Selasa, 06 Oktober 2015

James Ramsay

"Berbahagialah orang yang memperhatikan orang lemah! Tuhan akan meluputkan dia pada waktu celaka..Tuhan akan melindungi dia dan memelihara nyawanya.."
(Mazmur 41:2-3a)

James Ramsay membenamkan ujung penanya ke dalam tempat tinta. Suatu getaran rasa takut menyentuh hatinya, bukan soal dirinya. "..mereka kaan menekan dan memukulku dengan semua yang mereka miliki.." pikirnya. Baris berikut dari tulisannya lebih merupakan permohonan belas kasihan. "Maksudku adalah untuk meyakinkan dan mendamaikan, bukan memanas-manasi" demikian tulisnya.

"Ini akan jadi akhir dari St. Kitts.." pikirnya begitu ia mengeringkan apa yang ditulisnya. Selama 20 tahun ia sudah menanggung kemarahan dan kedengkiandari pemilik budak di St. Kitts. Ketakutan dengan ancaman pembunuhan, celaan dari jemaatnya sendiri dan pengasingan oleh tetangga-tetangganya, Ramsay akhirnya bosan dengan pergumulannya tersebut dan kembali ke Inggris. Bahkan hingga saat itu pun pemandangan dan suara-suara tentang penjualan budak membuatnya tidak tenang. Sadar dan tahu dengan benar penghinaan apa yang harus dihadapinya, ia mengambil pena dan kertas dan mulai menulis eseinya yang panjang berjudul "Essay on The Treatment and Conversion of Slaves in the British Sugar Colonies"

Dengan gelora yang menentang perbudakan, Ramsay bangkit. Kepentingan para budak harus diperjuangkan dalam keadaannya paling buruk! Keyakinannya jelas. Ia mengangkat tulisannya, keluar dari pintu dan membawanya ke percetakan. Tulisan Ramsay ini yang benar-benar dianggap sebagai tembakan pertama dalam kampanye penghapusan perbudakan. Seorang ahli bedah dan Pendeta yang berani dan baik hati, James Ramsay harus membayar protesnya ini baik dengan kesehatannya maupun dengan hidupnya.

Ramsay mengetahui tentang perbudakan dalam kapasitasnya sebagai dokter dan sebagai Pendeta. Sebagai seorang pemuda ia sudah berkeinginan untuk menjadi seorang Pendeta. Ibunya yang saleh yang berperan dalam semua rencana ini, bukan ayahnya. Ramsay mengambil jalan kompromi, ia magang belajar kedokteran dengan Dr. Findlay dari Fraserburgh (yang merupakan salah satu dokter ternama waktu itu), dan di saat yang sama mengambil kuliah untuk program master yang memungkinkan baginya untuk melayani di gereja. Selama masa kuliahnya yang pertama ia hampir tidak punya nafkah karena ia mendapatkan beasiswa hanya 5 poundsterling setahun. Suatu waktu Dr. Findlay mempercayakan kepadanya kasus yang dialami seorang wanita yang ditanduk dengan ganas oleh seekor sapi jantan. Keahlian dan perhatian Ramsay menyelamatkan wanita tersebut dan akhirnya menarik perhatian para penguasa. Tunjangannya dinaikkan menjadi 15 poundsterling setahun, suatu jumlah yang bisa membuatnya berkembang. dan memperoleh lebih banyak pengalaman dengan Dr. Macaulay dari Inggris. Kemudia ia bergabung dengan Angkatan Laut sebagai asisten ahli bedah. Ia beruntung berlayar dibawah pimpinan Kapten Charles Middleton, seorang kristen injili di kapal Arundel. Kapal ini banyak kali mengadakan penyerangan dan Ramsay memperlihatkan dirinya berani dan berbelaskasihan. Middleton menjadi sahabat dan sponsornya sepanjang hidupnya. Sang pelaut semakin mengasihinya karena kebaikan hatinya.

