Selasa, 18 September 2018

Menjadi Rekan Sekerja Allah Melalui Profesi


          Kecenderungan dalam profesi medis dewasa ini ialah mencari untung, mencari tempat yang enak. Karena itu kasus-kasus malpraktis begitu banyak terjadi, baik yang terbuka maupun yang ditutup-tutupi. Dokter-dokter baru lulus mau mencari tempat yang enak, spesialis mau ditempatkan pada tempat yang banyak uangnya. Banyak dokter-dokter berambisi menjadi super spesialis serta gelar tinggi lainnya. Sayangnya ambisi-ambisi itu disertai dengan kemalasan, ketidakjujuran, jalan pintas. Kita mau menjadi hebat dan wah, tetapi penghargaan itu sering melampaui kemampuan kita.

          Mengapa kecenderungan seperti ini terjadi? Sebab, konsumerisme zaman ini mengikat kita dengan berhala modern. Kecenderungan orang sekarang tidak menyembah Allah Yang Maha Kudus tetapi mengharapkan yang nyata, yang dapat dilihat dan dipegang. Tidak heran sekarang kita menjadi budak keinginan kita, harta, uang, ambisi yang pada akhirnya akan menurunkan hakekat dan martabat kita sebagai manusia ciptaan Allah.

          Contoh bahwa konsumerisme sudah masuk dalam dunia kedokteran antara lain adalah kredit yang dipergunakan untuk memenuhi kepuasan pribadi. Kehidupan modern memang mangajar orang terus berhutang. Akhirnya ia akan dikejar-kejar hutang dan pasien menjadi korban. Kita tahu bahwa banyak pemeriksaan yang tidak seharusnya dilakukan, hanya untuk meningkatkan pendapatan si dokter. Yang seharusnya diperiksa justru tidak diperiksa walaupun murah dan mudah. Sering pemeriksaan CT Scan, USG, dan MRI sudah dipesan tapi belum dilakukan pemeriksaan fisik yang teliti. Pemeriksaan colok dubur sangat murah, mudah dan akurat untuk diagnosa rektal. Tetapi banyak pemeriksaan canggil dilakukan tanpa pemeriksaan ini.

          Semua penilaian ini disampaikan dr. darmawan sembiring Pelawi (alm.) dalam makalahnya "Profil dan Tantangan Dokter Kristen, Serta Bahaya Sekularisme". Penilaian ini mungkin benar, tapi apakah mungkin seorang profesional, dokter khususnya memiliki kecenderungan ini karena mereka belum memahami bahwa, suatu pekerjaan, itu penting bagi Allah, bukan hanya untuk diri dan keluarga? Mungkin saja. Karena itulah kita perlu tahu bahwa, pekerjan merupakan bagian terbesar dalam kehidupan manusia yang dipandang serius oleh Allah. Karena apa? Karena Allah sendiri adalah pekerja (lihat Kejadian 1 dan Kolose 1:16-17); karena Allah yang menciptakan manusia sebagai pekerja (lihat Kejadian 1:26, 28-29, Pengkhotbah 3:13), dan karena Allah yang menciptakan manusia sebagai rekan kerjanya (Kejadian 2:8, 15) maksudnya, Allah menanam pohon-pohon di taman itu dan manusia mengusahakannya. Ini merupakan kerjasama yang pertama, kerjasama yang erat.

          Demikian paparan Dough Sherman dan William  Hendricks dalam buku "Pekerjaan Anda Penting Bagi Allah". Dough Sherman adalah pendiri dan pemimpin perusahaan Career Impact Ministries (CIM) suatu organisasi Kristen yang membantu tenaga-tenaga bisnis dan profesional untuk mengintegrasikan iman mereka ke dalam karir mereka. William Hendricks adalah direktur eksekutif dari CIM. "Oleh sebab itu segala sesuatu tentang pekerjaan kita harus arahkan ke arah Dia - maksud dari motif kita, keuntungan kita dan penggunaannya, keputusan kita, masalah kita, hubungan kita, sasaran kita, peralatan kita, keuangan kita - segala sesuatu," tegas mereka pula. Jadi, alangkah salahnya bila ada orang yang memandang pekerjaannya sebagai sesuatu yang murni sekuler, yang memandang pekerjaan dari Allah tidak saling berhubungan.

          Kalau tadi dr. Darmawan sudah mengemukakan penilaiannya mengenai kecenderungan konsumerisme dalam profesi medis dewasa ini, ada hal-hal lain yang dilihat Dough dan William yang menghambat seorang profesional atau bekerja untuk menerapkan pengertian suatu pekerjaan itu dianggap penting oleh Allah. Apa saja? Suatu pertanda bahwa agama dan pekerjaan sudah tidak saling menjalin hubungan adalah adanya karierisme atau pemuja karier dalam generasi kita ini, katanya. Yang dimaksud dengan karierisme disini ialah pemujaan terhadap karier sedemikian rupa sehingga karier itulah yang menentukan harga diri seseorang, menjadi pusat pengendali kehidupan seseorang, dan menjadi prioritas yang paling tinggi. Akibatnya, karier menjadi sesuatu yang tidak boleh disentuh. Pernikahan, anak-anak, persahabatan, bahkan nilai-nilai moral bila perlu, harus disesuaikan dengan tuntutan karier, kalau tidak maka akan tertinggal.

          Lebih jauh dibahas, siapakah yang bertanggung jawab atas pemujaan karier, yang sudah merupakan agama baru, teristimewa bagi banyak orang yang tergolong dalam "the baby boom?" Apapun penjelasannya nanti, fenomena ini pasti merupakan gejala dari sebuah masyarakat yang sedang dilanda sekularisme, yang secara berangsur-angsur mengurangi peran Allah dalam kebudayaan, dan merupakan penolakan terhadap agama karena dianggap sudah tidak relevan lagi. Dengan kata lain, generasi ini telah hidup dengan seperangkat aturan yang baru. Aturan lama mengatakan, "Sangkalilah dirimu". Aturan baru mengatakan, "Penuhilah keinginan hatimu". Aturan lama mengatakan, "Kasihilah Tuhan Allahmu". Aturan baru mengatakan, "Kasihilah tuhan, yaitu dirimu sendiri".

          Dikatakannya pula, walaupun kebanyakan dari kita tetap akan mendefinisikan sukses sebagai hal yang berkaitan dengan kekayaan, ketenaran, atau kekuasaan, namun tindakan kita menunjukan bahwa yang penting bagi kita bukanlah hal-hal itu, tetapi apa yang dikatakan orang tentang kita, Mereka mengatakan bahwa kita berhasil, dan itu berarti lebih dari sekedar berhasil (entah apapun artinya). Kesan yang ditimbulkannya lebih berharga daripada meterinya.

          "Pandangan sekuler tentang pekerjaan jelas merupakan cara pendekatan terhadap kehidupan ini yang menghancurkan diri. Pandangan sekuler menuntut agar orang itu mencapai prestasi-prestasi yang hanya dapat dilakukan oleh Allah. Anda mungkin beranggapan bahwa berhala itu adalah patung kecil yang terbuat dari batu atau kayu yang disembah oleh orang-orang kafir di daerah pedalaman. Tetapi para ahli antropologi mendefinisikan berhala itu sebagai apa saja yang dianggap sakral, sehingga harga diri kita ditetapkan olehnya, dan hal itu yang menjadi pusat pengendali kehidupan kita, dan merupakan hal yang diberikan prioritas yang paling tinggi.

