Dia.

Seorang psikiater yang bijaksana telah berkata: 'jika kamu minum untuk meringankan emosi, maka hati-hatilah! Jika kamu mendapat suatu masalah yang menimbulkan emosi yang tidak menyenangkan, seperti kegelisahan, singkirkan masalah tersebut, lalu pergilah untuk minum. Tetapi jika kamu minum untuk mengeluarkan emosi, maka sangat berhati-hatilah!' Kita harus memikirkan mengapa kita menggunakan zat-zat kimia pada stamina tubuh kita yang tidak baik... dan selalu berbalik kepada Allah.

Kita diperintahkan untuk menundukan semua otoritas dan mematuhi hukum-hukum yang mereka buat (Roma 13:1), jadi kita seharusnya tidak menggunakan obat-obatan yang ilegal atau membantu orang lain untuk mendapatkannya. Allah telah menghubungkan kita dengan keluarga dan teman; di mana mereka mempunyai tugas dan tanggung jawab sendiri. Di luar dari kasih Allah dan manusia-manusia-Nya, kita seharusnya menggunakan hal-hal ini dengan iman.

Rencana Allah atas kita termasuk pekerjaan yang telah Tuhan berikan untuk dilaksanakan (Kej 2:15), jadi kita seharusnya tidak menyalahgunakan posisi kita dan harus selalu bekerja seperti kita bekerja untuk Allah dan melakukan itu semua dalam nama-Nya (Kolose 3:17, 23, 24). Diharapkan kita menjadi contoh yang baik bagi orang lain dan tidak menyesatkan mereka.

Ada beberapa pertanyaan baik untuk ditanyakan kepada diri kita sendiri ketika berpikir tentang penggunaan obat-obatan:

1. Apakah kejahatan menyangkut penggunaan obat-obatan saya secara keseluruhan?
2. Ketika dalam keadaan mabuk, apakah saya melakukan perbuatan-perbuatan kriminal (seperti mengendarai di bawah pengaruh mabuk)? Kemabukan merupakan suatu masalah tingkat atau derajat; bagaimana saya dapat mengeluarkannya dengan aman?
3. Bisakah saya mendapat 'pengaruh yang baik' tanpa mendapatkan sisi pengaruh yang berbahaya?
4. Adakah kesempatan untuk merugikan orang-orang lain atau saya sendiri secara fisik?
5. Apakah hubungan saya (yang telah Tuhan berikan) dapat dirusak oleh kecanduan saya?
6. Apakah saya masih dapat menyelesaikan kewajiban-kewajiban saya terhadap orang lain sebagaimana mestinya?
7. Apakah kemampuan saya dapat berkurang dalam hal kapasitas saya?
8. Kemungkinan saya dapat menggunakan zat kimia ini dengan bijaksana dan sebagaimana mestinya, tetapi akankah saya menuntun orang lain ke suatu situasi yang dapat melepas kendali mereka?



Bersambung: Pengobatan Kecanduan & Menanggulangi Kecanduan Non Kimia
_________________________________________________________
Sumber:
Addiction Helping Others and Ourselves, "Nucleus", Oktober 2000
Oleh Mick & Sally Leach (Keduanya spesialis GP pada kecanduan obat-obatan)/terjemahan bebas Esther T.N.
Dalam Majalah Samaritan Edisi I Tahun 2001.

Jumat, 16 Agustus 2019

Hidup di Dalam Dunia Materi

Materialisme; merupakan suatu perilaku konsumsi materi yang berpusat pada diri sendiri dan tidak memiliki kepedulian terhadap umat manusia yang lain.

Kekayaan dan kepemilikan tampaknya telah menjadi simbol kemajuan global, tidak saja di dalam masyarakat negara makmur, namun juga di dalam desa-desa miskin di dua per tiga belahan dunia ini. Orang-orang kaya dalam ketakutan menjadi miskin, sedangkan orang-orang miskin hidup dalam kecemburuan terhadap orang kaya. Orang-orang kaya menjaga kekayaan mereka dengan kekuatan militer, rintangan perdagangan yang protektif, praktek monopoli dan korupsi para polisi serta politisi. Kita melihat konsumsi pribadi yang sangat boros hidup berdampingan dengan malnutrisi, kelaparan dan kerusakan lingkungan. Kita tampak hidup di pulau kemakmuran dalam lautan kemiskinan.


Kemiskinan dalam Kemakmuran
Kemakmuran, baik di negara barat ataupun di antara para elite di dunia ketiga, selalu berhubungan erat dengan terjadinya banyak kemiskinan. Sangat ironis bahwa kaum miskin di dunia inilah yang membayar konsumsi yang berlebihan dari para kaum kaya.

Kita berpartisipasi dalam struktur yang di dalamnya terdapat rasa mementingkan diri sendiri, ketamakan dan kekerasan. Kita dapat melihat hal-hal ini setelah menemukan adanya konsumsi tidak berimbang yang sangat nyata, hutang-hutang dua per tiga belahan dunia yang sangat besar, 'brain death', eksploitasi ekonomi oleh perusahaan transnasional dan jatuhnya harga komoditi mentah. Dosa-dosa ekonomi dan politik nyata terlihat.

Namun materialisme menolak hal ini dan menyatakan bahwa suatu tatanan dunia yang adil dan damai akan dapat terwujud bila negara-negara kaya (dan orang-orang kaya di negara-negara miskin) mengadopsi gaya hidup dan pola organisasi sosial yang mengkonsumsi lebih sedikit sumber daya yang tersedia di dunia. 'Pengorbanan', dan 'keadilan' merupakan istilah-istilah yang tidak terdapat dalam kamus kaum materialis.


Masyarakat Merupakan Prioritas
Etos kaum materialis ditantang oleh pengajaran Alkitab tentang pelayanan. Semua laki-laki maupun wanita dipanggil untuk menjadi pelayan, mengelola talenta dan sumber daya yang telah diberikan Tuhan untuk kesejahteraan seluruh umat manusia.

Kita harus terlibat di dalam perkembangan dunia dan menikmati buah-buahnya. Hukum Mosaic membatasi penumpukan kekayaan pribadi untuk melindungi komunitas manusia. Sebaliknya, persaudaraan dan saling ketergantungan menetapkan adanya kepemilikan (hubungan tuan/hamba). Tuhan membenci ketamakan. Ini senantiasa tema Alkitab. Namun materialisme juga mendapat konfrontasi dari kritik Alkitab tentang pemujaan berhala. Kita memberikan nilai pada bank-note, yang sebenarnya hanyalah selembar kertas belaka. Namun segera setelah itu, uang mulai memberi nilai kepada kita. Jadi seseorang dinilai oleh besar kecil pendapatannya dan suatu bangsa dinilai dari besar kecil GNPnya. Kemudian dalam prosesnya, muncullah berbagai berhala baru. Jadi bukan lagi kita yang mengendalikan uang, namun uanglah yang mulai mengendalikan kita. Uang membuat ulang manusia, menjadi penciptanya dan membuat manusia menjadi serupa dengan gambarnya. Uang mengatur waktu kita, keluarga kita, pekerjaan kita dan kita dijadikan sebagai 'objek'. Ini benar-benar terjadi di dalam ekonomi sosialis dan kapitalis, meskipun efeknya sebenarnya jauh lebih kejam di kemudian hari.


Rival Tuhan
Kini kita dapat memahami mengapa pengajaran Yesus dan para rasul sering memperingatkan kita tentang bahaya kekayaan ini. Uang merupakan rival Tuhan dan bersaing dengan Tuhan untuk mendapatkan loyalitas total kita. Uang sering menipu kita dengan memberi rasa aman dan kemandirian yang palsu.Uang juga dapat membutakan kita dari penderitaan para tetangga kita dan dari realitas yang abadi, menjauhkan kita dari tujuan yang sejati, memutarbalikan pertimbangan Tuhan tentang nilai dan penghakiman-Nya.

Paulus mengajarkan tentang kebenaran dari tirani konsumsi. Berbagi bukan lagi merupakan beban tetapi suatu hak istimewa, mengalir keluar atau menyerahkan diri kepada Allah yang dari keabadian-Nya memberikan kasih.


Janji-Janji Palsu
Materialisme berjanji bahwa semua dapat ikut menikmati apa saja yang sebenarnya merupakan hak istimewa bagi segelintir orang. Janji ini menutupi fakta bahwa konsumsi yang berlebihan konsumsi yang berlebihan oleh suatu kelompok menjadi tanggungan bagi kelompok lainnya. Kita harus ingat bahwa kaum miskin tidak begitu membutuhkan kaum kaya dibandingkan dengan kaum kaya yang membutuhkan kaum miskin. Pandangan ini perlu diperhatikan untuk meluruskan perspektif kita yang keliru, untuk mengingatkan kita apa yang terdapat dalam perikemanusiaan yang sesungguhnya, untuk mengajar kita tentang keramahtamahan dan arti sesungguhnya dari kebebasan.


________________________________________________________
Sumber: In Touch, Living in Material World, Issue 1-1993/dr. Reni Limarga
Dalam Majalah Samaritan Edisi 1/2001.

