Rabu, 12 Oktober 2011

GRASPING HEAVENS (2a)

2. “Glimpses of Heaven” (Sekilas tentang Surga)

“..Saya mempunyai pemahaman yang sederhana tetapi cukup. Bagi saya kasih Allah itu sama seperti kasih orang tua saya kepada saya, bahkan lebih dari itu. Waktu saya berumur 7 tahun saya percaya Tuhan tetapi saya belum pernah meminta Tuhan Yesus mengampuni dosa-dsoa saya dan masuk dalam kehidupan saya. Saya tahu saya butuh pengampunan Tuhan untuk segala kesalahan saya. Jadi saya berdoa mohon pengampunan-nya dan meminta-Nya masuk dalam hati saya sehingga saya diubahkan dan disucikan…” demikian sharing Tami mengenai iman percayanya kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya kepada sekelompok pemudi pada saat acara Pioneer Girl’s Colorado Camp Cherith.

Saat berusia 17 tahun postur tubuh Tami tinggi dan langsing, rambut pirangnya semasa kanak-kanak telah berubah menjadi coklat muda dengan panjang sebahu. Matanya yang berwarna biru terang menatap tajam dan bersinar di wajahnya yang berbintik-bintik. Dia ikut dalam Pioneer Girl’s Camp hampir setiap musim panas dan selama bertahun-tahun dia selalu mengumpulkan bahan-bahan PA, kegiatan-kegiatan dari para peserta, dan akhirnya menjadi Konselor dalam training kepemimpinan.

“Bergumul dengan rasa tidak aman di masa remaja saya membuat saya mengevaluasi kembali apa yang saya katakan saya percaya. Saya seorang yang “late bloomer” (terlambat berkembang/berbunga) secara fisik…dan sangat kikuk. Saya belajar bersandar pada damai sejahtera Allah dan terhibur selama melewati tahun-tahun ‘mengerikan’ tersebut. Melaluikesempatan ini saya menegaskan bahwa kasih , pengampunan, dan rencana Tuhan untuk masa depan merupakan realitas-realitas dalam hidup saya, bukan sekedar konsep yang diterus-teruskan kepada saya dari orang tua ataupun teman-teman gereja” kata Tami saat menyampaikan sharing mengenai imannya, dan anak-anak gadis itu mendekatinya setelah itu.

“apakah kamu masih ingin menjadi seorang dokter? Tanya salah seorang dari gadis-gadis tersebut.

“Ya, saya selalu ingin menjadi seorang dokter sejak saya berumur 9 tahun. Tidak pernah ada keraguan sedikitpun” jawab Tami.

Tami berusaha keras agar bisa memperhatikan setiap gadis yang dibimbingnya. Beberapa diantara mereka berasal dari keluarga yang berantakan. “Aku sangat bersyukur” pikirnya…”di masa kini ketika keluarga yang berantakan seakan menjadi suatu hal yang wajar, aku justru bertumbuh di dalam keluarga yang penuh kasih sayang dan kepedulian”… Kedua orang tuanya selalu menjalankan kehidupan iman mereka di hadapannya dan adiknya. Dia menyaksikan bagaimana Ayah dan Ibunya secara terbuka menunjukkan cinta kasih dan dukungan mereka terhadap satu sama lainnya. Kedua orang tuanya juga memberikan teladan dalam hal menghafal ayat-ayat Alkitab dan selalu mengutamakan prinsip-prinsip Tuhan di dalam kehidupan mereka.

“Ayo…mari kita duduk melingkar” Tami melanjutkan…”kita akan mengadakan penggalian Alkitab dari kitab Daniel. Siapakah Daniel? Mengapa dia berada di negeri asing? Mengapa dia dibuang ke gua singa? Ingat, nanti malam adalah skit night…jadi mari kita berkreasi dan membawakan kisah Daniel ini dalam lakon yang pendek dan lucu…”

Sementara para gadis di kelompoknya mulai melakukan latihan untuk acara skit night , Tami pergi ke tendanya dan mengerjakan tugas sekolahnya. Dia sedang mempersiapkan satu tulisan esay untuk tingkat lanjut di bidang Literatur di SMA. Dia memilih Space Trilogy karangan C.S. Lewis sebab itu penulis favoritnya dan tiga buku tentang ruang angkasa sangat menyenangkan baginya. Kapan pun Tami mempunyai waktu senggang sedikit saja pada saat kamp itu, Tami akan mencatat apa saja yang dibacanya dari buku-buku itu. Karakter utama dari kisah di buku C.S.Lewis tersebut adalah Ransom, yang berasal dari planet Bumi dan sedang jalan-jalan di ruang angkasa mengunjungi dua planet, yakni Malacandra dan Parelandra. Sewaktu di Malacandra Ransom menemukan konsep mengenai keindahan yang sesungguhnya dan membandingkannya dengan planet asalnya,Bumi, yang nyatanya sama sekali tanpa keindahan dan sukacita yang sesungguhnya. Di Malacandra Ransom menemukan kemuliaan, harmoni, dan “hikmat dan kebijaksanaan”. Di Bumi, seluruh ciptaan hidup penuh ketakutan. Di Malacandra tidak ada ketakutan, yang ada hanya kasih yang sempurna. Ransom bersenang-senang sambil mengambang di atas lautan, terkagum-kagum dengan warna-warninya, dan menemukan kesenangan baru dalam rasa buah-buahannya yang eksotik. Ransom menikmati harmoni dengan seluruh ciptaan, dia menyadari seluruh keinginannya adalah Malacandra, yang dengan cepat disimpulkan Tami sebagai gambaran dari surga itu sendiri.

