Selasa, 30 September 2014

Yang tersisa dari perjalanan KMdN 19 Bali…


Saya cukup familiar dengan perasaan yang saya bawa saat meninggalkan arena kamp medis. Setelah 6-7 hari berkumpul dengan sekitar 300 mahasiswa, berjuang, berbagi beban & keluhan dengan panitia pelaksana, ada rasa kesepian yang mulai menguasai. Kali ini saya mencoba menuangkannya dalam bentuk yang lebih bermanfaat, yaitu dengan membuat sebuah catatan kecil yang saya harap bisa selesai begitu pesawat ini mendarat di Bandara Soekarno-Hatta.


Saya dan rekan-rekan panrah menghadiri kamp ini dengan ketibaan yang berbeda namun pulang pada hari yang sama, hari minggu sore, 17 Agustus 2014. Lebih dari sekedar lega karena kamp sudah selesai, kami semua sungguh bersyukur diijinkan untuk menyaksikan Tuhan bekerja dengan caranya sendiri, jauh di atas ekspektasi kami melalui panitia pelaksana yang relatif hanya segelintir jumlahnya.

Malam pertama di BITDeC kami lalui dengan menyantap nasi bungkus dan ikan bakar, dan dr. Giles jauh-jauh dari CMF Inggris harus belajar makan dengan jari-jarinya tanpa sendok & garpu. Wisma dengan kamar tidur berkapasitas 12 bed/kamar dan kamar mandi yang bisa menampung 40 orang untuk mandi secara bersamaan, terasa sangat sepi karena luasnya lokasi dan tersebarnya kamar-kamar yang ada. Dokter Susan dan rekan-rekan panitia pelaksana mulai tampak sibuk, namun kelelahan tampak jelas di wajah mereka, namun tidak pernah kehilangan sense of humor mereka. Kekuatiran yg tidak saya ungkapkan, namun mungkin terbaca oleh Susan, yang sedang menjalani terapi untuk SLE nya, adalah bahwa beban kerja & stress yang berat dapat membuat berbagai gejala penyakitnya kambuh. Puji Tuhan atas pemeliharaanNya kepada hambanya ini.   
  
Senin, 11 Agustus 2014, dimulailah Konsultasi Nasional Pelayanan Medis (KNPM), yang dihadiri oleh 50-an peserta, dari 14 daerah, 20 PMK dan 2 PMdK. KNPM berlangsung dengan sangat kondusif, para peserta, yang merupakan orang kunci masing-masing PMK mulai cair dalam persekutuan dan dengan cepat menyesuaikan diri dengan padatnya jadwal pertemuan dan diskusi, sehingga meskipun waktu sudah larut malam, peserta tidak menunjukkan tanda-tanda kelelahan dan terus bersemangat membahas kondisi persekutuannya dan memberikan masukan-masukan berharga untuk setiap tahapan P1-P4 yang mereka lalui. Sementara kami sibuk mengurusi KNPM, dr. Giles sama sekali tidak ingin mengganggu kami, dia mempersiapkan eksposisi dengan serius dan mengatasi kejenuhannya dengan jogging ke Pantai Nyanyi. Kehadiran dr.Wei Leong dari  CMF Singapore menambah keceriaan kami, karena sikapnya yang mudah menyapa dan menyesuaikan diri dengan kondisi wisma. 

Selasa, 12 Agustus 2014, inilah ujian yang sesungguhnya, karena begitu KNPM ditutup pukul 13 siang, maka KMdN pun akan segera dibuka pada pukul 16.00. Hal menarik kami amati bahwa tidak tampak hiruk pikuk panitia yang berarti, yang kelihatan hanya sejumlah  walkie talkie yg tidak berhenti bersuara digenggaman panitia pelaksana yang didukung penuh oleh para volunteer dari fakultas lain. Kami bersyukur KNPM ditutup dengan menghasilkan sejumlah komitmen dari masing-masing PMK untuk memperkuat proses P1 – P4 di kampusnya dan jejaring antar kampus dan kota yang tidak hanya muncul dalam bentuk wacana namun berupa rencana kerja yang siap dieksekusi di bulan-bulan ke depan.