Senin, 12 Agustus 2019

Andai Hidup Tinggal Satu Hari

Kita sudah punya perencanaan hidup, kita juga ingin hidup berkualitas, tapi dalam pelaksanaannya ada benturan-benturan, yang membuat perencanaan itu hanya berhasil 30%, misalnya. Dalam kondisi seperti ini apa yang harus kita buat?
Dalam membuat perencanaan kadangkala kita terlalu ambisius, mengawang-awang di udara. Kalau dalam evaluasi ternyata kita tidak mencapai target, bukan di situ masalahnya. Bukan soal mencapai target atau tidak, tapi pelajaran apa yang kita dapatkan dari kegagalan kita? Firman Tuhan katakan, bila orang percaya jatuh, ia tidak akan sampai tergeletak, tapi akan bangun lagi. Apa kita mampu mendapat pelajaran dari kegagalan kita? Bila iya, maka kita akan mampu membuat rencana berikutnya dengan hikmat yang lebih realistis. Biasanya kalau saya mendapat pelajaran dari kegagalan, saya tulis, lalu saya sampaikan ke Tuhan, "Ini kegagalan saya". Yang perlu kita tahu juga adalah, bagaimana membuat perencanaan dalam keadaan yang tidak pasti. Misal, kita masih menunggu ujian negara, menunggu panggilan PTT, buatlah rencana strategis. Dalam rencana strategis ini, selalu ada yang namanya rencana emergency. Makanya kita buat rencana A dan rencana B. Artinya, harus ada rencana utama, tapi kalau kemudian rencana itu tidak dapat diimplementasikan, lakukan rencana B. Jangan tunggu dan melihat saja. Mungkin Saudara dapat melakukan studi lanjutan, atau kursus yang akan memperlengkapi Saudara. Sebelum rencana itu dapat dijalankan, isi dengan kegiatan yang masih dalam konteks misi yang kita pikirkan.
Tuhan banyak berbicara tentang tujuan hidup kita sebagai orang Kristen. Kita arahkan terus pada apa yang saya sebut JOY. J itu Jesus, O itu others, dan Y itu yourself. Joy itu juga berarti sukacita. Itulah yang menjadi pegangan rasul Paulus. Dalam hidupnya ia punya misi, pengabdian kepada Yesus. Jadi, sekalipun ia bekerja ia menjadikan pekerjaannya sebagai kesaksian bagi nama Yesus.
Yang juga harus kita rencanakan dalam hidup adalah apa yang bisa kita buat untuk orang lain, untuk masyarakat, untuk bangsa dan negara ini. Berbahagialah Saudara karena menjadi seorang dokter, karena Saudara begitu dekat dengan masyarakat, hidupmu dapat berguna bagi orang lain. Ini yang dimaksud dengan O, others.
Sekarang Y, yourself. Tujuan Tuhan juga memberi kita talenta, agar kita dapat mengembangkan diri menjadi seperti Yesus. Arahkanlah hidup pada ketiga poin ini: Membawa nama Kristus, berkarya untuk orang lain, dan kembangkanlah potensi diri. Tuhan yang mempunyai rencana seperti itu untuk kita menjadi sukacita.


Tapi bagaimana bila terjadi hal-hal yang di luar rencana kita, dan hal tersebut justru merusak rencana yang sudah kita buat?
Hidup ini memang banyak uncertain-nya, tapi kalau hiupnya terlalu banyak gangguan, perlu dipertanyakan apa yang salah dalam rencananya. Kalau sebuah rencana lebih banyak gangguannya daripada realisasinya, berarti rencana tersebut kurang memperhitungkan situasi dan kondisi yang ada. Kita kurang belajar berhikmat seperti Nehemia yang membuat perencanaan dengan melihat batasan situasi dan kondisinya. Dalam membuat perencanaan kita seharusnya tahu ada keadaan darurat yang bisa masuk. Kita harus terbuka akan hal ini.
Seperti sudah saya katakan, dalam membuat perencanaan kita buat rentang waktu lima tahun ke depan. Saya maju terus untuk rentang waktu lima tahun. Bila dalam evaluasi setahun ternyata ada gangguan-gangguan, rencana yang ada kita geser. Misalnya, saya punya rencana studi lanjut, sudah saya doakan, tapi ternyata sponsornya berhenti, ya rencananya saya revisi lagi. Tapi gangguan pada rencana jangan lebih dari 50%, kalau lebih dari itu, pasti ada sesuatu yang salah. Itu saja.


Begitu berhargakah mengelola hidup?
Bila kepada Anda dikatakan, bahwa kesempatan Anda hidup hanya tinggal satu hari lagi, apa yang ingin Anda lakukan? Mungkin ada yang langsung mengamankan uangnya di bank, atau membuat wasiat. Ada yang langsung sembahyang berjam-jam. Orang jadi bingung karena ternyata masih banyak yang mau dilakukan. Berapa banyak orang akan kebingungan dengan situasi seperti ini karena ia tidak tahu hal yang menjadi prioritas dalam hidup? Ia jalani hidup tanpa mengetahui mana yang prioritas, seakan dia bagian dari dunia ini yang berputar setiap harinya, bukan dia yang menentukan ke mana dia harus hidup. Ada banyak orang di dunia ini yang hidupnya diatur justru oleh situasi di luar dirinya. Dia tidak menentukan dirinya sendiri, tapi terbawa atau dibawa oleh orang lain. Hanya sedikit orang yang hidupnya diatur atau ditentukan oleh dirinya sendiri, biasanya ini adalah para pemimpin atau orang yang berpengaruh di dunia. Dia tahu kemana di pergi, dia tahu apa yang menjadi prioritas, dia tahu sasaran hidupnya. Dia hidup dalam satu lingkungan, tapi dia menjadi trendsetter ketimbang trendfollower. Dia bukan mengikuti orang, tapi dia yang mempengaruhi orang. Kenyakan orang, meskipun ia seorang sarjana, ia hanya mengikuti sesuatu.
Jika kita ingin menjadi dokter Kristen yang profesional, kita bukan menjadi trendfollower, tapi trendsetter. Bangsa ini mau terpuruk atau tidak tergantung kita, apakah mau berperang atau tidak, kita yang menentukan arahnya. Kita yang menentukan arah hidup kita dengan pimpinan Roh Kudus, kita berpegang pada firman Tuhan. Kita bukan mengikuti dunia, tapi mempengaruhi dunia.
Kembali pada pertanyaan, apa yang sebaiknya kita lakukan dalam usia yang tinggal satu jam atau satu minggu lagi? Kalau kita memang sudah mempunyai rencana strategis, kita tidak akan kebingungan. Saya akan tulis apa yang sudah saya lakukan, dan mengucap syukur kepada Tuhan. Seperti Rasul Paulus tulis dalam II Timotius 4. Ia mengatakan sudah tiba waktunya kuakhiri hidupku, saya sudah tahu hari depanku, saya sudah di garis finish. Kita pun tinggal mengatakan demikian, Kau tahu apa yang telah kuperbuat, terima kasih untuk kesempatan yang sudah Kau berikan. Biar Tuhan yang menilaiku.
Kalau kita memang sudah melakukan sesuatu yang berarti dalam hidup, jangankan satu hari, satu jam pun bila Tuhan panggil, kita hanya mengucap syukur saja. Rasul Paulus tidak menganggap kematian sesuatu yang menyeramkan, tapi terminal untuk memasuki kehidupan yang indah.


_____________________________________________________
Sesi tanya-jawab Rully Simanjuntak dengan peserta retreat co ass pertengahan Juni 2002/LK/ICS
Dalam Majalah Samaritan Edisi 4 Tahun 2002

Selasa, 30 Juli 2019

HIDUP INI PENDEK

Jangan Biarkan Waktu Berlalu Tanpa Kesan



Seseorang harus mempunyai rencana hidup, bila tidak maka ia sedang merencanakan kegagalan. Orang yang mempunyai rencana strategis dalam hidupnya, memiliki modal yang ampuh untuk mengoptimalkan hidupnya


Kalau kita berbicara mengenai life management, kita berbicara bagaimana kesempatan yang diberikan Allah dalam hidup ini dalam suatu batasan tertentu. Tidak sepanjang zaman kita ada di dunia ini. Kita memiliki batasan waktu. Tapi bagaimana mengelola hidup dengan baik? Apakah dengan mengembangkan potensi yang ada dan menggunakannya semaksimal mungkin agar menjadi berkat bagi masyarakat, merupakan bagian dari pengelolaan waktu yang baik?

Dalam firman Tuhan, Efesus 5:15-17 dikatakan: "Karena itu, perhatikanlah dengan seksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. Sebab itu, janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan". Apa yang dimaksudkan dengan hari-hari yang jahat? Jika kita tidak menggunakan kesempatan yang Allah berikan dalam hidup ini dengan baik, maka iblis yang akan menggunakannya sehingga hidup kita tidak efektif lagi. Waktu disini berarti kesempatan. Kesempatan yang Allah berikan bagi kita untuk membuat sesuatu yang berharga, yang besar, dalam pengabdian kita kepada Tuhan. 

