Tampilkan postingan dengan label Devotion. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Devotion. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 April 2020

Apakah yang Aku Peroleh?


Petrus pernah mengajukan satu pertanyaan kepada Tuhan Yesus. Pertanyaan Petrus sederhana saja. Petrus bertanya: ‘Kami telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau; jadi apakah yang akan kami peroleh?’. Pertanyaan Petrus kelihatannya sederhana, apa yang akan kami perolehPermohonan yang wajar. Tetapi Tuhan Yesus menjawabnya secara panjang lebar. Jawaban yang menyingkapkan pertanyaan Petrus tidak sesederhana seperti yang terlihat. 

Pertanyaan Petrus suatu pertanyaan serius. Tetapi sebelum kita membedah pertanyaan Petrus, perlu ditelusuri mengapa Petrus sampai mengajukan pertanyaan itu. Jawabnya terungkap dalam peristiwa sebelumnya yang direkam dalam Matius 19:16-26. Seorang muda yang kaya datang kepada Yesus dan bertanya bagaimana memperoleh hidup kekal? Yesus menjawab pencarian orang muda yang kaya itu dengan suatu perintah untuk menjual segala milikmu dan mengikut Yesus. Tetapi orang muda yang kaya itu tidak siap untuk menukar keutamaan hartanya dengan Yesus. Orang muda yang kaya itu lebih mengasihi harta ketimbang Yesus. Petrus mengamati peristiwa ini. Dalam logika Petrus, jika ia sudah mengikut Yesus dan meninggalkan segalanya, tentulah upah yang diterimanya lebih besar dari harta yang dimiliki orang muda yang kaya itu. 

Sekarang waktunya untuk bertanya kepada Yesus, apa yang akan diperoleh Petrus? Bagaimana Tuhan Yesus menjawab permintaan Petrus? 

Yesus memenuhi permohonan Petrus dengan menunjuk tiga hak istimewa yang diterima para pengikut-Nya. Tiga hak istimewa itu adalah: menghakimi dua belas suku Israel dan menerima seratus kali lipat serta memperoleh hidup kekal (Matius 19:28-29). Tiga hak istimewa yang membedakan murid-murid Yesus dengan manusia lainnya yang bukan murid Yesus. Istilah menghakimi dapat menunjuk kepada jabatan atau tugas. Murid-murid diangkat menjadi hakim atau murid-murid diberi tugas untuk menghakimi selama periode tertentu. Murid diberi hak istimewa sebagai pemimpin pada waktu penciptaan kembali (19:28). Apa maksudnya penciptaan kembali? Ungkapan penciptaan kembali menunjuk kepada periode antara kenaikan Yesus ke surga setelah bangkit dari kematian dan kedatangan Yesus yang kedua kali. Tidak hanya jabatan dan tugas sebagai pemimpin, murid juga diberi hak istimewa menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup kekal.

Tuhan Yesus mengabulkan permintaan Petrus. Ada upah tersedia bagi mereka yang mengikut Yesus. Itu hak istimewa yang diberikan kepada murid-murid Yesus. Tetapi Tuhan Yesus segera mengingatkan mereka melalui suatu perumpamaan bahwa semua manusia pada dasarnya setara. Perumpamaan yang lebih tepat disebut sebagai perumpamaan tuan dan pekerja Tuhan Yesus mengajarkan tentang kesetaraan manusia. Tidak ada manusia yang lebih berharga atau lebih tinggi dari manusia lainnya. Apa maksud setara disini? Kesetaraan dalam hal apa? Kesetaraan dalam kesempatan? Kesetaraan dalam ekonomi? Bukan! Kesetaraan yang dimaksud adalah kesetaraan sebagai manusia. Pengakuan manusia lain sebagai manusia. Itulah kesetaraan. Maksudnya manusia harus memperlakukan manusia lainnya sebagai manusia, bukan sebagai benda atau objek. Yesus menyadarkan murid-murid-Nya akan kesetaraan semua manusia. Jika mereka menyadari kesetaraan manusia, tidak masuk akal bila mereka menuntut, seperti pertanyaan Petrus, apa yang akan kuperoleh? Meskipun murid-murid menerima tiga bentuk hak istimewa, mereka harus menyadari bahwa itu semua adalah pemberian. Pemberian yang berasal dari kasih Yesus. Kasih itu memberi bukan menuntut. Yesus menjawab tuntutan Petrus karena kasih-Nya kepada Petrus. Tuntutan Petrus dijawab Yesus dengan kasih yang memberi. Lebih jauh Yesus memperlihatkan bahwa kasih dalam bentuk terdalam berarti memberi hidup kepada orang lain (Matius 20:17-19).