Pembukaan KMdN berlangsung meriah dan KKR malamnya berlangsung khidmat. Semua kekuatiran akan sound system dan temperature Bali yang cukup hangat sirna seketika karena meskipun dilaksanakan di pendopo yang terbuka, suasana sangat kondusif dan peserta sangat kooperatif. Kehadiran dan kepedulian Dr. Vinod Shah selaku CEO ICMDA terhadap kegiatan-kegiatan PMdN meningkatkan semangat kami, mengingat perjuangan beliau di usia yang tidak muda lagi telah jadi dorongan tersendiri buat kami semua.

Rabu s/d Sabtu, 13 – 16 Agustus 2014, waktu terasa berlalu begitu cepat, para pembicara mulai berdatangan, sesi demi sesi bergulir begitu cepat, eksposisi Kitab II Timotius diuraikan secara mendalam oleh dr. Giles, panel-panel diskusi dan ceramah-ceramah dilangsungkan dan dikemas dengan begitu rupa sehingga tidak satupun peserta yang mengeluh walaupun hanya diberikan waktu sekitar 1 jam untuk mandi & istirahat sore. Ini luar biasa!.
Kekuatiran akan kehadiran 4 pembicara asing akan menimbulkan kesulitan bagi panitia & peserta karena kebutuhan penerjemahan pada setiap sesi mereka, sama sekali tidak terbukti. Kami perhatikan semua peserta menikmati acara dan aktif bertanya dan berdiskusi dalam setiap sesi.Sejumlah  Lokakarya dan Seminar yang digelar secara bersamaan di ruang-ruang berbeda juga berlangsung lancar. Tidak ada keluhan dari peserta, tidak ada suara berbantah-bantahan diantara panitia, semua bekerja dan berjuang, sungguhlah suatu pemandangan yang indah untuk dinikmati kami sebagai panrah. Thanks dr. Susan untuk kepemimpinannya, thanks para panitia & volunteer yg tidak bisa saya sebutkan satu per satu.

Pujian dari Bapak Dewa selaku pengawas dari pihak BITDeC yang mengatakan bahwa tidak pernah mereka menerima rombongan se-tertib dan se-bersih ini benar-benar menambah suka cita kami. Suatu kesaksian yang baik tentunya, saat kami membicarakan jumlah yg masih harus kami bayarkan kepada pihak BITDeC berkaitan dengan penyelenggaraan kamp. Masih banyak kebutuhan dana tambahan untuk menutupi kekurangan ini, namun ini tidak mengurangi suka cita dan pengharapan kami bahwa Tuhan sedang dan akan mencukupi seluruh kekurangan yang ada.

Di sela-sela kesibukan menyelenggarakan kamp, ada suka cita besar menyaksikan beberapa alumni senior yang juga mantan peserta KMdN yang kali ini hadir sebagai pembicara, diantaranya dr. Paran Bagionoto, dr. TJ Situmorang, dr. Ronald Jonathan, dan dr. Edi Lubis. Sangatlah menghibur sekaligus menguatkan saat menyaksikan kelucuan mereka berbagi kisah dan pengalaman hidup, serta beban yang mereka tunjukkan terhadap pekerjaan ini. Setidaknya saya percaya pelayanan medis yang kita perjuangkan bertahun-tahun tidak akan pernah sia-sia. Bangkitnya para alumni yang relatif muda seperti dr. Andry Susanto, drg. Hedwin, & dr. Kris Gunadi juga memberikan semangat tersendiri dan memunculkan harapan regenerasi dalam meneruskan tongkat estafet pelayanan medis.

Perhatian khusus juga saya berikan kepada drg. Mathias Quake, yang hangat dan sarat dengan aroma misi. Tidak butuh waktu lama untuk merasakan ketulusan dan kerendahan hatinya dalam berbagi. Setiap kali menghadiri sesi dan menyaksikan respon peserta yang tersentuh oleh pemberitaan Firman Tuhan, beliau selalu menunjukkan keharuan karena sukacita yang mendalam. Kredit khusus saya berikan kepada dr. Goh Wei Leong yang secara kreatif merekayasa ceramah di saat jam ngantuk dan Panel Diskusi dengan 8 pembicara menjadi sangat hidup dan mencerahkan. Saya hanya bisa berkata mengucap syukur untuk hamba-hambaNya ini.  