Saya tertarik dengan ayat 15 "Perhatikanlah dengan seksama bagaimana kamu hidup". Ya, bagaimana kita hidup? Apakah cara hidup kita sudah optimal, sudah efektif mengembangkan potensi yang ada pada kita? Atau kita hambur-hamburkan waktu, atau cuek saja, atau seperti mesin, atau berputar-putar pada diri sendiri? Firman Tuhan katakan, kita jangan seperti orang bebal, yang tidak tahu arah hidup ini, yang menjalani hidup ini tanpa arah. Hendaklah seperti orang arif, kata Firman Tuhan. Orang arif itu adalah orang bijak yang melihat hidupnya secara seksama, memperhatikan betul bagaimana tindak-tanduknya, bagaimana pekerjaannya, bagaimana kehidupan keluarganya. Dia tidak begitu saja membiarkan hidupnya. 

Kita lihat lagi ayat 17 "Sebab itu, janganlah kamu bodoh.". Disini Allah inginkan kita mengerti apa keinginan-Nya atas hidup kita. Mungkin visi kita sudah mulai gelap, sudah mulai kabur, renungkanlah, maka Allah akan memberi terang lagi atas kita. Dalam Mazmur 103:15-18 dikatakan, bahwa hidup manusia itu hanya sekejab, ini hendaknya menjadi kesadaran untuk kita agar tidak membuang-buang waktu, untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan. Mungkin ada di antara kita yang sedang frustasi melihat situasi tidak menentu di Indonesia saat ini, sehingga kita mengatakan "wait and see" saja. Kalau kita hanya diam dan menunggu, kapan berbuat sesuatu? Menurut saya, lakukan sesuatu sekarang!

Lihat Roma 12:3-8, firman Tuhan ini dapat menjadi pegangan untuk kita. Rasul Paulus katakan: Allah mengaruniakan karunia yang berbeda-beda untuk kita. Ada yang menjadi dokter gigi, dokter umum, spesialis, dan sebagainya. Seperti saya, seorang insinyur. Tugas kita berbeda-beda, panggilan kita berbeda-beda, tapi Allah ingatkan agar kita konsentrasi pada apa yang Ia karuniakan. Allah menginvestasikan sesuatu dalam diri kita, suatu potensi. Fokuslah pada potensi itu sehingga menjadi tajam. Tidak usah melihat ke orang lain. Mungkin orang lain hebat di suatu bidang, kita tidak usah memaksa diri menjadi seperti orang itu. Jadilah diri sendiri sesuai dengan panggilan kita.

Rasul Paulus sering mengatakan di dalam hidup kita ada karunia, ada potensi yang berlainan sehingga setiap orang boleh bangga dengan keunikannya, tidak usah minder. Hidup kita adalah hidup yang unik dihadapan Tuhan. Dulu, saya sering diledek karena alis saya yang nyambung atau ada wanita yang meledek saya karena dandy, kayak orang tua karena sering pakai batik, ada rasa sebal, tapi begitu saya menghayati firman Tuhan perihal keunikan, saya bangga dengan segala sesuatu yang Tuhan karuniakan dalam hidup.

Apa pun yang ada dalam hidup Saudara, itu unik di mata Tuhan. Tidak ada seorang pun yang sama persis dengan orang lainnya. Jadi berbanggalah, bersyukurlah dengan kehidupan yang diberikan Tuhan. Biarkan orang melihat kita apa adanya, yang justru perlu kita pertanyakan, bagaimana pengaruh hidup kita pada orang lain.

Dalam Matius 25:14-30, Tuhan berbicara tentang talenta. Allah sudah menginvestasikan sesuatu dalam hidup kita, dan suatu saat Ia akan meminta pertanggungjawaban kita. Karena itu, kembangkanlah potensi yang ada pada kita. Allah memberikan kita penghargaan bukan pada besar kecilnya potensi yang kita kembangkan, tetapi sejauh mana kita mengembangkan, mengoptimalkan potensi yang ada pada kita. Tuhan ingin melihat bagaimana kita mengelola hidup ini.

Tahun berlalu dengan cepat, kita tiba-tiba sudah ada di tahun 2001. Ketika saya lihat umur saya sudah 45 tahun, rasanya cepat sekali. Kalau film, satu babak sudah lewat, tinggal paruh kedua. Saya sudah memasuki babak kedua. Berbahagialah yang muda-muda karena masih punya babak satu atau dua, tetapi jangan lewatkan kesempatan, kelolalah waktu sebaik-baiknya, jangan terbawa-bawa suasana di mana kita bisa kehilangan kesempatan. Tapi ingat, sekalipun kita menjadi pribadi yang unik, bukan berarti menjadi sombong. Sadarilah, dalam hidup ini ada kekuatan dan kelemahan. Makanya kita tetap harus awas terhadap kelemahan itu.

Dalam Filipi 3:11-12 Rasul Paulus katakan, ia tidak merasa dirinya sempurna, tapi ia mengejar kesempurnaan itul. Caranya? Ia melupakan apa yang dibelakang, dan mengarahkan dirinya pada apa yang di hadapannya, ia berlari-lari pada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan surgawi dari Allah dalam Kristus. Rasul Paulus melihat hidupnya dan ia tidak merasa puas, ini penting untuk kita. Jangan sampai kita menjadi sarjana, sudah merasa cukup. Menjadi dokter, punya warung, punya istri atau suami, dan puas, sudah berhenti. Sudah merasa capek untuk melakukan hal lain. Rasul Paulus tidak seperti itu, ia tetap semangat sampai titik darah penghabisan karena ia melihat ada hadiah yang Allah sediakan baginya. Dia terus arahkan hidupnya pada Tuhan, fokus pada panggilan Allah. Kalau kita hidup seperti itu, dapat melihat misi Tuhan dalam hidup kita, maka hidup kita akan efektif, tetap bersemangat, tetap fresh.

Kadangkala orang mengatakan saya sudah tua, tidak apa-apa. Umur mungkin sudah kepala 4, mungkin tenaga sudah tidak seperti yang dulu, tapi karena tahu panggilan Allah, hidup menjadi menarik untuk diisi dengan antusias. Suatu kali saya pernah mengikuti psikotes. Intinya saya diminta menggambar. Gambar saya jelek. Istri saya yang pintar menggambar. Dalam gambar itu diminta diberikan topik. Saya tulis "Live is beautiful". Tiba waktu wawancara, pewawancara itu bingung, mengapa saya tulis hidup itu indah, padahal banyak kesusahan dan sebagainya. Saya katakan, saya sedang berlari pada satu arah. Kata dia, dia ingin juga punya hidup seperti itu. Waw, dalam hati saya. Akhirnya saya yang bersaksi pada dia, padahal harusnya dia yang wawancara saya. Itu hanya karena saya katakan, hidup ini indah. Memang seperti itu. Hidup jangan dibuat ruwet walaupun sekeliling kita ruwet. Kita harus kelola hidup ini secara konsisten, dengan baik.

Praktisnya begini. Kita tanyakan terus, apa tujuan hidup kita. Barangkali ada yang mengatakan, bila tujuan seperti ini, terasa tidak ideal. Itu tidak apa-apa. Yang penting kita mempunyai arah hidup yang benar, tidak seperti orang bebal. Kedua, perhatikan aspek hidup kita supaya jangan ada yang terlantar. Jangan melihat hidup hanya separuh-separuh, tapi lihatlah secara holistik, secara komprehensif. Saya contohkan hidup saya dalam usia saya yang demikianm dan posisi saya yang sekarang. Aspek hidup saya yang saya perhatikan adalah: satu keluarga dengan satu istri dan dua anak dengan segala permasalahan. Ini yang menjadi aspek konsentrasi saya yang pertama. Yang kedua, konsentrasi pada pekerjaan, pada karir, bagaimana saya membuat masterpiece dalam profesi saya sebagai insinyur. Jadi, tidak selamanya saya melihat pada keluarga saya atau pada pekerjaan saya yang brengsek atau sebaliknya. Konsentrasi saya yang ketiga adalah pelayanan. Tuhan memanggil saya konsisten dalam pelayanan khususnya di kepemudaan, alumni atau mahasiswa.

Saya tekankan ketiga aspek ini dalam pikiran saya. Pelayanan, pekerjaan dan keluarga. Ketiganya harus saya kelola secara holistik, tidak konsentrasi pada satu aspek saja, sedangkan yang lain jadi kedodoran. Maka saya mengoptimalkan tenaga saya, uang saya, kemampuan saya, semuanya dalam ketiga aspek ini, supaya bisa berjalan secara bersamaan.

Dalam mengoptimalkan potensi, kita harus melihat juga batasan. Saya contohkan lagi diri saya. Umur saya 45, bolehkan saya punya cita-cita, umur saya sampai 70 tahun. Berarti target usia saya 25 tahun lagi. Untuk itu saya menjaga makanan saya, empat sehat, lima sempurna. Saya joging setiap hari supaya badan fit, tidur saya jaga, paling tidak enam jam. Saya ikuti semua nasehat dokter yang benar. Buku-buku kesehatan juga saya baca. Batasan fisik ini perlu kita ketahui. Bagaimana kita mau membuat masterpiece kalau akhirnya sakit-sakitan? Kita juga mesti atur irama pelayanan, supaya kita tidak melewati batasan fisik.