          "Menurut definisi ini, pekerjaan telah menjadi berhala bagi banyak orang dalam masyarakat kita. Bagaimana dengan Anda? Apakah pekerjaan Anda yang menentukan siapa sebenarnya Anda? Anda mungkin bisa mengelak dan tidak menjadikan pekerjaan Anda sebagai berhala Anda. Tetapi tidak ada artinya apabila Anda tetap saja meninggalkan Allah di rumah. Di dalam kedua keadaan itu, tetap saja satu bagian utama dalam kehidupan Anda dijalankan terpisah dari Allah, dan hal ini tidak patut jika Anda berkeinginan untuk menjadi pengikut Kristus," jabar kedua penulis itu tegas.

          Dengan sejumlah penghalang atau penghambat yang sudah dipaparkan, baik yang timbul dari dalam diri sampai dari lingkungan, yang membuat seorang pekerja tidak dapat memandang pekerjaannya sebagai milik Allah, apakah lantas tepat bila membiarkan mereka dalam kesalahan pandangannya? Dengar arif dr. Darmawan menjabarkan dalam makalahnya, bagi dokter Kristen yang terpenting adalah rencana, kehendak dan panggilan Allah dalam hidupnya. Karena itu, inilah doa dan kerinduan setiap dokter Kristen: "Tuhan biarlah kehendakmu yang jadi". Hidupku adalah milik Tuhan dan buat Tuhan. Tuhan punya rencana yang sangat mulia di dalam kehidupan anak-anak-Nya. Tidak jadi masalah penilaian orang lain terhadap kita, penilaian akhir dan yang benar adalah dari Allah Bapa sendiri. Hidup Tuhan Yesus itu menjadi teladan bagi kita semua. Dia tidak tertarik akan penilaian orang lain terhadap dirinya, padahal pada zaman itu bila ingin menjadi pemimpin agama perlu mencari dukungan dan popularitas dari masyarakat. Tetapi yang diajarkan oleh Tuhan Yesus adalah sebaliknya: Barangsiapa ingin menjadi besar diantara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu (Matius 2:26-27). Di dalam kerajaan Allah karena Rajanya berpredikat hamba, maka kualitas pengikut-Nya ditentukan sejauh mana ia meneladani Rajanya yang rela menjadi hamba.

          Konsep ini, tambahnya, tentu sangat berlawanan dengan konsep sukses dari dunia sekarang. Konsep sukses dari dunia sekarang. Konsep sukses orang percaya memang adalah merupakan suatu kebutuhan bagi dunia ini, orang-orang rela membayarnya dengan harga sangat mahal bahkan sampai mengorbankan anak, isteri dan keluarga. Padahal segala popularitas, kekayaan, kemegahan dan kesuksesan dunia ini hanyalah bersifat sementara, yang akan diakhiri dengan suatu kekosongan belaka. Ahli bedah yang terkenal pada waktunya juga akan kehilangan kemampuannya, sehingga tidak bisa lagi melakukan operasi, kemudian akan mengalami suatu kekosongan yang sangat dalam. Dunia ini sedang lenyap dengan segala keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.

          "Firman Tuhan mengatakan bahwa orang percaya adalah garam dan terang di tengah dunia. Bagian Firman Tuhan ini dengan jelas membedakan antara orang percaya dan orang dunia. Perbedaan kita dengan orang dunia ini seperti gelap dan terang, antara sorga dan neraka. Adalah kewajiban yang mendasar pula bahwa terang dan garam itu harus memasuki dunia. Kita memang berbeda dengan dunia karena itu kita harus mempengaruhi dan bukan dipengaruhi oleh dunia ini dengan cara terjun/masuk ke dalam dunia," katanya lagi.

          Masih pandangan dr. Darmawan, prinsip kedokteran: First do not harm perlu kita hayati. Sebagai dokter dengan rendah hati kita harus mengakui bahwa kita bisa membuat kesalahan yang menyebabkan penderitaan pasien. Kesalahan itu bisa karena over diagnosis, overtreatment, atau karena under diagnosis, undertreatment. Ada dokter yang sengaja menakut-nakuti pasiennya dengan diagnosa yang berlebihan dengan maksud untuk menonjolkan diri bahwa si dokter mampu mengobatinya. Menonjolkan diri dengan kepalsuan dan kebodohan. Ada juga dokter setiap ditanya pasien berkata: "Tak apa-apa semua, semua baik". Padahal sebenarnya apa-apa dan tidak berjalan dengan baik. Beranikah sebagai dokter Kristen mengaku di depan masyarakat bila kita bersalah dan berani bertanggung jawab atasnya? Ambisi kesuksesan sudah merampok hakiki dalam salib Kristus. Kita mau disebut Kristen yang baik, Kristen yang beriman, yang sukses tapi menyangkal kuasa salib, tidak mau memikul salib. "Bagaimana mungkin seseorang mau menjadi pengikut Kristus dan dokter Kristen tetapi tak mau memikul salib?" tanyanya.

          Sejalan dengan ucapan dr. Darmawan, Dough dan William menegaskan, bahwa pekerjaan Anda penring bagi Allah, karena itu sangatlah penting bagi Allah agar tidak menyisihkan Allah dari pekerjaan Anda. Ada ucapan menarik dari dokter David Livingstone pionir misi di Amerika dalam ceramahnya di depan mahasiswa Universitas Cambridge 1857, yang tertulis dalam makalahnya dokter Darmawan: "Adakah yang terlalu besar yang kita serahkan bagi Dia?"

          Jawabnya memang tidak ada yang terlalu besar yang kita miliki, yang dapat diserahkan bagi-Nya. Seorang dokter Kristen bisa menjadi seorang profesional di bidangnya sekaligus menjadi rekan kerja Allah, kalau saja ia mau. Dokter Santoso Karo-karo, berdialog di RS Mitra Keluarga menggarisbawahi, bahwa seorang profesional dalam bidang kesehatan yang sudah menerima kasih terlebih dahulu dari Kristus harus lebih baik dalam memberikan pelayanan kepada kliennya, artinya kompetensi dan ketrampilannya harus lebih baik, kasih di dalam pelayanannya harus lebih baik dibandingkan dengan profesional yang belum menerima kasih dari Kristus.

          "Lebih konkret lagi, kalau orang luar nilai skill dan ketrampilannya 8, dia harus punya nilai 9 atau bahkan 10. Kalau orang lain memberikan kasih di dalam pelayanan dengan nilai 7, maka dia harus mempunyai nilai 9 atau 10 juga. Saya percaya imbalan yang lebih besar akan diberikan oleh Tuhan," tegasnya kepada dr. Sugi.


__________________________________________________
Oleh Ida Cyntia S. dalam Majalah Samaritan Edisi 3 Tahun 1999.



Jumat, 07 September 2018

How Do I Know What I’m Called to Do? (Bagaimana Saya Tahu Saya Dipanggil Untuk Melakukan Apa?)



Tuhan tidak harus datang dan memberitahu saya apa yang harus saya lakukan bagiNya, Ia mengajak saya ke dalam suatu hubungan dengan diriNYA dimana saya mendengar panggilanNya dan mengerti apa yang Dia kehendaki saya lakukan dan saya melakukannya semata karena mengasihiNya…Ketika orang-orang berkata mereka mendapat sebuah panggilan untuk tugas ke luar negeri atau ke ladang pekerjaan tertentu, maksud mereka hubungan mereka dengan Tuhan lah yang memampukan mereka menyadari apa yang bisa mereka lakukan untuk Tuhan.
-Oswald Chambers-


          Berulang kali saya bertanya kepada Tuhan, apa panggilanNya untuk saya lakukan. Pada suatu waktu, saya sedang berada di bagian paling atas tangga sambil membersihkan kaca jendela rumah kami. Sementara bekerja saya merasa biasa saja sampai suatu saat saya melihat ke bawah dan menyadari betapa tingginya saya dari tanah. Jika saya jatuh, saya pasti akan luka berat dan tidak ada yang bisa menolong apalagi untuk memanggil ambulans.

