Senin, 06 Agustus 2007

The New Paradigm on Teaching

Dear All,
Banyak perubahan besar terjadi pada zaman ini ...
berdampak pada cara belajar dan mengajar anak
Jaman sekarang anak tidak bisa lagi diajar mengikuti cara lama orang tua & guru
Anak sulit memahami pengajaran, malas belajar dan prestasi menurun
Orang tua & guru frustrasi........
Tahukah Anda tiap anak memiliki style belajar yang berbeda?
Bagaimana cara mengajar disesuaikan dengan style belajar tiap anak?
Temukan pembahasannya dalam acara:

Schola Lecture
Tema: The New Paradigm on Teaching ; Teaching Based on Children's/Student's Learning Style
Pembicara: Prof. DR. Lily Lau (First Chinese Baptist Church Walnut, California & Pasadena City College)
Hari/Tanggal: Sabtu, 11 Agustus 2007
Pukul: Pk. 09.00 - 15.00
Tempat: GKY Jemaat Green Ville
Greenville Blok AZ No.1
Jakarta Barat

Informasi pendaftaran:
Tata Usaha GKY-GV : 5605586
Malvin : 089999-07749
Suria : 0817-6452027

Sumber : Y. Chen

Minggu, 05 Agustus 2007

A Testimony Or A Front ?

But understand this, that in the last days will come times of stress. 2 Timothy 3:1

We were in the anaesthetic room, and the consultant anaesthetist was explaining in his affable friendly way some of the special points about anaesthesia for cataract extraction -- affable, that is, until he came to induce the patient, when in his haste, he pricked his finger quite badly on a 'butterfly' needle. Instantly his plastic smile vanished, and his face flushed angrily as he poured out a stream of cursing and four-letter words.
It was only a minor incident to be sure. But I remember it so well because it was the first of many later occasions when I saw the thin veneer behind which many doctors hide break down completely, and the anger and frustration of their true selves break through, often at the very slightest provocation. Their friendliness and apparent calm and control were in reality just a front.
How do we as Christians stand up to the test of stress? Do we have a real and vital day-to-day experience of the Holy Spirit making us more like Christ, or do we simply have a Christian facade? a form of godliness but denying the power thereof (2 Tim 3:5 AV)?
During the last week of my second housejob, one of the ward-clerks bidding me farewell said 'It's been so good working with you because you are always the same. You've never got to ask the nurses, "Is X in a good mood today?" You know you're always approachable'.
That deeply moved me, as I had no idea that she had been watching my life so closely. I gave thanks to God that to one person at least I had shown consistent testimony, and that this woman could see that Jesus really did make a difference in my life, and it wasn't just an act. It is my prayer that you too -- albeit unconsciously -- may show something of the constancy and love of the living Lord as you go about your work today.
Lord, please deliver me from pretending to be what I am not. In the areas where you show me I am wrong,help me to turn to you for the strength to change, and not to be content with just glossing over them.

Further reading: Mt 12:35-37.
TGS

Source : www.cmf.org.uk

Sabtu, 04 Agustus 2007

The Discipline of Hardship

Endure hardship -- like a good soldier of Jesus Christ. 2 Timothy 2:3 (NIV)

Few would deny that the pre-registration year involves hardship. Physical exhaustion, mental fatigue and emotional stress are all part and parcel of a houseman's lot. God's word encourages us to see this experience as valuable discipline under his almighty hand. If our faith has not been tested before it will be now. If we have never had problems organising our day (and which of us has not?), we will have now. If we have never been exposed to temptations to immorality, we will be when we are housemen. The rigours of hospital life can make all these things seem hardships for us as God's people, but we must see them rather as part of his sovereign purpose in our lives, and go to him for sustaining grace, not only to bear them but to profit by them. Let us notice that whatever the source of the pressures, it is his hand alone that mediates and uses them (Rom 8:28-29).
Soldiers who have never been exposed to stress in training will not survive real battle conditions. Similarly, we shall never be mature reliable Christians unless we have been through the training of God's discipline. The pre-registration year is an opportunity to grow under his hand. Certainly, as we read in Hebrews 12:11, it may seem unpleasant at the time, perhaps even painful. Later on, however, it produces a harvest of righteousness and peace to those who have been trained by it. We must play our part, in responding rightly to the opportunity, as God's adopted children, to benefit and grow from his discipline.
When through fiery trials thy pathway shall lie,His grace all-sufficient shall be thy supply.The flame shall not hurt thee, his only designThy dross to consume and thy gold to refine.
Rippon's Selection
Further reading: Rom 5:1-5. Heb 12:7-11.
JHCM
Source : Doctor's Life Support (http://www.cmf.org.uk/)

