Rabu, 30 September 2015

Pekerjaan Anda : Berjalan di Atas Tanah yang Kudus

Membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak. - Yohanes 1: 27


Semuanya karena kaki. Dan sampai hari ini aku masih tidak tahu kenapa. Seperti biasa di Ruang Gawat Darurat di rumah sakit di Kota Nazaret, hari itu sibuk, panas dan panjang. Aku lelah dan karena bahasa Arabku masih terbatas, kelelahanku bertambah, hampir tak tertahankan lagi. Dalam keadaan begini ada kecenderungan yang makin besar untuk memperlakukan pasien seperti gumpalan daging saja. Mungkin itu sebabnya aku hanya melihat kakinya. Tidak berbeda dari ribuan lainnya yang pernah kulihat : berwarna coklat muda di dalam sandal kulit dan bertaburkan debu. Dengan mata hampa aku melihat celana jinsnya yang penuh serbuk kayu. Rupanya cuma seorang tukang bangunan atau tukang kayu lagi. Aku perhatikan pasien itu mengangkat tangannya yang terluka. Sambil menunggu perhatianku, satu kakinya bergerak dan selempang sandalnya bergeser sedikit, memperlihatkan bagian kulit yang warnanya lebih pucat karena luput dari sinar matahari.

Itulah saatnya! Tiba-tiba aku terhentak dan memandang seluruh tubuh orang itu. Ia yang berusia 30-an tahun, berambut hitam, seperti umumnya penduduk setempat, bisa saja seperti Kristus dan aku telah memperlakukannya dengan acuh tak acuh. Selanjutnya, sepanjang hari aku tidak ada lagi pasien yang kuanggap gumpalan daging, melainkan manusia. Manusia sebagai mahakarya yang telah rusak, diciptakan menurut gambar Sang Pencipta dan patut mendapatkan pelayanan dan perlakuan terhormat. Pencipta itu meninggalkan surga untuk memakai sandal kita di dunia nyata. Ia pun seorang dokter yang amat sibuk dan juga seorang pasien yang menunggu bantuan.

Apakah anda akan bertugas hari ini? Perhatikanlah langkah anda karena anda berjalan di atas tanah yang kudus. Perhatikanlah setiap wajah orang yang Anda jumpai dan Anda akan melihat sesuatu dari wajah Kristus. Perlakukanlah dari setiap mereka seperti Anda memperlakukan Dia, dan Anda akan mendapat kekuatan untuk melakukan pekerjaan terbaik anda di dalam nama-Nya.

Baca : Keluaran 3:5; Matisu 25:40

Dikutip dari :
Sumber Hidup Praktisi Medis

Pergilah, Jadikanlah Murid

Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai. - Yohanes 4:35


Di seluruh dunia saat ini, banyak gereja, baik yang baru maupun yang lama, mulai bangkit dengan pengalaman rohani yang baru dan penuh gairah. Namun, apakah kebangkitan ini diimbangi dengan peningkatan kegiatan, pekabaran Injil di dalam maupun di luar negeri?


Seorang temanku, setelah menjalani tahun-tahun yang sulit sebagai misionaris di Afrika, pulang kampung untuk menikah. Sekarang, sebagai janda berusia hampir 70 tahun, ia kembali ke rumah sakit tempat pelayanannya di Afrika. Bagi dia, kenyamanan di rumah, meskipun sangat dinikmati, "bukanlah hal yang paling penting". Baru-baru ini, dalam surat doanya dia bercerita tentang beban kerja yang makin berat karena staf lainnya pergi. Ia harus mengurus e-mail dan membayar gaji, menghadapi seorang pencuri, dan berurusan dengan pengadilan (karena dituntut oleh mantan staf mengenai gaji. Tapi tuntutan itu gagal). Selain itu, kegiatannya mengajar dan menelaah Alkitab mungkin dianggap lebih pas dengan bayangan kita tentang seorang "misionaris".

Temanku melanjutkan suratnya : "Dalam beberapa minggu mendatang kami akan kehilangan satu dokter lagi dari dua yang ada, dan seorang perawat berijazah dari tiga yang ada." (Seorang misionaris lain sudah waktunya untuk pergi, tapi kembali lagi). "Jadi, dari 4 pasang suami-istri dengan 9 anak dan 8 perempuan lajang yang ada ketika aku tiba, kini tinggal sepasang suami -istri dan 6 perempuan saja! Dulu Allah selalu bekerja dalam situasi seperti ini untuk meringankan beban kami. Kini kami selalu bertanya-tanya ... apakah ini cara Dia menunjukkan bahwa pelayanan ini akan segera berakhir? Namun, Mazmur 25:12 memberikan penghiburan kepadaku, "Siapakah orang yang takut akan Tuhan? Kepadanya Tuhan menunjukkan jalan yang harus dipilihnya."

Banyak orang bercita-cita bekerja di luar negeri, tapi tidak pernah terlaksana. Sementara itu orang lain berjuang memenuhi Amanat Agung yang diberikan Allah. Kenyataannya, pelayanan misi bisa berat-jadi siapa yang akan pergi? Anda, barangkali?

