Rabu, 19 Oktober 2011

GRASPING HEAVENS (3a)

3. High Road Pray (Perjalanan Doa yang penuh tantangan)

Tami mendapatkan nilai “A” untuk tugas esaynya, dan dia menjadi salah seorang finalis “National Merit” yang diseleksi dari seluruh Amerika Serikat berdasarkan pada gabungan nilai ujian nasionalnya di SMA. Sekarang dia harus memilih ke mana dia akan menempuh kuliahnya. Sudah lama dia menantikan saat seperti ini. Seringkali dia mendiskusikan dengan kedua orang tuanya kemungkinan-kemungkinan yang terbuka baginya selulusnya dia dari SMA. Dan kembali Tami membawa soal itu lagi pada saat makan malam.

“Aku kira Wheaton College itu tempat kuliah yang paling ideal…” katanya membuka percakapan.

Berita ini cukup mengejutkan kedua orang tuanya.

“Tapi Tami…Carlton di Minnesota dan temapt yang lain menawarkan beasiswa penuh karena menjadi National Merit Finalist berdasarkan nilai ujianmu di SMA…”

“Tapi kalian bilang persahabatan seumur hidup itu dibangun pada saat kuliah. Di Wheaton College ada orang-orang yang aku pikir aku akan suka “berteman seumur hidup” dengan mereka..” Tami bersikeras.

“ada aspek lain juga yang perlu dipertimbangkan. Wheaton menawarkan kesempatan persiapan yang lebih baik untuk magang ke luar negeri . Kebanyakan professor di sana memiliki pengalaman di luar negeri atau terlibat dengan proyek-proyek di luar negeri. Dan juga, yang paling penting, mereka mengadakan proyek misi ke luar negeri pada musim panas yang tentunya akan sangat mendukung rencana-rencanaku di masa depan…” mengemukakan alasan-alasannya.

“Sebenarnya bisnis Ayah sedang tidak berjalan lancar saat-saat ini, dan kami akan kesulitan mendukung kamu secara finansial di Wheaton…”jawab Ayahnya. “ Tapi kami mengerti alasan kamu… bersama-sama kita akan iman soal ini di dalam Tuhan…” lanjut Ayahnya. Sesudah mendiskusikan lebih lanjut hal-hal terkait lainnya, seluruh keluarganya berdoa sama-sama apa yang sudah menjadi keputusan.

Tuhan membuka pintu bagi Tami ke Wheaton College. Mereka berhasil menegosiasikan program selama 3 tahun untuk Tami, bukan 4 tahun. Tiga tahun dengan maksud agar tidak terlalu mahal, dan agar Tami bisa masuk sekolah kedokteran setahun lebih awal. Ini sangat membahagiakan Tami.

Sebagai mahasiswa baru maka Tami dan teman-temannya yang masih mahasiswa baru Wheaton College diminta mengikuti “Wilderness Experience” (pengalaman di suaka alam/alam terbuka). Acara yang disebut “High Road”, yang merupakan tradisi dan sejarah di Wheaton College, merupakan suatu petualangan hidup di alam terbuka selama dua minggu dan menantang setiap peserta baik secara fisik maupun spiritual sebelum menempuh ‘petualangan’ hidup selama masa kuliah nantinya di kampus. Petualangan ini dilaksanakan di wilayah Wisconsin Northwoods yang indah.

“Aku selalu berolah raga, aku yakin pasti bisa menghadapi tantangan ini tanpa banyak gangguan” demikian pikir Tami.

Begitu dia mengangkat ranselnya yang berat berisi semua keperluannya selama dua minggu di punggungnya, saat itulah Tami mulai mempersiapkan dirinya secara mental menghadapi tantangan itu. Sebuah peta di tangannya memberi petunjuk arah mana yang harus ditempuhnya. Tami bersama delapan orang gadis lainnya sebagi satu tim, semuanya mahasiswa baru dan pemimpin kelompok mereka. Tami sangat menikmati alam, memuji Tuhan setiap kali dia menemukan bagian-bagian yang indah dari danau atau hutan. Hari lepas hari tantangan fisik semakin ditingkatkan. Akhirnya Tami menyadari bahwa tantangan fisik yang dihadapinya lebih besar dari pada yang diantisipasinya. Setengah perjalanan dari pengalaman petualangan mereka itu dia mulai kelelahan.