Kolam Tempat Tuhan Yesus Menyembuhkan Seorang Lumpuh Ditemukan

Sarjana skeptis yang mempunyai pandangan miring terhadap tulisan dan bukti-bukti yang ada dalam Alkitab tentang kematian Yesus mungkin harus memperbaiki pandangannya setelah ditemukannya bukti baru secara arkeologi.Beberapa tahun yang lalu, menusia menjelajahi gua-gua di sekitar Jerusalem untuk menemukan bukti sejarah: kuburan kuno yang mengandung sisa-sisa dari penyaliban seseorang.Penemuan ini hanya sebuah seri panjang dari penemuan yang menjungkir-balikkan konsensus yang dipegang berabad-abad oleh para sarjana. Konsensus ini memegang keyakinan bahwa Gospel atau Injil hampir sepenuhnya memproklamasikan sesuatu hal yang hanya sedikit saja bisa mengandung realita. Bisa dibilang bahwa Injil itu tidak ada faktanya, ini menurut konsensus para sarjana.Sisa-sisa penemuan ini mestinya adalah seorang pria yang dieksekusi pada permulaan abad setelah masehi (AD), itu adalah sama dengan masa hidupnya Yesus. Jeffrey Sheler menulis dalam bukunya Is the Bible True? (Apakah Akitab itu Benar?) bahwa kerangka yang ditemukan mengkonfirmasi apa yang para penginjil tulis tentang kematian Yesus dan penguburannya dalam beberapa point penting.Pertama, lokasi. Para sarjana sangsi terhadap fakta dalam Alkitab tentang penguburan Yesus. Mereka percaya bahwa kriminal yang disalibkan seharusnya dikubur dengan cara dicampur dalam kuburan masal atau orang memberikannya sebagai makanan hewan buas. Namun pria ini, yang dipercaya berumur sebaya dengan Yesus, justru dikuburkan dengan cara seperti yang dituliskan dalam Alkitab dan juga sama dengan cara Yesus dikubur.Lalu ada bukti secara fisik dari kerangka yang ditemukan. Tulang kering pria ini ditemukan dalam keadaan remuk. Ini mengkonfirmasi apa yang kitab Yohanes tuliskan tentang perlakuan para eksekutor Romawi. Mereka biasanya menghancurkan tulang kaki orang yang disalib untuk memastikan kematiannya, semua orang kecuali Yesus yang setelah mati mendapat pengecualian. Fakta ini bisa dikatakan cukup akurat karena sejak lama para sarjana menolak apa yang ditulis dalam Yohanes sebagai tulisan naratif yang berbentuk bumbu secara teologia saja.Bagian lain dari Injil Yohanes dibuktikan dengan kerja arkeolog dimana belum lama ini mereka mengkolaborasi cerita tentang Tuhan Yesus yang menyembuhkan orang lumpuh di sebuah kolam, seperti yang ditulis dalam kitab Yohanes pasal 5. Yohanes menjelaskan bahwa kolam segi lima itu berada di sebelah dalam Gerbang Domba Jerusalem dimana orang-orang sakit datang untuk disembuhkan. Sejak itu tidak ada dokumen kuno, termasuk di dalam Alkitab yang dapat menjelaskan tempat itu. Ini yang menciptakan pandangan skeptis di kalangan sarjana tentang tulisan Yohanes.Namun Sheler menerangkan hal ini. Ketika para arkeolog memutuskan untuk menggali tempat dimana Yohanes pernah mengatakan lokasi kolam itu, mereka ternyata menemukan kolam segi lima itu. Hebatnya, kolam itu merupakan kuil yang orang Yunani percaya dapat membawa kesembuhan. Ini bukti nyata bahwa Yohanes tidak pernah mengarang cerita yang ada di Alkitab.Menolak teks Alkitab tanpa mau susah untuk menggali point yang dianggap rahasia kecil yang dipertanyakan para sarjana menjadi hal yang umum. Banyak penganut tradisional menjadi berprasangka terhadap teks Alkitab. Namun kesimpulan akhirnya selalu datang setelah fakta-fakta baru ditemukan.Para sarjana banyak berasumsi bahwa Alkitab, seperti juga banyak kitab kuno lainnya, hanya berisi pesan propaganda yang oleh ahli teologia Rudolf Bultman dikatakan sebagai "kerygma atau proklamasi".Namun prasangka ini tidak menggoyahkan iman percaya terhadap Injil. Pusat dari iman itu adalah sejarah yang nyata dan ingatan. Penganut Kristen percaya bahwa Tuhan telah bekerja dan terus beraksi dalam membuat suatu sejarah. Untuk kita, mengingat apa yang Tuhan lakukan dapat dilakukan dengan melakukan penyembahan, sesuatu yang membuat manusia menjadi dekat dengan Tuhan.Lantas jika penemuan di padang gurun ini menjadi sesuatu yang mengejutkan bagi orang yang skeptis, hal itu seharusnya tidak lagi mengejutkan bagi umat Kristiani.Ketika para arkeolog sendiri tidak dapat membawa orang menjadi beriman pada Tuhan, mereka dipakai untuk menemukan bukti yang berbicara. Bukti untuk tidak menolak kebenaran yang ada dalam kitab suci sebelum memeriksa fakta yang ada. Untuk itulah kita harusnya belajar setiap harinya, Yesus mengartikan hal itu ketika Dia mengatakan: "Aku berkata kepadamu: "Jika mereka ini diam, maka batu ini akan berteriak.