Pada tanggal 20 nopember 1759 Arundel menyusul kapal Swift dari Bristol. Hari tersebut mengubah kehidupan Ramsay. Swift adalah sebuah kapal budak. Muatannya adalah manusia yang dalam kondisi menyedihkan, dirantai bersama-sama di dek bagian bawah yang pengap dan menyesakkan. Wabah penyakit menular. Pada waktu tak seorang pun dokter yang mau menaiki kapal Swift karena takut terjangkit wabah penyakit, Ramsay justru memperlihatkan keinginan yang akhirnya membekas dalam kehidupannya. Dengan sukarela ia menaiki kapal Swift.

Kapten kapal Swift, seperti banyak kapten kapal lainnya, tidak peduli dengan orang-orang Afrika yang dimuatnya, selain menganggap mereka adalah dagangan yang potensial untuk memperoleh keuntungan. Ia juga tidak terlalu peduli dengan anak buahnya. Banyak kapten kapal senang melihat awak kapalnya meninggal waktu meninggalkan panti Afrika. Hal itu karena mereka  tidak harus membayar upahnya dan  banyak keuntungan lainnya. Tetapi sang kapten tidak ingin kehilangan muatannya yang berupa tubuh manusia yang berharga tersebut. Setiap kematian budak merupakan kerugian bagi pasar di daratan.

Begitu Ramsay melangkah naik ke kapal Shift, segera tercium olehnya bau busuk. Ia tidak bisa menahan dirinya lagi, segera menuruni tangga dan menuju bagian bawah kapal untuk memeriksa mereka yang sakit. Ia berhasil mengatasi perasaannya  dan tergerak oleh pemandangan yang begitu mengenaskan akan korban-korban manusia yang berjejalan seperti ikan sardin; telanjang; bergelimangan dalam darah, kotoran dan muntahan temannya; terengah-engah menghirup udara di dalam tempat yang panas dan kehabisan oksigen, begitu buruknya keadaan mereka sehingga mereka hanya menginginkan kematian. Ia memberikan petunjuk sebaik mungkin mengenai kesehatan mereka dan meninggalkan obat-obatan kemudia kembali ke kapalnya dan berjanji akan melakukan sesuatu untuk memperbaiki kondisi dari para budak.

Ia tidak tahu sama sekali apa yang diperbuat seorang ahli bedah rendahan seperti dirinya, tetapi Tuhan tahu. Ramsay membutuhkan pendidikan tambahan kalangan budak-budak dan mempelajari kondisi mereka. Dan sepertinya terbuka jalan untuk hal tersebut. Ia perlu bekerja di kalangan budak-budak dan mempelajari kondisi mereka. Dan sepertinya terbuka jalan untuk hal tersebut. Begitu Ramsay kembali naik kapal Arundel ia terpeleset dan tulang pahanya patah, akibatnya ia menjadi pincang. Karena kuatir akan jatuh lagi maka Ramsay memutuskan untuk meninggalkan Angkatan Laut dan tinggal di salah satu pulau.

Tanpa sepengetahuannya teman-temannya mengatur suatu kesempatan baginya sebagai rekanan yang menguntungkan dalam sebuah tempat praktek dokter. Namun Ramsay menolak tawaran tersebut karena ia memiliki rencananya sendiri. Pulau St. Christopher (St.Kitts) membutuhkan seorang Hamba Tuhan dari Church of England. Maka iapun mengikuti panggilan suci. Tahun 1762 ia berlayar dengan Sir Charles ke Inggris dimana ia memenuhi panggilannya. Ketika kembali ke St. Kitts ia bekerja melayani baik tuan tanah maupun budak kulit hitam.

