Selasa, 18 April 2017

Renungan Paskah: DarahNya, NyawaNya

Berapa yah kira-kira Hb Tuhan Yesus ketika Dia mengatakan,”Sudah selesai”?.1 Pertanyaan ini mungkin kedengarannya konyol, namun sebagai praktisi medis, saya justru memikirkan sisi lain dari peristiwa yang sangat keji sekaligus memilukan, yaitu penyaliban Tuhan Yesus.

Baru-baru ini teman gereja saya terpeleset dan kepalanya terantuk kaca akuarium, akibatnya dia memerlukan pekerjaan 4 jam seorang ahli bedah untuk menghentikan perdarahannya dan membutuhkan tranfusi berkantong-kantong darah untuk meningkatkan Hb-nya yang turun hingga 8 g/dL. Begitu juga seorang pasien anak belum lama ini mengalami perdarahan saluran cerna yang masif, Hb nya turun dari 13 g/dL ke 6 g/dL dan anak berada dalam kondisi syok hipovolemik dengan tekanan darah 60 mmHg /tidak terukur.   

Saya membayangkan perjalanan panjang penderitaan Yesus, ketika hari masih gelap Yesus ditangkap dan diadili oleh Mahkamah Agama, muka diludahi dan ditinju dan dipukuli orang banyak. Ketika hari mulai terang Yesus diserahkan kepada Pilatus untuk diadili, yang berujung pada keputusan menyalibkanNya. Sebelum disalib, Yesus disesah dengan pencambukan yang brutal dimana prajurit Romawi menggunakan cambuk yang terdiri dari beberapa tali kulit, yang masing-masing diberi potongan-potongan tulang atau logam dan ini bisa membuat punggung orang menjadi bubur, pembuluh darah vena dan bahkan arteri bisa terobek, bahkan organ visceral pun bisa terekspos.2,3,4 Batasan cambukan tidak boleh lebih dari 40 kali dalam aturan Taurat5 juga kemungkinan tidak dipatuhi prajurit Romawi yang terkenal sadis. Tidak cukup itu, mahkota duri ditancapkan di kepala Yesus, dilanjutkan dengan perjalanan memikul salib yang membuatnya wajah dan tubuhnya menghantam jalan berbatuan. Akhirnya paku besar ditancapkan di tangan dan kakinya, membuatNya tergantung tinggi di bukit Golgota, menuntaskan proses penyaliban diriNya. Bayangkan berapa banyak darah yang mengalir keluar dari tubuhNya. Tidak heran jika penyaliban itu berlangsung sekitar pukul 9 -12 siang6, dan pada sekitar pukul 3 sore7 Tuhan Yesus menghembuskan nafas terakhir.  


Apa yang dituliskan Rasul Petrus dalam I Pet. 1:18-19 “Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat,” seakan memberikan makna baru buat saya.

Sejak dari awal Kitab Kejadian, ‘darah’ sudah memiliki makna penting di hadapan Tuhan.8 Demikian juga pada Paskah pertama bangsa Israel di tanah Mesir, darah hewan persembahan dioleskan di palang pintu masing-masing rumah bangsa Israel sebagai tanda bahwa mereka adalah umat Allah sehingga malaikat tidak membinasakan anak sulung di rumah tersebut pada malam Paskah ketika Tuhan membinasakan anak sulung bangsa Mesir.9

Darah mewarnai seluruh Kitab Imamat dalam setiap prosesi yang dilakukan oleh para imam untuk mengadakan perdamaian antara manusia dengan Allah. Ketika melarang umatNya memakan darah, Allah menperingatkan, “Karena nyawa makhluk ada di dalam darahnya dan Aku telah memberikan darah itu kepadamu di atas mezbah untuk mengadakan pendamaian bagi nyawamu, karena darah mengadakan pendamaian dengan perantaraan nyawa.”10

Menarik bukan? Frase ‘nyawa makhluk ada di dalam darahnya” benar-benar menantang saya untuk mencernanya sebagai seorang dokter. Dalam dunia medis yang kita tekuni, tidak bisa dipungkiri bahwa darah adalah bagian yang paling esensial dalam kehidupan manusia. Organ vital seperti otak misalnya, dengan sekitar 100 milyar neuron serta triliunan sinapsnya yang berfungsi begitu kompleks dalam mengatur seluruh tubuh, sangatlah bergantung pada sirkulasi darah. Bila dalam waktu beberapa menit atau lebih otak tidak mendapatkan suplai darah, maka akan terjadi  kerusakan yang permanen, bahkan kematian bila kondisi ini berlanjut lebih lama lagi. Jantung juga memiliki peran yang tidak kalah pentingnya karena memiliki fungsi memompa darah ke seluruh tubuh, sangatlah bergantung pada darah untuk menunaikan tugasnya. Terhentinya suplai ke pembuluh utama jantung dalam beberapa menit saja sudah dapat mengakibatkan serangan jantung yang dapat mengakibatkan kematian. Ini baru bicara tentang peran darah dalam mensuplai oksigen dan nutrisi ke seluruh organ tubuh, belum lagi peranan dalam imunitas, regulasi suhu, asam basa, dan peran-peran penting lainnya. Tidaklah berlebihan bila ini semua bicara bahwa darah adalah nyawa dari makhluk.

