Sabtu, 15 Oktober 2011

GRASPING HEAVENS (2b)

(sambungan...)

2. “Glimpses of Heaven” (Sekilas tentang Surga)

Sesudah makan malam Tami mengerjakan lagi tugas esaynya hingga tengah malam. Dia melanjutkan dengan menulis: “Novel-novel Lewis, juga fantasi-fantasi orang Kristen lainnya memberikan kesenangan melalui setting dan narasi mereka yang imajinatif. Karya mereka menyatakan berbagai prinsip-prinsip dan pengetahuan yang bisa diterapkan. Lewis mengubah nama-nama dari mahluk-mahluk spiritual, termasuk Tuhan, yang disebutnya ‘Maleldil’ (“mal” berarti “kepala” di dalam bahasa Ibrani). Maleldil adala seorang kepala, pencipta, dan komandan dari Eldil, para malaikat. Melalui penjajaran alam-alam tanpa dosa seperti Malacandra dan Parelandra, dan Bumi yang telah jatuh Lewis menjelaskan bagaimana akibat dari emberontakan terhadap Allah dan hadiah bagi ketaatan terhadap-Nya. Eldil (para malaikat) melindungi planet-planet yang belum jatuh sementara Setan menguasai Bumi. Planet-planet lain tetap murni sementara Bumi yang penuh dosa akan menghadapi penderitaan yang tidak berkesudahan. Namun ada suatu kisah penebusan di dalam buku ini” Tami melanjutkan karya tulisnya lagi: “Pada waktu Ransom kehilangan harapan melihat planet buminya yang tanpa harapan, dia menemukan bahwa Maleldil telah datang ke Bumi untuk menyelamatkannya. Dia diberitahu bahwa di dalam dunia Maleldil mengambil rupa seperti penduduk bumi lainnya. Maleldil adalah Juruselamat bagi mereka yang menerima-Nya. Ransom melihat darah di kaki-Nya dan diberitahukan bahwa beginilah caranya Maleldil nantinya akan menciptakan dunia kembali”.

Begitu kamp musim panas selesai, mulailah kesibukan dari hari-hari terakhirnya di SMA. Suatu saat waktu Tami berlari-lari menuruni tangga dengan sejumlah buku di tangannya, Ibunya berkata:

“Tami, kamu perlu beberapa baju baru untuk mengisi lemari bajumu…”

“ Maaf, Bu…Saat ini aku belum punya waktu. Aku harus cepat-cepat ke perpustakaan untuk mengerjakan tugas-tugasku” jawabnya sembari berhenti sejenak.

“Tapi, Tami…kamu perlu berdandan sedikit. Kamu perlu meluangkan sedikit waktu untuk berbelanja dengan Ibu…” Ibunya memaksa.

“Baiklah, kalau begitu nanti besok sore..tapi kita perginya cepat-cepat,ya Bu..tidak lebih dari sejam soalnya aku lebih perduli proyek-proyek akhir studiku dari pada baju baru…” Tami menyetujui dengan syarat sambil mengangkat bassoon-nya (serunai dari kayu) dan buku-bukunya ke dalam mobil. Tami menghabiskan beberapa jam di perpustakaan mempelajari bahasa Jerman dan science. Setelah itu, terburu-bur pergi ke orkestra sekolah untuk melatih bassoon-nya. Saat mengenderai mobil dalam perjalanan pulang pada malam hari dia memikirkan soal baju-baju yang Ibunya bicarakan. “mungkin Ibu benar..” pikirnya. “Mungkin aku harus memikirkan dandananku seperti yang dilakukan teman-teman gadis di kelas…mungkin memang benar, aku tidak cocok berada diantara kerumunan orang..” Pikirnya lebih lanjut. Tami ingat satu kali dia sempat mendengar salah seorang gurunya di halaman sekolah berkata tentang dirinya: “..dia terlalu serius..” tetapi guru wali kelasnya membela dia “Tidak, dia tidak serius…sebenarnya dia mempunyai selera humor yang sangat tinggi. Hanya memang dia sepertinya jauh lebih dewasa dari teman-teman sebayanya. Ya, dia memang beda dari yang lainnya…dia bukan remaja biasanya…” Mendengar kata “beda dari yang lainnya” Tami mengkerutkan kening dan berpikir bahwa sesungguhnya dia tidak ingin berbeda. Anak-anak gadis di kelasnya lebih tertarik pada anak-anak laki-laki dari pada buku. Ada satu anak laki-laki yang sangat disukai Tami, tetapi begitu mengenalnya lebih dekat Tami merasa mereka tidak cocok. Tami begitu ingin bicara soal masa depan, Negara-negara lain, tentang Tuhan, dan hal-hal spiritual yang lebih mendalam… dan kemudian, di sanalah tujuannya menekuni bidang medis dan pergi ke luar negeri untuk membantu orang-orang miskin. Tami merasa dia tidak punya waktu untuk disia-siakan.

Begitu tiba di rumah, meskipun sangat kelelahan Tami masih saja mengerjakan karya tulisnya menganai Space Trilogi. Minggu depannya nanti akan ada beberapa kuiz sehingga dia memutuskan untuk menyelesaikan karya tulisnya. Tami member judul karya tulisnya: “Analisa Prinsip-prinsip Kristen dalam Buku Space Trilogy Karangan C.S Lewis” . Saat membuka buku C.S Lewis yang dipinjamnya dari perpustakaan matanya langsung tertuju pada kalimat yang berbunyi; “ Jika kita bisa mempengaruhi satu persen dari pembaca kita untuk mengubah konsepsi mengenai Space (ruang angkasa) ke konsepsi mengenai Surga pastilah kita sudah memulainya”. Tami terpana dan memang dia ingin memahami konsep mengenai surga.

Kisah tersebut telah memerangkap imajinasinya dan Tami melanjutkan tulisannya dengan mencatat: “Di alam-alam dunia lain yang tidak mengalami kejatuhan seperti Macandara dan Perelandra kehidupan berpusat sekeliling persekutuan dengan Maleldil. Sebagai hasil dari ketaatan mereka yang terus menerus, mahkluk-makhluk di palnet-planet ini menikmati kebebasan yang tidak pernah dikenal manusia. Contohnya ketakutan akan kematian, yang walaupun di planetnya kronis tidak melumpuhkan Hnau yang tidak berdosa, tetapi sebagaimana diulangi Nardo..Hrossa melihat kematian sebagai “momen kemuliaan yang terakhir yang menyempurnakan kehidupan”.
Tami berhenti sejenak dan memikirkan tentang kematian dan surga. Dia benar-benar ingin menggapai surga. Kemudian dia menguraikan: “Penduduk Malacandra tidak takut akan kematian, dan mereka menjelaskan kepada Ransom bahwa tubuh kita akan diubahkan. Dari pada membayangkan kematian sebagai akhir, mereka justru melihatnya sebagai ‘awal dari segala sesuatu’.

Bersambung ke "Grasping Heavens" (3a)

Sumber : diterjemahkan dari:

Annelies & Einar Wilder-Smith, “GRASPING HAEVEN- Tami L. Fisk, A Young Doctor’s Journey to China and Beyond”, Genesis Books, 2010.




Tidak ada komentar:

Copyright 2007, Pelayanan Medis Nasional (PMdN) Perkantas

Jl. Pintu Air Raya 7, Komplek Mitra Pintu Air Blok C-5, Jakarta Pusat
Telp. (021) 3522923, 3442463-4 Fax (021) 3522170
Twitter : @MedisPerkantas
Download Majalah Samaritan Versi Digital : https://issuu.com/samaritanmag