Rabu, 24 Maret 2021

Membangun Bangsa Secara Holistik

Tiap bangsa di sepanjang masa punya pergumulannya masing-masing. Dan tiap bangsa membutuhkan pembangunan secara holistik, termasuk Indonesia. Belajar dari Kitab Nehemia, yang berhasil membangun bangsa Israel secara holistik, paling tidak kita dapat menemukan tiga hal yaitu: pertama, dia melakukan pembangunan fisik (tembok)  dan pembangunan tersebut dapat diselesaikan dalam waktu yang singkat yaitu lima puluh dua hari. Pencapaian ini dapat terjadi tentu saja  karena campur tangan dan penyertaanTuhan (Nehemia 6.15-16). Penyertaan Tuhan tersebut diresponi dengan  kepemimpinan Nehemia yang efektif dan peran partisipasi aktif dari komponen bangsa. Mengapa ini hal pertama yang dibangun Nehemia,...kelihatannya hal ini terkait dengan kondisi pada masa itu dimana tembok yang mengelilingi suatu kota merupakan lambang kedaulatan dan keamanan. Hancurnya tembok suatu kota berarti hilangnya lambang tersebut. Sehingga pembangunan tembok menjadi prioritas agar kehidupan sosial dan kehidupan ibadah di Yerusalem dapat ditata dan dipulihkan kembali.

Kedua, pembangunan kerohanian (Nehemia 9). Nehemia memahami bahwa kehancuran Yerusalem bukan sekedar masalah sosial politik tetapi akarnya adalah pemberontakan mereka terhadap Tuhan yang kemudian mendatangkan murka-Nya. Untuk memulihkan Yerusalem diperlukan pembaharuan rohani, yang ditandai dengan pembacaan Taurat, pengakuan dosa dan pembaharuan janji setia mereka dihadapan Tuhan.  Pembacaan kitab Taurat yang dilakukan  memberikan perspektif tentang kehidupan mereka yang sesungguhnya yaitu sejarah telah membuktikan bahwa sejak kehidupan nenek moyang mereka hingga saat itu, anugerah Allah senantiasa tercurah kepada mereka (6-15). Allah dengan kesetiaan-Nya senantiasa menuntun, membimbing, melindungi, dan memberikan yang terbaik bagi umat-Nya. Perspektif yang diberikan oleh firman Tuhan inilah yang menuntun mereka kepada pertobatan sejati. Kebangunan rohani sejati tersebut dapat terlihat melalui : (1) mereka merendahkan diri di hadapan Allah. Hal ini diekspresikan dalam bentuk berpuasa, mengenakan kain kabung dan debu di kepalanya. Merendahkan diri di hadapan Allah timbul dari kesadaran akan ketidaklayakan mereka di hadapan-Nya untuk menerima anugerah dan kasih setia Allah yang luar biasa, (2)  mereka memisahkan diri dari semua orang asing. Ini merupakan lambang bahwa mereka tidak mau mengikuti cara hidup bangsa asing yang tidak mengenal Allah, (3)  adanya pengakuan dosa. Mereka mengaku bersalah dan mau berbalik kepada-Nya, (4) mereka mempunyai kehausan dan kerinduan yang dalam untuk membaca firman Tuhan. Untuk mengetahui kehendak Allah dan mengenal Dia lebih dalam dan lebih intim.

Ketiga, pembaharuan sosial (Nehemia 10.28-39). Pembaharuan kehidupan rohani tidak selesai hanya dengan pembacaan firman dan doa pertobatan. Pembaharuan tersebut perlu diwujudkan secara praktis dalam kehidupan sehari-hari. Nehemia menggunakan wewenangnya untuk menata agar kehidupan sosial mereka bisa diselaraskan kembali dengan aturan-aturan dalam firman Tuhan.

Kini,  bangsa Indonesia pun membutuhkan pembangunan secara holistik. Ini bukan tugas dan tanggungjawab sebagian orang saja di negri ini. Setiap komponen bangsa diharapkan ikut ambil bagian. Penyertaan Tuhan sudah pasti tersedia. Saatnya kita responi penyertaan Tuhan dengan partisipasi aktif kita dalam berbagai bidang kehidupan bangsa ini.


Membangun Bangsa Secara Holistik oleh Ir. Indrawaty Sitepu, MA

Dalam Majalah Samaritan Edisi 2 Tahun 2013

Jumat, 05 Februari 2021


As a fresh doctor, newly graduated from medical school, I stood on the platform of the railway station in my town, ready to undertake the longest journey of my life, to discover my calling, brimming with hope, excitement and youthful enthusiasm.

Now almost forty years later I still keep journeying, and it is difficult to say if I have found the calling in my life.

Calling, to me, embodied what I did to give maximum joy, sense of satisfaction and accomplishment, and more importantly being aware that I was fulfilling a role in life beyond myself, being a channel of God’s blessing to others.  People who find their calling or what gives them purpose and maximum joy early in life are very fortunate.   They are the ones who arrive at their destination directly.  I must confess that it was not so with me.  My life’s journey has been a voyage of exploration and i am still on the road traveling.

Finding  calling  in life  meant assuming  diverse roles and accepting various situations - student, social worker, surgeon, scientist, teacher - in India, in Bhutan, in Australia, in small mission hospitals or outposts, in state of the art tertiary centres.  A single overwhelming sense of calling persisted through the decades – the desire to be a healer, to be an instrument of healing for the injured, whether physical, psychological, emotional or relational.

I do not equate calling to career. To me career is a job which provides the means to live. Sometimes your career and your calling merge and then the synergy leads to immense satisfaction.

At different phases in my life I have considered varying career options, pilot, priest, researcher, and administrator.  But whatever career I have chosen I believe I may have persisted in seeking to be a healer.  The urge to heal has been the recurring compulsion, perhaps the mission of my life.  Often my career helped me to fulfil my calling.  There were times when the healing was merely superficial.

As I look back at life, it is on those occasions when my career enabled me to be a healer in its holistic sense that I found pure joy and subsequently developed a passion for that experience.

Passion, in my understanding, is that which inspires one to choose a preferred way of working and living that permeates every aspect of life. It is the one thing in life that you want to experience and which makes you willing to forego many other things in life.

But now we go on to the difficult question of how one realises one’s calling or find a passionate pursuit in life?  Many of us (assuming my readers are associated with health care in some way) were convinced that we wanted to be involved in medical care while we were growing up, well before embarked on formal medical training. This conviction may have been influenced by our perception that this is a profession which is a means to attain status, position, power, prestige or becoming wealthy. But none of these in itself can bring happiness or fulfilment.

Search and discover your God- given gift

I believe that in each of us God has placed an inherent ability or gift.  Ssome of us are creative and artistic, some of us have the ability to be good listeners, some are patient, some of us can be persistent and persevering even while doing mundane repetitive tasks. Some have a taste for adventure; others are good with people management skills or networking. A few are good at writing or are articulate.  I feel that we should look for a career in an area of medicine that will potentiate our natural God- given gift or talent.

Having then gifts differing according to the grace that is given to us,let us use them –Romans 12:6

Look for what gives you maximum joy

We should look for an avenue that gives us the most joy while we are doing it, be it teaching, surgery, administration, research or patient care.  At various stages in my life I have had the opportunity to play these different parts.  Interestingly I felt elated when I managed to align these roles to my desire to be a healer.  It is difficult to find Joy in being a teacher if you are uncomfortable being with young people or is a poor communicator.  It is difficult to be happy in a sterile research laboratory if your desire is to interact with people.  You can not be a paediatrician and dislike noisy children.  Look for avenues that will give you joy and fulfilment.

Ask  and you will recieve, that your joy may be full-John 16:24

Follow your dream

Each of us has dreams about life. Dreams, plans and ambition are necessary and very often they embody a desire that you want to achieve beyond reality and limitations. Dreams can inspire one to move beyond the ordinary and at times to something spectacular.  Dreams inspire you into action, but without action dreams will remain mere dreams.  Several of my dreams have remained elusive, but many have been fulfilled.  We must dare to dream and carry our dreams in our heart.

"And it shall come to pass afterward, that I will pour out my spirit upon all flesh; and your sons and your daughters shall prophesy, your old men shall dream dreams, your young men shall see visions:"-Joel 2:28

Don’t be afraid to be a failure

When there are choices to make in life, any of us can make the wrong choice or fail in what we set out to do. Do not be disheartened because if any one says that they have not made a mistake they are not being truthful.  Or else they have not tried anything bold in life. God and life always give every one another chance in life, may be not the same things to choose from, but frequently something different and better.  Do not be afraid to fail or make a mistake.

 So I went down to the potter's house, and there he was working at his wheel.  And the vessel he was making of clay was spoiled in the potter's hand, and he reworked it into another vessel, as it seemed good to the potter to do

Jermiah 18:3,4

Have a plan

Have a rough road map of where you want to go in life. Everything may not go according to plan. Be ready to stop, take detours, and change directions along the way. It is always good to have a rough plan or mental map of your trip.  Having a plan makes the expedition easier

I am the Lord your God, Who teaches you to profit, Who leads you in the way you should go. Isaiah 48:17

Start some where

No matter how fantastic your dreams are, how much of details you have planned and mapped out your course, unless you set out you will never get there.  Opportunities do not come looking for us; we have to look out for them. Sometimes we have to work hard to create opportunities in the challenges we face.  So get off your seat and start.

.Work out your own salvation with fear and trembling; for God is at work in you, both to will and to work for his good pleasure. Philippians 2: 12-13

Start small

Most great endeavours started small and most great lives had modest beginnings.   Our tendency is to look for million dollar opportunities and miss the apparently insignificant ones which may eventually turn out to be massive ventures with hard work and perseverance.  We wait for spectacular opportunities to come by while we let ordinary ones slip by, which may eventually turn out to be magnificent.  Do not disregard the small and the ordinary openings.

