Jumat, 10 Agustus 2018

Tuhan Mengingatkan Kita

          Kita bersyukur, setiap ada bencana, respon muncul dari berbagai pihak untuk segera bertindak. Baik pemerintah maupun lembaga-lembaga lain, tak ketinggalan warga yang bergerak spontan mengulurkan bantuan. Pakaian dan selimut, makanan dan obat-obatan segera dikumpulkan untuk selanjutnya dikirimkan bagi saudara dan saudari kita yang tengah berjuang menyelamatkan hidup.

          Gempa yang terjadi berkali-kali seharusnya menyadarkan kita bahwa Tanah Air tercinta ini berlokasi di tempat yang akrab dengan gempa dan berbagai bencana lain. Ini berarti, setelah gempa yang ke sekian kali terjadi lagi, reaksi terkejut dan kebingungan sudah tidak tepat lagi untuk menjadi reaksi kita. Sebaliknya, dengan kesadaran tentang kondisi tanah tempat kita berpijak serta pemahaman yang benar tentang gempa dan berbagai dampaknya, sudah waktunya kita bisa menangani bencana ini dengan lebih baik.

          Yang dimaksud dengan penanganan yang lebih baik tentu saja bukan semata soal penanggulangan masalah setelah masalah tersebut terjadi. Justru, yang perlu kita upayakan adalah meminimalkan masalah sebelum masalah itu benar-benar menghampiri kita (dalam hal gempa, dengan mengetahui bahwa lokasi negeri tercinta memang rawan gempa, yang bisa kita lakukan tentunya bukan meniadakan gempa melainkan mengatasi masalah yang ditimbulkannya). Dalam rangka berupaya ini, kita pun bisa belajar dari negara-negara, baik yang dekat maupun yang jauh, yang juga punya pengalaman yang sama dan yang telah lebih dulu menyadari situasi yang terjadi serta berupaya mengatasinya.

          Dengan cara pandang seperti di atas, kita bisa memahami gempa juga sebagai cara Tuhan mengingatkan kita untuk menggunakan dengan sebaik-baiknya akal-budi yang telah Ia anugerahkan dan percayakan pada kita (jadi, gempa bukan semata cara Tuhan mengingatkan kita tentang dosa-dosa kita!). Melalui gempa, Tuhan memberikan kepada kita informasi tentang kondisi tanah yang Ia percayakan pada kita untuk kita tempati. Meresponsnya, tentu saja, kita bisa menggerutui Tuhan karena di tanah rawan gempa seperti ini Ia mendirikan negeri kita tercinta. Sebaliknya, jika kita merespons dan menindaklanjuti informasi dari Tuhan tersebut dengan mendaya-gunakan akal-budi yang juga berasal dari Tuhan, dijamin kita akan dimampukan bukan saja untuk mengatasi masalah yang timbul akibat gempa, melainkan juga memanfaatkannya demi kebaikan yang sebesar-besarnya dan sebanyak-banyaknya. Sebab, bukankah, sebagaimana kita yakini ketika Tuhan menciptakan langit dan bumi, Tuhan membuat segala-sesuatunya "baik"? Dengan kata lain, Tuhan tidak menciptakan bencana bagi kita. Jangan pernah lupakan hal ini!

          Cara pandang seperti inilah yang digemakan pula dalam Kitab Mazmur, yang pada salah satu bagiannya menyatakan demikian: "Aku hendak mengajar dan menunjukkan kepadamu jalan yang harus kautempuh; Aku hendak memberi nasihat, mata-Ku tertuju kepadamu. Janganlah seperti kuda atau bagal yang tidak berakal, yang kegarangannya harus dikendalikan dengan tali les dan kekang, kalau tidak, ia tidak akan mendekati engkau." (Mazmur 32:8-9)

          Tampaknya, ini berarti, sudah waktunya bagi kita untuk memperbaiki doa kita: Bukan lagi berdoa agar Tuhan tidak lagi "mengirimkan" gempa dan bencana lanjutannya pada kita, melainkan meminta Tuhan membantu kita mendaya-gunakan akal-budi pemberian-Nya, sehingga kita dijadikan bisa mengolah dan mengelola, bahkan, bencana yang seperti apa pun!


_____________________________________________________
/tnp, dalam Majalah Samaritan Edisi 4 Tahun 2009

Tidak ada komentar:

Copyright 2007, Pelayanan Medis Nasional (PMdN) Perkantas

Jl. Pintu Air Raya 7, Komplek Mitra Pintu Air Blok C-5, Jakarta Pusat
Telp. (021) 3522923, 3442463-4 Fax (021) 3522170
Twitter : @MedisPerkantas
Download Majalah Samaritan Versi Digital : https://issuu.com/samaritanmag