Jumat, 30 November 2018

Tubuh Orang Percaya = Bait Roh Kudus

Chock Kuk Sui, pakar dalam ilmu dan seni penyembuhan dengan tenaga prana menyatakan bahwa "prana atau ki, adalah energi vital atau tenaga hidup yang disebut pneuma oleh orang Yunani, mana oleh orang Polinesia, dan ruah (nafas kehidupan) oleh orang Yahudi."

Dari matahari dihasilkan prana matahari yang memperkuat dan yang dapat diserap selama berjemur di bawah matahari dan minum air yang terpapar sinar matahari. Dari udara dihasilkan prana ozon yang paling efektif bila dihirup melalui pernafasan berirama yang lambat dan dalam dan melalui pusat energi (disebut: cakra) dari aura-dalam dan aura-luar kita, yang merupakan tubuh halus (eterik) atau pembungkus. Dari tanah dihasilkan prana bumi yang masuk ke dalam diri kita melalui telapak kaki. 

Selanjutnya Choa Kok Sui mengatakan, pohon dan tanaman menyerap prana dari matahari, udara, dan tanah serta memancarkan sejumlah besar kelebihan prana. Beberapa pohon tertentu, misal pohon pinus atau pohon raksasa yang sehat dan tua, memancarkan sebagian besar kelebihan prananya. Orang yang lelah atau sakit banyak mendapatkan manfaat dengan berbaring atau beristirahat di bawah pohon tersebut. Hasil yang lebih baik dapat diperoleh dengan meminta secara lisan kepada pohon itu untuk membantu orang yang sakit menjadi sembuh.


Tubuh Bioplasmik

Para pewaskita dengan menggunakan kemampuan psikis telah mengamati setiap orang dikelilingi dan dirasuki tubuh energi bercahaya yang disebut tubuh bioplasmik. Tubuh bioplasmik berarti tubuh energi yang hidup yang terbentuk dari bahan halus yang tidak tampak atau bahan eterik.

Penyembuhan dengan tenaga prana didasarkan atas struktur keseluruhan tubuh manusia. Tubuh seseorang sebenarnya terdiri dari dua bagian: tubuh fisik dan tubuh energi yang tidak tampak atau tidak kelihatan yang disebut tubuh bioplasmik.

Seperti halnya tubuh fisik yang mempunyai pembuluh darah dengan aliran darah di dalamnya, tubuh bioplasmik mempunyai saluran bioplasmik halus yang tidak tampak atau meridian dengan aliran ki dan bahan bioplasmik di dalamnya dan didistribusikan ke seluruh tubuh. Dalam ilmu yoga saluran-saluran disebut nadi mayor dan nadi minor. Melalui saluran tersebut mengalir prana atau ki yang memberi makan dan memperkuat seluruh tubuh.

Tubuh bioplasmik menyerap, mendistribusikan, dan memberikan energi dengan prana atau ki ke seluruh tubuh fisik. Tanpa prana seluruh tubuh akan mati. Tubuh bioplasmik bertindak sebagai cetakan atau pola untuk tubuh fisik. Tubuh fisik dibentuk dari tubuh bioplasmik, jika salah satu sakit, maka yang lain juga akan sakit, dan jika salah satu sembuh yang lain juga menjadi sembuh. Tubuh bioplasmik melalui sinar kesehatan dan aura bertindak sebagai bahan pelindung terhadap kuman penyakit dan bahan bioplasmik yang berpenyakit.



Pendekatan Theologis

Pendekatan praktis membuktikan penyembuhan dengan tenaga prana memberikan indikasi bahwa power/kuasa yang memungkinkan terjadinya penyembuhan disebabkan oleh kekuatan dan kuasa yang datangnya dari prana atau ki, dan penyembuh merupakan sarana penyalur kuasa penyembuhan.

Ditinjau dari etimologi, istilah prana atau ki apabila dihubungkan kepada Teologia Perjanjian Lama, dari bahasa Ibrani ruah memiliki arti jamak yakni: Roh Allah (Kej.1:2), nafas hidup (Kej.2:7), Roh Kudus (Yes.63:10), roh-roh jahat/setan-setan (Ul.32:7). Perjanjian Baru, dari bahasa Yunani pneuma memiliki arti jamak, yakni: Roh Allah (Mat.12:28), Roh Kudus (Mat.1:20), Roh Kristus (Rom.8:9), Roh Yesus (Kis.16:7), Roh Kebenaran (Yoh.14:6), roh-roh jahat (Mat.10:1).