Though thy beginning was small, yet thy latter end should greatly increase.

Job 8:7



Be accepting of life

Accept what life gives you. I have not got many things I wanted in life.  That made me realise one is not given what one likes, but when one starts liking whatever one gets life becomes meaningful.  Accept what life offers you rather than only accepting what you like.

for I have learned in whatever situation I am to be content.-Philipians 4:11

Have an attitude of gratitude

Fulfilment in life or finding your calling does not happen in a day. It is good to have an attitude of gratitude for the ordinary opportunities each day. This  adds to the joy of each day and makes you look forward to life and the good things life and career have to offer. It also helps you to cope with disappointments and obstacles along your voyage.  Be grateful for small steps of progress on the sojourn.

Be joyful always; pray continually;give thanks in all circumstances,for this is Gods will for you in christ jesus -1Thessolonians 5:16-18

Seek Gods Will

Some times in frantic planning and cativity one cannot hear the small voice of God promting us about Gods will in our lives. It is in moments of quietness reading the word of God , in prayer or some times silent contemplation that i have had the sense of Gods promtings and leadings in many choices I have made. At times it has been through the voice of those who love me and care for me like teachers, family as well as close friends.

I wait for the lord,my soul waits and in his word I put my hope-Psalms103:5


Trust in God’s guidance and His goodness

Finally trust God and His goodness. He knows us, our desires, and our capabilities more than we ourselves. He can correct our mistakes and compensate for our bad choices and make our life beautiful.  Discovering your calling is a life long journey

Who ever can completly accept the will of God in every situation has learned something which will fill oned life with peace and joy

And we know that in all things God works for the good of those who love him, who have been called according to his purpose.- Romans 8:28

Finally, brothers, whatever is true, whatever is honorable, whatever is fair, whatever is pure, whatever is acceptable, whatever is commendable, if there is anything of excellence and if there is anything praiseworthy-keep thinking about these things.- Philippians 4:8

Dalam Majalah Samaritan Edisi 1 Tahun 2012.

Rabu, 22 April 2020

Sasaran Pelayanan Manusia Seutuhnya

Bicara tentang misi berarti bicara tentang pengutusan. Karena kata latin missio berarti pengutusan. Siapa yang mengutus, siapa yang diutus, dan aspek-aspek penting apa saja yang terdapat dalam pengutusan tersebut? Saya akan mulai drngan menjawab dua pertanyaan pertama. Siapa yang mengutus? Siapa yang diutus?

Salah satu ayat yang banyak diacu oleh para sarjana setiap kali berbicara tentang misi adalah Yohanes 20:21. Bunyinya dalam bahasa Latin, sicum misit me Pater, et ego mittos vos. Artinya, "sama seperti Bapa mengutus (misit) Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus (mitto) kamu." Siapa yang mengutus? Pertama-tama, Allah Bapa. "Bapa mengutus...," kata Tuhan Yesus. Selanjutnya, Allah Anak. "Aku mengutus ...." Dari sini, muncullah salah satu tema utama dalam Misiologia, yaitu Missio Christi. Pengutusan Kristus. Dalam arti, pertama, Kristus diutus oleh Allah, dan selanjutnya, Kristus mengutus murid-murid-Nya.

Siapa yang diutus? Pertama, Anak Allah. "Bapa mengutus Aku,"  kata Tuhan Yesus. Selanjutnya, para murid. "Aku mengutus kamu." Dan akhirnya, Gereja alias orang-orang percaya di segala abad dan tempat, yang merupakan buah pelayanan dan sekaligus pewaris ajaran dari para rasul. Dari sini, muncullah tema utama lainnya dalam Misiologia, yaitu Missio Ecclesiae. Pengutusan Gereja. Dalam arti, Gereja diutus oleh Kristus atau Kristus mengutus Gereja.

Apa hubungan antara Missio Ecclesiae dan Missio Christi? Jawabnya, sesungguhnya Missio Ecclesiae adalah kelanjutan dan perluasan dari Missio Christi. Dan keduanya, bersama-sama dengan Missio Apostolarum (Pengutusan Para Rasul), merupakan bagian dari Missio Dei (Keseluruhan Pekerjaan Allah Menyelamatkan Dunia).

Pokok Missio Ecclesiae sebagai kelanjutan dan perluasan dari Missio Christi inilah yang ditunjukan oleh penulis Injil Markus dalam pasal 6. Khususnya ay.7-30, yang merupakan satu unit (tentang pengutusan kedua belas murid). Perhatikan kesejajaran yang sangat kuat antara penutup bagian sebelumnya, pasal 6:6b ("Lalu Yesus berjalan berkeliling dari desa ke desa sambil mengajar"), dan penutup bagian ini, pasal 6:30 ("Kemudian rasul-rasul itu kembali berkumpul dengan Yesus dan memberitahukan kepada-Nya semua yang mereka kerjakan dan ajarkan").  Yang pertama merangkum misi Yesus. Sedangkan yang kedua misi murid-murid. Dalam keduanya, muncul kata Yun. didasko. Artinya, mengajar. Dengan demikian, penulis menyejajarkan misi Yesus dengan misi murid-murid. Murid-murid melanjutkan apa yang Kristus kerjakan. Setiap orang yang menyebut dirinya murid Kristus mengerjakan hal yang sama. Missio Ecclesiae adalah kelanjutan dan perluasan dari Missio Christi. Misi Gereja adalah kelanjutan dan perluasan dari Misi Kristus.

Kalau begitu, aspek-aspek penting apa saja yang terdapat dalam Misi Gereja? Tentunya itu juga aspek-aspek penting yang terdapat dalam Misi Kristus.

Nats kita hari ini mengajak kita melihat setidaknya tiga aspek penting dari Misi Gereja. Pertama, sasaran dari Misi. Kedua, agenda utama dari Misi. Dan ketiga, penyertaan ilahi dalam Misi.

Sasaran dari Misi (ay. 12-13)
Sasaran dari misi adalah manusia seutuhnya. Itu berarti bukan hanya manusia lahiriah, tetapi juga manusia batiniah. Tugas seorang misionaris atau utusan Injil adalah menjawab kebutuhan-kebutuhan baik jasmani maupun rohani.

Perhatikan baik-baik apa yang dikatakan oleh Kitab Suci tentang pokok ini. Rangkuman dari semua yang dikerjakan oleh murid-murid selama masa pengutusan tertulis dalam ayat 12-13: "Lalu pergilah mereka memberitakan bahwa orang harus bertobat, dan mereka mengusir banyak setan, dan mengoles banyak orang sakit dengan minyak dan menyembuhkan mereka." Pertanyaannya, apa yang menjadi obyek atau sasaran pelayanan mereka? Kita perlu menemukan jawaban yang benar dari pertanyaan ini, agar tidak terjerumus atau terjebak dalam kegiatan-kegiatan yang berorientasi pada program. Atau pada uang. Atau pada minat-minat dari kelompok-kelompok tertentu.

Gereja sebagai lembaga harus memiliki program yang jelas. Gereja juga membutuhkan uang untuk menjalankan program tersebut. Dan di dalam gereja, tidak dapat dipungkiri, hadir banyak kelompok dengan minat masing-masing. Tetapi program dan uang tidak boleh menjadi tujuan akhir. Keduanya hanya sarana untuk mencapai sasaran sesungguhnya. Juga minat-minat kelompok. Mereka tidak boleh memaksakan diri untuk menjadi tujuan akhir, tetapi harus tunduk dan mengabdi kepada minat Allah sendiri.

Kembali kepada pertanyaan, apa yang menjadi obyek atau sasaran pelayanan para murid? Jawabnya, bukan program. Bukan uang. Bukan juga minat mereka. Tetapi manusia seutuhnya. Mereka bukan melayani program. Bukan mengabdikan diri kepada uang. Bukan juga memuaskan minat manusia. Tetapi melayani manusia seutuhnya. Mengabdikan diri kepada manusia seutuhnya. Dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan manusia seutuhnya. Bagaimana caranya? Mengajak manusia bertobat dari dosa-dosanya. Tetapi juga menyembuhkan manusia dari sakitnya. Dengan kata lain, dengan menjawab kebutuhan-kebutuhan baik jasmani maupun rohani. Kesehatan dan keselamatan jiwa-raga.

Bagaimana cara para murid mengajak umat bertobat dari dosa-dosa mereka? Apa isi berita mereka? Tidak lain dari isi berita Kristus sendiri: "Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!" (1:15).

Bagaimana cara mereka menyembuhan orang-orang yang sakit? Menarik sekali. Kitab Suci menjawab, "Mengoles .... dengan minyak." Minyak apa ini? Dapat dipastikan, minyak zaitun. Di dunia kuno, minyak tersebut digunakan secara luas sebagai obat (lih. Yes. 1:6; Luk 10:34; Yak 5:14).

Di sini kita berjumpa dengan aspek medis dari Injil. Injil bukan hanya menyadarkan manusia berdosa akan keberdosaan mereka, mengatar kepada penyesalan yang sejati dalam hati mereka, serta membangkitkan iman yang sejati kepada anugerah Allah yang menyelamatkan. Tetapi juga memperbarui aspek lahiriah manusia dan memberikan kesembuhan. Dengan kata lain, pekerjaan Injil atas hidup manusia bersifat holistik. Artinya, memperbarui manusia seutuhnya. Lahir dan batin. Jiwa dan raga. Roh dan tubuh.

