Tampilkan postingan dengan label Testimony. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Testimony. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 September 2019

KAMP MEDIS NASIONAL ALUMNI, BUKAN HANYA

By: dr. Benyamin Sihombing*



Kamp Medis Nasional Alumni (KMdNA) tahun 2019 merupakan Kamp yang ke-12 yang sudah “berusia” 24 tahun sejak kamp sejenis dilaksanakan tahun 1995. Ini adalah sebuah kamp pembinaan sekaligus pengutusan dalam terminologi yang ada saat ini. Alumni yang datang dari berbagai tahun kelulusan, ada yang baru saja lulus (fresh graduate) dan ada juga yang sudah memasuki usia pensiun. Sangat beragam sehingga berbeda dalam kebutuhan pembinaannya dan berbeda kesiapan untuk diutus dalam misi. Sebagian alumni yang datang bukan sedang mencari tahu kemana dia bermisi, namun sedang menjalankan misi pengutusan ditempat dia berada saat ini. Walaupun sangat variatif kebutuhannya namun PMdN bersama panitia pelaksana sampai saat ini lumayan berhasil menemukan resep “makanan” pembinaan dan mengutus mereka kedunia atau bidang medis dimana Tuhan memanggil para alumni.

Namun bagi alumni yang mengikuti kamp medis alumni ini beberapa kali atau rutin, ada sesuatu tentang kamp ini yang lebih dari kamp pembinaan-pengutusan. Sebagai wadah pembinaan dan pengutusan, sudah pasti, tapi kalau ditanyakan apakah KMdNA adalah tentang itu saja? Sepertinya tidak, rasanya lebih dari itu. Mencoba merenungkannya dalam-dalam dan brainstorming dengan beberapa alumni, akhirnya menemukan keunikan kamp ini yang jarang diungkap secara lugas. Bagi alumni medis, kamp ini adalah wadah dan waktu yang tepat untuk “berhenti sejenak” dari segala pekerjaan dan pelayanan setelah 2 tahun. Tidak berarti bahwa alumni medis tidak pernah istirahat, tapi momen 2 tahunan ini merupakan saat tepat bagi mereka untuk benar-benar “diam dan diisi kembali (recharge)” oleh kebenaran Firman dan menikmati persahabatan rohani dalam keluarga anak-anak Tuhan. Kamp ini juga menjadi moment of reflection dimana alumni mempertanyakan dirinya ditengah tantangan dunia saat ini: “Dimana aku saat ini berdiri dalam misi Allah di dunia medis? Apakah aku bertumbuh dalam pelayanan dan persekutuan? Apakah semangat misiku masih tetap ada 2 tahun belakangan ini, 4 tahun atau 10 tahun belakangan ini?”. Banyak alumni medis yang sudah kehilangan semangat pelayanan, sadar bahwa Kamp ini bisa menjadi sarana untuk mengembalikan mereka ke trek yang benar. Banyak kesaksian alumni medis yang merasakan Tuhan mengembalikannya kepada semangat pelayanan seperti masa di Kampus dulu setelah mengikuti kamp ini.

Kamp ini juga adalah wadah persekutuan 150-200 anak-anak Tuhan dari berbagai daerah, jumlah rata-rata peserta KMdNA. Persekutuan bukan saja dalam pengertian sekedar kumpulan orang, tapi kumpulan anak Tuhan yang berinteraksi dalam kasih, saling berbagi hidup dan menerima, saling mendukung, menguatkan dan memberi jalan. Banyak kelompok sharing alumni yang diawali saat Kamp, berlanjut dengan aksi pelayanan/misi pasca kamp. Kamp menjadi tempat untuk membangun jaringan pelayanan dan kehidupan profesi. Banyak alumni-alumni muda yang masih bingung pimpinan Tuhan dalam bidang profesi medis akhirnya menemukannya dalam kamp ini; bukan hanya dalam bentuk nasihat tapi juga jalan untuk langsung berkarir di dunia profesi yang digumulkan.

Cukup banyak juga alumni yang khusus mencari momen sharing pribadi dengan senior yang dirasanya tepat di Kamp ini. Kebutuhan-kebutuhan khusus yang tak bisa terpenuhi dalam sesi-sesi, akhirnya terpenuhi lewat sharing one to one. Disinilah persekutuan yang saling membangun itu sungguh terasa dan disinilah alumni-alumni senior itu berperan besar dan selalu hadir walaupun kadang tidak mengisi acara sesi.

Kamp Medis Nasional Alumni adalah juga sebuah pesta rohani bagi alumni. Layaknya sebuah pesta,
banyak kegembiraan disana. Bertemu dengan teman pelayanan waktu masa di Kampus dulu, yang masih tetap semangat melayani, adalah kegembiraan besar. Senang, haru dan kadang tertawa terpingkal ketika ingat pengalaman melayani bersama masa lalu. Bertemu dengan teman peserta Kamp Medis mahasiswa atau alumni beberapa tahun sebelumnya, juga sesuatu sukacita besar. Kesemuanya ini menyemangati bahwa kita semua sedang berjalan dalam misi Allah untuk dunia dimana kita ditempatkannya. Tak ada persekutuan yang lebih indah daripada persekutuan anak-anak Tuhan yang secara bersama melakukan kehendakNya. Kamp ini adalah sebuah pesta bagi alumni peserta kamp dan juga bagi alumni panitia. Menyaksikan karya Tuhan dalam merancang sesi-sesi setiap kamp, mensinkronkannya dengan pembicara dan merelasikannya dengan kebutuhan pergumulan zaman dan alumni melahirkan kekaguman. Ada pembicara utama yang sudah menyatakan kesediaannya sebelum panitia Kamp terbentuk, namun ada juga pembicara yang dihubungi kurang lebih satu setengah bulan sebelum kamp berlangsung menggantikan pembicara utama yang sakit tiba-tiba. Namun alumni sama-sama terberkati lewat sesi-sesi yang mereka bawakan. Tangan Tuhan bekerja. Dia membuktikan diriNya yang memiliki pelayanan ini. Mengalami Tuhan menjawab keraguan panitia dalam hal dana kamp adalah kegembiraan, dalam hal pemenuhan kuota peserta adalah sukacita luar biasa. Kamp adalah pesta dimana doa-doa dijawab dan kegembiraan-kegembiraan itu dialami. Ini memang pesta.

Sulit untuk memasukkan Kamp ini kedalam “keranjang” yang ada, karena peran dan fungsi Kamp ini lebih besar dari terminologi yang ada saat ini; karena Kamp Medis Nasional Alumni ini adalah wadah
pembinaan, wadah pengutusan, sebuah rest area, wadah melakukan moment of reflection, recharge station, persekutuan besar, wadah networking dan tempat pesta rohani berlangsung. Kamp Medis Nasional Alumni adalah semuanya itu. Tuhan memberkati.

___________________________________________________
*Panitia Pengarah Kamp Medis Nasional Alumni (KMdNA) XII 2019

Senin, 30 November 2015

Tanya Tuhan Secara Pribadi

Apa makna hidup bagi dokter?
Jika saya bisa menjalankan kehidupan dengan apa yang saya yakini dalam tuntunan Tuhan. Hidup saya bisa berarti jika saya bisa menyelesaikan pekerjaan yang Tuhan percayakan, dan seperti kata Paulus, berlari terus dan menuju garis akhir. Hidup saya juga berarti, jika itu memberi arti untuk Tuhan dan sesama manusia. Dan apa yang berarti bagi Tuhan dan manusia, panjang sekali penjabarannya. Kita tidak harus menjadi superman atau wonder women, just simply be ourself dan Tuhan bisa berkarya dengan semua keberadaan kita.

Menurut dokter, “panggilan” itu apa?
Panggilan adalah sesuatu yang paling berharga. Seperti kata Paulus, tidak memusingkan hal-hal duniawi, kapan saya menikah, kapan saya punya anak, kapan saya punya rumah.. bukan berarti panggilan meniadakan kebutuhan lainnya. Panggilan bagi saya bagaimana God’s kingdom reign kemana pun Tuhan pimpin saya. Ketika baru tamat kuliah saya ter tarik dengan pelayanan unreached
people group dan ada kerinduan sendiri untuk membawa dan memperkenalkan Kerajaan Allah untuk kelompok masyarakat yang umumnya terbelakang dan tertinggal secara secara kasat mata maupun
spiritual. Menurut saya panggilan tidak pernah berubah, jika berubah itu bisa semata impian atau cita-cita. Panggilan yang terbesar sebenarnya adalah panggilan kita datang kepada Tuhan. Selalu ada kerinduan diri untuk ‘bertemu’ dengan-Nya. 

