Senin, 25 Juni 2012



DOKTER & PANGGILANNYA SEBAGAI KLINISI:
“Masih Dokter?”

Beberapa saat lalu ketika mengantar anak saya renang, saya dikejutkan dengan sapaan seorang pemuda, mantan anggota gereja dimana saya beribadah. Setelah menyapa dengan kalimat-kalimat  yang standar, dia bertanya,” masih dokter?”. Saya sempat terdiam, sejujurnya agak tersinggung, karena tidak menduga ada pertanyaan “tidak sopan” seperti itu. Cerita seolah bersambung, karena tidak lama kemudian saya bertemu dengan seorang teman sejawat di sebuah rumah sakit swasta yang memberitahu saya bahwa kemungkinan tahun depan dia tidak harus bekerja lagi sebagai dokter karena dia telah mengalami “financial freedom”, karena penghasilannya dari berjualan produk multi level marketing sudah jauh dari apa yang diperolehnya selama ini. Keputusan ini diambilnya setelah 21 tahun melayani pasien. Tidak lama kemudian salah satu anggota gereja kami juga banting stir, membuka kelas bimbingan belajar bagi anak-anak, karena menurutnya sulit bersaing jadi dokter di Jakarta ini. Saya mulai berfikir bahwa wajar saja bila ada yang bertanya,”masih dokter?”. Tanpa bermaksud menganggap teman-teman sejawat yang beralih profesi sebagai pihak yang gagal, karena saya percaya pimpinan Tuhan untuk kita masing-masing dalam menjalani hidup ini sangatlah individual. Akan tetapi bila kemapanan finansial yang menjadi target utama dalam menjalankan profesi ini, maka akan ada banyak tawaran yang membuat kita meninggalkan panggilan menjadi seorang praktisi medis, bahkan pada sisi negatif, bukannya sebagai penyembuh,  dokter bisa saja menjadi pengeksploitasi materi dari pasien demi keuntungan pribadi.
Berangkat jam 6 pagi, setiba di rumah sakit atau klinik sudah ditunggu pasien untuk pemeriksaan atau tindakan, jeda sebentar untuk makan siang langsung kembali ke meja tindakan atau meja pemeriksaan, istirahat sedikit untuk pindah ke rumah sakit atau makan malam, praktek lanjut lagi sampai malam, bahkan tengah malam, dan yang lebih “gila” lagi sampai subuh! Sound familiar right! Buat beberapa dari kita mungkin membacanya sebagai pengalaman sendiri. Kalau direnung-renungkan, apakah ini panggilan hidup atau memang tidak ada lagi teman sejawat lain yang memiliki skill yang sepadan, atau sekedar rutinitas yang bersifat akumulatif, dimana waktu kerja kita semakin hari semakin panjang karena jumlah pasien dari hari ke hari makin bertambah juga. 
Adakah kita sering bertanya pada diri sendiri, apakah kita masih mampu melihat pekerjaan kita sebagai bagian dari panggilan hidup kita sebagai seorang klinisi ataukah perlahan sudah berubah menjadi ajang penambahan penghasilan, atau kancah untuk mengeksplorasi lebih banyak pengetahuan dan ketrampilan klinis mutakhir, atau  area untuk menunjukkan kepopuleran atau suatu kepuasan karena dibutuhkan banyak orang, atau sudah menjadi semacam perangkap dimana irama penanganan pasien di kota-kota besar seperti Jakarta dengan populasinya yang besar, mengharuskannya berjalan demikian? Sayangnya memang kesibukan kita sendiri yang menjadi penghalang nomor satu ketika kita mengharapkan memiliki waktu yang cukup untuk merenungkannya, ditambah lagi kesibukan dalam keluarga dan kegiatan-kegiatan lainnya.