"http://www.jawaban.com/news/news/detail.php?id_news=070724125434

Jumat, 03 Agustus 2007

HAPPY BIRTHDAY MPF MANADO

PMDN mengucapkan Selamat Ulang Tahun ke-28 untuk MPF (Medical/Healthcare Prayer Fellowhip) Manado, tepat tanggal 3 Agustus 2007. MPF didirikan oleh sejumlah mahasiswa Kristen Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi usai mengikuti Kamp Medis Nasional Perkantas di Nongkojajar tahun 1979. Dalam perjalanannya MPF tidak saja menjangkau mahasiswa kedokteran, tetapi juga mahasiswa keperawatan, fisioterapi, kesehatan lingkunga, kesehatan masyarakat. Saat ini, ini berfokus untuk lebih lagi menjangkau alumni. Kiranya Tuhan yang empunya pelayanan yang telah memulai pekerjaan baik, akan meneruskannya sampai hari Yesus Kristus. AMIN


Teriring doa,


Pengurus PMdN

Kamis, 02 Agustus 2007

Amanda

by. John St. Augustine
Anak perempuan saya tampak bersemangat seperti teman-temannya yang lain. Dia memakai kostum dengan nomer favoritnya. Tinggi, rambut pirang dengan mata biru yang indah dan tubuh ramping atletis. Amanda, nama anak perempuan saya yang menginjak usia ke lima belas, adalah remaja yang selalu berprestasi dan berhasil dalam setiap tugasnya. Amanda tampaknya juga akan mudah untuk menjadi cover girl di majalah remaja. Istri saya Jackie, sekarang sedang mengamatinya melakukan gerak tipu melintasi lapangan, melompat ke arah jaring, dan saat bola sedikit melintasi ujung net, dia mengayunkan tangannya memukul bola tepat diantara blocking dua pemain di depannya. Bola bersarang tepat di daerah kosong di tengah lapangan dan tepukan membahana di ruang stadion. Saat pelatih meminta time-out, para pemain segera berkumpul diluar lapangan. Amanda menggunakan kostumnya untuk menyeka keringat seperti anak-anak yang lain. Tetapi sesaat bisa dilihat ada bekas luka yang memanjang di perut sebelah kanan melintasi bagian pusar. Amanda tidak seperti teman-temannya yang lain. Dia memiliki ginjal saya di dalam tubuhnya. Ingatan saya melayang kembali ke tanggal 20 September 1988, saat seorang bayi perempuan hadir di dalam keluarga kami. Panggilannya adalah Bubs, kependekan dari Bubba Girl, nama panggilan yang diberikan oleh Kim, saudara perempuan Jackie, saat Amanda lahir dengan berat 4.8 kilo. Awalnya segala sesuatu berjalan dengan normal, tetapi beberapa bulan kemudian Amanda sering menderita demam, dan setiap kali periksa ke dokter kami bertambah bingung dengan penyakitnya. Tetapi Amanda selalu memberi ketenteraman kepada kami dengan mata birunya yang bersinar dan senyum yang menampakkan gusi tanpa gigi. Walaupun kunjungan ke dokter begitu melelahkan, tetapi Amanda selalu ceria dengan senyumnya seolah mengatakan, Jangan kuatir, bergembiralah! Keceriaanya selalu menyemangati kami, tetapi ketakutan kami lebih besar. Singkatnya setelah ulang tahun pertama, Amanda didiagnosa menderita penyumbatan ginjal, suatu kondisi yang dalam keadaan normal bisa sembuh sendiri, tetapi tanpa perawatan hal itu akan bisa berbahaya. Dengan seijin kami, dokter akan melakukan operasi sederhana untuk memperbaiki kelainan tersebut. Operasi sudah dijadwalkan sebelum ulang tahun Amanda yang ke lima. Tidak lama sebelum kami pergi ke rumah sakit, telpon berbunyi. Dr. Kevin Ghandi, dokter penyakit dalam yang menangani Amanda, menyampaikan sebuah kabar yang mengejutkan. John, hasil rontgen memperlihatkan bahwa ginjal sebelah kanan Amanda mengalami keracunan yang membuatnya sakit. Ginjal itu harus diangkat. Berita itu membuat lutut kami lemas. Mengapa hal ini bisa terjadi? Malam hari sebelum operasi, kami menunggui Amanda berbaring di tempat tidur dan berusaha menjelaskan apa yang akan terjadi. Amanda mendengarkan dengan serius, lalu berbisik, , apakah saya boleh makan es krim setelah operasi ? Saya dan Jackie saling berpandangan, berharap bahwa semuanya akan