Apa yang Kitab Suci ajarkan tentang keutuhan dalam diri manusia? Amsal 14:30 berkata, "Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang." Terjemahan NIV berbunyi, "A heart at peace gives life to the body, but envy rots the bones." "Hati yang damai menghidupkan tubuh, ...." Pernyataan ini menyatakan dan menegaskan, bahwa kondisi batiniah kita memengaruhi kondisi lahiriah kita. Aspek rohani dan aspek jasmani dari manusia demikian menyatu. Keduanya harus menjadi sasaran dari pekerjaan Injil.

Tuhan Yesus sendiri melayani manusia seutuhnya. Apa yang murid-murid lakukan selama masa pengutusan mereka mengacu kepada teladan-Nya yang sangat agung. Contohnya, apa yang diperbuat-Nya terhadap seorang perempuan yang sakit pendarahan dalam bagian sebelumnya (pasal 5:25-34). Si wanita sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan. Mungkin karena ketidakseimbangan hormon dalam tubuhnya. Akibat pendarahan tersebut, ia kurang darah, lemah dan tidak mampu mengerjakan tugas-tugas rumah tangganya dengan baik. Menurut analisis seorang dokter, karena faktor ketidakseimbangan hormon, ia tidak dapat hamil. Ia mengalami masalah ginekologi yang sangat serius dan menahun. Belum lagi kenyataan, bahwa ia dipandang najis oleh masyarakat. Menurut Imamat 15:19, seorang perempuan najis selama masa menstruasi dan tujuh hari sesudahnya. Tetapi si wanita najis selama dua belas tahun, karena selama itu pendarahannya tidak pernah berhenti. Ia menajiskan semua yang disentuhnya. Kalau ia sudah menikah, yakinlah bahwa suaminya telah menceraikannya. Keluarganya telah mengusirnya. Teman-temannya telah menjauhinya. Akhirnya, seperti dilaporkan oleh Kitab Suci, seluruh uangnya telah dihabiskannya untuk berobat dan hasilnya sia-sia.

Bayangkan juga kondisi psikologisnya. Sedih, tertolak, berbeban berat, pahit dan mungkin marah kepada masyarakat. Bahkan kepada Allah. Bisa jadi beban hidupnya yang paling berat adalah masalah rohani. Karena najis, ia tidak dapat pergi ke tempat ibadah untuk berdoa kepada Tuhan. Ia tidak dapat mengakui dosa-dosanya dan memohon pertolongan Tuhan.

Kedatangan Tuhan Yesus membangkitkan sedikit harapan di hatinya. Tapi ia sadar, bahwa dengan kondisi seperti itu, ia tidak dapat menghampiri Tuhan Yesus untuk memohon pertolongan-Nya. Bisa-bisa, belum juga sampai ke hadapan-Nya, ia sudah mati dirajam batu oleh orang banyak. Sebenarnya ia bisa meminta sanak keluarganya untuk menghampiri Tuhan Yesus dan memohon pertolongan baginya. Tapi apa daya, mereka semuanya telah menyingkirkannya. Dalam kesedihannya, ia melakukam tindakan nekad. Kitab Suci berkata, bahwa ia mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jubah-Nya.

Apa yang terjadi? Seketika itu juga ia merasa, bahwa tubuhnya sudah sembuh dari sakit. Seharusnya persoalan selesai sudah. Kesembuhan jasmani yang dinantikannya selama bertahun-tahun akhirnya diperoleh. Tetapi ternyata kisah berlanjut. Tuhan Yesus mengetahui, bahwa ada tenaga yang keluar dari diri-Nya, lalu berpaling dan bertanya, "Siapa yang menjamah jubah-Ku?" Si wanita menjadi takut dan gemetar, lalu maju dan tersungkur di hadapan Yesus serta mengakui perbuatannya. Ia hanya bisa pasrah menunggu kata-kata kutukan dari banyak orang karena menajiskan mereka dengan kehadirannya. Tapi, apa yang terjadi? Sebaliknya dari kutukan, ia memdengar ucapan yang begitu indah: "Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu!"

Apa yang Yesus berikan kepadanya? Ada tiga. Pertama, penerimaan. Kedua, kesembuhan. Dan ketiga, pemulihan posisinya di tengah-tengah masyarakat.

Para sarjana medis telah menemukan bukti-bukti ilmiah yang mendukung pernyataan Kitab Suci berusia ribuan tahun tersebut. Mereka menjumpai kenyataan, bahwa stres atau tekanan hidup yang berlarut-larut akan mempengaruhi hormon adreno-corticak, yang pada gilirannya akan mempengaruhi fungsi dan banyak sistem organ tubuh.

Pengalaman klinik sendiri menunjukan ketidakcukupan pelayanan pada aspek fisik saja. Ternyata, banyak jenis penyakit fisik, sebutlah tekanan darah tinggi, gangguan kekebalan diri, sindrom radang kronis, bahkan beberapa kanker ganas, menyangkut unsur kejiwaan, yaitu ketidakmampuan seseorang dalam menghadapi stres. Stres juga mempengaruhi sistem kekebalan tubuh. Memperlemah resistansi tubuh dari infeksi, serta menghambat proses kesembuhan dan pemulihan. Karena itu, pelayanan jasmani perlu dilengkapi dengan pelayanan rohani. Dan telah terbukti juga secara klinis, bahwa aktivitas-aktivitas rohani ternyata memiliki dampak positif yang sangat besar terhadap proses pemulihan dari penyakit.

Jadi, baik ilmu kedokteran maupun pengalaman klinik memastikan, bahwa pikiran, perasaan dan tubuh manusia merupakan aspek-aspek yang sangat terkait dan berpengaruh satu terhadap yang lain. Injil harus menyentuh semuanya itu.

Konon, di Rumah Sakit Vanga, di Republik Demokrasi Kongo, pernah bekerja seorang staf wanita bernama Matala. Orang-orang di rumah sakit itu menyebutnya "dokter hati". Ia bukan kardiolog. Tapi ia tahu, bagaimana menyembuhkan hati yang patah dan jiwa yang terluka. Pekerjaannya adalah memperkenalkan Tuhan Yesus kepada setiap penderita sakit di rumah sakit tersebut. Dan banyak sekali pasien yang sembuh karena pelayanannya. Saudara mungkin tidak bisa jadi dokter medis, tapi Saudara bisa jadi "dokter hati".

Agenda Utama dari Misi (ayat 7)
Kitab Suci berkata, "Ia memberi mereka kuasa atas roh-roh jahat" (ay 7b). Perhatikan baik-baik. Apa yang Tuhan Yesus berikan kepada murid-murid ketika mengutus mereka? "Kuasa atas roh-roh jahat." Hal yang sama juga dikemukakan dalam ps. 3:15, "kuasa untuk mengusir setan."

Pernyataannya, mengapa kuasa atas roh-roh jahat, bukan atas alam atau penyakit? Padahal, bukankah keduanya sering menghancurkan hidup manusia? Pertanyaan ini sangat penting untuk dijawab, supaya kita mengerti secara tepat apa yang seharusnya menjadi agenda utama dari misi Kristen. Kalau agenda utama dari pelayanan kira adalah memberitakan kesembuhan dari luka-luka fisik, yang kita butuhkan adalah kuasa atas alam atau penyakit. Tetapi bukan itu yang diberikan oleh Tuhan kita. Berarti, agenda utama dari pelayanan kita bukan memberitakan kesembuhan dari luka-luka fisik. Lalu, apa? Kitab Suci berkata, "Lalu pergilah mereka memberitakan bahwa orang harus bertobat" (ayat 12). Murid-murid diutus untuk mengajak umat bertobat dari segala dosa mereka. Agenda utama dari pelayanan mereka adalah memberitakan pertobatan dari segala dosa. Kalau begitu, apa yang murid-murid butuhkan? "Kuasa atas roh-roh jahat". Yang menghalangi manusia untuk bertobat bukan malapetaka. Bukan juga penyakit. Malah keduanya seringkali Tuhan pakai untuk mendorong manusia untuk bertobat. Yang menghalangi manusia untuk bertobat adalah roh-roh jahat. Karena itu, harus diusir dengan kuasa Tuhan Yesus. Karena itu, murid-murid membutuhkan kuasa atas roh-roh jahat.

Pernyataan Ilahi dalam Misi (ay. 8-11)
Kebanyakan manusia berusaha membingkai hidup mereka dengan kemapanan. Di dalam bingkai itu, mereka berusaha melukiskan hidup mereka yang terpelihara dengan baik. Ada rumah yang besar, mobil yang mewah, tabungan yang berlimpah, dan sebagainya. Tetapi, apakah kemapanan mampu memelihara hidup manusia secara sempurna? Kitab Suci berkata, "Apa gunanya ...." Bingkai hidup orang Kristen bukan kemapanan, tetapi Misi Gereja. Yang membingkai bukan dia, tetapi Kristus sendiri. Ingat Yobanes 20:21. Dia yang mengutus kita. Dan di dalam bingkai itu, tangan Tuhan sendiri memainkan kuas untuk melukiskan hidup hamba-Nya yang dipelihara secara sempurna. Yang muncul bukan seorang yang dikelilingi oleh rumah yang besar, mobil yang mewah, tabungan yang berlimpah, dan sebagainya. Tetapi orang yang sangat sederhana. Tanpa roti di tangan. Tanpa bekal di punggung. Tanpa uang di saku. Cuma tongkat di tangan. Sepasang alas kaki. Dan baju satu-satunya yang menempel di tubuh. Di hadapannya, jalan yang panjang, berliku-liku, penuh kerikil dan berbatu-batu. Memang banyak rumah di sekelilingnya. Tapi tidak satupun miliknya. Ada yang membuka pintu baginya dan mempersilahkannya masuk. Tapi banyak yang menutup pintu rapat-rapat baginya. Namun demikian, lihat! Dengan wajah berseri-seri ia melangkah dengan tegap. Tidak ada kekuatiran tentang apa yang akan ia makan, minum, atau pakai. Tidak juga ada ketakutan mengalami penolakan dari orang lain yang dihampirinya. Mengapa? Ah, jawabannya ada di langit. Di sana, wajah Allah yang lembut dan penuh cinta kasih memandangnya untuk memberikan pertolongan yang dibutuhkannya setiap saat.

