Tampilkan postingan dengan label Medical Article. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Medical Article. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 September 2019

Kecanduan: Membantu Orang Lain dan Diri Kita Sendiri (Bagian 2-akhir)

Pengobatan Kecanduan
Mengobati kecanduan-kecanduan tugas dokter Kristen? Agar mencerminkan Allah, kasih seharusnya ada dalam panggilan hati kita; kasih yang memberi diri membuat kita mudah diserang. Orang-orang yang berhubungan dengan penggunaan obat-obatan secara klasik mempunyai harga diri yang rendah, merasakan putus asa, dan berada dalam kebutuhan yang sangat besar akan cinta dan penerimaan. Kita harus ingat apa yang telah Tuhan ajarkan kepada kita dalam Alkitab tentang teman-teman kita.

1. Semua orang diciptakan menurut gambar Allah dan punya arti yang tidak terbatas dan unik (Kej 1:27). Para pasien mungkin merupakan aspek-aspek Allah yang tampak tidak terduga dan tidak disengaja bagi kita, dan pada waktu melayani mereka, kita melayani Yesus (Mat 25:40). Batchelor telah mengatakan bahwa pengalaman atas ketidakberdayaan dan perjuangan kemungkinan membuat orang lebih menjadi manusia sepenuhnya dan lebih hidup, dan Paulus mengatakan kepada kita bahwa penderitaan menimbulkan ketekunan, karakter dan pengharapan (Roma 5:3-4). Ada kebaikan, kemurahan, dan kegembiraan yang sangat besar ditemukan di antara kecanduan khususnya pada tuna-wisma.
2. Tidak ada warga kelas satu dan dua dalam Kerajaan Allah - kita semua sama-sama berada dalam anugerah Allah (Rom 3:23). Ketika Allah mengundang banyak orang ke perjamuan kawin-Nya, Dia sendiri menyediakan pakaian-pakaian pesta yang dibutuhkan, sehingga semua orang yang pada mulanya memakai kain-kain yang tidak pantas, menjadi sama seperti Dia (Matius 22:1-14). Yesus tidak menghukum atau menghakimi orang-orang yang gagal untuk hidup sesuai dengan standar Allah, dan demikian juga kita. Kita pun sebaiknya tidakmenjadi seperti Kaum Farisi yang percaya bahwa semua penderitaan merupakan hukuman yang sepantasnya atas dosa yang telah dilakukan.
3. Allah meneriakkan keadilan dan pembelaan atas ketidakberdayaan dan kerugian (Mi 6:8, Ams 5:24)
4. Standar orang Kristen tentang kebenaran dan pengharapan seharusnya dipraktekan dalam kehidupan. Cara kita berhubungan dengan pasien-pasien kita seharusnya memberi pengharapan dan dorongan motivasi kepada mereka. Dibutuhkan hubungan-hubungan kita yang jujur dan kuat (Mat 10:16)



Menanggulangi Kecanduan non Kimia
Kita semua mempunyai tingkat kesulitan dalam menanggulangi kecanduan-kecanduan yang bersifat non-kimiawi, kita semua adalah para pendosa. Semua yang telah Tuhan ciptakan dengan baik telah dirusak oleh dosa kita - tidak hanya dalam penggunaan zat-zat kimia, tetapi juga dalam diri kita sendiri, hubungan-hubungan kita, pekerjaan kita, bahkan penyembahan kita kepada-Nya (Kej 3:17; Rom 8:22). Puji syukur, oleh karena anugerah Allah yang besar, kita dapat dipersatukan dengan Dia melalui Yesus (Rom 5:1).

Langkah pertama dan yang sangat fundamental dalam berurusan dengan semua kecanduan adalah dengan mengakui bahwa ada suatu masalah. Jika kamu tidak mengakuinya, maka kamu bahkan tidak dapat mulai berbuat apa-apa lagi. Pertanyaan-pertanyaan yang berguna untuk ditanyakan kepada diri sendiri tentang kecanduan-kecanduan kamu adalah: 
1. Siapa atau apa pusat hidupmu?
2. Dengan kehendak apakah saya selalu mampu mendapatkan tempat, waktu, atau uang?
3. Siapa atau apa yang saya pikirkan sehingga banyak waktu saya terbuang? 'Karena dimana hartamu berada, di situ juga hatimu berada." (Lukas 12:34)
4. Apa yang akan dikatakan orang-orang terdekat dan orang-orang terkasih kepada saya jika saya menyuruh mereka untuk mendaftar prioritas-prioritas saya?

Kecanduan dapat menjadi suatu masalah fisik atau mental. Kemungkinan kita membutuhkan spesialis yang terampil, bantuan medis atau psikologis untuk menanggulangi kecanduan. Bagaimanapun, tidak semua orang akan membutuhkan cara penanggulangan ini; beberapa orang mempunyai cara mengatasi yang sederhana: di mana mereka akan berhenti dari kebiasaan mencandu dan selesai sudah. Banyak orang lainnya melakukan caranya sendiri pula seperti menghentikan kebiasaannya melalui kelompok-kelompok pertolongan terhadap diri sendiri atau agen-agen pendukung sukarela.

Bagaimanapun, kecanduan tidak hanya merupakan masalah fisik dan mental; tetapi juga merupakan masalah rohani. Ketiga aspek ini saling berhubungan dekat sekali, dan karena akar dan pengaruh dari permasalahan tersebut termasuk suatu dimensi kerohanian, maka tidak ada solusi yang komplit tanpa menuangkan masalah ini ke dalam suatu catatan. Menjadi kecanduan terhadap sesuatu sama halnya dengan menyembahnya; kita seharusnya bersandar kepada Allah saja. Kecanduan merupakan suatu bentuk pemujaan terhadap berhala yang menggantikan kedudukan Allah dari tempat yang benar dalam pusat kehidupan kita, dan kita mungkin mengabaikan suara-Nya untuk memenuhi kecanduan kita. Tentu saja, kecanduan mungkin merupakan suatu bentuk pemujaan terhadap berhala yang mengganti kedudukan Allah dari tempat yang benar dalam pusat kehidupan kita, dan kita mungkin mengabaikan suara-Nya untuk memenuhi kecanduan kita. Tentu saja, kecanduan mungkin merupakan suatu bentuk penyangkalan terhadap kebutuhan kita akan Allah, atau suatu usaha untuk menghadapi lubang yang dalam pada kehidupan kita yang di mana Allah saja yang dapat mengisinya.

Kita harus menyerahkan semua luka dan kekhawatiran kita kepada Allah (1 Petrus 5:7; Matius 6:34), berbalik kepada Dia, mengakui dan bertobat dari kesalahan yang dilakukan, dan mengetahui tentang pengampunan yang cuma-cuma dan penuh (1 Yoh 1:9). Hal ini mengacu pada pengharapan yang diperbaharui dalam kehidupan masa lalu.

Kita diciptakan untuk memiliki hubungan-hubungan yang kuat dengan orang-orang lain, jadi kita harus memastikan bahwa kita memiliki hubungan-hubungan tersebut! Kita harus jujur, tidak hanya kepada diri kita sendiri, tetapi juga kepada orang-orang lain, dan belajar untuk bertanggung jawab kepada mereka. Kemudian kita akan mendapat dukungan dari orang-orang lain, termasuk pemimpin-pemimpin Kristen kita yang telah Allah tempatkan diantara kita untuk kebaikan kita (Kis 2:42; Ef 2:19; Hak 5:16). Dan jangan pernah, sekalipun, melupakan bahwa kita memiliki pertolongan yang berkuasa, yaitu Roh Kudus dan doa, yang berada di pihak kita sebagai orang-orang Kristen (Gal 5:22; Ef 3:20, 5:18, 19; 2 Tim 1:7).



Kecenderungan Kecanduan
Bersiap-siaplah, dengan hati-hati, untuk berhadapan dengan orang-orang lain. Mereka tidak suka bila diberi 'nasehat' tetapi dalam pertemanan kita punya tugas menolong mereka. Jika mereka bukan orang-orang Kristen, mereka mungkin tidak akan menerima bahwa ada dimensi kerohanian dalam masalah mereka. Bagaimanapun, bila mereka sudah tahu bahwa mereka bermasalah setidaknya kita bantu mereka untuk menghadapi masalahnya. Jika mereka menolak, teruslah berdoa untuk mereka dan memelihara hubungan dengan tetap memberi kasih pada mereka.

Setiap fakultas kedokteran, rumah sakit, tempat praktek umum, atau karyawan lain akan memiliki prosedur yang dibuat dengan sangat hati-hati untuk memberi perhatian pada para pecandu, tapi baiklah memang menawarkan nasihat dan bantuan, daripada secepat-cepatnya mengajukan prosedur disiplin (meskipun hal ini merupakan pilihan yang terakhir).

Akhirnya, kita harus ingat bahwa penyembuhan dan kecanduan biasanya merupakan suatu proses, bukan peristiwa perubahan hidup yang cepat, jadi kita mungkin perlu untuk balik kembali ke langkah-langkah ini berkali-kali. Allah adalah Allah atas mujizat-mujizat dan tak seorang pun dapat melebihi pertolongan-Nya.


__________________________________________________________
Sumber:
Addiction Helping Others and Ourselves, "Nucleus", October 2000
Oleh Mick & Sally Leach (keduanya Spesialis GP pada kecanduan obat-obatan)/
Terjemahan bebas Esther T.N/
Dalam Majalah Samaritan Edisi 1 Tahun 2001

Kamis, 29 Agustus 2019

Kecanduan: Membantu Orang Lain dan Diri Kita Sendiri (Bagian 1)

Pengobatan atas banyak kecanduan, termasuk kecanduan obat-obatan, merupakan bagian dari tugas para dokter: Para pengguna obat-obatan mempunyai hak yang sama seperti pasien-pasien lainnya. Kita perlu memikirkan posisi kita sendiri berkenaan dengan perawatan dan pengobatan kepada mereka yang mungkin kecanduan akan sesuatu.


Definisi
Definisi yang mungkin paling sederhana adalah penggunaan atas hal-hal yang berhubungan dengan zat-zat kimia. Definisi ini berasal dari Klarifikasi Penyakit International (ICD). Mereka menetapkan kecanduan sebagai suatu bentuk penggunaan zat-zat psikoaktif, yang menyebabkan kerusakan terhadap kesehatan baik fisik dan mental.

Para pengguna akan selalu berusaha mencari cara untuk mendapatkan zat-zat tersebut, baik dengan cara membuat resep obat atau cara yang lain, yang mereka pikir dapat membantu mereka untuk menghindari rasa kesepian. Jadi obat-obatan atau pengadaannya, menjadi suatu hal terpenting dalam kehidupan para pengguna. 'Dimana saya dapat memperoleh...?' dan 'Bagaimana saya dapat membayar...?' merupakan pikiran-pikiran pertama yang muncul ketika baru bangun pagi.