Ia membuka gereja pada jam-jam tertentu untuk para budak, mendorong pemimpin mereka untuk memimpin mereka berdoa sebelum dan sesudah bekerja, membuka kelas-kelas belajar untuk para budak dan berdoa secara terbuka di muka umum untuk pembebasan dan pemulihan martabat mereka. Tindakannya yang terakhir ini terasa aneh bagi jemaatnya. Banyak yang langsung berhenti menghadiri ibadah gereja. Mereka menentang segala upaya untuk membawa budak-budak mereka kepada Kristus. Ramsay menikahi anak perempuan dari tuan tanah dan membangun sebuah keluarga. Untuk melindungi keluarganya dari tindakan kekerasan, ia harus menghentikan doa-doa umum untuk keselamatan para budak dari ibadah gerejanya.

Pada waktu Ramsay dengan berani menentang upaya salah satu dari tuan tanah untuk menipu penduduk lainnya di pulau tersebut dengan mengubah suku bunga, ia menjadi semakin difitnah. Ia menghabiskan sebagian besar simpanannya melawan hukum suku bunga karena ia melihat dengan jelas segelintir orang kaya sedang berupaya mendapatkan keuntungan sedangkan penduduk lainnya menderita kerugian. Meskipun ia akhirnya mampu menyelamatkan kondisi ekonomi pulau tersebut tetapi ia tidak mendapatkan penghargaan dari penduduk setempat. Ia dicopot perannya sebagai hakim. Koran - koran mencaci makinya. Orang-orang yang tidak bisa menulis beradu mulut dengannya dan mencari muka dengan bersekongkol dengan musuh-musuh terbesarnya. Mereka berusaha mengurangi gajinya dan menambah beban kerjanya. Tetapi ia dengan senang hati menerima tugas apa saja. Bahkan ketika mereka mengirim para budak untuk menjadi jemaatnya, ia mengatakan bahwa baginya lebih berharga jiwa orang kulit hitam yang termiskin dan ia senang berkhotbah untuk mereka sekaligus menjadi okter bagi para budak dari beberapa perkebunan di sekitarnya.

Namun, karena tidak sanggup menghadapi perlawanan yang luar biasa di St. Kitts membuat Ramsay memutuskan untuk tinggal di Inggris. Sesampainya di Inggris, ia menceritakan pengalamannya kepada teman-temannya. Mereka mendesaknya untuk menulis buku mengenai hal tersebut. Tahun 1784, buku yang berjudul Gerakan Penghapusan Perbudakan Telah Lahir diterbitkan. Hal ini membangkitkan amarah para tuan tanah. Akibatnya, mereka memenjarakan pastor yg menentang perbudakan hingga meninggal, pastor lain rumahnya dibakar, mendakwa Ramsay dengan berbagai kejahatan seperti Ramsay adalah pemilik budak yang kejam, mengabaikan jemaat gerejanya, dan mencoba menghasut para budak untuk memberontak.

Selama 4 tahun, Ramsay menjawab berbagai dakwaan dan terus menerbitkan buku sekalipun kondisi kesehatannya menurun. Ia mulai sakit perut dan batuk darah. Tahun 1789, ia menerbitkan buku An Address to the Public, on the Proposed Bill for the Abolition of the Slave Trade. Namun, Molineux, seorang anggota parlemen yang sudah dibeli oleh kepentingan budak, bangkit dan secara kejam menyerang Ramsay di Majelis Perwakilan Rendah. Menghadapi penyerangan ini, kesehatan Ramsay memburuk.  Molineux menang, namun hanya sementara karena pada akhirnya perdagangan budak dihapuskan. Akhirnya semua budak di wilayah jajahan Inggris dibebaskan. Kehidupan dan penderitaan Ramsay tidak sia-sia.

Tidak ada komentar:

Copyright 2007, Pelayanan Medis Nasional (PMdN) Perkantas

Jl. Pintu Air Raya 7, Komplek Mitra Pintu Air Blok C-5, Jakarta Pusat
Telp. (021) 3522923, 3442463-4 Fax (021) 3522170
Twitter : @MedisPerkantas
Download Majalah Samaritan Versi Digital : https://issuu.com/samaritanmag