Jumat, 27 April 2018

Sembuh Jasmani Penting, Lebih Penting Lagi Sembuh Rohani

Sesudah itu naiklah Yesus ke dalam perahu lalu menyeberang. Kemudian sampailah ia ke kota-Nya sendiri. Maka dibawa oranglah kepadanya seorang lumpuh yang terbaring ditempat tidurnya. Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: "Percayalah, hai anakKu, dosamu sudah diampuni." Matius 9:1-2


Saat Yesus datang lagi ke Kapernaum, maka datanglah orang-orang berkerumun hendak mendengar pengajarannya karena telah mendengar bahwa Ia dapat menyembuhkan orang sakit. Pada waktu itu ada seorang sakit lumpuh yang dibawa kepada Yesus oleh empat orang sahabatnya (Markus 2:3). Tapi mereka tidak dapat membawanya masuk karena banyaknya orang disitu, maka naiklah mereka ke atap rumah, lalu membongkar atap rumah itu, dan menurunkan orang itu dengan tempat tidurnya ke tengah-tengah orang banyak di depan Yesus (Lukas 5:19).

Cerita ini merupakan suatu gambaran yang sangat baik tentang adanya orang sakit yang disembuhkan oleh iman para sahabatnya. Kalau tidak karena perjuangan mereka dan iman mereka itu, maka si sakit tersebut tidak akan pernah sampai ke hadapan Yesus yang berkuasa menyembuhkan itu. Kita tidak dapat mengkristenkan seseorang, namun kita perlu berusaha dengan segala cara dan jalan untuk dapat membawa orang ke hadapan Kristus. Selanjutnya orang itu sendirilah yang akan menentukan, apakah ia mau percaya kepada Kristus atau tidak.

Cara yang dipakai Yesus untuk menangani orang yang lumpuh di dalam kisah ini sangat mengherankan. Yesus mulai dengan mengatakan, bahwa dosa-dosa orang tersebut telah diampuni. Tampaknya ada alasan untuk tindakan-Nya itu.; bahwa pada saat itu ada kepercayaan ortodoks Yahudi/Palestina kuno bahwa tak ada satu penyakit pun yang bisa sembuh kalau dosa-dosa si sakit tidak diampuni, contohnya Ayub yang dipaksa oleh sahabat-sahabatnya untuk mengakui dosa yang telah diperbuatnya agar Ayub sembuh dari sakitnya. Yang dibutuhkan orang sakit yang mempunyai keyakinan yang seperti itu hanya satu yaitu kepastian bahwa dosa-dosanya diampuni. Kepastian pengampunan itulah yang akan membawa kesembuhan kepadanya. Keadaan jiwa mempunyai pengaruh yang besar terhadap keadaan jasmani seseorang; pengobatan modern pun menyetujui hal ini.

Hanya saja cara penyembuhan yang dilakukan Yesus tersebut menjadi batu sandungan bagi para ahli Taurat. Mereka berpikir dalam hatinya: "Mengapa orang ini berkata begitu? Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah sendiri?" (Markus 2:7). Menurut mereka mengampuni adalah hak prerogatif dari Allah, maka tindakan Yesus tersebut dianggap menghina Allah. Membela Allah merupakan hal yang baik, hanya saja mereka tidak mengerti bahwa Yesus adalah Allah sendiri yang telah turun kedalam dunia ini. Mereka tidak mengenal akan Anak Manusia yang telah dinubuatkan di dalam Daniel 7:13-14 yang memiliki kuasa dan kemuliaan. Kuasa yang diberikan oleh Allah kepada-Nya adalah kuasa yang kekal, yang tidak akan lenyap, termasuk pula kuasa untuk mengampuni dosa manusia. Sangat disayangkan semangat yang besar dari ahli Taurat untuk selalu mentaati hukum Allah ini malah berbalik menjadi kejahatan yang besarhanya karena pengenalan terhadap Allah yang tidak benar.

Yesus yang mengetahui pikiran para ahli Taurat ini balik bertanya: Manakah lebih mudah, mengatakan: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah dan berjalanlah (Matius 9:5). Pertanyaan ini membuat kita berpikir bahwa tentunya lebih mudah mengatakan bahwa dosamu sudah diampuni karena tidak perlu untuk dibuktikan, sedangkan jika menyembuhkan secara jasmani akan dituntut bahwa secara kasat mata orang tersebut sembuh. Tetapi bila kemudian dikaitkan dengan sembuhnya orang lumpuh tersebut dan dikaitan dengan kepercayaan umum saat itu (sakit adalah akibat dosa), maka nyatalah bahwa Yesus berkuasa untuk mengampuni dosa si lumpuh.

Pengampunan dosa itu kemudian diikuti oleh perintah kepada si lumpuh untuk, angkat tempat tidur dan pulang ke rumah. Disini kita melihat bahwa bahwa meskipun kesembuhan secara jasmani penting, tetapi lebih penting lagi kesembuhan secara rohani. Yesus lebih mengutamakan kesembuhan rohani dari si lumpuh, meskipun Ia sesuai dengan kehendak-Nya juga mampu untuk menyembuhkan secara jasmani. Dan setelah sembuh secara rohani si lumpuh juga diberikan perintah yang harus diikuti dengan penuh kepercayaan kepada Yesus, ia percaya bahwa ia mampu untuk melakukan perintah tersebut karena Yesus-lah yang akan memberikan kemampuan baginya.

Akibat perbuatan Yesus yang menyembuhkan orang lumpuh itu membuat orang banyak memuliakan Allah yang telah memberikan kuasa yang demikian kepada manusia. Yesus dianggap luar biasa tapi tidak lebih dari itu. Yesus hanya dianggap sebagai manusia yang mampu memberi kesembuhan, namun demikian perbuatan Yesus membuat mereka lebih jauh akan bertanya: "Siapakah Dia sesungguhnya?". Manusia yang diberi karunia untuk mengampuni dosa pastilah bukan manusia biasa.

Aplikasi yang dapat kita terapkan di dalam kehidupan kita adalah:
1. Menjadi sahabat berarti harus mengusahakan segala cara dan jalan untuk dapat membawa sahabatnya kepada Kristus.
2. Senantiasa percaya kepada Yesus yang mampu memberikan pengampunan terhadap jiwa seseorang dan juga mampu memberi kesembuhan secara jasmani.
3. Berusaha untuk terus mengenal siapakah Yesus dengan lebih sungguh sehingga mampu menterjemahkan dan melakukan perintah-Nya dengan baik.
4. Mempersembahkan semua kemuliaan hanya untuk Tuhan, baik itu di dalam pekerjaan sebagai dokter, dokter gigi, para medis maupun sebagai mahasiswa.


____________________________________________________________________
Oleh: Hana Prihatini W.
Dalam Majalah Samaritan Edisi 1 Tahun 2000.

Tidak ada komentar:

Copyright 2007, Pelayanan Medis Nasional (PMdN) Perkantas

Jl. Pintu Air Raya 7, Komplek Mitra Pintu Air Blok C-5, Jakarta Pusat
Telp. (021) 3522923, 3442463-4 Fax (021) 3522170
Twitter : @MedisPerkantas
Download Majalah Samaritan Versi Digital : https://issuu.com/samaritanmag