Tetapi apakah murid-murid mengerti ajaran Yesus? Tidak. Dua murid lain yang juga dekat dengan Yesus, disamping Petrus, yakni Yakobus dan Yohanes meminta posisi terhormat dalam kerajaan Yesus. Ungkapan ‘tahta kemuliaan’ pada 19:28 membuat mereka cemas dan cemburu. Apakah Petrus memperolehnya? Bagaimana mereka berdua? Apa yang mereka peroleh? Mereka tidak rela jika Petrus memperolehnya. Apa akal? Yohanes dan Yakobus melibatkan ibunya dalam pertarungan memperoleh kemuliaan lebih besar dari Petrus.Yakobus dan Yohanes meminta kuasa pada Yesus. Mereka ingin lebih besar dan berkuasa dari Petrus. Bagaimana Yesus merespons permintaan mereka? 

Yesus mengingatkan Yakobus dan Yohanes bahwa permintaan mereka tidak seperti yang mereka bayangkan. Mereka membayangkan posisi mulia di samping tahta kemuliaan Yesus. Tetapi Yesus menunjuk pada arah berbeda yakni ke arah salib. Itulah sebabnya Yesus menjawab ‘Dapatkah kamu meminum cawan yang harus Kuminum’ (20:22). Cawan yang dimaksud di sini adalah murka Allah atau penghukuman Allah. Yesus melihat salib. Salib adalah tempat di mana Allah mencurahkan murka-Nya. Dalam penglihatan demikian tentu tidak mungkin kedua murid berada di salib di sisi kiri dan kanan-Nya. Posisi di kiri dan kanan Yesus adalah para pencuri seperti dilaporkan dalam 27:38. 

Posisi yang dalam pengertian Yesus telah ditentukan oleh Bapa-Nya seperti tertulis dalam Yesaya 53:12 ‘ia terhitung di antara pemberontak-pemberontak’. Terhadap jawaban Yesus kedua murid menegaskan bahwa mereka sanggup meminum cawan. Tetapi maksud murid-murid seperti terlihat dalam 26:33-35 merupakan suatu sikap bahwa mereka bersedia membayar harga untuk memperoleh kemuliaan kelak yang akan diberikan Yesus di sisi kiri dan kanan-Nya. Mereka memahami penderitaan Yesus yang disampaikan pada 20:17-19 hanya sebatas penderitaan dalam perjuangan untuk mencapai kesuksesan. Kekuasaan dan sukses diperoleh setelah melewati penderitaan. Ini pikiran murid-murid, bukan pikiran Yesus. Meski demikian, Yesus membenarkan bahwa murid-Nya akan meminum cawan. Apa maksudnya? Apakah kedua murid kelak akan mati martir? Hanya Yakobus yang martir sekitar tahun 44 EK (Kisah Para Rasul 12:1-2), sedang Yohanes tidak. Mungkin maksudnya menunjuk kepada kesediaan murid kelak untuk meneladani Yesus. Teladan dalam hal apa? Kasih. Mengasihi manusia berarti melayani bahkan memberi hidup. Melayani dan memberi hidup tidak lain merupakan suatu bentuk kuasa. Kuasa yang berbeda dengan kuasa dunia ini (20:25). Yesus tidak menolak kuasa dunia ini. Tetapi Yesus sedang memberi alternatif lain terhadap suatu bentuk kuasa yang dikenal manusia. Kuasa yang lebih besar yakni melayani dan memberi hidup. Yesus memberi hidup-Nya kepada semua orang, bukan ‘banyak orang’ seperti terjemahan LAI-TB. Istilah ‘polloi’ lebih bersifat inklusif (semua) ketimbang eksklusif (banyak). Terjemahan yang tepat adalah ‘untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi semua orang’.