Baca : Matius 28 : 16-20


Dikutip dari :
Sumer Hidup Praktisi Medis

Jumat, 11 September 2015

Nyatakan Yesus Dalammu (Pdt. Erick Sudharma)


Dalam hidup saya ada 2 contoh pribadi yang setia menjadi saksi Kristus di Yerusalem. Pertama, ibu rohani saya, Dorothy Irene Marx. Usianya telah mencapai 90 tahun, tapi gairahnya untuk memberitakan Injil tetap menyala-nyala. Baginya, lingkungan seminari tempatnya mengajar adalah Yerusalemnya. Betapa sedih Beliau ketika dipensiunkan dari tugas mengajar karena kecakapan mengajarnya dinilai semakin merosot. Namun, Ibu Dorothy tidak berhenti memberitakan Injil. Tidak dapat lagi mengajarkan firman Tuhan secara formal di ruang-ruang kelas tidak berarti tidak dapat mengajarkannya secara nonformal di ruang tamunya. Yang penting Injil tetap diberitakan. Dan itulah yang dilakukannya. Beliau memimpin kelompok-kelompok penggalian Alkitab di rumahnya . Beberapa kelompok mahasiswa dan satu kelompok karyawan. Ia rindu mereka bukan cuma tahu tentang Yesus, tapi benar-benar mengenal Yesus dan diselamatkan. Mengapa Ibu Dorothy tekun memberitakan Injil? Saya pernah bertanya kepadanya. Sambil tersenyum, beliau menjawab, “Tuhan belum panggil saya pulang. Saya ingin segera pulang. Tapi Tuhan belum mau. Itu berarti tugas saya di dunia ini (yaitu memberitakan Injil) belum selesai.”


Contoh kedua adalah almarhum dr.Rudy Marangkey, saudara dan rekan seperjuangan kami di ladang misi. Rumah Sakit Santo Yusuf adalah Yerusalemnya. Bersama seorang dokter yang lain, dengan
setia ia melayani para karyawan dan pensiunan karyawan rumah sakit tersebut dengan mengadakan persekutuan mingguan. Dengan penuh kasih dan tanpa pandang bulu ia melayani pasienpasiennya.
Kadang-kadang ia harus mengoperasi pasiennya tanpa bayaran sepeser pun, karena sang pasien sangat miskin. Kadang-kadang ia sendiri yang menutupi biaya berobat pasiennya. Salah satu pasien yang pernah menikmati cinta kasih dr. Rudy adalah almarhum seorang ibu yang mengidap kanker stadium 4. Dia adalah istri kedua dari seorang laki-laki. Selama lebih dari 6 minggu ia dirawat di
Rumah Sakit Santo Yusuf. Dari hari ke hari, kondisinya semakin parah. Karena tidak sanggup lagi membiayai perawatannya, suaminya akhirnya meninggalkannya dan tidak pernah lagi menengoknya.
Keluarganya juga meninggalkannya, karena tidak mau ikut susah.Toh, secara medis kemungkinannya sembuh tidak ada. Yang tidak meninggalkannya dalam melawan kanker yang ganas itu, bahkan di hari-hari terakhirnya, justru sang dokter yang menanganinya beserta beberapa suster yang simpatik dengan kesetiaan sang dokter. Dr Rudy Marangkey. Entah sudah berapa rupiah yang dikeluarkannya untuk menolong sang pasien, supaya ia tetap dirawat dengan baik, sekali pun sebagai dokter dia paling tahu bahwa pasiennya sedang sekarat. Satu hari sebelum sang pasien meninggal, dr Rudy minta saya melayani ibu tersebut. Ia ingin saya memberitakan Injil kepadanya, supaya ia diselamatkan. Singkat cerita, sang ibu mau menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya. Surga bersorak-sorai. Esoknya, ia meninggal dengan tenang. Melalui pelayanan dr. Rudy, seorang ibu yang di sepanjang hidupnya merasa tidak dikasihi akhirnya boleh mati sebagai orang yang merasa
sangat dikasihi. Ia merasa sangat dikasihi oleh Tuhan melalui hamba-Nya, almarhum dr. Rudy Marangkey. Sekarang dr. Rudy sudah pergi meninggalkan kita. Artinya, tugasnya sudah selesai. Tapi tugas kita belum selesai. Maukah kita mengikuti teladannya?

Di dunia yang penuh cemar antara sesamamu
Hiduplah saleh dan benar, 
nyatakan Yesus dalammu
Nyatakan Yesus dalammu, 
nyatakan Yesus dalammu;
Sampaikan Firman dengan hati teguh,
nyatakan Yesus dalammu
Hidupmu kitab terbuka dibaca sesamamu;
Apakah tiap pembacanya 
melihat Yesus dalammu?
[Nyanyikanlah Kidung Baru No. 204 
“Di Dunia Yang Penuh Cemar”]



Pendeta Erick Sudharma
Alumni Tehnik Mesin Trisakti dan STT Bandung
Saat ini sedang studi MTh di STT Duta Wacana
dan melayani di
Gereja Kristen Muria Indonesia (GKMI ) Kudus

Komitmen Pelayanan Medis di Daerah Terpencil (dr. Herman Wibowo, M.P.H.)

Saya dilahirkan dan tumbuh dalam keluarga yang tidak mengenal Kristus, keluarga kami menganut ajaran Khong Fucius, dan masih ada abu leluhur yang dipuja. Hanya karena kasih karunia Allah yang telah menetapkan saya akan menjadi umat tebusan-Nya sebelum dunia dijadikan. (Ef.1: 4) maka melalui sekolah dasar dan sekolah menengah saya telah mengenal ajaran Kristen. 

Waktu saya menempuh kuliah kedokteran di UGM Yogya, dan saya bergereja di GKI Ngupasan dengan gembalanya adalah paman saya sendiri. Selama menjadi jemaat di sana saya sangat aktif dalam berbagai “pelayanan” dari guru sekolah minggu, komisi pemuda dan lain sebagainya, bahkan saya menjadi pengrus komisi. Meskipun berbagai kegiatan saya lakukan, namun saya tidak bersedia dibaptis, karena saya banyak dikecewakan oleh tokoh gereja dan para aktivis yang kehidupannya tak sesuai dengan Firman dan menjadi “batu sandungan” bagi saya. Hanya pesan paman saya yang mengubah keputusan dalam hidup saya:” to be the good singer for the beautiful song”.Menjadi pelaku Firman yang baik. Saya mau dibaptis dan menerima Kristus secara pribadi dan rindu untuk menjadi saksi Kristus yang baik, karena Alkitab yang berisi kebenaran Firman Allah, adalah lagu yang indah untuk diterapkan dalam kehidupan kita.