Penyebab Kecanduan
Daftar 'kemungkinan' sangat panjang; kita dapat kecanduang hampir terhadap apa saja. Hal-hal yang berhubungan dengan tubuh kita atau keinginan-keinginan tubuh (seperti makanan, penurunan berat badan, olahraga, atau sex) dapat membuat kita kecanduan, sama halnya dengan apa yang dapat dilakukan dari keuntungan materi atau barang milik (seperti uang dan berbelanja).

Banyak orang dapat menjadi kecanduan terhadap suatu rangsangan atau risiko (seperti perjudian, percabulan, TV, game), atau kecanduan dapat berkembang dari hal-hal yang kurang nyata (seperti kasih sayang yang tidak pantas kepada seorang yang spesial, kebutuhan akan dukungan, atau kebutuhan untuk merasa bersalah).

Ada pula kemungkinan kecanduan akan upacara keagamaan, sebagai contoh, kecanduan akan 'pekerjaan' keagamaan (termasuk ketertarikan pada ilmu gaib) atau bahkan terhadap tata cara ibadah yang khusus. Semua tindakan ini dapat dilihat sebagai usaha percobaan untuk memenuhi kebutuhan normal manusia.


Keuntungan dan Kerugian Penggunaan Zat
Selama berabad-abad, bagi banyak agama, penggunaan obat-obatan telah terlihat sebagai suatu perantara bagi pengalaman rohani, suatu jalan menuju Allah (contoh: pemakaian ganja pada aliran Rastafarianisme). Juga, ganja telah digunakan dalam pengalaman-pengalaman pribadi seorang manusia biasa (contoh: 'perasaan damai luar biasa' Coleridge diperoleh dari penggunaan mandat). Contoh yang paling terkenal pada zaman modern adalah penggunaan LSD yang menimbulkan halusinasi-halusinasi.

Menggunakan beberapa zat kimia mungkin membuat orang-orang merasa lebih relax, atau membantu mereka untuk berhenti mengkhawatirkan banyak hal (yang sebaliknya hal ini berarti suatu penghalang untuk menyembah Tuhan) tetapi apakah pengalaman-pengalaman tersebut benar-benar suatu tindakan yang benar?

Para pengguna mungkin menceritakan bahwa mereka merasa lebih hidup dan penggunaan obat-obatan membuat mereka lebih dewasa secara mental, memberi pemenuhan secara pribadi dan berarti. Paul McCartney mengatakan bahwa LSD membuat mereka menjadi 'Seorang anggota masyarakat yang lebih baik, lebih jujur, lebih toleransi'. Para pengguna heroin menceritakan tentang rasa penerimaan dan penemuan akan apa yang selama ini mereka cari.

Para pengguna alkohol, obat perangsang, dan madat menceritakan tentang rasa kebersamaan yang tinggi, dan para pengguna ekstasi sering merasakan suatu perasaan yang kuat terhadap ikatan kebersamaan. Tetapi adakah perubahan yang terlihat dalam diri dan perilaku orang-orang tersebut terhadap orang lain? Sebab obat-obatan, dapat menjadikan rasa kebersamaan dan persahabatan dapat dijalankan dalam pengertian yang salah.

Banyak pengguna benar-benar perduli dan hati-hati terhadap orang lain, tetapi semua situasi tersebut justru dapat terlihat membahayakan. Rasa kebersamaan dapat berubah dengan cepat menjadi penyerangan dan kejahatan. Juga karena rasa toleransi, antara pengguna dapat saling memberi sehingga tampak rangkaian penggunaan tidak terputus.


Jenis-jenis Kecanduan
Pada mulanya jenis-jenis kecanduan semata-mata berasal dari akibat tingginya 'kelemahan moral' (dalam terminologi orang Kristen, 'dosa') akan ilmu biologi atau jenis obat-obatan.

Sebagai contoh, sebuah surat dari seorang dokter penjara yang mempertanyakan ide tentang penyalahgunaan obat-obatan sebagai suatu penyakit, dalam arti bahwa penyakit tersebut menjadi suatu 'serangan yang merugikan kesehatan'. Ia menulis "inti penyalahgunaan obat-obatan berasal dari otonomi tubuh seorang individu untuk memilih apakah menyalahgunakan obat-obatan atau tidak". Dengan menggunakan suatu jenis pengobatan, menguatkan mitos yang menyatakan bahwa kecanduan merupakan perantara yang pasif dari suatu proses penyakit; di mana kecanduan-kecanduan tersebut tidak punya kendali.

Sebaliknya, dalam tulisannya di Lancet, O'Brien membuat suatu kasus yang menarik pada ketergantungan obat-obatan yang dinyatakannya sebagai suatu penyakit yang kronis, dan ia membandingkannya dengan penyakit-penyakit kronis lainnya seperti asma, diabetes, dan hipertensi. Keempat penyakit ini sama membutuhkan perawatan yang baik, baik itu farmakologikan, fisikasosial, atau kedua-duanya. Dia membuktikan bahwa sekali penggunaan obat-obatan menuju ke arah ketergantungan, akan ada suatu kondisi yang terpengaruh. Melihat kondisi keemoat penyakit tersebut dapat dikatakan, bahwa ada suatu pertemuan antara faktor genetik, biologis, perilaku, dan lingkungan pada aetiologi mereka.

Perawatan tidak baik atas penyakit-penyakit tersebut biasanya berhubungan dengan penyakit jiwa, kurangnya dukungan keluarga, dan golongan-golongan ekonomi rendah.

Banyak penelitian telah dilakukan terhadap kasus biologis, obat-obatan, keluarga, dan perilaku dari dari pecandu atau yang memiliki kecenderungan kecanduan. Penelitian pada ketergantungan alkohol menunjukan pentingnya faktor keluarga non-genetik, dan juga beberapa bukti komponen genetik, melalui penelitian kembar dan adopsi.

Para psikiater mengenal beberapa tipe kepribadian yang saling menyerupai dari mereka yang mengalami kecanduan, seperti pengambilan resiko, pencarian sifat-sifat baru, dan kekacauan-kekacauan dalam kepribadian, anti-sosial. Penyakit-penyakit mental yang memberi kecenderungan depresi, kegelisahan (terutama penyakit ketakutan sosial) dan kadang-kadang penyakit organ otak atau schizofrenia, terlihat juga pada mereka yang kecanduan.

Ketergantungan mungkin merupakan suatu interaksi kompleks antara ciri-ciri ilmu farmasi tentang obat-obatan, karakteristik biologis, dan kepribadian dari si pengguna, serta lingkungan sosial. Sebagai dokter-dokter Kristen, kita perlu mengetahui pandangan Tuhan tentang masalah ini, dan mencari di mana letak pemikiran dan kepercayaan kita yang lebih baik dalam berbagai pandangan ini. Mungkin belum ada jawaban yang 'benar', tetapi kita perlu mempunyai suatu pandangan.


Penggunaan Zat Kimia
Dapatkah kita menggunakan zat-zat kimia dengan bijaksana? Jawaban tentang hal ini, dalam prinsip, seharusnya 'ya'. Semua dokter ingin bertanggung jawab atas keamanan setiap penulisan resep obat-obatan (beberapa di antaranya mungkin mempunyai fungsi yang ilegal, contoh: diamorfin, benzodiazepin). Yesus minum alkohol dengan bertanggung jawab dan menggunakannya dengan cara yang lain.

Tak ada satu pun yang telah Tuhan ciptakan bersifat tidak baik (Kejadian 1:31), jadi setidak-tidaknya tidak ada satupun dari obat-obatan asli yang ada bersifat tidak baik. Namun kita dipanggil untuk menyembah Allah saja (Kel 20:2,3) dan dipanggil untuk menjadi orang-orang kudus, menyatu dalam pelayanan-Nya. Kita dapat menyerupai Yesus sepanjang yang dapat kita lakukan (1 Petrus 1:16). Tentu saja seluruh tubuh kita diharapkan dapat menjadi bait yang kudus dan diberikan sebagai persembahan yang hidup kepada Allah (1 Kor 6:19; Rom 12:1).

Dalam terang Firman Tuhan ini, ketika memutuskan entah itu menggunakan obat-obatan, akan sangat bijaksana bila kita mempertimbangkan apakah zat-zat kimia dalam obat-obatan tersebut dapat mengakibatkan kecanduan; apakah kita mungkin kehilangan kendali, atau mendapatkan bahwa obat-obatan telah datang untuk menguasai kehidupan kita? Setidak-tidaknya, kebanyakan dari zat-zat kimia tertentu dapat mengakibatkan kecanduan psikologis. Juga, apakah obat-obatan membahayakan tubuh kita, dan dalam dosis berapa?

Masalah-masalah atau emosi-emosi kita dapat dilihat sebagai bagian dari pertumbuhan rohani kita, yang mendesak kita untuk berkomunikasi dengan Allah, seperti yang terlihat dalam kehidupan Elia dan Ayub. Kedua orang ini sangat menderita dan mengalami depresi yang sangat serius, namun mereka masih tetap tidak memutuskan komunikasi dengan Allah. Mereka berteriak dan marah kepada Allah, tetapi mereka tidak mengingkari emosi mereka atau dengan kata lain, mengeluarkannya. Dengan mengeluarkan masalah-masalah mereka kepada Allah, membawa mereka keluar dari depresi ke kedewasaan iman yang lebih dalam kepada Dia.

Seorang psikiater yang bijaksana telah berkata: 'jika kamu minum untuk meringankan emosi, maka hati-hatilah! Jika kamu mendapat suatu masalah yang menimbulkan emosi yang tidak menyenangkan, seperti kegelisahan, singkirkan masalah tersebut, lalu pergilah untuk minum. Tetapi jika kamu minum untuk mengeluarkan emosi, maka sangat berhati-hatilah!' Kita harus memikirkan mengapa kita menggunakan zat-zat kimia pada stamina tubuh kita yang tidak baik... dan selalu berbalik kepada Allah.

Kita diperintahkan untuk menundukan semua otoritas dan mematuhi hukum-hukum yang mereka buat (Roma 13:1), jadi kita seharusnya tidak menggunakan obat-obatan yang ilegal atau membantu orang lain untuk mendapatkannya. Allah telah menghubungkan kita dengan keluarga dan teman; di mana mereka mempunyai tugas dan tanggung jawab sendiri. Di luar dari kasih Allah dan manusia-manusia-Nya, kita seharusnya menggunakan hal-hal ini dengan iman.