Pertanyaan Petrus, kelihatannya sederhana. Tetapi jawaban Yesus yang panjang menyingkapkan pertanyaan Petrus merupakan pertanyaan penting. Pertanyaan Petrus menyingkapkan tiadanya kasih karena ingin memperoleh ketimbang memberi. Pertanyaan Petrus menafikan kesetaraan manusia karena ia memiliki hasrat untuk mengekploitasi manusia lainnya untuk kepentingan diri sendiri. Pertanyaan Petrus menguak sikap ingin menguasai karena ingin dilayani ketimbang melayani. Jika Petrus, seorang murid yang dekat dengan Yesus, sampai mengutarakan keinginan demikian, barangkali tidak salah jika dikatakan bahwa pada dasarnya manusia memiliki mentalitas apa yang kuperoleh dalam dirinya. Ada manusia yang berhasil mengartikulasikan hasrat tersebut bahkan menggapainya dengan berbagai cara. Tetapi lebih banyak manusia tidak memenuhinya. Mentalitas seperti itu perlu ditransformasi secara radikal. Mentalitas apa yang kuperoleh tidak sesuai dengan norma kerajaan Allah. Cara pandang Petrus demikian perlu diubah radikal. Bukan mentalitas apa yang kuperoleh melainkan mentalitas apa yang kuberi yang perlu ditumbuhkembangkan oleh setiap pengikut Yesus. Mentalitas apa yang kuberi? Mencerminkan kasih yang didasarkan pada kesadaran kesetaraan manusia dan merupakan implementasi kuasa yang melayani orang lain. Ringkasnya, konsep-konsep kasih, keadilan dan kuasa terangkum ringkas dalam sikap hidup apa yang kuberi?

Sebagai warga kerajaan Allah yang melayani di bidang medis, mulailah hari dengan pertanyaan apa yang kuberi hari ini kepada sesamaku? Cobalah melihat pasien bukan dalam kerangka pikir apa yang kuperoleh dari pasien ini?, melainkan melihatnya dengan kacamata norma kerajaan Allah, apa yang kuberi kepadanya hari ini? Dengan memiliki sikap hidup apa yang kuberi, hidup lebih bermakna dan berarti. Bukankah kasih itu berarti memberi? Dan bukankah memberi lebih berbahagia dibanding menerima?
_________________________________________________________________
"Apakah yang Aku Peroleh" oleh Pdt. Armand Barus 
Dalam Majalah Samaritan Edisi Tahun 2008

Kamis, 30 Januari 2020

Saat Memilih dan Mengejar Karier

Bidang kedokteran merupakan profesi dengan jamnan gaji dan masa depan yang menjanjikan, yang apabila kita tidak bijaksana dalam menjalaninya sebagai seorang Kristen akan dapat menjadikan profesi kita itu sebagai berhala. Sesungguhnya bidang kedokteran merupakan kesempatan indah untuk melayani sesama dalam kehidupan, bisa merasakan melalui tulusnya para pasien dalam memberikan kepercayaan dan keyakinan kepada kita. 

Sehubungan dengan itu, marilah kita memikirkan beberapa pertanyaan dasar yang sering ditanyakan oleh para mahasiswa FK ketika mereka diperhadapkan kepada sejumlah peluang dan tantangan karier di bidang medis.



Haruskah Seorang Dokter atau Mahasiswa FK Berambisi?

Istilah "ambisi" seringkali digunakan untuk menunjukan sikap atau perilaku yang tidak baik atau negatif, yaitu untuk orang yang melakukan seuatu pekerjaan yang hasilnya hanya untuk kepentingan diri sendiri; sikap keegoisan. Namun demikian, "ambisi" juga tidak selalu memiliki artian yang negatif.

Dalam kehidupan seorang Kristen bahkan diharuskan memiliki ambisi di dalam mencari kehendak Allah dan membangun kerajaan-Nya di muka bumi. Rasul Paulus menjadi teladan mengenai hal ini. Ia memiliki ambisi yang luar biaa, yang diibaratkannya sebagai semangat seorang atlit di dalam memenangkan suatu pertandingan olahraga. Rasul Paulus semakin memperjelas konsepnya dengan mengatakan bahwa ambisinya tidak didasarkan pada perkara dunia namun pada perkara yang di atas (Kol 3:1-2). Paulus hanya mengarahkan pada satu tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus (Fil 3:14). Rasul Paulus menyebutkan kepentingan diri sendiri sebagai perbuatan daging (Gal 5:20) dan karenanya memperingatkan kita untuk tidak mencari "kepentingan sendiri atau pujian yang sia-sia" (Fil 2:3)

Dalam realitas hidup kita harus ingat bahwa Allah adalah Alpha dan Omega, yang Awal dan yang Akhir. Itulah yang akan selalu menjadi prioritas utama di dalam kehidupan kita. 