berjalan dengan sederhana seperti harapan Amanda. Kami mendekapnya dengan erat. Kami memperhatikan Amanda didorong ke ruang operasi, yang duduk dengan ditemani teman setianya disamping ranjang. Tangan ajaib Dr.Kevin berhasil mengangkat ginjal sebelah kanan Amanda dan melakukan implantasi ulang ginjal sebelah kiri ke saluran kemih. Semuanya tampak berjalan dengan baik, tetapi diagonsa awal kondisi Amanda yang sempurna itu datang dengan sebuah peringatan :Suatu hari dia akan membutuhkan sebuah transplantasi ginjal. Suatu hari kelihatannya masih begitu jauh, sejauh masa depan Amanda saat meninggalkan rumah sakit dengan pesan dari dokter bahwa dia harus menjaga aktifitasnya karena kondisi ginjal yang tersisa hanya berfungsi 20 persen saja. Kami tidak pernah meceritakan rahasia ini. Tiap malam sebelum Amanda tidur dan tiap pagi setelah bangun tidur, saya selalu bertanya pada Amanda sebuah pertanyaan penting, Bubs, bagaimana keadaanmu hari ini? Dia akan menjawab, Positif, dan ginjal saya semakin baik. Ini menjadi sebuah ritual bagi kami, sebuah jembatan yang kuat antara pikiran dan tubuh. Segera semakin baik menjadi sempurna dan hebat dan mengagumkan. Kekuatan semangatnya terlihat dengan jelas di kondisi fisiknya. Delapan tahun berlalu. Sebagaimana perubahan tubuh Amanda, ginjal kecilnya menjadi lelah dan saat suatu hari datang dengan lebih cepat. Faktor usia dan hubungan keluarga membuat saya adalah calon pendonor tebaik, dan dokter meminta dilakukan lebih banyak pemeriksaan. Saya menahan nafas, dan sebuah suara halus mengingatkan saya akan kematian kakek karena gagal ginjal – sebuah penyakit yang sama yang juga mengantar kematian ayah. Saudara perempuan saya sehat, tetapi saya belum pernah menjalani test tersebut. Saya berdoa dan membayangkan wajah Amanda yang selalu tersenyum. Jackie menemani saya yang sedang diperiksa dengan menggunakan ultrasound. Dokter melakukan scanning melihat keadaan ginjal saya. Akhirnya dia berkata, Saya tidak punya kecurigaan apapun. Saya lihat anda punya dua ginjal yang sehat. Kemudian saya tahu bahwa sebuah rencana yang sempurna telah disusun dan segala sesuatu berjalan dengan lancar. Begitu dekat dengan sebuah keajaiban yang saya pernah ketahui. Suatu hari itu tiba di tanggal 18 Juli 2002. Saya dan Amanda masuk berdampingan di ruang operasi di Rumah Sakit Anak di Universitas Wisconsin di kota Madison. Organ vital saya yang sehat diambil dan dipindah ke tubuh Amanda oleh Dr. Hans Sollinger, seorang dokter bedah yang berpengalaman. Segera ginjal itu berfungsi di tubuh Amanda dan memproduksi urin! Untuk pertama kali dalam hidupnya, Amanda memiliki sebuah ginjal yang sehat! Saat saya siuman setelah operasi, seorang suster meletakan tangannya di dada saya dan berkata, Amanda sudah ada di kamar perawatan dan keadaannya sangat baik. Apakah anda akan menyampaikan sesuatu padanya? Kerongkongan saya tercekat oleh masker oksigen, saya membisikkan dua kata yang Amanda pasti mengenalinya, Hubba-Bubba, Sebuah sapaan sayang yang biasa kami ucapkan untuk Amanda. Dengan air mata mengalir di pipinya, perawat itu menyampaikan sebuah pesan yang tidak lazim, dan Amanda dengan mata terpejam melakukan hal yang biasa dia lakukan: tersenyum lebar. Sebagai ayah, kita selalu berharap ada hal yang bisa kita wariskan dari diri kita kepada anak-anak. Untuk saya dan Amanda, ikatan itu jauh melampaui hubungan fisik kepada sebuah keyakinan yang dalam. Sebuah perasaan yang bagi saya adalah perjanjian yang telah lama dan pada akhirnya terlaksana. Dua tahun setelah operasi dilaksanakan, saya melihat wajah Amanda di tengah lapangan volley menengok ke arah kami duduk dan tersenyum lebar sambil mengangkat dua jempol ke atas. Saya menghapus air mata yang tergenang dan membalas senyumnya. Saya adalah ayahnya, tetapi dia adalah pahlawan saya.

