Rabu, 29 Januari 2014

Tidak Mudah Marah


"Setiap orang hendaklah cepat mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata,
dan juga lambat untuk marah."
Yakobus 1 : 19


Suatu hari saya agak terlambat dari jadwal biasanya. Ketika saya menyapa pasien berikutnya di ruang tunggu, ia sama sekali tidak tersenyum; jabatan tangannya terasa dipaksakan. Wajahnya tampak kecut. Baru saja saya duduk, ia segera meledak : 'Saudara telah membuat saya menunggu begitu lama, padahal saya harus tergesa-gesa meninggalkan pekerjaan saya supaya tiba di sini tepat pada waktunya'.

Sempat saya merasa tersing
gung dan marah, karena saya telah berusaha keras mengobati pasien tersebut selama berbulan-bulan. Rasanya tuduhan yang dilontarkan itu sangat tidak adil. Hari itu saya memang banyak mendapat telepon (yang tidak saya duga sebelumnya), yang mengakibatkan jadwal saya tergeser mundur.

Untunglah saya teringat akan suatu prinsip penting dalam konseling dan psikoterapi : lebih baik menyelidiki kemarahan itu daripada membalasnya. Dengan begitu bahan pertengkaran bisa dibuat menjadi alat pengobatan. Juga berkat Roh Kudus dari doa saya tadi pagi tinggal dalam hati saya. Oleh karena itu saya menjawab :"Maafkan saya, tapi saya senang kog Anda dapat menyampaikan apa yang Anda rasakan ...." Dia menyela, "Saya mengerti, saya mengerti bahwa Saudara memang tidak sengaja dan mestinya saya maklum akan hal itu. Tetapi, di hati kecil saya, saya merasa dikecewakan dan marah, seakan-akan saudara tidak peduli dengan saya."

Ia melanjutkan keluhan-keluhannya, ayahnya sering mencemoohkannya dan tidak menghiraukannya. Ketika masih kecil, acapkali terjaga dari tidurnya, ketakutan mendengar orang tuanya pulang larut malam seusai mencari hiburan. Lalu berangsur-angsur kemarahannya mereda, percakapan yang hangat pun terjadi dan kepercayaannya menjadi pulih.

Apa yang akan terjadi apabila karena marah saya lupa pada prinsip-prinsip terapi dan kekristenan saya? Kemungkinan besar, apabila saya marah dan menegurnya dengan pernyataan betapa banyaknya beban saya pada hari itu, pasien itu akan terdiam seperti yang biasa dilakukannya terhadap ayahnya, dan kesempatan untuk mengungkapkan perasaan, pengertian dan perkembangannya menjadi hilang.

The art of conversation lies in listening” 
― Malcolm Forbes
Tuhan, tolong saya untuk mengasihi pasien-pasien saya dengan kasih-Mu dan peka akan kepahitan-kepahitan yang sering tersembunyi di belakang kemarahan mereka.

Bacaan selanjutnya : Titus 1:7-9
Dikutip dari Diagnose Firman
Saran Vitalitas Rohani Para Dokter & Tenaga Medis

Tidak ada komentar:

Copyright 2007, Pelayanan Medis Nasional (PMdN) Perkantas

Jl. Pintu Air Raya 7, Komplek Mitra Pintu Air Blok C-5, Jakarta Pusat
Telp. (021) 3522923, 3442463-4 Fax (021) 3522170
Twitter : @MedisPerkantas
Download Majalah Samaritan Versi Digital : https://issuu.com/samaritanmag