Senin, 09 April 2018

KasihMu Tuhan Menguatkan Daku

Kekuatan adalah hal yang kita butuhkan sehari-hari, entah itu kekuatan secara fisik atau rohani. Itu sebabnya banyak obat-obatan (seperti vitamin) yang dipromosikan untuk memberikan kekuatan sehingga tubuh dapat bekerja secara maksimal. Hal itu memang kita perlukan. Namun selain kekuatan jasmani, bagian besar dari yang kita butuhkan adalah kekuatan mental dan rohani untuk menghadapi kehidupan dengan tugas serta tantangan yang ada. Apalagi bagi mereka yang profesinya selalu harus berhadapan dengan manusia (contoh: medis); sangat membutuhkan kekuatan yang cukup sehingga tetap dapat bekerja dengan baik..

Kebanyakan orang yang hidup dan bekerja keras akan merasakan kelelahan secara mental dan fisik, kadang-kadang akan timbul gejala yang tidak disadari dan tidak diinginkan, seperti perasaan kosong (kesepian), dan ada juga yang mengalami kondisi depresi (merasa diri tidak berdaya, tak berguna, tak bergairah). Lalu kita mungkin bertanya, "Siapakah yang akan menolong aku?" Pemazmur pun mengalami kegelisahan-kegelisahan dalam hidupnya, sampai ia berkata, "Mengapa engkau tertekan hai jiwaku, dan gelisah dalam diriku?" (Mazmur 46:2a). Kondisi-kondisi kehidupan tidak selamanya baik, kadang baik, kadang pula kurang baik. Hal tersebut adalah wajar, namun yang perlu adalah bagaimana sikap kita dalam menghadapi kedua hal yang berbeda tersebut. Dan kadang hal itu dapat diijinkan Tuhan terjadi untuk kebaikan dan tujuan yang lebih mulia. Seperti ada cuplikan lagu kekuatan serta penghiburan: "Suka dan derita bergantian memperkuat imanku", kita memerlukan waktu yang tenang untuk memikirkannya.

Penulis terkenal, Henry Nouwen mengungkapkan ide, "Kesepian adalah salah satu hal yang dialami tiap manusia di dunia ini; dan merupakan salah satu sumber penderitaan manusia saat ini". Hal ini yang mengakibatkan banyak orang terlibat dengan obat bius, alkohol, dan bahkan bunuh diri. Berusaha melarikan diri dari kesepian membuat kita tidak realistis sehubungan dengan kemanusiaan kita. Kita sedang ada dalam bahaya menjadi manusia yang tidak berbahagia, menderita akibat ketidakpuasan dan dari keinginan-keinginan serta harapan yang tidak terpenuhi. Banyak manusia merasa takut dengan yang namanya kesepian. Berusaha menutupinya dengan berbagai aktivitas, banyak teman, atau mencari pacar yang semuanya ini diperkirakan akan dapat mengisi kekosongan yang ada. Seorang teman pernah menuliskan, "Belajar untuk menangis, belajar untuk tetap vigil, belajar untuk menunggu. Mungkin inilah arti menjadi manusia".

Solitude (ketenangan) dibutuhkan dalam mengatasi berbagai masalah kehidupan ini. Solitude sering diartikan seperti para biarawan dan biarawati yang berada di suatu tempat yang jauh dari keramaian. Memang solus (Latin), artinya adalah "sendiri", dan pada masa-masa lampau banyak orang melakukannya dengan pergi ke tempat tenang. Adalah sulit untuk berpindah dari kesepian kepada menyendiri tanpa bentuk pengunduran diri dari berbagai situasi; dan ini sekaligus mendorong orang yang ingin membangun kehidupan rohaninya untuk mencari tempat dan situasi dimana mereka dapat sendiri. Tetapi yang dimaksud dengan sendiri lebih terarah kepada sikap hati yang tenang. Pria dan wanita yang dapat membangun hatinya ini dimampukan untuk merasakan dan memahami dunia ini dari pusat yang mudah dideteksi melalui, ketika kita hidup dalam suasana hati yang tenang. Kita akan mendengarkan dengan perhatian penuh pada kata-kata dan dunia orang lain. Tetapi jika kita dikuasai oleh kesepian, kita terdorong untuk menyeleksi hal-hal yang dapat membawa kepuasan seketika kepada kita.