Alasan memilih karir seperti yang dokter jalani saat ini?
Sejak saya tamat kedokteran gigi, saya selalu tertarik dengan ide pengembangan masyarakat yang banyak dikenal dengan istilah pelayanan holistik atau menyeluruh. Selesai pendidikan, saya ikut program PTT daerah terpencil selama 4 tahun. Dua tahun setelah PTT saya mengelola klinik kapal keliling yang melayani masyarakat yang tinggal di sepanjang wilayah perairan sungai di Sumatera Selatan. Satu tahun saya ambil waktu untuk belajar non dental, lebih ke arah pengembangan profesional dari berbagai aspek lainnya, dan waktu belajar, yang paling berkesan yang saya pelajari adalah Community Developmentnya. 

Pada 2007 saya bersama dr. Kinari dari Amerika, dr. Romi Beginta dari Jakarta, memulai Program Kesehatan dan Konservasi Hutan. Saya melihat, masalah utama masyarakat, khususnya di daerah ter tinggal adalah kemiskinan dan rendahnya kualitas hidup. Dan satu penelitian menyatakan bahwa rata-rata anak sekolah tidak masuk minimal satu hari karena sakit gigi. Perawatan ke dokter gigi sudah tidak asing lagi adalah perawatan yang mahal, bahkan sering tidak masuk dalam asuransi. Hal ini tidak hanya di Indonesia, dari artikel saya baca di Jerman misalnya, kalau dihitung biaya per tahun total yang dikeluarkan untuk perawatan gigi lebih besar dari perawatan masalah jantung.

Melalui program insentip yang kami berikan, masyarakat dapat diskon yang besar jika mereka datang dari desa yang melindungi hutan dan jika mereka bayar juga ada pilihan non tunai, dimana mereka 
bisa bayar dengan bahan yang kemungkinan tidak berharga bagi mereka tapi kita bisa pakai untuk kegiatan penanaman hutan atau membantu progam pertanian organik di desa-desa, seperti sekam, kotoran sapi. Atau bisa juga bayar dengan menanam bibit yang membantu program penanaman hutan kembali yang sudah terdegradasi. Mencari solusi untuk kesehatan yang lebih baik tidak hanya menyediakan pelayan itu sendiri tetapi bagaimana masya rakat mendapatkan akses untuk dapat menikmati pelayan itu. Konservasi disini menjadi satu akses (jalan masuk) untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.

Apakah boleh berganti-ganti pekerjaan?
Apa yang menjadi dasar pertimbangan kita, saat kita mau beralih pekerjaan? Profesi tidak selamanya dapat kita jalani, tetapi selamanya kita dapat mengikut pimpinan Tuhan. Jadi kalau ditanya apakah boleh berganti pekerjaan, tanya Tuhan secara pribadi. Seperti Pak Dee Han pendiri RBC Ministry, satu momen dia sakit gigi dan harus opname, itu yang membuat dia beralih profesi dari dokter menjadi pemberita Injil. Yang menjadi dasar pertimbangan kita adalah kenapa kita memilih sesuatu yang baru itu, apa motivasinya. Kita semua bisa jujur dengan diri sendiri. Apakah benar ini untuk kemuliaan Tuhan atau ada motif lain yang kita munculkan untuk melegitimasi kita. Akhir-akhir ini, saya sering bertemu orang yang memiliki harta yang tidak bisa dihabiskan karena banyaknya dan karena itu mereka melakukan sesuatu untuk kesenangan saja - karena ada simpanan itu. Saya
yakin ‘simpanan’ kita dari Bapa di surga jauh lebih besar dari orang paling kaya di dunia dan karena itu just do your best and leave the rest to Him.

Bagaimana dokter melihat bahwa pekerjaan itu adalah panggilan Tuhan?
Tuhan bekerja dengan cara-Nya sendiri bagi tiap-tiap orang. Disitulah indahnya berjalan bersama Tuhan. Tuntu nan Tuhan membuat hal-hal yang besar maupun kecil dapat berjalan menuju sesuatu yang Tuhan sudah sediakan. Waktu saya baru pulang dari Inggris, ada tawaran progam yang cocok buat saya. Saya mendoakannya, dan minta petunjuk dari Tuhan juga. Sebenarnya saya ada rencana kembali ke kegiatan yang saya kelola sebelumnya, tetapi karena ada kendala administrasi dan manajemen, sehingga tidak ada kepastian kapan progam bisa berjalan lagi. Dan saya berdoa kalau benar itu, saya akan tunggu dihubungi saja. Dan ketika ditelpon saya mendengar ada kondisi masyarakat yang menjadi kerinduan saya, saya memutuskan untuk datang membantu. 

Bagaimana caranya bisa bertahan selama ini, dengan karir yang dokter emban?
Saya berusaha menjaga ketahanan fisik dan spiritual. Berolahraga teratur, makan sehat, juga menjaga hubungan pribadi yang teratur dengan Tuhan. Terbuka dengan ide baru dan berjejaring dengan banyak kalangan. Beri waktu yang seimbang antara pekerjaan dan istirahat. Untuk mengurangi stress, saya mengembangkan hobi menyanyi, masak, main futsal, badminton dan voli dengan teman-teman. Jika ada kesempatan saya coba menarik diri jauh dari tempat saya tinggal. Untuk retret atau menulis.

Pernah ingin “mundur” ?
Mundur?? Hmmmm... saya pernah mengalami depresi, dan itu membuat saya kehilangan minat terhadap apapun juga. Saya belajar bahwa depresi itu bukan sesuatu yang permanen, siapa saja bisa mengalaminya dan saya menerima diri saya bahwa itu terjadi, tetapi tidak menyerah dan percaya bahwa itu akan berlalu. Mendengar beberapa kesaksian tentang orang yang pernah mengalami depresi memberi keyakinan bagi saya bahwa saya akan pulih. Ketika bertemu orang lain dengan terbuka saya jelaskan kalau saya sedang depresi agar mereka memahani kenapa minat saya kurang.
Dan saya tahu ada banyak orang yang berdoa untuk saya. Tuhan memulihkan saya dan saya bisa bangkit lagi seperti burung rajawali. Pengalaman dengan depresi itu membuat saya semakin memahami dan mengasihi orang lain. Dan Puji Tuhan sekarang kalau itu memperkaya kehidupan saya. He turn my mourning into dancing, Dia rubah ratapan menjadi tarian. Terpujilan Tuhan.

Drg. Hotlin Oppusunggu,
bertugas di klinik ASRI, Sukadana, Kalbar.
Memadukan program kesehatan masyarakat dan perlindungan hutan, bersama rekannya asal Amerika Serikta, Kinnari Webb dan Romi Beginta berkomitmen mendirikan Klinik Alam Sehat Lestari (ASRI) yang siap melayani masyarakat 24 jam penuh. Atas perjuangannya, tahun 2001 Hotlin mendapat penghargaan Whitley Award oleh The Royal Princess, Putri Anne dari kerajaan Inggris.

Selasa, 06 Oktober 2015

Menjawab Panggilan-Nya

Ternyata, menjadi seorang dokter yang bertugas jauh dari asalnya, atau jauh dari keluarga dan teman ternyata sangat tidak menyenangkan. Terasa sekali tidak ada keributan dan kehebohan seperti ketika aku merasakannya di Manado. Tapi Tuhan membawaku ke kota ini, tempat yang tidak pernah aku bayangkan dan aku doakan sebelumnya. Tuhan mengubah semua rencana yang sudah aku susun dan "memaksa"ku untuk datang ke tempat ini. Tapi aku tidak dibiarkannya sendiri. . Awalnya memang menyebalkan karena harus menyesuaikan diri dengan berbagai keadaan...terbiasa dengan semua serba ada dan fasilitas lengkap sekarang harus down to earth, tapi untunglah aku telah menjalani semua pelatihan itu di MPF. Terimakasih untuk setiap pelayanan samaritan yang membantu aku untuk bisa beradaptasi dengan cepat.

