Rabu, 04 Januari 2012

Jerih Payahmu Tidak Sia-Sia

Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.” (1 Kor. 15: 58)

Kata “tidak sia-sia” dalam bahasa Yunani dipakai kata Κενός (kenos). Dalam Strong’s Greek Dictionary kata ini berarti: “empty= kosong (literally or figuratively) atau (in) vain (tidak sia-sia).” Di Perjanjian Lama, khususnya di kitab Pengkotbah memakai kata hebel hăbêl yang artinya mirip dengan kata kenos : emptiness (kekosongan) atau vanity (kesia-siaan).

Kesia-siaan merupakan hal paling kita tidak sukai bahkan takuti. Kalau bisa kita ingin melakukan sesuatu yang tidak sia-sia. Namun yang ajaib, banyak orang yang sekalipun menyadari bahwa mereka telah hidup secara sia-sia tapi tetap melakukannya. Kenapa? Karena itu memberi mereka kesenangan bahkan kenikmatan tersendiri. Misal: Orang-orang yang kerjanya tiap hari hanya nonton TV/DVD, anak-anak yang tiap hari main games computer, orang-orang yang tiap hari cuma mancing ikan namun tidak serius jadi nelayan.

Sebagian lagi tidak menyadari bahwa apa yang mereka lakukan adalah kesia-siaan. Bisa ketidaksadaran yang naïf, misal: perancang mainan anak-anak atau asessoris karena ada puluhan bahkan ratusan produk mainan anak-anak atau asessoris yang tidak penting. Banyak rasa butuh yang ada dalam diri manusia itu bukan sejatinya dibutuhkan tapi sengaja diciptakan oleh para produsen agar produk mereka bisa dijual. Misal bagi saya produk apple yang salah satu tokohnya baru meninggal itu, tidaklah kita butuhkan. Sebab tanpa ipod, iphone ataupun ipad kita tetap bisa hidup, kerja dan berkarya. Tapi apple berusaha meyakinkan anda bahwa anda membutuhkan produk mereka. Yang mereka jual bukan lagi sekedar kebutuhan akan fungsi gadget mereka tapi gengsi dan ‘kebahagiaan’ semu tentunya. Hampir semua produsen melakukan hal yang sama. Jadi kita perlu hati-hati dalam membeli. Kita harus membeli fungsi bukan gengsi atau rasa senang memilikinya yang biasanya bersifat sesaat.

Yang Alkitab sadarkan kepada kita adalah kesia-siaan yang banyak orang tidak sadari secara serius. Misal di kitab Pengkotbah dibukakan kesadaran akan kesia-siaan segala bentuk kesenangan, pengetahuan dan hikmat serta kesia-siaan akan kekayaan. Tentu hal ini sulit dipahami sepenuhnya, karena bukankah kebanyakan kita akan berpikir apalah artinya jika kita hidup tanpa kesenangan? Bukankah pengetahuan dan hikmat kunci kesuksesan dan kebahagiaan? Saya mendukung pikiran itu. Bukankah tanpa kekayaan kita sulit membantu orang yang membutuhkan. Bahkan banyak yang berceloteh sambil mencemooh bahwa bukankah gereja dan pekerjaan Tuhan juga membutuhkan uang. Kalau tidak para pendeta makan dari mana? Siapa yang akan bayar listrik gedung gereja? Atau bagaimana rencana pengembangan gedung gereja bisa terlaksana? Sekali lagi saya juga menyetujui hal ini.

Alkitab tidak mengajarkan kita bahwa tidak penting kesenangan, bahkan di kitab Pengkotbah kita dinasihatkan untuk menikmati jerih lelah kita dengan bersenang-senang. Penulis Pengkotbah juga menasihati kita untuk mencari pengetahuan dan hikmat (khususnya di kitab Amsal). Ia juga tidak anti kekayaan, bahkan di kitab Amsal merupakan berkat jika kita beroleh kekayaan dan kehormatan. Namun ia mengatakan bahwa semua itu akan menjadi kesia-siaan jika kita hanya hidup untuk mencari itu. Memang jika anda bisa hidup senang dan bahagia di dunia ini, bahkan bisa memiliki banyak pengetahuan dan hikmat serta kekayaan yang bisa dibagikan kepada sesama yang membutuhkan, alangkah baiknya. Namun jika anda tidak punya relasi dengan Tuhan, dan tidak melakukan kehendak Tuhan maka semua itu akan menjadi sia-sia. Menjadi kosong (empty) atau tidak berarti.

Sebaliknya, jika kita memiliki persekutuan dengan Tuhan dan hidup seturut kehendak Tuhan, maka segala jerih payah kita tidak akan sia-sia. Ciri hidup yang seturut kehendak-Nya yaitu kita tidak hanya gunakan waktu kita untuk bekerja tapi untuk melayani, dan kita tidak hanya menggunakan uang kita untuk keperluan sendiri atau keluarga, tapi kita sisihkan perpuluhan dan persembahan untuk mendukung pekerjaan Tuhan di gereja/lembaga pelayanan, dan untuk membantu sesama yang membutuhkan.

Karena itu, bagi rekan-rekan yang telah mendukung pelayanan PMdN secara setia, kami percaya pemberian anda tidak akan sia-sia. Teruslah kita gunakan waktu, kesempatan, tenaga, pikiran dan uang kita bukan untuk hal-hal yang sia-sia, tapi marilah kita berdiri teguh dan selalu giat dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kita tahu dalam persekutuan dengan Tuhan segala jerih payah kita tidak akan sia-sia! Tapi akan sangat bermakna. Amin.

Oleh,

Ir. Tadius S. Gunadi

Tidak ada komentar:

Copyright 2007, Pelayanan Medis Nasional (PMdN) Perkantas

Jl. Pintu Air Raya 7, Komplek Mitra Pintu Air Blok C-5, Jakarta Pusat
Telp. (021) 3522923, 3442463-4 Fax (021) 3522170
Twitter : @MedisPerkantas
Download Majalah Samaritan Versi Digital : https://issuu.com/samaritanmag