Sebenarnya, melalui solitude kita dapat memberikan perhatian pada keadaan dalam diri kita sendiri. Hal ini bukan berarti egois, melainkan kita memberikan diri mendengar dan melihat keadaan diri kita yang sebenarnya. Hal ini mendorong kita untuk menemukan kelembutan yang nyata guna mengasihi saudara-saudara kita; sebab dengan mengintrospeksi diri akan mengajarkan kepada kita siapakah kita sebenarnya serta siapakah saudara kita. Tanpa hati yang solitude, relasi kita dalam persahabatan, pernikahan dan lingkungan tidaklah akan kreatif. Tanpa hati yang solitude, relasi kita akan mudah menjadi menginginkan, rakus, bergantung, sentimental dan eksploitatif; karena kita tidak dapat mengalami orang lain berbeda dari diri kita, melainkan menggunakan manusia untuk memuaskan kebutuhan kita yang tersembunyi.

Selanjutnya, pemazmur yang sedang gelisah mengatakan pada dirinya, "Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepadanya, penolongku dan Allahku" (Mazmur 42:6b). Bagi pemazmur, Allah adalah sumber pertolongan yang dapat membawa pembaharuan dalam jiwanya. Kita dapat pergi mencari hiburan melalui menonton, bermain, atau bersantai, namun diatas segalanya amatlah memerlukan pelayanan yang datangnya dari Allah kita. Yesus mengatakan bahwa kekuatan kita cukup untuk menghadapi persoalan sehari, untuk itu kita memerlukan kekuatan yang diperbaharui dari hari ke sehari; seperti kita perlu makan setiap hari guna memperoleh kekuatan secara fisik. (Ada tertulis : Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap Firman yang keluar dari mulut Allah, Matius 4:4).

Dalam menghadapi hal yang melampaui kekuatan kita, kita pun membutuhkan kekuatan ekstra dari sumbernya, yaitu Allah sendiri. Seperti nasihat Paulus kepada Timotius di tengah-tengah pergumulan yang berat, ketika Paulus dipenjarakan dan ada banyak orang yang meninggalkan kekristenan. Ia berkata, "...Jadilah kuat dalam kasih karunia Yesus Kristus", (II Timotius 2:1). Kekuatan ini bukanlah dari diri sendiri, melainkan dari Yesus Kristus, dan Ia berikan melalui kasih karunia-Nya kepada kita.

____________________________________________________
Oleh: Dra. Ria Pasaribu, M.Div.,
Dalam Samaritan Vol I/No.2 tahun 1997.

Kamis, 15 Maret 2018

Doctors Who Follow Christ (JAMES DERHAM)


JAMES DERHAM
DOKTER DITENGAH RINTANGAN RASIAL

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus...”
(Matius 28:19)


Lahir di California tahun 1762, James Derham bangkit menjadi seorang dokter terkenal di tengah berbagai rintangan rasial.  Sebagian besar hidupnya dihabiskan dalam perbudakan, namun demikian ia menjadi seorang dokter keturunan Afrika-Amerika pertama di negara Amerika itu. Pencapaiannya ini lebih mengherankan ketika kita menyadari bahwa tidak lebih dari seabad kemudian barulah menjadi hal yang umum bagi seorang keturunan Afrika-Amerika untuk menapaki jenjang pendidikan dokter di Amerika Serikat.


Saya berbicara dengannya mengenai penyakit-penyakit akut dan epidemik di negara-negara dimana ia tinggal, dan sangat senang ketika  mengetahui bahwa ia sudah diperkenalkan dengan cara praktek yang sederhana namun moderen terhadap penyakit-penyakit tersebut.  Saya berharap bisa menyarankan padanya beberapa macam obat baru namun justru ia yang memberikan saran yang lebih banyak lagi,“ begitu kesaksian Dr. Benjamin Rush (1746-1813), sekaligus memperkenalkan James Derham kepada dunia.  Kesaksian Rush ini merupakan penghargaan yang tidak kecil dari seorang tokoh masyarakat terhadap seorang budak kulit hitam.