          Terkadang saya pikir panggilan Tuhan seperti itu. Hal-hal tidak berjalan dengan baik. Hidup memang tidak mudah. Situasi saya tidak seperti yang saya bayangkan. Saya tidak mendengar paduan suara yang menyanyikan lagu “Hallelujah Chorus” seperti paduan suara surgawi meskipun saya juga cukup bahagia dengan suara halus  dan pelan yang berkata “baik sekali pekerjaanmu”. Tetapi saya berlambat-ambat dan mulai melihat ke bawah dan mulai merasa berada di tempat yang salah dan melakukan hal yang salah. Apakah saya berada di jalur kehendak Allah ataukah suatu kecelakaan telah membawaku ke tempat ini?

          Dan saya rasa terkadang cara itulah, setelah beberapa dekade mencari kehendak Allah bagi hidup saya, yang membawa saya ke sebuah rumah sakit misi di Afrika, ke dalam situasi peperangan dan wilayah kelaparan paling parah di dunia dan di media nasional berusaha menyampaikan suara kebenaran di hadapan budaya permusuhan yang semakin meningkat.

          Saya bukan seorang kristen super dan saya percaya Anda juga. Di tengah kehidupan yang hiruk pikuk dunia kedokteran dan kedokteran gigi, jangan terkejut ketika Anda terbangun suatu hari dan bertanya apakah Anda benar-benar terpanggil untuk misi ke luar. Jika hal itu belum terjadi maka hal itu akan terjadi.

          Bagaimana Anda mengatasi keraguan dan bagaimana cara Anda melakukannya melalui banyak pergumulan, akan memengaruhi bukan hanya kehidupan Anda tetapi juga beribu-ribu orang lain yang bersentuhan dengan kehidupan Anda.

          Saya seorang penggemar basket Universitas Kentucky (UK).  Itu merupakan cabang olah raga dan Tim satu-satunya yang sangat saya suka. UK mempunyai tradisi menang selama 75 tahun, tetapi tahun ini benar-benar buruk.  Saya tidak ingat apa penyebab kekalahan mereka. Kemarin mereka membuat operan-operan bola yang buruk, hanya berjalan-jalan, angka di layar tidak beranjak, berulang-ulang membuang bola dan melakukan tembakan-tembakan bola yang buruk. Kurangnya menggunakan keterampilan-ketrampilan dasar dengan baik membuat Tim mengalami masalah berulang-ulang. Mereka bukan tidak berbakat. Mereka bukan kurang pengalaman. Mereka hanya perlu kembali pada dasarnya untuk sinkron kembali.

          Saya menemukan hal yang sama terjadi pada saya ketika keraguan saya datang dan saya bertanya pada Tuhan. Saatnya kembali ke dasar.

          Dr. Tom Hale melakukan pelatihan mengenai hal-hal mendasar yang dituangkannya dalam bukunya yang berjudul “Menjadi Misionari”. Ia mengingatkan kita bahwa semua kita menerima “panggilan umum” dari Tuhan untuk menjadi seorang misionari (pribadi yang memiliki misi) pada waktu kita masuk dalam hubungan pribadi denganNya melalui kasih karunia keselamatan (Efesus 2:8). Tuhan tidak berhenti sampai di sana. Ia meminta kita untuk mengasihi Dia dengan segenap hati, jiwa dan roh sehingga Ia bukan hanya Juruselamat kita tetapi juga Tuhan kita (Matius 16:24). Kita mengasihi Dia bukan sekedar perasaan emosional belaka untuk menyenangkan Dia (2 Tim 2:22).  Kita percaya dalam Kristus bahwa kita berpikir dan bertindak sesuai dengan apa yang dimintaNya kita lakukan, selain kesetiaan kita yang terus menerus kepadaNya.

          Dan Dia memberitahu kita apa yang harus dilakukan. Misi kita adalah menjadi “saksinya” dan menyaksikan apa yang sudah Dia lakukan dalam kehidupan kita (Kis. 1:8). Kesaksian tersebut dilakukan dengan perkataan dan disahkan oleh perbuatan baik. Juga belas kasihan dan kepedulian kita yang dijabarkan melalui tindakan melayani yang  tidak bisa diabaikan atau disangkali. Jadi panggilan umum untuk menjadi misionari jelas bagi kita. Pertanyaannya adalah dimana? Tuhan melanjutkan...

          Ia memberikan panggilan-panggilan yang spesifik kepada orang-orang tertentu. Dari Musa sampai Maria, dari Yunus sampai Yohanes Pembaptis dan dari ke-12 murid ke Rasul Paulus kita membaca kesaksian demi kesaksian mengenai panggilan Tuhan secara pribadi untuk melakukan hal-hal yang spesifik. Mengapa? Karena panggilan-panggilan tertentu membutuhkan kuasa khusus untuk melakukannya.

          Saya sedang berbaring di atas atap sebuah flat di Mogadishu, Somalia pada suatu malam di bulan Desember 1992. Nyamuk-nyamuk mengaburkan pemandangan bintang-bintang yang indah di langit yang gelap. Tidak ada lampu yang menyala di kota yang sedang bergolak dengan perang saudara ini. Kelelahan setelah perjalanan ke kota yang sangat menyiksa, saya masih belum bisa tidur karena bunyi suara tembakan yang sporadis, suara granat yang meledak, suara pesawat tempur yang terbang rendah untuk mendarat di lapangan udara.

          Saya ditempatkan di bagian logistik bersamaan dengan Tim Medis diangkut ke kota berpenduduk lebih dari setengah juta orang. Mereka tidak mempunyai akses untuk memfungsikan rumah sakit dan merawat para pasien sekarat yang kekurangan antibiotik (yang termurah sekalipun) dan pengobatan malaria.

          Tuhan dan saya bercakap-cakap saat itu.  “Oke..” saya memulai percakapan saya dengan Tuhan. “Tuhan..siapakah pria dengan istri beserta tiga orang anak kecil kerjakan di tengah-tengah daerah peperangan ini dimana tiap saat aku bisa saja mati terbunuh..?”. “Tuhan aku tidak tahu bagaimana melakukan ini, aku harus mulai dari mana?”. “Tuhan, benarkah kami bisa membuat perubahan?” ..Kemudian datanglah sebuah suara halus dengan pelan berkata “David, kau berada disini bukan karena kebetulan atau karena lelucon. Aku telah memangggilmu dan Aku bersamamu. Percaya saja padaKu..”

          Saya membutuhkan itu. Itulah yang memberikan kepada saya kedamaian saat memimpin sebuah Tim Medis yang melihat selama sembilan tahun lebih dari 45.000 orang yang putus asa, termasuk tetap bertahan terhadap penyerangan, penculikan, pengawal-pengawal bersenjata dan “Blackhawk Down”.

          Bagaimana Anda bisa mengidentifikasi panggilan spesifik seperti itu? Sebuah panggilan yang esensial jika Anda melayani Tuhan di bidang misi medis di suatu daerah atau wilayah yang sangat melarat di dunia ini? Panggilan umum datang melalui Alkitab, tetapi panggilan khusus atau spesifik datang melalui suara Roh Kudus. Beberapa bisa saja se-dramatis yang dialami Paulus dalam perjalanan ke Damaskus tetapi bagi orang lain itu mungkin bukan melalui sebentuk sinar atau tulisan di dinding tetapi melalui khotbah, lagu, ayat Alkitab atau pengalaman. Tuhan berbicara dalam cara yang jelas dan mendalam. Seperti Anda, saya berdoa agar sesuatu yang dramatis yang bisa terjadi dengan jelas dan luar biasa yang mana saya bisa buat gambarnya dan taruh dalam dompet saya.  Kataku “..tulislah itu Tuhan di dinding, aku sudah menyiapkan kameraku..”

