Rabu, 10 Desember 2014

Tetap Beriman dan Komitmen

Dunia kerja - bagi sebagian besar alumni baru - tidak terkecuali bagi para dokter-dokter baru, sah jika dibayangkan sebagai tempat yang penuh godaan dan tantangan, yang jika tidak kuat beriman dapat tergelincir ke dunia rawa paya. kenyataannya memang demikian. dunia kerja, sebagaimana dunia yang kita diami saat ini, banyak menawarkan dan menyajikan segalanya yang menguji iman.

Dokter Yusak Mangara Tua Siahaan, Sp. S, yang dikenal dengan panggilan Yusak, sudah menyaksikan perbedaan saat ia ber-PTT. Suasana dan kondisi waktu mahasiswa sangat berbeda dengan dunia kerja, katanya, sewaktu mahasiswa ia tinggal dalam lingkungan "rohani". Selain di kampus, ia juga bertemu teman-teman di persekutuan. "Kalau ada masalah teman-teman pasti ada yang nolong.Namun sejak PTT enggak bisa. Mesti ngurus sendiri. , "kenang alumnus FK Trisakti ini yang menyampaikannya pada Luther Kembaren dari Samaritan. 

Ia merasa sebagai single fighter ber-PTT di kabupaten Sintang, Kalimantan Barat. Pemahamannya tentang kekudusan dan kebenaran berbeda dengan lingkungannya. Di saat itulah ia diuji. Salah satu contoh yang disampaikan bapak 2 anak ini adalah soal pengelolaan keuangan yang tidak beres di puskesmas. sewaktu di puskesmas, uang luar biasa banyak, katanya. Bahkan bantuan Jaringan Pengaman Sosial masuk ke nomor rekening dokter. 

Menurut dokter yang mengambil spesialis di FK Undip, Semarang ini, memang itu merupakan kesempatan mencari uang sebanyak-banyaknya. Apalagi jika mengingat waktu kuliah sudah mengeluarkan yang banyak. Tapi, Yusak memilih tetap mempertahankan idealismenya. Ia bisa seperti itu, kata neurologist di RS Siloam Gleneagles ini, karena bekal pembinaan yang didapatnya sejak mahasiswa. Hubungannya dekat dengan Tuhan, maka ia mampu bertahan, tidak ikut arus. 

Pengalaman lain yang berkesan bagi Yusak semasa ia PTT adalah ketika ia difitnah mengambil uang. Seluruh pekerja di Puskesmas menganggapnya makan uang. Ia tidak membela diri, ia hanya menjelaskan duduk persoalan yang sebenarnya. "Kalau saya mampu menahan fitnah, itu semata karena Tuhan," ungkapnya.

Masalah uang juga jadi tantangan tersendiri bagi dokter Karuniawan Parwantono, SpBO, ahli bedah orthopedik di RS PGI Cikini. Waktu itu ia PTT di Pulau Seram, Maluku Tengah. Ada dari Direktorat Kesehatan melakukan inspeksi ke Puskesmasnya. Mereka melakukan audit. "Tapi saya tidak memberikan uang sepeserpun," tukasnya. Karena itu laporan dibuat kacau oleh mereka. Ia pun dipanggil Kakanwil. Ia menjelaskan semuanya dan kemudian dicek. "Terbukti tidak ada kecurangan. Sempat kesal juga dipermainkan seperti itu," sambungnya terus terang pada Luther dari Samaritan. Bagi ayah empat anak ini, meminimalkan konflik bukan berarti kompromi.

Bukan itu saja pengalaman ber-PTT yang dirasanya sebagai tantangan, tapi juga bagaimana mesti bisa menerima program yang tidak jalan, bahkan mengalami ketidakcocokan padahal ia ingin menerapkan program Depkes. "Banyak memang pengalaman yang saya dapatkan di sana. Saya pernah mendoakan seorang ibu yang kesurupan. Waktu itu saya ingat hanya cerita di Alkitab, bagaimana Yesus menyembuhkan. Saya melakukan, dan ibu itu sembuh," ceritanya.

Kalau ia bisa menerima semua pengalaman itu dengan tetap memiliki idealisme, kata Kurniawan, itu karena nilai-nilai kebenaran yang didapatnya sewaktu ikut persekutuan semasa ia mahasiswa di FK-UI. Sejak mahasiswa ia mengaku, selalu mengandalkan Tuhan, meskipun teman-temannya banyak mengandalkan kemampuannya sendiri. Persekutuannya dengan Tuhan itulah yang dirasanya menjadi bekal ketika ia harus ber-PTT di tempat yang terpencil.

Memegang Prinsip
Bahwa bekal pembinaan semasa mahasiswa menjadi semacam obat agar tidak tergelincir dalam tantangan iman, bukan hanya berlaku kala seorang dokter ber-PTT. Karena ujian iman akan terus berlangsung. Juga saat tengah mengambil spesialis. Ini yang dirasakan Yusak. Saat menempuh ujian banyak rekan-rekannya yang menjiplak literatur penelitian. "Kadang senior punya kebiasaan jelek. Kalau punya nilai-nilai bagus, dicibir. Saya bisa memahami hal ini, itu mereka lakukan bukan karena membenci hanya karena mereka tertinggal saja." ia mencoba arif.


Dengan menjadi dokter , tantangan iman dalam bentuk lain akan muncul. Yusak bercerita kalau ia pernah didatangi pasien untuk menggugurkan kandungan sambil menangis. Perempuan itu masih muda, ia datang dengan lelaki paruh baya. Mereka mengaku paman dan keponakan.  Menurut kedua orang itu, mereka akan dibunuh kalau orangtuanya tahu bahwa anaknya hamil. "Jadi mereka minta saya menggugurkan kandungan perempuan itu. Saya sempat bingung. Mereka juga menawarkan duit yang banyak. Lantas saya bilang dari segi etika Kristen tidak diperbolehkan menggugurkan kandungan dan dari segi medis juga dilarang!" tegasnya menolak.

Memasuki dunia kerja diakui Yusak modalnya hanya iman dan komitmen. Di kalangan teman seprofesi yang tidak seiman iapun kadang mengalami beda pendapat. Tapi ia tetap memegang prinsip. Prinsip yang dipegannya adalah, dokter harus mau terjun ke lapangan agar dihargai masyarakat. Dokter harus bisa mencerminkan teladan. "Di daerah PTT, dokter lebih cepat didengar dari pendeta," pendapatnya lagi.

Memegang prinsip juga terdengar dari lontaran pendapat Karuniawan. Baginya profesinya sebagai dokter hanyalah alat. "Upayakan melalui kesembuhan seseorang dapat mengenal Dia," tegasnya. Jangan sampai kita mencuri kemuliaan-Nya. Di samping itu, masih katanya. Kita harus percaya kehidupan ini dipelihara oleh uhan. Itu diamininya makanya ia tidak takut pada masa depannya termasuk keluarganya, sebab Tuhan yang urus. "Tuhan lebih pintar dari kita!", tandasnya.


Dikutip dari :
Majalah Samaritan Edisi No. 4 Tahun 2003

Tidak ada komentar:

Copyright 2007, Pelayanan Medis Nasional (PMdN) Perkantas

Jl. Pintu Air Raya 7, Komplek Mitra Pintu Air Blok C-5, Jakarta Pusat
Telp. (021) 3522923, 3442463-4 Fax (021) 3522170
Twitter : @MedisPerkantas
Download Majalah Samaritan Versi Digital : https://issuu.com/samaritanmag