Thanks God, aku belajar menjadi seorang mandiri dari yang apa-apanya tinggal minta dan tersedia sekarang harus mengurus diri sendiri, mulai dari makanan, cuci baju jemur, nyetrika, ngepel, sudah lama sekali tidak kukerjakan di rumahku di Manado maklumlah kesibukan rumah sakit (alasan klasik) sehingga semua kebituhanku di Manado tersedia dengan bantuan orang rumah jadi aku menganggap tempat tugas kali ini adalah waktu training dari Tuhan untuk mengubah hidupku jauh lebih baik. Suatu saat nanti ketika aku kembali ke Manado, kedua orang tuaku akan bangga dengan perubahan yang terjadi pada diriku.

Suatu waktu dalam perjalananku mengikuti bakti sosial pengentasan gizi buruk di desa Billa Oeekan, desa yang jaraknya sekitar 1,5-2 jam perjalanan darat dari Soe ke arah Atambua aku melihat pemandangan yang lebih parah lagi. Desa ini butuh perjuangan untuk sampai ke sana aku sempat mabuk darat dan ketakutan ketika mobil yang kutumpangi akan melintasi jembatan kayu yang aku gak yakin apakah jembatan itu bisa menahan beratnya mobil. Tapi sampai sekarang semua baik-baik saja. Desa ini sangat memprihatinkan. Sarana dan prasarananya jauh dari standar kelayakan. Hmm... apa karena aku tugas di ibukota sampai baru menyadari keadaan yang lebih parah dari itu. Desa yang tidak memiliki aliran listrik kecuali tenaga surya. 

Dalam perjalanan pulang dari desa itu aku merenung mengapa aku mau datang ke tempat seperti ini jauh dari kenyamanan dan kemewahan yang aku nikmati di Manado semua serba ada semua serba terlayani dan di sini? Kenapa aku mau menjadi dokter dan pergi jauh dari tempat kelahiranku, sana keluargaku, sahabatku dan pelayananku? Mengapa? Akhirnya kutemukan jawabannya bahwa itu demi "Menjawab Panggilan-Nya" aku tahu Bapa telah merencanakan semuanya untukku. Bapa yang membawa aku jauh dari tempat asalku ke daerah yang sangat membutuhkan pelayananku, daerah yang butuh belas kasihanku. Daerah yang kepadanya Bapa mengutus aku untuk memberitahukan kalau Bapa mengasihi daerah ini sama seperti Bapa mengasihi dan memberkati Manado kota asalku.

Tujuh tahun aku dibina di Fakultas Kedokteran. Aku terlibat dalam pelayanan penginjilan, inilah waktunya aku diutus untuk pergi. Ketika aku mengikuti Kairos aku berpikir kalau tugasku adalah melatih yang lain untuk pergi alias bukan aku yang berada di garis depan tapi Bapa berkata "Tidak" aku harus pergi! Dan kini aku menjalankan tugas-Nya entah sampai kapan aku mampu bertahan di tempat ini. Jujur ini bukan tempat yang nyaman dalam bulan ke-4 aku masih berusaha beradaptasi dengan keadaan, berusaha mengerti apa yang Bapa ingin aku lakukan lagi di tempat ini. Tantangan dan masalah memang ada dimanapun kita berada, tinggal bagaimana kita bertindak bijaksana dan menghadapinya bukan lari dari masalah.

Yang pasti aku akan mengikuti perintah-Nya. Kemana pun Kau pimpin, ke neg'ri yang Kau pilih, ini aku utuslah Tuhan dan aku akan pergi. "Untuk teman-teman MPF..setia dan sehatilah melayani Kristus..bekal pelayanan yang kalian jalani sekarang ini pasti berguna ketika kalian suatu saat diutus Tuhan untuk mengerjakan proyek-Nya yang jauh lebih besar."

Syalom,
dr. Angelica Wagiu
(Dikutip dari Majalah Samaritan, Edisi 2 Tahun 2008)

Jumat, 11 September 2015

Nyatakan Yesus Dalammu (Pdt. Erick Sudharma)


Dalam hidup saya ada 2 contoh pribadi yang setia menjadi saksi Kristus di Yerusalem. Pertama, ibu rohani saya, Dorothy Irene Marx. Usianya telah mencapai 90 tahun, tapi gairahnya untuk memberitakan Injil tetap menyala-nyala. Baginya, lingkungan seminari tempatnya mengajar adalah Yerusalemnya. Betapa sedih Beliau ketika dipensiunkan dari tugas mengajar karena kecakapan mengajarnya dinilai semakin merosot. Namun, Ibu Dorothy tidak berhenti memberitakan Injil. Tidak dapat lagi mengajarkan firman Tuhan secara formal di ruang-ruang kelas tidak berarti tidak dapat mengajarkannya secara nonformal di ruang tamunya. Yang penting Injil tetap diberitakan. Dan itulah yang dilakukannya. Beliau memimpin kelompok-kelompok penggalian Alkitab di rumahnya . Beberapa kelompok mahasiswa dan satu kelompok karyawan. Ia rindu mereka bukan cuma tahu tentang Yesus, tapi benar-benar mengenal Yesus dan diselamatkan. Mengapa Ibu Dorothy tekun memberitakan Injil? Saya pernah bertanya kepadanya. Sambil tersenyum, beliau menjawab, “Tuhan belum panggil saya pulang. Saya ingin segera pulang. Tapi Tuhan belum mau. Itu berarti tugas saya di dunia ini (yaitu memberitakan Injil) belum selesai.”


Contoh kedua adalah almarhum dr.Rudy Marangkey, saudara dan rekan seperjuangan kami di ladang misi. Rumah Sakit Santo Yusuf adalah Yerusalemnya. Bersama seorang dokter yang lain, dengan
setia ia melayani para karyawan dan pensiunan karyawan rumah sakit tersebut dengan mengadakan persekutuan mingguan. Dengan penuh kasih dan tanpa pandang bulu ia melayani pasienpasiennya.
Kadang-kadang ia harus mengoperasi pasiennya tanpa bayaran sepeser pun, karena sang pasien sangat miskin. Kadang-kadang ia sendiri yang menutupi biaya berobat pasiennya. Salah satu pasien yang pernah menikmati cinta kasih dr. Rudy adalah almarhum seorang ibu yang mengidap kanker stadium 4. Dia adalah istri kedua dari seorang laki-laki. Selama lebih dari 6 minggu ia dirawat di
Rumah Sakit Santo Yusuf. Dari hari ke hari, kondisinya semakin parah. Karena tidak sanggup lagi membiayai perawatannya, suaminya akhirnya meninggalkannya dan tidak pernah lagi menengoknya.
Keluarganya juga meninggalkannya, karena tidak mau ikut susah.Toh, secara medis kemungkinannya sembuh tidak ada. Yang tidak meninggalkannya dalam melawan kanker yang ganas itu, bahkan di hari-hari terakhirnya, justru sang dokter yang menanganinya beserta beberapa suster yang simpatik dengan kesetiaan sang dokter. Dr Rudy Marangkey. Entah sudah berapa rupiah yang dikeluarkannya untuk menolong sang pasien, supaya ia tetap dirawat dengan baik, sekali pun sebagai dokter dia paling tahu bahwa pasiennya sedang sekarat. Satu hari sebelum sang pasien meninggal, dr Rudy minta saya melayani ibu tersebut. Ia ingin saya memberitakan Injil kepadanya, supaya ia diselamatkan. Singkat cerita, sang ibu mau menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya. Surga bersorak-sorai. Esoknya, ia meninggal dengan tenang. Melalui pelayanan dr. Rudy, seorang ibu yang di sepanjang hidupnya merasa tidak dikasihi akhirnya boleh mati sebagai orang yang merasa
sangat dikasihi. Ia merasa sangat dikasihi oleh Tuhan melalui hamba-Nya, almarhum dr. Rudy Marangkey. Sekarang dr. Rudy sudah pergi meninggalkan kita. Artinya, tugasnya sudah selesai. Tapi tugas kita belum selesai. Maukah kita mengikuti teladannya?

