She leaned with her head on the window, watching evergreens bend in the snow
Remembering Christmas the way it had been, so many seasons ago
When the children would reach for their stockings, and open the presents they found
The light on the tree would shine right in their eyes, reflecting the love all around.
But this year there’s no one to open the gifts, no reason for trimming the tree
And just as a tear made its way to the floor, she heard voices outside start to sing:
“Merry Christmas to all who may dwell here, Merry Christmas if even just one,
May the joy of the season surround you, Merry Christmas with love” .......
Buat sebagian dari kita mungkin lagu di atas tidaklah asing. Lagu ini selalu memiliki makna spesial buat saya di masa natal. Walau awalnya lebih banyak karena lagu tersebut sering mengalun di tengah begitu beratnya beban kerja dan banyaknya tugas-tugas yang harus diselesaikan pada masa saya menjalankan residensi pediatri di negara tetangga, hingga saat ini saya selalu terhanyut dalam haru bila mendengarkannya,. Disamping melodi yang harmonis dan syair dengan pilihan kata-kata yang sangat indah, suara merdu dari penyanyi handal sekelas Sandy Patty mampu membawa saya membayangkan kesepian hati seorang ibu dalam kesendiriannya di masa natal, tanpa orang-orang yang dikasihi dan mengasihinya. Seakan tiada alasan lagi untuk merayakan natal. Hari-hari sekitar natal yang biasa dilaluinya dengan penuh keceriaan , kini berubah menjadi memori yang menyayat hati. Namun tepat ketika butiran air matanya mulai menetes, suara nyanyian Christmas carol di muka rumahnya dan wajah teman-teman lamanya dalam kelompok penyanyi tersebut mampu menghapus kesedihan dan melupakan ketawaran hatinya bertahun-tahun, dan dikisahkan pada akhirnya dia bahkan terlarut bernyanyi dengan teman-temannya tersebut.
Setidaknya ada 2 pesan yang menurut saya berharga dari lagu ini. Pertama adalah bahwa kehadiran yang tulus dari teman-teman seiman pada saat yang tepat dapat menjadi obat yang sangat mujarab menghadapi ketawaran hati seseorang. Kedua adalah bahwa melayani tidak harus dalam jumlah besar, menghibur satu orang saja seperti tampak dalam kata-kata yang disampaikan oleh para penyanyi tersebut, “..., selamat hari natal, kepada siapapun yang tinggal di sini, selamat hari natal walau hanya ada satu orang saja..” dapat memberikan dampak yang besar.
Lagu tersebut mengingatkan saya betapa pribadinya Allah memperhatikan kita masing-masing. Sungguhlah menakjubkan menyadari bahwa kita masing-masing hanyalah satu manusia diantara milyaran manusia yang hidup di muka bumi, tinggal di sebuah ruang yang relatif besarnya mungkin seperti debu saja bila menyadari bahwa bumi hanyalah satu benda angkasa dari sebuah galaksi diantara begitu banyak galaksi yang kita sendiri belum tahu berapa banyaknya. Jauh sebelumnya, Pemazmur sudah melukiskan kekagumannya akan perhatian Allah semesta alam terhadap manusia, ”Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kau tempatkan; apakah manusia sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? (Maz.8:5-6). Firman Tuhan dalam kitab Yeremia “Firman Tuhan datang kepadaku, bunyinya: ”Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa” (Yer. 1:4-5) menunjukkan betapa pribadinya Allah mengenal kita masing-masing dan memiliki rancangan yang jauh-jauh hari sebelum kita dilahirkan. Bandingkan juga dengan Mazmur 139:13-16 dimana digambarkan betapa detailnya Allah mengenal kita masing-masing jauh sebelum kita dikandung dan selama proses pembentukan kita dalam rahim ibu. Seluruh kitab Perjanjian Lama mulai dari penciptaan dipenuhi dengan fakta bagaimana Allah yang Maha Tinggi terlibat secara pribadi dalam kehidupan manusia. Lihatlah bagaimana Allah berbicara kepada Adam dan Hawa, Nabi Nuh, menyapa bapak Abraham secara, membukakan rencana-rencanaNya, menguatkan beliau berulang-ulang sebelum mampu melihat janjiNya terwujud (Kej. 12-25), bersahabat dengan nabi Musa mulai dari panggilan untuk membawa bangsa Iarael keluar dari perbudakan di Mesir sampai melalui begitu banyak tantangan saat membawa bangsa yang dikatakan tegar tengkuk tersebut menuju tanah perjanjian (Kel. 3-40, juga dalam kitab Bilangan dan Ulangan), juga ketika Allah dengan sabar menolong Hakim Gideon yang dalam segala keraguannya harus memimpin bangsa Israel membebaskan diri dari penindasan (Hak.6-8), belum lagi raja Daud dengan segala jatuh bangunnya, namun Allah memperlakukannya bak biji mataNya sendiri, (I Sam. 16 – II Sam. 1-24) dan masih banyak lagi.