Selama pelayanan di GKI saya mempunyai 2 orang teman seangkatan ( dr. Timotius W. Dan dr. Yahya W.), dan kami bertiga memiliki kerinduan yang sama, bila satu saat kami lulus menjadi dokter ingin menjadi saksi bagi kemuliaan nama-Nya ke manapun Tuhan utus. Setelah lulus selama beberapa bulan saya berpetualang bekerja sebagai relawan, di beberapa Balai Pengobatan Kristen,
diantaranya: YAKKUM Solo dan Puwodadi, juga di RS Kristen Ngesti Waluyo, Parakan. Rupanya di sanalah Tuhan mempersiapkan saya untuk memenuhi panggilannya, sesuai dengan visi kami waktu masih kuliah, melayani di daerah terpencil.

Dipanggil ke Tentena
Panggilan ke RS GKST Tentena menjadi jawaban panggilan saya, maka saya menerima untuk diutus ke Tentena, pada awal tahun 1971. Lalu, saya menuju Makasar, mengikuti pelatihan bedah di RS Labuang Baji dengan mentor seorang ahli bedah dr. De Jong, dan tinggal di rumah kepalaRS Labuang Baji, seorang ahli bedah sekaligus hamba Tuhan yang setia dalam pelayanan, yang memberikan dorongan dan motivasi yang baik. Tentena, seperti yang digambarkan oleh dokter pendahulu saya, adalah tempat yang begitu indah dan nyaman. Namun, kondisi rumah sakitnya kotor, kumuh dan defisit, tidak ada obat dan sarana pelayanan yang layak, para perawat dan pegawai banyak yang menderita, karena gaji yang jauh dari mencukupi kebutuhan minimal mereka. Disamping itu,
ada perawat senior yang mendominasi klinik, sehingga melakukan “sabotase” agar pasien datang di tempat praktek pribadinya daripada ke rumah sakit. Administrasi yang kacau dan korup, keterlibatan pejabat gereja (Sinode GKST) yang terlalu jauh, menghambat kemajuan RS, bahkan menganggap Rumah Sakit sebagai salah satu “Sumber Penghasilan Gereja” dan bukan sebagai “Sarana Pelayanan
Gereja”. 

Bukan Demi Uang
Sementara itu, kondisi rumah dokter peninggalan dokter zending, merupakan rumah papan yang rapuh dan berlobang, sering ada ular yang melingkar di atap rumah. Perabot reot dan kotor. Waktu itu, “kota Tentena” tanpa listrik, kondisi jalan berbatu, untuk mencapainya dari Jawa- ke Palu dengan pesawat ( tidak ada penerbangan setiap hari), Palu Parigi dengan jeep melalui jalan bergunung yang
banyak kelokan dan jurang yang terjal, memerlukan 8 jam perjalanan, dari Parigi ke Poso dengan motor laut semalaman, dari Poso ke Tentena dengan mobil RS selama 6 jam atau lebih, walaupun jaraknya hanya 55 Km. Semua serba kekurangan, gaji yang hanya lebih besar sedikit dari gaji PNS (Pegawai Negeri Sipil), membuat awal karier begitu sulitnya. Akhirnya saya harus membuktikan diri bahwa saya datang bukan demi uang tapi merindukan pelayanan yang menjadi berkat bagi orang lain. Saya tetap bertahan dan menggunakan bekal obat yang saya bawa dari hasil tabungan istri saya dan
“meminjam” bukan “meminta” uang dari NHK untuk memulai pelayanan saya di RS GKST Tentena.

Di Tentena, penyakit infeksi dan kurang gizi menjadi masalah utama, dengan keadaan kekurangan pengetahuan bagi masyarakat setempat dan sarana kesehatan yang sangat minim. Kondisi Rumah Sakit dengan defisit anggaran yang cukup besar, karena pelayanan yang “buruk”, kunjungan kurang, kurang kepercayaan dari masyarakat, membuat saya benar-benar tidak tahu harus bagaimana
memulai memperbaiki Rumah Sakit ini. RS GKST harus diberi otonomi untuk mengelola keuangan dan manajemen mandiri. Status Rumah Sakit terhadap Gereja harus dibetulkan. Tempat tempat sumber “korupsi”, dapur, apotek dan bangsal perawatan diperbaiki.

Pembuktian kemampuan dalam kompetensi kuratif, untuk membangkitkan kepercayaan masyarakat, agar tidak lagi berobat ke dukun atau ke petugas kesehatan yang mencari keuntungan bagi diri sendiri. Kesejahteraan pegawai secara bertahap ditingkatkan, juga kemampuannya Karena dengan pertolongan Tuhan semata, maka semua hambatan dan masalah dapat diatasi, keberhasilan demi keberhasilan diraih. 

Kesehatan hanyalah salah satu faktor saja dalam Pembangunan Masyarakat, tetapi Kesehatan dapat merupakan “Point Of Entry” yang baik bagi upaya Pembangunan Masyarakat secara menyeluruh. Upaya Pembangunan Masyarakat Desa dimulai dengan 3 Desa Percontohan, menuai hasil pada awalnya, kemudian masalah timbul silih berganti sehingga terpaksa “dihentikan sementara” setelah kurang lebih 3 tahun, dan diganti dengan pendekatan yang baru melalui “Taman Gizi” yang akhirnya berkembang hampir kesemua Desa yang ada. Selanjutnya dibentuk Pusat Pelatihan Pengembangan Masyarakat Desa yang melatih kader2 untuk mengembangkan Desa -Desa yang ada.