Rencana Allah atas kita termasuk pekerjaan yang telah Tuhan berikan untuk dilaksanakan (Kej 2:15), jadi kita seharusnya tidak menyalahgunakan posisi kita dan harus selalu bekerja seperti kita bekerja untuk Allah dan melakukan itu semua dalam nama-Nya (Kolose 3:17, 23, 24). Diharapkan kita menjadi contoh yang baik bagi orang lain dan tidak menyesatkan mereka.

Ada beberapa pertanyaan baik untuk ditanyakan kepada diri kita sendiri ketika berpikir tentang penggunaan obat-obatan:

1. Apakah kejahatan menyangkut penggunaan obat-obatan saya secara keseluruhan?
2. Ketika dalam keadaan mabuk, apakah saya melakukan perbuatan-perbuatan kriminal (seperti mengendarai di bawah pengaruh mabuk)? Kemabukan merupakan suatu masalah tingkat atau derajat; bagaimana saya dapat mengeluarkannya dengan aman?
3. Bisakah saya mendapat 'pengaruh yang baik' tanpa mendapatkan sisi pengaruh yang berbahaya?
4. Adakah kesempatan untuk merugikan orang-orang lain atau saya sendiri secara fisik?
5. Apakah hubungan saya (yang telah Tuhan berikan) dapat dirusak oleh kecanduan saya?
6. Apakah saya masih dapat menyelesaikan kewajiban-kewajiban saya terhadap orang lain sebagaimana mestinya?
7. Apakah kemampuan saya dapat berkurang dalam hal kapasitas saya?
8. Kemungkinan saya dapat menggunakan zat kimia ini dengan bijaksana dan sebagaimana mestinya, tetapi akankah saya menuntun orang lain ke suatu situasi yang dapat melepas kendali mereka?



Bersambung: Pengobatan Kecanduan & Menanggulangi Kecanduan Non Kimia
_________________________________________________________
Sumber:
Addiction Helping Others and Ourselves, "Nucleus", Oktober 2000
Oleh Mick & Sally Leach (Keduanya spesialis GP pada kecanduan obat-obatan)/terjemahan bebas Esther T.N.
Dalam Majalah Samaritan Edisi I Tahun 2001.

Kamis, 15 Maret 2018

Doctors Who Follow Christ (JAMES DERHAM)


JAMES DERHAM
DOKTER DITENGAH RINTANGAN RASIAL

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus...”
(Matius 28:19)


Lahir di California tahun 1762, James Derham bangkit menjadi seorang dokter terkenal di tengah berbagai rintangan rasial.  Sebagian besar hidupnya dihabiskan dalam perbudakan, namun demikian ia menjadi seorang dokter keturunan Afrika-Amerika pertama di negara Amerika itu. Pencapaiannya ini lebih mengherankan ketika kita menyadari bahwa tidak lebih dari seabad kemudian barulah menjadi hal yang umum bagi seorang keturunan Afrika-Amerika untuk menapaki jenjang pendidikan dokter di Amerika Serikat.


Saya berbicara dengannya mengenai penyakit-penyakit akut dan epidemik di negara-negara dimana ia tinggal, dan sangat senang ketika  mengetahui bahwa ia sudah diperkenalkan dengan cara praktek yang sederhana namun moderen terhadap penyakit-penyakit tersebut.  Saya berharap bisa menyarankan padanya beberapa macam obat baru namun justru ia yang memberikan saran yang lebih banyak lagi,“ begitu kesaksian Dr. Benjamin Rush (1746-1813), sekaligus memperkenalkan James Derham kepada dunia.  Kesaksian Rush ini merupakan penghargaan yang tidak kecil dari seorang tokoh masyarakat terhadap seorang budak kulit hitam.

Kapan saja, menjadi seorang dokter memang tidaklah mudah. Namun coba bayangkan rintangan-rintangan yang dihadapi seorang keturunan Afrika-Amerika di tahun-tahun awal negara Republik Amerika. Bahkan di negara yang melarang perbudakan, seorang keturunan Afrika asli tetap dipandang lebih rendah oleh karena warna kulitnya. Di negara-negara bagian selatan seorang berkulit hitam menjadi sasaran perbudakan. Mereka yang menikmati emansipasi tidak dapat bersandar atau mengandalkan jaminan dari kebebasannya. Kasus-kasus penculikan para budak yang dibebaskan sangat terkenal. Orang-orang kulit hitam yang bebas dihalangi dan diperlakukan berbeda di akademi-akademi dan universitas-universitas, tidak terkecuali sekolah kedokteran. Dalam kebanyakan kasus, keterampilan-keterampilan dasar seperti menulis dan membaca dijauhkan dari orang-orang kulit hitam. Oleh karena itu menjadi seorang dokter berkulit hitam benar-benar suatu upaya perjuangan  yang luar biasa.

Orang-orang kulit hitam yang dinyatakan sebagai dokter muncul lebih awal di negara Amerika. Keterampilan mereka mungkin tidak begitu maju meskipun dalam prakteknya mereka menggunakan ramuan tumbuh-tumbuhan yang mengandung manfaat untuk menyembuhkan. Dokter-dokter jahat selalu berkajang ditengah para budak. Para dukun ini memangsa anggota dari kaum tertindas keturunan Afrika ini, yang sering hanya bisa memperoleh  sedikit  bantuan profesional jika pemilik mereka tidak mau mempekerjakan seorang dokter terlatih untuk menolong mereka.

James Derham merupakan seorang keturunan Afrika-Amerika dari negara Amerika Serikat yang dikenal sebagai dokter yang cukup berkualifikasi. Pengenalan kita yang sedikit mengenai dirinya adalah karena  ketetapan hatinya untuk menaati perintah Kristus. Tahun 1788, Derham mengadakan perjalanan spiritualnya dari Katolik di New Orleans (yang kemudian berada di bawah hukum Spanyol) ke Philadelphia untuk dibaptis dalam iman Episkopal sewaktu masa kecilnya. Di Philadelphia inilah ia bertemu dengan sang dokter dan pejuang, Benjamin Rush.

Pada waktu itu Rush merupakan seorang dokter kepala di Philadelphia, bahkan di sekitar tiga belas koloni. Sebagai lulusan Edinburg, ia merupakan salah satu dokter terbaik Amerika Serikat dan terlibat secara aktif dalam pelatihan-pelatihan yang khusus untuk para dokter lain.Perjuangannya bagi Revolusi Amerika dan ratifikasi Konstitusi membuatnya terkenal di Amerika Serikat yang baru lahir. Selanjutnya ia juga memenangkan berbagai penghargaan internasional yang membuatnya menjadi anggota dari sejumlah perkumpulan di luar negeri. Oleh karena itu penilaiannya tentang Derham sangat berharga. Ia memberikan informasi mengenai Derham ini kepada Perkumpulan Philadelphia untuk mendukung Penghapusan Perbudakan.

Menurut Rush, Derham dilahirkan sebagai seorang budak di Philadelphia sekitar tahun 1762. Dalam saat tertentu di awal kehidupannya Derham belajar membaca dan menulis. Anak ini dipindahkan ke tempat Dr. John Kearsley Jr, seorang dokter dan ahli penyakit tenggorokan di Philadelphia. Kearsley melatih sang anak untuk membuat campuran obat dan menunggui pasien-pasiennya.

Kehidupan sebagai seorang budak merupakan kehidupan yang tidak menentu. John Kearsley merupakan seorang yang sangat berapi-api melawan Revolusi Amerika dan berpihak pada Inggris. Para pejuang yang kejam dan biadab menuduhnya berkhianat, menyeretnya di jalanan dan melemparkannya ke penjara dimana akhirnya ia menjadi gila dan meninggal. Derham telah dijual. Melewati beberapa tangan pemilik akhirnya ia menjadi milik dari Dr. George West yang sangat berpihak pada pasukan Inggris. Ia mempekerjakan Derham untuk tugas-tugas medis yang sederhana. Kita bisa membayangkan anak muda ini memperhatikan dengan teliti cara kerja dokter ini, menyerap ilmu tentang anatomi dan pembedahan yang kemudian membuatnya menjadi seorang dokter yang luar biasa.

Pada akhir perang revolusi, Dr. West tidak bisa membawa Derham sebagai budaknya maka ia menjualnya kepada dokter yang ketiga, Dr.Robert Dove dari New Orleans yang menjadikan Derham sebagai asistennya. Terbukti Derham begitu berguna sehingga Dr. Dove bahkan sampai tergerak menawarkan kebebasan kepadanya dengan syarat yang sangat mudah. Dalam dua-tiga tahun kemudian Derham bebas dan ia membuka praktek dibawah perlindungan Dr. Dove. Pendidikannya sejalan dengan pendidikan kedokteran pada waktu itu. Dari 3.500 orang dokter yang praktek di Amerika Serikat pada tahun 1800, hanya 400 orang yang bisa menyatakan bahwa mereka lulusan sekolah kedokteran. Sisanya belajar dari pengalaman magang dengan dokter-dokter yang sudah mapan atau membaca buku-buku.

Mungkin sudah ditakdirkan Tuhan, Derham menderita sewaktu di New Orleans. Rintangan rasial tidak begitu berat seperti di kota Perancis-Spanyol sebagaimana di Amerika Serikat (karena orang Perancis tidak memiliki prasangka seperti orang Amerika terhadap orang kulit hitam keturunan Afrika-Amerika; banyak warga turunan Afrika-Amerika ini yang akhirnya pergi ke Perancis untuk sekolah kedokteran disaat perguruan-perguruan tinggi Amerika menolak kehadiran mereka). Bagi Derham, warga masyarakat Perancis ini memungkinkannya untuk melakukan profesinya bahkan di kalangan orang-orang kulit putih New Orleans. Sedemikian ahlinya Derham sehingga ia bisa memiliki penghasilan sebesar $3.000 dalam setahun, suatu jumlah yang sangat banyak saat itu. Kita bisa membandingkan pendapatan Derham ini dengan para dokter yang lainnya. Lima tahun kemudian, John Story Kirkbride berpikir ia seorang dokter yang berhasil di Philadelphia dengan penghasilan $500 per tahun. Tahun 1804 Nathan Smith, seorang yang sangat berpendidikan hanya dibayar $200 setahun sebagai pendiri dan profesor kepala dari fakultas kedokteran Dartmouth College.

