Kamis, 04 Juni 2015

Kekuatan dari Kelembutan Hati


Dalam suatu tempat kerja yang sangat kompetitif, suatu keterampilan manajemen yang krusial adalah kemampuan untuk menyelesaikan segala sesuatu. Apakah akan dipandang sebagai kelemahan jika anda tidak mampu memaksakan agenda anda sendiri atau memaksakan orang lain percaya dengan agenda anda, terutama jika agenda itu selaras dengan nilai-nilai Allah dan keinginan tinggi korporasi? Namun jika bertindak demikian apakah itu artinya roh kelemahlembutan tidak mempunyai tempat di tempat kerja?Di tempat kerja masa kini yang hiper kompetitif mungkin tidak ada. Namun, justru dalam dunia bisnis yang bagaikan laut yang penuh ikan hiu inilah kualitas ilahi kelemahlembutan yang paling dibutuhkan.


Dalam bahasa Yunani, kelemahlembutan atau kesabaran disebut praytes, yang menggambarkan seekor hewan kuat yang telah belajar menerima disiplin, seperti hewan kuat yang telah belajar menerima disiplin, seperti seekor kuda yang sudah dipasangi kekang, yang menghasilkan kecepatan dan kekuatan besar menurut suruhan orang yang mengekangnya atau seekor anjing yang galak terhadap orang asing, tetapi ramah kepada anak-anak tuannya. Alkitab menggambarkan orang yang lemah lembut sebagai orang yang pembawaan tenang tetapi tegasnya dalam berurusan dengan orang lain mencerminkan kesediaan untuk menyerahkan keinginan dan pembawaannya kepada Allah. Musa adalah salah satu teladan dan disebut "sangat lembut hatinya, lebih dari setiap manusia yang di atas muka bumi" (Bil 12:3), justru karena ia mengizinkan Yahweh untuk menuntun setiap langkahnya. Yesus, yang menggambarkan diriNya sebagai "lemah lembut dan rendah hati". kemudian Paulus mengidentifikasi roh yang lemah lembut sebagai suatu atribut kunci untuk menolong para pemimpin Kristen tumbuh dengan baik dalam situasi lingkungan yang bermusuhan.

Dengan demikian, kelemahlembutan dan kesabaran adalah atribut-atribut yang sangat dihargai dalam spiritualitas Kristen. Ia berfungsi sebagai kemudi kapal bagi kapal penarik yang berkekuatan 3000 tenaga kuda yang menjelajahi sungai. Seseorang yang lemah lembut adalah individu yang memiliki kuasa yang besar, yang telah mengekang kekuatannya demi kebaikan orang yang lebih lemah. Orang yang lemah lembut akan menolak untuk memaksakan kehendaknya kepada kehendak orang lain., berupaya bergerak menurut kecepatan kesiapan orang lain untuk membuat perubahan atau merengkuh suatu tujuan.

Saat anda merefleksikan kehidupan bekerja anda, pikiran pertanyaan-pertanyaan di bawah ini sebagai indikator-indikator pekerjaan Roh Kudus yang lembut dalam hidup anda di tempat kerja :

  • Apakah anda mengizinkan bawahan utk membuat kesalahan, dan saat mereka melakukannya, apakah anda memperlakukan mereka dengan tegas tetapi dengan cara yg berbelas-kasihan?
  • Apakah anda menunjukkan rasa hormat yang sama dalam cara anda berbicara kepada sekretaris maupun kepada pegawai di ruang makan dan kepada CEO?
  • Apakah anda senang melayani orang lain?
  • Apakah anda berespons kepada sentuhan Roh Kudus yg paling ringan sekalipun, atau apakah anda membutuhkan disiplin yg keras sebelum menyadarinya?
  • Apakah anda menyadari apa yg anda lakukan sekarang, sehingga anda menerima pengajaran dengan rendah hati dan dengan roh yang mau diajar?
  • Apakah anda memilih utk mendengar dan membangun relasi dgn lawan, atasan, staf dan partner negosiasi, tidak peduli betapa pun sulitnya mereka? Atau menggertak mereka?
  • Apakah anda mampu menegur tanpa marah? Berdebat tanpa meremehkan? Memperlakukan semua orang dengan sopan santun?
  • Saat anda mengevaluasi seseorang, anda memberinya harapan dan tekad yg lebih besar akan keunggulan? Atau membuatnya menjadi putus asa?
Lalu, bagaimana mengembangkan roh kelemahlembutan?Orang yg lemah lembut berarti menyerah, menyangkal diri, ketaatan dan pengabdian. 


  1. Orang yg lemah lembut tidak melukai orang lain dgn kata-kata kasar atau mengacuhkan dengan dingin
  2. Mereka mengakui kerentanan mereka terhadap dosa dan kelemahan. Ini memampukan mereka untuk berempati secara mendalam terhadap pergumulan-pergumulan orang lain.
  3. Berespons dengan "lemah lembut dan hormat" (1 Petrus 3:15) saat diperhadapkan kepada orang yang mengejek, mencemooh atau mengabaikan mereka
  4. Tidak menyerah, terutama ketika prinsip-prinsip etika dikompromikan karena tujuan mereka adalah memperdamaikan orang kepada Allah dan dengan satu sama lain.
  5. Tidak dilumpuhkan saat dikonfrontasikan dengan rasa sakit orang lain karena mereka telah belajar arti menahan sait dan dengan penuh sukacita menyandang salib setiap hari sebagai anugerah dari Allah.
Bagaimana dengan kita? 

Disadur dari buku Taking Your Soul To Work
R. Paul Stevens & Alvin Ung

Tidak ada komentar:

Copyright 2007, Pelayanan Medis Nasional (PMdN) Perkantas

Jl. Pintu Air Raya 7, Komplek Mitra Pintu Air Blok C-5, Jakarta Pusat
Telp. (021) 3522923, 3442463-4 Fax (021) 3522170
Twitter : @MedisPerkantas
Download Majalah Samaritan Versi Digital : https://issuu.com/samaritanmag