"Sasaran Pelayanan Manusia Seutuhnya" oleh Pdt. Erick Sudharma
Dalam Majalah Samaritan Edisi 2 Tahun 2003.

Jumat, 03 April 2020

Apakah yang Aku Peroleh?

Petrus pernah mengajukan satu pertanyaan kepada Tuhan Yesus. Pertanyaan Petrus sederhana saja. Petrus bertanya: ‘Kami telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau; jadi apakah yang akan kami peroleh?’. Pertanyaan Petrus kelihatannya sederhana, apa yang akan kami perolehPermohonan yang wajar. Tetapi Tuhan Yesus menjawabnya secara panjang lebar. Jawaban yang menyingkapkan pertanyaan Petrus tidak sesederhana seperti yang terlihat. 

Pertanyaan Petrus suatu pertanyaan serius. Tetapi sebelum kita membedah pertanyaan Petrus, perlu ditelusuri mengapa Petrus sampai mengajukan pertanyaan itu. Jawabnya terungkap dalam peristiwa sebelumnya yang direkam dalam Matius 19:16-26. Seorang muda yang kaya datang kepada Yesus dan bertanya bagaimana memperoleh hidup kekal? Yesus menjawab pencarian orang muda yang kaya itu dengan suatu perintah untuk menjual segala milikmu dan mengikut Yesus. Tetapi orang muda yang kaya itu tidak siap untuk menukar keutamaan hartanya dengan Yesus. Orang muda yang kaya itu lebih mengasihi harta ketimbang Yesus. Petrus mengamati peristiwa ini. Dalam logika Petrus, jika ia sudah mengikut Yesus dan meninggalkan segalanya, tentulah upah yang diterimanya lebih besar dari harta yang dimiliki orang muda yang kaya itu. 

Sekarang waktunya untuk bertanya kepada Yesus, apa yang akan diperoleh Petrus? Bagaimana Tuhan Yesus menjawab permintaan Petrus? 

Yesus memenuhi permohonan Petrus dengan menunjuk tiga hak istimewa yang diterima para pengikut-Nya. Tiga hak istimewa itu adalah: menghakimi dua belas suku Israel dan menerima seratus kali lipat serta memperoleh hidup kekal (Matius 19:28-29). Tiga hak istimewa yang membedakan murid-murid Yesus dengan manusia lainnya yang bukan murid Yesus. Istilah menghakimi dapat menunjuk kepada jabatan atau tugas. Murid-murid diangkat menjadi hakim atau murid-murid diberi tugas untuk menghakimi selama periode tertentu. Murid diberi hak istimewa sebagai pemimpin pada waktu penciptaan kembali (19:28). Apa maksudnya penciptaan kembali? Ungkapan penciptaan kembali menunjuk kepada periode antara kenaikan Yesus ke surga setelah bangkit dari kematian dan kedatangan Yesus yang kedua kali. Tidak hanya jabatan dan tugas sebagai pemimpin, murid juga diberi hak istimewa menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup kekal.

Tuhan Yesus mengabulkan permintaan Petrus. Ada upah tersedia bagi mereka yang mengikut Yesus. Itu hak istimewa yang diberikan kepada murid-murid Yesus. Tetapi Tuhan Yesus segera mengingatkan mereka melalui suatu perumpamaan bahwa semua manusia pada dasarnya setara. Perumpamaan yang lebih tepat disebut sebagai perumpamaan tuan dan pekerja Tuhan Yesus mengajarkan tentang kesetaraan manusia. Tidak ada manusia yang lebih berharga atau lebih tinggi dari manusia lainnya. Apa maksud setara disini? Kesetaraan dalam hal apa? Kesetaraan dalam kesempatan? Kesetaraan dalam ekonomi? Bukan! Kesetaraan yang dimaksud adalah kesetaraan sebagai manusia. Pengakuan manusia lain sebagai manusia. Itulah kesetaraan. Maksudnya manusia harus memperlakukan manusia lainnya sebagai manusia, bukan sebagai benda atau objek. Yesus menyadarkan murid-murid-Nya akan kesetaraan semua manusia. Jika mereka menyadari kesetaraan manusia, tidak masuk akal bila mereka menuntut, seperti pertanyaan Petrus, apa yang akan kuperoleh? Meskipun murid-murid menerima tiga bentuk hak istimewa, mereka harus menyadari bahwa itu semua adalah pemberian. Pemberian yang berasal dari kasih Yesus. Kasih itu memberi bukan menuntut. Yesus menjawab tuntutan Petrus karena kasih-Nya kepada Petrus. Tuntutan Petrus dijawab Yesus dengan kasih yang memberi. Lebih jauh Yesus memperlihatkan bahwa kasih dalam bentuk terdalam berarti memberi hidup kepada orang lain (Matius 20:17-19).

Tetapi apakah murid-murid mengerti ajaran Yesus? Tidak. Dua murid lain yang juga dekat dengan Yesus, disamping Petrus, yakni Yakobus dan Yohanes meminta posisi terhormat dalam kerajaan Yesus. Ungkapan ‘tahta kemuliaan’ pada 19:28 membuat mereka cemas dan cemburu. Apakah Petrus memperolehnya? Bagaimana mereka berdua? Apa yang mereka peroleh? Mereka tidak rela jika Petrus memperolehnya. Apa akal? Yohanes dan Yakobus melibatkan ibunya dalam pertarungan memperoleh kemuliaan lebih besar dari Petrus.Yakobus dan Yohanes meminta kuasa pada Yesus. Mereka ingin lebih besar dan berkuasa dari Petrus. Bagaimana Yesus merespons permintaan mereka? 

Yesus mengingatkan Yakobus dan Yohanes bahwa permintaan mereka tidak seperti yang mereka bayangkan. Mereka membayangkan posisi mulia di samping tahta kemuliaan Yesus. Tetapi Yesus menunjuk pada arah berbeda yakni ke arah salib. Itulah sebabnya Yesus menjawab ‘Dapatkah kamu meminum cawan yang harus Kuminum’ (20:22). Cawan yang dimaksud di sini adalah murka Allah atau penghukuman Allah. Yesus melihat salib. Salib adalah tempat di mana Allah mencurahkan murka-Nya. Dalam penglihatan demikian tentu tidak mungkin kedua murid berada di salib di sisi kiri dan kanan-Nya. Posisi di kiri dan kanan Yesus adalah para pencuri seperti dilaporkan dalam 27:38. 

Posisi yang dalam pengertian Yesus telah ditentukan oleh Bapa-Nya seperti tertulis dalam Yesaya 53:12 ‘ia terhitung di antara pemberontak-pemberontak’. Terhadap jawaban Yesus kedua murid menegaskan bahwa mereka sanggup meminum cawan. Tetapi maksud murid-murid seperti terlihat dalam 26:33-35 merupakan suatu sikap bahwa mereka bersedia membayar harga untuk memperoleh kemuliaan kelak yang akan diberikan Yesus di sisi kiri dan kanan-Nya. Mereka memahami penderitaan Yesus yang disampaikan pada 20:17-19 hanya sebatas penderitaan dalam perjuangan untuk mencapai kesuksesan. Kekuasaan dan sukses diperoleh setelah melewati penderitaan. Ini pikiran murid-murid, bukan pikiran Yesus. Meski demikian, Yesus membenarkan bahwa murid-Nya akan meminum cawan. Apa maksudnya? Apakah kedua murid kelak akan mati martir? Hanya Yakobus yang martir sekitar tahun 44 EK (Kisah Para Rasul 12:1-2), sedang Yohanes tidak. Mungkin maksudnya menunjuk kepada kesediaan murid kelak untuk meneladani Yesus. Teladan dalam hal apa? Kasih. Mengasihi manusia berarti melayani bahkan memberi hidup. Melayani dan memberi hidup tidak lain merupakan suatu bentuk kuasa. Kuasa yang berbeda dengan kuasa dunia ini (20:25). Yesus tidak menolak kuasa dunia ini. Tetapi Yesus sedang memberi alternatif lain terhadap suatu bentuk kuasa yang dikenal manusia. Kuasa yang lebih besar yakni melayani dan memberi hidup. Yesus memberi hidup-Nya kepada semua orang, bukan ‘banyak orang’ seperti terjemahan LAI-TB. Istilah ‘polloi’ lebih bersifat inklusif (semua) ketimbang eksklusif (banyak). Terjemahan yang tepat adalah ‘untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi semua orang’.