Para pakar dunia "Ilmu dan Seni Penyembuhan dengan Tenaga Prana" pada dasarnya membangun hipotesa mereka diatas pengertian istilah "prana" adalah energi vital atau tenaga hidup dan nafas kehidupan dari dunia mistik. Hal ini dapat dibuktikan dalam berbagai literatur, di antaranya salah satu pakar dalam dunia ini ialah Choa Kok Sui, ia mempraktikan penyembuhan dengan tenaga prana didahului pegalaman dan pengetahuannya dengan dunia mistik, pedukunan, dunia ramal, dunia yoga. Hal ini dinyatakan dalam bukunya "Ilmu dan Seni Penyembuhan Dengan Tenaga Prana, Sebuah Tuntunan Praktis". Dalam pendahuluan bukunya ia berkata: "Pengarang pada usia sangat muda telah sangat tertarik dengan yoga, fenomena psikis, mistik, ki kung Cina (seni mengumpulkan tenaga dalam)...da juga telah melakukan hubungan yang akrab dengan para ahli yoga, penyembuh, pewakita, praktisi ki kung Cina dan beberapa orang aneh yang mempunyai kontak telepati dengan guru spiritual mereka".

Penjelasan dan pemahaman di atas membuktikan, bahwa penggunaan istilah "prana" di dalam penyambuhan dengan tenaga prana dihubungkan kepada dunia mistik, dunia supranatural, bahwa dunia ini tidak berasal dari Allah di dalam Tuhan Yesus, melainkan datangnya dari roh-roh jahat, iblis, kuasa kegelapan (bandingkan Mat.10:1, Ef.6:11-12).



Tinjauan Teologis

Para pakar ilmu dan seni penyembuhan dengan tenaga prana meyakini, bahwa sumber utama "prana" dihasilkan dari matahari, udara, dan tanah/bumi. Bertolak dari pemahaman penggunaan istilah prana yang berpusat pada roh-roh jahat yang menyatakan kuasanya. Dalam hubungan dengan matahari, udara, dan tanah/bumi, firman Allah mengungkapkan, dimensi pemujaan kepada Rimon-Dewa matahari (lih.2Raj.5:18), pemujaan kepada Asytera-Dewi kesuburan tanah (2 Raj.23:4,6) dan melawan tipu roh-roh jahat di udara (lih.Ef.6:12). Dimensi ini mengungkapkan tabir kegelapan yang menggunakan unsur-unsur semesta (kosmos) memberi jaminan semu untuk bertindak dan menyamar sebagai "Malaikat terang" (lih.2 Kor.11:14) menjadi sumber utama prana. Dengan demikian, penyembuhan dengan tenaga prana kembali memperilah roh-roh jahat di udara (paham animis) dan ketergantungan pada kuasa dalam alam semesta (paham panteisme). 

Penjelasan di atas memberikan indikasi, bahwa penyembuh-penyembuh dengan tenaga prana menerima kuasa untuk membuat mujizat kesembuhan yang datangnya dari iblis, roh-roh jahat sebagai sumber pemberi kuasa, seperti yang dikatakan firman Tuhan: "Hal itu tidak usah mengherankan, sebab iblis menyamar sebagai Malaikat Terang. Jadi bukanlah suatu hal yang ganjil, jika pelayan-pelayannya menyamar sebagai pelayan-pelayan kebenaran. Kesudahan mereka akan setimpal dengan perbuatan mereka." (2 Kor.11:14-15).

Kelihatannya puncak dari pergeseran usaha manusia memperilah yang lain dan meninggalkan Penciptanya itu adalah usahanya memperilah "diri/aku" (self) manusia itu sendiri. Manusia ingin menjadi seperti Allah (bandingkan tipu daya iblis mulai dari Kitab Kejadian 3:5).



Pandangan Theologis tentang Tubuh Bioplasmik

Tubuh bioplasmik memainkan peran penting dalam penyembuhan dengan tenaga prana. Alasannya adalah, karena setiap orang dikelilingi dan dirasuki tubuh energi bercahaya yang disebut tubuh bioplasmik. Pandangan ini berarti menolak karya ciptaan Allah yang mulia terhadap manusia yang dinyatakan oleh Firman Allah: "Berfirmanlah Allah: Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, ... Maka Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya, menurut gambar-Nya diciptakan-Nya dia, laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka ... Ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk hidup." (Kej.1:26-27; 2:7). Allah tidak menciptakan dua bentuk tubuh bagi setiap orang seperti yang diungkapkan oleh para penyembuh dengan tenaga prana. Dengan demikian tubuh bioplasmik tidak dapat diterima sebagai pola untuk tubuh fisik.

Dari penjelasan di atas terbukti, iblis, roh-roh jahat memutarbalikan kebenaran Allah tentang penciptaan tubuh manusia menurut gambar dan rupa Allah. Rekayasa ini dimaksukan agar manusia meragukan iman mereka kepada Allah dan firman-Nya di dalam Tuhan Yesus Kristus.

