Jumat, 24 Maret 2017

Berdiri di Celah

Kucari akan seorang yang membangunkan pagar tembok dan yang berdiri di celah pagar di hadapan hadirat-Ku akan baiknya negeri itu ... ---Yehezkiel 22:30, Terjemahan Lama (1958)



Berapa sering kita harus menangani tugas orang lain di klinik? Cuti, sakit atau kelalaian menyebabkan klinik kekurangan tenaga kerja dan kita diminta berdiri di celah---mengisi kekosongan itu. Mungkin ini sering terjadi dan, secara tidak adil, kita diminta untuk mengorbankan rencana kegiatan penting kita lainnya. Dapat dimengerti jika kita marah karena ketidakadilan ini. Akankah kita menolak? Tapi tunggu dulu. Kita orang Kristen, dan orang lain memperhatikan kita. Disesalkan jika mereka mungkin pernah melihat orang Kristen yang tak mau membenatu atau membantu setengah hati. Apa yang akan Tuhan Yesus lakukan? Apa yang dituntut Tuhan dari kita?

Dosa Yerusalem digambarkan secara rinci dan mengenaskan di Yehezkiel 22. Seluruh lapisan masyarakat, para ningrat, imam, penasihat, nabi dan orang awam telah meninggalkan jalan Tuhan. Dan ketika Tuhan mencari orang yang bersedia mengisi kekosongan demi negaranya agar Ia tidak memusnahkannya, Ia tidak menemukan seorang pun.

Bukankah dunia dewasa ini mirip Yerusalem di zaman Yehezkiel? Tuhan masih mencari orang untuk mengisi kekosongan, menerima standar-Nya dan memancarkan kasih dan pelayanan-Nya? Karena itu marilah kita melakukan tugas tambahan dengan senang hati dan efektif karena kita melayani Tuhan yang memberikan hidup-Nya bagi manusia berdosa. Mungkin orang lain akan melihat Kristus dalam diri kita. Ia berbicara tentang berjalan dua mil (Mat 5:41). Standar-Nya sangat berbeda dari standar dunia. Bagaimana dunia dapat mengalami standar-Nya kecuali jika kita memancarkannya? Bisa jadi hari ini juga Tuhan sedang mencari orang benar untuk mengisi kekosongan sehingga Dia bisa menahan murka-Nya atas dunia yang berdosa.


Baca: Yehezkiel 22:17-31; Matius 5:38-42.

Oleh J Harold Jones
Dalam Sumber Hidup Praktisi Medis

Rabu, 15 Maret 2017

Hendaknya Terangmu Bercahaya

Hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga. ---Matius 5:16



Senang bukan, bila kita dapat menolong seseorang tepat pada waktunya? Bahasa tubuh yang paling sederhana pun, yang menunjukan rasa simpati atau menyambut pasien---apalagi kalau ia ditangani menurut keahlian medis yang terbaik---sering disambut dengan rasa terima kasih bercampur takjub. Ungkapan terima kasih seorang pasien, entah itu melalui kata-kata atau tindakan konkret, dapat menjadi pendorong semangat yang nyata bagi kita. Ungkapan tersebut membuat kita berpikir bahwa semua jerih payah kita berguna, dan kita puas dengan diri kita sendiri. Tapi lambat-laun kita bisa saja diyakinkan bahwa sudah sepantasnya kita dipuji dan bahwa kita memang istimewa. Saat mereka semakin percaya kepada kita, mereka bahkan mulai memperlakukan kita ... seperti Tuhan! Tiba-tiba kita sadar kita telah mencuri kemuliaan Allah.


Jadi, bagaimana kita bersikap agar perbuatan baik kita dapat dilihat orang, namun jelas dari perbuatan itu Allah-lah yang dipuji dan dipermuliakan? Aku sering berkata (atau menulis) kepada pasien seperti ini: "Terima kasih atas dorongan semangat yang Anda berikan---dan bolehkah aku mengatakan hal yang bersifat pribadi? Jika kami disini dapat menyembuhkan Anda dari penyakit ini, maka kami benar-benar berterima kasih kepada Tuhan." Hari ini coba hitung berapa kali orang berkata "terima kasih" kepada Anda, dan lihat apakah ada cara untuk mengembalikan pujian serta kemuliaan tersebut kepada Yesus Kristus (karena tanpa Dia, kita tidak akan pernah berhasil masuk ke dalam ruang konsultasi sekalipun!)



Doa: Bapa, ampunilah aku kalau aku mencuri pujian seta kemuliaan milikMu, atas segala perkara baik di mana aku berperan. Terima kasih atas hari baru, petualangan iman yang segar bersama-Mu. Mampukanlah aku menemukan cara mengarahkan orang kepada-Mu, dan memastikan Engkaulah yang dipuji dan dimuliakan dalam hidupku. Demi Kristus, Amin.

Baca: Matius 5:14-16


Penulis: Graham McAll
Disadur dari: Sumber Hidup Praktisi Medis

Selasa, 07 Maret 2017

Kenapa Aku Tidak Sembuh?