          Namun Tuhan tidak hanya bekerja dengan cara seperti itu. Pada umumnya panggilan Tuhan merupakan suatu keyakinan yang bertumbuh sedikit demi sedikit, yang Tuhan taruh di dalam hati Anda. Keyakinan tersebut mungkin sudah mencapai puncaknya pada saat Anda meresponi panggilan mimbar atau mendengar Tuhan berbicara, tetapi panggilan itu menjadi konkrit setelah sekian waktu lamanya. 

          Itu bukan berarti Anda tidak pernah meragukannya atau berusaha merasionalkan cara Anda diluar ketaatan total bagaimana pun caranya panggilanmu datang. Setiap panggilan membutuhkan iman yang akan mengkonversikannya ke dalam ketaatan. Mungkin Anda masih berada dalam proses awal atau Anda butuh memperbaharui atau mendengarkan kembali panggilan Anda. Apa yang harus Anda lakukan ?

          Pertama, Allah menghendaki komitmen Anda yang total. Sadari bahwa Anda tidak bisa membuat perencanaan hidup Anda yang lebih baik dari pada Allah dan bersedialah menerima panggilanNya bahkan sebelum Anda mengetahui apa itu. 

          Kedua, carilah petunjukNya. Sama seperti Samuel berkata : “..berbicaralah Tuhan karena hambaMu mendengarkan..”. Jika Allah sedang mendorong Anda untuk bermisi, berikanlah Dia kesempatan untuk berbicara melalui perjalanan misi (mission trips), membaca biografi para misionari, menghadiri konferensi-konferensi misi dan membaca Alkitab. Pelajari beberapa pelayanan misi. Daerah manakah orang miskin paling banyak? (Where the needs the greatest?). Dimanakah tempatnya agar para dokter dan dokter gigi misionari bisa sangat berguna? Sebagaimana kata David Bryant: ”Allah tidak pernah memimpin Anda ke tempat yang benar-benar Anda tidak tahu”

          Ketiga, bicaralah kepada Tuhan secara teratur dan mintalah Dia berbicara kepada Anda. Allah tidak menulikan telingaNya kepada orang-orang yang dengan sungguh mencari kehendakNya.

          Keempat, kerjakanlah hal-hal yang mempersiapkan Anda untuk panggilanNya bagi Anda.  Jadilah pemberi layanan kesehatan terbaik. Terlibatlah dalam pelayanan terhadap kaum miskin dimana Anda berada. Pelajari Alkitab sebanyak mungkin dan praktekkan itu dengan menjadi saksi kepada teman non kristen dan pasien Anda. Seperti kata Rasul Paulus: “..berdoa supaya Allah kita menganggap kamu layak bagi panggilanNya dan dengan kekuatanNya menyempurnakan kehendakmu untuk berbuat baik dan menyempurnakan segala pekerjaan imanmu” (2 Tesalonika 1:11)

          Terakhir, bertindaklah sesuai petunjuk yang Anda peroleh. Sangat sulit mengendarai mobil yang sedang berhenti di tempat parkir. Saya juga melihat banyak orang terduduk kembali, mengejar prioritas-prioritas mereka sendiri dan mengklaim bahwa mereka mau saja pergi asalkan Tuhan bicara. Jika Anda melangkah maju, maka Allah akan menghormati iman Anda dan menguakkan jalanNya lebih lebar lagi bagi kehidupan Anda ke depan.

          Ingat, kehendak dan pimpinan Tuhan bagi kehidupan Anda mungkin berubah. Saya berpikir saya akan menjadi misionari di Kenya sepanjang hidup saya dan akan dikuburkan di bukit samping rumah sakit. Saya senang menjadi dokter misionari dan melakoninya dengan baik, tetapi Tuhan hanya mengizin kami mengalaminya selama satu musim saja. Saat Tuhan mengganggu ketenangan roh saya dan mulai memanggil saya keluar dari apa yang saya sukai, sekali lagi saya harus kembali ke awal.  Membutuhkan waktu kurang lebih setahun dan banyak percakapan dengan Tuhan sebelum akhirnya saya beriman melakukan apa yang Ia kehendaki saya lakukan, yakni meninggalkan Kenya dan kembali ke Amerika Serikat untuk memimpin World Medical Missions sebelum itu menjadi CMDA (Christian Medical & Dental Association) Amerika Serikat. Anda harus percaya, tidaklah mudah meninggalkan Kenya dibandingkan waktu saya  berkemas membawa keluarga saya yang masih baru dan menuju ke suatu tempat yang hampir mengeliling setengah dari bumi ini jauhnya untuk memulai pelayanan sebagai misionari. Tetapi saya senang sekali saya mentaati panggilan Tuhan.

          Tidak ada kepuasan atau rasa aman yang lebih besar dari pada kehidupan yang berpusat pada kehendak Allah. Kejarlah itu dengan bersemangat.

__________________________________________________________________
by David Stevens, M.D.
Sumber : http://www.cmda.org/AM/Template.cfm?Section=Your_Call1&TEMPLATE=/CM/ContentDisplay.cfm&CONTENTID=14642

Selasa, 28 Agustus 2018

Siapa yang Dapat Seperti Dokter Lukas?




          Dokter Lukas adalah dokter pada abad pertama, dia orang Yunani yang mempunyai reputasi sorgawi. Dokter Lukas menulis dua buah buku, dalam Perjanjian Baru yaitu Injil Lukas dan Kisah Para Rasul. Tulisannya ditujukan pada Teofilius. Lukas adalah seorang dokter yang sangat teliti dan cermat. Hal ini nyata melalui tulisannya yaitu: "....Setelah aku menyelidiki segala peristiwa itu, dengan seksama dari asal mulanya, aku mengambil keputusan untuk menuliskannya kepadamu." (Lukas 1:3)

          Lukas menulis segala sesuatu berdasarkan fakta yang dikumpulkannya. Menegakkan diagnosa adalah mengambil kesimpulan dari kumpulan data yang akurat. Ketelitian dan kecermatan dalam data dan fakta serta menyimpulkan dengan benar adalah ciri seorang dokter Kristen. Ketelitian tentu tidak datang begitu saja, tetapi lahir dari suatu disiplin yang terus menerus. Dokter Kristen juga dipanggil untuk meneliti dan menulis dengan baik. 

          Sisi lain dari Dokter Lukas ialah pendekatannya kepada pasien yang melayani manusia secara utuh (Total Care). Ketika Tuhan Yesus membangkitkan seorang anak perempuan, Lukas mencatat, "Beri dia makan". Lukas memperhatikan perkara-perkara yang kecil secara detail. Sebaliknya ciri dokter yang buruk adalah malas dan tidak tertarik dengan perkara yang detail. Seseorang dapat saja sangat pintar dalam bidangnya, tetapi dia tidak memperhatikan dalam keperluan mendasar dari pasien maka ia bukanlah dokter yang baik.

          Tuhan Yesus sangat memperhatikan anak-anak, ibu-ibu, orang lemah, miskin dan orang kecil yang tidak masuk hitungan dunia ini. Hal ini juga nyata dalam hubungan dokter Lukas dengan Paulus, Lukas tetap setia mendampingi dan melayaninya, walaupun banyak orang telah meninggalkan Yesus,

          Dalam suratnya Rasul Paulus menyebut Lukas 3 kali. Pertama kali dalam Kolose 4:14, Paulus menyapanya dengan Dokter yang terkasih. Paulus sangat menghargai dokter Lukas karena kasihnya dan pelayanannya. Paulus yang penuh dengan penderitaan dan sakit-sakitan sangat memerlukan pelayanan seorang dokter seperti Lukas. Pujian bagi Lukas bukanlah suatu pujian yang kosong. Lukas adalah contoh wajah dokter Kristen. Lukas sudah meneladani Tuhannya.