Kalau kenyataan bahwa Allah yang Maha Tinggi begitu intense berkomunikasi dengan manusia secara pribadi sudah membuat kita terpana, maka ada satu hal lagi yang membuat kita tak akan habis-habisnya takjub akan kebesaran Tuhan, yaitu ketika Allah memandang manusia yang ada di muka bumi ini, yang tidak berdaya menghadapi kebinasaan karena dosa. Allah didorong oleh kasihNya yang begitu besar akan dunia ini, sehingga Dia rela mengutus AnakNya yang tunggal, Yesus Kristus, ke dalam dunia, untuk menyelamatkan manusia (Yoh. 3:16). Allah menjelma menjadi manusia, tinggal di tengah-tengah kita, Immanuel. Perlu diingat bahwa Tuhan Yesus sebagai Anak Allah, tidak menganggap kesetaraanNya dengan Allah sebagai hal yang patut dipertahankan, melainkan Dia merendahkan diri, mengambil rupa seorang hamba hingga mati di kayu salib demi untuk menyelamatkan manusia. (Fil. 2: 5-11). Untuk jalan keselamatan yang tersedia inipun Allah tidak pernah memaksa, Dia memberikan kehendak bebas kepada manusia untuk memutuskan sendiri akhir perjalanan hidupnya. Sungguh luar biasa, sulit untuk memahami betapa Allah melihat setiap pribadi manusia begitu berharga. Pikiran liar saya kadang-kadang membawa saya befikir bahwa apakah mungkin ada makhluk hidup lain yang setara dengan manusia di luar galaksi ini dimana Allah mau berbuat yang hal yang sama untuk mereka.
Tuhan Yesus dalam berbagai kesempatan menunjukkan betapa Allah memperhatikan manusia secara pribadi bahkan rambut di kepala kitapun diketahui jumlahnya (Luk. 12:7). Dia bahkan dalam Kotbah di Bukit mengajari kita untuk memanggil Allah dengan sebutan ‘Bapa’ (Mat. 5-7). Perumpamaan tentang Gembala yang baik (Yoh. 10: 1-21) menunjukkan betapa Sang Gembala mengenal domba-dombanya, menjaga domba-dombaNya, dan memberikan nyawaNya untuk dombaNya. Perumpamaan tentang Domba yang hilang (Mat. 18:12-14) sekali lagi menegaskan betapa Allah Bapa di Surga tidak ingin satupun dari domba-domba tersebut terhilang.