Pokok kedua dari pengrtian tubuh manusia menurut Alkitab PB, bagi setiap orang yang percaya kepada Tuhan dan Juruselamatnya dinyatakan, "bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri. Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu (1 Kor.6:19-20). Pernyataan firman Allah ini sekaligus menolak pandangan "tubuh bioplasmik" yang dibangun oleh iblis untuk meragukan tubuh orang yang percaya kepada Kristus sebagai "bait Roh Kudus".



Praktik Penyembuhan Pranik dalam Terang Firman Allah

Para penyembah tenaga prana harus mengikuti latihan-latihan untuk memiliki kepekaan terhadap kekuatan dan kuasa tenaga "prana" yang dimilikinya, juga agar memiliki kepekaan akan kerusakan bagian dari tubuh bioplasmik yang berdampak pada tubuh fisik. Latihan ini tidak lepas dari dunia mistik dan relasi dengan pewastika/peramal/tukang sihir/petenung, maka "penyembuh pranik melibatkan penggunaan prana dan manipulasi bahan bioplasmik tubuh penderita" yang dalam praktiknya bergantung pada kekuatan "spiritisme" dan itu tidak lain dari dunia roh-roh jahat, suatu bentuk pemujaan kepada dunia roh.

Memperhatikan praktik penyembuhan yang pada prinsipnya sama dengan praktik akupunktur dan refleksiologi menunjukan, bahwa praktik penyembuhan dengan tenaga prana berdasarkan Ulangan 18:10-13 adalah suatu kekejian di hadapan TUHAN. Setiap orang yang beriman kepada Tuhan yesus dan meyakini Alkitab adalah firman Allah, haruslah dengan tegas menolak praktik ini. Orang percaya telah diingatkan oleh Tuhan Yesus dalam khotbah-Nya di bukit: "... bahwa banyak orang membuat mujizat bahkan demi nama-Nya namun hanya manipulasi semata-mata, pada akhirnya mereka ditolak dan tidak ada tempat dalam Kerajaan Sorga (lihat Matius 7:21-23).

Dari uraian diatas dapat disimpulakn (1) tenaga dalam sebagai kekuatan yang inherent dalam diri manusia (dunia yoga=prana=chi/zen=ki) disalurkan dalam praktik penyembuhan (2) ayat-ayat dari kitab suci dari berbagai agama di dunia digunakan sebagai doa, hal sinkretisme, dan dijadikan sebagai mantera dalam praktik penyembuhan (3) tidak diragukan lagi bahwa dunia penyembuhan dengan tenaga prana adalah praktik perdukunan atau tukang sihir atau 'orang pintar'.

Kesimpulah dari sudut iman Kristen (1) setiap orang yang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus dan meyakini Alkitab adalah firman Allah harus tegak menolak praktik ini (2) karena tubuh orang percaya adalah bait Roh Kudus untuk memuliakan Allah, maka apabila orang percaya yang telah masuk dalam praktik atau telah disembuhkan dengan cara prana, hendaklah ia segera minta didoakan oleh hamba Tuhan untuk dilepaskan dari ikatan tipu muslihat iblis (lihat Mat.18:18-19)


______________________________________________
"Tubuh Orang Percaya = Bait Roh Kudus" oleh Pdt. Yunus Leiwakabessy, M.Div dalam Majalah Samaritan Edisi 1 Tahun 1999.

Senin, 19 November 2018

Buah Roh atau Buah Daging

          Seseorang mengirim surat kepada Dr. Morris Cerullo. Dia menyatakan bahwa, penyakit kataraknya telah sembuh tanpa operasi dokter, tetapi dengan menggunakan doa yang dikirimkan oleh penginjil tersebut.1

          Seorang arsitek dari Toronto memberi kesaksian dalam ibadah di gereja Airport Vineyard. Ia telah sembuh dari keretakan pada tulang punggung yang mengakibatkan dirinya sulit bergerak dan harus istirahat kerja selama 4 tahun, karena telah didoakan dalam ibadah tersebut pada tahun lalu.2

          Di Indonesia, ada juga orang yang sembuh dari sakit-penyakit setelah menerima Holy Laughter. Ruth, tidak pincang lagi. Dan Kenny, tidak sesak napas lagi.3 Namun, ada seorang hamba Tuhan yang mendoakan supaya kakeknya sadar dari koma dan sembuh dari penyakitnya. Tapi kakek itu tak sadar dari komanya sampai meninggal dunia. Tujuh tahun kemudian, ayahnya terserang kanker. Setiap hari dia berdoa supaya ayahnya sembuh. Tetapi kanker itu merengut nyawa ayah yang dikasihi dan telah menjadi anak Tuhan itu.4

          Sama-sama sakit dan sama-sama didoakan oleh orang Kristen, mengapa ada yang sembuh dan mengapa ada yang tidak sembuh? Apakah yang sembuh telah menerima kesembuhan ilahi dan yang tidak sembuh tidak mengalami kesembuhan ilahi? 