Rush tertarik dengan Derham pada waktu mereka berdua bertemu. Dalam sebuah komunikasi dengan perkumpulan Pennsylvania untuk penghapusan budak ia menulis tentang kemampuan Derham yang luar biasa. Sang dokter Philadelphia ini menggambarkan Derham sebagai  seseorang yang sangat sederhana, rendah hati dan menarik dalam sikap tingkah lakunya. ”Ia bisa berbahasa Perancis dengan lancar dan memiliki pengetahuan bahasa Spanyol juga. Dalam suratnya kepada perkumpulan penghapusan budak Rush juga menuliskan tentang peristiwa pembaptisan Derham.

Secara kebetulan, meskipun  terlahir dalam sebuah keluarga yang taat beribadah dari Church of England, ia tidak  dibaptis pada masa bayinya, konsekuensinya beberapa hari lalu ia mengajukan permohonan untuk dibaptis kepada Pendeta White untuk menerima pentahbisannya sebagai anggota gereja Episcopal. Pendetanya melihat ia memenuhi syarat, baik dari segi pengetahuan dan sikap moralnya, untuk menerima sakramen baptisan

Waktu itu tanggal 14 Nopember 1788. Selama sepuluh tahun setelah Derham kembali ke New Orleans, Rush dan dia masih saling berkirim surat, bertukar informasi. Rush mengirim salinan-salinan publikasinya kepada para dokter di New Orleans. Kita tidak tahu kapan atau  saat peristiwa seperti apa Derham meninggal. Jika pun ada, para penulis yang mencatat fakta-fakta yang penting tentang Derham maka catatan-catatan tersebut sudah hilang.

______________________________________________________________________________
Sumber: "Doctors Who Follow Christ, Thirty-two Biographies of Eminent Physician & Their Christian Faith (Dan Graves, Grand Rapids-USA: Kregel Publications,1999)
diterjemahkan oleh Ir. Nora D. Jacob dalam Majalah Samaritan

Kamis, 16 Juni 2016

Pasien lebih puas jika dokter menginformasikan kemungkinan efek samping yang akan terjadi

Studi terbaru menunjukan bahwa para pasien yang menjalani rawat-inap, dan menderita efek samping akibat pengobatannya, cenderung lebih menghargai kualitas perawatannya jika dokter sudah memberitahukan sebelumnya akan adanya kemungkinan timbulnya efek samping.


Dalam survei yang dilakukan pada hampir 2.300 pasien yang dirawat di 16 rumah sakit di Massachusetts, para peneliti menemukan sebanyak 603 kasus "efek samping", dan efek samping tersebut paling sering disebabkan pemberian obat baru atau komplikasi operasi selama pasien dalam perawatan. Hanya sebanyak 40% pasien yang menyatakan bahwa staf rumah sakit sudah menjelaskan masalah yang akan mereka hadapi. Meskipun demikian, para pasien mengatakan bahwa mereka lebih puas dengan perawatannya jika hal tersebut telah diinformasikan sebelumnya, meskipun mereka mengalami efek samping yang seharusnya dapat dicegah


Dr. Lenny Lopez dkk. dari Massachusetts General Hospital, Boston, menyatakan bahwa hasil studi ini mngungkap persepsi pasien terhadap kualitas perawatan yang lebih tinggi, meskipun pasien mengalami kerugian akibat timbulnya efek samping.

Dinyatakan bahwa studi ini yang pertama kali meneliti dan mengungkap tentang bagaimana penjelasan efek samping memengaruhi kesan pasien secara positif terhadap kualitas perawatan, dan makin memberi keyakinan kepada dokter yang mulanya ragu-ragu untuk mengungkap kemungkinan efek samping yang mungkin terjadi pada pasiennya.

Melalui catatan medik rumah sakit dan wawancara pada pasien, para peneliti menemukan bahwa hampir sepertiga efek samping tersebut ternyata dapat dicegah, dan kesalahan disebabkan akntara lain akibat pemberian dosis obat yang salah.

Staf rumah sakit cenderung tidak mendiskusikan kepada pasien mengenai efek samping yang dapat dicegah, dibanding efek samping yang tidak dapat dihindari seperti reaksi yang tridak diketahui akibat obat baru. Hanya 30% pasien yang mendapat penjelasan mengenai efek samping yang dapat dicegah.

Meskipun pasien menderita komplikasi yang dapat dicegah, tetapi pasien cenderung memberikan nilai kualitas yang lebih tinggi jika masalah yang akan dihadapi sudah didiskusikam sebelumnya.

Rata-rata pasien dalam studi ini memberikan perawatan rumah sakit menjadi "sangat baik", tetapi pasien yang sudah mendapat informasi efek samping sebelumnya, cenderung 2 kali lipat lebih banyak memberikan nilai tinggi dibanding yang tidak menerima informasi sebelumnya.

Berdasarkan hasil studi ini, para peneliti menganjurkan agar rumah sakit tidak perlu takut mengungkap penyebab efek samping yang timbul pada pasien, mesklipun efek samping tersebut diakibatkan oleh kesalahan.Meskipun pengungkapan informasi ini masih sangat rendah, tetapi hasil studi ini diharapkam dapat mendorong pengungkapan yang lebih tinggi, dan mengurangi kekhawatiran akan timbulnya malpraktek.

Dalam kenyataannya, pasien menginginkan kebenaran, dan pasien menganggap bahwa informasi sebelumnya mengenai efek samping adalah bagian dari kualitas perawatan yang tinggi.

Dalam studi lain yang juga dipublikasi dalam majalah yang sama, para peneliti meneliti kesalahan diagnostik yang dilakukan oleh para dokter. Ditemukan bahwa di antara 300 dokter yang bekerja di 22 rumah sakit di Amerika Serikat, diagnosis yang paling sering terlewatkan atau tertunda adalah emboli paru, reaksi obat dan dosis berlebihan, serangan jantung, serta kanker paru, kolon dan payudara.

Rata-rata dokter mengakui telah melakukan atau melihat kesalahan seperti itu 2 kali dalam karirnya. Penelusuran sendiri secara aktif akan mampu mengungkap kesalahan medik yang tersembunyi, yang secara umum tidak didata melalui sistem pemantauan atau pelaporan yang ada.

(Archives of Internal Medicine 2009; 169: 1888 - 1894).


Disadur dari : Medical Update Februari 2010.



Kamis, 09 Juni 2016

Strategi untuk Membantu Dokter Menolak Permintaan Pengobatan Pasien yang Tidak Tepat


Studi terbaru menunjukan bahwa para dokter pada dasarnya dapat menggunakan satu dari berbagai cara untuk menolak permintaan pasien-pasiennya dalam hal pemberian obat yang tidak tepat untuk mengobati penyakit mereka, tetapi masih tetap dapat mempertahankan hubungan baik antara dokter dan pasien.



Dalam studi ini ditemukan bahwa permintaan pasien mengenai sesuatu obat terjadi sekitar satu dari sepuluh kunjungan pasien ke praktek dokter. Obat yang diminta oleh pasien tidak selalu sesuai dengan obat pilihan pertama dari dokternya, terutama jika permintaan ini didasari pada alasan komersial, sebagai contohnya pasien banyak yang dipengaruhi oleh iklan obat di media. Meskipun demikian, dokter perlu berhati-hati dalam menolak permintaan pasien tersebut, karena mungkin penolakan oleh dokter tersebut dapat memberikan persepsi yang menurunkan kepuasan pasien terhadap pelayanan dokternya.

Dr. Debora A. Paterniti dkk. dari University of California, Davis, Sacramento, California, melakukan analisis data yang berasal dari uji klinik terandominasi yang meneliti perilaku para dokter pada pelayanan kesehatan primer dalam responnya terhadap permintaan obat antidepresan oleh pasien-pasiennya. Sejumlah pasien dilatih untuk meminta produk antidepresan pada 199 kunjungan ke dokter di pelayanan kesehatan primer di Sacramento, San Francisco dan di Rochester pada bulan Mei 2003 sampai Mei 2004. Pasien-pasien ini dilatih untuk mengeluh merasa letih dan juga menderita nyeri di pergelangan tangan atau nyeri di pinggang. Transkrip rekaman audio kunjungan dimana permintaan pasien ditolak, dianalisis dan dinilai untuk mengetahui strategi yang digunakan untuk menolak permintaan tersebut.

Dari 199 kunjungan di mana para pasien meminta obat antidepresan, para dokter tidak meresepkan obat tersebut pada 88 kunjungan (44%), dan 84 diantaranya dimasukan ke dalam analisis. Pada dasarnya dokter menggunakan 6 cara pendekatan untuk menolak permintaan tersebut.

Pada 53 dari 84 kunjungan (63%), dokter menggunakan satu dari 3 strategi yang menegaskan pandangan pasien-pasien. Pendekatan ini meliputi penjajakan latar belakang permintaan para pasien, yaitu dengan menanyakan dari mana pasien mendengar mengenai obat tersebut dan mengapa mereka berpikir bahwa obat itu dapat menolong penyakitnya; merekomendasikan kepada pasien untuk mencari nasehat dari spesialis kesehatan jiwa; atau menawarkan suatu diagnosis alternatif yang bukan depresi mayor,

Pada 26 kunjungan ke dokter (31%), para dokter memilih pendekatan dengan memberikan obat hipnotik dibanding memberikan obat antidepresan atau meminta pasien menjalani tes diagnostik guna menyingkirkan kelainan seperti penyakit tiroid dan anemia. Pada 5 kunjungan (6%), para dokter secara langsung menolak permintaan para pasien tersebut.

Pasien-pasien yang telah dilatih tersebut menyatakan lebih merasa puas jika dokter menggunakan strategi yang berbasis perspektif untuk pasien, guna menolak permintaan obat antidepresan.

Uraian mengenai strategi-strategi tersebut menghasilkan nuansa lebih luas dalam pemahaman komunikasi antara dokter-pasien, dan negosiasi yang telah dijelaskan sebelumnya. Strategi tersebut membekali dokter dengan pilihan untuk tidak memenuhi permintaan pasien yang dianggap tidak tepat. Sehingga membuka kesempatan bagi dokter untuk memilih pendekatan yang sesuai dengan gaya komunikasinya, keinginan pasien secara khusus, atau perubahan organisasi.

(Archives of Internal Medicine 2010; 170: 381-388).