Kapan saja, menjadi seorang dokter memang tidaklah mudah. Namun coba bayangkan rintangan-rintangan yang dihadapi seorang keturunan Afrika-Amerika di tahun-tahun awal negara Republik Amerika. Bahkan di negara yang melarang perbudakan, seorang keturunan Afrika asli tetap dipandang lebih rendah oleh karena warna kulitnya. Di negara-negara bagian selatan seorang berkulit hitam menjadi sasaran perbudakan. Mereka yang menikmati emansipasi tidak dapat bersandar atau mengandalkan jaminan dari kebebasannya. Kasus-kasus penculikan para budak yang dibebaskan sangat terkenal. Orang-orang kulit hitam yang bebas dihalangi dan diperlakukan berbeda di akademi-akademi dan universitas-universitas, tidak terkecuali sekolah kedokteran. Dalam kebanyakan kasus, keterampilan-keterampilan dasar seperti menulis dan membaca dijauhkan dari orang-orang kulit hitam. Oleh karena itu menjadi seorang dokter berkulit hitam benar-benar suatu upaya perjuangan  yang luar biasa.

Orang-orang kulit hitam yang dinyatakan sebagai dokter muncul lebih awal di negara Amerika. Keterampilan mereka mungkin tidak begitu maju meskipun dalam prakteknya mereka menggunakan ramuan tumbuh-tumbuhan yang mengandung manfaat untuk menyembuhkan. Dokter-dokter jahat selalu berkajang ditengah para budak. Para dukun ini memangsa anggota dari kaum tertindas keturunan Afrika ini, yang sering hanya bisa memperoleh  sedikit  bantuan profesional jika pemilik mereka tidak mau mempekerjakan seorang dokter terlatih untuk menolong mereka.

James Derham merupakan seorang keturunan Afrika-Amerika dari negara Amerika Serikat yang dikenal sebagai dokter yang cukup berkualifikasi. Pengenalan kita yang sedikit mengenai dirinya adalah karena  ketetapan hatinya untuk menaati perintah Kristus. Tahun 1788, Derham mengadakan perjalanan spiritualnya dari Katolik di New Orleans (yang kemudian berada di bawah hukum Spanyol) ke Philadelphia untuk dibaptis dalam iman Episkopal sewaktu masa kecilnya. Di Philadelphia inilah ia bertemu dengan sang dokter dan pejuang, Benjamin Rush.

Pada waktu itu Rush merupakan seorang dokter kepala di Philadelphia, bahkan di sekitar tiga belas koloni. Sebagai lulusan Edinburg, ia merupakan salah satu dokter terbaik Amerika Serikat dan terlibat secara aktif dalam pelatihan-pelatihan yang khusus untuk para dokter lain.Perjuangannya bagi Revolusi Amerika dan ratifikasi Konstitusi membuatnya terkenal di Amerika Serikat yang baru lahir. Selanjutnya ia juga memenangkan berbagai penghargaan internasional yang membuatnya menjadi anggota dari sejumlah perkumpulan di luar negeri. Oleh karena itu penilaiannya tentang Derham sangat berharga. Ia memberikan informasi mengenai Derham ini kepada Perkumpulan Philadelphia untuk mendukung Penghapusan Perbudakan.

Menurut Rush, Derham dilahirkan sebagai seorang budak di Philadelphia sekitar tahun 1762. Dalam saat tertentu di awal kehidupannya Derham belajar membaca dan menulis. Anak ini dipindahkan ke tempat Dr. John Kearsley Jr, seorang dokter dan ahli penyakit tenggorokan di Philadelphia. Kearsley melatih sang anak untuk membuat campuran obat dan menunggui pasien-pasiennya.

Kehidupan sebagai seorang budak merupakan kehidupan yang tidak menentu. John Kearsley merupakan seorang yang sangat berapi-api melawan Revolusi Amerika dan berpihak pada Inggris. Para pejuang yang kejam dan biadab menuduhnya berkhianat, menyeretnya di jalanan dan melemparkannya ke penjara dimana akhirnya ia menjadi gila dan meninggal. Derham telah dijual. Melewati beberapa tangan pemilik akhirnya ia menjadi milik dari Dr. George West yang sangat berpihak pada pasukan Inggris. Ia mempekerjakan Derham untuk tugas-tugas medis yang sederhana. Kita bisa membayangkan anak muda ini memperhatikan dengan teliti cara kerja dokter ini, menyerap ilmu tentang anatomi dan pembedahan yang kemudian membuatnya menjadi seorang dokter yang luar biasa.