          Dalam suratnya kepada Filemon, Paulus menyapa Lukas sebagai kawan sekerja. Kalau dia mempelajari kualitas pelayanan, pekerjaan, penderitaan, ketekunan, semangat, kesetiaan Rasul Paulus di dalam mengabarkan Injil; dia mengatakan dia menjadikan dirinya hamba dari semua orang, supaya dia boleh memenangkan sebanyak mungkin orang. Lukas adalah kawan sekerjanya, maka kualitas pekerjaannya menyerupai Paulus. Lukas adalah anggota team PI Paulus. Yang ketiga Paulus menulis dalam II Tim 4:11 "Semuanya meninggalkan saya, kecuali Lukas." Dalam keadaan yang sulit di akhir hidup Paulus, walaupun semua orang meninggalkannya, namun dokter Lukas tetap setia.

          Dokter yang menyerahkan hidup untuk Tuhannya, memang dokter yang rela mengambil resiko. Memberi perhatian yang dalam dan tetap berteman setia pada seorang pesakitan seperti Rasul Paulus pada zaman itu bukanlah suatu perkara yang mudah. Dokter Lukas rela membayar harga mahal melayani orang aneh yang ditangkap Penguasa seperti Paulus. Ia setia dan tidak melarikan diri dari kesulitan dan penderitaan yang dihadapi. Lukas bukan dokter yang mencari gampangnya saja. Dokter-dokter sering melarikan diri dari kesukaran dalam mengobati pasien. Pasien yang sudah terminal sering kurang mendapat pelayanan karena mereka berpikir tak ada lagi yang bisa dilakukan, tidak menguntungkan dan membuang waktu.

          Namun pertanyaannya sekarang, seberapa banyak dokter Kristen yang dapat menjadi seperti dokter Lukas di tengah zaman dengan banyak "allah"/pseudogod yang menggiurkan?

_____________________________________________________________
"Dikutip dari makalah dr. Darmawan SP, alm "Profil dan Tantangan Dokter Kristen serta Bahaya Sekularisme" dalam Majalah Samaritan Edisi 3 Tahun 1999.

Kamis, 16 Agustus 2018

Melakukan yang Terbaik


          Indonesia merupakan negara kepulauan yang terbagi ke dalam 30 propinsi. Sejak diberlakukannya sistem otonomi daerah, setiap propinsi dan kabupaten memiliki kewenangan untuk mengatur daerahnya sendiri termasuk di dalamnya kebijakan dalam bidang kesehatan.

          Salah satu permasalahan yang dihadapi oleh berbagai propinsi dan kabupaten di Indonesia adalah  jumlah dokter yang tersedia di daerahnya sangat sedikit. Menurut data IDI pada bulan Maret 2007, saat ini terdapat 70 ribu dokter, terdiri dari 50 ribu dokter umum, dan 20 ribu dokter spesialis. Banyak kalangan menyebut, bahwa rasio dokter dan pasien di Indonesia memang masih jauh dari angka ideal, satu dokter untuk 2.500 penduduk. Dari kebutuhan dokter umum 80 ribu orang, saat ini baru terpenuhi 50 ribu orang dokter umum. Kita masih membutuhkan tambahan 30 ribu dokter umum.

          Sementara itu, permasalahan yang ada di Indonesia bukan hanya dari segi jumlah dokter tetapi juga distribusinya yang belum merata. Sebagian besar dokter lebih memilih berdomisili di kota besar seperti Jakarta. Hal itu menimbulkan dampak yang signifikan di daerah yaitu pelayanan kesehatan di daerah akan tidak optimal dikarenakan jumlah tenaga kesehatan yang tersedia tidak memenuhi kebutuhan. Untuk mengatasi kurangnya jumlah tenaga dokter, dalam beberapa tahun terakhir marak berdiri fakultas–fakultas kedokteran baru di berbagai daerah di Indonesia.

          Berdirinya fakultas kedokteran baru selain menjadi solusi terhadap kurangnya jumlah tenaga dokter juga diharapkan dapat mengatasi kendala distribusi tenaga dokter yang tidak merata. Fenomena banyak berdirinya fakultas kedokteran baru di berbagai daerah harus ditanggapi secara positif. Lulusan dokter di daerah tersebut akan lebih mengenal budaya daerahnya masing-masing. Dengan demikian diharapkan setiap daerah dapat memenuhi kebutuhan dokternya masing-masing.

          Selain itu, dengan bertambahnya jumlah fakultas kedokteran akan menyebabkan unsur akreditasi menjadi penting sehingga akan merangsang kompetisi antarfakultas kedokteran untuk menjadi lebih baik. Aspek negatifnya adalah timbul masalah keseragaman mutu pendidikan kedokteran di Indonesia. Dampak yang dikhawatirkan akan terjadi adalah penurunan kualitas lulusan pendidikan dokter di Indonesia.

          Kualitas lulusan pendidikan dokter yang di bawah standar secara umum akan menyebabkan penurunan mutu pelayanan dokter dan meningkatnya angka malpraktik. Dampak lebih jauh lagi akan menyebabkan angka kesakitan meningkat dan dokter Indonesia akan kalah bersaing dengan dokter asing yang masuk ke Indonesia. Oleh karena itu, selain institusi pendidikannya sendiri yang harus menjalankan program pendidikan dengan penuh tanggung jawab, pihak lain yang bertanggung jawab terhadap mutu pendidikan dokter adalah Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) dan kolegiumnya.

           Lalu, bagaimana dengan kita? Apa tanggung jawab kita? Alkitab meminta kita memberikan yang terbaik yang bisa kita lakukan, entah dalam studi, pelayanan, pekerjaan, dan dalam segala hal untuk kemuliaan nama Tuhan. Ya, segala hal yang perlu dilakukan harus dilakukan dengan baik. Berkualitas.Tidak ada orang, pelanggan, atau pasien yang tidak suka jika kita selalu berusaha memberi yang terbaik untuk mereka. Melakukan yang terbaik pada hari ini akan membawa Anda ke tempat terbaik di masa depan.

          Seorang bijak pernah mengatakan, “Jika seseorang terpanggil menjadi tukang sapu jalanan, maka ia harus menyapu seperti Michelangelo melukis, Beethoven memainkan musik, atau Shakespeare menulis sajak. Apa pun tugas Anda lakukanlah sebaik-baiknya. Do your best for Jesus!


________________________________________________________
Artikel dari Majalah Samaritan Edisi 1 Tahun 2010

Jumat, 10 Agustus 2018

Tuhan Mengingatkan Kita

          Kita bersyukur, setiap ada bencana, respon muncul dari berbagai pihak untuk segera bertindak. Baik pemerintah maupun lembaga-lembaga lain, tak ketinggalan warga yang bergerak spontan mengulurkan bantuan. Pakaian dan selimut, makanan dan obat-obatan segera dikumpulkan untuk selanjutnya dikirimkan bagi saudara dan saudari kita yang tengah berjuang menyelamatkan hidup.

          Gempa yang terjadi berkali-kali seharusnya menyadarkan kita bahwa Tanah Air tercinta ini berlokasi di tempat yang akrab dengan gempa dan berbagai bencana lain. Ini berarti, setelah gempa yang ke sekian kali terjadi lagi, reaksi terkejut dan kebingungan sudah tidak tepat lagi untuk menjadi reaksi kita. Sebaliknya, dengan kesadaran tentang kondisi tanah tempat kita berpijak serta pemahaman yang benar tentang gempa dan berbagai dampaknya, sudah waktunya kita bisa menangani bencana ini dengan lebih baik.

