Selasa, 29 November 2011

Doctors Who Follow Christ (2)

FABIOLA

(wafat 399 M)

Pendiri Rumah Sakit Eropa Barat Pertama

Sebab itu Aku berkata kepadamu : Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih

(Lukas 7:47)

Orang-orang kristenlah yang telah menciptakan rumah-rumah sakit pertama yang berhasil di dunia. Dan Fabiola sendiri merupakan salah satunya yang menciptakan rumah sakit pertama di setengah wilayah barat Kekaisaran Romawi kuno (the western half of the old Roman Empire). Hal ini ditiru oleh banyak negara-negara lain selama abad-abad berikutnya. Kisah Fabiola dan rumah sakitnya menjadi contoh prototipe medical care di awal abad pertengahan.

Menikahi seorang ‘bajingan’ atau bandot (lecher) bagi Fabiola, seorang wanita yang bersuamikan seorang Romawi, merupakan kesialan dalam hidupnya. Seluruh Romawi membicarakan tentang sifat buruk suaminya yang siang malam berada di rumah pelacuran dan pelcehan seksual yang dilakukannya terhadap para pembantu wanitanya. Tingkah laku suaminya ini sangat mempermalukan Fabiola. Dia bergumul menghindarkan diri dari ciuman suaminya yang telah terkontaminasi dengan kebejatannya tersebut. Kekelaman moral suaminya yang menurun sampai pada kebejatan ini bagaikan imbangan berat timbangan yang membebani sebuah panci di sisi yang satu dan melemparkan Fabiola pada sisi yang lain bagaikan sebuah botol parfum yang ramping tidak tertutup, mengharumkan dalam tahun-tahun hidupnya yang dirusak.

Di bawah hukum Romawi, seorang wanita bisa menceraikan suaminya. Fabiola memanfaatkan hak sipil ini dan memisahkan dirinya dari suaminya yang bengis dan mengerikan dengan sifat buruknya tersebut. Ia menikah sekali lagi untuk melindungi dirinya. Hal ini bukanlah keputusan yang mudah. Dia harus menjadi seorang kristen pada usia dua puluh tahun dan menyadari bahwa dengan menikah lagi dia akan dikucilkan dari gereja, yang menganggap pernikahan kembali sebagai perzinahan jika mantan suaminya masih hidup.

Suami kedua Fabiola meninggal secara mendadak. Fabiola menggunakan kesempatan ini untuk berdamai dengan gereja, setelah merasa yakin bahwa ia telah sangat berdosa dengan melibatkan dirinya kepada suami keduanya ini, sementara suaminya yang pertama, yang tidak bermoral masih hidup. Singkatnya sebelum paskah (tepatnya tahun berapa tidak diketahui), diantara para pendosa lain yang sama menyesalnya dengan dia, ia menghadap kepada Paus Siricius di Lateran Basilica dan dipulihkan statusnya untuk kembali ke dalam komuni. Ia mendeterminasikan dirinya untuk menjalani suatu kehidupan yang menunjukkan kepada sesamanya bahwa kepedihannya karena pernikahan keduanya benar-benar sangat dalam dan nyata.

Sebagi seorang putri dari Fabian, sebuah keluarga Romawi yang terkenal dengan keberanian mereka dalam bidang militer, Fabiola bukanlah seorang yang miskin. Ia segera menaati perintah Kristus untuk mengubah kekayaan duniawinya menjadi harta surgawi. Ia mendandani dirinya dengan pakaian dan dandanan seorang budak, menjual tanah miliknya dan menyumbangkan hasil penjualannya untuk biara-biara dan kaum miskin. Ia mendirikan sebuah rumah sakit untuk mereka yang sakit, mengayomi mereka dengan tangannya sendiri dan bahkan mungkin mengadakan operasi-operasi kecil yang sederhana. Ia terkenal dengan perannya dalam membantu mengembangkan pengobatan barat yang ideal . Meskipun Basil sudah mendirikan rumah-rumah sakit di wilayah Timur, namun rumah sakit yang didirikan Fabiola merupakan rumah sakit umum kristen pertama di wilayah barat yang kita ketahui.