Pada akhir perang revolusi, Dr. West tidak bisa membawa Derham sebagai budaknya maka ia menjualnya kepada dokter yang ketiga, Dr.Robert Dove dari New Orleans yang menjadikan Derham sebagai asistennya. Terbukti Derham begitu berguna sehingga Dr. Dove bahkan sampai tergerak menawarkan kebebasan kepadanya dengan syarat yang sangat mudah. Dalam dua-tiga tahun kemudian Derham bebas dan ia membuka praktek dibawah perlindungan Dr. Dove. Pendidikannya sejalan dengan pendidikan kedokteran pada waktu itu. Dari 3.500 orang dokter yang praktek di Amerika Serikat pada tahun 1800, hanya 400 orang yang bisa menyatakan bahwa mereka lulusan sekolah kedokteran. Sisanya belajar dari pengalaman magang dengan dokter-dokter yang sudah mapan atau membaca buku-buku.

Mungkin sudah ditakdirkan Tuhan, Derham menderita sewaktu di New Orleans. Rintangan rasial tidak begitu berat seperti di kota Perancis-Spanyol sebagaimana di Amerika Serikat (karena orang Perancis tidak memiliki prasangka seperti orang Amerika terhadap orang kulit hitam keturunan Afrika-Amerika; banyak warga turunan Afrika-Amerika ini yang akhirnya pergi ke Perancis untuk sekolah kedokteran disaat perguruan-perguruan tinggi Amerika menolak kehadiran mereka). Bagi Derham, warga masyarakat Perancis ini memungkinkannya untuk melakukan profesinya bahkan di kalangan orang-orang kulit putih New Orleans. Sedemikian ahlinya Derham sehingga ia bisa memiliki penghasilan sebesar $3.000 dalam setahun, suatu jumlah yang sangat banyak saat itu. Kita bisa membandingkan pendapatan Derham ini dengan para dokter yang lainnya. Lima tahun kemudian, John Story Kirkbride berpikir ia seorang dokter yang berhasil di Philadelphia dengan penghasilan $500 per tahun. Tahun 1804 Nathan Smith, seorang yang sangat berpendidikan hanya dibayar $200 setahun sebagai pendiri dan profesor kepala dari fakultas kedokteran Dartmouth College.

Rush tertarik dengan Derham pada waktu mereka berdua bertemu. Dalam sebuah komunikasi dengan perkumpulan Pennsylvania untuk penghapusan budak ia menulis tentang kemampuan Derham yang luar biasa. Sang dokter Philadelphia ini menggambarkan Derham sebagai  seseorang yang sangat sederhana, rendah hati dan menarik dalam sikap tingkah lakunya. ”Ia bisa berbahasa Perancis dengan lancar dan memiliki pengetahuan bahasa Spanyol juga. Dalam suratnya kepada perkumpulan penghapusan budak Rush juga menuliskan tentang peristiwa pembaptisan Derham.

Secara kebetulan, meskipun  terlahir dalam sebuah keluarga yang taat beribadah dari Church of England, ia tidak  dibaptis pada masa bayinya, konsekuensinya beberapa hari lalu ia mengajukan permohonan untuk dibaptis kepada Pendeta White untuk menerima pentahbisannya sebagai anggota gereja Episcopal. Pendetanya melihat ia memenuhi syarat, baik dari segi pengetahuan dan sikap moralnya, untuk menerima sakramen baptisan

Waktu itu tanggal 14 Nopember 1788. Selama sepuluh tahun setelah Derham kembali ke New Orleans, Rush dan dia masih saling berkirim surat, bertukar informasi. Rush mengirim salinan-salinan publikasinya kepada para dokter di New Orleans. Kita tidak tahu kapan atau  saat peristiwa seperti apa Derham meninggal. Jika pun ada, para penulis yang mencatat fakta-fakta yang penting tentang Derham maka catatan-catatan tersebut sudah hilang.

______________________________________________________________________________
Sumber: "Doctors Who Follow Christ, Thirty-two Biographies of Eminent Physician & Their Christian Faith (Dan Graves, Grand Rapids-USA: Kregel Publications,1999)
diterjemahkan oleh Ir. Nora D. Jacob dalam Majalah Samaritan

Senin, 05 Maret 2018

Gembalaku

Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. 

