Selasa, 08 Mei 2012

“Hidup dalam lautan kehadiran Allah”


“Dari belakang dan dari depan Engkau mengurung aku, dan Engkau menaruh tangan-Mu ke atasku.”(Mazmur 
 139:5)
Sahabat PMDN,
Hidup yang kita hidupi pastilah rutinitas hidup yang sibuk, sarat dengan berbagai pergumulan, pertimbangan, keputusan, keberhasilan dan kegagalan. Begitu sibuk dan rutinnya, sehingga tidak terhindarkan kita sering menjalaninya tanpa selalu menyadari Allah hadir didalamnya.
Raja Daud mengungkapkan kekagumannya akan kemaha hadiran dan kemahatahuan Allah dalam hidupnya.Dalam Mazmur 139, Daud menggambarkan Allah sebagai Pribadi yang mengetahui setiap detil yang dialakukan dan pikirkan, bahkan dia merasakan Allah seperti membungkusnya dengan diriNya dari depan, belakang dan atas. Di Mazmur ini tampak bahwa Allah begitu perduli dan konsentrasi dengan hidupnya, dengan segala aktifitas sehari-harinya ,dengan apa yang diapikirkan, ucapkan dan lakukan. Dia seperti hidup dan bergerak dalam lautan kehadiran Allah yang tak mungkin dia bisa hindari atau pun lari dari padanya. (mazmur 139 : 1-10)
Suatu perenungan yang sangat indah, bagaimana Daud, seorang raja yang sangat besar, yang hidupnya sarat dengan segala keberhasilan dan juga kegagalan serta kejatuhannya tetapi tetap dapat memiliki keintiman dengan Allah sebegitu dalamnya. Inilah yang menjadi salah satu rahasia bagaimana Daud bisa selalu menghadapi tantangan besar dalam hidupnya dengan respon yang benar, karena dia selalu hidup dalam lautan kehadiran Allah.
Kegagalan dan kejatuhan tidak menjadi alasan baginya untuk menghindar dari Allah yang tak terhindarkan itu. Dalam keberhasilan dan pencapaian, dia selalu meletakkan Allah sebagai fokus utamanya . Pergumulan yang berat dan gelap sekalipun, dia selalu berhasil merasakan Allah hadir.
Johan Tjandawasa berkisah dalam bukunya  :Alkisah ada seekor ikan yang bertahun-tahun lamanya menghabiskan waktunya berenang kesana kemari dengan gelisah. Jelas terlihat dia sedang mencari sesuatu. Sampai suatu hari, saat ia bertemu dengan ikan bijaksana, ia pun bertanya kepadanya, “where is the sea?” (Tinggal dalam Hadirat Mu, hal 102)
Sering dalam hidup kita seperti ikan tersebut. Merasa sendiri, sulit merasakan kehadiran Allah dalam setiap doa dan pergumulan hidup. Merasa Allah diam di kala kita memohon pimpinanNya. Seperti ikan  yang gelisah mencari laut semantara dia sedang bergerak di dalamnya.
Dalam satu bulan terakhir ini, saya diperhadapkan pada suatu pergumulan yang mengharuskan saya untuk memutuskan apakah akan memilih pekerjaan di sebuah rumah sakit pendidikan yang baru akan operasional dengan konsekwensi melepaskan pekerjaan yang sudah 15 tahun saya rintis. Berdoa dan bergumul memohon hikmat Tuhan, takut membuat keputusan yang salah dan bertentangan dengan kehendak dan rencanaTuhan dalam hidup saya. Tetapi sepertinya Tuhan diam, tak memberi jawaban yang jelas. Pencerahan tanda dan perasaan dipimpin seperti tidak tampak. Kehadiran Allah sulit dirasakan sampai kemudian mazmur 139 mengingatkan saya bahwa saya hidup, bergerak, bergumul, menimbang-nimbang dalam lautan kehadiran Allah. Allah berkonsentrasi pada apa yang saya pikirkan dan lakukan. Apakah kehadiranNya saya dapat rasakan atau tidak bukanlah hal yang penting. Kesadaran akan hal ini membuat saya berani mengambil langkah karena saya tahu kemaha hadiran dan kemahatahuan Allah akan mengejarku jika aku menjauh dari rencanaNya.
Sahabat PMDN, mari kita isi rutinitas hidup kita dengan kesadaran yang diperbaharui bahwa kita hidup, bergerak dan berkarya dalam lautan kehadiran Allah, kita terbungkus oleh kehadiranNya yang takterhindarkan.

dr. Maria Irawati Simajuntak, SpPD
Pengurus PMdN Div. Pembinaan

Tidak ada komentar:

Copyright 2007, Pelayanan Medis Nasional (PMdN) Perkantas

Jl. Pintu Air Raya 7, Komplek Mitra Pintu Air Blok C-5, Jakarta Pusat
Telp. (021) 3522923, 3442463-4 Fax (021) 3522170
Twitter : @MedisPerkantas
Download Majalah Samaritan Versi Digital : https://issuu.com/samaritanmag