Derita Sakit-Penyakit

          Sebelum melihat tentang kesembuhan Ilahi, perlu kita mengerti, mengapa manusia menderita sakit-penyakit. Ada beberapa prinsip dalam pokok Alkitab yang menunjukan akar dan penyebab semua penderitaan manusia, termasuk penyakit dalam dunia ini. Dalam Kejadian 1:31 dinyatakan bahwa "... Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik." Secara total "baik" artinya tanpa penderitaan, tanpa kesakitan, tanpa kejahatan dan tanpa tragedi.5 Tetapi dalam Kejadian 3:16-17 disebutkan tentang akibat dosa yang telah dilakukan manusia. Dari sanalah muncul kesakitan dan kematian. 

          Akibat dosa, mempengaruhi tubuh.6 Pada saat manusia mulai makan dari pohon yang dilarang itu, ia menjadi makhluk yang akan mati. Pencemaran yang mematikan mulai bekerja seketika itu juga. Kesakitan dan derita yang akan dialami laki-laki maupun wanita, timbul dari pelanggaran mereka.7 Ini tidak berarti bahwa setiap penyakit merupakan akibat langsung perbuatan dosa seseorang (Ayub 1,2; Yohanes 9:3; 2 Korintus 12:7). Maksudnya adalah pada hakekatnya, penyakit fisik dan mental merupakan akibat dosa Adam. Kita manusia sebagai keturunannya mengalami akibat tersebut. Dan dampak dosa bagi lingkungan jelas berubah. Semula mereka berada dalam lingkungan yang pali indah dan sempurna, kini terpaksa tinggal di lingkungan yang ganas dan tidak sempurna.8

          Jadi, tidaklah mengherankan bila di dunia ini sama sekali tidak ada orang yang memiliki kesehatan yang sempurna. Hal ini berkaitan dengan jatuhnya manusia pertama ke dalam dosa.9


Tentang Kesembuhan Ilahi

          Kita mengerti sekarang, bahwa derita sakit-penyakit adalah karena dosa manusia. Tetapi Allah itu baik (Roma 8:28-29). Yang disebut kebaikan itu bukan berarti orang yang telah menjadi umat Allah bebas dari sakit-penyakit. Kebaikan itulah maksud Allah, yaitu supaya kita menjadi serupa dengan gambaran Tuhan Yesus Kristus.10 Hal senada juga dinyatakan oleh Witness Lee.11  Dan maksud itu mendapat prioritas di atas segala sesuatu dan Allah tidak akan membiarkan apa pun mengganggu pekerjaan-Nya yang besar itu di dalam kehidupan seorang Kristen. Berati penyembuhan dapat ditunda... bahkan tidak disembuhkan.12

          Allah telah menjelma menjadi manusia, yaitu Yesus Kristus. Dia mati di kayu salib untuk menanggung dosa manusia dan bilur-bilur-Nya menyembuhkan manusia yang percaya kepada-Nya (1 Petrus 2:24). Penyembuhan dari Juru Selamat itu terutama dalam bentuk rohani, bukan jasmani.13 Penyembuhan dari kematian. Kita dahulu mati karena dosa (Efesus 2:1), tetapi penderitaan kematian Kristus telah menyembuhkan kematian kita sehingga kita dapat hidup dalam kebangkitan-Nya.14 Manusia akan mengalami bukan saja kematian fisik, tetapi juga kematian kekal. Namun kematian Kristus membawa kepada kehidupan kekal.15

          Manusia akan bebas dari derita dan sakit-penyakit pada waktu Kristus datang kembali (1 Yohanes 3:2). Maut dan penyakit akan dilenyapkan dari umat percaya untuk selama-lamanya (Filipi 3:20-21). Itulah kehidupan kekal.

Memang, ketika bertugas di dunia Tuhan Yesus juga menyembuhkan sakit secara jasmani. Tapi seringkali Dia menyuruh orang untuk tidak menyiarkannya (Matius 8:8, Markus 5:43, 7:36). Ini karena Tuhan Yesus sendiri tidak menghendaki orang-orang menjadi percaya hanya dengan tujuan memperoleh tanda ajaib dan mujizat.16  Dan dalam peristiwa tanda-tanda dan mujizat yang dilakukan-Nya, pertobatan dan iman tidak selalu mengiringinya. Ada kalanya pertobatan dan iman terjadi tanpa adanya tanda-tanda dan mujizat.17