Mazmur 23:1


Ada banyak hal yang saya inginkan: siap untuk bertugas jaga di rumah sakit; memanjat tangga karir, menjaga temperamen saya, mengambil waktu istirahat setengah hari, memiliki banyak teman, keluar dari kesibukan hidup yang menjemukan, dan memiliki mobil yang lebih besar. Oh ya, dan menjadi saksi yang lebih baik. Tidak benar bahwa saya tidak menginginkan apa-apa. Kesalahan kita adalah menyamakan keinginan dengan kebutuhan kita, ini adalah sikap anak kecil. Konsep Daud yang lebih matang melihat pada pemeliharaan Allah yang tak terbatas daripada keinginan yang banyak. Dalam pemeliharaan Allah, tak satu pun dari kebutuhan kita yang kurang. Yang Daud katakan bukan tidak berkekurangan dalam hal yang dinginkannya. 

Gembala yang baik mempunyai sumber-sumber yang tak terbatas (Filipi 4:19). Dia juga mempunyai rencana yang besar untuk karir kita (Yohanes 10:27). Dia sepenuhnya menyadari kebutuhan kita sehari-hari (Matius 6:25, 32). Dia memperhatikan semua kebutuhan kita. (Yakobus 1:4).

Dalam masyarakat berteknologi tinggi, keharusan menunggu apa yang kita butuhkan sudah tersingkir. Baik secangkir kopi atau suatu reaksi biokimia atau telepon antar benua cukup dengan memijit tombol yang tepat maka kehendak kita akan tercapai. Tidak demikian dengan penggembalaan. Kalau kita melihat sekumpulan domba-domba, kita melihat adanya pertentangan antara keinginan masing-masing domba akan jalannya sendiri dan keinginan si gembala untuk mereka semua. Mereka mungkin menjadi liar atau panik dan mencoba membebaskan diri, tanpa menyadari bahwa gembalanya sedang membawa mereka ke padang rumput yang lebih hijau atau ke tempat yang lebih aman. Betapa lebih baik bagi semua pihak, kalau mereka telah mengerti rencana-Nya! Keinginan mendapat rumput kering sangat tidak berarti dan bodoh dibandingkan padang rumput yang sedang menunggu. Belajar percaya dan menurut belajar pula untuk menanti. Untuk kita berarti menanti Allah. 

Para dokter umumnya bersifat tidak sabar. Tekanan pekerjaan yang berlebihan dan krisis-krisis dalam hidup yang harus ditanggulangi, bercampur dengan sikap pasien yang pasrah dan harapan tinggi dari teman sejawat, menimbulkan sikap tinggi hati dan ketidakramahan. Hal ini merugikan anggota tim yang lain maupun para pasien.

Ujian kesabaran datang dalam berbagai bentuk: telepon yang mengganggu, tanya jawab dengan pasien, klinik yang penuh. ada saja hal yang dapat menghabiskan kesabaran kita. Di saat itu, kita dapat menggunakan kesempatan untuk datang kepada Gembala kita, memilih untuk tinggal dekat dengan-Nya daripada lari tak terkendali. Baru sesudah itu kita dapat melihat bagaimana tiap hari Dia membawa kita ke air yang lebih tenang. Dengan demikian semangat bersatu akan bersemi dalam tim, para pasien menyadari adanya suasana lebih tenang dan kita dapat belajar bahwa jika permohonan dibuat sesuai dengan kehendak-Nya, Dia betul-betul akan mencukupkan.

               Tak akan kekurangan aku.
               Tak akan kekurangan aku,
               jika aku milik-Nya dan
               Dia milikku selamanya.
                                   H.W. Baker


Bacaan selanjutnya: Filipi 4:6-19

_______________________________________________________
Oleh: dr. Jane Goodall, spesialis anak, Inggris
Dalam Sumber Hidup Praktisi Medis


Selasa, 20 Februari 2018

Mencari Kehendak Tuhan

Bersukacitalah senantiasa. Tetaplah berdoa. Ucapkanlah syukur dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu. 

1 Tesalonika 5:16-18




Kebanyakan perjalanan kehidupan kita sebagai orang Kristen nampaknya merupakan pencarian kehendak Tuhan, dan kita sering frustrasi karena Tuhan nampaknya diam terhadap detail kehidupan kita. Tapi Tuhan tidak diam! Firman-Nya jelas menyatakan banyak hal tentang kehendak-Nya, yang sama dengan setiap generasi pada masa lalu. Setiap saat kita hidup dengan hati penuh syukur, apa pun keadaannya, terus mendekat dengan Dia dalam doa dibandingkan mengejar urusan dunia yang kurang penting.