Harga Sebuah Komitmen
Semua yang saya perjuangkan dengan pertolongan dan penyertaan Tuhan, meski kerja keras terfokus pada sasaran yang ingin dicapai untuk kesejahteraan masyarakat pedesaan, kadang membuat keluarga terlantar. Suami istri harus terpisah selama 3 tahun, untuk bekerja di tempat yang berbeda demi
kesejahteraan keluarga. Namun kasih karunia dan pemeliharaan Tuhan nyata, kami tetap bahagia di dalam penghiburan yang sejati dari Allah Roh Kudus. Sampai bisa menyelesaikan tugas di Tentena selama 8 tahun. Saya belajar, bahwa setiap panggilan memerlukan komitmen, dan komitmen memerlukan persiapan , dan setelah itu percaya dan yakinlah bahwa Tuhan akan memperlengkapi kita dengan “sempurna.” 

Dia akan beserta dan senantiasa menolong kita dalam segala masalah dan kesulitan yang akan kita hadapi. Karena Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu mereka yang terpanggil sesuai rencana Allah. Masa-masa saya bekerja di Tentena, merupakan masa yang “indah” yang tidak akan pernah saya lupakan, dan merupakan “ bukti penyertaan Tuhan yang tidak taranya”. Segala puji dan hormat bagi Dia yang telah memanggil dan menetapkan setiap umat-Nya dalam rencana agung untuk mendatangkan damai sejahtera bagi seluruh umat manusia.

Penulis:
Dr. Herman Wibowo .MPH
Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Gajah
Mada Yogyakarta, 1970
Tropen Institute , Master of Public Health , ICHD ,
Amsterdam Holland , 1979
Sudah pensiun 12 tahun yang lalu dan saat ini
Praktek Swasta di Palu serta aktif
di Gereja & Haggai Institute

Advokasi Untuk Perubahan (dr. Benyamin Sihombing, MPH)

Dari banyak kegiatan di bidang kesehatan masyarakat (publik), advokasi merupakan kegiatan yang sangat penting, ditujukan untuk merubah kebijakan atau paradigma dari pengambil keputusan. Perubahan ini kemudian diharapkan akan membawa keuntungan bagi suatu program tertentu demi
kepentingan masyarakat luas. Banyak teman yang bekerja di puskesmas saat PTT atau di klinik,
mengeluh - mereka frustasi, saat masalah program yang akan mereka coba atasi berada pada otoritas diluar atau diatas mereka, seperti camat, dinas kesehatan, sektor non kesehatan, bupati dan lain-lain.
Usulan atau upaya baik yang mereka ingin perjuangkan, tidak ditanggapi bahkan ditolak oleh pengambil keputusan. Biasanya ini segera menimbulkan reaksi dari teman-teman kita, mulai seperti:”tidak tahu prioritas”, ”tidak kompeten”,”tidak punya integritas” sampai pada: ”dikuasai kegelapan”. Sebelum kita ikutikutan menegakkan ”diagnosa” di atas dan ada baiknya lebih dahulu kita berpikir jernih tentang kemungkinan masalah yang sebenarnya.

Ada pihak/pejabat yang memang tidak kompeten dibidangnya atau tidak punya integritas, namun dari pengalaman saya, yang sering terjadi adalah bahwa pihak pengambil keputusan tidak mengerti latar belakang atau konten ”upaya baik” yang kita usulkan. Terkadang, penyebabnya adalah soal prioritas
yang lebih tinggi dari ”upaya baik” kita. Bisa juga dikarenakan kesibukannya, sehingga ”waktu” kita menyampaikan usulan tidak tepat. Kemungkinan lain adalah memang si pihak pengambil keputusan belum mengerti besaran masalah dan impaknya bagi masyarakatnya, sehingga tidak tahu prioritas. Namun dalam kasus ini memang tugas kitalah untuk memberi pengertian dan meyakinkan dia secara ilmu pengetahuan dan pengalaman. Hal lain adalah si pengambil keputusan sudah mempunyai
persepsi yang salah terlebih dahulu tentang ”upaya baik” yang kita gagas, sehingga memang
perlu usaha dan penjelasan yang persuasif yang tidak bisa hanya sekali saja, namun harus berulang-ulang. Seorang teman mengatakan ada 3 modal dasar penting untuk suatu advokasi yang berhasil, yakni kesabaran, kesabaran dan kesabaran. Tidak boleh terjadi, dimana kita bosan meng-advokasi pihak pengambil keputusan. Yang bisa terjadi adalah pihak pengambil keputusan menjadi ”bosan” dengan kita, sehingga akhirnya menyetujui usulan kita. 