Di dunia yang penuh cemar antara sesamamu
Hiduplah saleh dan benar, 
nyatakan Yesus dalammu
Nyatakan Yesus dalammu, 
nyatakan Yesus dalammu;
Sampaikan Firman dengan hati teguh,
nyatakan Yesus dalammu
Hidupmu kitab terbuka dibaca sesamamu;
Apakah tiap pembacanya 
melihat Yesus dalammu?
[Nyanyikanlah Kidung Baru No. 204 
“Di Dunia Yang Penuh Cemar”]



Pendeta Erick Sudharma
Alumni Tehnik Mesin Trisakti dan STT Bandung
Saat ini sedang studi MTh di STT Duta Wacana
dan melayani di
Gereja Kristen Muria Indonesia (GKMI ) Kudus

Senin, 08 Juni 2015

Kode Etik Profesi Dokter Rumusan Integritas Dokter

Secara pribadi saya berusaha terus memegang integritas. Menurut saya sebagai dokter, pada dasarnya semua profesi itu baik, termasuk profesi dokter. Hanya saja seorang dokter menjadi tidak baik kalau sekaligus juga seorang pedagang, artinya mengkomersialisasikan profesinya. Dokter yang berlaku sebagai pedagang, dalam arti kata cara-caranya, itu tidak baik. Anda tahu kan cara-cara pedagang? Bagaimanapun profesi dokter berhubungan erat dengan kemanusiaan, unsur kemanusiaannya menonjol. 

Banyak dokter melakukan 'pembelaan diri' dengan mengatakan : "Kita hidup di masyarakat. Karena itu tidak lepas dari pengaruh yang ada di masyarakat. Kita hidup perlu makan, perlu mobil." Tetapi tetap saja menurut saya, kalau kita membuat profesi kita sebagai pedagang, hal itu tidak benar. Memang ada perbedaan antara seorang dokter dengan pedagang. Saya mendapat tarif yang berbeda dari pasien yang saya rawat di VIP dengan di kelas IV, misalnya. Padahal perlakuan saya sama. Kalau pedagang kan tidak begitu? Saya sebagai pedagang akan menerapkan tarif yang sama kepada pembeli, tidak peduli kaya atau tidak.

Tentu saja saya sering mengalami konflik nilai (hal-hal yang bertentangan dengan kode etik/etika profesi sebagai dokter) ketika menangani pasien. Ada etika profesi dokter, yakni tidak boleh memberitahu rahasia penyakit pasien. Misalnya sebuah perusahaan yang karyawannya sakit meminta informasi penyakitnya kepada dokter yang memeriksa dan merawat karyawan tersebut, kami tidak boleh memberitahukannya, kecuali si dokter perusahaan meminta atas izin perusahaan yang bersangkutan. Atau kalau yang memeriksa pasien tersebut dokter perusahaan, boleh saja. Rahasia ini dijaga supaya pasien terlindung dan untuk menghindari dampak buruk si pasien, misalnya terancam dipecat, atau terisolasi. Rahasia penyakit juga tidak boleh diberitahukan kepada si pasien. Kenapa, supaya memudahkan proses diagnosa dan penyembuhannya. Kalau si pasien tahu dia mengidap penyakit tertentu, bisa saja dia shock lalu tidak mau (takut) memberitahukan dengan jujur apa yang dialaminya. Kecuali, si pasien memang menghendaki tahu penyakitnya. Itupun sebisa mungkin dihindari. Ini berlaku untuk semua jenis penyakit.

Sedemikian rupa harus dirahasiakan karena sudah merupakan sumpah kami sebagai dokter. Sebab antara pasien dan dokter harus erat hubungannya, supaya mereka bisa mengemukakan secara terbuka. Memang saya agak sering mengalami masalah dimana para dokter perusahaan meminta rahasia penyakit pasien/karyawan perusahaan tersebut. Kalau di luar itu tidak. Kalaupun harus dibocorkan, hanya hukum yang bisa melakukannya.
Saya tidak pernah disodori uang supaya membocorkan rahasia pasien. Kalaupun disodori akan saya tolak tegas. Yang sering saya alami adalah diminta membuat surat dokter fiktif. Misalnya seorang wanita yang sakit minta surat dokter, lalu kemudian dia juga minta surat dokter untuk suaminya. Nah ini yang saya tolak. Kepada anak saya pun saya tidak akan memberikan surat dokter kalau dia sakit. Kalau dokter saja tidak bisa dipercaya siapa lagi yang bisa dipercaya? Saya harus jujur mulai dari hal-hal yang kecil. Kalau sudah berdusta tidak baik. Sebab dusta itu, kalau dimulai dari yang kecil-kecil, maka akan terbiasa. Dusta itu kan termasuk dosa juga. Tidak ada bedanya dosa berbohong dengan mencuri. Kadang-kadang orang berpikir berbohong itu bukan dosa. Sebetulnya gampang saja kam membuat surat keterangan sakit? Bisa saja itu menolong pasien. Tapi kan itu seolah-olah menolong? Saya selalu berusaha untuk berjalan di rel yang benar. 

Sering saya disponsori oleh perusahaan obat/farmasi untuk menggunakan merek obat farmasi tertentu. Dan saya masih bergumul sampai sekarang, benar tidaknya kalau saya menerima sponsor itu? Yang paling nyata adalah kalau pada waktu saya mengadakan kongres, lalu pihak perusahaan farmasi itu datang pada saya dan mengatakan, "Dok, saya mau berpartisipasi dalam kongres sebagai sponsor." Mungkin dia lihat saya suka menggunakan obat mereka, lalu berusaha "mengikat" saya melalui tawaran sebagai sponsor. Nah, ini saya masih bergumul. Ini sogok atau bukan? Kalau jelas menyogok terus terang saya tolak.

Kalau ada istilah Kolusi, Korupsi, maka kini ada Kortusi. Kortusi itu ya, kejadian seperti yang saya alami. Karena saya sudah berbuat baik, lalu ada imbalannya. Misalnya, ketika saya merawat pasien, saya dari awal sudah menentukan tarifnya sampai sembuh. Lalu pasien itu memberi sesuatu sebagai ucapan terima kasih. Kan kortusi itu namanya?

Jelas tidak boleh ada hubungan kerja sama antara dokter dengan perusahaan farmasi, Hal ini melanggar kode etik. Dokter harus independen, tidak terikat kepada satu perusaaan farmasi apapun. Kalau memang obat itu berkhasiat dan cocok, silahkan dipakai. Kalau tidak cocok, tidak dipakai, ada atau tidak ada sponsor. Sikap saya menjadi demikian, jelas karena firman Tuhan dan doa. Saya berpegang pada ayat di Matius yang mengatakan, apa gunanya memperoleh seluruh dunia tapi kehilangan nyawanya? Saya punya titel dan kedudukan. Tapi apa artinya kalau saya masuk neraka? Saya meyakini bahwa kehidupan ini bukan hanya di dunia. Kita hanya musafir saja di dunia. Perjalanan  kita suatu saat akan terhenti. Tidak seperti falsafah orang Yunani yang mengatakan, marilah kita makan dan minum, berpesta pora sebab kita akan mati. Orang Kristen tidak seperti itu, sesudah ia mati akan ada kehidupan selanjutnya. Kalau kita besok mati, kita akan bersama Dia di sorga.

Menurut saya untuk seorang dokter dapat mempertahankan integritasnya ia harus mendahulukan kepentingan pasien. Itu yang utama. Dokter memiliki sederetan kode etik yang ditujukan untuk kepentingan pasien. Dokter harus memegang sumpahnya! Soal bagaimana integritas para dokter sekarang, khususnya dokter Kristen, saya tidak mau menghakimi.

Tapi saya pribadi ingin terus berusaha mempertahankan integritas.

Sebetulnya kami, pada dokter, tidak perlu mengejar integritas. Sebab, kode etik profesi dokter, yang disusun oleh Hipocrates, bapak kedokteran, itu sendiri merupakan rumusan dari integritas dokter. Dan isi kode etik profesi dokter sangat kristiani. Coba anda perhatikan rumusan-rumusannya. Dan inilah yang mendorong saya untuk semakin sungguh-sungguh sebagai seorang dokter.