Tapi kadang beberapa keadaan lebih sulit dibandingkan yang lain. Baru-baru ini aku mendengar dari seorang perempuan yang saudara laki-lakinya di penjara yang menunggu eksekusi hukuman mati; atau dari orang tua yang menguburkan anak laki-lakinya yang berusia 18 tahun; atau dari seorang perempuan lain yang mendapatkan suaminya tidak setia setelah bertahun-tahun menikah. Bagaimana orang-orang ini terus berdoa dengan hati yang penuh syukur? Bagaimana kita sendiri dapat tetap setia kepada Tuhan ketika nampaknya dunia terus-menerus menarik dengan kuat?

Pertama, kita perlu belajar memandang kehidupan dari perspektif kekekalan. "Dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya" (1 Yohanes 2:17). Selanjutnya kita harus benar-benar menerima bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia (Roma 8:28). Saat kita percaya dan mengasihi Dia dengan sepenuh hati kita, Dia bekerja dalam segala sesuatu untuk kebaikan - tidak peduli betapa pun buruknya keadaan kita. Ini rahasia untuk merasa puas dan berkecukupan (Filipi 4:12).

Kadang-kadang Tuhan menunggu untuk memberi lebih banyak detail dari kehendak-Nya sampai kita taat pada lebih banyak kehendak-Nya yang bersifat umum, yang sudah kita ketahui. Mari kita datang ke hadapan-Nya dengan ucapan syukur dan hati yang penuh kasih, dan berjalan langkah demi langkah dengan iman, mencari dengan penuh sukacita, dan berserah pada kehendak Tuhan yang sempurna.


Baca: 1 Petrus 4:1-11.
__________________________________________________________________________
Oleh Gregor Sklenar - Yugoslavia dalam Sumber Hidup Praktisi Medis.

Selasa, 06 Februari 2018

Kristus di Dalamku

....kami memiliki pikiran Kristus. 1 Korintus 2:16


Siapa yang belum pernah kesal terhadap pasien? Mungkin kita jengkel terhadap kebandelan mereka, kegagalan mereka untuk mengubah gaya hidup yang dapat merusak kesehatan, kurangnya menghargai waktu, tidak mau menghargai saat-saat istirahat dokter, atau mengajukan permintaan yang bukan-bukan setelah kita bekerja keras sepanjang hari atau malam.

Markus 6 mencatat kejadian-kejadian dalam suatu hari yang sangat sibuk dalam kehidupan Yesus. Begitu banyak orang menuntut perhatian-Nya sehingga tidak ada waktu untuk istirahat makan. Kejadian seperti ini hal yang biasa, bukan? Karena kuatir akan keadaan murid-murid-Nya Yesus menyuruh mereka naik ke sebuah perahu untuk mencari tempat yang tenang supaya mereka dapat beristirahat. Ketika orang banyak mengetahui ke mana tujuan perahu itu mereka mendahuluinya. Sehingga waktu perahu merapat ke pantai, lagi-lagi para murid dikerubungi oleh orang banyak yang minta diperhatikan.

Reaksi Yesus terhadap orang banyak itu merupakan tantangan bagi saya. Paulus menasihatkan: "Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus." (Filipi 2:16). Apakah saya juga menunjukan kasih dan belas kasihan kepada para pasien saya seperti yang dilakukan Yesus di pantai? Kamus mendefinisikan belas kasihan sebagai 'rasa simpati terhadap kesusahan dan penderitaan orang lain.' Sebagai manusia biasa sukar bagi kita untuk melakukannya. Namun, Paulus berkata: '... Tetapi kami memiliki pikiran Kristus.' (1 Korintus 2:16). Kristus hidup di dalam saya. Roh Kudus memberikan kepada kita hidup dan pikiran Yesus sendiri. Paulus mengatakan: "Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku." (Galatia 2:20). Di situlah saya menemukan jawaban atas pertanyaan saya, saya menyerahkan diri saya kepada-Nya, sifat keakuan saya sudah mati, disalibkan bersama Dia. Saya mengundang Dia untuk hidup di dalam saya, oleh karenanya saya mampu untuk menunjukan kasih dan belas kasihan-Nya kepada orang lain. Saya merawat pasien dan mengasihi mereka seperti Yesus juga, bahkan pada saat-saat yang kurang menyenangkan setelah bekerja berat sepanjang hari atau pada malam-malam yang dingin. 'Karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.' (Roma 5:5).