Berkat Atau Tragedi ?

Bertahun-tahun yang lalu di Skotlandia, keluarga Clark memiliki sebuah impian. Clark dan isterinya bekerja dan menabung, membuat perencanaan bagi keluarga mereka, termasuk 9 orang anak, untuk bepergian ke Amerika Serikat. Hal ini memerlukan waktu bertahun-tahun, namun akhirnya mereka memiliki tabungan yang cukup dan mereka mengurus pasport dan mengatur reservasi pada sebuah kapal pesiar baru menuju Amerika Serikat. Seluruh keluarga itu dipenuhi dengan pengharapan dan kegembiraan tentang perjalanan mereka. Namun, tujuh hari sebelum keberangkatan mereka, anak laki-laki termuda digigit anjing. Dokter menjahit luka anak itu dan menaruh pita kuning tanda karantina di muka rumah Clark . Dalam rangka mencegah wabah rabies, mereka dikarantina selama 14 hari. Impian keluarga ini berantakan. Mereka tidak akan dapat melakukan perjalanan ke Amerika seperti yang mereka telah rencanakan. Sang ayah, yang dipenuhi dengan kekecewaan dan kemarahan, menuju dermaga untuk melihat kapal mewah itu berlayar – tanpa keluarga Clark . Sang ayah menumpahkan air mata kekecewaan dan menyesali anak laki-lakinya karena kesialan itu. Lima hari kemudian, kabar tragis melanda seluruh Skotlandia. Kapal pesiar Titanic tenggelam di laut. Kapal yang semula diperkirakan tidak bakal tenggelam itu ternyata tenggelam, merenggut ratusan nyawa bersamanya. Keluarga Clark seharusnya ada di kapal itu, namun karena anak laki-lakinya digigit anjing, mereka tertinggal di Skotlandia. Ketika Pak Clark mendengar berita itu, ia memeluk anak laki-laki termudanya dan berterima kasih kepadanya karena telah menyelamatkan seluruh keluarga itu. Ia bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan karena telah menyelamatkan jiwa mereka dan mengubah apa yang semula dianggap tragedi menjadi suatu berkat. Tragedi diubah jadi berkat, itu juga yang dialami dua pengusaha yang menjadi tokoh dalam buku "Mukjizat Kehidupan". Tuhan menunjukkan bahwa tidak selalu hal-hal buruk adalah kata akhir bagi kehidupan yang penuh kemalangan. Tuhan mengubah air mata menjadi mata air kehidupan. Meskipun kita tidak selalu mengerti, Tuhan turut bekerja dalam segala perkara untuk mendatangkan kebaikan bagi kita yang mengasihi-Nya. Sebab Tuhan mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Nya mengenai kita, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepada kita hari depan yang penuh harapan.