Pertanyaan Petrus, kelihatannya sederhana. Tetapi jawaban Yesus yang panjang menyingkapkan pertanyaan Petrus merupakan pertanyaan penting. Pertanyaan Petrus menyingkapkan tiadanya kasih karena ingin memperoleh ketimbang memberi. Pertanyaan Petrus menafikan kesetaraan manusia karena ia memiliki hasrat untuk mengekploitasi manusia lainnya untuk kepentingan diri sendiri. Pertanyaan Petrus menguak sikap ingin menguasai karena ingin dilayani ketimbang melayani. Jika Petrus, seorang murid yang dekat dengan Yesus, sampai mengutarakan keinginan demikian, barangkali tidak salah jika dikatakan bahwa pada dasarnya manusia memiliki mentalitas apa yang kuperoleh dalam dirinya. Ada manusia yang berhasil mengartikulasikan hasrat tersebut bahkan menggapainya dengan berbagai cara. Tetapi lebih banyak manusia tidak memenuhinya. Mentalitas seperti itu perlu ditransformasi secara radikal. Mentalitas apa yang kuperoleh tidak sesuai dengan norma kerajaan Allah. Cara pandang Petrus demikian perlu diubah radikal. Bukan mentalitas apa yang kuperoleh melainkan mentalitas apa yang kuberi yang perlu ditumbuhkembangkan oleh setiap pengikut Yesus. Mentalitas apa yang kuberi? Mencerminkan kasih yang didasarkan pada kesadaran kesetaraan manusia dan merupakan implementasi kuasa yang melayani orang lain. Ringkasnya, konsep-konsep kasih, keadilan dan kuasa terangkum ringkas dalam sikap hidup apa yang kuberi?

Sebagai warga kerajaan Allah yang melayani di bidang medis, mulailah hari dengan pertanyaan apa yang kuberi hari ini kepada sesamaku? Cobalah melihat pasien bukan dalam kerangka pikir apa yang kuperoleh dari pasien ini?, melainkan melihatnya dengan kacamata norma kerajaan Allah, apa yang kuberi kepadanya hari ini? Dengan memiliki sikap hidup apa yang kuberi, hidup lebih bermakna dan berarti. Bukankah kasih itu berarti memberi? Dan bukankah memberi lebih berbahagia dibanding menerima?
"Apakah yang Aku Peroleh" oleh Pdt. Armand Barus 
Dalam Majalah Samaritan Edisi Tahun 2008

Jumat, 20 Maret 2020

Task Force Covid-19

Dalam status Bencana Nasional Covid-19 di Indonesia, Perkantas terpanggil untuk melakukan aksi penggalangan dana.

Dana ini akan digunakan untuk:
- Pembelian/pembuatan hand sanitizer
- Pembelian masker dan
- Kebutuhan logistik lainnya yang berkaitan dengan Covid-19

Kami membentuk tim Task Force untuk Covid-19 yang sudah mulai bekerja mengisi gap peran-peran yang dibutuhkan dalam surveilans kontak, memfasilitasi layanan, dukungan hygiene dan edukasi self-isolation bagi kebutuhan rekan-rekan pelayanan yang membutuhkan atau nantinya komunitas yang lebih luas dalam jangka panjang.

CP : Rudi Andika (wa.me/6285647107432), PMdN (wa.me/6287884522383)

Bantuan anda bisa dikirim melalui:
Bank BCA No. Rekening: 1063305000
a.n. Yayasan Perkantas
(Diberi angka 1 di akhir donasi misal Rp. 100.001)

Setiap dukungan sahabat sekalian akan sangat berarti. Tuhan Yesus memberkati kita sekalian.

Jumat, 14 Februari 2020

Kelelahan Spiritual

Hampir semua tenaga kesehatan tahu, apa itu kelelahan. Pekerjaan penuh tuntutan yang dijalani terus-menerus selama berjam-jam dapat menyebabkan keletihan di dalam diri kita semua. Kelelahan spiritual merupakan suatu bentuk keletihan dalam jiwa kita, dalam diri kita yang paling dalam. Keletihan spiritual ini tidak dapat ditolong dengan bekerja keras selama berjam-jam, demikian pula penyebabnya bukanlah bekerja berjam-jam. Kelelahan spiritual muncul bila kita tidak lagi percaya bahwa Kristus menyampaikan kebenaran saat Ia berkata, "Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya?”1

Menurut pengamatan saya, dalam dunia kedokteran sangat sulit mencegah kelelahan jenis ini. Hal ini, sebagian disebabkan oleh posisi dunia kedokteran dalam jiwa bangsa kita. Dengan berkembangnya Inggris menjadi negara yang makin post-Christian, masyarakat secara alami cenderung mencari-cari sumber pengharapan baru di sekitarnya. Salah satu sumber yang sering diharapkan adalah sang dokter. Pengharapan akan penyembuhan medis dalam benak masyarakat merupakan cara paling sederhana untuk mendapatkan keselamatan. Rumah sakit berubah menjadi kuil-kuil dan para dokter sebagai imam-imam dalam agama baru ini. Dalam bukunya How to be Good, Hick Hornby menggambarkan tentang seorang dokter umum bernama Katie Carr yang telah terperangkap dalam pemujaan dunia kedokteran ini. Katie Carr percaya statusnya sebagai dokter membuatnya menjadi baik. "Dengar," katanya. "Saya bukan seorang yang jahat. Saya seorang dokter. Salah satu alasan saya ingin menjadi seorang dokter adalah bahwa dengan menjadi dokter saya dapat berbuat baik, bukannya karena akan menerima penghasilan yang tinggi atau hal-hal yang mempesona lainnya. Hal-hal berikut ini terdengarnya baik bagi saya, "Saya ingin menjadi seorang dokter", "Saya sedang belajar untuk menjadi seorang dokter", "Saya seorang dokter umum yang berpraktek di sebuah klinik kecil di bagian utara kota London". Menurut saya hal ini membuat saya sebagai seorang yang baik, profesional, tampak cerdas, tidak terlalu menyolok, terhormat, dewasa, penuh perhatian dan lain sebagainya. Saya seorang yang 'baik', seorang 'dokter'.

Mudah bagi kita untuk menyenangi status yang kita dapatkan secara otomatis sehubungan dengan profesi kita dalam dunia kedokteran. Kita dimabukkan oleh ide-ide bahwa kecakapan yang kita miliki merupakan jawaban atas masalah yang ada pada masyarakat sebagaimana halnya kita diperlakukan oleh para pasien kita dalam kehidupan kita setiap hari. Namun ada suatu sinisme yang menyertai pemujaan profesi dokter seperti ini. Bila kita meletakkan suatu pengharapan yang tidak masuk akal dalam segala sesuatu hal, kita tidak akan jauh dari suatu kekecewaan yang menghancurkan dan sinisme. Dalam bukunya The End of Christendom, Malcom Muggeridge melukiskan hal ini sebagai pengharapan yang tolol dan keputusasaan yang tolol. Menurut Malcom, "Di satu pihak, sebagian kebijakan baru, penemuan baru tentu saja akan membawa perbaikan sebagaimana seharusnya: suatu bahan bakar baru, suatu obat baru, suatu pemerintahan dunia yang baru. Namun di pihak lain beberapa bencana baru secara pasti juga, akan kehancuran. Kapitalisme akan runtuh, bahan bakar akan habis, plutonium akan melumpuhkan kita. Sampah nuklir akan membunuh kita, dan lain sebagainya."

Keadaan jatuh bangun yang liar ini, persis seperti yang kita temukan dalam kitab Pengkhotbah, suatu meditasi kehidupan, sebagaimana dituliskan penulisnya sebagai "di bawah matahari". Hal ini merupakan  hidup tanpa Tuhan, atau setidaknya hidup tanpa Tuhan sebagai penggerak pengasih yang aktif dalam hidup kita. 

Dalam dua pasal pertama kitab Pengkhotbah, penulis yang menyebut dirinya "Sang Guru", menceritakan bahwa ia secara aktif menjelajahi sumber-sumber kepuasan yang potensial "di bawah matahari". Ia bersenang-senang dalam tertawa, alkohol, nafsu seksual, harta benda,.. namun hal ini tidak memuaskan. Lalu ia mengejar hikmat, yang akhirnya malah membuatnya lebih mengerti akan kesia-siaan hidup. Seperti seorang pria yang berkata kepada dr. Johnson: "Anda seorang filsuf, dr. Johnson. Saya juga telah pernah berupaya menjadi seorang filsuf dalam hidup saya, namun saya tak tahu kenapa, kegembiraan selalu membongkarnya." Terutama menurutnya, kematian membawa pukulan yang fatal terhadap pengharapan kita yang keliru. Dalam dunia kedokteran, kita mengetahui bahwa riwayat kesehatan setiap orang akan diakhiri oleh apa yang sebagian orang Amerika menyebutnya sebagai suatu negative patient outcome, yaitu kematian. Hidup dalam dunia yang demikian, dunia di mana semua orang hanya mencari kehidupan "di bawah matahari", tak dapat ditawar lagi, akan menarik kita kepada sinisme dan kelelahan spiritual yang dalam. Lalu kemudian, seperti diungkapkan oleh Pengkhotbah, hal ini mulai menjadi jelas sehingga sang Pengkhotbah tak dapat terus bertahan dengan sikap skeptisnya. Terobosan iman tak terbendung.

Iman Sang Pengkhotbah

Bagi saya, hal ini dilambangkan dalam Pengkhotbah 11:1. Di sini, sang Pengkhotbah menegaskan bahwa dunia merupakan suatu tempat membingungkan yang kacau balau. Berusaha melakukan segala sesuatu yang bernilai dalam dunia yang nyata adalah seperti menebar remah-remah roti dalam sungai. Engkau hanya melepaskannya dan kemudian remah-remah roti itu mengapung ke mana, kita tak mengetahuinya lagi. Apakah bernilai menunjukkan kasih yang sesungguhnya kepada pasien yang hanya meminum obat dan kemudian pergi? Bukankah akan lebih sedikit "harga yang dibayar" bila kita hanya bersikap profesional dengan tetap menjaga jarak? Apakah saya pernah melihat buah dari berdoa bagi pasien-pasien saya? Atau apakah semua berlalu bersama angin? 

