Senin, 15 Juni 2015

Edward Jenner, Sang Penakluk Penyakit Cacar

"Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia.." (Yakobus 1 : 27)

Jika padaku ditanyakan apa akan kusampaikan dalam dunia yang penuh dengan cobaan. Aku bersaksi dengan kata, tapi juga dengan karya menyampaikan kasih Allah yang sejati”. Syair lagu yang dimuat dalam Kidung Jemaat 432 ini mengingatkan tentang hal yang sesungguhnya harus Kristen lakukan, yaitu menjadi pendengar sekaligus pelaku firman Tuhan. Yakobus memberi penjelasan penting lainnya tentang arti berbahagia yang sesungguhnya. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa tidak semua Kristen "berbahagia" mendengar penjelasan ini. Ketidakbahagiaan ini lebih disebabkan oleh sikap penolakan diri untuk menjadi pelaku firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Penolakan ini bukan disebabkan oleh ketidakmampuan melakukan tetapi karena ketidakmauan! Orang-orang yang seperti ini lebih senang menuruti kehendak hati dan kebenaran dalam persepsi diri sendiri daripada menuruti kehendak dan kebenaran Allah.

Edward Jenner, siapa yang tidak mengenalnya? Edward Jenner adalah sang penakluk penyakit cacar. Penyakit cacar merupakan teror dan momok daratan Eropa. Beribu-ribu manusia meninggal setiap tahunnya karena penyakit ini. Sedang yang lain mencari perlindungan dengan cara sengaja minta disuntik dengan virus cacar yang masih hidup. Tehnik ini sudah lama dipergunakan sejak zaman kekaisaran Ottoman (Kerajaan Turki) dan dibawa ke Inggris, yang mana hal itu berhasil dengan baik di tangan para dokter seperti Thomas Dimsdale (yang bahkan menyuntik "Cathrine Agung" dari Rusia), namun kurang berhasil di tangan dokter-dokter lainnya. Harapannya adalah mereka yang tidak terlindung dari virus akan menderita kasus ringan, tetapi tentu saja, beberapa menderita kasus yang berat dan sedikit yang meninggal karena treatment ini. Bahkan jika seseorang yang sudah disuntik tidak menderita penyakit ini, maka siapa saja yang berada dekatnya selama periode waktu yang cukup lama berisiko terkena infeksi yang serius. Penyembuhan itu sama sekali tidak memuaskan.

Suatu waktu, Edward Jenner dibawa dari rumahnya ke suatu tempat (semacam kurungan) untuk mendapatkan vaksinasi. Di tempat ini ia mengalami pendarahan dan tidak diberi makan (puasa) untuk operasi, pengobatan dan diikat untuk mencegahnya agar melarikan diri. Ia menjadi sangat sakit dan kondisinya merosot. Seorang anak yang dulunya kuat dan sehat menjadi sakit dan sangat lemah. Selama bertahun-tahun ia mendengar suara-suara. Ia dikirim ke sebuah sekolah kecil selama masa penyembuhannya, tetapi ia juga sangat lemah sehingga kakaknya, Stephen membawanya pulang ke rumah. Orang tua mereka sudah meninggal dalam hitungan minggu selama masa itu, ketika Edward berusia 5 tahun sehingga Stephen menjadi pelindungnya.

Pengalaman divaksinasi mungkin membekas dalam diri Jenner muda ini. Bagaimanapun juga hal itulah justru memacu dirinya untuk tertarik lebih dari biasanya pada tanda-tanda yang pada akhirnya menuntunnya dalam mengembangkan vaksin cacar sapi, sebuah vaksin yang akhirnya menghapus penyakit cacar dimana saja di bumi kecuali laboratorium.

Setelah ia sembuh, Jenner dikirim belajar untuk melayani. Walaupun ayahnya seorang Pendeta tetapi ia tidak menunjukkan minat sama sekali untuk pelayanan mimbar. Sebaliknya ia justru mati-matian ingin menjadi seorang naturalis. Memang ia mengkoleksi banyak spesimen dan mengikuti kursus yang mengajari sistem klasifikasi dari seorang naturalis kenamaan asal Swedia, Carl Linnaeus (1707-1778). Usia 13 tahun Jenner magang pada dokter ahli bedah, John Ludlow. Meskipun kondisi kesehatannya masih belum pulih, Jenner bekerja keras dan membantu pembedahan. Setelah masa magangnya selesai, Jenner pindah ke London dimana ia berguru pada Dr. John Hunter yang terkenal. Hunter adalah seorang pria agresif yang kurang peduli pada kaidah atau aturan. Jenner gemar dengan orang yang tempramental ini dan dictumnya : "kebenaran..kebenaran..kebenaran! Sebaliknya Hunter mempercayai Jenner. Hanya Hunter kurang terkenal karena membayar seorang "resurrectionists" (pembangkit manusia) untuk merampok kuburan demi mendapatkan mayat-mayat. Jenner belajar anatomi dengan mempelajari tubuh-tubuh curian ini. Jenner mengganti kegiatannya. Ia menyusun katalog specimen untuk Joseph Bank, ahli botaninya Kapten Cook. Pekerjaan yang biasa dikerjakan selama 6 bulan, tetapi oleh Jenner diselesaikan dalam waktu 2 bulan. Merasa terkesan Cook menawarkan jabatan di kapalnya tetapi Jenner menolak termasuk tawaran Hunter untuk bekerja sama juga ditolak karena ia ingin kembali ke pedesaan.

