Rabu, 26 Oktober 2011

GRASPING HEAVENS (4a)

4. Menjadi Seorang Dokter

“Tami, kamu masih mengejar tujuanmu menjadi seorang dokter misionari khan..?” tanya Tim adiknya saat natalan di rumah mereka di Denver. Waktu itu Tami berusia 21 tahun dan Tim 19 tahun. Mereka berdua sedang membuat kue-kue natal di dapur, dan sambil bergurau Tim berkata: “..selama ini kami semua tahu inilah tujuan hidupmu, tetapi tak satu pun dari kami yang tahu kemana kamu akan pergi sebagai dokter misionari…” Dengan lembut dia mencolek tangan kakaknya, “…kakak, kapan kamu akan memberiitahu kami kemana tujuanmu…?”

“..Aku tidak tahu Negara mana yang Tuhan ingin aku pergi…andai aku tahu, aku sudah bisa mempersiapkan diri untuk itu..” jawabnya sambil menarik napas dalam-dalam. “…tapi aku tahu suatu hari DIA akan menunjukkannya padaku, dan saat itu pastilah waktu terbaik yang sesuai dengan waktu-Nya…”

Saat seluruh keluarga berkumpul di sekitar meja makan natal tahun itu, Ayahnya bertanya: “Tami, kamu sedang meneliti apa saat ini? Mary Macaluso bilang pada kami katanya dia bertemu dengan salah satu Profesor kamu di Wheaton, yang berkata dia sangat terkesan dengan keinginan tahumu dalam hal penelitian. Kami jadi penasaran juga…tolong ceritakan sedikit mengenai penelitianmu di Wheaton..”

“Aku mengerjakan sebuah penelitian untuk bidang kimia yang aku tekuni saat ini, berjudul “Enzyme Kinetics” yang berkenaan dengan pengobatan katarak dengan digesti enzymatic…”

“…apa enzim?” Ayahnya coba memahami apa yang digambarkan Tami.

Semua orang tertawa, dan Tami coba menjelaskan kerumitan ilmu kimia dalam bahasa yang sederhana tapi tetap saja sulit dimengerti. Tak satu pun anggota keluarganya yang benar-benar tertarik dalam hal science ini. Namun Tami punya berita yang lebih bagus untuk diberitahukannya, dan saat semua orang sedang menikmati makanan penutup Tami menyampaikannya:

“…seperti kalian tahu, Wheaton College menawarkan kelas elektif yang bisa kami ikuti di luar negeri…aku sudah mengirim aplikasiku untuk ini. Dan kalian tahu…?? Mereka menerimanya dan akan mengirimku ke Afrika..!! Aku akan pergi ke RS misi, namanya “Mukinge Hospital” di Zambia…” katanya sambil melirik Tim. “Aku akan ke sana untuk mencari tahu apa rencana Tuhan untukku, apakah DIA menginginkan aku ke Afrika”.

Musim panas itu, selama dua bulan Tami menghabiskan waktunya di RS pedesaan di Afrika tersebut. Kathy dan Pam, teman-teman seasramanya sudah tidak sabar ingin mendengar ceritanya.

“Gimana di Afrika…?” tanya mereka begitu Tami tiba di Wheaton lagi.

“Aku senang sekali..! Zambia itu sebuah Negara yang indah dan masyarakatnya sangat special. Direktur RS dan istrinya adalah orang-orang yang sangat menyenangkan, dan sangat menyemangati aku. Kami mengadakan percakapan yang benar-benar sangat berkesan…”

“Apa saja yang kamu kerjakan di sana…? “

“Well, itulah masalahnya…karena aku cuma seorang mahasiswa, aku merasa tidak bisa memberi kontribusi sebanyak yang bisa aku ingin lakukan. Aku mengerjakan beberapa tugas pelayanan, dan kemudian mereka memintaku mengajar matematika untuk para murid sekolah perawat. Satu saat bahkan aku bekerja sebagai pustakawati di perpustakaan RS. Tetapi hal yang paling berkesan bagiku saat Dr. Wenninger, direktur RS, mengundang aku untuk melihat-lihat di RS bahkan kadang-kadang di lapangan. Ada banyak sekali yang membutuhkan perhatian. Malaria adalah penyakit yang selalu jadi masalah di sana, aku menyaksikan banyak sekali pasien-pasien yang mengidap penyakit ini. Tapi aku juga sering merasa sangat tidak berguna sehingga aku ingin mendalami soal obat-obatan. Aku sudah tidak sabar ingin segera ke sekolah kedokteran…”

“Apa kamu sudah diterima di kedokteran…?”

“Ya, aku baru saja dapat kabar dari Emory Medical Center di Atlanta, mereka menawariku kesempatan belajar di sana. Aku juga terkejut mendengar bahwa aku juga ditawari kesempatan belajar di John Hopkins…Tapi dengan segala pertimbangan, aku memilih Emory karena program kesehatan internasionalnya yang kuat dan link-nya dengan Centers for Disease Control (Pusat pengendalian penyakit). Aku berharap semoga aku bisa mengikuti elektif internasional waktu aku di situ…” jelas Tami.

“Bagaimana dengan nilai ujian MCAT-mu, sudah dapat ?” tanya teman-temannya.

