Senin, 30 Maret 2015

Penyaliban

Ketika mereka sampai di tempat yang bernama tengkorak, mereka menyalibkan Yesus di situ.
(Lukas 23 : 23)

Penyaliban, suatu jenis hukuman yang paling kejam, dirancang oleh orang Phoenicia. Ironisnya, bentuk penghukuman itu berasal dari agama mereka. Sebagai penyembah bumi, mereka tidak ingin mencemarkannya dengan darah orang jahat. Penyaliban sangat cocok dengan kepercayaan mereka. Pelaksanaan hukuman ini sangat mengerikan bahkan bila ditinjau dari sudut klinis yang tak berperasaan sekalipun.

Rasa sakit mulai terasa sejak permulaan. Paku dihunjamkan melalui telapak tangan atau pergelangan tangan. Apabila tiang salib dinaikkan atau diturunkan ke dalam lubang, maka tulang pundak pun terlepas. Setiap gerakan untuk menopang berat tubuhmengakibatkan tekanan pada kedua kaki. Kematian biasanya disebabkan karena shock atau kelelahan. Pengurangan volume sirkulasi darah diakibatkan oleh tidak adanya cairan, akibat dari posisi tegak, rasa sakit dan pendarahan serta luka bekas cambukan. Keadaan ini dibuktikan dengan seruan :"Aku haus." Tindakan terakhir ialah mematahkan kedua tulang lutut yang menyebabkan terhentinya kehilangan cairan dari sirkulasi darah. Jika ini tidak dilakukan, terjadi kelelahan yang luar biasa. Kematian datang dengan perlahan mungkin dalam tiga atau empat hari.

Kematian Tuhan Yesus merupakan ciri-ciri khusus. Apa yang terjadi di taman Getsemani menunjukkan adanya penderitaan mental dan spiritual yang sangat hebat. Di atas kayu salib, Dia masih sempat berkata-kata. Akhirnya Ia berseru dengan nyaring, menundukkan kepala dan menyerahkan nyawa-Nya. Semua itu terjadi dengan tiba-tiba. Sampai saat terakhir Yesus masih dapat menguasai diri. Kejadian seperti ini sangat tidak lazim dalam proses penyaliban.

Kemudian ada bukti bahwa Yesus sudah mati. Seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air (Yoh 19 : 34). Yohanes tahu bahwa semua ini benar, ia menulisnya supaya orang lain percaya. Semua itu merupakan bukti kematian, bahkan jika dilihat dari kejauhan sekalipun, tetapi sebenarnya hal itu mempunyai arti yang lebih dalam.

Apa arti air dan darah? Kumpulan darah yang tersumbat kemudian dipisahkan menjadi serum dan sel darah akan tampak seperti darah dan air. Jika tampak dalam jumlah banyak, menunjukkan adanya kemungkinan pengumpulan darah dalam rongga perikardial atau pleura. Darah dalam rongga pleura tidak akan terpecah seperti ini, tetapi darah perikardial akan terpecah dengan cepat setelah kematian. Berdasarkan gambaran Yohanes, kemungkinan besar terjadi tamponade dan ini cocok dengan keadaan ruptur miokardial.

Dalam studi patologi, segala detail kejadian itu sungguh menarik. Jika kita renungkan apa hubungannya dengan arti terdalam dari kematian Tuhan kita Yesus Kristus? Sebuah mazmur yang seakan-akan sudah meramalkan penderitaan di Kalvari itu berbunyi : "Cela itu telah mematahkan hatiku." (Mzm 69 : 21) Baru-baru ini, seorang penulis lagu menulis : "Dia mati karena patahhati." Mungkin menggunakan metafora di sini perlu dipertanyakan karena mencampuradukkan faktor fisik dan emosi. Tetapi bagaimanapun juga, artinya mengena.

Untuk merenungkan salib-Mu, ya Tuhan, berarti menapak di atas tanah yang suci dan menggentarkan. Semua itu Kaulakukan untukku. Apa yang telah kulakukan untuk-Mu?

Dikutip dari :
Diagnose Firman

Tidak ada komentar:

Copyright 2007, Pelayanan Medis Nasional (PMdN) Perkantas

Jl. Pintu Air Raya 7, Komplek Mitra Pintu Air Blok C-5, Jakarta Pusat
Telp. (021) 3522923, 3442463-4 Fax (021) 3522170
Twitter : @MedisPerkantas
Download Majalah Samaritan Versi Digital : https://issuu.com/samaritanmag