Senin, 30 November 2015

Kudus...Kudus...Kudus... (Imamat 19)

Dalam sebuah pertemuan, saya bertanya kepada sekelompok teman, "Apa yang terbersit dalam pikiran saudara jika berbicara tentang kekudusan?" Ada yang nyeletuk dengan spontan menjawab : "susah!" Lalu , pada kesempatan lain, saya minta pada seorang teman gambar-gambar yang menunjukkan kekudusan, lalu teman saya ini memberikan beberapa gambar, diantaranya gambar orang yang sedang berdoa, cahaya yang bergelegar, kelahiran bayi Yesus di kandang domba dengan cahaya yang bersinar, cahaya putih di awan-awan, dan lain-lain. Apakah saudara setuju dengan pendapat teman saya tersebut? Kalau saudara saya tanya pertanyaan yang sama, kira-kira apa yang terbersit dalam pikiran saudara? Sama dengan mereka atau berbeda sama sekali?

Terkait atau tidak dengan pertanyaan di atas sebenarnya ada dua pertanyaan yang lebih mendasar tentang kekudusan, yang menurut saya perlu kita gumuli bersama, khususnya dalam mengakhir tahun 2015 dan memasuki tahun 2016.

Pertama, mengapa kita harus hidup kudus? dan kedua, bagaimana hidup kudus itu dipraktekkan dalam hidup sehari-hari? Firman Tuhan dalam Imamat 19, kelihatannya memberi penjelasan sehubungan dengan dua pertanyaan di atas.

Keunikan umat Allah
Kita harus hidup kudus, karena hidup kudus adalah perintah sekaligus panggilan bagi umat-Nya. "Kuduslah kamu sebab Aku, Tuhan Allahmu kudus" (ayat 2). Hidup kudus adalah ciri khas atau keunikan umat Allah. Umat-Nya sedemikian rupa, unik, tidak sama dengan dunia walau mereka hidup di dalam dunia. Umat-Nya dikhususkan, berbeda dan terpisah dari budaya cemar di sekelilingnya.

Tuntutan dan standar kekudusan umat-Nya selalu dikaitkan dengan "sebab Akulah, Tuhan Allahmu". Kekudusan kita harus tercermin sedemikian rupa sebagai ciri dan keunikan umat yang telah dipilih-Nya. Umat yang telah ditebus-Nya dari kecemaran dan kegelapan dosa dunia ini. Jika cara hidup umat-Nya serupa dengan dunia ini, itu berarti umat-Nya telah kehilangan keunikannya.

Dimulai dari Keluarga

Hidup kudus bukan hanya sekedar pengajaran untuk diketahui. Hidup kudus harus dipraktekkan dalam hidup sehari-hari. Hidup kudus harusnya terlihat nyata melalui :

  1. Relasi kita dengan orang tua kita. Menyegani ibu dan ayah (ayat 3). Hidup kudus dimulai dari rumah kita. Kekudusan terkait dengan menjalin relasi dalam kasih dan hormat kepada ibu dan ayah kita.
  2. Menghormati orang yang telah tua usianya (ayat 32)
  3. Memelihara Sabat (ayat 3b dan 30)hari-hari sabat dijalani dengan melakukan ibadah yang kudus dan berkenan di hadirat-Nya.
  4. Tidak menyembah berhala (ayat 4). Apa yang dimaksud dengan berhala? Sesuatu atau seseorang yang menggeser kedudukan Allah. Sesuatu atau seseorang yang berada diantara kita dan Allah. Sesuatu ataus eseorang tersebut bisa : pekerjaan, karir, studi, uang, keluarga, kekasih, kesenangan, dan lain-lain. Dimana posisi sesuatu atau seseorang tersebut dalam hati kita atau dalam hidup kita? Sesuatu atau seseorang tersebut tentu tidak serta merta menjadi berhala. Sesuatu atau seseorang tersebut menjadi berhala jika menempati posisi yang salah dalam hidup kita. Hidup kudus berarti tidak menyembah berhala, tidak ada sesuatu atau seseorang yang menggeser posisi Allah sebagai Tuhan dalam hidup kita.
  5. Tidak meniru kebiasaan orang-orang kafir. Kebiasaan-kebiasaan apa di sekitar kita yang perlu kita cermati, yang bukan kebiasaan atau budaya yang seturut firman-Nya. Jangan diikuti tapi justru harus dibaharui (ayat 27-31)
  6. Sebaliknya menjalani budaya atau ciri-ciri khas yang telah Tuhan tetapkan (ayat 19-24)
  7. Memberi kesempatan bagi tumbuh-tumbuhan untuk berbuah dewasa, bau dipetik hasilnya (ayat 25-26)
  8. Berlaku adil dalam semua transaksi (ayat 35-36)
  9. Memegang dan melakukan ketetapan dan peraturan-Nya (ayat 37)
  10. Mengasihi sesama seperti diri sendiri (ayat 9-18, 20, 33-34)
  11. Memperhatikan kebutuhan sesama, orang-orang miskin, orang-orang asing, orang-orang lemah dalam berkekurangan (ayat 9, 10, 1, 20)
  12. Menghormati hak dan hidup sesama dengan perlakuan yang adil serta pertimbangan yang tidak berat sebelah dan menjaga reputasi sesama (aya 11,13,15-18)
Apakah kita telah menjadi sesama bagi orang-orang miskin, orang-orang aing, orang-orang lemah dan berkekurangan? Yesus telah menjadi sesama bagi kita. Dia datang ke dunia mengambil rupa manusia menjadi hamba bahkan mati di kayu salib untuk menebus dosa dunia. Itulah sebabnya kelahiran Kristus itu menjadi "joy to the world".