Secara pribadi yang saya lakukan agar tetap memiliki integritas adalah pertama, harus memiliki hubungan pribadi yang khusus dengan Tuhan melalui waktu teduh. Tapi tuntutan ini tidak harus dari seorang dokter, setiap orang yang mengaku Kristen pun memiliki hal ini. Memiliki hubungan pribadi dengan Tuhan itu penting. Saya pernah bekerja sampai jam 11 malam, sehingga waktu teduh tidak ada. Seolah-olah saya bekerja demi pasien saya. Namun saya akhirnya berpikir, saya ini melayani Tuhan atau melayani pekerjaan?Janganlan memiliki waktu dengan Tuhan, untuk keluarga saja tidak ada.

Kedua, membaca firman Tuhan. Ini saya lakukan antara lain melalui kebaktian keluarga di rumah setiap pagi sekitar pukul 6. Jadi kalau anda telepon ke rumah pagi-pagi tidak akan dilayani. Kedua hal tersbut sangat menolong saya pada saat mengalami persoalan-persoalan, pada saat ada godaan, baik itu godaan materi, dll. Melalui firman Tuhan yang saya nikmati setiap hari saya diingatkan ketika mengalami tantangan untuk berbuat kesalahan. Selain itu di sini saya juga terlibat dalam Forum Komunikasi Dokter sebagai wadah persekutuan kami, para dokter.

Salam sejahtera,
Prof. DR. Karmel Tambunan
Dikutip dari Majalah Samaritan No. 2 Juni-Juli 1999

Rabu, 10 Desember 2014

Tetap Beriman dan Komitmen

Dunia kerja - bagi sebagian besar alumni baru - tidak terkecuali bagi para dokter-dokter baru, sah jika dibayangkan sebagai tempat yang penuh godaan dan tantangan, yang jika tidak kuat beriman dapat tergelincir ke dunia rawa paya. kenyataannya memang demikian. dunia kerja, sebagaimana dunia yang kita diami saat ini, banyak menawarkan dan menyajikan segalanya yang menguji iman.

Dokter Yusak Mangara Tua Siahaan, Sp. S, yang dikenal dengan panggilan Yusak, sudah menyaksikan perbedaan saat ia ber-PTT. Suasana dan kondisi waktu mahasiswa sangat berbeda dengan dunia kerja, katanya, sewaktu mahasiswa ia tinggal dalam lingkungan "rohani". Selain di kampus, ia juga bertemu teman-teman di persekutuan. "Kalau ada masalah teman-teman pasti ada yang nolong.Namun sejak PTT enggak bisa. Mesti ngurus sendiri. , "kenang alumnus FK Trisakti ini yang menyampaikannya pada Luther Kembaren dari Samaritan. 

Ia merasa sebagai single fighter ber-PTT di kabupaten Sintang, Kalimantan Barat. Pemahamannya tentang kekudusan dan kebenaran berbeda dengan lingkungannya. Di saat itulah ia diuji. Salah satu contoh yang disampaikan bapak 2 anak ini adalah soal pengelolaan keuangan yang tidak beres di puskesmas. sewaktu di puskesmas, uang luar biasa banyak, katanya. Bahkan bantuan Jaringan Pengaman Sosial masuk ke nomor rekening dokter. 

Menurut dokter yang mengambil spesialis di FK Undip, Semarang ini, memang itu merupakan kesempatan mencari uang sebanyak-banyaknya. Apalagi jika mengingat waktu kuliah sudah mengeluarkan yang banyak. Tapi, Yusak memilih tetap mempertahankan idealismenya. Ia bisa seperti itu, kata neurologist di RS Siloam Gleneagles ini, karena bekal pembinaan yang didapatnya sejak mahasiswa. Hubungannya dekat dengan Tuhan, maka ia mampu bertahan, tidak ikut arus. 

Pengalaman lain yang berkesan bagi Yusak semasa ia PTT adalah ketika ia difitnah mengambil uang. Seluruh pekerja di Puskesmas menganggapnya makan uang. Ia tidak membela diri, ia hanya menjelaskan duduk persoalan yang sebenarnya. "Kalau saya mampu menahan fitnah, itu semata karena Tuhan," ungkapnya.

Masalah uang juga jadi tantangan tersendiri bagi dokter Karuniawan Parwantono, SpBO, ahli bedah orthopedik di RS PGI Cikini. Waktu itu ia PTT di Pulau Seram, Maluku Tengah. Ada dari Direktorat Kesehatan melakukan inspeksi ke Puskesmasnya. Mereka melakukan audit. "Tapi saya tidak memberikan uang sepeserpun," tukasnya. Karena itu laporan dibuat kacau oleh mereka. Ia pun dipanggil Kakanwil. Ia menjelaskan semuanya dan kemudian dicek. "Terbukti tidak ada kecurangan. Sempat kesal juga dipermainkan seperti itu," sambungnya terus terang pada Luther dari Samaritan. Bagi ayah empat anak ini, meminimalkan konflik bukan berarti kompromi.

Bukan itu saja pengalaman ber-PTT yang dirasanya sebagai tantangan, tapi juga bagaimana mesti bisa menerima program yang tidak jalan, bahkan mengalami ketidakcocokan padahal ia ingin menerapkan program Depkes. "Banyak memang pengalaman yang saya dapatkan di sana. Saya pernah mendoakan seorang ibu yang kesurupan. Waktu itu saya ingat hanya cerita di Alkitab, bagaimana Yesus menyembuhkan. Saya melakukan, dan ibu itu sembuh," ceritanya.

Kalau ia bisa menerima semua pengalaman itu dengan tetap memiliki idealisme, kata Kurniawan, itu karena nilai-nilai kebenaran yang didapatnya sewaktu ikut persekutuan semasa ia mahasiswa di FK-UI. Sejak mahasiswa ia mengaku, selalu mengandalkan Tuhan, meskipun teman-temannya banyak mengandalkan kemampuannya sendiri. Persekutuannya dengan Tuhan itulah yang dirasanya menjadi bekal ketika ia harus ber-PTT di tempat yang terpencil.

Memegang Prinsip
Bahwa bekal pembinaan semasa mahasiswa menjadi semacam obat agar tidak tergelincir dalam tantangan iman, bukan hanya berlaku kala seorang dokter ber-PTT. Karena ujian iman akan terus berlangsung. Juga saat tengah mengambil spesialis. Ini yang dirasakan Yusak. Saat menempuh ujian banyak rekan-rekannya yang menjiplak literatur penelitian. "Kadang senior punya kebiasaan jelek. Kalau punya nilai-nilai bagus, dicibir. Saya bisa memahami hal ini, itu mereka lakukan bukan karena membenci hanya karena mereka tertinggal saja." ia mencoba arif.


Dengan menjadi dokter , tantangan iman dalam bentuk lain akan muncul. Yusak bercerita kalau ia pernah didatangi pasien untuk menggugurkan kandungan sambil menangis. Perempuan itu masih muda, ia datang dengan lelaki paruh baya. Mereka mengaku paman dan keponakan.  Menurut kedua orang itu, mereka akan dibunuh kalau orangtuanya tahu bahwa anaknya hamil. "Jadi mereka minta saya menggugurkan kandungan perempuan itu. Saya sempat bingung. Mereka juga menawarkan duit yang banyak. Lantas saya bilang dari segi etika Kristen tidak diperbolehkan menggugurkan kandungan dan dari segi medis juga dilarang!" tegasnya menolak.

Memasuki dunia kerja diakui Yusak modalnya hanya iman dan komitmen. Di kalangan teman seprofesi yang tidak seiman iapun kadang mengalami beda pendapat. Tapi ia tetap memegang prinsip. Prinsip yang dipegannya adalah, dokter harus mau terjun ke lapangan agar dihargai masyarakat. Dokter harus bisa mencerminkan teladan. "Di daerah PTT, dokter lebih cepat didengar dari pendeta," pendapatnya lagi.