Benar. Semua berlalu bersama angin, remah-remah roti yang tertebar ke sungai, semuanya melayang ke tempat yang tidak kita ketahui. Namun ada hasil-hasil. Kita hanya membutuhkan perspektif yang lebih jauh. Pengkhotbah berkata, kita akan memetik buah setelah beberapa waktu berselang. Kita bahkan mungkin memiliki kesempatan melihat hasilnya semasa kita hidup, namun tak ada jaminan. Tuhan Yesus sangat jelas menunjukkan bahwa upah yang utama adalah pada hari penghakiman, "Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan.”2

Hanya terkadang saja kita mendapatkan dorongan yang membesarkan hati kita untuk tetap terus maju. Saya mengenal sepasang suami istri yang pada tahun 1970-an bekerja di suatu rumah sakit di negara muslim. Belakangan ini, sang istri secara secara tidak sengaja bertemu dengan seorang lelaki muda yang baru menjadi Kristen. Lelaki muda ini menceritakan kepadanya bahwa sewaktu bayi ia pernah sakit parah dan oleh ibunya dibawa ke rumah sakit di mana suami istri ini pernah bekerja. Selanjutnya, ibu sang bayi ini selalu mengajarkannya untuk menghormati orang-orang Kristen dengan perkataannya, "Orang Kristenlah yang telah menyelamatkan hidupmu." Setelah tumbuh dewasa, ia mulai mencari-cari secara spiritual, dan akhirnya diubahkan. "Lemparkan rotimu ke air, maka engkau akan mendapatkannya kembali lama setelah itu.”3

Mengolah Tanda-Tanda Iman
Kita perlu mengolah tanda-tanda iman seperti yang disebutkan dalam Pengkhotbah 11:2-6. Hal pertama adalah kemurahan hati, atau kebebasan. Mengetahui bahwa hidup tak dapat di prediksi seharusnyalah tidak melumpuhkan kita. Tak satupun dari kita yang mengetahui siapakah diantara pasien-pasien kita yang akan merespon kasih Kristiani dan perhatian kita, dan doa-doa yang akan dijawab "ya" oleh Tuhan. Oleh karenanya kita perlu dengan yakin membiarkan Tuhan menyortir apa yang akan yang akan Ia lakukan dengan pemberianNya. 

Inilah salah satu alasan mengapa saya bukanlah penggemar dari hidup yang berfokus penuh. Sangatlah umum bagi para dokter Kristen untuk merasa bahwa profesi medik sangat penuh tuntutan dengan begitu banyak kesempatan, sehingga pelayanan mereka harus terfokus pada dunia tersebut, Bagi saya tampaknya suatu fokus yang tak seharusnya pada suatu bidang dapat memimpin kepada suatu kesembronoan, ketidakbijaksanaan, atau bahkan kurangnya kepekaan akan kesempatan di bidang-bidang lain.

Sang Pengkhotbah berkata bahwa engkau tak tahu pelayanan mana yang akan menghasilkan buah, oleh karenanya lebarkanlah pelayananmu. Hal ini dapat berupa mengajar di sekolah minggu, terlibat dalam kelompok kecil pemahaman alkitab, atau berteman dengan orang yang tersingkirkan. Tuhan Yesus melakukan keseimbangan ini dengan benar. Ia memiliki fokus yang "mengarahkan wajahNya ke Yerusalem" akan tetapi juga akan berpaling menolong orang-orang, kadang-kadang untuk melengkapi kegusaran murid-muridnya yang penuh perhitungan.

Berikanlah Bahagian Kepada Tujuh, Bahkan Kepada Delapan Orang4
Karakteristik  kedua dari iman serupa Pengkhotbah adalah keberanian. Di sini Pengkhotbah menceritakan kepada kita bahwa sekali sesuatu telah terjadi, hal itu sudah terjadi. Engkau melihat awan-awan hujan yang siap menurunkan muatannya, hal itu berarti akan turun hujan. Engkau melihat sebuah pohon jatuh ke suatu arah, maka pohon itu akan terbaring di situ. Hidup tidak menawarkan pengulangan kembali.

Mungkin engkau mengetahui bahwa ada aspek-aspek kehidupanmu yang memerlukan perhatian. Mungkin itu adalah keterlibatan di gereja, panggilan untuk pelayanan lainnya, untuk mengembalikan kehidupan doamu sebagaimana seharusnya, atau untuk menjadi lebih terbuka akan imanmu di tempat kerja.

Engkau telah menemukan Kristus, janganlah menyia-nyiakan hidupmu seolah-olah tak ada perubahan yang ditimbulkannya. Beberapa tahun lalu, Os Guinness menuliskan sebuah buku yang sepenuhnya saya akan rekomendasikan. Judulnya adalah The Call. Sub-judul buku ini meringkaskan pangglan Kristus dalam hidup kita:
          Segala sesuatu sebagaimana adanya kita.
          Segala sesuatu yang kita miliki.
          Segala sesuatu yang kita lakukan.
          Jangan menjadi lelah. Jangan menjadi sinis. Ikutlah Kristus- hal ini bernilai.

1. Matius 16:26. Lihat juga Markus 8:28 dan Lumas 9:25.
2. Lihat Matius 25:31-40.
3. Pengkhotbah 11:1.
4. Pengkhotbah 11:2-6.

Ditulis oleh Peter Commont, Pendeta di Magalen Road Church, Oxford - Berdasarkan pembicaraan yang diberikan dalam studi CMF di Oxford, November 2003. Diterjemahkan oleh dr. Maria F. Ham, Sp.PA.
Dalam Majalah Samaritan No. 3/Juli-September 2005.

Kamis, 30 Januari 2020

Saat Memilih dan Mengejar Karier

Bidang kedokteran merupakan profesi dengan jamnan gaji dan masa depan yang menjanjikan, yang apabila kita tidak bijaksana dalam menjalaninya sebagai seorang Kristen akan dapat menjadikan profesi kita itu sebagai berhala. Sesungguhnya bidang kedokteran merupakan kesempatan indah untuk melayani sesama dalam kehidupan, bisa merasakan melalui tulusnya para pasien dalam memberikan kepercayaan dan keyakinan kepada kita. 

Sehubungan dengan itu, marilah kita memikirkan beberapa pertanyaan dasar yang sering ditanyakan oleh para mahasiswa FK ketika mereka diperhadapkan kepada sejumlah peluang dan tantangan karier di bidang medis.

Haruskah Seorang Dokter atau Mahasiswa FK Berambisi?

Istilah "ambisi" seringkali digunakan untuk menunjukan sikap atau perilaku yang tidak baik atau negatif, yaitu untuk orang yang melakukan seuatu pekerjaan yang hasilnya hanya untuk kepentingan diri sendiri; sikap keegoisan. Namun demikian, "ambisi" juga tidak selalu memiliki artian yang negatif.

Dalam kehidupan seorang Kristen bahkan diharuskan memiliki ambisi di dalam mencari kehendak Allah dan membangun kerajaan-Nya di muka bumi. Rasul Paulus menjadi teladan mengenai hal ini. Ia memiliki ambisi yang luar biaa, yang diibaratkannya sebagai semangat seorang atlit di dalam memenangkan suatu pertandingan olahraga. Rasul Paulus semakin memperjelas konsepnya dengan mengatakan bahwa ambisinya tidak didasarkan pada perkara dunia namun pada perkara yang di atas (Kol 3:1-2). Paulus hanya mengarahkan pada satu tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus (Fil 3:14). Rasul Paulus menyebutkan kepentingan diri sendiri sebagai perbuatan daging (Gal 5:20) dan karenanya memperingatkan kita untuk tidak mencari "kepentingan sendiri atau pujian yang sia-sia" (Fil 2:3)

Dalam realitas hidup kita harus ingat bahwa Allah adalah Alpha dan Omega, yang Awal dan yang Akhir. Itulah yang akan selalu menjadi prioritas utama di dalam kehidupan kita. 

Bolehkah Kita Berkeinginan Mencapai Puncak Karier Tertinggi?

Segalanya tergantung pada apa arti "puncak karier" buat kita! Hierarki Allah berbeda dengan hierarkinya para profesional. Sebagai seorang Kristen kita meyakini bahwa puncak karier adalah posisi yang telah ditentukan Allah bagi kita, di mana kita memberikan talenta dan bakat terbaik untuk melayani Allah di tempat itu. Dalam posisi karir yang tinggi belum tentu punya kesempatan melayani lebih banyak. Buktinya klinik FK mahasiswa bisa lebih dekat menjangkau semua tingkatan pasien ketimbang dokter praktek yang profesor; atau misalnya pada beberapa cabang medis seperti Patholigy dokternya tidak melayani pasien secara langsung. Dan juga memang benar kalau pada beberapa jabatan posisi yang lebih tinggi akan memberikan lebih banyak kesempatan bagi pejabatnya untuk membuat dan memengaruhi kebijakan kesehatan masyarakat luas, sementara posisi yang lebih rendah hanya memiliki pengaruh yang lebih terbatas dan tidak sekaligus tapi bertahap satu demi satu.

Ambisi dan melayani bukanlah merupakan dua hal yang bertolak belakang, yang terpenting adalah suatu sikap yang benar terhadap karier yang kita miliki, sebagai suatu yang utuh, dengan iman yang sungguh-sungguh. Alkitab meyakinkan kita bahwa Allah akan menyertai dan meluruskan jalanmu, oleh karena itu percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu maka Ia akan meluruskan jalanmu" (Ams 3:5-6)

Bagaimana Kita Memahami Arti Kesuksesan?

