Senin, 15 Agustus 2016

Hubungan Baik Dengan Pasien

Demikian aku datang kepada orang-orang buangan yang tinggal di tepi sungai Kebar di Tel-Abib dan di sana aku duduk tertegun di tengah-tengah mereka selama tujuh hari. ---Yehezkiel 3:15


Sebelum menasihati para tahanan di Babel, Yehezkiel tinggal bersama mereka untuk bisa lebih memahami keadaan mereka. Ini sesungguhnya inti dari semua hubungan baik. Bagaimana jika aku sendiri menjadi salah seorang pasienku? Tuhan Yesus berkata kepada kita, "Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka" (Matius 7:12). Kita perlu menyayangi orang lain, artinya "menderita bersama" mereka, seperti yang Kristus lakukan (Matius 15:32). Jika kita sendiri mengalami apa yang kita perbuat terhadap orang lain, kita akan menjadi praktisi yang lebih memahami, dan  bahkan juga lebih kompeten.

Teman-teman Ayub dikenal karena ketidakpekaan mereka terhadap penderitaan Ayub. "Aku pun dapat berbicara seperti kamu, sekiranya kamu pada tempatku," protes Ayub. Tapi, "Aku ... tidak menahan bibirku mengatakan belas kasihan" (Ayub 16:4, 5). Sikap tidak memikirkan diri sendiri akan membesarkan hati mereka yang sedang menghadapi krisis. Kita harus waspada terhadap dosa memikirkan diri sendiri! Ada seorang Kristen yang, untuk mengingatkan dirinya, menaruh tulisan sederhana di atas mejanya, "Orang lain."

Pasien baru akan merasa gugup dan takut, seperti kita dulu sebagai mahsiswa menghadapi ujian lisan! Kita perlu memiliki ketenangan yang membangkitkan rasa percaya. Sikap ramah terhadap pasien, ketika menjelaskan prosedur atau untung rugi suatu tindakan, mengisyaratkan kita berada di pihak mereka. Ada banyak godaan dalam pekerjaan kita, untuk bersikap cepat marah, atau cepat mengecam orang lain. Supaya kita bisa berbuah bagi Dia, kita perlu hidup dekat dengan Kristus dan berkomunikasi dengan Dia setiap hari (Yohanes 15:5). Buah Roh Kristus adalah kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran. kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri (Galatia 5:22-23). Seperti kita, buah juga butuh waktu  untuk matang!---tapi cara hidup kita berbicara lebih banyak daripada yang diucapkan oleh bibir kita.


Bukan orang Kristen saja yang bisa melayani dengan penuh kasih, atau yang mempunyai standar etis tinggi. Tapi, kita memang memiliki sumber daya dalam hubungan kita dengan Allah. Ia menawarkan anugerah-Nya saat kita menghadapi tekanan dan ketegangan terus-menerus. Kekuatan doa tersedia bagi kita sepanjang hari.

Baca: Kolose 3:1-17




Disadur dari: Sumber Hidup Praktisi Medis

Tidak ada komentar:

Copyright 2007, Pelayanan Medis Nasional (PMdN) Perkantas

Jl. Pintu Air Raya 7, Komplek Mitra Pintu Air Blok C-5, Jakarta Pusat
Telp. (021) 3522923, 3442463-4 Fax (021) 3522170
Twitter : @MedisPerkantas
Download Majalah Samaritan Versi Digital : https://issuu.com/samaritanmag