Suatu hari saat kelompok mahasiswa baru ini berjuang mengayuh kano mereka melalui sebuah sungai kecil yang penuh nyamuk, Tami mulai depresi. Otot-ototnya yang kelelahan terasa sakit, kelembaban udara dan prospek untuk bertahan selama beberapa hari lagi terasa sangat berat baginya.

“Sebenarnya inilah tantangan spiritual yang dalam itu…” katanya pada diri sendiri. “dan ini merupakan suatu kesempatan yang baik untuk belajar bagaimana Tuhan mendidik aku menjadi disiplin…”

Menjelang hari terakhir Tami mengumpulkan beberapa kayu dan menaruhnya di dalam sebuah batu kecil dan menyalakan api. Tak ada satu orang pun yang masih bersemangat untuk bercerita tetapi perasaan kebersamaan melewati tantangan yang sulit sebagai satu grup memberi mereka kekuatan dan semangat. Pada waktu Tami memrebahkan tubuhnya di tanah berbatu itu, dia langsung tertidur lelap.

Tanah berbatu keras membangunkan Tami lama sebelum matahari terbit. Sesudah memberisihkan diri cepat-cepat, dia bersaat teduh. Pembacaan Alkitabnya saat itu dari Ibrani 12:11: “memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukcita, tetapi dukacita...” memberiinya perspektif baru untuk hari yang baru. Dan setelah membaca dan merenungkan Firman Tuhan dia berdoa mengutip apa yang tertulis dalam Ibrani 12:10, katanya: “ Tuhan, aku percaya Engkau mendisiplinkan kami anak-anakMu demi kebaikan kami, agar supaya kami boleh turut mengambil bagian dalam kekudusan-Mu. Berikanlah kekuatan kepadaku untuk menanggung disiplin ini”

Sesudah sarapan, dia harus membongkar tenda, mengemasinya dan mencari jalan yang menuju ke stasiun berikutnya. Tami menguatkan dirinya untuk bagian berikutnya dari ‘opspek’ ini, lari marathon sejauh 13 kilometer. Sewaktu dia berulang kali jatuh saat memanjat tebing batu dan harus ditarik didapatinya dirinya yang kehilangan kendali diri dan marah-marah dengan teman-teman segrupnya. Dia merasa sangat tidak enak dan segera menyesali semburan kemarahannya tersebut.

“O Tuhan, tolong aku…Aku sungguh-sungguh telah gagal, bukan hanya di mata-Mu tapi juga di mata teman-teman satu grup…” serunya.

“Tami, kamu harus belajar menerima kegagalan secara konstruktif. Kita harus mengingatkan diri kita bahwa walaupun kita ingin menjadi sempurna, kita sering gagal. Kita juga bisa memerangkap diri kita dengan cara membangun ekspektasi yang tidak realistis untuk diri kita…” hibur pemimpin kelompoknya.

Malam itu, Tami melanjutkan catatan jurnal hariannya: “Tuhan terima kasih untuk kelompok para gadis yang istimewa ini. Mereka telah membantuku belajar menerima kegagalanku karena terkadang kegagalan biasanya memiliki tujuan yang lebih tinggi…”

Pendakian di hari berikutnya semakin melelahkannya tetapi stamina fisiknya ternyata lebih baik dari pada gadis yang lain di grupnya. Kaki dan bahu mereka sakit dan sering mereka sudah ingin menyerah.

“Aku yakin Tuhan akan memberiikan kekuatan yang kita butuhkan agar bisa bertahan…” kata Tami mengingatkan dirinya dan teman-temannya.

Begitu dia melangkah masuk ke tepi sungai yang cukup dalam, putus asa karena kuatir tenggelam dalam air yang dingin, Tami justru menemukan sebuah bendungan berang-berang yang membentuk jembatan yang sempurna. “…wow, Tuhan…terima kasih untuk pemeliharaan-Mu dalam hal ini. Insiden ini menunjukkan padaku bagaimana Engkau bahkan memperhatikan dan peduli akan kebutuhan yang terkecil sekali pun dalam kehidupan kami…”. Dia menuliskan peristiwa ini dalam jurnal hariannya.