Tergantung juga pada standar sukses yang kita buat; apakah uang, ketenaran, daftar tunggu pasien di ruangan kita, raio antara yang berterima kasih dan yang komplain?

Kriteria Yesus tentang sukses sangat paradoks: "Barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu" (Mat 20:27). Bahkan seorang pemimpin harus menjadi  hamba dari yang dipimpinnya. Namun apakah kriteria pemimpin yang Tuhan Yesus berikan masih realistik di jaman modern seperti sekarang? Kita tahu bahwa antara jaman Yesus dan sekarang telah terjadi banyak perubahan yang revolusioner.

"Sebagai seorang Kristen kita meyakini bahwa puncak karier adalah posisi yang ditentukan Allah bagi kita, di mana kita memberikan talenta dan bakat terbaik untuk melayani Allah di tempat itu."

Mengacu pada kriteria Yesus dan kebutuhan kesuksesan pada saat sekarang, lantas kita berkeinginan untuk dapat melayani pasien, pekerjaan kita (teman kerja), serta tempat kerja kita (RS/Klinik), dalam saat yang sama sekaligus. Bukan sikap demikian yang diinginkan dan bukan pula berarti bahwa dalam menjalankan tugas, kita melebihi batas tanggung jawab yang diberikan kepada kita, termasuk waktu kerja yang melewati batas, namun yang dituntut adalah sikap pikir kita, yaitu tidak memaksa kehendak untuk mendapatkan keuntungan pribadi baik itu berupa uang atau kesenangan pribadi. Jadi misalnya, dalam hal melayani rekan sejawat, bisa dalam artian memintanya untuk menggantikan tugas Anda bilamana Anda harus meninggalkan tempat tugas Anda karena orang lain sedang membutuhkan pertolongan Anda.

Bagaimana Mengetahui Bidang Medis yang Sesuai?

Kebanyakan mahasiswa FK dengan proses penyeleksian yang ada, sebenarnya adalah orang-orang yang memiliki banyak talenta (multi-talenta) dan juga banyak pengalaman yang sudah mereka jalani di berbagai cabang medis. Kebanyakan dari kita memiliki dua atau lebih spesialisasi yang tidak sesuai dan jika memang demikian, orang Amerika menyebutnya "finger negative" dan Anda tidak diizinkan untuk melakukan bedah!

Gaya hidup, gereja, dan keluarga merupakan pertimbangan yang paling penting di dalam seseorang memilih bidang yang sesuai. Hampir seluruh mahasiswa membutuhkan bantuan dari dosen dan teman, baik di kampus maupun di gereja, untuk menolong mereka mencapai penilaian yang realistik mengenai talenta dan bakat mereka. Sayangnya, kurikulum mata kuliah yang ada tersusun sedemikian rupa sehingga mengurangi manfaat pertemuan antara dosen dan mahasiswa secara pribadi. Para mahasiswa berpindah dengan sangat cepat pada berbagai RS berbeda sehingga dosen juga mengalami kesulitan memberikan penilaian tentang bakat mereka masing-masing. Jelaslah bahwa disini masalah yang harus dihadapi! Bagaimanapun, sementara itu, saran bagi para mahasiswa adalah dengan berusaha mencari orang yang benar-benar mengetahui kelebihan dan kekuranganmu untuk memberikan nasehat.

Sebuah buku panduan sekular yang sangat baik mengenai karier di bidang medis adalah "So You Want to be a Brain Surgeon?" Buku ini memberikan saran praktis tentang kualitas pribadi yang dibutuhkan oleh masing-masing bidang spesialisasi, dan juga catatan-catatan yang dibuatnya dengan sekilas yang membandingkan antara berbagai pekerjaan. Pada akhirnya, kita semua harus senantiasa berdoa dan mempercayakan hidup kita dalam tangan Tuhan, karena bagi Dialah segala yang kita miliki.

Bagaimana dengan Kegagalan?

Ada orang yang melihat kegagalan dalam ujian atau mendapat pekerjaan sebagai pertanda yang jelas dari Tuhan bahwa Tuhan menginginkan kita untuk merubah arah jalan kehidupan kita. Pemikiran demikian belum tentu benar. Ada banyak alasan seseorang mengalami kegagalan, di antaranya karena hasil yang dicapainya tidak sesuai harapan, kegagalan juga merupakan kesempatan untuk mengevaluasi tugas pekerjaan kita.

Memang tidak biasa bagi seseorang untuk gagal pada ujian akhir kuliah di kesempatan pertamanya. Namun bagaimanapun hal itu juga merupakan kesempatan pertamanya. Kesempatan untuk menilai kembali motivasi belajar kita, membangun rasa percaya diri, dan juga rasa simpati kita terhadap orang lain yang mengalami hal serupa. Mungkin baik buat kita untuk melakukan re-organisasi skala prioritas-prioritas yang kita buat dalam kerangka konsep sukses yang baru. Itu penting karena mereka yang bertitel profesor pun juga banyak yang mengalami kegagalan dalam ujian dan tidak mendapatkan pekerjaan untuk lamaran yang mereka ajukan.

Menghadapi kegagalan, kita dapat menaruh harapan dan percaya kita ke dalam tangan Tuhan yang telah mempunyai rencana atas hidup kita. Ia memberikan kepada kita harapan dan masa depan (Yer 29:11). Jika kita tetap mengikuti-Nya, maka Ia berjanji akan menolong dan membawa kita ke tempat yang disediakan-Nya (Maz 37:3-6).

Bagaimana Membagi Waktu antara Karier, Rumah, dan Gereja?

Di dalam kehidupan, kita sering diperhadapkan pada pilihan, prioritas, dan pengaturan berbagai aktivitas rutin. Kontradiktif dengan harapan masyarakat ternyata tidak ada suatu formula yang ajaib, atau pun satu ayat di dalam Alkitab yang memberikan jawaban yang mudah atas (dan menghilangkan) rasa stress yang kita hadapi dalam tugas karier kita.

Bahkan beberapa bidang spesialisasi tertentu menuntut banyak waktu, energi, serta ketegangan saraf, yang mungkin akan mempengaruhi tugas dan tanggung jawab kita di rumah.

Anda harus memiliki beberapa rancangan dan membuat berbagai alternatif yang memungkinkan dari berbagai aktivitas yang sedang Anda kerjakan pada saat sekarang dan membahasnya bersama dengan suami/istri Anda dan apabila perlu dengan anggota keluarga lainnya.

Mungkin tepat apabila seorang dokter hanya bekerja di beberapa tempat sehingga pada sorenya ia punya waktu dalam aktivitas gereja atau pelayanan lainnya. Hal tersebut sama nilainya dengan orang yang dengan penuh iman mempelopori tugas pelayanan kedokteran di negara-negara berkembang, yang membutuhkan pengorbanan yang amat sangat dari sesuatu yang paling dekat dan dalam dengan dirinya.

Pengorbanan bagaimanakah yang seharusnya untuk mendapatkan masa depan yang sukses di bidang medis? Batasan apakah yang harus saya taruh di dalam ambisi karier?

Dua pertanyaan ini seperti dua sisi pada satu mata uang logam. Segala macam pekerjaan dan prestasi yang bermanfaat selalu mengandung pengorbanan yang harus dikalkulasikan dan dihitung pertama kali seperti yang Tuhan Yesus rekomendasikan kepada mereka yang berkeinginan mengikut-Nya (Luk 14:28-33). Akan tetapi pengorbanan yang secara sengaja kita berikan tidak sama dengan mengabaikan tanggung jawab kita secara tidak sengaja pada tanggung jawab kita yang lain.

Kedokteran dapat menjadi sangat menggairahkan terutama pada saat kita memperoleh penghasilan keuangan yang sangat besar dari praktek sendiri. Akan tetapi batasan perlu diberikan dalam hal waktu dan energi, untuk dapat melakukan aktivitas lain. Kita perlu juga memberikan batasan waktu dan energi kita untuk tugas pelayanan Kristen tertentu, untuk keluarga, dan rekreasi untuk melepaskan diri dari tekanan pekerjaan.

Saya memberikan batasan pribadi saya dengan tidak merencanakan aktivitas akademik atau rumah sakit pada hari Minggu, kecuali untuk alasan darurat.


Kesibukan yang tiada henti dimaksudkan sebagai "suatu aktivitas rutin yang berkelanjutan dalam kompetisi yang berlebihan". Gambaran demikian tidak seharusnya terjadi dalam karier medis orang Kristen. Kompetisi dan aktivitas yang berlebihan akan selalu nyata di dalam kehidupan, akan tetapi karier orang Kristen ditandai dengan iman yang tenang dalam rencana Allah dan rasa percaya diri bahwa Anda ada pada tempat yang benar dalam menyalurkan bakat khusus dalam pelayanan Allah. Akhirnya, Anda tidak harus menunggu sampai Anda menjadi seorang praktisioner atau seorang konsultan yang mapan baru melayani tugas pelayanan Allah di kedokteran; sebagai seorang mahasiswa FK Anda punya kesempatan yang mungkin tidak akan pernah terulang kembali. Mahasiswa FK harus meluangkan banyak waktu dengan pasien-pasien, bersaksi, dan melayani, sebanyak mungkin Anda menjadi "garam dan terang" di Fakultas Kedokteran.

Oleh: Alan Johnson/Nucleus, CMF Student  Journal, Career Choices, July 2000/Teguh W.
Dalam Majalah Samaritan No.4/November 2000 - Januari 2001.