Bolehkah Kita Berkeinginan Mencapai Puncak Karier Tertinggi?

Segalanya tergantung pada apa arti "puncak karier" buat kita! Hierarki Allah berbeda dengan hierarkinya para profesional. Sebagai seorang Kristen kita meyakini bahwa puncak karier adalah posisi yang telah ditentukan Allah bagi kita, di mana kita memberikan talenta dan bakat terbaik untuk melayani Allah di tempat itu. Dalam posisi karir yang tinggi belum tentu punya kesempatan melayani lebih banyak. Buktinya klinik FK mahasiswa bisa lebih dekat menjangkau semua tingkatan pasien ketimbang dokter praktek yang profesor; atau misalnya pada beberapa cabang medis seperti Patholigy dokternya tidak melayani pasien secara langsung. Dan juga memang benar kalau pada beberapa jabatan posisi yang lebih tinggi akan memberikan lebih banyak kesempatan bagi pejabatnya untuk membuat dan memengaruhi kebijakan kesehatan masyarakat luas, sementara posisi yang lebih rendah hanya memiliki pengaruh yang lebih terbatas dan tidak sekaligus tapi bertahap satu demi satu.

Ambisi dan melayani bukanlah merupakan dua hal yang bertolak belakang, yang terpenting adalah suatu sikap yang benar terhadap karier yang kita miliki, sebagai suatu yang utuh, dengan iman yang sungguh-sungguh. Alkitab meyakinkan kita bahwa Allah akan menyertai dan meluruskan jalanmu, oleh karena itu percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu maka Ia akan meluruskan jalanmu" (Ams 3:5-6)


Bagaimana Kita Memahami Arti Kesuksesan?

Tergantung juga pada standar sukses yang kita buat; apakah uang, ketenaran, daftar tunggu pasien di ruangan kita, raio antara yang berterima kasih dan yang komplain?

Kriteria Yesus tentang sukses sangat paradoks: "Barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu" (Mat 20:27). Bahkan seorang pemimpin harus menjadi  hamba dari yang dipimpinnya. Namun apakah kriteria pemimpin yang Tuhan Yesus berikan masih realistik di jaman modern seperti sekarang? Kita tahu bahwa antara jaman Yesus dan sekarang telah terjadi banyak perubahan yang revolusioner.

"Sebagai seorang Kristen kita meyakini bahwa puncak karier adalah posisi yang ditentukan Allah bagi kita, di mana kita memberikan talenta dan bakat terbaik untuk melayani Allah di tempat itu."

Mengacu pada kriteria Yesus dan kebutuhan kesuksesan pada saat sekarang, lantas kita berkeinginan untuk dapat melayani pasien, pekerjaan kita (teman kerja), serta tempat kerja kita (RS/Klinik), dalam saat yang sama sekaligus. Bukan sikap demikian yang diinginkan dan bukan pula berarti bahwa dalam menjalankan tugas, kita melebihi batas tanggung jawab yang diberikan kepada kita, termasuk waktu kerja yang melewati batas, namun yang dituntut adalah sikap pikir kita, yaitu tidak memaksa kehendak untuk mendapatkan keuntungan pribadi baik itu berupa uang atau kesenangan pribadi. Jadi misalnya, dalam hal melayani rekan sejawat, bisa dalam artian memintanya untuk menggantikan tugas Anda bilamana Anda harus meninggalkan tempat tugas Anda karena orang lain sedang membutuhkan pertolongan Anda.


Bagaimana Mengetahui Bidang Medis yang Sesuai?

Kebanyakan mahasiswa FK dengan proses penyeleksian yang ada, sebenarnya adalah orang-orang yang memiliki banyak talenta (multi-talenta) dan juga banyak pengalaman yang sudah mereka jalani di berbagai cabang medis. Kebanyakan dari kita memiliki dua atau lebih spesialisasi yang tidak sesuai dan jika memang demikian, orang Amerika menyebutnya "finger negative" dan Anda tidak diizinkan untuk melakukan bedah!