Saya ingin membagikan upaya advokasi yang kami lakukan untuk mencoba menghilangkan diskriminasi terhadap orang yang pernah mengalami kusta (terminologi yang dipakai untuk pasien kusta yang sedang masa pengobatan dan juga yang telah selesai pengobatan namun mengalami kecacatan) baru-baru ini. Ada 2 musuh besar yang harus dihadapi dalam penanggulangan penyakit kusta. Pertama adalah kuman kusta (mycobacterium leprae) dan yang kedua, stigma terhadap kusta. Bukan saja stigma kusta yang tumbuh di masyarakat, tapi juga di kalangan petugas kesehatan sendiri.
Walaupun isolasi atau pengasingan secara fisik pasien kusta sudah tidak ada lagi saat ini namun
perlakuan diskriminatif masih terjadi dalam masyarakat. Mereka dijauhi teman dan kerabat karena penyakitnya, sulit menikah, ditolak bekerja, hasil produksinya tidak dibeli karena penyakitnya, ditolak menggunakan fasilitas-fasilitas publik. Fasilitas publik yang dimaksud termasuk fasilitas pelayanan kesehatan seperti rumah sakit dan klinik. Masih sering kita mendapatkan laporan dari teman-teman di lapangan, orang yang telah selesai pengobatan kusta namun cacat, ketika akan berobat penyakit umum (bukan kusta) di suatu RS/klinik, oleh RS/klinik tersebut, orang tersebut dirujuk ke RS kusta, yang jaraknya tidak dekat. Ada juga laporan bahwa orang yang cacat kusta ditolak secara halus untuk mendapatkan penanganan penyakit/kondisi umumnya di klinik, dengan alasan dokternya tidak ada atau ruangan sudah penuh; padahal kenyataannya tidak. Hal ini terjadi karena kurangnya informasi tentang kusta pada petugas kesehatan dan juga karena leprophobia
(takut berlebihan terhadap kusta) pada petugas kesehatan. Disamping itu, kita menyaksikan banyak rumah sakit kusta minim fasilitas untuk layanan pasien kusta, berbeda halnya dengan pasien-pasien umum. Upaya untuk memperbaiki masalah ini sudah dilakukan secara sporadis dan lokal oleh pihak dan organisasi yang prihatin, namun belum mendapatkan hasil seperti yang diharapkan.

Belajar dari hal di atas, kami membentuk sebuah forum yang terdiri dari organisasi/institusi pemerintah dan non pemerintah, untuk semakin merapatkan barisan dan mengarus-utamakan isu yang akan disuarakan yakni penghentian diskriminasi terhadap orang yang pernah mengalami kusta. Forum ini kemudian kami beri nama Koaliasi Indonesia untuk Inklusi Kusta (KITA). Kegiatan forumyang utama adalah advokasi, yang dalam masalah ini untuk merubah kebijakan pelayanan kesehatan ke arah yang tidak diskriminatif terhadap orang yang pernah mengalami kusta. Pada tahap awal penting untuk menentukan 2 audiences advokasi, yakni primary audience, pihak pengambil keputusan dan secondary audience, orang/kelompok yang bisa mempengaruhi si pengambil keputusan di atas. Dalam kasus kami maka primary audience adalah direktur rumah sakit/ manager
klinik, dokter, perawat di seluruh fasilitas kesehatan di Indonesia dan secondary audience adalah menteri kesehatan, organisasi profesi, dan institusi pendidikan dan lain-lain. Secondary audience
disini diharapkan akan merubah paradigma dan kebijakan lokal rumah sakit/klinik untuk menjamin
pelayanan yang tidak diskriminatif terhadap orang yang pernah mengalami kusta.

Agar gaungnya besar dan mudah dibaca masyarakat luas, maka strateginya adalah dengan membuat suatu Piagam Seruan Nasional untuk Mengatasi Kusta, yang berisikan dukungan anti-diskriminasi terhadap orang yang pernah mengalami kusta. Piagam ini kemudian ditandatangani oleh 14 ketua
organisasi/institusi kesehatan dan profesi, termasuk Menteri Kesehatan.Piagam ini akan diperbanyak untuk kemudian disebarkan di seluruh fasilitas kesehatan pemerintah ataupun swasta yang ada kasus kustanya. Mencari waktu untuk audiensi kepada semua secondary audience tidak mudah.Butuh
kesabaran untuk terus berusaha mendapatkan waktu mereka untuk bisa memaparkan latar belakang dan tujuan Piagam Seruan Nasional dibuat, sehingga yang bersangkutan akhirnya mau ikut menandatangani piagam tersebut.

Agar gaung Piagam Seruan Nasional ini semakin besar, maka pencanangannya dilakukan pada perayaan Hari Kusta Sedunia tahun 2012 di Kementerian Kesehatan dan isi piagam tersebut secara keseluruhan di iklankan di koran Kompas dan Media Indonesia sehingga dibaca secara luas oleh masyarakat terutama primary audience. Namun target bukan hanya sampai disini, karena target lain adalah advokasi langsung sekaligus sosialisasi isi piagam seruan nasional mengatasi kusta ini kepada pihak rumah sakit dan klinik. Disini peran organisasi orang yang pernah mengalami kusta, yang
merupakan anggota KITA, sangat sentral. Mereka adalah representasi pihak yang terdampak dari diskriminasi di pelayanan kesehatan selama ini, sehingga posisinya sangat kuat dalam menyuarakan isi Piagam Seruan Nasional tersebut. Mereka diterima dengan baik dan positif oleh pihak rumah sakit dan pesan advokasi pun dengan lancar mengalir. Sampai saat ini kegiatan advokasi dan disertai kegiatan penempelan piagam di rumahsakit dan klinik oleh petugas kesehatan dan organisasi orang
yang pernah mengalami kusta masih terus berlangsung di daerah-daerah. Sebagian besar kegiatan ini diliput oleh media sehingga masyarakat lebih disadarkan tentang isu diskriminasi kusta ini. Kesinambungan advokasi/sosialisasi isi piagam seruan nasional ini akan terus dipastikan supaya tidak redup ditengah jalan. Usaha lain, menyisipkan materi Piagam Seruan Nasional pada simposium ilmu
kedokteran/kesehatan, pertemuan rumah sakit, pertemuan dinas kesehatan dan lain sebagainya. Meskipun impak dari advokasi ini belum terlihat sekarang namun KITA optimis, melihat respon yang ada, upaya advokasi ini akan merubah paradigma petugas kesehatan dan kebijakan rumah sakit/klinik untuk memberikan pelayanan yang optimal bagi orang yang pernah mengalami kusta, sama seperti
masyarakat lainnya. 