Rabu, 01 Agustus 2007

Penghargaan Bagi dr. Erina

Menkes akan memberikan penghargaan Ksatria Bakti Husada Arutala kepada dr Erina Natania Nazarudin (29 th) yang meninggal dalam menjalankan tugas di Kabupaten Fakfak, Irian Jaya Barat, Minggu (15/7/2007). Selain itu, Depkes juga masih akan memberikan 12 kali gaji pokok kepada keluarga almarhum.
Demikian dikatakan Menteri Kesehatan, Dr. dr. Siti Fadilah Supari usai melakukan takziah di kediaman almarhumah dr Erina di Jalan Bima No. 98, Bandung, Senin (16/7/2007).
Kepada para wartawan yang menunggu di rumah duka, Dr. Siti Fadilah Supari sambil menitikkan air mata menyatakan, ”Atas nama pemerintah, saya merasa sangat berterimakasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada dr Erina yang telah menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya sampai mengorbankan dirinya”.
Tadi, ibunda almarhum menceriterakan kepada saya bahwa dr. Erina menyetir mobil Puskesmas Keliling ditemani seorang perawatnya setelah mengantar pasien yang akan melahirkan ke rumah sakit Fakfak. Pasiennnya tertolong, namun dr Erina mengalami kecelakaan karena mobil yang dikendarainya masuk jurang dan dr Erina tidak bisa ditolong. Itulah pengorbanan seorang dokter di daerah pedalaman. Saya sangat bangga dengan pengorbanan dr Erina, kedatangan saya di sini untuk mengucapkan belasungkawa kepada keluarga almarhumah dan mendoakan semoga arwah almarhumah diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa, dan kepada kedua orang tua dan Saudara-saudaranya diberikan kekuatan iman, ujar Menkes sambil menghapus air matanya.
Menurut kakak almurhum, Harry Hardianto, Erina meninggal setelah menjalankan tugas mengantarkan seorang ibu yang mengalami pendarahan saat akan meIahirkan. Perjalanan dari Puskesmas Kokas menuju RSU Fakfak berjarak 45 km. Pasien, menurut Harry, bisa diantarkan sampai dengan selamat ke rumah sakit. Namun dalam perjalanan pulang menuju Puskesmas Kokas, Erina yang mengemudikan sendiri mobil Puskesmas Keliling bersama seorang perawat mengalami kecelakaan. Beruntung, perawat selamat dan berhasil naik memanjat tebing jurang untuk meminta pertolongan orang yang lewat di sana.
Harry mengatakan, keikutsertaan sebagai PTT di Fakfak adalah murni kemauan Erina, lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran Bandung tahun 2000/2001. Ini dilakukan untuk mempersingkat waktu praktek di daerah sangat terpencil. Sebelumnya, selama dua tahun ia sempat menjadi dokter PTT di Cikawari, Cimahi. Namun, karena dianggapnya PTT ke tempat sangat terpencil waktunya lebih cepat yaitu 6 bulan, ia berangkat bulan April 2007 lalu.
”Selain itu, ia sebenarnya ke Kokas hanya menggantikan temannya yang cuti,” kata Harry.
Mengenai pemulangan jenazah dr. Erina yang diperkirakan tiba di Jakarta tanggal 17/7 sore, Menkes menyatakan akan mengurus segala sesuatunya mulai dari penyambutan jenazah di Bandara Soekarno Hatta Jakarta hingga mengantarkan langsung ke Bandung. Sembari menangis, Dr. Siti Fadilah Supari mengatakan, kematian Erina merupakan kehilangan besar bagi dunia kedokteran.
Menyinggung kebijakan PTT, Menkes menyatakan bahwa Depkes akan terus melakukan evaluasi. Hal itu dilakukan agar program tersebut dapat berjalan baik dan tidak memberikan dampak buruk, bagi yang memilihnya. Saat ini terdapat ribuan dokter PTT yang masih bertugs di daerah-daerah terpencil karena tetap dibutuhkan masyarakat sekitar.
Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon/faks: 021-5223002 dan 52960661, atau alamat e-mail puskom.publik@yahoo.co.id.

Copyright 2007, Pelayanan Medis Nasional (PMdN) Perkantas

Jl. Pintu Air Raya 7, Komplek Mitra Pintu Air Blok C-5, Jakarta Pusat
Telp. (021) 3522923, 3442463-4 Fax (021) 3522170
Twitter/IG : @MedisPerkantas
Download Majalah Samaritan Versi Digital : https://issuu.com/samaritanmag