Senin, 16 Juli 2018

KESEIMBANGAN WAKTU LIMA ASPEK KEHIDUPAN (Bagian 1)

          Bagaimana Perjanjian Baru memandang kehidupan ini? PB menggolongkan dalam lima kategori utama. Kelima kategori ini jelas dapat dibaca dalam bagian 'penerapan' surat-surat Paulus yang utama: Roma 12-14; Galatia 5-6; Efesus 4-6; dan Kolose 3-4. Juga dapat dibaca dalam beberapa bagian lainnya. Lima bidang itu ialah: (1) Kehidupan pribadi Anda, termasuk hubungan Anda dengan Allah, emosi Anda, dan bidang lainnya yang bersifat pribadi, bidang yang menyangkut Anda sebagai satu individu; (2) keluarga Anda, termasuk pernikahan Anda, anak-anak Anda, dan hubungan Anda dengan orang tua Anda sendiri dan dengan setiap orang yang menjadi tanggungan Anda; (3) kehidupan gerejani Anda, termasuk baik gereja setempat Anda maupun keterlibatan Anda dengan semua orang Kristen di tempat lainnya; (4) pekerjaan Anda, termasuk apa yang Anda kerjakan, bagaimana Anda mengerjakannya, bagaimana Anda berhubungan dengan para pemberi pekerjaan, rekan-rekan kerja, dan para pelanggan produk dan hasil pekerjaan Anda; (5) kehidupan bermasyarakat Anda, termasuk segala tanggung jawab Anda kepada pemerintah, dan hubungan-hubungan Anda dalam masyarakat yang lebih luas terutama dengan orang-orang yang bukan Kristen.

          Pendapat ini disampaikan oleh Dough Sherman dan William Hendriks dalam tulisan berjudul "Hidup Untuk Akhir Pekan" yang merupakan salah satu pasal dalam buku "Pekerjaan Anda Penting Bagi Allah". Mereka menyebut kelima kategori ini sebagai panca-lomba. Kelimanya tidak dapat disusun dalam suatu hierarki karena kelimanya saling memberi dampak. Tapi kelimanya dapat diwujudkan dalam suatu keseimbangan yang realistik. Oleh karena itu untuk menyeimbangkan kelimanya diperlukan kemampuan mengatur waktu. Bagaimana caranya?


Keseimbangan Pekerjaan, Keluarga, Waktu Luang
          Dough dan William menyarankan, Pertama, menyusun kehidupan doa di sekeliling panca lomba. Cara ini akan memastikan kita tetap sadar akan tanggung jawab kita dalam kelima bidang itu. Juga akan membuat pekerjaan kita dalam keadaan tarik menarik dengan bidang-bidang lainnya, sehingga kita tidak hanya terfokus pada satu bidang saja. Kedua, menentukan berapa banyak waktu yang diperlukan dalam pekerjaan. Batasan banyak memang relatif, tetapi dapat dijadikan acuan hal berikut ini: dalam semua pekerjaan, orang harus menentukan harga yang harus dibayar untuk apa yang diperolehnya, dan pikirkanlah dampak pekerjaan itu pada keluarga Anda. "Jika membela pekerjaan Anda berarti mengorbankan pernikahan dan anak-anak Anda, maka secara Alkitabiah, Anda perlu mengkaji kembali apakah Anda sudah berada di pekerjaan yang tepat!" tegas keduanya. Ketiga, menetapkan waktu untuk pulang kerumah. Jika kita sudah menetapkan terlebih dulu kapan harus meninggalkan tempat kerja, maka hal ini akan menolong untuk mengatur dan memprioritaskan jam kerja untuk hari itu. Keempat, merencanakan bidang-bidang bukan pekerjaan sama seperti merencanakan bidang-bidang pekerjaan. Maksudnya? Di dalam buku agenda kita, kita perlu mencatat bukan saja segala yang perlu kita ingat dan janji-janji yang berkaitan dengan pekerjaan semata, tapi kita juga perlu mencatat waktu yang disediakan untuk keluarga, komitmen kita terhadap gereja dan pelayanan, keterlibatan pribadi kita dalam masyarakat, dan rencana-rencana pribadi kita. Bila Anda sudah berkeluarga, saran keduanya, alangkah baiknya mengajak pasangan hidup untuk membicarakan hal ini.

          Kelima, menjaga penggunaan energi emosi. Memang benar bahwa pekerjaan sangat berarti untuk kita, dan kita harus membuat komitmen emosional untuk hal ini agar semua pekerjaan berjalan beres. Tapi, Allah tidak pernah bermaksud agar pekerjaan memperbudak Anda secara psikologis. Jika pekerjaan harus ditinggalkan, tinggalkan pekerjaan itu. Sehingga ketika berada di rumah, yang dikenakan adalah 'pakaian' rumah, bukan 'pakaian' kerja. Keenam, memelihara satu hari sabat. Satu hal yang penting, sabat itu hari perhentian, hari istirahat dari pekerjaan yang memberi penghasilan. Tekanan apapun yang merampas kita dari ketenangan dan istirahat di dalam kasih karunia Allah itu, seharusnya ditolak, kata Doug.

          Ketujuh, menumbuhkan minat dan komitmen di luar pekerjaan. Doug menulis pengalamannya, "saya mengetahui, bahwa sebagian besar pekerjaan saya ialah berbicara di depan banyak orang atau memberi konsultasi di mana saya terlibat dalam memecahkan berbagai masalah. Jadi, bagi saya untuk dapat bersantai dan terlepas dari pekerjaan ialah dengan masuk ke dalam sesuatu di mana saya tidak berada di depan banyak orang atau tidak memecahkan masalah orang lain. Kebetulan saya mendapati, bahwa bersepeda, berenang, dan berlari, merupakan hal yang dapat saya nikmati. Bagi Anda ini mungkin kedengarannya bukan sesuatu yang dapat membuat Anda santai, tetapi bagi saya ini merupakan istirahat total, secara mental, psikis, dan emosional, dari pekerjaan. "Untuk bisa sepertinya, perlu ditumbuhkan minat yang mengungkapkan aspek lain yang ada dalam diri kita yang tidak berkaitan dengan pekerjaan.

          Kedelapan, ini masih ada hubungannya dengan yang ketujuh, yakni, jangan hanya menjadi penonton padahal seharusnya Anda melakukannya. Maksudnya? Beristirahat atau waktu luang bukan berarti tidak melakukan apa-apa. Barangkali memang kita terlalu letih karena aktivitas kita sehingga tidak dapat berpikir untuk melakukan sesuatu. Tetapi, kata Doug, sesungguhnya lebih menyenangkan dapat melakukan sesuatu daripada hanya menonton orang lain yang melakukan sesuatu itu.


Bagian 1- Bersambung ke bagian 2.
________________________________________________________
KESEIMBANGAN WAKTU LIMA ASPEK KEHIDUPAN oleh Ida Cynthia S.
dalam Majalah Samaritan No 4/November 1999-Januari 2000

Tidak ada komentar:

Copyright 2007, Pelayanan Medis Nasional (PMdN) Perkantas

Jl. Pintu Air Raya 7, Komplek Mitra Pintu Air Blok C-5, Jakarta Pusat
Telp. (021) 3522923, 3442463-4 Fax (021) 3522170
Twitter : @MedisPerkantas
Download Majalah Samaritan Versi Digital : https://issuu.com/samaritanmag