Seseorang harus mempunyai rencana hidup, bila tidak, maka ia sedang merencanakan kegagalan. Orang yang mempunyai rencana strategis dalam hidupnya, memiliki modal yang ampuh untuk mengoptimalkan hidupnya. Kalau merencanakan sesuatu dalam hidup, wawasannya jangan hanya sebulan atau setahun, tapi lima tahun kedepan. Mengapa orang sering merencanakan waktu lima tahun ke depan? Kalau baru setahun, manusia itu bisa berubah dan belum menghasilkan apa-apa. Dan kalau kita sudah punya target, baik dalam pelayanan, pekerjaan, keluarga, kita harus serius, termasuk mendoakannya. Fokus kita sungguh-sungguh pada pencapaian target itu. Bila kita menemukan kesulitan, berdoa, minta pertolongan Tuhan. Kita bisa lihat Nehemia. Ia satu contoh orang yang dapat menyelesaikan satu persoalan dimulai dengan doa. Ia implementasikan apa yang ia targetkan. Jika kita juga serius mengimplementasikan apa yang kita targetkan, Allah juga akan memberkati kita.

Kita tidak hanya merencanakan, mengimplementasikan, tapi juga harus melakukan evaluasi secara periodik. Kita harus punya waktu untuk retreat pribadi. Melihat ke belakang kembali, kegagalan apa yang kita alami. Kita belajar dari kegagalan itu supaya tidak terulang lagi. Dengan cara ini, kita dapat semakin bijak. Kita menjadi bisa membuat komitmen baru pada diri sendiri, bisa kembali lebih konsentrasi. Bila kita merasa bosan dalam hidup, cuek, dan sebagainya, artinya kita membutuhkan refreshing, membutuhkan pembaharuan dalam hidup.

Jangan sampai satu minggu berlalu, satu bulan berlalu, satu tahun berlalu, tanpa kesan. Jangan biarkan waktu dalam hidup kita berlalu tanpa kesan. Hidup ini pendek. Kita harus berjiwa besar bila belum bisa mencapai target kita. Minta hikmat dari Tuhan.


_____________________________________________________
(disarikan dari ceramah Rully Simanjuntak Life Management: How to optimalize your potency
pada acara retreat co ass pertengahan Juni 2002/LK/ICS)
Dalam Majalah Samaritan Edisi 4 Tahun 2002.

Jumat, 19 Juli 2019

Sharing Christ with Colleagues

Bagaimana kita dapat membangkitkan semangat untuk bersaksi di lingkungan kerja kita? Liz Croton, preregistration house officer di Birmingham, memberikan pedomannya.


Kita harus memiliki komitmen untuk berdoa bagi rumah sakit
di mana kita bekerja, dan bagi para kolega (rekan kerja) kita.

Ini mungkin situasi yang umum Anda alami: Anda tengah bekerja keras, dan terbiasa mengalami stress sebagai dokter muda di sebuah rumah sakit (RS) yang sibuk. Tempat Anda memiliki prospek yang cerah, dan Anda memiliki teman-teman yang baik.

Kemudian tepat pukul lima sore, Anda meletakkan stethoscope dan mulai mengambil Alkitab. Hadir dalam pertemuan kelompok PA adalah aktivitas Anda berikutnya. Dalam pekerjaan, Anda merupakan dokter yang sungguh berdedikasi, namun tak seorang pun dari rekan kerja Anda yang mengetahui dedikasi Anda. Karena Anda kerap merasa, lebih baik jika mereka melihat apa yang Anda lakukan dalam kegiatan di luar pekerjaan (ekstrakurikuler) yang Anda lakukan.

Padahal, membagikan (sharing) kehidupan kita pada kolega atau rekan sejawat merupakan keindahan yang tak terlukiskan dalam sepanjang hidup kita. Namun kita sering merasa takut akan reaksi mereka yang tampak heran mendengar ucapan kita, bahkan takut dengan olokan akan muncul di tengah-tengah pembicaraan tersebut. Sehingga, jika hal itu terjadi, berkat dan kebenaran Allah yang sedang kita sampaikan, akan berlalu begitu saja. Ketakutan itu, bisa jadi karena kita juga sulit melihat relevansi antara Firman Allah dan dunia profesi. Seperti ada hambatan ketika berhadapan dengan orang-orang yang sedang di puncak karirnya, yaitu mereka yang memiliki power dan kemampuan yang menimbulkan rasa segan bagi orang lain.

Namun demikian, apakah itu berarti bahwa kita tidak dapat bersaksi dalam situasi tersebut? Memang kultur di profesi medis sangat terbiasa dengan sikap kompromis (terhadap nilai-nilai yang berlaku di masyarakat). Beranikah kita tampil berbeda? Atau sebaliknya, kita keluar saja dari lingkungan kita dan menjalani "kehidupan pribadi" sebagai orang Kristen. Jika Yesus menghadapi situasi yang sama, apa yang akan Ia lakukan? Ia tetap terlibat di tengah-tengah komunitas di mana Ia tinggal.

Pelayanan Yesus selama di dunia sering bersentuhan dengan norma-norma dan kaidah sosial yang rusak pada saat itu. Dengan kata lain, Ia memerintahkan kita untuk melakukan hal yang sama. Kita memang bukan berasal dari dunia ini, tetapi kita dipanggil untuk bekerja di dunia ini (Yohanes 15:18). Mungkin kita tidak suka dengan pilihan ini, tetapi ingatlah bahwa kita bukan hidup untuk menyenangkan hati manusia melainkan Allah (Galatia 1:10).

Anugerah keselamatan yang diberikan Allah kepada kita adalah anugerah yang dinamis. Anugerah itu harus kita bagikan kepada orang-orang yang belum memilikinya. Kedatangan Tuhan Yesus mungkin tampaknya lambat, itu terjadi supaya sebanyak mungkin orang datang untuk mengenal Dia (2 Petrus 3:9). Pada masa ini Yesus mengutus kita untuk menjadikan seluruh bangsa murid-Nya. Kita tidak boleh menundanya.


Kuasa Roh Kudus
Jika kita melihat apa yang Tuhan perintahkan untuk kita, tampaknya perintah tersebut berlebihan. Bagaimana pun kita adalah manusia biasa. Namun kita patut bersyukur karena Allah mengaruniakan kita Roh Kudus yang melakukan pekerjaan baik dan yang menolong kita di dalam kelemahan kita (Roma 8:26), serta memampukan kita dalam melakukan pekerjaan pekabaran Injil.

Sama seperti para rasul, orang-orang Kristen adalah bau yang harum di antara mereka yang belum percaya (2 Korintus 2:14-16). Kita hidup dengan tujuan yang telah diperbaharui, yakni melayani Tuhan. Pada zaman para rasul, mereka pergi ke tempat-tempat yang tidak menjanjikan kelimpahan materi, setelah mengalami pencurahan Roh Kudus di hari Pentakosta di mana pada saat itu sekitar 3000 orang bertobat oleh pemberitaan Injil yang dilakukan oleh Petrus. Kita mungkin tidak melakukan tugas-tugas kita di rumah sakit dengan lidah berapi (simbol pencurahan Roh Kudus) di kelapa kita. Tetapi kita memiliki potensi dan kuasa untuk memenangkan orang-orang yang belum percaya bagi Kristus.


Jangan Malu untuk Bersaksi
Lalu, apa yang dapat kita lakukan? Bersaksi! 'Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus' (Roma 10:17). Ingatlah bahwa di tengah-tengah kita hidup orang-orang yang tidak menyembah Tuhan (atheis). Inilah saatnya bagi kita untuk memberikan kesaksian dengan memberitakan Injil kepada mereka.

Ketika Timotius masih dilatih dalam pelayanan, mentornya, yakni Rasul Paulus mendorong Timotius supaya tidak malu untuk menyaksikan tentang Tuhan (2 Timotius 1:8). Ini merupakan nasehat yang dari seorang yang tidak pernah sedikitpun malu dalam memberitakan Firman Allah. Keberanian Paulus berkotbah langsung tentang Injil berasal dari keyakinannya yang kokoh terhadap kekuatan Allah (Roma 1:16).

Saya sedih melihat pandangan umum mengenai Alkitab, yang menganggap bahwa Alkitab hanyalah bacaan/kisah kuno berisi cerita-cerita seperti yang terdapat dengan kemampuan dalam perubahan hidup dari sebuah pertunjukan opera sabun. Kita harus siap memberitakan kuasa Roh untuk mengubah konsep yang salah ini.

Membagikan Injil kepada kolega Anda, bisa dilakukan dalam situasi apa saja. Misalnya, pada waktu makan siang, dan lain-lain. Cukup banyak orang yang hidupnya kosong dan putus asa, yang tontonannya semacam MTV. Dari data statistik, 20 persen diantaranya adalah teman-teman sebaya Anda. Seorang pria bertanya kepada saya mengapa saya tidak menggunakan obat (drugs) seperti dia. "Oh, saya ke gereja tadi malam," jawab saya. Anda dapat memanfaatkan situasi ini untuk masuk dalam percakapan mengenai Injil. Atau kesempatan di mana Anda dan para pasien tengah berada di ruang tunggu. Ini merupakan kesempatan Anda untuk memperkenalkan diri Anda dan bercerita tentang Yesus.

