Kamis, 16 Agustus 2018

Melakukan yang Terbaik


          Indonesia merupakan negara kepulauan yang terbagi ke dalam 30 propinsi. Sejak diberlakukannya sistem otonomi daerah, setiap propinsi dan kabupaten memiliki kewenangan untuk mengatur daerahnya sendiri termasuk di dalamnya kebijakan dalam bidang kesehatan.

          Salah satu permasalahan yang dihadapi oleh berbagai propinsi dan kabupaten di Indonesia adalah  jumlah dokter yang tersedia di daerahnya sangat sedikit. Menurut data IDI pada bulan Maret 2007, saat ini terdapat 70 ribu dokter, terdiri dari 50 ribu dokter umum, dan 20 ribu dokter spesialis. Banyak kalangan menyebut, bahwa rasio dokter dan pasien di Indonesia memang masih jauh dari angka ideal, satu dokter untuk 2.500 penduduk. Dari kebutuhan dokter umum 80 ribu orang, saat ini baru terpenuhi 50 ribu orang dokter umum. Kita masih membutuhkan tambahan 30 ribu dokter umum.

          Sementara itu, permasalahan yang ada di Indonesia bukan hanya dari segi jumlah dokter tetapi juga distribusinya yang belum merata. Sebagian besar dokter lebih memilih berdomisili di kota besar seperti Jakarta. Hal itu menimbulkan dampak yang signifikan di daerah yaitu pelayanan kesehatan di daerah akan tidak optimal dikarenakan jumlah tenaga kesehatan yang tersedia tidak memenuhi kebutuhan. Untuk mengatasi kurangnya jumlah tenaga dokter, dalam beberapa tahun terakhir marak berdiri fakultas–fakultas kedokteran baru di berbagai daerah di Indonesia.

          Berdirinya fakultas kedokteran baru selain menjadi solusi terhadap kurangnya jumlah tenaga dokter juga diharapkan dapat mengatasi kendala distribusi tenaga dokter yang tidak merata. Fenomena banyak berdirinya fakultas kedokteran baru di berbagai daerah harus ditanggapi secara positif. Lulusan dokter di daerah tersebut akan lebih mengenal budaya daerahnya masing-masing. Dengan demikian diharapkan setiap daerah dapat memenuhi kebutuhan dokternya masing-masing.

          Selain itu, dengan bertambahnya jumlah fakultas kedokteran akan menyebabkan unsur akreditasi menjadi penting sehingga akan merangsang kompetisi antarfakultas kedokteran untuk menjadi lebih baik. Aspek negatifnya adalah timbul masalah keseragaman mutu pendidikan kedokteran di Indonesia. Dampak yang dikhawatirkan akan terjadi adalah penurunan kualitas lulusan pendidikan dokter di Indonesia.

          Kualitas lulusan pendidikan dokter yang di bawah standar secara umum akan menyebabkan penurunan mutu pelayanan dokter dan meningkatnya angka malpraktik. Dampak lebih jauh lagi akan menyebabkan angka kesakitan meningkat dan dokter Indonesia akan kalah bersaing dengan dokter asing yang masuk ke Indonesia. Oleh karena itu, selain institusi pendidikannya sendiri yang harus menjalankan program pendidikan dengan penuh tanggung jawab, pihak lain yang bertanggung jawab terhadap mutu pendidikan dokter adalah Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) dan kolegiumnya.

           Lalu, bagaimana dengan kita? Apa tanggung jawab kita? Alkitab meminta kita memberikan yang terbaik yang bisa kita lakukan, entah dalam studi, pelayanan, pekerjaan, dan dalam segala hal untuk kemuliaan nama Tuhan. Ya, segala hal yang perlu dilakukan harus dilakukan dengan baik. Berkualitas.Tidak ada orang, pelanggan, atau pasien yang tidak suka jika kita selalu berusaha memberi yang terbaik untuk mereka. Melakukan yang terbaik pada hari ini akan membawa Anda ke tempat terbaik di masa depan.

          Seorang bijak pernah mengatakan, “Jika seseorang terpanggil menjadi tukang sapu jalanan, maka ia harus menyapu seperti Michelangelo melukis, Beethoven memainkan musik, atau Shakespeare menulis sajak. Apa pun tugas Anda lakukanlah sebaik-baiknya. Do your best for Jesus!


________________________________________________________
Artikel dari Majalah Samaritan Edisi 1 Tahun 2010

Tidak ada komentar:

Copyright 2007, Pelayanan Medis Nasional (PMdN) Perkantas

Jl. Pintu Air Raya 7, Komplek Mitra Pintu Air Blok C-5, Jakarta Pusat
Telp. (021) 3522923, 3442463-4 Fax (021) 3522170
Twitter : @MedisPerkantas
Download Majalah Samaritan Versi Digital : https://issuu.com/samaritanmag