Senin, 30 November 2015

Kemuliaan Yesus Dalam Menjalankan Panggilan-Nya

Leonidas Proano uskup dari Riobamba, sekitar 150 km di selatan Quito, Ekuador, sangat prihatin dengan kondisi ketidakadilan sosial di negerinya, khususnya karena ketidakadilan yang dialami orang-orang Indian. Meskipun ia menolak dirinya diidentifikasikan dengan Marxisme dan Proano memang bukan seorang Marxis, mengecam dan menolak sistem politik dan kegerejaan di negaranya. Ia menentang feodalisme dan praktek penindasan tuantuan tanah kaya pada waktu itu. Tentu saja
tidak mengherankan kalau ada pihak yang mengancam akan membunuh dia. Tetapi sesudah penggulingan dan kematian Presiden Salvador Allende dari Chili pada tahun 1973, uskup Proano mendapat kesempatan berkotbah pada suatu misa bagi mahasiswa Marxis di Quito. 

Dalam kotbahnya itu ia melukiskan Yesus sebagai tokoh radikal, pengecam golongan yang sudah mapan, pendekar dari orang-orang yang tertindas, pengasih orang- orang miskin,yang bukan saja mengajarkan Injil tapi juga memberikan pelayanan penuh kasih kepada mereka yang menderita kekurangan. Pada kesempatan bertanya seusai misa, beberapa mahasiswa mengatakan: “Seandainya Yesus yang ini yang kami kenal dulu, pasti kami takkan menjadi Marxis”. 

Yesus seperti apakah yang kita kenal selama ini? Yesus yang manakah yang kita teladani selama ini? Jangan-jangan, orangorang Kristen masa kini, juga, termasuk orang yang salah paham tentang Yesus?
Mungkin, itu pula penyebab, kita sulit menemukan orang - orang yang meneladani Yesus dalam menuntaskan panggilannya? Realita kesalahpahaman tentang Yesus bukan hanya sebatas mahasiswa
Marxis tersebut, ternyata juga, berlaku atas murid-murid-Nya. Hal ini dapat kita ketahui dari Matius 20:17-28. Yakobus dan Yohanes meminta sesuatu yang mereka tidak mengerti, yaitu duduk disebelah
kanan dan kiri Yesus. Lalu murid-murid yang lain marah. Mengapa mereka menjadi marah? Apakah karena dua temannya meminta sesuatu yang tidak pantas atau tidak pada tempatnya? Kelihatannya bukan karena dua alasan tersebut , melainkan karena Yakobus dan Yohanes mungkin dianggap telah mencuri start. 

Sama seperti Yohanes dan Yakobus, para murid yang lain juga rupanya memiliki pemahaman yang salah tentang Yesus. Pemahaman mereka akan kepergian Yesus ke Yerusalem adalah untuk dinobatkan menjadi raja.Mereka membayangkan Yesus akan membangun kerajaan-Nya di dunia ini seperti kerajaan dunia pada saat itu. Mereka tidak memahami bahwa Kristus harus melewati jalan salib, jalan penderitaan, kehinaan dan kematian. Sebagaimana yang telah dinubuatkan sejak Perjanjian Lama seperti di Yesaya 53, bahwa Dia dilukai karena dosa-dosa kita, Dia didera karena kejahatan kita, Dia memikul dosa orang banyak dan bahkan Dia dimasukkan dalam bilangan orang jahat. Tetapi dalam Yohanes 12 dengan tegas Dia menyatakan untuk itulah Dia datang dan dengan demikianlah Anak Manusia dimuliakan. Kemuliaan dalam menuntaskan panggilan-Nya. Kemuliaan dalam mewujudkan misi-Nya. Sangat kontras dengan pemahaman dunia tentang kemuliaan. Kemuliaan yang sering diidentikkan dengan kekuasaan, kemapanan, kemewahan, kemegahan dan
gambaran kenyamanan lainnya. Tidak heran jika Yesus memarahi Petrus dan menghardiknya dengan tajam ketika Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia pada waktu Dia mengatakan dengan terus terang tentang penderitaan yang akan dialami-Nya, sebagaimana tertulis dalam Markus 8:31-33,” Enyahlah iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah melainkan apa yang
dipikirkan manusia”.

Setidaknya ada 5 hal yang dapat kita pahami dan teladani dari Tuhan Yesus dalam konteks kemuliaan Yesus dalam menjalani panggilan-Nya. Pertama, Yesus memiliki panggilan yang jelas untuk hidup-
Nya, seperti yang tampak dari waktu ke waktu, Dia memberitahukan murid-murid-Nya, bahwa dalam rangka melaksanakan misi penyelamatan, Anak Manusia akan menanggung banyak penderitaan, dibunuh dan bangkit pada hari ketiga (Mat. 16: 21-28, 17:22-23, 20:17-19) ,”.... sebab untuk itulah Aku datang ...”. Kedua, Yesus fokus dengan panggilan tersebut, walaupun situasi saat itu sangat mendukung untuk mengikuti keinginan massa, di tengah popularitas yang meningkat, sekaligus menghindari salib. Ketiga, Yesus bersedia membayar harga yang t idak terni lai untuk menggenapi panggilan-Nya, dalam sebuah kerelaan dan ketaatan penuh kepada Bapa-Nya (Fil.2:5-10), seperti biji gandum yang rela jatuh ke tanah, demi menghasilkan banyak buah (Yoh.12:24). Keempat, Yesus memandang penderitaan dan kematian yang dijalani-Nya tersebut adalah kemuliaan. Kelima, yang menjadi kerinduan utama Yesus adalah melihat nama Bapa dimuliakan, setelah misi yang diemban-Nya terlaksana. 

Memasuki masa raya Natal dan penghujung tahun 2015, adalah momen yang tepat bagi kita untuk mengevaluasi perjalanan hidup kita, khususnya di sepanjang tahun ini: Apakah kita sedang berjalan dalam panggilan-Nya? Apakah kita sedang mengalami penderitaan karena menjalankan panggilan-Nya tersebut?

Kiranya pengenalan yang benar akan Yesus, serta teladan yang Dia berikan, meneguhkan kita. Memang setiap orang yang hendak mengikuti Yesus-yang ingin mendapat bagian dalam kemuliaan Yesus dalam menjalankan panggilan hidupnya, tidak mungkin tanpa melewati jalan salib, jalan penderitaan, kehinaan dan bahkan kematian. Kiranya kasih karunia-Nya memampukan kita untuk terus maju melanjutkan perjuangan hidup dalam menuntaskan panggilan-Nya.

Tidak ada komentar:

Copyright 2007, Pelayanan Medis Nasional (PMdN) Perkantas

Jl. Pintu Air Raya 7, Komplek Mitra Pintu Air Blok C-5, Jakarta Pusat
Telp. (021) 3522923, 3442463-4 Fax (021) 3522170
Twitter : @MedisPerkantas
Download Majalah Samaritan Versi Digital : https://issuu.com/samaritanmag