          Bila Allah menghendaki penyakit sembuh, Allah bermaksud supaya orang itu menjadi serupa dengan Kristus. Allah menyembuhkan bisa melalui karunia iman, karunia kesembuhan atau melalui cara-cara medis. Jika orang Kristen sakit ingin beriman untuk kesembuhan, ia harus pasti bahwa Allah telah memberi iman itu kepadanya. Jika tidak memilikinya ia harus mencari pertolongan dokter, pertolongan medis telah disediakan Allah.. obat-obatan dan dokter (seperti Lukas) juga dari Allah.18

          Ada contoh tragis. Hobert Freeman yang tinggal dekat Fort Wayne, Indiana; mengajarkan bahwa Allah menghendaki penyembuhan semua penyakit orang-orang percaya, tanpa jasa medis (memaksa Allah dengan kehendaknya sendiri). Akibatnya, lebih dari 50 anggota 19 gereja termasuk bayi-bayi meninggal karena menolak jasa medis.19

          Jika Allah menghendaki kesembuhan melalui karunia penyembuhan, perhatikanlah I Korintus 12:4-12. Roh yang memberi macam-macam karunia adalah untuk kepentingan bersama (ayat 7), bukan untuk kepentingan golongan maupun penginjil tertentu. Karunia-karunia itu menyinggung persekutuan dan karena itu harus dipakai untuk kesejahteraan persekutuan itu sebagai keseluruhan, supaya karunia itu membawa keharmonisan dan Roh Allah memegang kendali secara berdaulat.20  Jadi Allah tidak bisa didikte atau disuruh, dan manusia tidak bisa memaksa-Nya dengan bergulingan, rebah, melompat-lompat apalagi tertawa tanpa kendali.

          Apabila Allah menghendaki penyakit tidak disembuhkan, Allah juga bermaksud supaya si penderita menjadi semakin serupa dengan Kristus. Fanny Crosby seumur hidup buta, namun menulis beratus nyanyian rohani, telah memberi semangat dan menghibur orang-orang Kristen. Begitu juga Ken Medema yang buta, mengubah derita penyakit menjadi puji-pujian akan kemuliaan Allah. John Milton, yang meski buta mengarang buku Paradise Lost, yang memuliakan dan memuji kebesaran Allah. Para utusan Injil seperti, David Livingstone, William Carey, Amy Carmichael dan sebagainya. Mereka menderita sakit penyakit, tetapi mereka menjadi semakin serupa dengan Kristus.

          Seorang rasul besar; Paulus, memiliki duri dalam daging yang kalau dirasakan mengganggu pelayanannya. Tetapi dengan itu hidup Kristus makin nyata dalam hidup dan matinya (Filipi 1:20).


Buah Daging atau Buah Roh?

          Prinsip ajaran Gerakan Zaman Baru beranggapan bahwa, manusia dalam dirinya mempunyai potensi untuk mengolah tenaga batin dan tenaga alam untuk dirinya sendiri dan dalam usahanya menguasai keberuntungan dan kesehatan dirinya.21

          Jadi kesehatan dan keberuntungan merupakan hasil usahanya dan untuk kepentingannya sendiri. Cara mencapai usaha ya, memakai caranya sendiri. Sedangkan yang ditekankan dalam ajaran Word of Faith adalah sehat dan makmur yang dilihat dan diukur secara lahiriah. Hidup yang berkelimpahan materi dan kesehatan yang sempurna adalah tujuannya. Di luar ini bukanlah kehendak Allah.22

          Di samping itu, manusia adalah alah-alah kecil sehingga mereka menganggap diri mereka memiliki sifat keallahan yang ditunjukkan dengan "kesembuhan pelepasan... kemakmuran uang, mental... fisik dan kemakmuran keluarga.”23

          Kemudian Vineyard Fellowship dengan ajaran Signs and Wonders menekankan, bahwa iman yang berhasil dibuktikan dengan tanda-tanda dan mujizat, tidak beriman. Jadi, ajaran-ajaran itu mengajarkan orang untuk mencintai dunia dan dirinya sendiri dan tidak menekankan sikap hidup berkorban dan memperhatikan sesamanya.