Ketika Yesus mulai disesah dengan cambuk yang merobek dagingnya, ketika mahkota duri dipasangkan di kepalaNya, ketika paku menembus tangan dan kakinya, darahNya mengalir tiada henti. Bahkan berjam-jam tergantung di kayu salib, darahNya terus menetes dan terkuras habis tanpa penambahan cairan sama sekali. Saya membayangkan ketika kompensasi kardiovaskulerNya tidak lagi mampu mengatasi perdarahan berat yang terjadi maka kegagalan sirkulasi pasti terjadi pada giliran berikutnya, syok hipovolemik.

Sangatlah sulit membayangkan bahwa dalam penderitaan yang tak terkira, Yesus yang memiliki seluruh kuasa Ilahi dalam genggamanNya, memilih untuk taat. Dia memilih untuk berdoa,”Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat"11 ketika ejekan, olok-olokan serta hujatan diarahkan kepadaNya. Dia memilih untuk tidak melakukan intervensi Ilahi atas kondisi tubuhNya, melainkan mengijinkan tetes demi tetes darah meninggalkan tubuhNya, dan mengijinkan proses alami itu terjadi, yaitu kematian, dengan berucap, ”Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku."12 Saya membayangkan dalam kemanusiaanNya, Yesus pasti bergumul luar biasa di kayu salib, bahkan ketika sirkulasi darah ke otakNya sudah sangat terbatas, dan kesadaran mulai menurun, Dia tetap memilih untuk mati menanggung dosa umat manusia, Dia memilih menyelesaikan misiNya.13 Ini mengingatkan akan ucapan Tuhan Yesus bahwa Dia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang14.
Perlahan saya mulai melihat keterkaitan antara ‘darah adalah nyawa’ dengan ‘darah korban perdamaian’ yang mengadakan perdamaian dengan perantaraan nyawa10 dan dengan apa yang dikatakan Rasul Petrus bahwa umat Kristen ditebus dengan ‘darah Kristus’15, karena sesungguhnya lewat kucuran darahNya, nyawaNya-lah yang diserahkan ganti kita, dan karena bilur-bilurNya, kita telah dipulihkan dari penyakit dosa yang membinasakan.16
Namun yang terpenting adalah saya tahu bahwa Yesus memilih membiarkan darahNya mengalir lewat bilur-bilurNya, bukan karena Dia tidak sanggup melawan. Sebagai konsekuensinya, nyawaNya harus Dia serahkan, bukan karena direbut dariNya. Semua dilakukanNya karena Dia mengasihi anda dan saya, bahkan ketika kita masih berdosa dan belum mengenalNya. Betapa kita harus bersyukur dan menyerahkan seluruh hidup kita melayaniNya, seperti bait terakhir dari lirik lagu When I Survey the Wondrous Cross: Were the whole realm of nature mine, that were a present far too small; Love so amazing, so divine, demands my soul, my life, my all.” Selamat Paskah!


        Referensi:
1.        Yohanes 19:30
5.        Ulangan 25:3
6.        Markus 15: 25, Yohanes 19:14-16
7.        Markus 15:34
8.        Kejadian 4:10
9.        Keluaran 12
10.     Imamat 17:11
11.     Lukas 23:34
12.     Lukas 23:46
13.     Yohanes 19:30
14.     Mat 20:28 
15.     I Petrus 1:18-19
16.     I Petrus 2:24


Ditulis oleh : dr Lineus Hewis, SpA
Dalam Majalah Samaritan Edisi 1 tahun 2016

Tidak ada komentar:

Copyright 2007, Pelayanan Medis Nasional (PMdN) Perkantas

Jl. Pintu Air Raya 7, Komplek Mitra Pintu Air Blok C-5, Jakarta Pusat
Telp. (021) 3522923, 3442463-4 Fax (021) 3522170
Twitter : @MedisPerkantas
Download Majalah Samaritan Versi Digital : https://issuu.com/samaritanmag