Memegang prinsip juga terdengar dari lontaran pendapat Karuniawan. Baginya profesinya sebagai dokter hanyalah alat. "Upayakan melalui kesembuhan seseorang dapat mengenal Dia," tegasnya. Jangan sampai kita mencuri kemuliaan-Nya. Di samping itu, masih katanya. Kita harus percaya kehidupan ini dipelihara oleh uhan. Itu diamininya makanya ia tidak takut pada masa depannya termasuk keluarganya, sebab Tuhan yang urus. "Tuhan lebih pintar dari kita!", tandasnya.


Dikutip dari :
Majalah Samaritan Edisi No. 4 Tahun 2003

Selasa, 30 September 2014

Yang tersisa dari perjalanan KMdN 19 Bali…


Saya cukup familiar dengan perasaan yang saya bawa saat meninggalkan arena kamp medis. Setelah 6-7 hari berkumpul dengan sekitar 300 mahasiswa, berjuang, berbagi beban & keluhan dengan panitia pelaksana, ada rasa kesepian yang mulai menguasai. Kali ini saya mencoba menuangkannya dalam bentuk yang lebih bermanfaat, yaitu dengan membuat sebuah catatan kecil yang saya harap bisa selesai begitu pesawat ini mendarat di Bandara Soekarno-Hatta.


Saya dan rekan-rekan panrah menghadiri kamp ini dengan ketibaan yang berbeda namun pulang pada hari yang sama, hari minggu sore, 17 Agustus 2014. Lebih dari sekedar lega karena kamp sudah selesai, kami semua sungguh bersyukur diijinkan untuk menyaksikan Tuhan bekerja dengan caranya sendiri, jauh di atas ekspektasi kami melalui panitia pelaksana yang relatif hanya segelintir jumlahnya.

Malam pertama di BITDeC kami lalui dengan menyantap nasi bungkus dan ikan bakar, dan dr. Giles jauh-jauh dari CMF Inggris harus belajar makan dengan jari-jarinya tanpa sendok & garpu. Wisma dengan kamar tidur berkapasitas 12 bed/kamar dan kamar mandi yang bisa menampung 40 orang untuk mandi secara bersamaan, terasa sangat sepi karena luasnya lokasi dan tersebarnya kamar-kamar yang ada. Dokter Susan dan rekan-rekan panitia pelaksana mulai tampak sibuk, namun kelelahan tampak jelas di wajah mereka, namun tidak pernah kehilangan sense of humor mereka. Kekuatiran yg tidak saya ungkapkan, namun mungkin terbaca oleh Susan, yang sedang menjalani terapi untuk SLE nya, adalah bahwa beban kerja & stress yang berat dapat membuat berbagai gejala penyakitnya kambuh. Puji Tuhan atas pemeliharaanNya kepada hambanya ini.   
  
Senin, 11 Agustus 2014, dimulailah Konsultasi Nasional Pelayanan Medis (KNPM), yang dihadiri oleh 50-an peserta, dari 14 daerah, 20 PMK dan 2 PMdK. KNPM berlangsung dengan sangat kondusif, para peserta, yang merupakan orang kunci masing-masing PMK mulai cair dalam persekutuan dan dengan cepat menyesuaikan diri dengan padatnya jadwal pertemuan dan diskusi, sehingga meskipun waktu sudah larut malam, peserta tidak menunjukkan tanda-tanda kelelahan dan terus bersemangat membahas kondisi persekutuannya dan memberikan masukan-masukan berharga untuk setiap tahapan P1-P4 yang mereka lalui. Sementara kami sibuk mengurusi KNPM, dr. Giles sama sekali tidak ingin mengganggu kami, dia mempersiapkan eksposisi dengan serius dan mengatasi kejenuhannya dengan jogging ke Pantai Nyanyi. Kehadiran dr.Wei Leong dari  CMF Singapore menambah keceriaan kami, karena sikapnya yang mudah menyapa dan menyesuaikan diri dengan kondisi wisma. 

Selasa, 12 Agustus 2014, inilah ujian yang sesungguhnya, karena begitu KNPM ditutup pukul 13 siang, maka KMdN pun akan segera dibuka pada pukul 16.00. Hal menarik kami amati bahwa tidak tampak hiruk pikuk panitia yang berarti, yang kelihatan hanya sejumlah  walkie talkie yg tidak berhenti bersuara digenggaman panitia pelaksana yang didukung penuh oleh para volunteer dari fakultas lain. Kami bersyukur KNPM ditutup dengan menghasilkan sejumlah komitmen dari masing-masing PMK untuk memperkuat proses P1 – P4 di kampusnya dan jejaring antar kampus dan kota yang tidak hanya muncul dalam bentuk wacana namun berupa rencana kerja yang siap dieksekusi di bulan-bulan ke depan.

Pembukaan KMdN berlangsung meriah dan KKR malamnya berlangsung khidmat. Semua kekuatiran akan sound system dan temperature Bali yang cukup hangat sirna seketika karena meskipun dilaksanakan di pendopo yang terbuka, suasana sangat kondusif dan peserta sangat kooperatif. Kehadiran dan kepedulian Dr. Vinod Shah selaku CEO ICMDA terhadap kegiatan-kegiatan PMdN meningkatkan semangat kami, mengingat perjuangan beliau di usia yang tidak muda lagi telah jadi dorongan tersendiri buat kami semua.

Rabu s/d Sabtu, 13 – 16 Agustus 2014, waktu terasa berlalu begitu cepat, para pembicara mulai berdatangan, sesi demi sesi bergulir begitu cepat, eksposisi Kitab II Timotius diuraikan secara mendalam oleh dr. Giles, panel-panel diskusi dan ceramah-ceramah dilangsungkan dan dikemas dengan begitu rupa sehingga tidak satupun peserta yang mengeluh walaupun hanya diberikan waktu sekitar 1 jam untuk mandi & istirahat sore. Ini luar biasa!.
Kekuatiran akan kehadiran 4 pembicara asing akan menimbulkan kesulitan bagi panitia & peserta karena kebutuhan penerjemahan pada setiap sesi mereka, sama sekali tidak terbukti. Kami perhatikan semua peserta menikmati acara dan aktif bertanya dan berdiskusi dalam setiap sesi.Sejumlah  Lokakarya dan Seminar yang digelar secara bersamaan di ruang-ruang berbeda juga berlangsung lancar. Tidak ada keluhan dari peserta, tidak ada suara berbantah-bantahan diantara panitia, semua bekerja dan berjuang, sungguhlah suatu pemandangan yang indah untuk dinikmati kami sebagai panrah. Thanks dr. Susan untuk kepemimpinannya, thanks para panitia & volunteer yg tidak bisa saya sebutkan satu per satu.

Pujian dari Bapak Dewa selaku pengawas dari pihak BITDeC yang mengatakan bahwa tidak pernah mereka menerima rombongan se-tertib dan se-bersih ini benar-benar menambah suka cita kami. Suatu kesaksian yang baik tentunya, saat kami membicarakan jumlah yg masih harus kami bayarkan kepada pihak BITDeC berkaitan dengan penyelenggaraan kamp. Masih banyak kebutuhan dana tambahan untuk menutupi kekurangan ini, namun ini tidak mengurangi suka cita dan pengharapan kami bahwa Tuhan sedang dan akan mencukupi seluruh kekurangan yang ada.

Di sela-sela kesibukan menyelenggarakan kamp, ada suka cita besar menyaksikan beberapa alumni senior yang juga mantan peserta KMdN yang kali ini hadir sebagai pembicara, diantaranya dr. Paran Bagionoto, dr. TJ Situmorang, dr. Ronald Jonathan, dan dr. Edi Lubis. Sangatlah menghibur sekaligus menguatkan saat menyaksikan kelucuan mereka berbagi kisah dan pengalaman hidup, serta beban yang mereka tunjukkan terhadap pekerjaan ini. Setidaknya saya percaya pelayanan medis yang kita perjuangkan bertahun-tahun tidak akan pernah sia-sia. Bangkitnya para alumni yang relatif muda seperti dr. Andry Susanto, drg. Hedwin, & dr. Kris Gunadi juga memberikan semangat tersendiri dan memunculkan harapan regenerasi dalam meneruskan tongkat estafet pelayanan medis.

