Jumat, 25 November 2011

BELAJAR MENDENGAR

Menjaga Ucapan Kita Adalah Sebuah Kerja Keras

Dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri. (Filipi 2:3)


Komunikasi yang dapat meningkatkan relasi adalah sebuah jalan dua arah yang meminta kita untuk memikirkan orang lain seperti diri kita sendiri.


Di seluruh bagian Kitab Suci kita diperingatkan untuk menjaga ucapan kita: untuk memuji dan mengucap syukur kepada Allah (Mazmur 100:4); untuk menyebut nama Allah dengan oenuh hormat (Keluaran 20:7); untuk bersikap lemah lembut saat mengahadapi amarah (Amsal 15:1); untuk membangun orang lain (Efesus 4:29); untuk menghindari kata-kata kotor dan kasar (Efesus 5:4); untuk mengatakan kebenaran (Keluaran 20:16; 23:1) Yakobus mengatakan bahwa kata-kata kita seperti sebuah kemudi kapal atau sepercik bunga api yang dapat membakar hutan, kata-kata dapat melakukan perkara-perkara yang besar atau menyebabkan kerusakan yang besar (Yakobus 3:2-8).

Salah satu cara penting lainnya agar kita dapat menjaga ucapan kita adalah dengan tetap diam dan mendengarkan orang lain: “Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah..” (Yakobus 1:19). Mendengar sebenarnya adalah ekspresi kasih yang paling kuat, karena mendengar berarti berkata kepada orang lain: “Kamu penting bagiku; ide-ide dan perasaan-perasaanmu penting bagiku; bagikanlah hidupmu kepadaku”

Kita hidup dalam budaya yang ramai, sibuk dan sangat cepat mengikuti zaman. TV, radio, dan bentuk-bentuk hiburan lain memborbardir kita dari pagi hingga malam. Para bintang media dianggap sebagai “kepala-kepala yang berbicara”. Tidaklah mengherankan jika banyak dari antara kita yang merasa tidak didengar dan dihargai. Mungkin tidak ada orang yang mau mendengarkan Anda saat ini, namun Anda dapat menjadi orang yang mau mendengarkan orang lain.

Dalam Filipi 2:4 Paulus berkata kepada kita: “..dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.” Rasio antara seberapa banyak kita mendengar dengan seberapa banyak kita bicara merupakan sebuah barometer yang cukup baik tentang seberapa banyak kita benar-benar memerhatikan kepentingan orang lain.

Apakah hal ini berarti Anda akan dihukum dengan sebuah kehidupan di mana Anda tidak akan pernah membagikan apa yang ada dalam pikiran dan hati Anda? Tentu saja tidak, karena saat kita member maka dengan cara yang sama kita akan menerima kembali lebih banyak; ketika kita memberikan telinga yang mau mendengar maka orang lain akan memberikan hatinya untuk mengenal kita lebih baik.


Sumber: “Soul Matters for Women”





Tidak ada komentar:

Copyright 2007, Pelayanan Medis Nasional (PMdN) Perkantas

Jl. Pintu Air Raya 7, Komplek Mitra Pintu Air Blok C-5, Jakarta Pusat
Telp. (021) 3522923, 3442463-4 Fax (021) 3522170
Twitter : @MedisPerkantas
Download Majalah Samaritan Versi Digital : https://issuu.com/samaritanmag