          Yang dimaksud dengan penanganan yang lebih baik tentu saja bukan semata soal penanggulangan masalah setelah masalah tersebut terjadi. Justru, yang perlu kita upayakan adalah meminimalkan masalah sebelum masalah itu benar-benar menghampiri kita (dalam hal gempa, dengan mengetahui bahwa lokasi negeri tercinta memang rawan gempa, yang bisa kita lakukan tentunya bukan meniadakan gempa melainkan mengatasi masalah yang ditimbulkannya). Dalam rangka berupaya ini, kita pun bisa belajar dari negara-negara, baik yang dekat maupun yang jauh, yang juga punya pengalaman yang sama dan yang telah lebih dulu menyadari situasi yang terjadi serta berupaya mengatasinya.

          Dengan cara pandang seperti di atas, kita bisa memahami gempa juga sebagai cara Tuhan mengingatkan kita untuk menggunakan dengan sebaik-baiknya akal-budi yang telah Ia anugerahkan dan percayakan pada kita (jadi, gempa bukan semata cara Tuhan mengingatkan kita tentang dosa-dosa kita!). Melalui gempa, Tuhan memberikan kepada kita informasi tentang kondisi tanah yang Ia percayakan pada kita untuk kita tempati. Meresponsnya, tentu saja, kita bisa menggerutui Tuhan karena di tanah rawan gempa seperti ini Ia mendirikan negeri kita tercinta. Sebaliknya, jika kita merespons dan menindaklanjuti informasi dari Tuhan tersebut dengan mendaya-gunakan akal-budi yang juga berasal dari Tuhan, dijamin kita akan dimampukan bukan saja untuk mengatasi masalah yang timbul akibat gempa, melainkan juga memanfaatkannya demi kebaikan yang sebesar-besarnya dan sebanyak-banyaknya. Sebab, bukankah, sebagaimana kita yakini ketika Tuhan menciptakan langit dan bumi, Tuhan membuat segala-sesuatunya "baik"? Dengan kata lain, Tuhan tidak menciptakan bencana bagi kita. Jangan pernah lupakan hal ini!

          Cara pandang seperti inilah yang digemakan pula dalam Kitab Mazmur, yang pada salah satu bagiannya menyatakan demikian: "Aku hendak mengajar dan menunjukkan kepadamu jalan yang harus kautempuh; Aku hendak memberi nasihat, mata-Ku tertuju kepadamu. Janganlah seperti kuda atau bagal yang tidak berakal, yang kegarangannya harus dikendalikan dengan tali les dan kekang, kalau tidak, ia tidak akan mendekati engkau." (Mazmur 32:8-9)

          Tampaknya, ini berarti, sudah waktunya bagi kita untuk memperbaiki doa kita: Bukan lagi berdoa agar Tuhan tidak lagi "mengirimkan" gempa dan bencana lanjutannya pada kita, melainkan meminta Tuhan membantu kita mendaya-gunakan akal-budi pemberian-Nya, sehingga kita dijadikan bisa mengolah dan mengelola, bahkan, bencana yang seperti apa pun!


_____________________________________________________
/tnp, dalam Majalah Samaritan Edisi 4 Tahun 2009

Jumat, 27 Juli 2018

KESEIMBANGAN WAKTU LIMA ASPEK KEHIDUPAN (Bagian 2)

Keseimbangan Waktu Lima Aspek Kehidupan (Lanjutan dari bagian 1)



Keseimbangan Pelayanan Kerohanian

          Kembali kepada lima bidang utama kehidupan, pelayanan kerohanian juga harus mendapat tempat utama supaya kehidupan menjadi seimbang. Mengapa? Ya, karena kita adalah pengikut-Nya yang dikehendaki-Nya menjadi saksi-Nya. Untuk menunjukan hal ini tidak cukup dengan kemampuan berkata-kata, tetapi juga dengan perbuatan. Salah satunya adalah dengan mengasihi sesama. Bentuk mengasihi sesama dapat diwujudkan dalam hal pemberian. Ada dua kategori dalam hal pemberian. Dough dan William dalam buku yang sama, tetapi dalam pasal berbeda, yakni "Masalah Penghasilan" mengatakan, kategori pertama dalam hal pemberian adalah, memberikan kepada orang-orang miskin yang tidak dapat membiayai segala kebutuhannya. Sebagai orang Kristen kita mempunyai tanggung jawab untuk membantu mereka. Kategori kedua adalah pemberian untuk mendukung dan membiayai pelayanan-pelayanan Kristen dan mereka yang jabatan atau pekerjaannya ialah mengabarkan dan mengajarkan Injil. Hal pemberian ini sejalan dengan apa yang tertulis dalam firman Tuhan 1 Yohanes 3:17-18, dan Galatia 6:6, juga 1 Korintus 9:14.

           Demikian idealnya keseimbangan yang perlu dijalankan umat Tuhan, tetapi apakah paparan ini semua hanya teori yang sesungguhnya sulit dijalankan apalagi saat seperti ini di mana orang-orang berlomba menjadi yang "ter"? Barangkali dengan membaca kehidupan dokter yang satu ini kita mendapat jawaban bagaimana pola yang berhasil dijalankan dalam hal menyeimbangkan waktu dalam keseharian hidup.



Profil Dokter Hadi

          Sudah banyak orang, khususnya, yang mengenalnya. Dia, Dr. Hadi Marjanto Abednego, SKM, bukan hanya seorang dokter, tapi juga seorang birokrat. Ia dikenal sebagai pekerja keras, tetapi bukan sosok yang kaku. Baginya, keluarga, teman-teman, hobi dan melayani sesama sama pentingnya dengan pekerjaannya. Dalam bekerja, ia berkata terus terang, tidak malu dan tidak takut untuk menyaksikan imannya. "Titik tolaknya sederhana saja. Kita hidup oleh karena terlebih dahulu diberikan kebaikan oleh Kristus. Dengan demikian kita juga harus memberikan kebaikan pada orang lain sebagai cerminan terima kasih kita kepada Tuhan," jelasnya, yang memang sederhana.

          "Saya seperti sekarang ini bukan karena kekuatan saya sendiri melainkan karena karunia-Nya dan tuntunan-Nya. Tangan kita dibimbing-Nya. Hal ini bisa kita rasakan hanya kalau kita ada kontak dengan Dia. Kontak itu dalam doa dan kerja," tambahnya. Perbincangan kami dilakukan di kantor Perkantas ketika suatu hari ia berkunjung ke Jakarta. Menurutnya, kekristenan bukan hal yang harus disembunyikan di tempat kerja, sebab bila hal itu dilakukan, kita menjadi seperti lilin yang menyala di bawah gantang, padahal lilin yang menyala harus ditempatkan di tempat yang bisa kelihatan. "Bersaksi dalam hidup itu kan tidak harus demonstratif," tukasnya.

         Jadi, nilai-nilai Kekristenan bisa ditampilkan dalam pekerjaan? Dengan tegas ia mengatakan, bisa saja. Benturan dapat dihindari dengan kebijakan. Kesaksian kita harus dikemukakan saat yang tepat. Bagaimana saat yang tepat itu? "Saat itu bukan pekerjaan kita, tetapi atas bimbingan Tuhan," sahutnya singkat.

          Nilai-nilai kekristenan yang dimaksudkannya harus tampak dalam pekerjaan, di dalamnya termasuk kemampuan untuk melayani orang lain, dan bukan hanya dilayani. Sekalipun kedudukan orang tersebut adalah birokrat seperti dirinya. "Pola yang saya terapkan dalam jabatan saya, di mana saja, adalah keterbukaan. Apakah itu dengan bawahan atau yang setara. Saya tidak membuat jarak. Untuk apa sih jadi sombong? Dalam sehari, jabatan kan bisa dicabut. Sekalipun birokrat saya tidak mengembangkan suasana birokratis," sahutnya santai.