          Rasul Paulus menasehati orang percaya di Filipi dan relevan untuk orang percaya masa kini, bahwa tujuan umat Allah hidup di dunia adalah untuk memberi buah (Filipi 1:21-22). Karena terbatasnya tempat, berikut ini penulis kutip buah Roh Pentakosta (dari Kisah Para Rasul) dalam buku Toronto Blessing karangan Ir. Herlianto, M.Th. Buah-buah itu adalah:

1. Keberanian para rasul untuk bersaksi dan berkorban demi pemberitaan firman Yesus (1:8; 2:14; 4:13).
2. Mereka memberitakan pertobatan, penebusan Kristus, kebangkitan kebangunan Mesias (2:21-24; 31-32; 38; 4:12) dan menTuhankan Yesus (2:36)
3. Pelayanan para rasul disertai kuasa dan mujizat; terjadi kebangunan rohani yang menghasilkan pertobatan dan perubahan hati.
4. Mereka hidup dalam kasih karunia yang melimpah, tetapi tidak diukur dan dilihat secara lahiriah (4:33).
5. Mereka bertekun dalam pengajaran rasul (2:42).
6. Mereka hidup dalam persekutuan berjemaat, dibabtis dan perjamuan kasih (2:42).24

          Adalah kenyataan sepanjang sejarah umat manusia, mereka lebih terpikat akan sesuatu yang tidak biasa, dan sesuatu yang hebat.25 Begitu mendengar atau melihat sesuatu yang mengherankan dan lain dari yang lain, mereka mudah tergoda dan terpikat.

          Bila kesembuhan Ilahi adalah merupakan buah Roh, itu berasal dari Allah untuk membawa manusia menjadi serupa dengan Kristus. Kesembuhan itu bisa melalui karunia iman atau karunia menyembuhkan, juga melalui jasa medis serta obat-obatan. Dalam kesembuhan Ilahi, penderita masih bisa menderita sakit jasmani, karena yang terutama adalah sembuh secara rohani. Dan si penderita menang atas derita sakit penyakit dan hidup memuliakan Allah.

          Jadi, bagaimana orang yang sembuh karena hasil doa kiriman Dr. Morris Cerullo atau karena Holy Laughter, silahkan dinilai apakah kesembuhan itu merupakan buah Roh atau buah daging.



Sumber Acuan:

1. Bahana, Juni 1994, 70.
2.   "  , Mei 1995, 36.
3. Ibid.,  52.
4. Christianity Tiday, November 16, 1983.
5. Billy Graham, Hingga Harmagedon, 74.
6. Charles Ryrie, Teologi Dasar I, 294.
7. Thiesen, Teologi Sistematika, 281.
8. Ibid., 282.
9. Richard A. Sipley, Mengerti Kesembuhan Ilahi, 136.
10. Ibid., 105.
11. Witness Lee, Perjanjian Baru, 788.
12. Sipley, 106.
13. Graham, Roh Kudus, 258.
14. Lee, 1395.
15. Bibliotheca Sacra, January 1965, 50.
16. Herlianto, Toronto Blessing, 73.
17. Obid.
18. Graham, Roh..., 261.
19. Christianity Today, November 16, 1983; 13.
21. Herlianti, 76. 
22. Ibid., 32.
23. Ibid., 29.
24. Ibid., 30.
25. Graham, Roh ..., 256.
26. Herlianto, 76.


_____________________________________________
Buah Roh atau Buah Daging oleh Nanni. M. Priyono, S.Th
Dalam Majalah Samaritan Edisi 1 Tahun 1999.




Jumat, 02 November 2018

Sumpah: Suatu Janji yang Diikrarkan dalam Nama Tuhan

          Tulisan ini adalah uraian sederhana mengenai SUMPAH, yang dibagi ke dalam beberapa bagian, yaitu: Arti kata penggunaan sumpah, bolehkah orang Kristen bersumpah, dan tanggung jawab orang yang bersumpah. Judul di atas adalah juga merupakan tesis penulis dalam artikel ini, dengan keyakinan bahwa sumpah adalah suatu janji yang diikrarkan oleh seseorang dalam nama Tuhan.


Arti Kata dan Penggunaan Sumpah dalam Alkitab
          Dalam Alkitab berbahasa Ibrani, kata yang diterjemahkan sebagai 'sumpah' adalah kata "syevu'a" dan kata "ala" adalah kata yang sering muncul. Kedua kata ini menjadi suatu kata "Horkos" di dalam kitab berbahasa Yunani. Sumpah adalah suatu kutukan atas orang yang melanggar kata-katanya sendiri (misal dalam 1 Samuel 19:6). Sumpah seperti ini dikenal dengan sumpah serapah. Namun sumpah memiliki perluasan makna, yaitu seseorang yang mengucapkan suatu janji bahwa ia telah dan akan bertindak sesuai dengan yang diharapkan atau di ucapkan. Beberapa ahli (seperti A lelievre, Vocabulary of the Bible, 1985) berpendapat bila orang Ibrani (Israel) bersumpah atas nama Allah, maka ia berharap Allah untuk bertindak, atau 'mempercayakan kepada Allah tugas bertindak terhadap seseorang yang melakukan sumpah palsu atau kesaksian palsu.