Bacaan selanjutnya: Markus 6:45-46, I Korintus 2:14-16.
________________________________________________________________________
Oleh dr. Peter Vos, New Zealand.
Dalam Diagnose Firman.

Selasa, 23 Januari 2018

Kepastian

Yang diajarkan kepadamu sungguh benar. Lukas 1:4


Dalam hidup ini tidak ada yang lebih pasti kecuali ketidakpastian, dan dunia kedokteran pun tidak terkecuali. Tak peduli apa yan kita pikir akan terjadi hari ini, tidak ada jaminan bahwa itu akan betul terjadi. 

Ketika kita mendiagnose gejala thyrotoxicosis, kita masih harus menghadapi si pasien dengan reaksi dan kebutuhan yang tertentu. Tidak ada pasien yang sama. Cuma sedikit yang sesuai dengan 'gambaran di buku'. Kadang-kadang hasil tes laboratorium dapat sangat menyimpang dari standar dan diagnose penyakit serta pengobatannya seringkali harus dilakukan secara duga-duga dan coba-coba.

Dasar dari Injil Lukas adalah, bahwa ada sesuatu yang dapat memberikan kita kepastian. Allah adalah suatu kepastian bukan konsep yang samar-samar, tetapi sebagai suatu Pribadi. Kesaksian Lukas diperkuat saksi-saksi mata (ayat 2). Cerita kelahiran Yesus Kristus di masa raja Herodes merupakan sejarah yang tidak dapat dibantah (ayat 5). Seorang pemilik rumah akan merasa bangga apabila ia memiliki hak milik atas rumahnya sekalipun hanya sebentar. Injil Lukas memberi hak milik dari iman kekristenan dan ini terus dapat kita miliki untuk diri kita sendiri.

Dokter Lukas harus menulis pada orang yang berpikiran ilmiah. Dia adalah seorang peneliti: "Setelah menyelidiki segala peristiwa itu dengan seksama" (3), dia memutuskan "untuk membukukannya dengan teratur" (1,3). Lalu dia sajikan itu kepada pembacanya untuk dinilai. Kepastian semacam ini bukan abstraksi tetapi dapat diuji secara mendalam dan pribadi. Tugas dan tanggung jawab menilai itu kini dipikul si pembaca.

Pilihan adalah dasar dari kata percaya, tanggung jawab dan penyerahan diri adalah kunci kepada "kepatuhan iman" yang menjadi pusat dari ajaran Kristen.


Tuhan, saya begitu mudah ragu-ragu, ragu pada apa yang saya percaya. Saya tergoda untuk percaya hanya pada apa yang dapat saya lihat dan dapat saya kerjakan. Tetapi Firman-Mu berkata bahwa itu bersifat sementara. Hal yang tak dapat saya lihat itulah yang kekal. Tolonglah agar saya memiliki kepastian akan kesetiaan-Mu yang tidak berubah, sehingga saya tidak kuatir akan ketidakpastian hidup ini.



Bacaan selanjutnya: Mazmur 46; Yohanes 20:30-31; Efesus 1:15-23.
______________________________________________________________

Penulis: David E. B. Powel, ahli pathologi, Inggris. Dalam Diagnose Firman.

Rabu, 17 Januari 2018

Workshop Pelayanan Medis Nasional Perkantas “ABORSI DAN IMPLIKASINYA TERHADAP TENAGA KESEHATAN”

                                                                        Shalom!
Mengundang rekan-rekan medis untuk menghadiri Workshop Pelayanan Medis Nasional Perkantas "ABORSI DAN IMPLIKASINYA TERHADAP TENAGA KESEHATAN" yang akan diadakan pada:

Hari, Tanggal  : Sabtu, 27 Januari 2018
Jam                 : 09.00 - 13.00 WIB
Tempat            : Aula RS PGI Cikini
Jl. Raden Saleh No. 40, Menteng, Jakarta Pusat
Fee                  : Rp 50.000,- (dibayar ketika acara)

Sangat diharapkan kehadiran rekan-rekan medis untuk mengikuti acara workshop ini :)

Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Contact Person di bawah ini:
- Sekretariat PMdN / CMDFI (021 - 345 2923)
- Jacqueline (0878 8060 7693)
- dr. Yeremia PMR (0822 3278 8999)