Disadur dari : Medical Update Mei 2010

Senin, 21 Maret 2016

Jantung “Berlubang” Akibat Gigi Berlubang

Selama ini, sakit gigi maupun gigi berlubang cenderung disepelekan. Dokter gigi baru dikunjungi jika sakit gigi sudah tidak tertahankan lagi. Namun, tahukah Anda, sakit gigi bisa mengancam nyawa secara tidak langsung?
Ketika gigi berlubang, bagian yang terdapat di dalam gigi menjadi terekspos terhadap lingkungan luar, salah satunya adalah pembuluh darah. Sementara itu, mulut merupakan lingkungan yang kaya akan mikroorganisme, tanpa peduli seberapa sering kebiasaan menggosok gigi atau berkumur dengan cairan pembersih mulut. Kuman-kuman ini masuk ke dalam pembuluh darah yang terekspos akibat gigi berlubang, kemudian terbawa bersama aliran darah hingga ke jantung.
Umumnya, jantung memiliki mekanisme proteksi alami terhadap kejadian semacam ini sehingga kuman tidak dapat menempel di dalamnya. Namun, dalam kondisi tertentu, kuman dapat menempel pada katup jantung (jantung memiliki sejumlah katup yang memastikan agar darah tidak mengalir kembali melalui saluran yang salah).
Normalnya, kuman yang berhasil menyusup ke dalam aliran darah akan tergelincir dari dinding interior jantung, kemudian ikut mengalir keluar bersama darah hingga akhirnya dilumpukan oleh sistem imun tubuh. Akan tetapi, kondisi katup jantung yang rusak, baik karena kelainan semenjak lahir yang tidak terdeteksi karena tanpa gejala, penyakit jantung rematik (suatu kondisi autoimun berupa sel-sel imunitas keliru mengenali sel jantung sebagai sel yang harus diserang sehingga terjadi kerusakan pada jantung), maupun penggunaan katup jantung prostetik (katup jantung mekanik buatan yang ditempatkan untuk menggantikan katup jantung yang telah rusak).
Apabila kuman berhasil menempel pada katup jantung, maka kondisi ini disebut dengan endokarditis. Kumpulan dari kuman tersebut akan membentuk gumpalan padat. Suatu ketika, gumpalan ini dapat terlepas dari katup jantung dan terbawa aliran darah hingga ke menyumbat pembuluh darah kecil. Akibatnya, aliran darah ke tempat tersebut terhenti. Jika pembuluh darah tersebut menuju otak, maka bisa terjadi stroke. Jika menuju ginjal, bisa terjadi kematian ginjal. Demikian pula bila yang tersumbat pembuluh darah ke organ lain. Kerusakan tersebut terjadi karena sesungguhnya darah membawa oksigen dan nutrisi yang berperan vital untuk kehidupan sel-sel di tubuh. Sel yang tidak mendapat darah akan segera “kelaparan” dan akhirnya mati. Kematian sel yang banyak berujung pada kematian organ, kemudian jika tidak ditolong, bisa berakibat pada kematian manusia itu sendiri.
Sumber : http://www.spesialis.info/?waspadai-gejala-endokarditis-non-infektif,711
Tidak hanya menyumbat pembuluh darah, gumpalan ini juga bisa terbawa masuk ke dalam organ tubuh lainnya, misalnya hati. Di hati, gumpalan yang berisi kuman tadi menginfeksi hati. Akibatnya, timbul nanah di organ yang jika dibiarkan akan semakin meluas dan semakin merusak organ tersebut. Ada pula komplikasi lainnya, yaitu timbulnya gagal jantung. Gumpalan berisi kuman akhirnya berhasil merusak katup jantung sehingga jantung seolah tidak memiliki katup. Walaupun hanya satu katup jantung yang terganggu (jantung memiliki empat katup jantung), kerja jantung untuk memompa darah ke seluruh tubuh akan terganggu secara signifikan. Jantung harus berupaya lebih keras untuk memompa darah untuk mengkompensasi kerusakan tersebut. Lama-kelamaan, terjadi gagal jantung, yaitu kondisi jantung tidak lagi mampu untuk memompa darah dalam jumlah cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh tubuh.
Ketiga komplikasi di atas bisa berujung fatal. Gejala yang timbul bisa tiba-tiba ataupun perlahan-lahan. Tidak ada gejala spesifik untuk endokarditis, namun gejalanya meliputi gejala infeksi dan penyakit jantung, di antaranya demam, menggigil, sesak napas, pucat, serta pembesaran pada perut dan kaki, di samping gejala lainnya. Jika curiga akan kemungkinan endokarditis, segera memeriksakan diri ke dokter agar dapat dipastikan. Dengan demikian, penting untuk menjaga kebersihan gigi dan mulut, terutama pada orang-orang yang sudah mengalami gangguan katup jantung sebelumnya.
Patria Wardana Yuswar via Beranisehat.com

Cara Dokter dan Perawat Tetap Sehat Meski di Sarang Penyakit

Bekerja di klinik atau rumah sakit seharusnya membuat dokter maupun perawat atau siapa saja yang bekerja di dalamnya, berisiko tinggi tertular penyakit. Tapi nyatanya, dokter dan perawat tidak mudah tertular penyakit. Sebagai petugas kesehatan tentunya mereka tahu apa saja yang harus dilakukan untuk terhindar dari penyakit yang bisa jadi bersarang di sekitar mereka, seperti flu sekalipun. Setidaknya, ada 9 cara yang sering mereka lakukan agar tetap sehat tanpa tertular.

Dilansir dari Medical Daily, berikut beberapa tips dari dokter dan perawat untuk meningkatkan sistem imun sehingga terhindar dari penyakit menular : 

1. Kurangi minuman beralkohol
Berdasarkan studi dari National Institute of Alcohol Abuse and Alcoholism, kelebihan alkohol akan menekan sistem imun dengan cara mengurangi kemampuan sel darah putih melawan bakteri secara efektif. Alkohol juga membuat dehidrasi dan bisa mengganggu tidur. Ini juga dapat mengurangi pertahanan tubuh dua kali lipat.

2. Menghindari gula
Sama seperti alkohol, gula juga dapat menghambat sel darah putih menenggelamkan bakteri dan virus. Menurut penulis Healthcare Made East, Michelle Katz, batasan perempuan mengkonsusmi gula adalah 6 sendok teh per hari atau kurang dari itu. Sementara untuk laki-laki batasannya 9 sendok teh per hari.


3. Vaksin
Adanya mutasi virus menyebabkan vaksin yang telah ada menjadi tidak efektif. Tapi bukan berarti anda boleh melewatkannya. Namun, vaksin merupakan salah satu cara untuk menghindari diri dari virus flu dan penyakit lainnya.


4. Cuci apapun yang anda sentuh
Anda bisa menggunakan sabun dan air atau alkohol untuk desinfektan untuk megelap barang-barang yang anda gunakan sehari-hari. Lakukan lebih sering ketika musim flu datang untuk menghentikan penyebaran kuman. Anda juga dapat membersihan mesin cuci.


5. Konsumsi prebiotik
Seanyak 60% - 70% sistem kekebalan tubuh ada di usus. Ahli nutrisi Alexander Rinehart mengatakan usus merupakan pembatas dunia luar dengan dunia yang ada di dalam tubuh anda. Pembatas ini dilindungi oleh bakteri yang baik yang mencegah infeksi dan bakteri patogen diserap tubuh. Sementara itu studi yang dipublikasikan di British Journal of Nutrition menemukan bahwa prebiotik dapat menjadi pelindung sistem imun di dalam usus. Prebiotik juga berfungsi mencegah penyakit pernapasan seperti flu.


6. Jangan gigit jari
Kendati anda sudah mencuci tangan, jari-jari anda kemungkinan masih mengandung kuman. Kuman-kuman itu tumbuh di bawah kuku anda. Dan menggigit kuku merupakan cara yang ampuh buat bakteri masuk ke tubuh.


7. Berolahraga, tapi jangan terlalu keras.
Berdasarkan penelitian dari Appalachian State University, melakukan aktivitas yang terlalu berat meningkatkan resiko para atlet terkena infeksi saluran pernapasan karena ada perubahan negatif  dari sistem kekebalan tubuh dan meningkatkan produksi hormon stres seperti epinepherin dan kotisol. Sementara itu aktivitas as atau olahraga yang cukup justru meningkatkan sistem kekebalan tubuh.


8. Tahan napas
Kebanyakan kuman masuk ke tubuh melalui hidung dan mulut. Jadi ketika berada di sekitar orang yang sakit atau di sekitar orang yang bersin hindari menghirup napas dalam-dalam. Anda bisa menahan napas sekitar 10 detik.


9. Pergi ke luar meski cuaca dingin
Menghirup udara segar di luar rumah juga bisa mengurangi kemungkinan terkena penyakit menular seperti flu. Sebab, kebanyakan orang memilih berdiam diri di rumah ketika musim hujan atau dingin padahal di dalam, pertukaran udara lebih banyak terjadi antar setiap orang. Jangan lupa buka jendela anda atau jalan-jalan ke luar agar sirkulasi udara bisa lebih baik.

Dilansir dari Medicaldaily.com


Senin, 14 Desember 2015

Peran Mucosal-associated Invariant T-Cells dalam Imunitas terhadap Salmonella typhi


Demam tifoid masih menjadi masalah di negara-negara berkembang. Demam tifoid disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi yang penularannya terjadi secara fekal-oral. Bakteri yang berhasil melewati asam lambung akan menempel pada sel M dan epitel usus. Invasi ini direspons oleh berbagai sel seperti sel neutrofil, sel makrofag, sel T, dan sel B. Sel MAIT sebagai bagian dari sel T yang terletak di mukosa usus mempunyai peran penting dalam usaha eliminasi Salmonella typhi. Sel MAIT mempunyai TCR Vα7.2 yang bisa mengenali produk antara sintesis ribofl avin Salmonella typhi yang terikat oleh MR1. Sel MAIT diaktifkan dengan adanya ikatan antara TCR dengan ligannya, ikatan antara molekul asesori CD80 atau CD86 dengan CD28, dan ikatan antara IL-12 dan 18 dengan IL-12R dan IL-18R. Sel MAIT yang aktif mengeliminasi bakteri dengan cara mengeluarkan sitokin, perforin, dan granzim.

Sel MAIT merupakan sel limfosit berukuran besar yang menyerupai sel iNKT dengan kemampuan mengenali bakteri dan jamur. Lokasi sel MAIT di mukosa usus halus menjadikannya sel yang mempunyai peran penting dalam imunitas terhadap Salmonella typhi. Sel MAIT bisa mengenali antigen Salmonella typhi yang dipresentasikan melalui MR1. Pengenalan ini memicu serangkaian proses untuk menghilangkan patogen, meliputi sekresi perforin dan granzim, sekresi sitokin, dan membantu polarisasi sel Th0 ke arah sel Th1.