          Dalam Alkitab, pembaca dapat melihat bahwa pengucapan sumpah dapat dilakukan dengan berbagai cara (lihat Kejadian 24:2-3; Ulangan 32:40) dan berbagai rumusan (Kejadian 31:50; Bilangan 5:22; Hakim-hakim 8:19, II Raja-raja 2:2; Yeremia 42:5; Matius 5:34-36, 23:16). Namun sering kali dampak-dampak yang mengerikan dari sumpah yang tidak dipenuhi dan tidak dikemukakan (II Samuel 3:9 namun lihat juga Yeremia 29:22). Dalam hukum Musa, sumpah menjadi sesuatu yang penting untuk diperhatikan (Keluaran 20:7; Imamat 19:12). Namun bangsa Israel tidak boleh mengucapkan sumpah demi dewa-dewa Kanaan (Yeremia 12:16, Amos 8:14). Alkitab memberitahukan bahwa Allah mengikatkan diri dengan umat-Nya dengan sumpah (Kejadian 1:24), juga janji-janji-Nya kepada Daud (Mazmur 110:1-4).


Dua Jenis Sumpah
          Dalam masa-masa selanjutnya (di masa modern) muncullah pembagian sumpah ke dalam dua jenis. Jenis pertama di sebut sebagai SUMPAH PROMISSOIR, dan jenis kedua adalah SUMPAH ARSSETOIR. Sumpah Promissoir adalah sumpah-sumpah yang mengandung janji-janji misalnya dalam sumpah yang dituntut dari seorang pegawai pemerintah pada waktu menduduki jabatan tertentu. Dalam sumpah ini seseorang berjanji bahwa ia akan melaksanakan tugas-tugas dan kewajibannya dengan sebaik-baiknya. Sumpah Assetoir adalah sumpah yang meneguhkan kebenaran suatu keterangan yang diberikan. Dalam pengucapan sumpah jenis ini, yang bersumpah adalah seorang saksi dari suatu perkara. Di sini ia di tuntut untuk mengatakan segala sesuatu yang diketahuinya dengan sejujur-jujurnya. Sumpah jenis ini dilakukan dalam perkara-perkara hukum pidana, hukum proses, hukum sipil, hukum tentara, dan hukum-hukum lainnya yang setaraf dengan itu.


Bolehkah Orang Kristen Bersumpah?
          Sampai hari ini, di kalangan Kristen, masih terdapat dua pemahaman yang berbeda mengenai boleh atau tidak mengucapkan sumpah. Pendapat yang memperbolehkan mengucapkan sumpah, memiliki landasan berpikir bahwa mengucapkan sumpah justru membuat orang menjadi serius dan berhati-hati, baik di dalam tindakan maupun dalam perkataannya. Sedangkan mereka yang berpendapat tidak boleh mengucapkan sumpah berdasarkan pendapat mereka terhadap pesan Matius 5:33-37. Dalam Matius 5:33-37 memang dikatakan bahwa "Seorang anak Tuhan tidak diperbolehkan untuk mengangkat sumpah". Tetapi maksud dari ayat tersebut adalah agar orang percaya jangan mengangkat sumpah dusta (sumpah palsu), atau usaha-usaha untuk mengganti kebenaran dengan mengangkat sumpah. Di dalam Alkitab Perjanjian Baru juga terdapat beberapa ayat (seperti dalam Matius 26:63-64; II Korintus 1:23; I Tesalonika 2:5), dimana Allah ditampilkan sebagai seorang saksi. Oleh sebab itu orang Kristen tidak disalahkan bila ia mengangkat sumpah, termasuk dihadapan pemerintah, asalkan orang tersebut tidak mengangkat sumpah bohong atau sembrono. Karena pada saat orang mengangkat sumpah, ia tidak menjadikan Allah menjadi seorang saksi. Sehingga pada saat ia mengangkat sumpah, ia harus benar-benar berada di dalam keadaan kebenaran dan kesadaran penuh (veritas in mente). Ia juga harus dapat membedakan mana yang benar dan yang tidak benar (iuscium in iurante). Serta, harus ada keadilan dalam penyeselaian perkara yang membutuhkan pengangkatan sumpah tersebut (iustitia in objecto). Itulah sebabnya diusulkan agar dalam pengangkatan sumpah tidak perlu menggunakan Alkitab. Kesetiaan terhadap sumpah harus dibatasi dan ditentukan oleh kehendak Allah. Tuhan tidak menghendaki kita mentaati sumpah secara mekanis, otomatis dan terpaksa, tetapi ketaatan kepada kewajiban dan pengakuan kita harus dibangun di atas kesadaran bahwa kita adalah hamba-hamba Tuhan yang harus mengabdi kepada Tuhan semata-mata dan menjadi hamba kebenaran.


