Rabu, 23 Mei 2018

Miskin di Hadapan Allah


“Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga” (Matius 5:3)


Dengan mata berbinar-binar disertai rasa bangga, seorang aktivis gereja bersaksi di depan saya bahwa di dalam downline usaha sejenis multi level marketing-nya terdapat seorang dokter yang punya rumah dan penghasilan lumayan besar karena dari usaha sampingan itu. Dokter itu kini tak lagi berpraktik sesuai dengan profesinya yang mulia. Dari hard working ia beralih kepada smart working, begitu kata sebagian orang.

Dalam pikiran saya, mungkin dokter itu dulu salah menentukan pilihan jurusan studi sehingga ia telanjur sudah membuang banyak waktu dan uang dengan memasuki fakultas kedokteran yang sulit dan mahal. Namun bila itu adalah jurusan studi sesuai pilihan hatinya, betapa tidak relevannya sapaan bahagia Yesus, apalagi di dalam masyarakat yang menganut pemeo “Uang adalah kuasa” atau, lebih seram lagi, “Ketika uang bicara, Tuhan pun mendengar.”

Orang awam mana yang mau menjadi tak berdaya atau menjadi obyek eksploitasi, hanya agar disayang Tuhan? Dalam semangat zaman konsumerisme di mana kita diukur dari apa yang kita pakai mulai dari pakaian hingga kendaraan dan itu semua ada nilainya dalam rupiah, kemiskinan tampaknya tidak cocok sebagai sebuah gaya hidup modern.

Radikalitas Kristen

Panggilan hidup menjadi Kristen bersifat radikal. Ketika masyarakat mengukur sukses lewat kekayaan, Tuhan justru menegaskan bahwa kekayaan bukan andalan hidup untuk jangka panjang. Untuk jangka panjang, dibutuhkan lebih daripada itu. Namun, radikal bukan berarti aneh. Apalagi, fundamentalis. Radikal berarti mengikut Yesus tidak bisa setengah-setengah.

Kecenderungan pragmatis manusia adalah mau surga juga mau kaya. Tetapi, bukannya omong kosong ketika Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Surga. Sekali lagi Aku berkata kepadamu, lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah” (Mat. 19:23-24).

Radikalitas panggilan hidup sebagai Kristen didasari pada realitas hidup dan pada level realitas yang lebih dalam. Kita datang ke dalam dunia dan meninggalkannya tanpa apa-apa. Dalam kesadaran tentang siapa diri kita sebenarnya itulah seharusnya kita hidup. Sudah sepantasnya, selama hidup di dunia kita bersandar penuh pada Tuhan. Itulah sebuah cara hidup yang mendatangkan kebahagiaan.

Di mana-mana orang sebenarnya mengejar kebahagiaan. Dari kodratnya, manusia mempertanyakan arti hidupnya. Bahkan, orang yang berhasrat mau cepat mati sebenarnya sedang merasa lebih baik mati daripada hidup; sejelek-jeleknya mati, setidaknya itu akan melepaskannya dari sebuah keadaan yang menyusahkannya dan tidak membuatnya bahagia.

Tetapi mengherankan, tak satu kali pun ada perintah Tuhan di dalam Alkitab agar kita mengejar kebahagiaan, meski banyak sekali perintah-perintah lain. Bukan karena Tuhan tidak peduli apakah manusia bahagia atau tidak, tetapi memang kebahagiaan bukan sesuatu bisa diperoleh karena dikejar. Kebahagiaan bukan benda yang ditemukan dan kemudian bisa disimpan.

Persis, di sini orang sering salah dalam membayangkan kebahagiaan. Orang mengejar kekayaan dan berpikir untuk bahagia. Padahal, setelah menjadi kaya, orang tidak otomatis menjadi bahagia. Istri dari suami yang begitu rajin mencari uang hingga tak ada waktu cukup untuk keluarga bisa merenung di rumah, “Aku menikah dengan kekayaan atau dengan suamiku?”