Perhatian khusus juga saya berikan kepada drg. Mathias Quake, yang hangat dan sarat dengan aroma misi. Tidak butuh waktu lama untuk merasakan ketulusan dan kerendahan hatinya dalam berbagi. Setiap kali menghadiri sesi dan menyaksikan respon peserta yang tersentuh oleh pemberitaan Firman Tuhan, beliau selalu menunjukkan keharuan karena sukacita yang mendalam. Kredit khusus saya berikan kepada dr. Goh Wei Leong yang secara kreatif merekayasa ceramah di saat jam ngantuk dan Panel Diskusi dengan 8 pembicara menjadi sangat hidup dan mencerahkan. Saya hanya bisa berkata mengucap syukur untuk hamba-hambaNya ini.  

Malam dedikasi yang memanggil para peserta untuk memberi diri bermisi secara integral di bidang-bidang yang telah dibukakan, merupakan klimaks dari semua kerja keras selama ini. Sangatlah menguatkan sekaligus mengharukan melihat para peserta berdiri mengambil tekad dan mempersembahkan hidup dan profesinya bagi Tuhan melalui jalur-jalur misi yang diyakini merupakan panggilan ilahi bagi mereka.

Minggu, 17 Agustus 2014, adalah hari spesial karena untuk pertama kali KMdN dilaksanakan bersamaan dengan peringatan Hari Kemerdekaan Bangsa Indonesia. Upacara pun digelar, Bendera Merah Putih dikibarkan, mengheningkan cipta dilangsungkan, Pancasila diikrarkan, dan lagu Indonesia Raya dikumandangkan, rasa haru sekaligus bangga menyeruak ditengah-tengah keterpurukan bangsa, sungguh mengingatkan betapa besar tanggung jawab yang kita emban sebagai generasi yang hidup di era kemerdekaan ini untuk berkontribusi bagi bangsa Indonesia yang kita cintai ini.

Akhirnya, tiba juga kami di penghujung pelaksanaan KMdN. Kami tidak memiliki cukup kata untuk mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih kami kepada setiap panitia pelaksana dan volunteer. Air mata keharuan, yel-yel terima kasih dan standing ovation yang amat panjang, yang mereka terima tentulah mengirimkan pesan yang sangat kuat bahwa baik panitia pengarah maupun peserta KMdN luar biasa menghargai kerja keras dan keramahan mereka, walau mungkin tidak sebanding dengan keringat dan air mata yang mereka telah curahkan selama 1 tahun persiapan kamp ini. Kiranya Tuhan sendiri yang memperhitungkannya untuk mereka.

Selesai sudah segala hiruk pikuk KMdN, usai sudah malam-malam panjang evaluasi yang melelahkan,  genaplah sudah seluruh upaya memperlengkapi para peserta. Sekarang menunggu pekerjaan rumah besar untuk menindaklanjuti tekad para peserta untuk setia mempersiapkan diri masuk ke ladang misi sesuai panggilan mereka. Dalam 2-3 tahun yad sebagian besar mereka akan menjadi alumni, waktu yang tidak terlalu panjang lagi untuk mempersiapkan mereka, namun bisa terasa lama bila kita hanya menunggu tanpa berbuat apa-apa. Waktu akan membuktikan apakah kata: “otentik”, “tangguh”, dan “missioner bagi bangsa” hanya indah untuk diikrarkan atau benar-benar menjadi kenyataan.

Catatan terakhir yang bisa saya buat adalah bahwa:
1.       Penyelenggaraan kamp ini mengingatkan saya akan kisah Gideon dengan 300 orang Israel yang berhasil mengatasi orang Midian dan Amalek yang jumlahnya tak terhingga di Hakim-Hakim pasal 6 & 7.
2.      Perasaan tidak mampu yang tulus (meminjam istilah Susan: “impossible” ,saat menerima penunjukan sebagai panlak KMdN XIX),  disertai dengan kerendahan hati, kerja keras, dan kebergantungan akan peran Tuhan, tidak akan pernah Tuhan kecewakan. (I Kor. 1: 25 – 29).


Jakarta, 18 Agustus 2014
dr. Lineus Hewis, SpA
Panitia Pengarah KMdN XIX Bali


Senin, 16 Juni 2014

Kristus adalah Langkah Awalnya

Sebetulnya latar belakang keluarga saya bukan Kristen. Tapi, anak tetangga teman bermain saya adalah Kristen 'Napas' dan tante saya seorang Katolik yang taat. Jadi, sejak kecil saya sudah mulai terpapar dengan kekristenan meskipun tidak rutin ke gereja. Hanya pada Natal, Paskah atau diajak tetangga pada hari minggu ketika saya menginap di rumah tante.

Saya mengalami perjumpaan pribadi dengan Kristus melalui suatu Seminar Hidup Baru oleh Roh (SHBR) yang diadakan oleh salah satu persekutuan doa Katolik 1986. Sejak saat itu kerinduan untuk mnegenal Kristus begitu menggebu-gebu. Memang betul apa yang tertulis dalam firman Tuhan bahwa jika satu orang diselamatkan, seisi rumah akan diselamatkan (Kis 16 : 31) Tidak lama setelah itu, suami saya, drg. Max Leepel mengalami hidup baru disusul anak-anak kami. Kami begitu haus untuk mengenal Tuhan Yesus. Benar-benar jatuh cinta dan rindu setiap orang juga mengalami keselamatan cuma-cuma seperti yang telah kami peroleh. Hampir tidak ada kegiatan rohani yang mereka lewatkan.

Beberapa persekutuan doa di FKG UI maupun di gereja tempat kami tertanam merupakan ladang pelayanan mereka. Sekali-sekali kami melakukan pelayanan firman di FKG, pengarajan di SOM (Sekolah Orientasi Mengajar), GBI Sungai Yordan atau seminar PAIS (Pasangan Istri-Suami) di gereja yang sama bahkan bersama tim gereja, beberapa kali kami ikut pelayanan misi di pedalaman Kalbar, Ambon, P. Buru. Di gereja lokal, pelayanan rutin yang saat ini adalah di kelompok sel, kebaktian umum, pengajar SPT (Saya Pengikut Tuhan) dan tim konseling.

Bagi kami, waktu dan keuangan kadang-kadang merupakan kendala yang tidak begitu berarti. Semua tergantung pada pandai-pandainya kami menyiasati. Prinsip yang kami pegang dalam pelayanan :
1. Mengalir ikut pimpinan Tuhan, tidak mengandalkan kekuatan sendiri (Yer 17 : 5)
2. Setia pada perkara kecil (Mat 25 : 21)
3. Lakukan segala sesuatu dengan segenap hati seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia (Kol 3 : 23)
4. Taat dan tunduk pada otoritas
5. Senantiasa bersyukur dengan apa yang ada (Ibrani 13 : 5)
6. Saling terbuka dan bersedia mengampuni (Mat 6 : 12)
7. Bersedia dikoreksi

Keteladanan, pendekatan pribadi, perhatian dan pemuridan tentu merupakan hal yang menentukan keberhasilan dalam membina generasi penerus kelompok kecil/kelompok sel. Saya kira kelompok kecil merupakan sarana penting untuk mengetahui talenta tiap-tiap anggota. Pemuridan yang paling efektif adalah seperti yang Yesus lakukan. Beri teladan, pantau terus, selesaikan setiap masalah secara terbuka dan jaga setiap kawanan (relasi). Setiap pelayanan baru harus tahu dasar kekristenan dengan benar supaya dapat bertumbuh dengan baik (bebas dosa). Selama Tuhan berkenan beri kesempatan untuk menyebarluaskan misi medis di Indonesia, maka utamakan Tuhan dalam setiap rencana dan berusaha hidup dalam kebenaran.


Laksmi A. Leepel
(Mission Possible)



Minggu, 18 November 2007

UNFORGETABLE MOMENT

MEDICAL MISSION COURSE (MMC-2)

UNFORGETABLE MOMENT

Kalo mau ditanya apa manfaat MMC-2 padaku.......Mmmmmm.....................
Manfaatnya banyaaaaaaakkkkk sekali.
Mungkin awalnya aku kan sharingkan secara singkat pengalamanku mengikuti MMC-2 ini.