Bagaimana kita mempraktekkan kekudusan dalam konteks pergumulan sesama kita ditengah-tengah pergumulan bangsa ini? Apakah kelahiran Kirstus telah menjadi "joy" bagi dunia sekitar kita, bagi tiap lapisan masyarakat di negeri ini? Apakah kelahiran Kristus, telah membagi umat-Nya melakukan karya-karya nyata bagi sesama yang miskin, lemah, berkekurangan di negeri ini? Apakah diskusi PA dan doa-doa serta aktivitas seharian kita menyentuh kebutuhan dan menghargai hak hidup orang-orang sedemikian. Apakah pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh dokter-dokter kristen telah mendatangkan "joy" bagi para pasien, siapa pun pasien tersebut. Entah apa pun agamanya, entah apa pun sukunya. Apakah pilihan-pilihan tempat PTT adalah tempat dimana banyak sekali kesempatan untuk menolong orang-orang yang perlu dikasihi. Apakah kita telah hidup mengasihi sesama seperti diri sendiri. Hidup dalam kekudusan adalah hidup mengasihi sama seperti diri sendiri.

Saya jadi ingat dengan apa yang dikatakan almarhum bapak Eka Darmaputra : "...Platform  perjuangan Kristen adalah bagi semua orang, bagi seluruh bangsa. Ini berangkat dari keyakinan teologis saya, bahwa sesuatu yang baik hanya untuk orang Kristen saja, itu tidak kristiani. Something which is good only for christians is unchristian. Yang kristiani adalah kalau itu baik untuk semua orang."

Kekudusan bukan sebatas aktivitas ibadah. Kekudusan bukanlah asyik dengan kegiatan rohani tapi absen dalam karya dan praktek hidup sehari-hari. Lagi-lagi, kekudusan seharusnya terwujud melalui hidup sehari-hari dalam segala segi kehidupan. Ibadah dan iman harus terjelma di dalam moralitas hidup sehari-hari, dalam hubungan dengan sesama, sikap terhadap pekerjaan, benda, tumbuhan, dll. Hidup kudus adalah panggilan bagi umat-Nya yang relevan dari zaman ke zaman.

Hidup kudus adalah hidup dalam kasih sebagai jembatan dan pengikat relasi kepada Allah dan sesama. 

Mengakhiri tahun 2015 dan mengawali tahun 2016, barangkali, saat yang tepat buat kita untuk melihat ke belakang, ke hari-hari yang telah kita lalui sepanjang tahun ini, apakah kita telah mempraktekkan kekudusan, apakah kita menjalani hari-hari kita dengan hidup kudus? Bagian mana dari praktek kekudusan yang perlu dibangun atau ditingkatkan dalam hidup kita. Jika Tuhan mengijinkan saudara masuk ke tahun 2016, apa tekad saudar? Ingin menjadikan tahun 2016 sebagai tahun kekudusan? Selamat menjalani tahun 2016 dalam kekudusan.

Indrawaty Sitepu.


Tidak ada komentar:

Copyright 2007, Pelayanan Medis Nasional (PMdN) Perkantas

Jl. Pintu Air Raya 7, Komplek Mitra Pintu Air Blok C-5, Jakarta Pusat
Telp. (021) 3522923, 3442463-4 Fax (021) 3522170
Twitter : @MedisPerkantas
Download Majalah Samaritan Versi Digital : https://issuu.com/samaritanmag