Allah yang abadi adalah tempat perlindunganmu, dan di bawahmu ada lengan-lengan yang kekal. - Ulangan 33:27



Kita semua pernah menghadapi pasien yang marah karena tidak sembuh, atau keluarga pasien yang tidak mampu menanggung beban pikiran karena kehilangan orang yang mereka kasihi. Diagnosis yang hati-hati telah dibuat dan perawatan yang tepat sesuai diagnosis dan praktik medis terbaik telah disiapkan. Tapi kesembuhan tidak terjadi dan gejala serta tanda-tanda penyakit tetap ada bahkan bertambah buruk. Seringkali keadaan seperti itu membuat pasien putus asa dan menyalahkan Tuhan. Padahal mereka Kristen atau hidupnya saleh! Mengapa Tuhan tidak turun tangan?

Alkitab sering menceritakan penyembuhan karena campur tangan Tuhan, lebih sering di PB, yang dilakukan oleh Tuhan Yesus, rasul-rasul dan orang lain dibandingkan di PL. Ada sekitar 41 mujizat Yesus berkaitan dengan penyembuhan ---bandingkan dengan sekitar 9 mujizat yang tidak berkaitan dengan penyembuhan. Tuhan Yesus menyembuhkan orang yang sakit kusta, lumpuh, penyakit pendarahan, buta, bisu, cacat (termasuk kerusakan tangan yang parah), ayan, gila dan kerasukan setan. Ia juga membangkitkan orang dari kematian. Petrus, Filipus, Paulus dan seorang rasul yang tidak disebutkan namanya juga menyembuhkan; begitu pula 72 orang yang diutus mendahului Tuhan Yesus, dan juga seorang laki-laki yang tidak dikenal, yang ditemukan murid-murid mengusir setan dalam nama Tuhan Yesus.

Lalu kenapa pasien kita tidak sembuh? Mungkin kita, dan orang lain di gereja, mendukung dalam doa untuk kesembuhannya tapi ia tidak sembuh juga. Mari lihat fakta bahwa tidak seorang pun yang disembuhkan Tuhan Yesus itu hidup hingga hari ini dan, seperti yang diharapkan orang, Alkitab juga mencatat kejadian-kejadian ketika penyembuhan Ilahi tidak terjadi. "Untuk segala sesuatu ada masanya, ... ada waktu untuk meninggal ..." (Pengkhotbah 3:1-2). Tentu saja tidak ada jawaban yang memuaskan pikiran manusia, Pengertian datang melalui iman bahwa Tuhan mengatur segala sesuatu dan orang Kristen aman di tangan-Nya. Aman entah kesembuhan terjadi atau kematian membawa ke hadirat-Nya. Bukankah Ia pergi untuk menyediakan tempat bagi kita?

Baca: Yohanes 14:1-14.



Oleh J Harold Jones 
Disadur dari Sumber Hidup Praktisi Medis

Selasa, 28 Februari 2017

Berkat dari Tuhan

Lalu diberkatinyalah Yakub di situ. ---Kejadian 32:29


Kita dapat mengalami berkat Allah dalam hal-hal sederhana di kehidupan profesional kita. Keberhasilan atau kegagalan tidak semata-mata bergantung pada usaha, kemampuan dan komitmen kita sendiri. Kita tidak dapat mendatangkan keberhasilan dengan paksa. Apakah pekerjaanku berhasil atau tidak adalah hasil berkat Allah (1 Korintus 3:6)---berkat yang Ia tawarkan kepadaku dan yang dapat aku minta dalam doa. Ini adalah sesuatu yang terus-menerus aku alami selama karirku sebagai ahli bedah. Walaupun aku selalu berusaha sekuat tenaga untuk memastikan apakah operasi yang aku lakukan dilaksanakan dengan keahlian profesional yang maksimum, tapi lukanya sembuh atau tidak tanpa komplikasi sungguh di luar kesanggupanku. Bahwa luka itu sembuh, aku melihatnya sebagai tanda kuasa Allah.


Dalam kehidupan pribadi, kita juga dapat mengalami berkat Allah, sebagaimana Yakub. Ia makmur dari hasil penipuan, namun mengalami berkat rohani Allah di sungai Yabok, walaupun tulang pinggulnya terpelecok dan ia menjadi pincang.

Hari ini kita juga dapat mengalami situasi yang tiba-tiba memperhadapkan kita dengan keterbatasan diri. Bagi Yakub, pukulan yang membuatnya pincang telah mengubah bagi dia Allah yang non-pribadi menjadi Allah yang pribadi. Saat bercakap-cakap, yang selama ini tidak ia sadari bahwa yang berbicara dengan ia adalah Allah, pikiran Yakub tidak lagi diisi dengan kecemaran tapi keinginan untuk diberkati ---"Aku tidak akan membiarkan engkau pergi, jika engkau tidak memberkati aku." Pada titik ini Yakub tidak puas dengan berkat-berkat masa lalu, yaitu kelimpahan, kesenangan, dan kekuasaan. Yang ia inginkan hanyalah menemukan kembali realitas Allah. Mungkin kita juga (untungnya) ditandai dengan sebuah kejadian yang mengungkapkan kedekatan, pimpinan, dan berkat Allah. Kiranya kita tidak lupa berterima kasih kepada-Nya atas hal itu!