          Dokter yang meniti karirnya di Pulau Nias ini merasa tidak akan kehilangan wibawa sekalipun ia memilih ia yang melayani, sebab menurutnya, wibawa tidak akan hilang hanya karena ia akrab dengan teman sekerja atau melayani mereka. Sikap sehari-harilah yang justru menentukan wibawa. Kita ambil contoh Yesus. Ia saja mau membasuh kaki murid-murid-Nya. Itu lambang sikap melayani orang di bawahnya. Sikap kita hendaknya tercermin dari hal itu. Yang diatas melayani kepentingan yang dibawahnya, katanya.

          Pelayanan bentuk lain yang dilakukannya adalah kesediaan memberi waktu untuk menjadi pembicara dalam acara yang bersangkutan dengan 'dunia'nya dalam kegiatan kerohanian Kristen meskipun jadwalnya padat. Ia juga memberi waktu bagi mereka yang membutuhkan kosultasi dengannya. Seperti untuk Samaritan, ia juga memberikan perhatian. Ia tidak segan meminta bantuan stafnya bila Samaritan membutuhkan informasi.

          Bapak tiga anak ini mengatakan pula, bahwa ia bukan hanya menyediakan waktu untuk pelayanan profesi dan pelayanan kerohanian, tetapi ia juga memberikan waktu untuk anak-anaknya. Dari jawaban-jawabannya tentang keluarganya diperoleh gambaran kedekatannya dengan istri dan ketiga anaknya yang sudah besar. Ia mengatakan: "Orang bilang kan kita ikut saja apa yang diinginkan anak. Ini tidak betul sepenuhnya. Kita harus mentransfer nilai-nilai kebenaran pada anak, baik itu mengenai uang juga mengenai perilaku. Dengan demikian anak-anak tidak terpengaruh dengan segala macam ancaman dan tantangan apalagi di kota besar. Orang tua saya dulu menjadikan waktu makan bersama sebagai sarana berdialog. Demokrasi terjadi saat itu, kami bicara bebas, dan terjadi juga transfer nilai. Karena itu, meskipun saya tujuh bersaudara laki-laki, tidak ada yang jadi jahat, tidak ada yang menyimpang, Karena saya pandang pendidikan seperti itu bagus, saya terapkan dalam keluarga saya sekarang. Anak-anak saya dorong untuk maju. Tapi tidak saya patok harus jadi itu atau itu. Saya hanya memantau, mendorong kemampuannya supaya bisa berkembang. Anak-anak saya pun bisa memberikan kritik. Dalam kehidupan keluarga kritik adalah hal biasa, dan dibutuhkan dalam demokrasi di tengah keluarga."

          Dengan istri, ia juga mempunyai waktu yang cukup. Ia mengakui peranan istrinya yang besar sehingga membuatnya seperti sekarang ini. Tapi waktu berolahraga sekarang ini tidak bisa disisihkan secara khusus kecuali jalan kaki dan naik tangga, karena kesibukannya. Untuk menjaga kesehatan ia menerapkan keseimbangan gizi. Waktu luang yang dipunyainya diisinya dengan mengoleksi name tag dari berbagai kegiatan yang diikutinya sejak dulu.

        Dokter yang menguasai tiga bahasa asing, empat bahasa daerah, dan telah menerima Bintang Jasa Utama dari Presiden RI (1998), juga telah mengunjungi 17 negara dalam rangka tugasnya ini, tampak berhasil menerapkan keseimbangan waktu untuk berbagai aspek dalam hidupnya. Bagaimana dengan kita? Untuk menyeimbangkan waktu tidak perlu ada aspek yang diabaikan atau bahkan dikorbankan. Dokter kelahiran Bandung ini telah membuktikannya untuk kita. 


________________________________________________________
KESEIMBANGAN WAKTU LIMA ASPEK KEHIDUPAN oleh Ida Cynthia S.
dalam Majalah Samaritan No 4/November 1999-Januari 2000

Senin, 16 Juli 2018

KESEIMBANGAN WAKTU LIMA ASPEK KEHIDUPAN (Bagian 1)

          Bagaimana Perjanjian Baru memandang kehidupan ini? PB menggolongkan dalam lima kategori utama. Kelima kategori ini jelas dapat dibaca dalam bagian 'penerapan' surat-surat Paulus yang utama: Roma 12-14; Galatia 5-6; Efesus 4-6; dan Kolose 3-4. Juga dapat dibaca dalam beberapa bagian lainnya. Lima bidang itu ialah: (1) Kehidupan pribadi Anda, termasuk hubungan Anda dengan Allah, emosi Anda, dan bidang lainnya yang bersifat pribadi, bidang yang menyangkut Anda sebagai satu individu; (2) keluarga Anda, termasuk pernikahan Anda, anak-anak Anda, dan hubungan Anda dengan orang tua Anda sendiri dan dengan setiap orang yang menjadi tanggungan Anda; (3) kehidupan gerejani Anda, termasuk baik gereja setempat Anda maupun keterlibatan Anda dengan semua orang Kristen di tempat lainnya; (4) pekerjaan Anda, termasuk apa yang Anda kerjakan, bagaimana Anda mengerjakannya, bagaimana Anda berhubungan dengan para pemberi pekerjaan, rekan-rekan kerja, dan para pelanggan produk dan hasil pekerjaan Anda; (5) kehidupan bermasyarakat Anda, termasuk segala tanggung jawab Anda kepada pemerintah, dan hubungan-hubungan Anda dalam masyarakat yang lebih luas terutama dengan orang-orang yang bukan Kristen.

          Pendapat ini disampaikan oleh Dough Sherman dan William Hendriks dalam tulisan berjudul "Hidup Untuk Akhir Pekan" yang merupakan salah satu pasal dalam buku "Pekerjaan Anda Penting Bagi Allah". Mereka menyebut kelima kategori ini sebagai panca-lomba. Kelimanya tidak dapat disusun dalam suatu hierarki karena kelimanya saling memberi dampak. Tapi kelimanya dapat diwujudkan dalam suatu keseimbangan yang realistik. Oleh karena itu untuk menyeimbangkan kelimanya diperlukan kemampuan mengatur waktu. Bagaimana caranya?


Keseimbangan Pekerjaan, Keluarga, Waktu Luang
          Dough dan William menyarankan, Pertama, menyusun kehidupan doa di sekeliling panca lomba. Cara ini akan memastikan kita tetap sadar akan tanggung jawab kita dalam kelima bidang itu. Juga akan membuat pekerjaan kita dalam keadaan tarik menarik dengan bidang-bidang lainnya, sehingga kita tidak hanya terfokus pada satu bidang saja. Kedua, menentukan berapa banyak waktu yang diperlukan dalam pekerjaan. Batasan banyak memang relatif, tetapi dapat dijadikan acuan hal berikut ini: dalam semua pekerjaan, orang harus menentukan harga yang harus dibayar untuk apa yang diperolehnya, dan pikirkanlah dampak pekerjaan itu pada keluarga Anda. "Jika membela pekerjaan Anda berarti mengorbankan pernikahan dan anak-anak Anda, maka secara Alkitabiah, Anda perlu mengkaji kembali apakah Anda sudah berada di pekerjaan yang tepat!" tegas keduanya. Ketiga, menetapkan waktu untuk pulang kerumah. Jika kita sudah menetapkan terlebih dulu kapan harus meninggalkan tempat kerja, maka hal ini akan menolong untuk mengatur dan memprioritaskan jam kerja untuk hari itu. Keempat, merencanakan bidang-bidang bukan pekerjaan sama seperti merencanakan bidang-bidang pekerjaan. Maksudnya? Di dalam buku agenda kita, kita perlu mencatat bukan saja segala yang perlu kita ingat dan janji-janji yang berkaitan dengan pekerjaan semata, tapi kita juga perlu mencatat waktu yang disediakan untuk keluarga, komitmen kita terhadap gereja dan pelayanan, keterlibatan pribadi kita dalam masyarakat, dan rencana-rencana pribadi kita. Bila Anda sudah berkeluarga, saran keduanya, alangkah baiknya mengajak pasangan hidup untuk membicarakan hal ini.