Senin, 08 Januari 2018

Rencana yang Indah

Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan. Yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan. Yeremia 29:11


Melalui surat yang ditulis oleh nabi Yeremia, Tuhan memberikan perintah yang jelas kepada bangsa Israel yang sedang ditawan dan dalam pengasingan di Babilonia. Tuhan mengajarkan mengenai hubungan kekeluargaan, interaksi dengan masyarakat setempat dan pemimpin-pemimpin palsu. Kemudian Tuhan mengalihkan pikiran mereka kepada hari depan sebagai dorongan bagi mereka dalam menghadapi masa-masa sukar. Sementara kita menjalani studi kedokteran yang lama dan sulit, kita juga perlu mengindahkan peringatan Tuhan selama masa studi ini.

Tuhan mengetahui rencana-Nya dan sudah siap untuk melaksanakannya. Perhatian Tuhan tidak mudah dialihkan. Dia tidak pelupa. Dia tahu apa rencana-Nya bagi kita dan tidak akan lengah sementara waktu berjalan terus. Berdasarkan pandangan umum Tuhan tentang rencana masa depan kita, Dia dapat menuntun kita selangkah demi selangkah. Dan berdasarkan kepercayaan kita kepada-Nya, kita mendapat kepastian bahwa Dia sungguh-sungguh mengetahui apa yang telah direncanakan-Nya bagi kita dan apa yang akan dilakukan-Nya. Dengan demikian kita pun dapat mengikuti Dia selangkah demi selangkah.

Rencana-rencana Tuhan bagi kita bersifat menguntungkan. Tuhan tidak semata-mata memakai kita sebagai boneka dalam pentas dunia ini. Tuhan menginginkan agar kita memperoleh keberuntungan. Dia bekerja untuk kesejahteraan hidup kita. Dia menginginkan yang terbaik bagi kita. Dalam keadaan sukar sekalipun kita dapat merasa tenang bahwa Tuhan akan membawa kebaikan bagi kita.

Tuhan mempunyai rencana yang praktis. Pada saat ini, rencana-rencana-Nya berguna bagi kita. Baik kita berada dalam keadaan tenang dan penuh berkat atau dalam keadaan sakit dan bingung, rencana-rencana Tuhan selalu mengandung hal-hal yang praktis yang memberikan kita pengharapan. Kita boleh yakin, bagaimanapun baik atau buruknya keadaan kita sekarang, semuanya akan menjadi lebih baik. Kita tidak perlu berputus asa dalam kesukaran kita. Sebagai tawanan di negeri asing bangsa Israel masih dapat berharap dan berencana untuk hari depan yang lebih baik. Dan sekarang, sebagai kafilah di langit dan bumi ini kita dapat merencanakan hari depan yang lebih baik. Rencana Tuhan bagi hari depan kita memberikan pengharapan penuh kepada kita.

Selama studi kita sampai praktek kedokteran, kita boleh merasa yakin bahwa Tuhan mengetahui segala rencana-Nya dan siap untuk melaksanakan-Nya. Kita dapat melihat bahwa rencana Tuhan indah dan menguntungkan kita dan kita boleh berharap akan hari depan yang baik yang sudah direncanakan oleh-Nya. Hebat memang, tetapi gangguan dalam pekerjaan masih terus mengancam kita. Ingatlah, Tuhan tidak akan melupakan rencana-Nya, demikian pula kehendak-Nya dengan kita. Kita harus selalu setia kepada Tuhan yang akan sedikit demi sedikit membukakan tabir rencana-Nya di hadapan kita.


Marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. (Ibrani 12:1)


Bacaan selanjutnya: Yeremia 29, Amsal 3:5-6, Galatia 1:6.

_____________________________________________________________
Oleh: dr. Philip R. Fischer, spesialis anak.
Dalam Diagnose Firman, Sarana Vitalitas Rohani Para Dokter dan Tenaga Medis.


Copyright 2007, Pelayanan Medis Nasional (PMdN) Perkantas

Jl. Pintu Air Raya 7, Komplek Mitra Pintu Air Blok C-5, Jakarta Pusat
Telp. (021) 3522923, 3442463-4 Fax (021) 3522170
Twitter : @MedisPerkantas
Download Majalah Samaritan Versi Digital : https://issuu.com/samaritanmag