Baca: Kejadian 32:22-31

Oleh : Kurt Lennert
Disadur dari Sumber Hidup Praktisi Medis

Selasa, 14 Februari 2017

Keahlian Tuhan Dalam Menguatkan Iman

Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan damai. --- Lukas 7:50


Pengalamanku mungkin tidak terlalu cocok untuk diterapkan oleh mereka yang tidak punya masalah dengan uang dan fasilitas kerja. Tapi aku memuji Tuhan akan kemurahan-Nya yang telah menolongku, seorang dokter Indonesia, untuk melewati setiap pergumulan dalam hidupku. Apakah itu berupa kekecewaan, penderitaan pribadi, stres dan frustasi atau kekurangan bahan dalam pekerjaan. Tapi Tuhan selalu menghiburku dan memberiku kekuatan agar dapat melanjutkan tugasku. Ia telah mengajarku begitu banyak, khususnya tentang pentingnya iman dalam hidupku sehari-hari.

Iman yang kuat tidak bertumbuh dalam satu hari, tapi satu cara untuk membuatnya bertumbuh adalah menyimak dengan sungguh-sungguh Firman Tuhan. Firman-Nya praktis --- terbukti ampuh. Alkitab adalah buku yang dapat kuterapkan, selalu dan selamanya. "Jadi, iman timbul dari apa yang didengar, dan apa yang didengar itu berasal dari pemberitaan tentang Kristus" (Roma 10:17). Firman-Nya mengingatkan kita apa yang tampaknya mustahil bagi manusia adalah mungkin bagi Tuhan, dan Ia akan membuktikannya saat kita percaya kepada-Nya. 

Pekerjaanku di suatu komunitas di pedalaman membuatku harus melalui perjalanan yang sulit. Aku harus naik dan turun bukit atau menyeberangi banyak sungai, terkadang dengan naik sampan kecil. Ada bahaya-bahaya lain, seperti saat aku menumpang pesawat terbang, atau terguncang-guncang melalui jalanan berbatu-batu dan tidak diaspal sehingga asap keluar dari mobilku. Hanya karena pertolongan Tuhan kami dapat mengatasi masalah ini. Suatu ketika perahu motor kami terperangkap dalam badai besar dan terkatung-katung selama berjam-jam, tapi Tuhan menenangkanku dengan ingatan bagaimana Tuhan Yesus meredakan badai. Kami membuang air keluar dan kapten membawa kami dengan selamat sampai ke tepian.

"Dibuat-Nyalah badai itu diam ... dan dituntun-Nya mereka ke pelabuhan kesukaan mereka" (Mazmur 18:1-16)


Baca: Lukas 8:22-25; Mazmur 18:1-16.

Anonim, Disadur dari Sumber Hidup Praktisi Medis.

Rabu, 08 Februari 2017

Now What?


What can we count on?

In the midst of an uncertain world, we may long for the certainties of job, income, professional growth, and work relationship --- but those are just superficial. The true certainties our hearts long for run much deeper. So, in an uncertain world, what can we count on?

Life is troubled.
In the most ancient book in the Bible, a man named Job learned firsthand the pain of loss. He lost his children, his possessions, and even his friends. Such a magnitude of loss would be devastating, but Job didn't see it as surprising.


His testimony shares the stark reality of living in a fallen world. Job said, "How frail is humanity! How short is life, how full of trouble!" (Job 14:1). It's not necessarily true that we are being singled out or facing something out of the ordinary. Difficulty is to be expected because life is troubled.


We are not alone.
If we feel that we are isolated in our circumstances, we've lost sight of the most critical certainty of all --- God is still there, even when the bottom drops out of the world.


In Hebrews 13:5-6, we read: "Don't love money; be satisfied with what you have. For God has said, 'I will never fail you. I will never abandon you.' So we can say with confidence, 'The Lord is my helper, so I will have no fear. What can mere people do to me?'"


When life becomes overwhelming, there's nothing more important than knowing that we don't face those burdens alone. God is there.

We have resources beyond ourselves. In Matthew 6:33, Jesus spoke to people who were fearful. They were also uncertain about how they would live and how their needs would be met. Jesus wanted them to look higher, when He said, "Seek the kingdom of God above all else, and live righteously, and He will give you everything you need."

It may be that the pressures we feel are a result of pursuing the wrong goals. A right relationship with God is significant because of who He is, and because a relationship with Him is the one thing in life that lasts forever. In Him, we have an eternal supply that this world cannot destroy.