Info lebih lengkap  di http://www.kalbemed.com/Portals/6/06_235Peran%20Mucosal-associated%20Invariant%20T-Cells%20dalam%20Imunitas%20terhadap%20Salmonella%20typhi.pdf

Senin, 30 November 2015

Tak Pernah Padam


Florence gadis manis yang cantik itu lahir di kota Florence, Italia pada 12 Mei 1820. Flo, begitu panggilannya, dilahirkan dari keluarga kaya. Karena itu hidupnya bergelimang kesenangan. Namun, jauh di lubuk hatinya, ia merasa prihatin dengan orang-orang yang hidup miskin. Pada 7 Pebruari 1873, Florence mendapat visi untuk mengabdi kepada masyarakat. Dalam buku pribadinya ia menulis, "Tuhan telah bersabda kepadaku dan memanggilku untuk mengabdi kepada-Nya." Visi itu selalu menantangnya untuk mematuhi panggilan mulia ini.


Namun, tampaknya hal ini tidak semudah yang ia bayangkan. Keluarganya, terutama sang ibu, menentang keinginannya. Rupanya keluarga Flo memiliki obsesi khusus bagi masa depannya. Untunglah ia seorang wanita yang terdidik sehingga dapat menahan perasaan di hatinya. Namun tanpa disadarinya, pengekangan itu justru membuatnya makin tertekan sehingga ia jatuh sakit. Oleh karena itu, ia pergi ke rumah bibinya.

Di rumah bibinya Florence merasa agak terhibur. Ia menekuni pelajaran matematika, bahasa Yunani, dan Filsafat. Sewaktu sang bibi menyampaikan kegiatan Flo di London, ibunya tidak setuju. Bagi ibunya takdir Florence adalah menikah dan mengurus rumah tangga dengan baik.

Menantang Badai
Rasa simpati Flo terhadap kehidupan di sekitarnya yang miskin dan menderita mulai membuatnya nekad. Karena itu, ia tak segan mengunjungi mereka sambil membagikan sup dan uang. Flo begitu gemas terhadap para gadis yang menghambur-hamburkan uangnya untuk membeli pakaian mahal yang dijahit oleh para gadis lain yang harus menahan lapar. Di benak Flo yang ada hanyalah keprihatinannya terhadap penderitaan manusia. Karena itu, ia bertekad menjadi orang yang berguna bagi orang miskin. Tetapi apa yang dapat dilakukannya? Tampaknya menolong orang melarat bukanlah pekerjaan yang tepat baginya. Karena itu, untuk beberapa waktu ia agak bingung menentukan ladang pelayanan yang tepat guna merespon panggilan Tuhan yang diterimanya.

Pada tahun 1844, saat Florence berusia 24 tahun, ia menemukan pekerjaan yang cocok untuk memenuhi panggilannya, yaitu menjadi perawat. Tanpa berkonsultasi dengan orangtuanya ia memutus kan belajar tentang keperawatan. Keputusannya membuat sang ibu marah, bahkan Parthe, kakak Flo histeris. Namun tekadnya telah bulat. Secara diam-diam ia mulai mempelajari laporan-laporan tentang rumah sakit untuk memperbaiki citra perawat yang buruk waktu itu.

Florence dan perawat lainnya kemudian mulai bekerja keras dari pagi hingga malam membersihkan rumah sakit,menyediakan makanan dan merawat para prajurit di sana. Tingkat kesembuhan naik dan tingkat kematian pun menurun. Florence sering kali bekerja dua puluh jam sehari, ketika larut malam ia masih berkeliling sendiri membawa lampu memeriksa para prajurit yang sakit sehingga ia dijuluki "the lady with the lamp". Ketika dibutuhkan ruangan tambahan, ia sendiri mengeluarkan biaya untuk
membangunnya. Kebaikannya membuat ia disenangi dan dikasihi prajurit. Ia menjadi terkenal, orang-orang di Inggris mulai mengiriminya uang untuk membantu pembelian perlengkapan.

Ketenaran tidak membuatnya lupa akan panggilannya. Florence terus bekerja keras bahkan melebihi batas kemampuan tubuh nya. Selama beberapa tahun Flo mengalami ketidakpastian hidup. Kekecewaan demi kekecewaan dialaminya silih berganti. Ibu dan kakaknya selalu mencercanya. Mereka tak mampu merasakan pergumulan batinnya. Tahun 1849 Flo hampir bunuh diri. Namun ia dapat mengatasinya. Ia, bahkan sempat jatuh cinta pada Robert Milnes seorang lelaki cerdas yang dikaguminya. Sayang, rasa cintanya itu tidak terpenuhi. Pasalnya bagi Flo pernikahan hanya akan menghalangi pengabdiannya. Dengan berat hati ia menolak pinangan lelaki pujaannya.

Pada Oktober 1846 seorang temannya memberi informasi tentang keadaan rumah sakit milik gereja yang ada di Kaiserswerth, Jerman. Sesampainya di Kaiserswerthiamelihat pastor menghimbau para wanita Kristen untuk menjadi perawat. Selama dua minggu di kota itu Flo mengamati para suster merawat orang sakit dan itu berkesan baginya. Karena itu, ia juga bertekad mengajak wanita lain untuk terlibat pelayanan kemanusiaan. Sekembalinya dari Kaiserswerth, ibu dan saudaranya mengomel dan meminta agar Flo tidak menyebut-nyebut kota itu lagi. Mereka berasumsi bahwa pekerjaan sebagai perawat hanya mempermalukan keluarga.

Meski kendala dari keluarganya datang beruntun, ada saat bagi Flo untuk mengambil keputusan. Kali ini dengan berat ia harus menentang keluarganya apa pun alasan atau risiko yang bakal dihadapinya. Ia belajar ilmu keperawatan di Jerman, kemudian di Prancis. Pada waktu itu berbagai rumah sakit yang ada bersifat sektarian. Karena itu, ketika ia hendak belajar di Rumah Sakit Katholik, Flo yang beragama Protestan meminta nasihat Pastor Manning di Inggris. Hasilnya, kardinal itu menganjurkan Flo mengikuti latihan keperawatan di rumah sakit yang dikelola oleh para suster Katholik.

Setelah pengetahuannya tentang keperawatan cukup memadai, ia kembali ke London dan menjadi guru sebuah rumah sakit besar. Di rumah sakit ini rasa cintanya terhadap manusia yang menderita semakin besar. Karena itu, ia menentang diskriminasi yang berlaku pada waktu itu. Flo yakin bahwa sikap hidup yang demikian tidak sesuai dengan kasih yang diajarkan Tuhan Yesus.

Selain belajar tentang keperawatan, ia juga giat mempelajari segala kekurangan yang menyebabkan pelayanan rumah sakit menjadi buruk. Atas ketekunan dan kejeliannya dalam melakukan pelayanan,
ia menjadi orang yang sangat dicintai. Ia menulis semua pengamatannya dalam tulisan ilmiah yang memuat segala kekurangan dan jalan keluar pada sistem rumah sakit di Inggris. Tulisan ini membuat
Flo semakin terkenal.

Flo kemudian dipercaya mengkoordinasi pelayanan kesehatan tentara Inggris dan sekutu selama perang Krim. Di Rumah Sakit Militer Scutari ia melihat kondisi dan pengelolaan rumah sakit yang buruk. Ia menyaksikan para serdadu bergelimpangan dan terluka sekarat dibiarkan begitu saja bak binatang tak berharga. Flo melengkapi rumah sakit dengan berbagai perlengkapan yang memadai, bahkan merenovasinya dengan hasil donasi dan uangnya sendiri.

Setelah perang usai perjuangan dan kegigihannya semakin dikenal. Di Inggris ia dianggap sebagai malaikat penyelamat perang Krim yang ganas itu. Ia menerima berbagai pujian dan penghargaan. Sumbangan yang datang berjumlah banyak sehingga diputuskan mendirikan Yayasan Nightigale yang menangani sebuah lembaga pelatihan keperawatan. Seusai perang Krim, Flo tampak kelelahan. Tenaganya telah terkuras dalam perjuangan di medan perang. Saat itu ia berpikir bahwa inilah akhir perjuangannya.

Ia tak pernah membayangkan bahwa itu baru permulaan dari suatu perjuangan panjang yang membutuhkan pengorbanan. Perang Krim bagaikan laboratorium bagi kasus yang berhubungan dengan keperawatan. Pengamatan yang dilakukan Flo terhadap puluhan rumah sakit di Eropa dan di barak-barak militer menunjukkan bahwa kematian para pasien sering diakibatkan oleh bangunan yang lembab, kotor, tanpa ventilasi, saluran air yang tidak teratur dan jatah makanan minim.

Lentera yang Memudar
Selama 50 tahun sisa hidupnya, Florence Nightigale menjadi cacat dan lumpuh. Pada hari-hari itu ia tidak lagi dapat bergerak bebas karena selalu berada di atas kursi roda. Inilah yang membuatnya kesepian. Apalagi setelah kematian Sidney Herbert dan beberapa teman yang membantunya. Semuanya itu menggoncangkan jiwanya. Namun Flo tetap berjuang menjalankan tugasnya. Atas perjuangannya, Flo dapat mempengaruhi pemerintah India untuk memperbaiki sistem kesehatan di negeri Sungai Gangga. Ia juga berhasil membangkitkan reformasi asrama gelandangan di Inggris dan menulis ribuan halaman kertas kerja yang revolusioner di bidang keperawatan. Beberapa karya monumentalnya antara lain, sekolah perawat wanita di St. Thomas`s Hospital London dan sebuah karya berjudul `Notes on Nursing of The Sick Poor`. Henry Dunant pendiri Palang Merah Internasional dan pelopor Konvensi Jenewa pun mengakui bahwa kertas kerja Florence merupakan ilham bagi dirinya untuk melakukan hal-hal berguna bagi kemanusiaan. Bahkan, apa yang dilakukan
Henry Dunant merupakan penghargaan bagi Florence Nightigale.

Tahun 1906 Flo menjadi pikun, sehingga semua kegiatannya otomatis terhenti. Namun, apa yang telah dilakukannya merupakan karya abadi yang tidak mungkin dilupakan. Sebelum kematiannya, di seluruh dunia telah berdiri ribuan sekolah perawat dan semua diakui sebagai karya Florence Nightigale. Ia meninggal pada 13 Agustus 1910 dalam usia 90 tahun. Ia telah menjadi ibu terbaik bagi ribuan pasien yang menderita sakit. Terang Kristus yang bersinar melalui Florence Nightingale yang dijuluki dengan wanita dengan lentera benar-benar telah menyinari lorong-lorong gelap kesehatan manusia. Walaupun lentera di tangannya telah padam karena ia telah berpulang ke rumah Bapa di surga, Flo telah berhasil menyalakan banyak lentera lain yang menyala secara estafet sehingga tak akan padam sampai akhir dunia.