Gaya hidup, gereja, dan keluarga merupakan pertimbangan yang paling penting di dalam seseorang memilih bidang yang sesuai. Hampir seluruh mahasiswa membutuhkan bantuan dari dosen dan teman, baik di kampus maupun di gereja, untuk menolong mereka mencapai penilaian yang realistik mengenai talenta dan bakat mereka. Sayangnya, kurikulum mata kuliah yang ada tersusun sedemikian rupa sehingga mengurangi manfaat pertemuan antara dosen dan mahasiswa secara pribadi. Para mahasiswa berpindah dengan sangat cepat pada berbagai RS berbeda sehingga dosen juga mengalami kesulitan memberikan penilaian tentang bakat mereka masing-masing. Jelaslah bahwa disini masalah yang harus dihadapi! Bagaimanapun, sementara itu, saran bagi para mahasiswa adalah dengan berusaha mencari orang yang benar-benar mengetahui kelebihan dan kekuranganmu untuk memberikan nasehat.

Sebuah buku panduan sekular yang sangat baik mengenai karier di bidang medis adalah "So You Want to be a Brain Surgeon?" Buku ini memberikan saran praktis tentang kualitas pribadi yang dibutuhkan oleh masing-masing bidang spesialisasi, dan juga catatan-catatan yang dibuatnya dengan sekilas yang membandingkan antara berbagai pekerjaan. Pada akhirnya, kita semua harus senantiasa berdoa dan mempercayakan hidup kita dalam tangan Tuhan, karena bagi Dialah segala yang kita miliki.


Bagaimana dengan Kegagalan?

Ada orang yang melihat kegagalan dalam ujian atau mendapat pekerjaan sebagai pertanda yang jelas dari Tuhan bahwa Tuhan menginginkan kita untuk merubah arah jalan kehidupan kita. Pemikiran demikian belum tentu benar. Ada banyak alasan seseorang mengalami kegagalan, di antaranya karena hasil yang dicapainya tidak sesuai harapan, kegagalan juga merupakan kesempatan untuk mengevaluasi tugas pekerjaan kita.

Memang tidak biasa bagi seseorang untuk gagal pada ujian akhir kuliah di kesempatan pertamanya. Namun bagaimanapun hal itu juga merupakan kesempatan pertamanya. Kesempatan untuk menilai kembali motivasi belajar kita, membangun rasa percaya diri, dan juga rasa simpati kita terhadap orang lain yang mengalami hal serupa. Mungkin baik buat kita untuk melakukan re-organisasi skala prioritas-prioritas yang kita buat dalam kerangka konsep sukses yang baru. Itu penting karena mereka yang bertitel profesor pun juga banyak yang mengalami kegagalan dalam ujian dan tidak mendapatkan pekerjaan untuk lamaran yang mereka ajukan.

Menghadapi kegagalan, kita dapat menaruh harapan dan percaya kita ke dalam tangan Tuhan yang telah mempunyai rencana atas hidup kita. Ia memberikan kepada kita harapan dan masa depan (Yer 29:11). Jika kita tetap mengikuti-Nya, maka Ia berjanji akan menolong dan membawa kita ke tempat yang disediakan-Nya (Maz 37:3-6).


Bagaimana Membagi Waktu antara Karier, Rumah, dan Gereja?

Di dalam kehidupan, kita sering diperhadapkan pada pilihan, prioritas, dan pengaturan berbagai aktivitas rutin. Kontradiktif dengan harapan masyarakat ternyata tidak ada suatu formula yang ajaib, atau pun satu ayat di dalam Alkitab yang memberikan jawaban yang mudah atas (dan menghilangkan) rasa stress yang kita hadapi dalam tugas karier kita.

Bahkan beberapa bidang spesialisasi tertentu menuntut banyak waktu, energi, serta ketegangan saraf, yang mungkin akan mempengaruhi tugas dan tanggung jawab kita di rumah.

Anda harus memiliki beberapa rancangan dan membuat berbagai alternatif yang memungkinkan dari berbagai aktivitas yang sedang Anda kerjakan pada saat sekarang dan membahasnya bersama dengan suami/istri Anda dan apabila perlu dengan anggota keluarga lainnya.