Timotius diminta oleh Paulus untuk memberitakan firman Tuhan baik atau tidak baik waktunya (2 Tim. 4:2). Paulus tidak ragu ketika menghadapi reaksi yang negatif dari pendengarnya. Itu justru merupakan tantangan untuk berdiam diri dan menanti sampai tiba datangnya kesempatan yang lebih tepat untuk memberitakan Injil.

Kalau membaca kitab Kisah Para Rasul kita melihat bahwa mayoritas pendengar Paulus adalah orang-orang yang bengis dan beberapa di antaranya berkali-kali keluar-masuk penjara. Namun Paulus tetap bergembira memberitakan Injil, menurutnya itu lebih baik daripada menyimpannya (I Kor. 9:2). Semangat Paulus seharusnya menjadi semangat kita juga. Jangan terlalu memperdulikan masalah-masalah yang ada. Sebaliknya, biarlah kita bangga dan gembira menyatakan kuasa dari Allah yang kita layani.


Hormati Atasan Kita
Banyak para senior/ atasan yang mengalami problema ini. Yakni, berada di posisi yang sulit dan tidak dapat menjadi teladan bagi bawahannya. Apakah kita masih dapat bersikap respek terhadap mereka atau justru menjadikan mereka sebagai objek gunjingan dan fitnah?

Saya pribadi sering mengalami kekhilafan, misalnya terlalu berkeluh-kesah terhadap pekerjaan. Salah satu keluhan saya adalah rutinitas post clinic setiap pukul 04.30, dan itu kerap saya utarakan kepada setiap orang. Padahal, sesungguhnya tidak baik melibatkan kolega yang gemar mengeluh. Sebelum Anda menyadari dampaknya, Anda sudah tertular oleh kebiasaan buruknya.

Sebagai orang Kristen, kita memiliki kuasa untuk mengubah kebiasaan buruk dan kembali pada bentukan Allah. Namun demikian, seperti yang dikatakan oleh Rasul Petrus, kita harus tunduk kepada Allah kepada semua lembaga manusia (1 Pet. 2:13). Memang beberapa orang bisa lebih bertanggung jawab dalam pekerjaannya dari pada orang lain. Namun demikian, kita tetap harus tunduk kepada atasan kita dan kita punya alasan untuk melakukan hal ini lebih besar dari orang lain.

Mengapa kita perlu tunduk kepada atasan kita? Pertama. menolak otoritas orang-orang pilihan Allah berarti memberontak terhadap Dia. Kedua, kasih dan sikap hormat adalah tanda dari sifat Kristus, dan melalui 'pengesahan' itu, kita menunjukan referensi kita kepada Allah. Menghormati atasan kita merupakan kesaksian yang penuh kuasa efektif untuk membungkam perkataan-perkataan yang tak bermanfaat dari orang-orang yang bodoh (1 Pet. 2:13).


Pelayanan dan Doa
"Saya benci dengan pekerjaan administrasi", seorang kolega bercerita kepada saya suatu hari. Dia telah melakukan pekerjaan rutin seperti mengambil darah dari pasien-pasien dan menangani registrasi. Dia mati-matian ingin menjadi seorang SHO dan dapat membanggakan pekerjaannya tersebut kepada orang lain. Menurut saya, dia telah merancang hal-hal yang tidak lazim dan melakukan beberapa beberapa cara yang sulit dimengerti.

Memang pandangan umum mengatakan bahwa lebih menyenangkan bila dekat dengan pucuk pimpinan. Dia minta saya menyetujuinya. Namun kemudian saya menjelaskan bahwa sebagai orang Kristen, saya dipanggil untuk melayani. Mungkin dia berpikir saya gila, namun saya telah belajar bagaimana Kristus pun telah berkorban dan melayani manusia.

Jika Yesus sebagai Allah, rela merendahkan diri-Nya untuk melayani manusia berdosa, sebagai pengikut-Nya kita harus melakukan hal yang sama. Tentu saja dengan tidak bersungut-sungut (Fil. 2:14), meskipun tugas itu tampaknya rendah atau tidak adil bagi kita. Kita dipanggil ke tempat dimana orang-orang ditolak, dipanggil untuk membangkitkan orang-orang yang terjatuh, dan dipanggil untuk menguatkan orang-orang yang putus asa.

Di dalam melakukan kesaksian tersebut kita harus menghayati bahwa melalui persekutuan dengan penderitaan-Nya (Fil. 3:10) dunia harus tahu bahwa kita sebagai anak-anak Allah bercahaya seperti bintang-bintang di dunia (Fil. 2:15), dan sebagai saksi bagi Allah kita.

Akhir kata, kita harus memiliki komitmen untuk berdoa bagi rumah sakit dimana kita bekerja, dan bagi para kolega (rekan sekerja) kita. 'Bagaimana Aku tidak sayang kepada kota yang besar itu?' Tuhan berkata kepada nabi Yunus. Dia, tentu saja berbicara tentang Niniwe, kota yang penuh dengan orang-orang yang belum percaya. Dengan demikian, Ia pun peduli dengan orang-orang di lingkungan di mana kita bekerja.

Berulang kali dalam suratnya, Rasul Paulus mendorong kita untuk tetap berdoa (lih. 1 Tes. 5:17). Mengapa? Doa membawa dampak yang besar. Setelah peristiwa Pentakosta, Roh Allah memenuhi para rasul, sehingga mereka bertekad untuk berdoa bagi keberanian mereka dalam memberitakan firman Tuhan. Perilaku mereka pun dihormati orang banyak melalui kebangunan yang besar di seluruh Yerusalem (Kis. 2:42-47; 4:31).

Selama kita berdoa (bagi tempat kita bekerja) kita harus melihat berkat Allah yang turun dan anugerah-Nya mulai membuka hati orang-orang bagi Injil. Buatlah kelompok dan jam doa di tempat Anda, untuk berdoa bagi pekerjaan Allah disitu. Kami mempraktekannya dengan berdoa sambil menyusuri koridor RS pada suatu hari. Allah mulai membuka jalan bagi pemberitaan kami, di antaranya melalui penyebaran literatur-literatur Kristen yang membangkitkan rasa ingin tahu mereka.


Over to You
Bukti atau dampak yang nyata dari kesaksian kita kepada kolega kita adalah bahwa Kristus yang kita beritakan dapat mempengaruhi kehidupan mereka. Kita harus menerima panggilan Allah, 'tenggelam' dalam Firman-Nya dan berani untuk berbeda dengan yang lain! Ada banyak orang yang tidak pernah mendengar Injil. Atau kalaupun ada, itu hanya sebagaian alternatif saja, yang bahkan kadang menganggap hal tersebut sebagai hal yang tidak relevan dengan kehidupan. Kita akan bergaul dengan banyak orang seperti ini di dalam perjalanan karir kita di dunia medis. Janganlah takut menggunakan kesempatan-kesempatan yang ada untuk menjadikan Allah kita dikenal oleh mereka.


_______________________________________________________________
Oleh Liz Croton (Nucleus, Juli 2000)/Erna M.
Dalam Majalah Samaritan Edisi 4 Tahun 2002

Selasa, 02 Juli 2019

Di Dalam Engkau Kutemukan Segalanya

(Eksposisi Pengkhotbah 2:20-26)

"Kesia-siaan belaka..., segala sesuatu adalah sia-sia", nada putus asakah yang kita rasakan dalam kalimat ini? Jika Anda berkata "ya", Anda tidak sendiri. Itulah kesan yang banyak orang rasakan ketika membaca kitab Pengkhotbah (nama asli kitab ini: Qohelet). Tetapi sesungguhnya Sang Pengkhotbah telah membuat terobosan yang sangat mendalam bagaimana manusia melihat dunia ini dan segala aktivitas di dalamnya.

Sungguh, proklamasi Pengkhotbah di awal kitabnya ibarat mercu suar yang memberi arah yang benar kepada pelaut di lautan kehidupan yang gelap dan terancam karang tajam yang siap merobek perahu kehidupan mereka. Kalimat "kesia-siaan..., segala sesuatu adalah sia-sia," bukanlah ungkapan keraguan atau ketidakpercayaan tetapi justru itulah iman. Pernyataan iman pengkhotbah didukung oleh sebuah penyelidikan total melibatkan seluruh bagian kemanusiaan pengkhotbah: panca indera (2:3, 10), perasaan (2:1-2). ambisi (2:4-9), kehendak (2:11), hasrat (1:13), dan pikiran (2:9).

Mari kita melihat lebih jauh pemikiran Pengkhotbah di 2 pasal pertama kitabnya. Di dalam pasal 1:3-11, kita melihat pernyataan Pengkhotbah, bahwa dunia ini menjemukan, manusia tidak pernah puas. Hal yang sudah dikatakan baru ternyata dulu sudah ada. Pernyataan ini lahir setelah Pengkhotbah mencoba mencari dari segala macam hal yang dikatakan atau dipikirkan manusia yang dapat memberi kepuasan dan menjawab segala pertanyaan manusia. Bahkan ia melakukan hal-hal untuk pencariannya yang melampaui apa yang dipikirkan dan dibayangkan manusia lain di zamannya.