Awalnya aku tidak disetujui oleh orang tuaku untuk ikut MMC-2...
Ditambah dengan dana....yang...plis deh....terlalu besar bagiku en my fam.
Tapi aku terus coba percaya kalo Tuhan mau aku ikut MMC-2,
APAPUN rintangannya pasti Tuhan kabulkan.
dan aku bisa juga mengikutinya dengan cara Tuhan yang sering membuatku terkagum-kagum.
Jadi Manfaat I: aku belajar mempercayakan semua keputusan dan kebutuhan padaNYA. Belajar berserah dan akhirnya melihat pekerjaanNYA nyata dalam hidupku.

Selama di OMF.. yang selama ini kudoakan untuk semakin banyak tahu tentang misi banyak kudapat disini. Di OMF aku semakin yakin akan panggilan ALLAH padaku. Misi ALLAH bagi dunia topik yang tak kulupakan dan selalu menggelisahkanku. Dan sejak saat itu sampai sekarang aku semakin ingin untuk diisi dengan ”misi” dan keahlian yang lain, belajar mencari tau kehendak Tuhan.....

Di Serukam....
Aku banyak belajar kerendahan hati, pelayanan yang holistik. Dan mujizat....Aku juga melihat pengaruh besar dari doa-doa....Saat pergi ke pedalaman à Tamong juga menyadarkan aku bahwa banyaknya orang-orang yang masih jauh dari pendidikan, fasilitas kesehatan, juga spiritual....

Kesimpulannya aku banyak sekali belajar dari MMC2 ini. Kasih ALLAH yang besar dan nyata akan manusia harus dinyatakan melalui hidup kita dan profesi kita.
Mari kita sama-sama meresponi panggilannya. Kita melihat, mendengar, menyaksikan, merenungkan, merefleksikan terutama mengevaluasi hidup kita selama ini dan yang akan datang selama mengikuti MMC.

Syallom
Eva Oce Simatupang

Minggu, 04 November 2007

APAKAH MMC-2 BERMANFAAT BUATKU ?

Jawabannya: sangat bermanfaat!

Medical Mission Course (MMC) sudah kuketahui sejak Juni 2005. Setelah pulang dari pelayanan sebagai dokter relawan untuk Perkantas di Nias, aku mengikuti rapat di lantai-3 kantor Perkantas Pintu Air. Disitu aku mendengar tentang Medical Mission Course, yang dulunya namanya ….., apa yah? Aku sampai lupa. Hehehe. ( kak Nora, kalau tahu, tolong ditulis yah. Thanks-a-lot!) Rencanaku, kalo bisa aku mau mendaftar untuk itu tahun depan. Aku ingiiiiiin sekali ikut. Tetapi, ‘Rancangan-Ku bukanlah Rancanganmu..’. sehingga aku harus bersabar menunggu untuk MMC-2.

My dream come true. Dengan bersabar setahun, menabung setahun, akhirnya aku ditelpon kak Ria Pasaribu, untuk bilang aku bisa ikut. Dan aku sangat mensyukurinya. MMC-2 merupakan suatu susunan program pelatihan bermisi bagi mereka yang baru saja lulus menjadi Dokter. MMC-2 menjadi lahan pertama untuk tempat praktek dokter baru, juga menjadi tempat persiapan untuk menghadapi dunia PTT. Kenapa seperti itu?

Karena, selama 1 minggu di Guest house-OMF Cempaka Putih dan 1 bulan di RSU Bethesda Serukam, aku bersama 7 orang temanku yang lain mendapat materi dan praktek yang sarat dengan pengetahuan bagaimana bermisi di bidang medis. Di OMF kita mendapat penjelasan tentang apa yang Tuhan inginkan kita kerjakan di ladang medis, bagaimana mengenal culture shock, bagaimana menjadi dokter yang praktis dan memanfaatkan waktu secara optimal. Banyak lagi materi yang kami dapatkan dalam seminggu itu, yang rasanya meringkas semua waktu akademik dan praktek selama di fakutas kedokteran.

Kemudian, kami berangkat ke Serukam. Ini dia tempat prakteknya. Never guess before! Pernah membayangkan Direktur Rumah Sakit, meminta rice-cooker yang sedang kamu bawa, untuk dibawa oleh dia saja? Pernah membayangkan dokter-dokter, umum dan spesialis, dari dalam dan luar negeri, yang telah bekerja seharian di klinik, rela duduk selama lebih dari 2 jam menunggu anak baru lulus yang bahkan tidak mereka kenal, agar dapat menyambut anak-anak baru itu? Jangan susah-susah memikirkannya. Kami bukti otentiknya.

Hari pertama di Serukam, kami diajari untuk rendah hati. Melayani dan bukan untuk dilayani, tertulis besar-besar dengan warna merah di dinding kapel. Itulah dasar pelayanan disini. Kemudian kami mendapat materi-materi ringkas dan padat, tentang penyakit-penyakit yang sering ditemui di masyarakat dan bagaimana menghadapinya. Disusul dengan praktek - praktek langsung kepada pasien di bangsal, sambil didampingi dengan amat sangat sabar oleh dokter-dokter ahli. Kita bisa bertanya apa saja. Bisa minta penjelasan lagi kalo penjelasan sebelumnya belum jelas. Kita juga bisa minta tambahan topik lain yang kita inginkan dari dokter yang mendampingi kita. Tidak ada yang menjawab kami dengan ketus, ataupun dengan nada menjawab yang dapat diartikan “gitu aja kok ga tau sih?!”. Tidak ada yang akan mengejar setiap kami dengan pertanyaan-pertanyaan menyudutkan. Intinya, you can get as much as you can, if you want it. Just ask.

Kami juga dilibatkan dengan pelayanan turun langsung ke kampung-kampung di pedalaman hutan Kalimantan . Merasakan bagaimana yang dirasakan oleh penduduk desa, yang jika ingin turun ke kota , harus jalan ± 3 jam lalu naik motor-boat ± 2 jam dilanjutkan dengan naik mobil angkutan ± 3 jam. Melihat bagaimana kehidupan nyata mereka yang tinggal di pedalaman, dengan adat istiadat dan kebiasaan yang berbeda dengan kita. Menjalani hidup bersama mereka.

Belum cukup dengan semuanya itu, Panitia MMC juga mendatangkan Konsultan dari luar negeri. Dari Inggris , Malaysia dan Amerika. ( yang terakhir itu, sudah lama di Ketapang, Kalbar juga. Hehehehe) Mereka memberi materi dengan penjelasan sejelas-jelasnya dan contoh praktis yang mudah diingat tentang Emergency Doctor, Nephrology, Cardiology dan ilmu-ilmu lain yang tidak kita dapatkan dari text book. Bagaimana prepare for funeral, salah satunya.

Bagaimana MMC dapat dipraktekkan di pekerjaan yang nyata? Bagaimana MMC dapat berguna untuk pelayananku? MMC merupakan suatu awal buatku. Awal untuk mengenal bagaimana rumah sakit misi itu. Awal untuk kemudian mengerti, bahwa aku ternyata kembali lagi ke Serukam, bekerja dan menetap disini. Yah, aku bekerja di Serukam sebagai dokter PTT selama 1 tahun disini. Ilmu yang kudapatkan dapat langsung diterapkan. Walaupun sekarang sebagian besar aku sudah lupa materinya, karena jarang dibaca, tapi kepada setiap peserta MMC dibekali dengan file lengkap untuk setiap materi yang didapatkan. Jadi, kapan saja, dapat langsung dibaca.

Apa lagi yang bisa kukatakan tentang MMC?

MMC sangat bermanfaat bagi setiap dokter yang ingin bermisi dalam bidang medis. Satu bulan mengikuti MMC, menghabiskan uang untuk tiket dan makanan, harga yang harus kubayarkan demi mengikuti MMC, tidak sebanding dengan apa yang kudapatkan selama mengikuti MMC. Aku mendapat lebih!



Salam dari Serukam,


dr.tatie marksriri^_^

Copyright 2007, Pelayanan Medis Nasional (PMdN) Perkantas

Jl. Pintu Air Raya 7, Komplek Mitra Pintu Air Blok C-5, Jakarta Pusat
Telp. (021) 3522923, 3442463-4 Fax (021) 3522170
Twitter/IG : @MedisPerkantas
Download Majalah Samaritan Versi Digital : https://issuu.com/samaritanmag