Kadang saya menguji diri dengan bertanya pada diri sendiri, akankah saya segiat ini bila saya tidak dibayar? Atau akankah saya tetap dengan sukacita memenuhi panggilan dari rumah sakit diluar jam kerja saya walaupun tidak dibayar ekstra? Atau akankah saya bersemangat dan penuh perhatian seperti ini bila pasien-pasien yang saya layani adalah mayoritas kelompok gakin? Akankah saya seramah ini bila saya tahu bahwa pasien-pasien ini tidak akan meningkatkan penghasilan dan kepopuleran saya? Saya sadar sepenuhnya bahwa melalui profesi ini saya berhak memperoleh penghasilan yang layak untuk kelangsungan hidup saya dan keluarga, namun perenungan seperti ini seringkali memberikan pandangan ke dalam diri yang kuat, bahkan mengingatkan saya untuk kembali kepada panggilan yang mula-mula ketika memilih berkarir di jalur klinisi, yang tidak lain adalah berada di garis depan, berhadapan langsung dengan pasien dengan segala penyakit yang dideritanya, berjuang dengan pengetahuan dan ketrampilan terbaik untuk mengatasinya, yang terkadang mengkonsumsi begitu banyak waktu, pikiran, tenaga, emosi di luar perkiraan awal, tanpa peduli pas atau tidak pas waktunya bagi sang dokter.
Dalam perjalanan karir saya yang baru sekitar 20 tahun ini, saya bersyukur telah Tuhan ijinkan bekerja sebagai klinisi, menikmati padatnya jadwal pelayanan pasien, dan menyaksikan dari dekat dan bekerja sama, baik dengan teman-teman sejawat yang lebih muda, maupun dengan  teman sejawat yang jauh lebih senior, yang bahkan sudah memulai karirnya sebagai dokter sebelum saya lahir. Ada wajah-wajah ceria dari pasien dan keluarga karena berhasil melalui masa kritis, namun tidak jarang tangisan dan air mata mengiringi kepergian pasien-pasien yang sudah kita tolong melalui proses yang panjang dan melelahkan, ada ucapan terima kasih yang tulus dari keluarga yang mampu menghapus sebagian kelelahan karena kerja seharian, namun tidak jarang pula ungkapan-ungkapan tidak puas kita terima yang membuat kita merasa jerih payah kita tidak lagi dihargai, ada pasien dan keluarga yang berusaha sedapat mungkin tidak mengambil waktu istirahat sang dokter, namun tidak sedikit yang merasa bahwa dokter harus memberikan segala-galanya, kalau perlu tidak tidur dan tidak makan, untuk melayani pasien-pasiennya.  
Dalam masa-masa ini setidaknya ada 3 hal yang menurut saya menarik untuk direnungkan dan menjadi begitu berharga untuk refleksi diri sebagai seorang murid Kristus yang memilih profesi medis sebagai kesempatan melayani dan menyatakan kasih Kristus bagi sesama.  Pertama-tama adalah tentang keputusan untuk memilih menjadi seorang klinisi dan bukan berkarir di bidang struktural, peneliti, atau farmasi misalnya. Walaupun sebagian dokter juga mampu merangkap sebagai klinisi, pengajar, peneliti , sekaligus pejabat di fakultas. Apakah hanya karena mengikuti arus utama di kalangan profesional medis, setelah lulus, buka praktek atau spesialisasi? Ataukah menjadikannya sumber mata pencaharian? Ataukah benar-benar telah melalui suatu perenungan yang mendalam berdasarkan minat dan kemampuan yang ada.  Kedua adalah bagaimana, setelah praktek bertahun-tahun atau bahkan berpuluh-puluh tahun, tetap memelihara integritas dan konsistensi dalam memandang pasien sebagai individu-individu yang harus dilayani,dan  bukan sebaliknya menjadi jenuh dan kehilangan passion. Ketiga adalah bagaimana pengenalan akan Kristus Yesus dan persekutuan denganNya dari hari ke hari menjadikan dokter-dokter Kristen pribadi yang berbeda, yang mampu melihat profesi yang dijalaninya bukan sebagai  tujuan akhir, melainkan bagian yang integral dari misi hidup kekristennya.