Mungkin tepat apabila seorang dokter hanya bekerja di beberapa tempat sehingga pada sorenya ia punya waktu dalam aktivitas gereja atau pelayanan lainnya. Hal tersebut sama nilainya dengan orang yang dengan penuh iman mempelopori tugas pelayanan kedokteran di negara-negara berkembang, yang membutuhkan pengorbanan yang amat sangat dari sesuatu yang paling dekat dan dalam dengan dirinya.


Pengorbanan bagaimanakah yang seharusnya untuk mendapatkan masa depan yang sukses di bidang medis? Batasan apakah yang harus saya taruh di dalam ambisi karier?

Dua pertanyaan ini seperti dua sisi pada satu mata uang logam. Segala macam pekerjaan dan prestasi yang bermanfaat selalu mengandung pengorbanan yang harus dikalkulasikan dan dihitung pertama kali seperti yang Tuhan Yesus rekomendasikan kepada mereka yang berkeinginan mengikut-Nya (Luk 14:28-33). Akan tetapi pengorbanan yang secara sengaja kita berikan tidak sama dengan mengabaikan tanggung jawab kita secara tidak sengaja pada tanggung jawab kita yang lain.

Kedokteran dapat menjadi sangat menggairahkan terutama pada saat kita memperoleh penghasilan keuangan yang sangat besar dari praktek sendiri. Akan tetapi batasan perlu diberikan dalam hal waktu dan energi, untuk dapat melakukan aktivitas lain. Kita perlu juga memberikan batasan waktu dan energi kita untuk tugas pelayanan Kristen tertentu, untuk keluarga, dan rekreasi untuk melepaskan diri dari tekanan pekerjaan.

Saya memberikan batasan pribadi saya dengan tidak merencanakan aktivitas akademik atau rumah sakit pada hari Minggu, kecuali untuk alasan darurat.


Kesimpulan

Kesibukan yang tiada henti dimaksudkan sebagai "suatu aktivitas rutin yang berkelanjutan dalam kompetisi yang berlebihan". Gambaran demikian tidak seharusnya terjadi dalam karier medis orang Kristen. Kompetisi dan aktivitas yang berlebihan akan selalu nyata di dalam kehidupan, akan tetapi karier orang Kristen ditandai dengan iman yang tenang dalam rencana Allah dan rasa percaya diri bahwa Anda ada pada tempat yang benar dalam menyalurkan bakat khusus dalam pelayanan Allah. Akhirnya, Anda tidak harus menunggu sampai Anda menjadi seorang praktisioner atau seorang konsultan yang mapan baru melayani tugas pelayanan Allah di kedokteran; sebagai seorang mahasiswa FK Anda punya kesempatan yang mungkin tidak akan pernah terulang kembali. Mahasiswa FK harus meluangkan banyak waktu dengan pasien-pasien, bersaksi, dan melayani, sebanyak mungkin Anda menjadi "garam dan terang" di Fakultas Kedokteran.


______________________________________________________________
Oleh: Alan Johnson/Nucleus, CMF Student  Journal, Career Choices, July 2000/Teguh W.
Dalam Majalah Samaritan No.4/November 2000 - Januari 2001.

Jumat, 13 Desember 2019

Kenikmatan Hidup Anugerah Allah (Renungan Pkh. 5:8 - 6:12)

Apa salahnya menjadi kaya? Sulit dijawab. Seharusnya tidak ada masalah, tetapi disilusi tentang kekayaan dan apa yang dapat dilakukan dengan uang, membuat kekayaan kadang menitis menjadi berhala yang kejam yang mengutuk para penyembahnya dengan ketamakan dan kekosongan hidup sekaligus. Mata tidak pernah puas dan mulut enggan berkata cukup. Kelicikan tanpa hati nurani mendehumanisasikan diri sendiri sampai ke taraf mirip binatang yang memangsa sesamanya demi sebuah ambisi. Mata melirik ke kanan kiri, melihat tiap peluang menghasilkan uang. Lipatkan uang, uang memancing uang. Kekayaan meroket sampai ke taraf daya beli tak terbatas, mampu memiliki apapun yang diinginkan. Lalu yang menyusul adalah seks dan citra, di mana perzinahan dan keangkuhan melangsungkan perkawinan silang sambil mengecap arak kebinasaan. Dan seperti dikatakan Malcolm Muggeridge, orang-orang tak ubahnya seperti kawanan babi dari Gadara yang sambil lari-lari kecil dan dorong-dorongan kegirangan kian lama kian mendekat ke bibir tebing maut, yang menjulang di atas laut. 