Pengkhotbah memulai pencariannya dengan meneliti hikmat itu sendiri (1:13). Dengan hikmat itu ia ingin mengetahui rahasia-rahasia di sekitarnya. Tetapi ternyata ia mendapati bahwa itu adalah usaha menjaring angin. "Yang bengkok tidak dapat diluruskan, yang tidak ada tidak dapat dihitung" (1:15) ungkapan inilah yang mewakili pencarian pengkhotbah melalui hikmat.

Lalu Pengkhotbah mengalihkan perhatiannya, "Ah...., mungkin di dalam sukacita dan tertawa," tetapi ternyata itu juga bukan (2:1-2). Atau anggur yang dapat membawaku berilusi atau dalam kebebalan seperti yang dilakukan oleh manusia di dunia ini, tidak juga. Atau di dalam prestasi kerja yang tinggi dan mengagumkan misalnya bangunan yang besar, pertanian, taman yang indah, beternak, harta kekayaan yang banyak. Atau menikmati seni yang indah seperti mendengarkan para penyanyi dan lagu terbaik. Atau memiliki istri dan gundik yang banyak. Atau melakukan semua keinginan hati tanpa ada yang menghalangi. Prestasi yang diperoleh Pengkhotbah dengan semua eksperimennya itu pasti sangat mencengangkan orang di sekitarnya. Dalam pikiran orang yang tidak sedalam Pengkhotbah tentu tidak akan disangkali bahwa ia adalah "orang berhasil". Tetapi ternyata semua itu bagi Pengkhotbah adalah kesia-siaan belaka dan usaha menjaring angin. Kok bisa ya....?

Kemudian ia melihat ke belakang kepada segala hal yang telah ia pikirkan, ia bayangkan, ia lakukan dan ia alami dalam pencariannya, tetapi tetap gelap. Timbullah perasaan benci melihat semua itu (2:18). "Semua kerja kerasku pada saat nanti akan menjadi warisan. Apakah warisan ini akan diurus baik-baik. Atau jangan-jangan orang yang mewarisi adalah orang boros dan tidak menghargai segala kerja kerasku ini. Wah..., sia-sia dong aku lakukan semua ini. Aduh....!" Kekuatiran Pengkhotbah adalah hal konkrit yang tidak hanya terjadi di zamannya tetapi sampai saat ini pun. Bagaimana perusahaan-perusahaan keluarga yang besar mengalami kemunduran di generasi kedua dan mengalami kehancuran di generasi ketiga.

Apakah faedahnya yang diperoleh manusia dari segala usaha yang dilakukannya dengan jerih payah di bawah matahari dan dari keinginan hatinya? Bahkan seluruh hidupnya penuh kesedihan dan pekerjaannya penuh kesusahan hati, bahkan pada malam hari hatinya tidak tenteram. Inipun sia-sia! (2:22-23). Sungguh ini sebuah tragedi. Seseorang pernah berkata, "Apakah yang paling berharga dalam dunia kerja? Ketika kita dapat mengerjakan pekerjaan yang kita cintai? Mendapatkan uang dan fasilitas yang banyak yang dapat membeli sukacita?" Tetapi pernyataan Pengkhotbah diatas mengkounter pendapat ini. Melakukan pekerjaan yang sesuai keinginan hati pun bukan jaminan sukacita sebaliknya hidup dipenuhi oleh kesedihan dan kesusahan hati.

Setelah pengembaraan yang panjang dan penuh dengan eksperimen Pengkhotbah sampai di titik keputusasaan, "Dengan demikian aku mulai putus asa terhadap segala usaha yang kulakukan dengan jerih payah dibawah matahari". Istilah "dibawah matahari adalah ungkapan dari sebuah perspektif Non-Tuhan (Derek Tidball, Menjaring Angin, 40). Dengan kata lain Pengkhotbah menyimpulkan bahwa tidak ada kepuasan dan sukacita di luar Tuhan.

Keputusasaan Pengkhotbah dalam pencarian di luar Tuhan menuntunnya kembali ke hal yang paling mendasar: "Tidak ada yang lebih baik bagi manusia dari pada makan dan minum dan bersenang-senang dalam jerih payahnya. Aku menyadari bahwa inipun dari tangan Allah. Karena siapakah dapat merasakan kenikmatan di luar Dia1” (24-25). Pernyataan ini menjawab bahwa kepuasan dan kenikmatan tidak berasal dari keinginan hati manusia. Sebab hati manusia bisa salah bahkan hati manusia sesungguhnya sangat licik (Yer 17:9). Ketika kita berkata: "Aku senang sekali pekerjaan ini", mungkin betul itu lahir dari keinginan hati kita yang dalam tetapi apakah motivasi kita mengingininya? Apakah uang, fasilitas, ringannya pekerjaan, menantangnya pekerjaan, dll? Pertanyaan yang paling mendasar dan harus ditanyakan pertama kali, "Tuhan, dimanakah tempatku menurut-Mu?" Di sini kita berjumpa dengan sebuah kebenaran, bahwa uanng, fasilitas, berat-ringan pekerjaan, tantangan, dan sebagainya bukan penentu kenikmatan dan kepuasan. Yang menentukan adalah Allah berkehendak atau tidak.

Kebenaran ini ditegaskan di ayat selanjutnya, "Karena kepada orang yang dikenan-Nya Ia mengaruniakan hikmat, pengetahuan dan kesukaan tetapi orang berdosa ditegaskan-Nya untuk menghimpun dan menimbun sesuatu yang kemudian harus diberikan kepada orang yang dikenan Allah." Di sini kita bertemu dengan penegasan Pengkhotbah bahwa segala pencariannya akan kepuasan tidak ditemukan dan ditentukan di dalam hikmat manusia (ilmu pengetahuan dan teknologi), bukan di dalam kesenangan (gaya hidup hedonisme dan materialisme), bukan juga sistem-sistem nilai tradisional (adat, agama) maupun kerja keras berjerih lelah (bekerja 14-18 jam sehari). Tidak berarti bahwa hal-hal diatas adalah salah dan diabaikan. Sekali lagi tidak! Yang ditegaskan bahwa semua itu bukan sumber dan penentu kepuasan dan kenikmatan hidup.

Dengan jelas Pengkhotbah berkata yang menentukan adalah apakah Allah berkenan kepada manusia itu atau tidak2. Kepada manusia seperti apakah Allah berkenan? Kepada manusia yang beriman kepada Yesus Kristus (Ibr 11:6), orang baik (Ams 12:2), berlaku setia (Ams 12:22), berkata benar, tidak memandang hina sesama yang terpinggirkan, takut akan Tuhan (Mzm 15).

Sekarang Pengkhotbah mengikursertakan Tuhan dalam pencariannya. Dia sampai ke titik di mana ia dapat berkata kepuasan adalah anugerah Tuhan yang kita terima terlepas dari keadaan lahiriah kita. Tanpa itu hidup ini seperti kutukan. Tetapi bagi yang percaya mereka dapat menikmati hidup dengan sepenuhnya.

Setelah membahas panjang lebar tentang perikop ini sampailah kita pada suatu hal yang sangat menentukan. Dalam pencarian kita akan kebahagiaan, kepuasan dan kenikmatan apakah yang menentukan semua itu? Gaji yang tinggi, kesenangan dan kemudahan dari fasilitas dan sebagainya yang semuanya itu dilakukan dalam semangat menggeser bahkan meniadakan keberadaan Tuhan dari hidup kita?

Ataukah memilih untuk menyenangkan Tuhan dengan mancari dan menaati kehendak-Nya di mana di dalam-Nya kita menemukan arti, tujuan dan serta kepuasan hidup dengan hati yang berlimpah syukur? Walaupun dipastikan bukan tanpa tantangan, kekecewaan atau bahkan "kegagalan", tetapi dapat dipastikan juga Tuhan menyertai bahkan di dalam keadaan-keadaan yang paling sulit sekalipun. 

Apakah tantangan terbesar bagi profesionalisme Kristen bahkan bagi semua orang Kristen masa kini? Berkata "CUKUP!" Kristus telah memberi segala sesuatu yang kita perlukan bahkan untuk hidup yang berkelimpahan. Bahkan Ia memberi nyawa-Nya bagi kita tidakkah Ia sanggup memberikan yang lain juga. Apakah yang paling dirindukan-Nya dari umat tebusan-Nya? Senantiasa memandang kepada wajah-Nya, mencari dan menaati kehendak-Nya dalam seluruh keberadaan hidup umat-Nya. Karena di dalam melakukan semua itu di sanalah manusia menemukan dan menikmati kepuasan hidup yang sejati. 

Akhirnya izinkan saya menantang kita semua, "Apakah engkau mau berkata dan menghidupi sebuah gaya hidup: TUHAN, Engkau cukup bagiku!"


Buku Referensi:
- Derek Kidner, Pengkhotbah, Jakarta: YKBK, 1997.
- Derek Tidball, Menjaring Angin, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1992.
- Roland Murphy, WBC 23a: Ecclesiastes, Dallas: Word, 1992.