Berikut ini adalah petikan-petikan wawancara saya dengan beberapa teman sejawat yang kiranya dapat memberikan inspirasi dan pandangan ke dalam diri yang baru kepada kita semua.   
Rekan se-angkatan dan persekutuan saya di FK UGM , dr. Neni Herawati, yang saat ini melayani sejumlah besar pasien di praktek umumnya di kawasan Serpong, berbagi bahwa panggilan untuk melayani pasien-pasien tersebut sangatlah jelas diperolehnya sejak memutuskan masuk di Fakultas Kedokteran. Namun setelah melewat 10 tahun pertama prakteknya, dia mulai merasakan kejenuhan. Jumlah pasien yang bisa mencapai 100 dalam sehari, membuatnya tidak lagi bisa mendengarkan keluhan pasien, sehingga berlaku “kejam” (istilah yang digunakan beliau) dengan memberikan waktu sesingkat mungkin kepada setiap pasien dalam upaya menyelesaikan beban pekerjaannya. Pekerjaan yang awalnya sangat dinikmatinya berubah menjadi sebuah beban.

Melalui banyak proses yang menyakitkan dalam hidupnya, termasuk saat dia sendiri menjadi pasien dari seorang spesialis mata yang super sibuk, Tuhan menolongnya kembali mampu melihat pasien sebagai individu-individu yang harus dilayaninya. Saat ini Neni jauh lebih bijak dalam membatasi jumlah pasien, sehingga dapat memberikan lebih banyak perhatian kepada pasien-pasiennya dan bahkan memfasilitasi pelayanan konseling gereja bagi mereka yang bermasalah. Penghasilan mungkin berkurang, namun kini Neni dimampukan melihat pasien-pasien dengan perspektif berbeda.
Dalam kesempatan lain, saya sempat ngobrol dengan dr. Artono Isharanto, rekan sekerja saya dalam beberapa penyelenggaraan Kamp Medis. Beliau baru saja menyelesaikan spesialisasi bedah thoraks kardio vascular dan saat ini kembali ke Malang untuk mengembangkan pelayanan bedahnya di FK Unibraw. Menarik bahwa Tuhan memimpin beliau berada dalam posisinya saat ini melalui proses yang berliku, namun pertolongan Tuhan selalu datang tepat pada waktunya.

Keputusannya mengambil spesialisasi bedah berawal dari usaha evakuasi pasien dengan kasus bedah saat menjalani PTT di Papua. Sayangnya pasien tersebut meninggal sebelum mendapatkan penanganan medis yang seharusnya. Berbekal kerinduan untuk menolong rakyat Papua yang dilayaninya saat PTT, Artono menjalani spesialisasi bedah di FK Unibraw, namun usahanya untuk kembali ke sana terkendala perubahan status otonomi daerah, sehingga akhirnya dia diarahkan   untuk melayani sebagai spesialis bedah di Kupang, NTT.  Pelayanan selama 2 tahun di sana, lalu diperpanjang  lagi 1,5 tahun membuatnya sempat mempertanyakan kepada Tuhan, apakah tawaran untuk menjadi staf bedah di FK Unibraw, yang diterimanya saat masih menjadi residen, memang untuknya. Untuk jadi staf Artono jelas harus memiliki keahlian lebih dari sekedar bedah umum. Jawaban Tuhan menjadi sangat jelas ketika dalam waktu yang amat terbatas lamarannya di bagian bedah thoraks langsung diterima dan setelah menyelesaikan trainingnya di FK UI/RSCM, dia diterima menjadi staf bagian bedah di FK Unibraw. Dalam kilas baliknya Artono menunjukkan kekagumannya akan cara Tuhan memimpinnya dari waktu ke waktu sampai dengan saat ini. Buatnya, persekutuannya dengan Kristuslah yang memampukannya melewati pergumulan-pergumulan yang dihadapinya, dan memelihara dirinya sehingga dengan berlalunya waktu bahkan sampai dengan saat ini sebagai seorang spesialis bedah thoraks, dia masih memiliki kerinduan yang sama dengan yang dimilikinya saat mahasiswa, yaitu bermisi melalui profesinya.

Wawancara dengan rekan saya dr. Martin Rumende, internist, konsultan paru, alumni FK UKI, memberikan kekaguman lain akan pimpinan Tuhan untuk anak-anakNya. Menurut beliau pimpinan Tuhan dalam memilih interna sebagai bidang keahliannya adalah melalui minat yang diberikanNya saat menangani kasus-kasus semasa ko-as. Martin memulai kesaksiannya dengan menceritakan kronologi perjalanan karirnya.
Rasa nyaman selama di RS PGI Cikini, ditambah dengan tawaran almarhum  Prof. Dr. Sidabutar untuk bergabung dengan timnya menangani kasus-kasus nefrologi sempat membuatnya melupakan panggilan untuk melayani di daerah, namun dengan dukungan sang istri mereka berangkat ke Jayapura sebagi dokter inpres. Melalui banyak pergumulan selama di tanah Papua, tidak menyurutkan semangatnya untuk melamar menjadi residen di bagian Penyakit Dalam FK UI. Fase yang lebih menantang dalam hidupnya adalah saat menerima tawaran untuk menjadi staf Penyakit Dalam FK UI usai menjalani residensi. Setelah diterima melalui perjuangan yang berat, Martin merasa ada antiklimaks, karena dia ditempatkan justru di sub bagian yang paling tidak disukainya, yaitu paru. Ada usaha untuk mengundurkan diri, namun ketika dengan “keterpaksaan” beliau menerima tanggung jawab tersebut, Tuhan perlahan-lahan membukakan matanya akan begitu banyaknya kesempatan baik untuk belajar maupun melakukan tindakan-tindakan untuk menolong pasien-pasien melalui prosedur-prosedur  yang selama ini belum banyak dikerjakan di bidangnya. Dengan berjalannya waktu dia mulai meyakini inilah bidang yang Tuhan sediakan untuknya.