Pengalaman saya pribadi advokasi membutuhkan kesabaran (untuk terus mencoba dan tidak selalu menyalahkan pihak tertentu), ke-rendah hatian untuk bekerjasama dan menerima perspektif dengan orang lain, berpikiran luas (think out of the box), kepekaan terhadap masalah yang dihadapi orang banyak dan ilmu pengetahuan. Bukan sesuatu yang mudah memang, namun saat berhasil itu akan
merubah kebijakan yang berdampak luas untuk kemanusiaan.

Dr. Benyamin Sihombing, MPH
Alumni Fak. Kedokteran Universitas Sumatera Utara
(1989 – 2006)
Master of Public Health course, National University
of Singapore (2008 – 2009 )
Saat ini Bekerja di Ditjen Pengendalian Penyakit
Menular dan Penyehatan Lingkungan, Kemenkes RI
& Neglected Tropical Diseases (NTD) Programme,
WHO Indonesia

Senin, 07 September 2015

11 Alasan Penting Orang Dewasa Harus Divaksin

Vaksinasi bukan hanya untuk bayi. Orang dewasa, terutama yang berisiko tinggi, juga memerlukannya. Kebanyakan vaksin dewasa diberikan tergantung dari usia, gaya hidup, faktor risiko medis, dan mobilitas.
"Vaksin bagi orang dewasa sama pentingnya dengan untuk anak atau bayi. Meski demikian, masih banyak orang dewasa yang belum mendapatkan vaksinasi lengkap sesuai yang mereka perlukan," kata William Schaffner, MD, presiden National Foundation for Infectious Diseases dan komisaris departmen pencegahan medis Vanderbilt University School of Medicine di Nashville.
Mengapa Anda Harus Divaksin?
Para dokter merekomendasikan vaksin tentu karena punya alasan kuat, yakni vaksin memberi setidaknya sebelas keuntungan seperti:


1. Anda mungkin tidak lagi terlindungi. Anda mungkin telah menerima vaksin lengkap semasa anak-anak. Tetapi beberapa jenis vaksin memerlukan booster jika Anda ingin tetap terlindungi. Perlindungan  untuk penyakit tertentu seperti pertusis (batuk rejan) atau tetanus, yang biasanya diberikan dengan toksoid difteri untuk seumur hidup. Untuk jenis vaksin lainnya, Anda disarankan mendapatkan booster yang kedua setiap 10 tahun setelah seri awal masa kanak-kanak


2. Anak Anda, terutama bayi yang masih terlalu muda untuk vaksin, ikut terlindungi. Vaksin batuk rejan dianjurkan untuk wanita hamil (usia kehamilan 27 dan 36 minggu) dan orang-orang yang sering melakukan kontak dengan bayi di bawah enam bulan. Hal yang sama berlaku untuk vaksin flu. Tidak ada vaksin flu untuk bayi kurang dari 6 bulan.  Karena itu, orang-orang di sekitarnya lah yang disarankan mendapat vaksinasi.


3. Beberapa vaksin ditujukan hanya untuk orang dewasa. Vaksin herpes zoster contohnya. Herpes disebabkan oleh reaktivasi virus cacar dan dapat menyebabkan ruam kulit yang parah dan menyakitkan. Risiko herpes zoster meningkat sejalan usia. Vaksin ini direkomendasikan untuk orang dewasa umur 60 tahun ke atas.


4. Anda perlu vaksin ketika  berpergian ke luar negeri. Sering melakukan perjalanan mancanegara? Anda mungkin menemui penyakit yang belum pernah Anda tahu sebelumnya. Vaksinasi demam kuning diperlukan untuk perjalanan ke bagian sub-Sahara Afrika dan Amerika Selatan. Pemerintah Arab Saudi mensyaratkan vaksinasi meningokokus - tapi hanya untuk perjalanan selama haji, atau ziarah tahunan ke Mekkah. Anda dapat memeriksa situs web Centers for Disease Control and Prevention untuk rincian tentang vaksin yang disyaratkan oleh negara-negara tertentu.


5. Setiap orang membutuhkan vaksin flu. CDC merekomendasikan semua orang usia 6 bulan ke atas mendapatkan vaksin flu setiap tahun jika mereka tidak memiliki alasan medis untuk tidak menerima vaksin. Vaksin flu dirancang untuk melindungi Anda dari tiga atau empat strain influenza yang paling sering beredar di musim-musim tertentu.


6. Sebagai contoh bagi anak-anak saat mereka beranjak besar. Bayi dan anak kecil tidak memilih untuk melakukan vaksin. Orang tua yang memilihkannya untuk mereka. Ketika mereka sudah besar, mereka bisa memilih untuk vaksin atau tidak. Jika Anda sebagai orang tua mendapat vaksin sesuai kebutuhan, kemungkinan besar anak akan menirunya juga.


7. Anda tidak mendapa  vaksin lengkap ketika anak-anak. Jika Anda tidak mendapatkan vaksin seperti campak, gondok, dan rubella atau cacar saat masih kecil, berarti Anda perlu melakukannya sekarang, saat sudah dewasa.


8. Beberapa vaksin baru dikembangkan sekarang-sekarang ini.Beberapa vaksin yang dianjurkan untuk orang dewasa, baru ditemukan sepuluh tahun belakangan ini, jadi pasti Anda tidak mendapatkannya ketika kecil. Misalnya, vaksin HPV dan herpes zoster pertama pada tahun 2006.


9. Anda bekerja di institusi layanan kesehatan. Penyedia layanan kesehatan rentan terkena segala macam infeksi, entah dari udara, air, alat kesehatan bekas pakai dan cairan tubuh. Karena itu, sebaiknya Anda mendapatkan seri vaksin lengkap, termasuk vaksin flu tahunan dan campak, gondok, rubella (MMR), dan hepatitis B.