Dalam kegiatan sehari-hariNya melayani begitu banyak massa, Dia tidak kehilangan sentuhan pribadiNya. Lihatlah bagaimana Dia secara khusus melayani Zakheus si pemungut cukai, yang dikucilkan dari komunitas karena profesi dan kecurangan yang dilakukan. Kunjungan yang amat mengubahkan hidup Zakheus dan seluruh isi rumahnya (Luk. 8:1-10). Demikian juga ketika Dia berbicara dengan wanita Samaria di tepi sumur dalam perjalananNya dengan murid-murid. Wanita yang diduga sengaja mengambil air di tengah hari untuk menghindari pertemuan dengan wanita-wanita lain karena stigma hidupnya. Perubahan ajaib itu tidak hanya sampai pada diri wanita tersebut, namun mencapai seluruh populasi yang selama ini dihindarinya (Yoh.4:1-42). Nikodemus dengan statusnya sebagai ahli Taurat yang merupakan kelompok oposisi terhadap Yesus, juga tidak luput dari perhatianNya. Pertemuan malam itu selain membukakan mata Nikodemus akan kelahiran baru, memberikannya keberanian untuk berdebat tentang perlakuan yang adil untuk Yesus di depan massa yang penuh oposisi, bahkan sampai memiliki keberanian menguburkan sang Mesias (Yoh.3:1-21, 7:50-52, 19:38-42). Perhatikan juga bagaimana Tuhan Yesus dari waktu ke waktu membentuk Rasul Petrus, mempersiapkannya memikul salib, bahkan setelah kebangkitanNya dari kematian, Dia secara khusus memberikan ‘pastoral counseling’ kepada Rasul Petrus yang baru saja menyangkaliNya dan memutuskan untuk kembali menjadi ‘fisherman’, meninggalkan panggilannya sebagai ‘fisher of men’. Pelayanan yang amat mengagumkan, Rasul Petrus berubah dari sesosok pribadi yang selalu menghindari salib, muncul sebagai ‘Kefas’ si batu karang, yang akhirnya benar-benar memikul salib yang sesungguhnya dan mati dengan cara yang memuliakan Allah (Mat. 4:19, Mar. 1:7, Yoh. 21).
Melalui renungan yang sederhana di suasana natal dan menyongsong tahun yang baru, saya mengajak kita untuk mengingat beberapa hal:
1. Menyadari bahwa Allah memperhatikan hidup kita satu per satu, seharusnya membuat kita selalu hidup dalam berlimpah ucapan syukur, mengingat betapa berharganya kita di hadapan Allah Yang Maha Besar, sehingga Dia rela mati disalibkan untuk menebus dosa-dosa kita. Rasul Petrus melukiskannya dengan begitu indah ketika beliau mengatakan: “... kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia ..., bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus ... (I Pet. 1:17-21).
2. Menyadari bahwa Allah memperhatikan hidup kita satu per satu, seharusnya membuat kita tidak merasa kesepian, atau bahkan terlarut dalam kesedihan yang berkepanjangan. Mungkin diantara kita ada yang sedang merasa sendiri, mungkin karena anda sedang tinggal jauh dari keluarga karena PTT, studi, training, atau tugas-tugas lain, atau mungkin anda baru ditinggal orang yang anda kasihi, atau mungkin pula anda di tengah hingar bingar, keramaian yang biasa anda lewati, namun tidak merasakan adanya hubungan yang mendalam dengan orang-orang yang anda temui, ingatlah bahwa Allah memperhatikan saudara. Keramaian perayaan natal, lagu-lagu yang ceria mungkin dapat menghibur kita sesaat, namun hanya kehadiran Allah dalam hidup kita yang dapat menjawab kebutuhan kita yang sesungguhnya. Rasul Paulus yang telah melalui begitu banyak tantangan dan pederitaan dalam memberitakan Injil, menyaksikannya dengan begitu gamblang: ”Terpujilah Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah sumber segala penghiburan, yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami, ... Sebab sama seperti kami mendapat bagian berlimpah-limpah dalam kesengsaraan Kristus, demikian pula oleh Kristus kami menerima penghiburan berlimpah-limpah. (II Kor.1:3-5). Ketika sekitar kita terkesan tidak perduli, ingatlah pesan Rasul Petrus: “ Serahkanlah segala kuatirmu kepadaNya, sebab Ia yang memelihara kamu” (I Pet. 5:7).
3. Menyadari bahwa Allah memperhatikan hidup kita satu per satu, seharusnya membuat kita tidak takut menghadapi situasi apapun dalam hidup ini. Keseharian kita dalam menjalani profesi medis, baik yang masih menjalani pendidikan maupun yang sudah berpraktek di tengah-tengah masyarakat , pasti tidak selalu diwarnai dengan keberhasilan dan kegembiraan, seringkali kita menghadapi situasi yang sulit, yang berpotensi membuat kita depresi serta kehilangan pengharapan. Ketika Allah memerintahkan Yosua untuk tidak takut dan tawar hati, Dia memberikan janjiNya bahwa Dia akan menyertainya kemanapun dia pergi (Yos. 1:9). Penyertaan yang sama berlaku saat ini untuk kita semua. Rasul Paulus menguatkan kita semua melalui perkataannya bahwa jika Allah tidak menyayangkan AnakNya sendiri, dengan memberikanNya sebagai korban tebusan untuk kita semua, bagaimana mungkin Dia tidak akan menyediakan apa yang kita perlukan (Rom 8:32).