Our pain can grow our faith.
We dread pain, largely because we see it as so negative. The fact is, however, that our struggles can provide opportunities for us to grow in ways that times of ease could never produce. The apostle Paul wrote:
"We now have this light shining in our hearts, but we ourselves are like fragile clay jars containing this great treasure. This makes it clear that our great power is from God, not from ourselves. We are pressed on every side by troubles, but we are not crushed. We are perplexed, but not driven to despair. We are hunted down, but never abandoned by God. We get knocked down, but we are not destroyed. Through suffering, our bodies continue to share in the death of Jesus so that the life of Jesus may also be seen in our bodies" (2 Corinthians 4:7-10). If you know Christ, you can be assured that you serve the God who doesn't waste anything --- including the pain of job loss.

Our pain can help others.
Not only can our struggles help us to grow, they can also provide an opportunity to help others. Our experiences can give us the background to help others when the pain of job loss visits them. To that end, Paul wrote: "All praise to God, the Father of our Jesus Christ. God is our merciful Father and the source of all comfort. He comforts us in all our troubles so that we can comfort others. When they are troubled, we will be able to give them the same comfort God has given us" (2 Corinthians 1:3-4).

We are never so well-equipped to help  hurting people as when we ourselves have experienced pain and loss. Then we can take God's encouragement and share it with others.

This is not the end.
When we face a serious life crisis, like losing a job, it can seem like the end of the world, that life will never be good again, and that there's nothing left to live for. 

Be assured, however, that it's not the end. Paul wrote: "Yet what we suffer now is nothing compared to the glory He will reveal to us later" (Romans 8:18).

Whatever dark experiences we face in this life, one day they will be overwhelmed by the perfect and complete reality of eternity in the presence of  the Christ who loves us and gave Himself for us.

God's love is real.
When we're going through seasons of trial and hurt, it's easy to question whether God loves us at all. The experience of loss, however, is not capable of disrupting His love for us. Paul wrote: "I am convinced that nothing can ever separate us from God's love. Neither death nor life, neither angels nor demons, neither our fears for today nor our worries about tomorrow --- not even the powers of hell can separate us from God's love. No power in the sky above or in the earth below --- indeed, nothing in all creation will ever be able to separate us from the love of God that is revealed in Christ Jesus our Lord" (Romans 8:38-39).

Separation from a job is a crushing, heartbreaking event. It is not, however, what matters most. Nothing in all the universe can separate us from the love of God --- and that does matter the most!



Now What by Chuck Fridsma.
Adapted from Now What? The Healing Journey Through Job Loss, 2009. RBC Ministries.

Selasa, 31 Januari 2017

Sehat

Aku berdoa, semoga engkau baik-baik dan sehat-sehat saja dalam segala sesuatu, sama seperti jiwamu baik-baik saja. ---3 Yohanes 1:2



Ada pengurangan makna yang sukar dimengerti dalam berbagai definisi sehat menurut ilmu kesehatan masa kini. Sehat, seperti yang sering kita dengar berarti keadaan fisik, mental, dan sosial yang utuh dan terbaik, bukan hanya sekedar bebas dari penyakit atau keadaan sakit. Definisi ini, walaupun kelihatannya baik, tidak menyebutkan keadaan jiwa. Padahal kata yang jarang muncul dalam kamus-kamus kedokteran ini menjabarkan bagian rohani dari suatu pribadi, yang berbeda dengan tubuh dan pikiran. Jiwa mengendalikan motivasi untuk hidup dan bekerja, dan mencetuskan sukacita serta pengharapan, yang sebetulnya bagian dari kepribadian yang sehat. Definisi di atas juga tidak mencakup pemikiran tentang vitalitas yang berkobar-kobar, tenaga yang digunakan dan dihabiskan sebelum seseorang meninggal dunia.

Dalam Alkitab, sehat berarti tubuh, pikiran dan jiwa dalam keadaan baik. Saat Tuhan Yesus menyembuhkan, sering terjadi penyembuhan rohani selain penyembuhan jasmani. Kita melihat pendekatan yang sama dalam surat Yohanes kepada temannya yang terkasih, Gayus, seperti yang dikutip diatas. Sekali lagi, di dalam Alkitab nampak jelas Tuhan menginginkan pelayanan yang berkobar-kobar dan sepenuh hati. Pantang mundur. Bacalah lagi kisah Amazia. Ia melakukan apa yang benar di mata Tuhan, tapi tidak secara sepenuh hati (2 Tawarikh 25:2).

Seseorang bisa saja menyia-nyiakan kesehatan dengan tidak merawat tubuhnya atau dengan memperlakukannya sembarangan. Kebalikannya, Paulus bergumul dengan segala kekuatan yang Kristus berikan kepadanya, demi jemaatnya yang baru (Kolose 1:29). Ketika Tuhan Yesus menyembuhkan, Ia memulihkan tubuh, pikiran dan jiwa. Ia membuka pintu bagi mereka yang telah disembuhkan kepada suatu dunia baru yang penuh damai, kepuasan dan sukacita, yang didapat saat mereka mengikut teladan-Nya, yaitu yang berkobar-kobar dalam melayani orang lain. Pelayanan-Nya berakhir pada kematian-Nya di kayu salib. Seberapa sehatkah jiwa Anda hari ini? Seberapa menyala-nyalakah pelayanan Anda kepada Tuhan?