Senin, 07 September 2015

11 Alasan Penting Orang Dewasa Harus Divaksin

Vaksinasi bukan hanya untuk bayi. Orang dewasa, terutama yang berisiko tinggi, juga memerlukannya. Kebanyakan vaksin dewasa diberikan tergantung dari usia, gaya hidup, faktor risiko medis, dan mobilitas.
"Vaksin bagi orang dewasa sama pentingnya dengan untuk anak atau bayi. Meski demikian, masih banyak orang dewasa yang belum mendapatkan vaksinasi lengkap sesuai yang mereka perlukan," kata William Schaffner, MD, presiden National Foundation for Infectious Diseases dan komisaris departmen pencegahan medis Vanderbilt University School of Medicine di Nashville.
Mengapa Anda Harus Divaksin?
Para dokter merekomendasikan vaksin tentu karena punya alasan kuat, yakni vaksin memberi setidaknya sebelas keuntungan seperti:


1. Anda mungkin tidak lagi terlindungi. Anda mungkin telah menerima vaksin lengkap semasa anak-anak. Tetapi beberapa jenis vaksin memerlukan booster jika Anda ingin tetap terlindungi. Perlindungan  untuk penyakit tertentu seperti pertusis (batuk rejan) atau tetanus, yang biasanya diberikan dengan toksoid difteri untuk seumur hidup. Untuk jenis vaksin lainnya, Anda disarankan mendapatkan booster yang kedua setiap 10 tahun setelah seri awal masa kanak-kanak


2. Anak Anda, terutama bayi yang masih terlalu muda untuk vaksin, ikut terlindungi. Vaksin batuk rejan dianjurkan untuk wanita hamil (usia kehamilan 27 dan 36 minggu) dan orang-orang yang sering melakukan kontak dengan bayi di bawah enam bulan. Hal yang sama berlaku untuk vaksin flu. Tidak ada vaksin flu untuk bayi kurang dari 6 bulan.  Karena itu, orang-orang di sekitarnya lah yang disarankan mendapat vaksinasi.


3. Beberapa vaksin ditujukan hanya untuk orang dewasa. Vaksin herpes zoster contohnya. Herpes disebabkan oleh reaktivasi virus cacar dan dapat menyebabkan ruam kulit yang parah dan menyakitkan. Risiko herpes zoster meningkat sejalan usia. Vaksin ini direkomendasikan untuk orang dewasa umur 60 tahun ke atas.


4. Anda perlu vaksin ketika  berpergian ke luar negeri. Sering melakukan perjalanan mancanegara? Anda mungkin menemui penyakit yang belum pernah Anda tahu sebelumnya. Vaksinasi demam kuning diperlukan untuk perjalanan ke bagian sub-Sahara Afrika dan Amerika Selatan. Pemerintah Arab Saudi mensyaratkan vaksinasi meningokokus - tapi hanya untuk perjalanan selama haji, atau ziarah tahunan ke Mekkah. Anda dapat memeriksa situs web Centers for Disease Control and Prevention untuk rincian tentang vaksin yang disyaratkan oleh negara-negara tertentu.


5. Setiap orang membutuhkan vaksin flu. CDC merekomendasikan semua orang usia 6 bulan ke atas mendapatkan vaksin flu setiap tahun jika mereka tidak memiliki alasan medis untuk tidak menerima vaksin. Vaksin flu dirancang untuk melindungi Anda dari tiga atau empat strain influenza yang paling sering beredar di musim-musim tertentu.


6. Sebagai contoh bagi anak-anak saat mereka beranjak besar. Bayi dan anak kecil tidak memilih untuk melakukan vaksin. Orang tua yang memilihkannya untuk mereka. Ketika mereka sudah besar, mereka bisa memilih untuk vaksin atau tidak. Jika Anda sebagai orang tua mendapat vaksin sesuai kebutuhan, kemungkinan besar anak akan menirunya juga.


7. Anda tidak mendapa  vaksin lengkap ketika anak-anak. Jika Anda tidak mendapatkan vaksin seperti campak, gondok, dan rubella atau cacar saat masih kecil, berarti Anda perlu melakukannya sekarang, saat sudah dewasa.


8. Beberapa vaksin baru dikembangkan sekarang-sekarang ini.Beberapa vaksin yang dianjurkan untuk orang dewasa, baru ditemukan sepuluh tahun belakangan ini, jadi pasti Anda tidak mendapatkannya ketika kecil. Misalnya, vaksin HPV dan herpes zoster pertama pada tahun 2006.


9. Anda bekerja di institusi layanan kesehatan. Penyedia layanan kesehatan rentan terkena segala macam infeksi, entah dari udara, air, alat kesehatan bekas pakai dan cairan tubuh. Karena itu, sebaiknya Anda mendapatkan seri vaksin lengkap, termasuk vaksin flu tahunan dan campak, gondok, rubella (MMR), dan hepatitis B.


10. Anda aktif secara seksual dengan lebih dari satu pasangan? Kalau begitu, vaksin hepatitis B sangat dianjurkan. Hepatitis B dapat ditularkan dari orang ke orang melalui kontak darah, air mani, cairan vagina. Hepatitis B 50-100 kali lebih mudah menular dibanding HIV. Pasangan Anda mungkin tidak terlihat sakit, tapi dia bisa saja berperan sebagai carrier  (pembawa kuman penyakit).


11. Anda memiliki asma, jantung, penyakit paru-paru, diabetes, atau penyakit kronis lainnya. Atau Anda merokok. Vaksin pneumokokus membantu mencegah penyakit serius seperti pneumonia, meningitis, dan infeksi darah yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus pneumoniae. Dapatkan vaksin ini jika kondisi imun Anda tidak sekuat orang lain karena alasan-alasan medis di atas.  

Sumber : Kompas.com

Senin, 24 Agustus 2015

Dokter Gigi Go Green!

Demam "Go Green" ternyata tidak hanya merebak di kalangan LSM lingkungan hidup saja. Dokter gigi pun bisa berpartisipasi dalam menjaga dan memperbaiki kualitas lingkungan hidup melalui pendekatan green dentistry. Intinya, dokter gigi perlu menggunakan bahan kedokteran gigi yang non-toksik, dalam praktik sehari-hari sehingga dapat mengurangi limbah dan tindakan invasif.

Pengolahan Limbah
Banyak dokter gigi tidak menyadari bahwa tempat praktik berpotensi menghasilkan limbah yang membahayakan lingkungan. Misalnya, limbah merkuri dalam tambahan amalgam, air pembuangan, alat tajam, darah, jaringan, cairan X-rays dan lead foils, serta cairan pembersih (disinfectants). Oleh karena itu, dokter gigi harus ikut bertanggung jawab memelihara dan melindungi lingkungan. Di negara maju, seperti Amerika, masalah ini sudah teratur. Mahasiswa mendapat pengetahuan tentang limbah praktek dokter gigi yang bisa mengganggu kesehatan lingkungan. Selain itu, dokter giginya juga berkolaborasi dengan instansi yang terkait dalam program menjaga kesehatan lingkungan. Di Indonesia masalah pemeliharaan lingkungan diatur di pasal 1 UU No. 23/1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, yang sayangnya masih belum diterjemahkan ke semua lembaga yang berkaitan. Tindakan yang harus dilakukan dokter gigi tidak sekedar mengelola amalgam dan bahan berbahaya yang dipakai. Masih banyak hal yang harus diperhatikan dikaitkan dengan masalah lingkungan limbah pabrik dokter gigi yang dapat membahayakan lingkungan.

Konsep Green Dentistry
Karen Anderson dan DR. Patel menyebutkan beberapa hal yang menjadi dasar konsep green dentistry, yaitu !) menjaga kebersihan air, 2) menjaga enerji, 3) mengurangi limbah, serta 4) mencegah polusi. Pengetahuan mengenai hal ini setara dengan masalah etika profesi yang sejak lama sudah diajarkan.

Limbah Toksik
Lmbah dari tempat praktek dokter gigi dapat berupa limbah infeksi dan limbah kimia. Keduanya berbahaya bagi lingkungan apabila tidak ditangani dengan baik. Degenisi limbah infeksi menurut OSHA (Occupational Safety and Health Administration) adalah darah dan produk-produk darah, bahan tajam yang terkontaminasi, limbah patologis, serta limbah mikrobiologis.

Limbah kimia kedokteran gigi yang berbahaya, antara lain 1) limbah amalgam karena mengandung merkuri, 2) limbah bahan kimia untuk fiksasi, develpoer dan cleaner pada pencucian foto Rontgen, 3) limbah bahan sterilisasi alat karena mengandung alkohol, glutaraldehyde dan bahan berbahaya lain seperti ortho-phthaldehyde (OPA), serta 4) cairan bleaching dengan konsentrasi tinggi.

Mengurangi Toksik
Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengurangi limbah toksik. Salah satu yang utama adalah dengan mengurangi atau menghentikan penggunaan bahan tempat amalgam dan menggantikannya dengan bahan restorasi yang lebih aman. Penggunaan alat digital X-ray juga dapat mengurangi bahan toksik dari alat X-ray konvensional. Selain itu, perlu dipikirkan untuk membuat saluran pembuangan limbah yang baik dengan memisahkan limbah medik dari limbah non-medik. Masalah limbah kedokteran gigi juga tidak lepas dari limbah ruang kerja tekniker gigi yang meliputi acrylic, logam, gypsum, dll.

Penerapan Green Dentistry
Pelaksanaan green dentistry memerlukan keterlibatan berbagai lembaga, mulai dari lembaga pendidikan, lembaga pemerintahan, serta organisasi profesi. Lembaga pendidikan mempersiapkan calon dokter gigi menyadari konsep green dentistry dengan memberikan mata ajaran tentang persiapan praktek. Di dalam mata ajaran tersebut calon dokter gigi diajar mengenali pengelolaan praktek dokter gigi, mulai dari tata cara mempersiapkan kamar praktek, sistem pembuangan limbah, sistem perizinan, manajemen praktek, perlindungan pasien (patient safety), clinical pathway serta peraturan praktek.

Peraturan kesehatan lingkungan yang dikaitkan dengan perizinan tempat praktek harus jelas karena melibatkan berbgaia pihak, mulai dari perhimpunan di bidang kesehatan, dinas tata kota, lingkungan hidup serta warga masyarakat.