4. Menyadari bahwa Allah peduli terhadap kehidupan masing-masing individu di muka bumi ini, seharusnya berdampak pula pada perlakuan kita terhadap sesama, keluarga kita, orang-orang yang kita temui, pasien-pasien kita. Dalam menjalani profesi medis sehari-hari selalu mudah buat kita untuk terjebak dalam memperlakukan pasien-pasien sebagai sekumpulan orang sakit saja. Bayangkan ketika ruang tunggu sudah penuh dengan pasien, tumpukan file pasien sudah tinggi di meja praktek, keluarga pasien sudah mulai tidak sabar menunggu giliran, pasien atau orang tua pasien bertanya dan bertanya lagi, dijelaskan tidak kunjung mengerti juga, belum lagi telpon dari ruang perawatan, ditambah lagi dengan HP dengan panggilan dan pesan singkatnya, semakin lengkap dengan bertambah lelah, dan laparnya sang dokter, diperburuk lagi dengan kemacetan di mana-mana untuk kita yang bekerja di kota besar atau sulitnya menemukan alat transportasi bagi kita yang melayani di daerah terpencil, apalagi urusan kebutuhan finansial, urusan rumah tangga dengan pasangan hidup dan anak-anak yang tak kunjung usai, wah.... sulit rasanya untuk mempertahankan perspektif ini. Dalam banyak kesempatan saya harus memohon ampun kepada Tuhan karena saya sudah memperlakukan pasien-pasien sebagai sekelompok masyarakat yang tahunya menuntut sebuah pelayanan yang memuaskan saja, sekumpulan manusia yang tidak mau peduli seberapapun beratnya beban kerja seorang dokter, sehingga saya tidak lagi melayani mereka dengan suka cita dan tidak jarang dengan banyak gerutu.
Dalam pengajaran tentang domba dan kambing (Mat. 25: 31-46), Tuhan Yesus menunjukkan betapa perlakuan kita terhadap satu demi satu dari sesama kita selama kita hidup tidak lepas dari pantauanNya, bahkan perhatian dan pertolongan yang kita berikan kepada sesama kita dianggap sama dengan melakukannya untuk Dia. Hanya anugerah dan usaha keras untuk mengalahkan ego diri dan profesi, serta memandang semua ini sebagai privilege untuk melayani sebagai tenaga medis, yang memampukan kita untuk terus menerus diperbaharui supaya dapat tetap memandang pasien-pasien dan keluarganya sebagai individu-individu yang harus kita layani sebagai pribadi yang utuh. Saya meyakini pengalaman pribadi kita berjalan bersama Tuhan akan terus mengingatkan kita betapa Allah sabar membimbing kita langkah demi langkah, betapa Dia mengerti terhadap segala kelemahan dan keterbatasan kita, betapa Dia peduli terhadap segala keadaan yang sedang kita hadapi. Pengalaman ini seharusnya menguatkan kita untuk terus menerus berjuang untuk belajar mengatasi segala pergumulan dan beban kerja untuk dapat melihat pasien-pasien kita, keluarga yang mendampinginya, orang-orang yang kita temui sehari-hari sebagai pribadi-pribadi yang berharga di mata Allah, yang membutuhkan kehadiran kasih Kristus melalui tangan-tangan profesional kita.
Marilah kita mengambil kesempatan melakukan refleksi dan mulai memperhatikan sekitar kita, orang-orang yang kita temui, pasien-pasien yang kita rawat, wajah-wajah yang mungkin tidak asing namun seringkali luput dari pengamatan kita, adakah mereka sedang membutuhkan penghiburan, atau tempat untuk membagikan kesusahan hatinya? Adakah mereka sudah mendengar berita sukacita natal, tentang Allah yang Immanuel? Biarlah melalui natal tahun ini dan tahun-tahun selanjutnya, kita bisa memberkati orang-orang yang kita temui dengan kasih yang mengalir dari suatu kehidupan yang dipenuhi kehadiran Allah setiap waktu. “Merry Christmas with love”.
- Lineus –
Dimuat di Mj. Samaritan Edisi-4 thn 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar