Selasa, 18 September 2018

Menjadi Rekan Sekerja Allah Melalui Profesi


          Kecenderungan dalam profesi medis dewasa ini ialah mencari untung, mencari tempat yang enak. Karena itu kasus-kasus malpraktis begitu banyak terjadi, baik yang terbuka maupun yang ditutup-tutupi. Dokter-dokter baru lulus mau mencari tempat yang enak, spesialis mau ditempatkan pada tempat yang banyak uangnya. Banyak dokter-dokter berambisi menjadi super spesialis serta gelar tinggi lainnya. Sayangnya ambisi-ambisi itu disertai dengan kemalasan, ketidakjujuran, jalan pintas. Kita mau menjadi hebat dan wah, tetapi penghargaan itu sering melampaui kemampuan kita.

          Mengapa kecenderungan seperti ini terjadi? Sebab, konsumerisme zaman ini mengikat kita dengan berhala modern. Kecenderungan orang sekarang tidak menyembah Allah Yang Maha Kudus tetapi mengharapkan yang nyata, yang dapat dilihat dan dipegang. Tidak heran sekarang kita menjadi budak keinginan kita, harta, uang, ambisi yang pada akhirnya akan menurunkan hakekat dan martabat kita sebagai manusia ciptaan Allah.

          Contoh bahwa konsumerisme sudah masuk dalam dunia kedokteran antara lain adalah kredit yang dipergunakan untuk memenuhi kepuasan pribadi. Kehidupan modern memang mangajar orang terus berhutang. Akhirnya ia akan dikejar-kejar hutang dan pasien menjadi korban. Kita tahu bahwa banyak pemeriksaan yang tidak seharusnya dilakukan, hanya untuk meningkatkan pendapatan si dokter. Yang seharusnya diperiksa justru tidak diperiksa walaupun murah dan mudah. Sering pemeriksaan CT Scan, USG, dan MRI sudah dipesan tapi belum dilakukan pemeriksaan fisik yang teliti. Pemeriksaan colok dubur sangat murah, mudah dan akurat untuk diagnosa rektal. Tetapi banyak pemeriksaan canggil dilakukan tanpa pemeriksaan ini.

          Semua penilaian ini disampaikan dr. darmawan sembiring Pelawi (alm.) dalam makalahnya "Profil dan Tantangan Dokter Kristen, Serta Bahaya Sekularisme". Penilaian ini mungkin benar, tapi apakah mungkin seorang profesional, dokter khususnya memiliki kecenderungan ini karena mereka belum memahami bahwa, suatu pekerjaan, itu penting bagi Allah, bukan hanya untuk diri dan keluarga? Mungkin saja. Karena itulah kita perlu tahu bahwa, pekerjan merupakan bagian terbesar dalam kehidupan manusia yang dipandang serius oleh Allah. Karena apa? Karena Allah sendiri adalah pekerja (lihat Kejadian 1 dan Kolose 1:16-17); karena Allah yang menciptakan manusia sebagai pekerja (lihat Kejadian 1:26, 28-29, Pengkhotbah 3:13), dan karena Allah yang menciptakan manusia sebagai rekan kerjanya (Kejadian 2:8, 15) maksudnya, Allah menanam pohon-pohon di taman itu dan manusia mengusahakannya. Ini merupakan kerjasama yang pertama, kerjasama yang erat.

          Demikian paparan Dough Sherman dan William  Hendricks dalam buku "Pekerjaan Anda Penting Bagi Allah". Dough Sherman adalah pendiri dan pemimpin perusahaan Career Impact Ministries (CIM) suatu organisasi Kristen yang membantu tenaga-tenaga bisnis dan profesional untuk mengintegrasikan iman mereka ke dalam karir mereka. William Hendricks adalah direktur eksekutif dari CIM. "Oleh sebab itu segala sesuatu tentang pekerjaan kita harus arahkan ke arah Dia - maksud dari motif kita, keuntungan kita dan penggunaannya, keputusan kita, masalah kita, hubungan kita, sasaran kita, peralatan kita, keuangan kita - segala sesuatu," tegas mereka pula. Jadi, alangkah salahnya bila ada orang yang memandang pekerjaannya sebagai sesuatu yang murni sekuler, yang memandang pekerjaan dari Allah tidak saling berhubungan.

          Kalau tadi dr. Darmawan sudah mengemukakan penilaiannya mengenai kecenderungan konsumerisme dalam profesi medis dewasa ini, ada hal-hal lain yang dilihat Dough dan William yang menghambat seorang profesional atau bekerja untuk menerapkan pengertian suatu pekerjaan itu dianggap penting oleh Allah. Apa saja? Suatu pertanda bahwa agama dan pekerjaan sudah tidak saling menjalin hubungan adalah adanya karierisme atau pemuja karier dalam generasi kita ini, katanya. Yang dimaksud dengan karierisme disini ialah pemujaan terhadap karier sedemikian rupa sehingga karier itulah yang menentukan harga diri seseorang, menjadi pusat pengendali kehidupan seseorang, dan menjadi prioritas yang paling tinggi. Akibatnya, karier menjadi sesuatu yang tidak boleh disentuh. Pernikahan, anak-anak, persahabatan, bahkan nilai-nilai moral bila perlu, harus disesuaikan dengan tuntutan karier, kalau tidak maka akan tertinggal.

          Lebih jauh dibahas, siapakah yang bertanggung jawab atas pemujaan karier, yang sudah merupakan agama baru, teristimewa bagi banyak orang yang tergolong dalam "the baby boom?" Apapun penjelasannya nanti, fenomena ini pasti merupakan gejala dari sebuah masyarakat yang sedang dilanda sekularisme, yang secara berangsur-angsur mengurangi peran Allah dalam kebudayaan, dan merupakan penolakan terhadap agama karena dianggap sudah tidak relevan lagi. Dengan kata lain, generasi ini telah hidup dengan seperangkat aturan yang baru. Aturan lama mengatakan, "Sangkalilah dirimu". Aturan baru mengatakan, "Penuhilah keinginan hatimu". Aturan lama mengatakan, "Kasihilah Tuhan Allahmu". Aturan baru mengatakan, "Kasihilah tuhan, yaitu dirimu sendiri".

          Dikatakannya pula, walaupun kebanyakan dari kita tetap akan mendefinisikan sukses sebagai hal yang berkaitan dengan kekayaan, ketenaran, atau kekuasaan, namun tindakan kita menunjukan bahwa yang penting bagi kita bukanlah hal-hal itu, tetapi apa yang dikatakan orang tentang kita, Mereka mengatakan bahwa kita berhasil, dan itu berarti lebih dari sekedar berhasil (entah apapun artinya). Kesan yang ditimbulkannya lebih berharga daripada meterinya.

          "Pandangan sekuler tentang pekerjaan jelas merupakan cara pendekatan terhadap kehidupan ini yang menghancurkan diri. Pandangan sekuler menuntut agar orang itu mencapai prestasi-prestasi yang hanya dapat dilakukan oleh Allah. Anda mungkin beranggapan bahwa berhala itu adalah patung kecil yang terbuat dari batu atau kayu yang disembah oleh orang-orang kafir di daerah pedalaman. Tetapi para ahli antropologi mendefinisikan berhala itu sebagai apa saja yang dianggap sakral, sehingga harga diri kita ditetapkan olehnya, dan hal itu yang menjadi pusat pengendali kehidupan kita, dan merupakan hal yang diberikan prioritas yang paling tinggi.

          "Menurut definisi ini, pekerjaan telah menjadi berhala bagi banyak orang dalam masyarakat kita. Bagaimana dengan Anda? Apakah pekerjaan Anda yang menentukan siapa sebenarnya Anda? Anda mungkin bisa mengelak dan tidak menjadikan pekerjaan Anda sebagai berhala Anda. Tetapi tidak ada artinya apabila Anda tetap saja meninggalkan Allah di rumah. Di dalam kedua keadaan itu, tetap saja satu bagian utama dalam kehidupan Anda dijalankan terpisah dari Allah, dan hal ini tidak patut jika Anda berkeinginan untuk menjadi pengikut Kristus," jabar kedua penulis itu tegas.

          Dengan sejumlah penghalang atau penghambat yang sudah dipaparkan, baik yang timbul dari dalam diri sampai dari lingkungan, yang membuat seorang pekerja tidak dapat memandang pekerjaannya sebagai milik Allah, apakah lantas tepat bila membiarkan mereka dalam kesalahan pandangannya? Dengar arif dr. Darmawan menjabarkan dalam makalahnya, bagi dokter Kristen yang terpenting adalah rencana, kehendak dan panggilan Allah dalam hidupnya. Karena itu, inilah doa dan kerinduan setiap dokter Kristen: "Tuhan biarlah kehendakmu yang jadi". Hidupku adalah milik Tuhan dan buat Tuhan. Tuhan punya rencana yang sangat mulia di dalam kehidupan anak-anak-Nya. Tidak jadi masalah penilaian orang lain terhadap kita, penilaian akhir dan yang benar adalah dari Allah Bapa sendiri. Hidup Tuhan Yesus itu menjadi teladan bagi kita semua. Dia tidak tertarik akan penilaian orang lain terhadap dirinya, padahal pada zaman itu bila ingin menjadi pemimpin agama perlu mencari dukungan dan popularitas dari masyarakat. Tetapi yang diajarkan oleh Tuhan Yesus adalah sebaliknya: Barangsiapa ingin menjadi besar diantara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu (Matius 2:26-27). Di dalam kerajaan Allah karena Rajanya berpredikat hamba, maka kualitas pengikut-Nya ditentukan sejauh mana ia meneladani Rajanya yang rela menjadi hamba.

          Konsep ini, tambahnya, tentu sangat berlawanan dengan konsep sukses dari dunia sekarang. Konsep sukses dari dunia sekarang. Konsep sukses orang percaya memang adalah merupakan suatu kebutuhan bagi dunia ini, orang-orang rela membayarnya dengan harga sangat mahal bahkan sampai mengorbankan anak, isteri dan keluarga. Padahal segala popularitas, kekayaan, kemegahan dan kesuksesan dunia ini hanyalah bersifat sementara, yang akan diakhiri dengan suatu kekosongan belaka. Ahli bedah yang terkenal pada waktunya juga akan kehilangan kemampuannya, sehingga tidak bisa lagi melakukan operasi, kemudian akan mengalami suatu kekosongan yang sangat dalam. Dunia ini sedang lenyap dengan segala keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.

          "Firman Tuhan mengatakan bahwa orang percaya adalah garam dan terang di tengah dunia. Bagian Firman Tuhan ini dengan jelas membedakan antara orang percaya dan orang dunia. Perbedaan kita dengan orang dunia ini seperti gelap dan terang, antara sorga dan neraka. Adalah kewajiban yang mendasar pula bahwa terang dan garam itu harus memasuki dunia. Kita memang berbeda dengan dunia karena itu kita harus mempengaruhi dan bukan dipengaruhi oleh dunia ini dengan cara terjun/masuk ke dalam dunia," katanya lagi.

          Masih pandangan dr. Darmawan, prinsip kedokteran: First do not harm perlu kita hayati. Sebagai dokter dengan rendah hati kita harus mengakui bahwa kita bisa membuat kesalahan yang menyebabkan penderitaan pasien. Kesalahan itu bisa karena over diagnosis, overtreatment, atau karena under diagnosis, undertreatment. Ada dokter yang sengaja menakut-nakuti pasiennya dengan diagnosa yang berlebihan dengan maksud untuk menonjolkan diri bahwa si dokter mampu mengobatinya. Menonjolkan diri dengan kepalsuan dan kebodohan. Ada juga dokter setiap ditanya pasien berkata: "Tak apa-apa semua, semua baik". Padahal sebenarnya apa-apa dan tidak berjalan dengan baik. Beranikah sebagai dokter Kristen mengaku di depan masyarakat bila kita bersalah dan berani bertanggung jawab atasnya? Ambisi kesuksesan sudah merampok hakiki dalam salib Kristus. Kita mau disebut Kristen yang baik, Kristen yang beriman, yang sukses tapi menyangkal kuasa salib, tidak mau memikul salib. "Bagaimana mungkin seseorang mau menjadi pengikut Kristus dan dokter Kristen tetapi tak mau memikul salib?" tanyanya.

          Sejalan dengan ucapan dr. Darmawan, Dough dan William menegaskan, bahwa pekerjaan Anda penring bagi Allah, karena itu sangatlah penting bagi Allah agar tidak menyisihkan Allah dari pekerjaan Anda. Ada ucapan menarik dari dokter David Livingstone pionir misi di Amerika dalam ceramahnya di depan mahasiswa Universitas Cambridge 1857, yang tertulis dalam makalahnya dokter Darmawan: "Adakah yang terlalu besar yang kita serahkan bagi Dia?"

          Jawabnya memang tidak ada yang terlalu besar yang kita miliki, yang dapat diserahkan bagi-Nya. Seorang dokter Kristen bisa menjadi seorang profesional di bidangnya sekaligus menjadi rekan kerja Allah, kalau saja ia mau. Dokter Santoso Karo-karo, berdialog di RS Mitra Keluarga menggarisbawahi, bahwa seorang profesional dalam bidang kesehatan yang sudah menerima kasih terlebih dahulu dari Kristus harus lebih baik dalam memberikan pelayanan kepada kliennya, artinya kompetensi dan ketrampilannya harus lebih baik, kasih di dalam pelayanannya harus lebih baik dibandingkan dengan profesional yang belum menerima kasih dari Kristus.

          "Lebih konkret lagi, kalau orang luar nilai skill dan ketrampilannya 8, dia harus punya nilai 9 atau bahkan 10. Kalau orang lain memberikan kasih di dalam pelayanan dengan nilai 7, maka dia harus mempunyai nilai 9 atau 10 juga. Saya percaya imbalan yang lebih besar akan diberikan oleh Tuhan," tegasnya kepada dr. Sugi.


__________________________________________________
Oleh Ida Cyntia S. dalam Majalah Samaritan Edisi 3 Tahun 1999.



Tidak ada komentar:

Copyright 2007, Pelayanan Medis Nasional (PMdN) Perkantas

Jl. Pintu Air Raya 7, Komplek Mitra Pintu Air Blok C-5, Jakarta Pusat
Telp. (021) 3522923, 3442463-4 Fax (021) 3522170
Twitter : @MedisPerkantas
Download Majalah Samaritan Versi Digital : https://issuu.com/samaritanmag