Berbagai penelitian dilakukan oleh Jenner dan berbagai tantangan harus dihadapinya. Salah satu  penelitiannya mengenai tingkah laku/kebiasaan cuckoo (burung elang malam). Hasil penelitian ini menghadapi sejumlah penentang. Tingkah laku yang digambarkannya kelihatan terlalu aneh dimana ia membuktikan bahwa burung cuckoo mempunyai kebiasaan meletakkan telur-telur mereka di sarang burung lain. Namun, Royal Society berhasil diyakinkannya dan menjadikannya anggota. Di waktu tertentu, Jenner belajar dari milkmaids bahwa mereka yang terkena cacar sapi imun terhadap cacar. Ia melakukan penelitian selama 20 tahun kemudian, sementara ia sendiri juga mengimplementasikan ide-ide baru dalam pengobatannya terhadap cacar. Ia menghentikan pendarahan para pasien cacar dan memberikan tubuh mereka suatu kesempatan yang lebih baik untuk sembuh dari penyakit. Ia menyuntik tangan-tangan petani untuk menerima vaksinasi cacar sapi, dan ternyata tidak seorang pun yang terkena cacar.

Yakin apa yang ditemukannya ini, Jenner menguji idenya ini dengan cara menjangkitkan seorang anak suruhan bernama Phipps dengan cacar sapi. Dua bulan kemudian ia menyuntik anak ini dengan virus cacar yang masih hidup. Rumahnya dikerumuni orang banyak. Para pesuruh bersumpah, jika sampai si anak meninggal maka Jenner akan dihukum gantung sebagai pembunuh. Terbukti si anak imun. Setidaknya Jenner telah memiliki bukti positif. Namun setelah itu sebuah selebaran yang mencelanya dipublikasikan. Situasi dalam komunitas medis juga tidak mendukungnya. Para dokter mencaci dan mencemooh Jenner dan memperlakukannya dengan mengusirnya dari perkumpulan mereka. Bahkan jurnal kedokteran menolak menerbitkan hasil penemuannya ini.

Jenner tidak dapat dipengaruhi situasi ini. Yakin akan keberhasilannya yang pertama, ia mulai bekerja sendiri dalam mempromosikan idenya. Ia bisa melihat bahwa jika sautu hal bisa berguna bagi sesame manusia maka pertimbangan-pertimbangan pribadi harus dikesampingkan. Akibatnya ia menderita secara finansial. Uangnya habis untuk membiayai penelitian-penelitiannya yang tiada putus-putusnya. Sementara ia mendapatkan sedikit pemasukan, karena serangan-serangan dari dunia medis tentang dirinya, dan para pasien menjadi jarang yang mau berobat kepadanya. Pada akhirnya tentu saja, ia mendapatkan banyak penghargaan. Satu per satu, para dokter berpikiran terbuka membaca bukunya dan mengadakan uji lebih lanjut. Dan ia dikenal sebagai Bapak Ilmu Virology dan Pengobatan Preventif.


Sebagai ucapan terima kasih atas karyanya, Parlemen memberi sebagai hadiah untuknya yang senilai 10.000 poundsterling. Dengan kepribadiannya yang tidak hanya memikirkan diri sendiri, ia menggunakan uang untuk menolong para dokter yang membutuhkan. Kehidupan Jenner bukanlah sebuah kehidupan yang mudah. Sebagai tambahan atas masa kecilnya yang penuh penderitaan, kehilangan istri dan anak sulungnya dan penganiayaan yang dialaminya dari dunia profesinya, ia terjangkit penyakit tifus yang tertular dari seorang pasien dan hampir mati. Di lain waktu ia hampir mati beku saat ia mengunjungi pasien yang sakit. Hari sebelum kematiannya ia berjalan ke kota untuk membeli kayu bakar untuk orang miskin dengan uangnya sendiri. Dengan perhatian dan kepeduliannya terhadap kaum miskin ia menyatakan dirinya sebagai seorang Kristen sejati. Dalam tulisannya ia meminta Kristus agar mau menerima jiwanya yang kekal. Nama dan karyanya akan diingat selama dunia mengingat kedermawaannya. Bagaimana dengan kita yang mengaku seorang dokter Kristen? Sudahkah kita menjadi pelaku Firman yang sejati?


Disadur dari Majalah Samaritan 
Edisi Keempat Tahun 2008

Tidak ada komentar:

Copyright 2007, Pelayanan Medis Nasional (PMdN) Perkantas

Jl. Pintu Air Raya 7, Komplek Mitra Pintu Air Blok C-5, Jakarta Pusat
Telp. (021) 3522923, 3442463-4 Fax (021) 3522170
Twitter : @MedisPerkantas
Download Majalah Samaritan Versi Digital : https://issuu.com/samaritanmag