Di akhir pembicaraan, Martin sungguh bersyukur dengan cara Tuhan bekerja dalam hidupnya, dengan dukungan istri dan juga rekan-rekan seimannya, Tuhan terus membawanya kembali kepada panggilannya  untuk melayani pasien-pasiennya sesuai dengan nazar yang dibuatnya ketika masih mahasiswa. Persekutuannya dengan Kristus-lah yang memampukannya tetap setia melayani masyarakat tidak mampu di poli penyakit dalam RSCM selama jam kerjanya sebagai PNS sesuai dengan perikop yang selalu diingatnya Matius 25: 31-46, bahwa melayani mereka seperti melakukannya untuk Kristus.

Untuk integritas & konsistensi dalam praktek saya sangat terkesan dengan almarhum dr. Sander Batuna, SpA. Saya bersyukur dapat menjalani praktek bersama selama 7 tahun di rawat jalan dan rawat inap dengan almarhum. Setelah hidup bertahun-tahun menjadi dokter di tengah-tengah suku Asmat, beliau  melanjutkan studi spesialisasi anak di Amerika Serikat. Sebagai pediater pada tahun 70-an, beliau memiliki banyak kesempatan untuk mempromosikan dirinya demi kemakmuran finansial, namun beliau memilih untuk praktek secara bersahaja sehingga menjangkau seluruh lapisan masyarakat dan benar-benar mengutamakan profesionalisme dan ketulusan. Pesan yang selalu diulang-ulang beliau adalah bahwa ilmu kedokteran yang kita praktekkan adalah western medicine, yang berdasarkan riset-riset terdahulu, jadi jangan pernah memberikan terapi hanya berdasarkan asumsi, harus kembali ke textbook dan penelitian-penelitian terbaru. Nasehat yang sama pentingnya adalah jangan pernah membohongi, apalagi mengambil keuntungan dari  pasien karena ketidaktahuan mereka, dan jangan melupakan posisi sebagai spesialis anak adalah termasuk melindungi anak dari keinginan/tindakan yang salah dari orang tua dalam keterbatasan pengetahuan mereka. Hal ini benar-benar beliau tunjukkan dalam praktek sehari-harinya dan saat mendampingi saya menangani kasus-kasus sulit, hingga menjelang kepergiannya di usia 72 tahun. Hari-hari penghiburan di rumah duka dipenuhi dengan kesaksian-kesaksian akan integritasnya dalam melayani sesamanya.  

Dokter Handaya, SpOG adalah sosok lain yang patut kita teladani integritasnya dalam pelayanan kepada  pasien. Sebagai seorang yang senior di bidangnya, pensiunan staf di FK UI/RSCM ini sejak muda terus berjuang untuk suatu pelayanan yang sesuai standar pelayanan yang ada, diantaranya dengan melakukan pemeriksaan penunjang secara rasional, tidak melakukan tindakan sectio caesaria dengan indikasi yang tidak jelas, ataupun menggunakan obat-obatan yang tidak jelas indikasinya. Menurut beliau, pengetahuan pasien akan prosedur-prosedur medis sangatlah terbatas, sehingga kejujuran diri kita sebagai dokterlah yang dipertaruhkan. Beliau selalu mengingatkan bahwa bila berpraktek dengan benar, maka kemapanan finansial secara perlahan-lahan akan datang sendiri, tidak perlu kuatir, tidak perlu buru-buru menjadi kaya raya melalui profesi ini. Dalam segala kerendahan hati, beliau menyampaikan bagaimana teladan yang ditinggalkan guru-guru beliau di masa lalu sangatlah kuat mempengaruhinya dalam menjalankan praktek dengan penuh integritas.

Buat kita semua yang merespon panggilan Tuhan untuk bekerja di lini depan, melayani pasien-pasien yang diijinkanNya hadir di ruang praktek atau ruang tindakan di tempat kita bekerja, adakah pengenalan dan persekutuan kita dengan Tuhan membuat kita menjadi pribadi yang berbeda dalam melayani mereka? Adakah sukacita menjadi perpanjangan tangan Kristus dalam melayani mereka selalu menjadi bagian yang tidak terpisahkan saat kita menjalani profesi ini? “Masih dokter?”.  ”Ya!”
 Selamat melayani dan menjadi berkat!

Oleh: dr. Lineus Hewis, SpA
Sudah dimuat di majalah samaritan edisi-1, Tahun 2012

Tidak ada komentar:

Copyright 2007, Pelayanan Medis Nasional (PMdN) Perkantas

Jl. Pintu Air Raya 7, Komplek Mitra Pintu Air Blok C-5, Jakarta Pusat
Telp. (021) 3522923, 3442463-4 Fax (021) 3522170
Twitter : @MedisPerkantas
Download Majalah Samaritan Versi Digital : https://issuu.com/samaritanmag