Kita mengetahui hal ini dari Jerome yang merupakan salah seorang penerima sumbangan Fabiola dan yang tidak pernah lupa kedermawanannya tersebut. Jerome menulis sebuah surat elegi kepada teman dan saudaranya Oceanus tentang kematian Fabiola, ia tidak hanya membenarkan tentang pernikahan Fabiola yang kedua kalinya tetapi juga menguraikan secara ringkas riwayat hidup Fabiola. Jerome kemudian tinggal di Betlehem, dimana berdasarkan permintaan dari Paus Damasus ia menterjemahkan Kitab Suci ke dalam bahasa Latin, menterjemahkan Injil dalam bahasa Latin (Vulgate), Alkitab abad pertengahan. Para ahli menggambarkan pekerjaan Fabiola sebagai berikut :

Mula-mula ia mendirikan sebuah balai pengobatan (infimary=rumah pengobatan) dan mengumpulkan di dalamnya mereka-mereka yang menderita sakit dari jalanan serta memberikan bagi tubuh-tubuh kaum miskin yang letih dengan berbagai sakit penyakit dan kelaparan ini segala bentuk perawatan dan pengobatan…Betapa sering ia memikul mereka yang miskin dan tersiksa oleh sakit epilepsy, di bahunya sendiri ! Betapa seringnya ia sendiri membersihkan kotoran dari luka-luka yang bahkan orang lain tak sanggup untuk melihatnya ! Ia memberi makan dengan tangannya sendiri, bahkan diteteskannya air ke bibir seorang pria yang sekarat …Roma tidak cukup luas bagi segala kebaikannya yang penuh belas kasihan seperti ini. Ia pergi dari pulau ke pulau dan mengadakan perjalanan berkeliling Laut Etruscan, dan melalui propinsi Volscian dengan teluk melengkungnya yang kesepian, dimana para biarawan tinggal, ia melimpahinya dengan hadiahnya baik kepada pribadi maupun lembaga atau kumpulan orang-orang kudus.

Fabiola adalah seorang dengan watak gelisah. Tanpa diduga-duga, di tahun 395 ia mengadakan perjalanan ke Timur Tengah ditemani oleh saudaranya Oceanus mengunjngi Jerome. Dengan sangat lapar ia “melahap” isi Kitab Suci dan “meminum” penjelasan Jerome tentang isi Kitab Suci tersebut, sebagaimana yang dialami dan dilakukan beberapa wanita terkemuka lain sebelum dia. Fabiola cepat belajar dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang cukup sulit bagi Jerome untuk menjawabnya. Atas permintaan Fabiola, Jerome mempersiapkan dua penelitian Alkitabiah (two works of biblical scholarship), satu mengenai simbolisme jubah imam Harun dan satunya lagi mengenai 40 tempat titik perhentian dalam lintasan perjalanan bangsa Israel melalui padang gurun yang tercatat dalam Kitab Keluaran. Meskipun ia kecewa dengan pertengkaran para teolog yang terpelajar, ia menghormati Jerome dan mengikuti nasihatnya selama tahun-tahun terakhirnya.

Suatu serbuan kaum Hun ke Timur Tengah menyebabkan dia harus kembali ke Roma. Di Porto, bekerja sama dengan Pammachius ia mendirikan sebuah penginapan untuk para musafir dan mereka yang sakit. Selama 3 tahun ia bekerja di tempat pengungsian yang terkenal sampai jauh ke Inggris ini. Para pelaut atau pengembara yang tidak mempunyai tempat tinggal bisa memperoleh bantuan atau pertolongan di tempat ini sebelum melanjutkan perjalanannya.

Ia wafat pada usia yang masih terlalu muda. Kebejatan moral suaminya telah mendorongnya ke dalam suatu kehidupan amal. Keharumannya masih tetap hidup. Kematiannya, kata Jerome,..”membawa seluruh penduduk kota (Roma) menghadiri pemakamannya…Dia yang mengampuni lebih banyak..akan lebih banyak juga dicintai..” (to whom more is forgiven, the same loveth more).

Sumber:

Diterjemahkan dari buku "Doctors Who Follow Christ, Thirty-two Biographies of Eminent Physiciand & Their Christian Faith (Dan Graves, Grand Rapids-USA: Kregel Publications,1999)

Tidak ada komentar:

Copyright 2007, Pelayanan Medis Nasional (PMdN) Perkantas

Jl. Pintu Air Raya 7, Komplek Mitra Pintu Air Blok C-5, Jakarta Pusat
Telp. (021) 3522923, 3442463-4 Fax (021) 3522170
Twitter : @MedisPerkantas
Download Majalah Samaritan Versi Digital : https://issuu.com/samaritanmag