10. Anda aktif secara seksual dengan lebih dari satu pasangan? Kalau begitu, vaksin hepatitis B sangat dianjurkan. Hepatitis B dapat ditularkan dari orang ke orang melalui kontak darah, air mani, cairan vagina. Hepatitis B 50-100 kali lebih mudah menular dibanding HIV. Pasangan Anda mungkin tidak terlihat sakit, tapi dia bisa saja berperan sebagai carrier  (pembawa kuman penyakit).


11. Anda memiliki asma, jantung, penyakit paru-paru, diabetes, atau penyakit kronis lainnya. Atau Anda merokok. Vaksin pneumokokus membantu mencegah penyakit serius seperti pneumonia, meningitis, dan infeksi darah yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus pneumoniae. Dapatkan vaksin ini jika kondisi imun Anda tidak sekuat orang lain karena alasan-alasan medis di atas.  

Sumber : Kompas.com

Berbalik Arah dan Jalan Lurus

Karena itu saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan, jerih payahmu tidak sia-sia. Ingatlah selalu akan Dia, ..supaya janan kamu menjadi lemah dan putus asa. -1 Korintus 15:58; Ibrani 12:3.

Artikel utama dalam majalah Mac Leans tanggal 16 April 1984, berjudul :Hidup dengan lebih sedikit seks". Setelah membaca artikel itu saya tertarik mengetahui bahwa Germaine Greer penulis buku "The Female Eunuch", telah menulis sebuah buku baru yang isinya secara umum bertolak belakang dengan buku0buku yang ditulisnya terdahulu. Inilah kutipan dari Sunday Times, "Pelopor seks telah berubah arah".

Berbicara tentang buku pertamanya, yang diterbitkan pada tahun 1970, Mac Leans mengatakan : "Greer dengan analisisnya bersemangat, mengatakan bahwa kaum pria telah memeras wanita dengan menyesatkan tenaganya untuk pekerjaan kewanitaan yang tak berguna." Dia berkata : "Wanita dapat memberontak dari keadaan yang melumpuhkannya ini dengan menentang perkawinan, keluarga dan pembatasan seks." Pelopor wanita yang paling keras ini menuntut agar tradisi kekeluargaan diakhiri dan sekaligus mengadakan penolakan akan badan yang paling agung yag ada dalam masyarakat  : Perkawinan, menjadi ibu dan agama.

Sekarang setelah 15 tahun kemudian, Greer tampak sebagai 'pejuang yang kecewa, dalam pengasingan penih dari medan perangnya'. Dia mengingatkan bahwa seks sudah menjadi hal yang biasa bagaikan jabatan tangan saja. Sekarang dia berpendapat bahwa dunia barat yang tadinya begitu bebas sekarang sudah mulai padam dan teknologi kontraseptif bukan mencari kebebasan pada wanita, malah membuat mereka menjadi pelacur kelas tinggi yang terus menerus mengorbankan kesehatan dan kesuburannya untuk seks. Sungguh perubahan arah yang luar biasa.

Tampak jelas bagi saya, dalam dunia yang seperti bunglon ini, dibutuhkan lebih banyak dokter Kristen baik secara perorangan maupun kelompok, untuk mengabarkan dan menunjukkan jalan seperti yang dikerjakan oleh Yesus, yaitu ada sesuatu yang kekal, tidak berubah, pemberian Allah, jalan yang bahagia, kestiaan dalam perkawinan, kebahagiaan menjadi ibu, kekeluargaan yang hangat. Semuanya ini jelas diajarkan dalam Firman Tuhan, begitu pula keindahan dan kesucian hubungan seks.

Bacaan selanjutnya : Ibrani 12:1-3
Dikutip dari :
Diagnose Firman

Afasia Musa

Lalu kata Musa kepada Tuhan : "Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara". -Keluaran 4:10


Kondisi yang melemahkan yang kita alami dari waktu ke waktu, yaitu afasia Musa. Inilah jawaban ketika Allah memerintahka padanya : "Aku mengutus engkau kepada Firaun untuk membawa bangsa-Ku orang Israel keluar dari Mesir". Musa jelas sangat takut pada Firaun. Dia mencoba taktik penundaan dengan bertanya, bertanya lagi. Tetapi Allah memiliki semua jawabannya. Musa berkata kepada Allah : "Ah Tuhan, saya tidak pernah fasih dalam berbicara, tidak dulu, tidak juga sejak Engkau berbicara kepada pelayan-Mu. Saya lambat dalam berkata-kata".


Datanglah jawaban Tuhan, Musa mengharap alasan afisianya (kita sebut saja demikian) dapat diterima, dan dia telah mengatakan sesuatu yang paling tepat. Namun dia telah membuat kesalahan yang besar. Tuhan berkata kepadanya : "Siapa yang telah memberikan mulut pada manusia? Siapa yang telah membuatnya tuli dan bisa? Siapa yang telah memberinya penglihatan atau membuatnya buta? Bukankah Aku Tuhanmu? Sekarang Aku akan menolongmu berbicara kepadanya dan menaruh kata-katamu di mulutnya; Aku akan menolongmu berdua berbicara dan mengajarmu apa yang harus kau perbuat".

Pertahanan Musa runtuh, afasianya tersapu. Ketakutannya akan Firaun hilang dalam kepercayaan diri yang baru, dalam Allah, yang jelas jauh lebih besar dari Firaun. Musa keluar untuk menjadi pemimpin yang terbesar dalam sejarah. Jika kita tiba-tiba terserang afasia Musa dalam situasi penuh tantangan, ada baiknya mengingat apa yang dikatakan Yesus pada murid-muridNya, ketika mereka berhadapan dengan masa depan yang mengecilkan hati (Lukas 12:12); "Sebab pada saat itu juga Roh Kudus akan mengajar kamu apa yang harus Kau katakan.

Allah yang kudus, ajarilah dan sentuhlah hati saya, lancarkan lidah saya, sehingga saya dapat berbicara tentang kebenaran dengan setia dan penuh kasih.