Kebahagiaan

Kebahagiaan adalah sebuah kondisi hidup. Hal-hal yang membahagiakan biasanya datang lewat suatu pengorbanan, bukan karena dikejar. Lebih tepat sebenarnya orang tidak mengejar kebahagiaan tetapi menikmatinya. Kebahagiaan untuk dinikmati. Dan, ia datang sebagai buah pengorbanan, kerja keras, keringat. Maka, berhadapan dengan tantangan hidup, meski bisa lari, sebaiknya kita menghadapinya sambil bersandar pada Tuhan.

Itu sebabnya salah satu kondisi hidup yang membawa kebahagiaan adalah miskin di hadapan Allah. Orang miskin pada masa Yesus termasuk kelompok papa, yang untuk melalui hidupnya hari demi hari tak ada jaminan untuk hari esok. Tidak hanya miskin harta, mereka juga miskin kuasa, tanpa akses untuk mempengaruhi penguasa dan pengambil keputusan. Orang miskin juga kurang beragama, tidak tahu detail peraturan agama, sering melanggar ritual agama, kurang ketat memelihara hukum-hukum agama, kurang rajin sembahyang, tidak saleh.

Kalau begitu, mengapa orang miskin disayang Tuhan? Apakah ini glorifikasi kemiskinan? Apakah ini sebuah penghiburan kosong bagi orang tak punya? Alkitab tak pernah menyatakan menjadi miskin dan tetap hidup miskin adalah keadaan yang baik. Kemiskinan tak pernah dipuja-puja sebagai sebuah idealisme hidup sebab kemiskinan bisa membuat orang mencuri dan mencemarkan nama Tuhan (Ams. 30:8-9).

Banyak tokoh iman dalam Alkitab tergolong orang berada pada masanya, sebut saja Abraham dan Ayub. Tuhan tidak mengutak-utik kemakmuran mereka. Sekali lagi, yang terutama bukan soal kaya atau miskin, tetapi orang miskin lebih mempunyai sikap pasrah sebab tak ada sesuatu lain yang bisa diandalkan. Miskin harta dan koneksi, mereka lebih mudah bersandar pada Tuhan dalam arti sebenarnya. Kerajaan Surga menjadi milik orang yang tahu menggantungkan hidup sepenuhnya pada Tuhan. Memperoleh Kerajaan Surga bukan dengan harta duniawi yang fana, tetapi dengan kebergantungan mutlak pada Tuhan.

Untuk itu, di hadapan Tuhan memang bukan miskin secara lahiriah yang menentukan segala-galanya, tetapi sikap hati seperti orang miskin. Mampu mensyukuri nikmat harta yang ada. Sadar bahwa kekayaan kita adalah titipan Tuhan kepada kita untuk kebahagiaan kita dan untuk kelancaran kita dalam bekerja, agar kemudian kita mampu membahagiakan orang lain. Uang, rumah, mobil, deposito, semua itu dibutuhkan selama hidup di dunia, namun sifatnya fana. Hari ini milik kita, besok bisa melayang pindah tangan atau rusak. Kita tidak tahu berapa lama kita boleh memilikinya. Yang penting, selama masih pada kita, jangan sampai harta itu membutakan penglihatan kita bahwa Tuhanlah penentu kesejahteraan kita.

Hidup adalah pertarungan antara idealisme dan pragmatisme. Dan, pertarungan itu tak pernah berakhir. Bisa saja konsumerisme mengalahkan idealisme, drive untuk menjadi kaya dengan cara mudah mengalahkan kepentingan menikmati kebersamaan dalam keluarga. Kalah menang memang biasa. Tetapi, ada kekalahan yang ongkos sosial atau rohaninya amat besar. Orang arif tak akan membiarkan kekalahan demikian.

_____________________________________________________
Penulis: Yonky Karman
Dalam Majalah Samaritan Edisi I Tahun 2005

1 komentar:

Hotmaria Simarmata mengatakan...

Sangaaaaat memberkati 😍

Copyright 2007, Pelayanan Medis Nasional (PMdN) Perkantas

Jl. Pintu Air Raya 7, Komplek Mitra Pintu Air Blok C-5, Jakarta Pusat
Telp. (021) 3522923, 3442463-4 Fax (021) 3522170
Twitter : @MedisPerkantas
Download Majalah Samaritan Versi Digital : https://issuu.com/samaritanmag