Baca: 2 Tawarikh 25:1-10, 14-16; Kolose 1:28; 2:5.

Oleh: J Harold Jones
Disadur dari Sumber Hidup Praktisi Medis

Selasa, 24 Januari 2017

Doctors Who Follow Christ (JOHN FOTHERGILL)

JOHN FOTHERGILL
(1712 - 1780)

DOKTER  KELUARGA YANG MURAH HATI


“.Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan..”
(Matius  5 : 7)


Penemuan-penemuan Fothergill tidak menempati ranking pertama dalam dunia kedokteran. Namun dunia kedokteran tidak bisa mengabaikannya karena filantropi, kasih sayang dan penentangannya terhadap pertumpahan darah telah memberikannya sebuah nama belakang. Ia memiliki karakter yang agung. Ia mewakili figur seorang dokter sebagai filantropis. Meskipun upaya-upaya terbaiknya tersembunyi dari pandangan publik, filantropinya dikenal baik pada pandangannya yang kontemporer dan memberikan suatu teladan yang begitu mengesankan bagi banyak dokter lain. Bayaran yang dia terima dari para pasien yang kaya ia persembahkan sebagian besar untuk amal. Seorang dokter keluarga, demikian ia dikenal pada zamannya. Menurut para saksi mata, ia tidak beristirahat bahkan pada saat ia mengadakan perjalanan liburannya. Berikut penuturan para saksi mata yang menyatakan bahwa hal tersebut benar adanya.


Kelelahan dengan kerja 16 jam per hari dan menempuh perjalanan bermil-mil jarak untuk mengunjungi pasien, Dr. John Fothergill menuju kampung halamannya untuk beristirahat selama dua bulan. Selama dalam perjalanan ia  membuat catatan-catatan dan membalas surat-surat. Masih tiga hari lagi lamanya ia akan tiba di Lea Hall, sebuah rumah pedesaan yang dibelinya sebagai sebuah tempat dimana ia bisa sedikit terbebas dari kesibukan dan hiruk pikuk kota London yang begitu menyita waktu dan perhatiannya. Kereta yang ditumpanginya tiba di suatu pemberhentian. Para penumpang di sana naik dan turun, tiba-tiba “...Dr. Fothergill...Dr.Fothergill..” sebuah kepala muncul dari pintu penjemputan. Fothergill menoleh dan bertanya dalam hati, siapa gerangan orang yang berani kurang sopan ini? “..Mohon saran Anda, Pak...” jelas orang ini seorang apoteker yang sedang berusaha mendapatkan konsultasi gratis dari seorang dokter paling terkenal di London. Dengan sopan John mendengar dan menjawab pertanyaan orang ini. Setelah itu, John kembali memperhatikan catatannya. 

Sebelum ia sempat menulis satu kalimat, ia sudah diganggu lagi...
“..Suatu kesempatan yang terbaik bagi saya untuk bertemu Anda di saat  seperti ini Dr. Fothergill..” kata seorang wanita yang baru naik kereta tersebut untuk perjalanan selanjutnya. Kemudian wanita ini mengemukakan keluhan-keluhan yang selama ini mengganggunya di depan para penumpang lain. Apa yang dilakukan dokter ini ? John meletakkan pena sebentar dan kemudian memberikan tanggapannya,
“..Anda makan terlalu banyak daging dan makanan berlemak..” ia mengingatkan, kemudian kembali menekuni tulisannya.
“..hmmpf...ia bahkan tidak memikirkan jawabannya..” gerutu si wanita

Dengan cepat John Fothergill berpaling padanya, dan dengan kebijaksanaan seorang ahli yang berpengalaman ia tidak menanggapi wanita tersebut dengan mengatakan bahwa ia sudah menghadapi banyak sekali kasus  seperti yang dialami wanita itu sehingga ia tidak butuh waktu banyak untuk memberikan penilaian. Fothergill kelihatannya agak ”kaku” dalam hal sisi kontemporernya, tetapi jelas ia seorang yang bijak. Ia mulai lagi menulis beberapa pengamatannya mengenai epidemik dari penyakit influensa yang waktu itu sedang melanda Inggris. Ia begitu ingin agar pemikiran-pemikirannya mengenai hal ini dituangkan ke dalam bentuk tulisan.  Ia baru menulis selama 15 menit saat kereta tiba di satu stasiun dan berhenti di sana. John Fothergill merenggangkan tubuh dan kakinya yang panjang. Di stasiun itu ada banyak sekali orang, pria dan wanita yang berpakaian compang camping, dengan kuku-kuku mereka yang kotor dan rusak karena kerja kasar.

“..Dr. Fothergill..!!!...Dr. Fothergill...!!! terdengar sebuah suara berseru-seru...
“..tolonglah anak saya dokter...” masih terdengar seruan lagi
“..dokter, tolong aku..” sahut seorang pria dengan suara parau..
“..Demi Tuhan...kasihanilah...” terdengar lagi suara lain...
John menarik napas panjang sedikit, tetapi ia tidak ingin orang lain melihat kekagetannya. Dengan cepat ia menoleh ke petugas kereta api dan berkata “.. turunkan tas-tas saya... saya akan naik kereta berikutnya..”
Walaupun John seorang introvert, tetapi ia mengasihi orang lain dengan belas kasihan sejati. Hatinya terharu dengan masyarakat desa yang miskin ini, kaum pekerja Inggris yang bekerja sangat kerja untuk memperoleh hasil yang sangat sedikit.

“..Bawakan sebuah meja...” katanya. Sambil duduk di belakang meja ia mulai memeriksa penduduk-penduduk desa tersebut satu per satu.  Entah bagaimana, penduduk desa-desa ini tahu ia sedang mengadakan perjalanan ke kampung halamannya, mereka berbondong-bondong datang dari tempat mereka yang jauh untuk bisa bertemu dengannya di tempat-tempat perhentian kereta yang ditumpanginya. Mereka berharap ia bisa  memberikan saran atau nasihat untuk menyembuhkan penyakit-penyakit yang mereka derita, yang tidak bisa diobati dokter lain. Selama berjam-jam John mendengarkan dan menulis resep obat. Ia memberikan diagnosa dan petunjuknya dengan cepat tepat dalam suara yang penuh wibawa seorang ahli yang sangat berpengalaman.

Seorang janda berdiri di hadapannya, berusia sekitar 30 tahun tetapi kemiskinan dan kerja keras membuatnya nampak seperti berusia 50 tahun.  John tahu bahwa wanita ini membutuhkan air daging yang bergizi dan istirahat malam hari, tetapi John juga sadar wanita tersebut tidak mampu mendapatkan keduanya. Akhirnya ia menulis resep untuk wanita ini dan mengambil tasnya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil dari dalamnya, “..bawalah kotak ini pulang...” katanya pada wanita itu.
“..ada obat di dalamnya yang bisa membantu penyakitmu. Ikuti dengan baik petunjuk-petunjuk yang saya tulis di dalamnya..” katanya sambil tersenyum dengan sukacita tersembunyi. Ketika wanita itu membuka kotak tersebut, ia menemukan bahwa di dalamnya tidak hanya ada resep tetapi juga sejumlah uang untuk membeli makanan yang dibutuhkannya. Melihat John tersenyum, wanita itu balas tersenyum juga.
“Terima kasih, dokter...” harapannya bersinar di wajahnya.

Kasus berikut yang dihadapinya adalah seorang gadis istimewa namun menyedihkan. Ayahnya membopong tubuhnya yang ringkih dan Fothergill bisa melihat kemiskinan mereka dari pakaian sang ayah dan tulang belulang sang anak. Gadis itu memandangnya dengan  ketakutan.
“..apakah aku akan mati..??..” bisiknya. Fothergill memegang tangannya dan menggoyang-goyangnya dengan sangat lembut sebelum ia mengangkat kelopak matanya. Sebenarnya ia tidak perlu memeriksa gadis itu sebab hanya dengan sekali lihat baginya kasus gadis tersebut sudah jelas. Ia menderita TBC yang diperburuk oleh anemia. Gadis ini membutuhkan sinar matahari, istirahat, dan udara laut. Mempelajari tanda-tanda yang terdapat ditangannya jelas Fothergill melihat gadis ini pernah mengalami pendarahan. “Kapan para dokter berhenti melakukan tindakan bodoh ini..?” pikirnya. Seorang dokter seharusnya mendukung kondisi tubuh agar bertahan hidup bukannya melemahkan daya tahannya melalui treatments yang ketinggalan zaman dan tidak berguna. Ya, masalah si gadis sudah jelas. Jika Fothergill memeriksanya lebih dalam lagi dari yang dibutuhkan maka ia harus memikirkan dalih yang cukup masuk diakal untuk membantu keluarga ini tanpa harus menyinggung harga diri sang ayah. Dan ia melakukannya. Fothergill mendekati pria tersebut dan berbicara di telinganya dengan suara pelan “..ini merupakan sebuah kasus yang menarik.. bagi saya suatu kesempatan yang sangat berharga bahwa saya bisa memeriksa putri Anda. Jadi saya berhutang pada Anda...terimalah ini sebagai penghargaan saya atas kesempatan ini..” katanya sambil meletakkan lima poundsterling ke dalam tangan pria itu, sambil ia menuliskan petunjuk-petunjuk untuk tindakan yang diperlukan anaknya. Ia mengingatkan agar jangan ada lagi  tindakan yang mengakibatkan pendarahan.

Sore  pun menjelang, beberapa pasien mulai bertengkar sementara yang lain ada yang tidak bisa mengerti petunjuk yang diberikan sekalipun secara sederhana. Dalam tiap kasus Fothergill mengulang nasihatnya dengan sabar, terkadang sampai 2-3 kali hingga ia yakin pasiennya sudah mengerti. Sangat sedikit yang menawarkan bayaran yang sedikit. Ia menolaknya secara halus dengan berkata “..Saya tidak pernah menerima bayaran pada saat sedang liburan...”.