Pada waktu tim mereka kembali ke Wheaton mereka disambut dengan gembira oleh rekan-rekan mahasiswa mereka.

“Tami, kau kelihatan teramat sangat lelah, tapi senang dan bahagia…! Ceritakan apa yang terjadi selama perjalanan itu...”

Tami bercerita tentang keindahan alam yang mereka nikmati, kesulitan yang harus mereka hadapi, dan tentang bagaimana dirinya mengalami hadirat Tuhan selama saat-saat dia pikir sudah tiba dibatas kemampuannya.

“…Kesulitan-kesulitan itu menantang aku, tetapi aku merasa Tuhan menggunakan semuanya itu untuk membentuk diriku. Aku tahu Tuhan sedang mengajari aku saat itu beberapa pelajaran penting dan kebenaran untuk masa yang akan datang…”

Setiap mahasiswa harus menulis laporan mengenai pengalamannya di alam terbuka tersebut, jadi setela beberapa hari kemudian Tami disibukkan dengan hal itu. Dia menggambarkan bagaimana beberapa dari saat yang tersulit dalam perjalanan mereka itu kata-kata dari Mazmur muncul dalam benaknya, seperti: “Mengapa oh Tuhan Engkau menyembunyikan diri-Mu di saat susah?” Dan ingat saat-saat dia berdoa tetapi tidak percaya bahwa Tuhan akan membangkitkan semangatnya hingga kemudian suatu hal yang ganjil terjadi. Tulisnya: “lalu damai sejahtera dan sukacita-MU mulai mengatasi rasa depresiku…dan aku mulai memuji-MU! Perubahan sikap hatiku ini berulang seminggu kemudian ketika aku berjalan di tengah semak belukar dalam kegelapan dan berulang kali tersandung jatuh. Sekali lagi aku boleh bersukacita karena Engkau memberiiku kekuatan fisik dan emosional untuk menghadapi saat-saat sulit…”

Tami menutup matanya. Dia ingin mengingat secara rinci semua peristiwa secara akurat sehingga saatnya nanti jika dia harus menghadapi situasi-situasi sulit, dia akan bisa melihat ke belakang dan mengingatkan dirinya akan kesetiaan Tuhan. Saat Tami merenung, dia menulis: “Tolong aku Tuhan untuk belajar berkonsentrasi kepada-Mu saja bukan pada masalahku. Engkau akan menyediakan kekuatan yang aku butuhkan untuk bertahan. Kasihku untuk orang lain kiranya merupakan respons terhadap kasih-Mu yang tak terkira untukku. Terlalu sering selama perjalanan aku hanya berkonsentrasi pada kaki dan bahuku yang terasa sakit akibatnya aku tidak bisa membagi kasih dengan mereka yang lain di grup. Tuhan…aku tahu bahwa aku tidak bisa menunjukkan kasih Anak-MU yang penuh pengorbanan tanpa bantuan-Mu. Izinkanlah aku memberi kasih-Mu pada setiap orang sehingga aku dapat meneruskan kepada orang lain apa yang telah dikembangkan kasih-MU dalam kehidupanku…”

Tami berhenti sejenak, dan kemudian menulis tergesa-gesa: “aku berdoa kiranya Engkau memampukan aku menjadi ‘semurni emas’ dan menjadi ‘dewasa dan sempurna, serta tak bercacat’…”

Dia menulis beberapa halaman tentang pengalamannya dan memberi judul: “High Road Prayer” untuk itu.

================== Bersambung ke “GRASPING HEAVEN” (3b)


Tidak ada komentar:

Copyright 2007, Pelayanan Medis Nasional (PMdN) Perkantas

Jl. Pintu Air Raya 7, Komplek Mitra Pintu Air Blok C-5, Jakarta Pusat
Telp. (021) 3522923, 3442463-4 Fax (021) 3522170
Twitter : @MedisPerkantas
Download Majalah Samaritan Versi Digital : https://issuu.com/samaritanmag