Tempat Praktek yang Aman
Saat ini, mempersiapkan tempat praktek yang aman terhadap lingkungan sudah merupakan keharusan. Pengetahuan tentang praktek yang aman terhadap lingkungan sudah disiapkan selama proses pendidikan, antara lain pemikiran terhadap perlindungan kesehatan pasien, dokter gigi serta asisten dokter gigi, limbah praktek dan lingkungan praktek. Pencegahan terhadap efek kerja alat-alat yang dapat membahayakan kesehatan juga harus diatur. Misalnya, efek high speed bur terhadap pernafasan, rambut. Selain itu sinar yang digunakan di bidang kedokteran gigi, baik langsung ke pasien maupun ke tenaga kesehatan, seperti sinar laser, blue light, sinar ultra violet, dan sinar bleachingm juga dapat mengganggu kesehatan mata.

Dikutip dari  :
Dentin, Majalah Kedokteran Gigi
Edisi Maret-April 2008

Senin, 15 Juni 2015

Edward Jenner, Sang Penakluk Penyakit Cacar

"Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia.." (Yakobus 1 : 27)

Jika padaku ditanyakan apa akan kusampaikan dalam dunia yang penuh dengan cobaan. Aku bersaksi dengan kata, tapi juga dengan karya menyampaikan kasih Allah yang sejati”. Syair lagu yang dimuat dalam Kidung Jemaat 432 ini mengingatkan tentang hal yang sesungguhnya harus Kristen lakukan, yaitu menjadi pendengar sekaligus pelaku firman Tuhan. Yakobus memberi penjelasan penting lainnya tentang arti berbahagia yang sesungguhnya. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa tidak semua Kristen "berbahagia" mendengar penjelasan ini. Ketidakbahagiaan ini lebih disebabkan oleh sikap penolakan diri untuk menjadi pelaku firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Penolakan ini bukan disebabkan oleh ketidakmampuan melakukan tetapi karena ketidakmauan! Orang-orang yang seperti ini lebih senang menuruti kehendak hati dan kebenaran dalam persepsi diri sendiri daripada menuruti kehendak dan kebenaran Allah.

Edward Jenner, siapa yang tidak mengenalnya? Edward Jenner adalah sang penakluk penyakit cacar. Penyakit cacar merupakan teror dan momok daratan Eropa. Beribu-ribu manusia meninggal setiap tahunnya karena penyakit ini. Sedang yang lain mencari perlindungan dengan cara sengaja minta disuntik dengan virus cacar yang masih hidup. Tehnik ini sudah lama dipergunakan sejak zaman kekaisaran Ottoman (Kerajaan Turki) dan dibawa ke Inggris, yang mana hal itu berhasil dengan baik di tangan para dokter seperti Thomas Dimsdale (yang bahkan menyuntik "Cathrine Agung" dari Rusia), namun kurang berhasil di tangan dokter-dokter lainnya. Harapannya adalah mereka yang tidak terlindung dari virus akan menderita kasus ringan, tetapi tentu saja, beberapa menderita kasus yang berat dan sedikit yang meninggal karena treatment ini. Bahkan jika seseorang yang sudah disuntik tidak menderita penyakit ini, maka siapa saja yang berada dekatnya selama periode waktu yang cukup lama berisiko terkena infeksi yang serius. Penyembuhan itu sama sekali tidak memuaskan.

Suatu waktu, Edward Jenner dibawa dari rumahnya ke suatu tempat (semacam kurungan) untuk mendapatkan vaksinasi. Di tempat ini ia mengalami pendarahan dan tidak diberi makan (puasa) untuk operasi, pengobatan dan diikat untuk mencegahnya agar melarikan diri. Ia menjadi sangat sakit dan kondisinya merosot. Seorang anak yang dulunya kuat dan sehat menjadi sakit dan sangat lemah. Selama bertahun-tahun ia mendengar suara-suara. Ia dikirim ke sebuah sekolah kecil selama masa penyembuhannya, tetapi ia juga sangat lemah sehingga kakaknya, Stephen membawanya pulang ke rumah. Orang tua mereka sudah meninggal dalam hitungan minggu selama masa itu, ketika Edward berusia 5 tahun sehingga Stephen menjadi pelindungnya.

Pengalaman divaksinasi mungkin membekas dalam diri Jenner muda ini. Bagaimanapun juga hal itulah justru memacu dirinya untuk tertarik lebih dari biasanya pada tanda-tanda yang pada akhirnya menuntunnya dalam mengembangkan vaksin cacar sapi, sebuah vaksin yang akhirnya menghapus penyakit cacar dimana saja di bumi kecuali laboratorium.

Setelah ia sembuh, Jenner dikirim belajar untuk melayani. Walaupun ayahnya seorang Pendeta tetapi ia tidak menunjukkan minat sama sekali untuk pelayanan mimbar. Sebaliknya ia justru mati-matian ingin menjadi seorang naturalis. Memang ia mengkoleksi banyak spesimen dan mengikuti kursus yang mengajari sistem klasifikasi dari seorang naturalis kenamaan asal Swedia, Carl Linnaeus (1707-1778). Usia 13 tahun Jenner magang pada dokter ahli bedah, John Ludlow. Meskipun kondisi kesehatannya masih belum pulih, Jenner bekerja keras dan membantu pembedahan. Setelah masa magangnya selesai, Jenner pindah ke London dimana ia berguru pada Dr. John Hunter yang terkenal. Hunter adalah seorang pria agresif yang kurang peduli pada kaidah atau aturan. Jenner gemar dengan orang yang tempramental ini dan dictumnya : "kebenaran..kebenaran..kebenaran! Sebaliknya Hunter mempercayai Jenner. Hanya Hunter kurang terkenal karena membayar seorang "resurrectionists" (pembangkit manusia) untuk merampok kuburan demi mendapatkan mayat-mayat. Jenner belajar anatomi dengan mempelajari tubuh-tubuh curian ini. Jenner mengganti kegiatannya. Ia menyusun katalog specimen untuk Joseph Bank, ahli botaninya Kapten Cook. Pekerjaan yang biasa dikerjakan selama 6 bulan, tetapi oleh Jenner diselesaikan dalam waktu 2 bulan. Merasa terkesan Cook menawarkan jabatan di kapalnya tetapi Jenner menolak termasuk tawaran Hunter untuk bekerja sama juga ditolak karena ia ingin kembali ke pedesaan.

Berbagai penelitian dilakukan oleh Jenner dan berbagai tantangan harus dihadapinya. Salah satu  penelitiannya mengenai tingkah laku/kebiasaan cuckoo (burung elang malam). Hasil penelitian ini menghadapi sejumlah penentang. Tingkah laku yang digambarkannya kelihatan terlalu aneh dimana ia membuktikan bahwa burung cuckoo mempunyai kebiasaan meletakkan telur-telur mereka di sarang burung lain. Namun, Royal Society berhasil diyakinkannya dan menjadikannya anggota. Di waktu tertentu, Jenner belajar dari milkmaids bahwa mereka yang terkena cacar sapi imun terhadap cacar. Ia melakukan penelitian selama 20 tahun kemudian, sementara ia sendiri juga mengimplementasikan ide-ide baru dalam pengobatannya terhadap cacar. Ia menghentikan pendarahan para pasien cacar dan memberikan tubuh mereka suatu kesempatan yang lebih baik untuk sembuh dari penyakit. Ia menyuntik tangan-tangan petani untuk menerima vaksinasi cacar sapi, dan ternyata tidak seorang pun yang terkena cacar.

Yakin apa yang ditemukannya ini, Jenner menguji idenya ini dengan cara menjangkitkan seorang anak suruhan bernama Phipps dengan cacar sapi. Dua bulan kemudian ia menyuntik anak ini dengan virus cacar yang masih hidup. Rumahnya dikerumuni orang banyak. Para pesuruh bersumpah, jika sampai si anak meninggal maka Jenner akan dihukum gantung sebagai pembunuh. Terbukti si anak imun. Setidaknya Jenner telah memiliki bukti positif. Namun setelah itu sebuah selebaran yang mencelanya dipublikasikan. Situasi dalam komunitas medis juga tidak mendukungnya. Para dokter mencaci dan mencemooh Jenner dan memperlakukannya dengan mengusirnya dari perkumpulan mereka. Bahkan jurnal kedokteran menolak menerbitkan hasil penemuannya ini.

Jenner tidak dapat dipengaruhi situasi ini. Yakin akan keberhasilannya yang pertama, ia mulai bekerja sendiri dalam mempromosikan idenya. Ia bisa melihat bahwa jika sautu hal bisa berguna bagi sesame manusia maka pertimbangan-pertimbangan pribadi harus dikesampingkan. Akibatnya ia menderita secara finansial. Uangnya habis untuk membiayai penelitian-penelitiannya yang tiada putus-putusnya. Sementara ia mendapatkan sedikit pemasukan, karena serangan-serangan dari dunia medis tentang dirinya, dan para pasien menjadi jarang yang mau berobat kepadanya. Pada akhirnya tentu saja, ia mendapatkan banyak penghargaan. Satu per satu, para dokter berpikiran terbuka membaca bukunya dan mengadakan uji lebih lanjut. Dan ia dikenal sebagai Bapak Ilmu Virology dan Pengobatan Preventif.


Sebagai ucapan terima kasih atas karyanya, Parlemen memberi sebagai hadiah untuknya yang senilai 10.000 poundsterling. Dengan kepribadiannya yang tidak hanya memikirkan diri sendiri, ia menggunakan uang untuk menolong para dokter yang membutuhkan. Kehidupan Jenner bukanlah sebuah kehidupan yang mudah. Sebagai tambahan atas masa kecilnya yang penuh penderitaan, kehilangan istri dan anak sulungnya dan penganiayaan yang dialaminya dari dunia profesinya, ia terjangkit penyakit tifus yang tertular dari seorang pasien dan hampir mati. Di lain waktu ia hampir mati beku saat ia mengunjungi pasien yang sakit. Hari sebelum kematiannya ia berjalan ke kota untuk membeli kayu bakar untuk orang miskin dengan uangnya sendiri. Dengan perhatian dan kepeduliannya terhadap kaum miskin ia menyatakan dirinya sebagai seorang Kristen sejati. Dalam tulisannya ia meminta Kristus agar mau menerima jiwanya yang kekal. Nama dan karyanya akan diingat selama dunia mengingat kedermawaannya. Bagaimana dengan kita yang mengaku seorang dokter Kristen? Sudahkah kita menjadi pelaku Firman yang sejati?


Disadur dari Majalah Samaritan 
Edisi Keempat Tahun 2008

Copyright 2007, Pelayanan Medis Nasional (PMdN) Perkantas

Jl. Pintu Air Raya 7, Komplek Mitra Pintu Air Blok C-5, Jakarta Pusat
Telp. (021) 3522923, 3442463-4 Fax (021) 3522170
Twitter/IG : @MedisPerkantas
Download Majalah Samaritan Versi Digital : https://issuu.com/samaritanmag