          Kelima, menjaga penggunaan energi emosi. Memang benar bahwa pekerjaan sangat berarti untuk kita, dan kita harus membuat komitmen emosional untuk hal ini agar semua pekerjaan berjalan beres. Tapi, Allah tidak pernah bermaksud agar pekerjaan memperbudak Anda secara psikologis. Jika pekerjaan harus ditinggalkan, tinggalkan pekerjaan itu. Sehingga ketika berada di rumah, yang dikenakan adalah 'pakaian' rumah, bukan 'pakaian' kerja. Keenam, memelihara satu hari sabat. Satu hal yang penting, sabat itu hari perhentian, hari istirahat dari pekerjaan yang memberi penghasilan. Tekanan apapun yang merampas kita dari ketenangan dan istirahat di dalam kasih karunia Allah itu, seharusnya ditolak, kata Doug.

          Ketujuh, menumbuhkan minat dan komitmen di luar pekerjaan. Doug menulis pengalamannya, "saya mengetahui, bahwa sebagian besar pekerjaan saya ialah berbicara di depan banyak orang atau memberi konsultasi di mana saya terlibat dalam memecahkan berbagai masalah. Jadi, bagi saya untuk dapat bersantai dan terlepas dari pekerjaan ialah dengan masuk ke dalam sesuatu di mana saya tidak berada di depan banyak orang atau tidak memecahkan masalah orang lain. Kebetulan saya mendapati, bahwa bersepeda, berenang, dan berlari, merupakan hal yang dapat saya nikmati. Bagi Anda ini mungkin kedengarannya bukan sesuatu yang dapat membuat Anda santai, tetapi bagi saya ini merupakan istirahat total, secara mental, psikis, dan emosional, dari pekerjaan. "Untuk bisa sepertinya, perlu ditumbuhkan minat yang mengungkapkan aspek lain yang ada dalam diri kita yang tidak berkaitan dengan pekerjaan.

          Kedelapan, ini masih ada hubungannya dengan yang ketujuh, yakni, jangan hanya menjadi penonton padahal seharusnya Anda melakukannya. Maksudnya? Beristirahat atau waktu luang bukan berarti tidak melakukan apa-apa. Barangkali memang kita terlalu letih karena aktivitas kita sehingga tidak dapat berpikir untuk melakukan sesuatu. Tetapi, kata Doug, sesungguhnya lebih menyenangkan dapat melakukan sesuatu daripada hanya menonton orang lain yang melakukan sesuatu itu.


Bagian 1- Bersambung ke bagian 2.
________________________________________________________
KESEIMBANGAN WAKTU LIMA ASPEK KEHIDUPAN oleh Ida Cynthia S.
dalam Majalah Samaritan No 4/November 1999-Januari 2000

Rabu, 20 Juni 2018

STRESSBUSTER (Bagian 2)

STRESSBUSTER Bagian 2 (Lanjutan dari bagian 1)


          Ketiga, pilihlah teman-teman Anda. Kalau Anda tahu bahwa teman-teman Anda berpotensi meningkatkan stres Anda, membuat Anda banyak membuang waktu, dan membuat Anda tidak berbuah, hindari mereka. 

          Carilah teman-teman yang dapat membuat Anda tetap bertumbuh dan serta dapat memberi semangat kepada Anda. Seorang yangmemiliki kemampuan akademik yang sama, kemudian dapat menentukan keberhasilan studi Anda, serta memiliki strategi untuk bekerja sama, merupakan teman yang ideal. Sangat baik jika kalian dapat mengambul liburan bersama di akhir pekan, apalagi jika memiliki kawan-kawan yang bukan dari kalangan medis. Ini akan mencegah kalian ber-talk shop. pada saat menikmati liburan.

          Namun satu-satunya sahabat yang ideal adalah Yesus. Dia telah berjanji bahwa Dia akan senantiasa menyertai kita (Yohanes 14:23, 15:13-15). Dia siap mendengar saat kita berbicara mengenai pergumulan-pergumulan kita dan tekanan yang kita hadapi (Roma 8:26-27). Dia sangat memahami kita sebab ketika Dia berada di dunia Dia juga mengalami pencobaan dan mengalami tekanan di dalam melaksanakan misi-Nya (Matius 4:1-11). Tetapi Dia juga berjanji akan menolong kita pada saat akan mengalami tekanan. Yesus berkata bahwa Dia akan mengirimkan Roh Kudus yang akan menolong dan memberi kedamaian. Ia juga mengingatkan kita bahwa Dia adalah Allah atas seluruh kehidupan kita, termasuk ujian-ujian kita.

          Keempat, jagalah perspektif Anda. Ketika pikiran Anda hanya terpusat pada masalah-masalah ujian, Anda akan mudah 'terlepas' dari perspektif hidup Anda. Kegagalan dalam ujian membuat diri kita seperti orang terlantar, karena hal itu merupakan peristiwa terburuk dan menimbulkan ketakutan sehingga dapat melipatgandakan tingkat stres kita sampai akhirnya kita menjadi sangat panik.

          Saya selalu mencegah hal seperti itu terjadi. Menjelang ujian, saya justru melakukan hal-hal di luar materi ujian, misalnya membaca novel, nonton, menikmati secangkir kopi dan makanan kecil, tanpa dihantui oleh stres. Dan saya tetap dapat menjaga perspektif saya sehingga saya bisa mengucap syukur kepada Allah untuk setiap hal baik di dalam hidup saya.

          Medis bukanlah tujuan akhir atau segalanya dalam hidup, dan bukan prioritas utama di mata Allah. Ada hal yang lebih penting! Yaitu hubungan kita dengan orang lain dan di atas semuanya itu, hubungan dengan Bapa di surga haruslah lebih utama daripada karir kita (Matius 6:33).

          Dalam Kotbah di Bukit Yesus mengatakan kepada kita perbandingan antara perspektif Kerajaan Allah dan perspektif dunia. Perspektif kita tentang kekekalan tidak sesederhana konsep dunia. Kita mesti memusatkan pada hal-hal yang kekal daripada yang fana (Matius 6:19-20), melayani Tuhan daripada karir kita, dan tidak berpusatkan pada kepemilikan kita (Matius 6:24). Yesus mengatakan ini dengan tegas, dan siapa yang mempercayai-Nya atas masa depannya, akan diberi-Nya kedamaian.

          Ujian memang penuh dengan ketegangan (stres). Tetapi kita dapat menurunkan ketegangan itu dengan membuat perencanaan ke depan yang baik, mengambil istirahat yang seksama, memilih teman-teman yang tepat, dan tetap menjaga perspektif kita. 

          Di atas semuanya itu kita perlu menjaga segala sesuatu yang kita lakukan dalam perspektif masa depan yang setiap orang akan hadapi. Ujian-ujian hanyalah kumpulan beberapa pertanyaan yang harus kita jawab. Namun hanya ada satu jawaban yang benar, dan 'jawaban' itu yang kerap kita abaikan. Yesuslah jawabannya.


          Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah. Dan inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat. Sebab barangsiapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak; tetapi barangsiapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah. (Yohanes 3:16-21).


_________________________________________________________
STRESSBUSTER oleh Jim Paul (Nucleus, April 1999)
Dalam Majalah Samaritan Edisi 1 Tahun 2000

Copyright 2007, Pelayanan Medis Nasional (PMdN) Perkantas

Jl. Pintu Air Raya 7, Komplek Mitra Pintu Air Blok C-5, Jakarta Pusat
Telp. (021) 3522923, 3442463-4 Fax (021) 3522170
Twitter : @MedisPerkantas
Download Majalah Samaritan Versi Digital : https://issuu.com/samaritanmag