Jumat, 11 September 2015

Nyatakan Yesus Dalammu (Pdt. Erick Sudharma)


Dalam hidup saya ada 2 contoh pribadi yang setia menjadi saksi Kristus di Yerusalem. Pertama, ibu rohani saya, Dorothy Irene Marx. Usianya telah mencapai 90 tahun, tapi gairahnya untuk memberitakan Injil tetap menyala-nyala. Baginya, lingkungan seminari tempatnya mengajar adalah Yerusalemnya. Betapa sedih Beliau ketika dipensiunkan dari tugas mengajar karena kecakapan mengajarnya dinilai semakin merosot. Namun, Ibu Dorothy tidak berhenti memberitakan Injil. Tidak dapat lagi mengajarkan firman Tuhan secara formal di ruang-ruang kelas tidak berarti tidak dapat mengajarkannya secara nonformal di ruang tamunya. Yang penting Injil tetap diberitakan. Dan itulah yang dilakukannya. Beliau memimpin kelompok-kelompok penggalian Alkitab di rumahnya . Beberapa kelompok mahasiswa dan satu kelompok karyawan. Ia rindu mereka bukan cuma tahu tentang Yesus, tapi benar-benar mengenal Yesus dan diselamatkan. Mengapa Ibu Dorothy tekun memberitakan Injil? Saya pernah bertanya kepadanya. Sambil tersenyum, beliau menjawab, “Tuhan belum panggil saya pulang. Saya ingin segera pulang. Tapi Tuhan belum mau. Itu berarti tugas saya di dunia ini (yaitu memberitakan Injil) belum selesai.”


Contoh kedua adalah almarhum dr.Rudy Marangkey, saudara dan rekan seperjuangan kami di ladang misi. Rumah Sakit Santo Yusuf adalah Yerusalemnya. Bersama seorang dokter yang lain, dengan
setia ia melayani para karyawan dan pensiunan karyawan rumah sakit tersebut dengan mengadakan persekutuan mingguan. Dengan penuh kasih dan tanpa pandang bulu ia melayani pasienpasiennya.
Kadang-kadang ia harus mengoperasi pasiennya tanpa bayaran sepeser pun, karena sang pasien sangat miskin. Kadang-kadang ia sendiri yang menutupi biaya berobat pasiennya. Salah satu pasien yang pernah menikmati cinta kasih dr. Rudy adalah almarhum seorang ibu yang mengidap kanker stadium 4. Dia adalah istri kedua dari seorang laki-laki. Selama lebih dari 6 minggu ia dirawat di
Rumah Sakit Santo Yusuf. Dari hari ke hari, kondisinya semakin parah. Karena tidak sanggup lagi membiayai perawatannya, suaminya akhirnya meninggalkannya dan tidak pernah lagi menengoknya.
Keluarganya juga meninggalkannya, karena tidak mau ikut susah.Toh, secara medis kemungkinannya sembuh tidak ada. Yang tidak meninggalkannya dalam melawan kanker yang ganas itu, bahkan di hari-hari terakhirnya, justru sang dokter yang menanganinya beserta beberapa suster yang simpatik dengan kesetiaan sang dokter. Dr Rudy Marangkey. Entah sudah berapa rupiah yang dikeluarkannya untuk menolong sang pasien, supaya ia tetap dirawat dengan baik, sekali pun sebagai dokter dia paling tahu bahwa pasiennya sedang sekarat. Satu hari sebelum sang pasien meninggal, dr Rudy minta saya melayani ibu tersebut. Ia ingin saya memberitakan Injil kepadanya, supaya ia diselamatkan. Singkat cerita, sang ibu mau menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya. Surga bersorak-sorai. Esoknya, ia meninggal dengan tenang. Melalui pelayanan dr. Rudy, seorang ibu yang di sepanjang hidupnya merasa tidak dikasihi akhirnya boleh mati sebagai orang yang merasa
sangat dikasihi. Ia merasa sangat dikasihi oleh Tuhan melalui hamba-Nya, almarhum dr. Rudy Marangkey. Sekarang dr. Rudy sudah pergi meninggalkan kita. Artinya, tugasnya sudah selesai. Tapi tugas kita belum selesai. Maukah kita mengikuti teladannya?

Di dunia yang penuh cemar antara sesamamu
Hiduplah saleh dan benar, 
nyatakan Yesus dalammu
Nyatakan Yesus dalammu, 
nyatakan Yesus dalammu;
Sampaikan Firman dengan hati teguh,
nyatakan Yesus dalammu
Hidupmu kitab terbuka dibaca sesamamu;
Apakah tiap pembacanya 
melihat Yesus dalammu?
[Nyanyikanlah Kidung Baru No. 204 
“Di Dunia Yang Penuh Cemar”]



Pendeta Erick Sudharma
Alumni Tehnik Mesin Trisakti dan STT Bandung
Saat ini sedang studi MTh di STT Duta Wacana
dan melayani di
Gereja Kristen Muria Indonesia (GKMI ) Kudus

Tidak ada komentar:

Copyright 2007, Pelayanan Medis Nasional (PMdN) Perkantas

Jl. Pintu Air Raya 7, Komplek Mitra Pintu Air Blok C-5, Jakarta Pusat
Telp. (021) 3522923, 3442463-4 Fax (021) 3522170
Twitter : @MedisPerkantas
Download Majalah Samaritan Versi Digital : https://issuu.com/samaritanmag