Bacaan selanjutnya :
Keluaran 3 dan 4

Dikutip dari :
Diagnose Firman

Saat Pertama Bertugas

"Apabila engkau berjalan melalui api, engkau tidak akan dihanguskan dan nyala api tidak akan membakar engkau." Yesaya 43:2

Saya teringat tugas pertama saya sebagai dokter jaga, seakan-akan baru terjadi kemarin. Segala luapan kegembiraan dan kemenangan setelah lulus ujian, terasa sudah lama terlewatkan. Yang tertinggal hanya kenyataan pahit, karena harus bertugas jauh dari tempat tinggal. Tanpa seorang pun kenalan, kecuali beberapa petugas yang diperkenalkan pada saya pagi itu. Saya satu-satunya dokter yang harus bertanggung jawab atas perawatan dari 30-40 pasien dan diantaranya banyak yang sakit parah. Sekalipun saya tahu bahwa saya dapat meminta pertolongan lewat telepon kepada dokter senior, tetapi itu hanya dapat mengurangi sedikit kegentaran saya yang mirip perasaan seseorang yang dilempar ke dalam kolam renang yang dalam, padahal baru belajar berenang. Ketika ada waktu luang, saya keluar dari bangsal rumah sakit, untuk menelepon beberapa teman di London, lalu membagi perasaan saya dan meminta mereka untuk berdoa. Saya percaya doa mereka telah dijawab, karena saya dapat melewati malam itu dengan selamat, sekalipun dengan tidur yang amat sedikit.

Menengok kembali kejadian itu, saya melihat persoalannya bahwa sekalipun secara teoritis saya sudah banyak mendapat pelajaran, tetapi sebetulnya saya sama sekali belum siap menghadapi kenyataan yang biasa dialami seorang dokter jaga. Saya kira keadaan akan menjadi sedikit lebih baik seandainya saya sudah dipersiapkan sebelumnya dan diperingatkan akan persoalan yang akan saya hadapi. Saya harap anda tidak sampai mengalami hal seburuk ini, kalau ini adalah pengalaman pertama. Tetapi jika (pada waktu membaca ini) keadaan anda sudah teramat berat, saya menganjurkan dua hal praktis untuk dilaksanakan :

  1. Kerjakan seperti apa yang telah saya perbuat, bagikan persoalan dengan teman sesama Kristen, baik secara pribadi atau lewat telepon. Mengetahui bahwa ada orang yang ikut memikirkan beban kita, sungguh amat menolong.
  2. Cobalah untuk melihat keadaan anda sekarang dari sudut kehendak Allah dan rencana-Nya untuk anda. Tidak mungkin Allah membiarkan anda jatuh dan tenggelam tanpa bekas.


Tuhan, diantara tekanan pekerjaan dan kekurangan tidur yang mungkin akan saya hadapi malam ini, tolong saya untuk tetap dekat dengan-Mu dan mempercayai-Mu membimbing saya melewatinya. Buatlah saya bertumbuh dalam kecakapan dan keyakinan diri namun tetap rendah hati.

Bacaan selanjutnya :
Yesaya 43 : 1-4; 1 Samuel 23:16; Roma 5:1-5

Dikutip dari :
Diagnose Firman

Rabu, 02 September 2015

A Dangerous Belief

Indeed he was ill, near to death ... Philippians 2 : 27

Some of the greatest disasters i have ever seen in the lives of Christians have stemmed from mistaken beliefs. And not uncommonly these beliefs are concerned with healing-or rather with its failure to occur.

Tim was a Christian who must have been born running. His zeal was incredible. During his leadership of our hall Christian Union, some dozen residents gave their lives to Christ in as many months, and many Christians whose lives were tangled up got straightened out again.

There are many tremendously exciting days. Yet through it all i was very concerned for Tim himself, since his zeal and enthusiasm so often seemed to deviate from Scriptual teaching, a prime example being his fervent belief that no Christian should ever be sick, or even have any symptoms of disease. All sneezes, snuffles and sore throats had their source directly from Satan and could-and should-be instantly rebuked and removed in prayer.

It is true that we do read of many miraculous healings in the Bible (significantly though, i think, always of serous disease). But equally we read of those who mere not healed in such a way, so far as we can tell. Probably the best known example is that of Timothy, who was advised by Paul to take some medication for his stomach complaint (1 Tim 5:23). But it seems that Epaphroditus also had illness (from which he nearly died), and although we read that God had mercy on him and he survived, there is no indication that any instantaneour healing occured.

Tim discovered the great danger of his unbalanced belief in no uncertain terms when he attended wedding one weekend, and quite spontaneously his intestine perforated during the reception and he was admitted for emergency suggery. I went to visit him in hospital, and i remember the saddest thing about it all was not the sight of the drips and drainage tubes running in and out of every orifice, but the fact that his faith had suffered a severe blow from which it never recovered. Instead of listening to what the Lord was saying to him through this crisis, he didn't want to know anymore. I wept for him.

I firmly believe that God can and does heal today by a wide variety of means, including the miraculous. But we must always remember that he is the Lord, and we have no right to demand or presume upon his healing power. Let us beware of the danger of an unbalanced view of healing that ultimately brings only hurt and misery in its wake.

Further reading : Phil 2:25-30, 2 Cor 12:7-10
(The Doctor's Life Support)

Copyright 2007, Pelayanan Medis Nasional (PMdN) Perkantas

Jl. Pintu Air Raya 7, Komplek Mitra Pintu Air Blok C-5, Jakarta Pusat
Telp. (021) 3522923, 3442463-4 Fax (021) 3522170
Twitter/IG : @MedisPerkantas
Download Majalah Samaritan Versi Digital : https://issuu.com/samaritanmag