Pada akhirnya ia bisa melanjutkan perjalanannya dengan kereta berikutnya. Ia sangat senang ketika tiba di Lea Hall. Di tempat ini setidaknya ia berharap bisa menikmati kedamaian, kecuali  satu hari dalam seminggu ia berdarmawisata ke Middlewich untuk mengadakan pengobatan gratis bagi para pasien miskin.

Kala malam tiba, Fothergill beristirahat, namun di bawah wig medis putihnya yang rapi pikirannya mengembara. Koloni-koloni di Amerika akan segera berperang dengan Inggris. Memalukan bahwa pemerintah tidak mendengarkan nasihatnya untuk menjaga perdamaian di saat hal itu masih mungkin. Orang-orang baik di kedua tepian laut Atlantik mengharapkan hal itu, mereka seperti Benjamin Franklin dan dirinya yang dipersatukan dalam the Society of Friends yang lebih dikenal sebagai The Quakers. Akankah perang menghentikan pasokan tanaman-tanaman dan belukar eksotik yang sangat diharapkannya dikirim kepadanya oleh John Bartram?  

Botani merupakan satu-satunya bidang yang menarik baginya setelah kedokteran. Bidang lain yang juga menarik baginya adalah penelitian dari Benjamin Franklin tentang listrik. Fothergill masih merasakan suatu kesenangan tersendiri untuk peran yang dia mainkan dalam menuliskan harga pada tiap terbitan dari penelitian-penelitian tersebut. Karena itu Royal Society memasukkan Franklin sebagai anggota. Sekarang bahkan para ilmuwan membuat replika dan memperluas penemuan-penemuan dari Franklin.

Ia akan menulis karya-karya Franklin lagi. Mungkin ia dan Franklin belum menemukan rumusan yang tepat untuk memperdamaikan Inggris dengan koloni-koloninya. Baik sekali kalau mereka bisa saling bertemu lagi. Betapa banyak hal yang mereka temukan dari hasil diskusi mereka saat Franklin berkunjung terakhir kali, yang antara lain tentang penataan kembali penjara, abolisi, perpustakaan, dan metode terbaik untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, pendidikan generasi muda, peningkatan standar medis. Fothergill menceritakan tentang kekecewaannya terhadap pihak berwenang di London yang tidak mau membuka jalan baru untuk memungkinkan akses ke dalam kota seperti yang dilakukan pemerintah Philadelphia, kampung halaman sahabat karibnya ini.

Secara terbuka Franklin berbicara tentang Fothergill “..Saya bisa benar-benar yakin bahwa seorang yang lebih baik telah hadir..” Franklin juga menambahkan bahwa Fothergill pantas menerima “penghargaan dan  penghormatan dari semua manusia”. Mungkin hati Franklin terbakar dengan kemarahan, atas nama teman dokternya, karena pelecehan terhadap reputasi dan wawasan Fothergill yang tinggi dimana Fothergill ditolak oleh Royal College of Physicians untuk menjadi anggotanya  hanya karena ia bukan lulusan dari Oxford atau Cambridge. Kecemburuan profesional yang menjadi dasar penolakan tersebut.  Fothergill mengambil gelarnya di sekolah medis yang baru di Edinburg. Fakultas kedokteran Edinburg seluruhnya beranggotakan dokter-dokter yang diajar oleh sang dokter Belanda yang terkenal, Hermann Boerhaave, yang membantu menghancurkan kungkungan kebodohan dunia medis yang kejam selama berabad-abad.

Bila kebiasaan pelayanan bedside Fothergill dipelajarinya dari Boerhaave, maka keahliannya dalam hal penyakit diperolehnya dari Thomas Sydenham. Sama halnya seperti dokter-dokter Inggris yang terkenal di abad sebelumnya, Fothergill mengisolasi dan mendeskripsikan penyakit, menulis laporan mengenai neuralgia ( a tic), megrim, scarlatina dan metal poisoning.

Pengucilan Fothergill dari Royal College of Physicians tidak membuatnya menurunkan standar profesi medisnya yang tinggi. Teman-teman medisnya sendiri merupakan orang-orang dengan cap tertinggi, seperti Thomas Dimsdale seorang Pencacar (vaccinator) yang terkenal dengan virus cacar yang masih hidup, serta John Coakley Lettsom pendiri London Medical Society. Mereka inilah para Quakers. Mereka bersama-sama menikmati rasa percaya diri Fothergill yang terdalam juga respeknya dan sering berkorespondensi dengannya.