_____________________________________________________________
Oleh: Ferry Alexander Pasang
Dalam Majalah Samaritan Edisi 4 Tahun 2002.

Senin, 03 Juni 2019

... 38 Tahun ...

"Di situ ada seorang yang sudah tiga puluh delapan tahun lamanya sakit." (Yohanes 5:5)

Sepintas membaca ayat di atas, terasa tidak ada yang istimewa, ada apa dengan angka tiga puluh delapan tahun? Ah, itu angka yang biasa. Betul, sesungguhnya itu angka yang biasa, tidak memiliki makna apa-apa. Tetapi jika kita mau melihat lebih jauh keberadaan orang yang sakit dalam jangka waktu selama tiga puluh delapan tahun, ditambah dengan keberadaannya di serambi kolam Bethesda yang memiliki daya kesembuhan, penyembuhan yang dilakukan oleh Yesus dan sekitar protes yang dilakukan orang-orang Yahudi, barulah kita akan melihat makna yang amat dalam dari keseluruhan rangkaian kasus tersebut.


Penderitaan-Penderitaannya
Tidak diketahui persis berapa usia orang tersebut, hanya ada data bahwa ia telah menderita sakit (kemungkinan besar lumpuh) selama tiga puluh delapan tahun. Jika ia sakit sejak lahir maka ia akan berusia tiga puluh delapan tahun saat laporan ini ditulis Yohanes. Tetapi jika ia sakit pada saat ia mencapai usia tertentu, maka usianya akan jauh lebih tua dari penyakit yang dideritanya. Secara umum orang seusia ini telah menikah dan memiliki keluarga, menjadi seorang ayah dari seorang anak atau lebih, yang barangkali sudah duduk di sekolah dasar. Dalam bidang pekerjaan seukuran usia tersebut ada pada usia yang sangat produktif, mungkin saja jabatannya adalah manajer atau kepala puskesmas atau malah kepala rumah sakit. Bahkan bisa lebih dari semua ini, jika melihat usia Luther 34 tahun yang telah mampu mereformasi gereja saat menempel dalil-dalilnya di pintu gereja Wittenberg atau Calvin yang telah berhasil menerbitkan Institutionya saat berusia 26 tahun. Maka sangat mungkin jika orang ini dalam keadaan sehat ia akan mencapai prestasi yang terbaik dalam hidupnya.

Dalam pemandangan saya, dan barangkali banyak juga orang setuju, bahwa menderita sakit dalam keadaan yang begitu lama pasti merasakan penderitaan yang amat dalam. Taruhlah diri saya sebagai contoh, saya pernah menderita hepatitis. Nyaris satu setengah bulan saya harus bedrest, hal inipun sudah saya rasakan amat lama. Bagi orang ini setidaknya ada dua penderitaan, yaitu (1) Penyakitnya, yang berdampak pada banyak aspek dalam hidupnya, (2) ketidakpedulian orang sekitarnya, sehingga ia tetap berada dalam penyakitnya. Memahami lebih jauh, marilah mencoba masuk ke dalamnya:

Bethesda adalah kolam yang memiliki lima serambi, gambarannya cukup sederhana saja yaitu ada serambi pada empat sisi kolam tersebut ditambah satu serambi di tengah kolam yang memisahkan kolam tersebut menjadi dua, serambi inilah yang disebut sebagai serambi kelima. Orang yang sakit ini ada di dalam serambi ini. Berapa lama ia ada di tepian kolam tersebut tidak diketahui. Kemampuan kolam tersebut untuk menyembuhkan jika sewaktu-waktu malaikat turun dan menggoncangkan airnya telah memberikan pengharapan kesembuhan bagi banyak orang yang menderita sakit. Tak terkecuali orang ini, ia memiliki pengharapan untuk sembuh.

Tetapi kemudian faktanya adalah: ia selalu terlambat. Atau sama sekali tidak mampu untuk masuk ke dalam kolam tersebut, hal inilah yang perlu kita telusuri lebih jauh. Kemana orang-orang banyak yang sebelumnya sakit dan telah mendapat kesembuhan? Di mana keluarga dia? Di mana perhatian kemanusiaan orang-orang Yahudi yang lalu lalang di gerbang dekat kolam tersebut, yang memberikan protes pada saat orang ini mengalami kesembuhan dan mengangkat tilamnya?


Membelokkan Isu
Di sinilah terkuak permasalahannya. Ketidakadaan orang-orang yang telah mengalami kesembuhan dari kolam tersebut untuk menolong orang yang menderita ini telah memberikan gambaran egoisme manusia dalam menjalani hidupnya. Bisa saja hal ini disebabkan persaingan untuk segera masuk ke dalam kolam, sehingga orang yang ada di tepian kolam bukan lagi dilihat sebagai orang yang senasib dengan dirinya, tetapi menjadi saingan bagi dirinya. Jika mental ini yang ada, wajar saja akhirnya ketika kesembuhan telah diperolehnya, maka segera mereka meninggalkan tempat itu dengan segala pikiran "senang" akan kemampuan mereka. Barangkali di rumahnya, dengan bangganya segera ia bertutur tentang keberhasilannya mendahului "lawannya", menghalanginya, dan masuknya ia ke kolam, lalu sembuh.

Di mana keluarganya? Yohanes tidak memberikan catatan apapun tentang keluarganya. Sangat disayangkan jika ia memiliki keluarga tetapi tidak ada satu orangpun mau menolongnya. Padahal itulah yang diperlukan (ayat 7). Tetapi jika ia tidak memiliki keluarga, maka sekarang lengkaplah penderitaannya karena orang-orang Yahudi yang hilir mudik tidak memperdulikannya, meski tiga puluh delapan tahun telah menderita sakit. Di mana rasa iba mereka itu? Lebih menarik lagi ketika orang ini telah sembuh dan taat pada Yesus untuk mengangkat tilamnya, orang-orang Yahudi memberikan protes yang sangat keras, karena hal ini telah melanggar hukum. Mereka lebih patuh pada hukum yang membelenggu daripada kasih yang membebaskan.

Isunya kemudian berbelok, isu kemanusiaan berupa pertolongan yang diperlukan orang ini, telah digeser pada hukum yang membelengu orang ini, bahkan menyingkirkan pada penguasa hukum tersebut yaitu Yesus sendiri. Mental demikian telah menjadi masalah yang besar dan merata dalam sepanjang sejarah kehidupan manusia. Isu-isu kemanusiaan diplintir pada isu politiki, hukum agama dan seterusnya.


Kembali Melihat Manusia
Lain halnya dengan pemandangan Yesus, setelah ia tahu bahwa orang ini telah sakit selama tiga puluh delapan tahun, ia memerlukan untuk menegor dan menyembuhkannya. Sebuah kontras yang nyata, usia Yesus saat itu tidak lebih lama dari orang ini menderita penyakitnya. Ia melihat peremehan dari orang disekitarnya, ketidakpedulian, persaingan dan entah apalagi yang bisa diruntutkan.

Mata hatinya telah membawa kepada keadaan manusia yang sebenarnya. Langkah pertama adalah: Pertanyaan ..."maukah engkau sembuh?" ... telah mengubah prinsip pengharapan pada kesembuhan kolam tersebut, beralih pada kesembuhan pada Tuhan Yesus, karena Dia yang akhirnya menyembuhkan, bukan kolam itu. Dalam konteks itu, tidak diperlukan lagi pertolongan yang diharapkan dari orang-orang sekitarnya. Ketidakpedulian pada manusia telah dipotong oleh Yesus. Kedua, ..."janganlah berbuat dosa lagi"... telah memberikan pengajaran kebenaran yang hakiki yang diperlukan orang ini.

Inilah sebagian kecil saja pengajaran kebenaran dari kisah ini. Yesus telah memberikan perhatiannya yang sangat lengkap kepada manusia, mematahkan ironis yang ada, di mana seseorang yang 38 tahun lamanya sakit, dan tak ada seorangpun yang menolongnya. Ia menolong dan menyembuhkannya. Bagaimana dengan kita, di manakan posisi kita saat ini?


_______________________________________________________
Oleh Yohan Deretah
Dalam Majalah Samaritan Edisi 4 Tahun 2002

Rabu, 08 Mei 2019

Ingin Khawatir? Cari Materi Sebanyak-banyaknya (Matius 6:25-34)

Apakah salah menjadi kaya? Tidak. Jika masih punya keinginan untuk kaya berarti masih normal. Yang salah bukan keinginan untuk kaya, melainkan cara memperoleh kekayaan. Jika sudah kaya apakah kita mampu bersyukur dengan kekayaan yang kita miliki? Apakah kekayaan malah membuat kita lupa diri? Apakah orang lain mampu bersyukur melihat kita kaya? Apakah kekayaan kita malah menjadi kutuk bagi orang lain? Pertanyaan mendasar adalah apakah hidup ini hanya karena materi dan untuk materi? Apakah orang Kristen hidup hanya untuk makan, minum dan pakaian? Semua manusia perlu makan, minum dan pakaian. Manusia bekerja untuk makan, minum dan pakaian. Makan, minum dan pakaian adalah yang dikhawatirkan manusia. Kita bekerja keras setiap hari untuk apa? Untuk makan, minum dan pakaian. Untuk hidup perlu makanan, minuman dan pakaian. Kita tidak dapat hidup bila tidak makan, minum dan memakai pakaian. Tetapi jika hanya ini yang menjadi tujuan hidup, maka khawatir akan menjadi bagian hidup ini. Jika ingin hidup khawatir maka jadikanlah makan, minum dan pakaian sebagai tujuan hidup. 