Malam dedikasi yang memanggil para peserta untuk memberi diri bermisi secara integral di bidang-bidang yang telah dibukakan, merupakan klimaks dari semua kerja keras selama ini. Sangatlah menguatkan sekaligus mengharukan melihat para peserta berdiri mengambil tekad dan mempersembahkan hidup dan profesinya bagi Tuhan melalui jalur-jalur misi yang diyakini merupakan panggilan ilahi bagi mereka.

Minggu, 17 Agustus 2014, adalah hari spesial karena untuk pertama kali KMdN dilaksanakan bersamaan dengan peringatan Hari Kemerdekaan Bangsa Indonesia. Upacara pun digelar, Bendera Merah Putih dikibarkan, mengheningkan cipta dilangsungkan, Pancasila diikrarkan, dan lagu Indonesia Raya dikumandangkan, rasa haru sekaligus bangga menyeruak ditengah-tengah keterpurukan bangsa, sungguh mengingatkan betapa besar tanggung jawab yang kita emban sebagai generasi yang hidup di era kemerdekaan ini untuk berkontribusi bagi bangsa Indonesia yang kita cintai ini.

Akhirnya, tiba juga kami di penghujung pelaksanaan KMdN. Kami tidak memiliki cukup kata untuk mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih kami kepada setiap panitia pelaksana dan volunteer. Air mata keharuan, yel-yel terima kasih dan standing ovation yang amat panjang, yang mereka terima tentulah mengirimkan pesan yang sangat kuat bahwa baik panitia pengarah maupun peserta KMdN luar biasa menghargai kerja keras dan keramahan mereka, walau mungkin tidak sebanding dengan keringat dan air mata yang mereka telah curahkan selama 1 tahun persiapan kamp ini. Kiranya Tuhan sendiri yang memperhitungkannya untuk mereka.

Selesai sudah segala hiruk pikuk KMdN, usai sudah malam-malam panjang evaluasi yang melelahkan,  genaplah sudah seluruh upaya memperlengkapi para peserta. Sekarang menunggu pekerjaan rumah besar untuk menindaklanjuti tekad para peserta untuk setia mempersiapkan diri masuk ke ladang misi sesuai panggilan mereka. Dalam 2-3 tahun yad sebagian besar mereka akan menjadi alumni, waktu yang tidak terlalu panjang lagi untuk mempersiapkan mereka, namun bisa terasa lama bila kita hanya menunggu tanpa berbuat apa-apa. Waktu akan membuktikan apakah kata: “otentik”, “tangguh”, dan “missioner bagi bangsa” hanya indah untuk diikrarkan atau benar-benar menjadi kenyataan.

Catatan terakhir yang bisa saya buat adalah bahwa:
1.       Penyelenggaraan kamp ini mengingatkan saya akan kisah Gideon dengan 300 orang Israel yang berhasil mengatasi orang Midian dan Amalek yang jumlahnya tak terhingga di Hakim-Hakim pasal 6 & 7.
2.      Perasaan tidak mampu yang tulus (meminjam istilah Susan: “impossible” ,saat menerima penunjukan sebagai panlak KMdN XIX),  disertai dengan kerendahan hati, kerja keras, dan kebergantungan akan peran Tuhan, tidak akan pernah Tuhan kecewakan. (I Kor. 1: 25 – 29).


Jakarta, 18 Agustus 2014
dr. Lineus Hewis, SpA
Panitia Pengarah KMdN XIX Bali


Tidak ada komentar:

Copyright 2007, Pelayanan Medis Nasional (PMdN) Perkantas

Jl. Pintu Air Raya 7, Komplek Mitra Pintu Air Blok C-5, Jakarta Pusat
Telp. (021) 3522923, 3442463-4 Fax (021) 3522170
Twitter : @MedisPerkantas
Download Majalah Samaritan Versi Digital : https://issuu.com/samaritanmag