Seorang Quaker, lulusan dari Edinburg, tidak turut mengambil bagian dalam kemuliaan Fothergill. Samuel Leeds adalah seorang “buta huruf” yang bebal yang melanjutkan praktek medis yang membahayakan pasien dan Fothergill jelas menentangnya.  Leed membawa kasus ini ke suatu pengadilan terhadap Quaker. Jelas tidak ada standar hukum untuk mngadili kasus seperti ini.  Komite ini, yang buta soal dunia medis, melihat secara langsung kepada pandangan bahwa Fothergill adalah orang yang suka memaksa. Mereka memerintahkan Fothergill untuk membayar 500 poundsterling. Sejak mudanya Fothergill sudah mengikuti kehendak Tuhan dengan setia. Menghadapi masalah tersebut ia memutuskan untuk menolak membayar. Kehidupannya terancam oleh praktek perdukunan Leeds. Leeds berupaya membawanya ke pengadilan. Untuk melindungi dirinya sendiri  Fothergill masuk dalam suatu pembelaan.  Teman-temannya para Quaker pikir ini pasti suatu kesalahan karena seorang kristen akan pergi ke pengadilan melawan orang kristen lainnya. Setelan berbulan-bulan bertengkar, yang menyebabkan Fothergill sangat tertekan, akhirnya kasus tersebut diputuskan. Hakim memutuskan bahwa Fothergill sesungguhnya hanya mengerjakan tugasnya. Leeds meninggal setahun kemudian dalam keadaan yang jatuh miskin.  Segala kebutuhannya sebelum itu disediakan oleh seorang tak dikenal. Dan tersebar kabar bahwa itu merupakan perbuatan baik Fothergill yang dilakukannya secara diam-diam.

Fothergill merupakan seorang anggota jemaat yang aktif dari gerejanya. Dalam figur seorang pemimpin perkumpulan Quaker, ia bekerja  untuk memulihkan kemurnian dari Quaker Society. Sebagaimana yang dituliskannya kepada seorang ahli kimia yang terkenal, Joseph Priestly, yang sering dibantunya dari segi keuangan: “..harapanku yang paling dalam adalah bahwa semua profesor kekristenan lebih tekun dan bersungguh-sungguh menjalani kehidupan mereka sebagai orang kristen...”.

Menurut definisi Fothergill, seorang kristen adalah seseorang yang melayani sesamanya. Oleh karena itu ia aktif membentuk sebuah perkumpulan dalam rangka memperkenalkan metode yang kemudian kita kenal sebagai first-aid resuscitation. Secara aktif ia mengadakan pendekatan pada pihak berwenang untuk program pelebaran jalan dan pembuatana jalan baru.  Ketika John Woolman, seorang Quaker abolitionist (anggota gerakan penghapusan) yang cermat, mengunjungi Inggris, Fothergill menerimanya dan ia mendapakan dukungannya. John Woolman memberikan masukan tentang sebuah sistem yang lebih baik mengenai pencatatan statistik yang vital, dengan kasus khusus dalam hal pencatatan kasus kematian. Menyadari pentingnya pendidikan, dengan senang hati ia mendanai sebuah sekolah Quaker yang kemudian dilaporkannya mempunyai 150 orang murid laki-laki dan 80 orang murid perempuan.  Ia yang mendukung biaya studi seorang sarjana yang miskin bernama Anthony Purver, yang kemudian menterjemahkan Alkitab dengan lebih akurat.

Setelah menjalani kehidupan yang sehat dan bebas dari minuman keras Fothergill menderita kanker prostat yang mematikan. Mendekati ajalnya ia banyak menghabiskan waktunya bersama sahabat karibnya, David Barclay seorang teolog Quaker. Barclay berkata bahwa Fothergill sangat tenang menghadapi masa-masa akhir hidupya, karena ia menyadari bahwa kehidupan yang dijalaninya tidak sia-sia karena ia banyak menolong sesamanya.

Kepada saudara perempuannya yang terkasih, Ann, yang bersama dengan dia, Fothergill berkata “..Bergembiralah..jangan menahan saya..Saya sedang ragu apakah akan baik-baik saja bagi saya, tetapi sekarang saya puas diatas keraguan itu..diatas keraguan, bahwa saya akan merasa senang selamanya.  Kesukaran-kesukaranku sudah berakhir karena itu bergembiralah..dan kiranya  engkau diberkati saat ini dan dalam kekekalan..” Kehidupannya selama dua minggu terakhir dijalaninya dengan penuh penderitaan dan ia meninggal setelah natal tahun 1780. 

Jika ada seseorang yang mempraktekan keduanya, iman dan medis maka orang itu adalah Fothergill.



Sumber:

Diterjemahkan dari buku "Doctors Who Follow Christ, Thirty-two Biographies of Eminent Physiciand & Their Christian Faith(Dan Graves, Grand Rapids-USA: Kregel Publications,1999)

Copyright 2007, Pelayanan Medis Nasional (PMdN) Perkantas

Jl. Pintu Air Raya 7, Komplek Mitra Pintu Air Blok C-5, Jakarta Pusat
Telp. (021) 3522923, 3442463-4 Fax (021) 3522170
Twitter : @MedisPerkantas
Download Majalah Samaritan Versi Digital : https://issuu.com/samaritanmag