Tidak dapat disangkal bahwa manusia perlu makan, minum dan pakaian. Tetapi bila kebutuhan ini tidak dipenuhi maka ia akan merasa terancam dan tidak aman sehingga akibatnya selalu khawatir. Jika dengan khawatir kita mengumpulkan kekayaan, jangan heran jika kita tidak mampu bersyukur. Jangankan bersyukur, menikmati kekayaan yang diperoleh dengan susah payah saja tidak mampu. Khawatir membuat manusia menjadi serakah. Khawatir merupakan sebab mengapa banyak manusia menjadikan materi sebagai tujuan hidup. Khawatir menyebabkan manusia lupa diri dan lupa orang lain. Khawatir menyebabkan manusia tidak segan-segan mengorbankan orang lain, bahkan dirinya sendiri.

Dalam teks Matius 6:25-34 terlihat bahwa istilah khawatir sangat dominan. Kata khawatir muncul di ayat 25, 27, 28, 31, 34. Ayat 25 berbicara mengenai khawatir tentang makanan, minuman, dan pakaian. Ayat 27 mengungkapkan bahwa khawatir tidak memperpanjang umur. Ayat 28 tentang khawatir mengenai pakaian. Ayat 31 menyatakan khawatir sebagai penyakit orang yang tidak mengenal Allah. Ayat 34 berbicara mengenai khawatir tentang masa depan.


Mengapa Manusia Khawatir?
Ada beberapa alasan yang menyebabkan seseorang khawatir. Pertama, prioritas hidup yang salah. Makan, minum dan pakaian dijadikan prioritas hidup. Kita tidak menghargai hidup. Kita hanya melihat perut dan tubuh. Bukankah hidup lebih penting dari perut dan tubuh (ayat 25)? Kalau hanya ini yang menjadi tujuan hidup maka jangan heran jika manusia tega mengorbankan hidup orang lain. Setelah makan, minum dan pakaian terpenuhi, lantas tujuan hidup apa lagi? Biasanya orang tidak tahu. Maka manusia menumpuk materi karena tidak tahu prioritas hidup.

Kedua, tidak sadar bahwa manusia lebih berharga dari binatang dan alam (ayat 28). Manusia memandang dirinya rendah sekali.

Ketiga, kurang percaya pada Allah (ayat 30). Artinya tidak mau bergantung sepenuhnya kepada Allah. Merasa bahwa Allah tidak mampu menolong persoalan hidup. Allah hanya menolong untuk masalah-masalah besar. Persoalan hidup yang kecil-kecil tidak perlu dibawa doa kepada Allah.

Keempat, tidak mengenal Allah (ayat 32). Sebelumnya dalam ayat 24 telah ditegaskan bahwa manusia hanya ada dua pilihan. Menyembah Allah atau menyembah mamon/uang. Manusia tidak dapay menyembah keduanya. Hari minggu menyembah Tuhan, namun hari Senin hingga Sabtu menyembah uang. Harus memilih salah satunya. Tidak mengenal Allah berarti menyembah uang. Menempatkan uang sebagai tuhan. Melihat dunia ini dengan kacamata uang. Melihat sesama manusia dengan kacamata uang. Uang menjadi tuhan.

Khawatir membuat manusia menjadi serakah. Khawatir merupakan sebab mengapa banyak manusia menjadikan materi sebagai tujuan hidup.

Jika sakit perut, makan obat sembuh. Jika badan demam, makan obat sembuh. Tetapi jika khawatir, apa obatnya? Ada dua jenis obatnya. Keduanya saling berkaitan. Pertama, mengenal Allah sebagai Bapa. Kedua, menjadikan Allah sebagai Raja dalam hidup.


Memiliki Relasi dengan Bapa
Semua yang dikhawatirkan manusia disediakan oleh Bapa. Jangankan manusia, burung-burung pun diberi makan dan minum oleh Bapa di surga. Lihat ayat 32 'akan tetapi Bapaku yang di surga tahu bahwa kamu memerlukan semuanya itu'. Istilah yang penting adalah 'Bapamu' yang muncul dalam ayat 26, 32. Tidak dikatakan Bapa mereka atau Bapanya. Tetapi Bapa-mu. Ada relasi yang erat dan mesra dan intim. Jika kita tidak mengenal Allah sebagai Bapa-ku, maka tidak heran jika khawatir terus. Allah adalah Bapaku. Luar biasa! Allah Pencipta alam semesta kita sapa dan panggil sebagai Bapaku.

Allah Bapa hanya dapat dikenal melalui Yesus Kristus. Jika ingin mengenal Bapa dan memiliki relasi dengan-Nya, maka kita harus datang kepada Tuhan Yesus. Hanya di dalam dan melalui Tuhan Yesus kita mengenal Allah sebagai Bapa. Jika menyembah materi sebagai tuhan maka akibatnya selalu khawatir. Sebaliknya jika menyembah Bapa, maka khawatir tidak perlu ada. Inilah maksud Tuhan Yesus dengan frasa 'Karena itu' dalam ayat 25.

Hidup ini lebih dari segalanya. Lebih berharga dari makanan, minuman dan pakaian. Jika Allah sangat memperhatikan hidup, apakah Ia tidak memperhatikan kebutuhan hidup seperti makanan, minuman dan pakaian? Mengapa harus mengorbankan orang lain untuk semua kebutuhan hidup yang telah disediakan Bapa?


Mencari kerajaan-Nya dan kebenaran-Nya
Orang yang tidak mengenal Allah, orang yang menyembah mamon, yang menjadikan uang sebagai tuhan hanya mencari makanan, minuman dan pakaian (ayat 31). Inilah tujuan hidupnya. Sebaliknya orang yang menyembah Allah mencari kerajaan-Nya. Ini tidak berarti makanan, minuman dan pakaian tidak diperlukan lagi. Semua hal ini sudah disediakan Bapa. Tuhan Yesus tegas mengatakan bahwa Bapa di surga tahu bahwa kita memerlukan semua ini (ayat 32). Jika sudah disediakan Allah Bapa untuk apa dicari lagi? 

Tuhan Yesus mengungkapkan melalui bacaan kita bahwa salah satu sifat manusia adalah suka mencari. Ada dua jenis manusia. Pertama, mencari makan, minum dan pakaian. Ini berarti menyembah mamon, uang, materi. Kedua, mencari Kerajaan Allah. Ini berarti menyembah Allah. Siapa yang menjadi raja dalam hidup kita? Uang? Materi? Atau Allah?

Hidup sebagai anak-anak Bapa berarti hidup di dalam kehendak-Nya. Hidup melakukan kehendak-Nya. Hidup di bawah bimbingan Bapa. Hidup di bawah pemerintahan Bapa. Ini artinya mencari kerajaan Allah. Menjadikan Allah sebagai Raja di dalam dan melalui seluruh hidup kita, hidup di bawah hukum-hukum Allah dan menjadikan kebenaran-Nya sebagai jalan hidup.

Apakah menjadi warga kerajaan Allah berarti bebas dari segara macam kesusahan? Tidak. Coba kita baca kembali ayat 34 '....hari esok mempunyai kekhawatirannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari'. Tetap ada kesusahan dalam hidup, namun Yesus mengatakan tak perlu khawatir, Kita susah di dunia tetapi Allah menyertai kita di dalam kesusahan.

Kita perlu menyadari bahwa kemampuan mencari uang adalah pemberian Allah. Ulangan 8:18 mengatakan 'Tetapi haruslah engkau ingat kepada Tuhan, Allahmu, sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan, dengan maksud meneguhkan perjanjian yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, seperti sekarang ini'. Amsal 10:22 juga mengatakan 'Berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya'.

Kembali ke pertanyaan semula, apa hidup ini hanya untuk materi dan karena materi? Sekarang dengan tegas kita dapat menjawab tidak. Orang Kristen hidup dan bekerja untuk Allah dan Kerajaan-Nya. Sementara yang tidak percaya pada Yesus hidup dan bekerja untuk makan, minum dan pakaian. Jika hidup hanya seputar makan, minum dan pakaian, maka jangan heran bila khawatir selalu menghantui hidup ini. Cinta materi adalah akar segala bentuk kekhawatiran. Ingin khawatir? Carilah materi sebanyak-banyaknya.


________________________________________________________
Oleh Arman Barus.
Dalam Majalah Samaritan Edisi 3/2002.

Copyright 2007, Pelayanan Medis Nasional (PMdN) Perkantas

Jl. Pintu Air Raya 7, Komplek Mitra Pintu Air Blok C-5, Jakarta Pusat
Telp. (021) 3522923, 3442463-4 Fax (021) 3522170
Twitter/IG : @MedisPerkantas
Download Majalah Samaritan Versi Digital : https://issuu.com/samaritanmag