Jumat, 13 Desember 2019

Kenikmatan Hidup Anugerah Allah (Renungan Pkh. 5:8 - 6:12)

Apa salahnya menjadi kaya? Sulit dijawab. Seharusnya tidak ada masalah, tetapi disilusi tentang kekayaan dan apa yang dapat dilakukan dengan uang, membuat kekayaan kadang menitis menjadi berhala yang kejam yang mengutuk para penyembahnya dengan ketamakan dan kekosongan hidup sekaligus. Mata tidak pernah puas dan mulut enggan berkata cukup. Kelicikan tanpa hati nurani mendehumanisasikan diri sendiri sampai ke taraf mirip binatang yang memangsa sesamanya demi sebuah ambisi. Mata melirik ke kanan kiri, melihat tiap peluang menghasilkan uang. Lipatkan uang, uang memancing uang. Kekayaan meroket sampai ke taraf daya beli tak terbatas, mampu memiliki apapun yang diinginkan. Lalu yang menyusul adalah seks dan citra, di mana perzinahan dan keangkuhan melangsungkan perkawinan silang sambil mengecap arak kebinasaan. Dan seperti dikatakan Malcolm Muggeridge, orang-orang tak ubahnya seperti kawanan babi dari Gadara yang sambil lari-lari kecil dan dorong-dorongan kegirangan kian lama kian mendekat ke bibir tebing maut, yang menjulang di atas laut. 


Ada sebuah cerita tentang seorang konglomerat. Pada suatu sore setelah melewati satu minggu yang sangat sibuk, di bawah mobil Mercedes yang mewah dan sejuk, ia dibawa pulang supir dalam kondisi lelah secara jasmani dan mental. Duduk setengah tidur sambil mengurut kepalanya yang berat, mobil melaju melewati sebuah daerah pegunungan. Hijau sawah dan lebat hutan tak menarik perhatiannya. Pikiran berkecamuk dengan harga saham, investasi dan lobi dagang. Betapa minggu yang berat.

Mendekat sebuah perkampungan, mobil melambatkan lajunya. Dan akhirnya berhenti di tengah jalan. "Ada apa?" tanya si konglomerat pada supir. Lalu supir tersebut menunjuk ke depan di mana segerombolah babi seang melintasi jalan. Ia melihat ke depan, dan segera ingin berbaring kembali. Tetapi, tunggu dulu. Ada yang menarik perhatiannya. Ia melihat ke depan kembali dan semakin terheran. Ternyata segerombolan babi itu tidak digiring dari belakang oleh banyak orang. Tidak juga diikat dengan tali. Tetapi hanya seorang pemuda kurus berjalan di depan dan inilah anehnya. Semua babi itu dengan perlahan dan teratur mengikuti dari belakang dengan tertib. Padahal babi adalah binatang yang paling susah diatur. Selalu menentang dan berontak.

Karena tertarik konglomerat itu keluar dari mobilnya, untuk melihat bagaimana keanehan itu bisa terjadi. Begitu mendekat ia pun mengerti. Ternyata pemuda kurus tersebut membawa sebuah keranjang berisi daun kacang dan kacang busuk. Dan setiap kali ia melemparkan kacangnya ke belakang maka babi-babi itu mengikut ke mana saja kacang itu dilemparkan untuk memungut dan menikmati makanan ringan tersebut dengan muncungnya.

Tersenyum dan menggeleng-geleng kepala, ia mengerti bagaimana keanehan itu bisa terjadi. Sedikit berteriak, ia menyapa anak muda itu, "Banyak ya babinya..!!"

Menoleh ke samping, anak muda itu menjawab, "Lumayan pak..!!"

"Mau dibawa kemana babi ini..?" tanyanya iseng, sambil menutup hidung.

"Kesana pak, rumah potong babi...!" sahutnya sambil tersenyum.

"Apa..? Rumah potong...?" Si konglomerat termenung, sementara gerombolan babi itu digiring ke rumah potong. Lalu ia berjalan perlahan dan masuk ke mobilnya. Tetapi ia diam saja, sampai supir bingung dan bertanya, "gimana pak, kita jalan?"

Ditatapnya supirnya dan ia berkata dengan sedih, "Saya seperti babi itu. Digiring dan dibawa ke rumah potong untuk disembelih..."


Uang tidak dapat membeli segalanya. Kita dapat membeli makanan, tetapi tidak membeli selera makan. Kita dapat membeli spring-bed, tetapi tidak dapat membeli tidur yang nyenyak. Kita dapat membeli entertainment, tetapi tidak dapat membeli sukacita. Seperti kata pengkhotbah, hidup yang nikmat adalah karunia Allah (Pkh 5:17-19). Seorang buruh kasar sering makan lebih lahap dari pada majikannya. Walaupun makannya jauh lebih sederhana. Sementara sang majikan memandang dengan campuran bosan dan sedikit muak sambil menggosok-gosok perut gembulnya memandang meja penuh hidangan berminyak. Seorang petani tidur dengan nyenyak beralaskan tikar berselimut sarung, sementara banyak konglomerat tidur gelisah di atas tilam magnetik yang katanya anti-stres. Inilah yang dikatakan pengkhotbah dengan kesia-siaan dan usaha menjaring angin (Pkh 5:9,15).

Kehidupan tidak bisa dinilai dengan penampilan. Sering rumput tetangga kelihatn lebih hijau. Apalagi agen propaganda hedonisme begitu ulung menawarkan produk-produk yang sarat tipu daya. Padahal di kedalamannya ada kekosongan yang hanya menunggu untuk ditelanjangi sang waktu. Lihat sejenak kaum selebritis, ekonomi, hukum atau politik. Tampil di layar kaca dengan senyum dan tawa. Ditambah penampilan selangit, dengan muka licin dan tubuh semampai. Kerlap-kerlip dunia yang membuat mata silau dan melemparkan angan ke alam mimpi. Betapa menggiurkan untuk menyimpulkan bahwa mereka memiliki segalanya, mereka bahagia dan inilah hidup. Benarkah demikian? Benarkah mereka bahagia? Benarkah mereka menikmati hidup yang mereka jalani? Benarkah mereka tidak pernah menyesali apa yang mereka miliki? Benarkah mereka puas dengan apa yang mereka punya?

Tetapi kenapa merekalah justru golongan orang yang sering kawin-cerai? Mengapa merekalah yang sering terlibat dengan narkotika dan obat-obatan? Kok, mereka juga yang suka mengadakan pesta pora dan kehidupan seks yang liar? Bukankah ini menunjukan, justru mereka sangat tidak puas dengan hidup mereka? Dalam semerbak dan warna-warni, yang ada hanyalah sebuah dataran kosong yang tak berisi. Datar dan membosankan. Mungkinkah di kedalaman hati yang terdalam mereka sebenarnya cemburu pada anak gembala kecil yang bersahabat dengan alam, dan pulang ke rumah, ke pangkuan ibunya dengan hati bebas ceria penuh tawa dan gelak canda?

Saya mengenal beberapa misionaris. Yang hidup sederhana dan tinggal jauh dari kampung halaman. Mengabaikan kesempatan berkarir bagi diri sendiri dan menjawab panggilan bagi suatu misi. Mereka hidup gembira dan bebas lepas. Mereka tidak mengejar kebahagiaan, tetapi mereka bahagia. Mereka tidak mengejar kekayaan, tetapi mereka "kaya". Mereka tidak mengejar popularitas, tetapi mereka dikenal sampai ke alam sorga. Pun saya membaca tentang Bunda Teresa yang hartanya hanya dua pasang pakaian, sepasang sepatu, sebuah piring, sebuah cangkir dan sebuah sendok, namun dalam bukunya The Heart of Joy saya sulit menemukan ungkapan sukacita yang menandingi ungkapan sukacita yang dimilikinya. Dalam hal ini berlaku, yang mencari tidak mendapatkan, tetapi yang tidak mencari menemukan. Pada akhirnya kenikmatan hidup adalah anugerah Allah, seperti hidup itu sendiri adalah suatu anugerah.


Seluruh Alkitab tidak menyalahkan kekayaan. Saya pun setuju, tidak ada salahnya menjadi kaya. Yang salah adalah menggunakan kekayaan untuk diri sendiri. Tidak berdosa menjadi orang kaya, sama seperti tidak berdosa menjadi orang miskin. John Wesley pernah berkata, "Hai para pengusaha Kristen, cari uang sebanyak-banyaknya, dan persembahkan sebanyak-banyaknya bagi Tuhan". Memang dalam konsep kristiani memiliki uang berarti menjadi pengelola, seperti yang diindikasikan Perumpamaan Tentang Talenta. Memiliki untuk memberi adalah konsep dasar Kristiani tentang kekayaan.

"Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya" (Pkh 5:9). Ke padang kenikmatan dan kepuasan. Ke dalam kehidupan yang penuh makna dan kedalaman. Ke sanalah Allah menuntun kita. Dan itu berarti hidup sesuai panggilan. Kehidupan kemuridan yang dipanggil untuk taat, dipanggil dalam kesederhanaan bahkan dipanggil untuk menderita itulah jalan menuju kehidupan yang nikmat dan bahagia. Sesungguhnya padang hijau kelimpahan bukan dibeli dengan harta, uang dan kekayaan tetapi anugerah yang diberikan kepada mereka yang hidup dalam pengabdian, pengorbanan dan penderitaan. Terpujilah Tuhan!
Oleh Denni Boy Saragih Dalam Majalah Samaritan Edisi Tahun 2001.

Copyright 2007, Pelayanan Medis Nasional (PMdN) Perkantas

Jl. Pintu Air Raya 7, Komplek Mitra Pintu Air Blok C-5, Jakarta Pusat
Telp. (021) 3522923, 3442463-4 Fax (021) 3522170
Twitter/IG : @MedisPerkantas
Download Majalah Samaritan Versi Digital : https://issuu.com/samaritanmag