Di lain waktu Tami bertanya kepada para gadis itu, “…apa yang akan kalian lakukan di surga?”. Salah seorang diantara mereka menjawab: “…kita akan duduk di atas awan, memetik harpa emas, berisitirahat sambil menyaksikan para malaikat lewat…" Tami tertawa terbahak-bahak, “…Kamu pasti bercanda!” katanya…”Ini semua klise, saya tidak mengharapkan kalian benar-benar berpikir hal itu benar. Ayolah…Alkitab memberikan kepada kita gambaran yang jauh lebih baik, jauh lebih besar, dan hal-hal yang jauh lebih agung dan besar dari apa yang diharapkan! Surga jauh lebih baik dari itu!”… Mereka membuka Alkitab mereka dan mulai mempelajari beberapa bagiannya.

“…dari pandangan Alkitab, pengalaman yang paling tinggi dan paling menyukakan hati di dunia ini akan jauh lebih besar lagi di dalam kehidupan nyata di surga...” lanjut Tami. Hal ini membantu mereka seperti bola yang menggelinding ketika mereka melakukan brainstormingmengenai ‘seperti apa surga itu’. Tami meringkaskan gagasan-gagasan mereka di whiteboard: ‘surga itu adalah suatu tempat asal dari atau sumber kasih sayang, suatu tempat tanpa rasa sakit atau air mata; suatu tempat dimana kita akan melihat Kristus; suatu tempat dimana kita akan memiliki tugas-tugas kerajaan yang harus dilakukan; suatu tempat sukacita; suatu tempat untuk memuji dan menyembah; suatu tempat untuk hidup harmonis dengan sesama…

“masih ada deskripsi yang lain lagi..?” tanya Tami. Surga itu satu rumah tempat tinggal dengan banyak ruangan; sebuah kota yang paling indah dan mulia; indah; sungai kehidupan; musik yang indah…

“Semuanya pemikiran yang sangat bagus…! Puji Tami…”Memang surga bukanlah suatu kebahagiaan membosankan yang tiada akhir, melainkan suatu tempat dimana kita akan ditantang, dan tempat dimana kita akan mempunya banyak sekali pekerjaan yang menyenangkan untuk dikerjakan. Saya sendiri sangat menantikan saatnya berada di hadirat Tuhan. Dan kemudian…saya menantikan saat itu dimana saya akan bertemu dengan Nenek saya lagi”

Nenek Tami, Ibu dari Ayahnya, meninggal 10 hari setelah hari natal tahun 1974, saat mereka mengunjunginya waktu itu. Tami sangat merindukan Neneknya, yang adalah seorang wanita saleh, dan Tami sangat terhibur mengetahui bahwa Neneknya sudah berada di surga.

“..bagaimana tentang makanan di surga?” tanya seorang gadis mungil.

“..makanan?” Tami menahan tawanya. “…Ya, waktunya makan siang sekarang…mari kita beristirahat”.

“Saya tidak pasti soal makanan di surga” jelas Tami dalam perjalanan menuju ruang makan…”namun, sepertinya bagi saya mungkin saja kita menikmati makanan di surga. Lagi pula Tuhan Yesus tetap bisa makan sesudah Dia bangkit, dan Alkitab juga berbicara soal ‘pesta makan malam perkawinan’, suatu pesta dengan makanan yang paling enak. Saya pribadi sangat yakin makanan di sana pasti akan jauh lebih enak dari yang kita makan di sini…”

(Bersambung ke "Grasping Heavens" (2b)

Sumber : diterjemahkan dari:

Annelies & Einar Wilder-Smith, “GRASPING HAEVEN- Tami L. Fisk, A Young Doctor’s Journey to China and Beyond”, Genesis Books, 2010.




Tidak ada komentar:

Copyright 2007, Pelayanan Medis Nasional (PMdN) Perkantas

Jl. Pintu Air Raya 7, Komplek Mitra Pintu Air Blok C-5, Jakarta Pusat
Telp. (021) 3522923, 3442463-4 Fax (021) 3522170
Twitter : @MedisPerkantas
Download Majalah Samaritan Versi Digital : https://issuu.com/samaritanmag