Tanggung Jawab Orang yang Bersumpah
          Yehezkiel berkata bahwa orang yang mengingkari sumpah dapat dihukum mati (Yeremia 17:16), walaupun di dalam Kitab Taurat kesalahan ini dapat diampuni jika ia memberikan korban pengakuan dosa (Imamat 5:4; 6:1-4). Kristus mengajarkan bahwa sumpah mengikat (Matius 5:33). Kristus sendiri diperhadapkan ke meja pengadilan dengan sumpah (Matius 26:63). Demikian pula dengan Paulus, ia pernah bersumpah (II Korintus 1:23; Galatia 1:20). Itulah sebabnya dalam kehidupan sehari-hari orang Kristen haruslah memiliki kehidupan yang sama sucinya dengan ketika ia mengangkat sumpah. Setiap orang Kristen tidak boleh memiliki dua ukuran tentang kebenaran. Bila seseorang (termasuk orang Kristen) mengangkat sumpah namun ternyata ia tidak memenuhi kewajibannya (sumpah promissoir) atau menyatakan suatu dusta (sumpah assertoir), maka ia berarti telah menyebut nama Tuhan dengan sia-sia. Larangan untuk menyebut nama Tuhan dengan sia-sia ini dengan tegas diberikan oleh Allah dalam Keluaran 20:7, dan menjadi hukum yang ketiga dari sepuluh perintah Allah (dekalog). Bila seorang bersumpah, maka ia telah mengundang Tuhan menjadi saksi atas segala sesuatu yang diucapkannya. Sehingga apabila ia melanggar sumpahnya tersebut, bukan saja ia telah berdosa terhadap pihak (manusia atau lembaga) yang meminta sumpahnya, melainkan juga terhadap Allah, sebagai Saksi atas segala ucapannya itu. Selain itu, penggunaan nama Tuhan dalam sumpah berarti menggunakan nama Yang berkuasa. Oleh sebab itu tidak boleh digunakan secara sembarangan. Setiap orang yang mengangkat sumpah tetapi akhirnya melanggarnya, maka ia telah menginjak-injak kekudusan nama Tuhan, dan selanjutnya Tuhan akan memandangnya sebagai orang yang bersalah, yang akhirnya akan mendapatkan hukuman dari-Nya.

          Bila kita menyadari akan makna kehidupan ini, maka sesungguhnya setiap manusia hidup berada di atas 'sumpah'. Bukankah setiap manusia akan memberikan pertanggungjawaban kepada Allah (Pencipta) mengenai segala sesuatu yang kita lakukan (Roma 14:12). Bukankah setiap ucapan kita dapat memberkati tetapi juga dapat menjerat kita (Matius 13:36). Setiap bidang pekerjaan memiliki tanggung jawab masing-masing, bukan saja terhadap manusia (badan/lembaga/penguasa) tetapi juga (terlebih lagi) kepada Allah, walaupun tidak semuanya harus mengangkat sumpah (baik promissoir ataupun assetoir) dalam permulaan pekerjaannya. Kita mengambil salah satu contoh pekerjaan atau jabatan yang telah diambil sumpahnya sebelum seseorang menduduki jabatan tersebut, yaitu dokter. Setiap dokter telah disumpah untuk memenuhi kewajibannya dan tanggung jawabnya terhadap segala sesuatu yang harus dilakukan terhadap pasiennya. Semua tujuannya adalah untuk kebaikan si pasien, dan semuanya harus dilakukan secara profesional menurut standar profesi kedokteran tanpa memandang latar belakang si pasien. Apabila dokter ini, dalam kenyataannya tidak melakukan kewajiban dan tanggung jawabnya, walaupun disertai berbagai argumentasi, maka ia telah melanggar sumpahnya, dan oleh karena itu, ia akan mendapat hukuman atas perbuatannya. Mungkin banyak yang lolos dari hukuman ini, tetapi semua yang lolos itu hanya lolos dari hukuman manusia atau lembaga atau pemerintah/penguasa di bumi ini. Tetapi tidak demikian di dalam pengadilan Tuhan. Ia akan tetap diperhitungkan sebagai seorang yang bersalah karena ia telah melibatkan nama Tuhan di dalam pekerjaannya, dan karena semua sumpahnya itu telah diucapkannya dengan kesadaran penuh.


____________________________________________________
Sumpah: Suatu Janji yang Diikrarkan dalam Nama Tuhan oleh Poltak YP Sibarani
Dalam Majalah Samaritan Edisi 3 Tahun 1999.

Copyright 2007, Pelayanan Medis Nasional (PMdN) Perkantas

Jl. Pintu Air Raya 7, Komplek Mitra Pintu Air Blok C-5, Jakarta Pusat
Telp. (021) 3522923, 3442463-4 Fax (021) 3522170
Twitter/IG : @MedisPerkantas
Download Majalah Samaritan Versi Digital : https://issuu.com/samaritanmag