“Oh, aku meminta mereka mengirimkannya padaku di Zambia”…Tami berhenti sejenak, kemudian melanjutkan: “…ini rahasia, kalian tahu…waktu aku terima suratnya, aku begitu gembira karena nilainya jauh lebih baik dari yang aku perkirakan…”

“..tapi memang kamu khan seperti itu, kami tahu kamu selalu mendapatkan nilai terbaik..!”

“..kalian tahu, waktu itu aku melompat-lompat kegirangan…rasanya tidak ada yang lebih menggembirakan dari apa yang aku capai saat itu. Hari berikutnya aku mengikuti ibadah persekutuan perawat. Orang-orang Afrika itu memang tahu dengan baik bagaimana caranya menyembah dan memuji Tuhan…suara mereka yang merdu, irama mereka, dan sukacita ibadah mereka…benar-benar menakjubkan bagiku. Malam itu aku sungguh lebih merasakan kehadiran Tuhan dibanding sebelumnya. Seorang perawat berkhotbah. Itu sebuah khotbah yang sungguh-sungguh penuh urapan…ada tiga orang perawat yang memberi hidup mereka pada Kristus. Hatiku sungguh bersukacita, suatu sukacita yang tidak bisa kugambarkan dengan kata-kata. Sukacita seperti yang aku yakin sama dengan dialami para Malaikat ketika kita berbalik kepada Kristus sebagaimana dikatakan Alkitab…” Tami menutup matanya dan melanjutkan: “…Sukacita karena melihat bagaimana orang lain datang kepada Kristus itu adalah sukacita terbesar di dunia. Jika diperbandingkan, nilai-nilai dan prestasi lainnya yang kita capai akan berlalu dan sama sekali bukan apa-apanya…”

Tami lulus dari Wheaton College dengan predikat Summa Cum Laude. Emory University menawarkan beasiswa padanya berdasarkan “prestasi akademik dan potensi kepemimpinan” sebagaimana yang mereka tulis dalam surat kepadanya.

Tami kuliah kedokteran di Emory dengan disiplin dan komitmen tinggi. Dia belajar dengan sungguh…sangat tekun. Di samping studinya Tami juga memimpin KTB/ Kelompok PA mahasiswa kedokteran, yang dilakukannya sampai dia lulus dari Emory. Dia tertarik melayani mahasiswa dari luar negeri, dan merasa suatu kejutan bahwa kebanyakan mereka adalah mahasiswa dari Cina. Banyak dari ilmuwan Cina ini yang bekerja di Pusat Pengendalian Penyakit sementara yang lainnya mahasiswa S1 dan pasca sarjana. Tak lama berselang orang-orang Cina ini menjadi sahabat-sahabat dekatnya.

Suatu saat salah seorang dari mereka karena melihat Tami selalu membawa Alkitab ke mana-mana, bertanya: “…Tami, kamu seorang ilmuwan…bagaimana bisa kamu percaya Tuhan?” sambil menatap Tami dengan tatapan bingung dan agak sedikit mengejek. Tami mengambil kesempatan itu untuk menceritakan kepadanya mengapa integritas intelektual itu tidak berbenturan dengan Tuhan Pencipta. Dan si ilmuwan Cina ini semakin ingin tahu, katanya: “Kamu tahu..di Cina, agama itu hanya untuk mereka yang tidak berpendidikan, untuk petani-petani, atau untuk kelompok suku-suku. Bagi ilmuwan seperti kami, kami tidak bisa percaya sesuatu yang bukan materi…”

“Ada banyak hal yang perlu dijelaskan…bagaimana kalau Anda ikut international Fellowship hari minggu nanti…? Tami mengundangnya mengikuti ibadah.

Hari minggu itu ada satu keluarga orang Cina yang dibaptis. Mereka mengunjungi para ilmuwan. Para ahli itu merasa tergugah dan heran, mereka berkata: “…Ilmuwan Cina percaya Tuhan??” Rekan Tami itu bukan satu-satunya ilmuwan Cina yang pergi dengan Tami ke ibadah International Fellowship tersebut, masih ada banyak mereka yang lain yang mengikuti ibadah di gereja.

Sejalan dengan waktu , Tami mulai bertanya pada Tuhan apakah DIA yang mendorongnya bekerja dan melayani di antara para ilmuwan Cina ini: “Tuhan, sangat terbukti bagaimana Engkau bekerja di kalangan ilmuwan Cina ini. Bagaimana Engkau akan memakaiku sebagai alat-Mu dalam hal ini?”


==========Bersambung ke GRASPING HEAVEN (4b)

Sumber : diterjemahkan dari:

Annelies & Einar Wilder-Smith, “GRASPING HAEVEN- Tami L. Fisk, A Young Doctor’s Journey to China and Beyond”, Genesis Books, 2010.


Tidak ada komentar:

Copyright 2007, Pelayanan Medis Nasional (PMdN) Perkantas

Jl. Pintu Air Raya 7, Komplek Mitra Pintu Air Blok C-5, Jakarta Pusat
Telp. (021) 3522923, 3442463-4 Fax (021) 3522170
Twitter : @MedisPerkantas
Download Majalah Samaritan Versi Digital : https://issuu.com/samaritanmag