***


Ada sebuah cerita tentang seorang konglomerat. Pada suatu sore setelah melewati satu minggu yang sangat sibuk, di bawah mobil Mercedes yang mewah dan sejuk, ia dibawa pulang supir dalam kondisi lelah secara jasmani dan mental. Duduk setengah tidur sambil mengurut kepalanya yang berat, mobil melaju melewati sebuah daerah pegunungan. Hijau sawah dan lebat hutan tak menarik perhatiannya. Pikiran berkecamuk dengan harga saham, investasi dan lobi dagang. Betapa minggu yang berat.

Mendekat sebuah perkampungan, mobil melambatkan lajunya. Dan akhirnya berhenti di tengah jalan. "Ada apa?" tanya si konglomerat pada supir. Lalu supir tersebut menunjuk ke depan di mana segerombolah babi seang melintasi jalan. Ia melihat ke depan, dan segera ingin berbaring kembali. Tetapi, tunggu dulu. Ada yang menarik perhatiannya. Ia melihat ke depan kembali dan semakin terheran. Ternyata segerombolan babi itu tidak digiring dari belakang oleh banyak orang. Tidak juga diikat dengan tali. Tetapi hanya seorang pemuda kurus berjalan di depan dan inilah anehnya. Semua babi itu dengan perlahan dan teratur mengikuti dari belakang dengan tertib. Padahal babi adalah binatang yang paling susah diatur. Selalu menentang dan berontak.

Karena tertarik konglomerat itu keluar dari mobilnya, untuk melihat bagaimana keanehan itu bisa terjadi. Begitu mendekat ia pun mengerti. Ternyata pemuda kurus tersebut membawa sebuah keranjang berisi daun kacang dan kacang busuk. Dan setiap kali ia melemparkan kacangnya ke belakang maka babi-babi itu mengikut ke mana saja kacang itu dilemparkan untuk memungut dan menikmati makanan ringan tersebut dengan muncungnya.

Tersenyum dan menggeleng-geleng kepala, ia mengerti bagaimana keanehan itu bisa terjadi. Sedikit berteriak, ia menyapa anak muda itu, "Banyak ya babinya..!!"

Menoleh ke samping, anak muda itu menjawab, "Lumayan pak..!!"

"Mau dibawa kemana babi ini..?" tanyanya iseng, sambil menutup hidung.

"Kesana pak, rumah potong babi...!" sahutnya sambil tersenyum.

"Apa..? Rumah potong...?" Si konglomerat termenung, sementara gerombolan babi itu digiring ke rumah potong. Lalu ia berjalan perlahan dan masuk ke mobilnya. Tetapi ia diam saja, sampai supir bingung dan bertanya, "gimana pak, kita jalan?"

Ditatapnya supirnya dan ia berkata dengan sedih, "Saya seperti babi itu. Digiring dan dibawa ke rumah potong untuk disembelih..."


***


Uang tidak dapat membeli segalanya. Kita dapat membeli makanan, tetapi tidak membeli selera makan. Kita dapat membeli spring-bed, tetapi tidak dapat membeli tidur yang nyenyak. Kita dapat membeli entertainment, tetapi tidak dapat membeli sukacita. Seperti kata pengkhotbah, hidup yang nikmat adalah karunia Allah (Pkh 5:17-19). Seorang buruh kasar sering makan lebih lahap dari pada majikannya. Walaupun makannya jauh lebih sederhana. Sementara sang majikan memandang dengan campuran bosan dan sedikit muak sambil menggosok-gosok perut gembulnya memandang meja penuh hidangan berminyak. Seorang petani tidur dengan nyenyak beralaskan tikar berselimut sarung, sementara banyak konglomerat tidur gelisah di atas tilam magnetik yang katanya anti-stres. Inilah yang dikatakan pengkhotbah dengan kesia-siaan dan usaha menjaring angin (Pkh 5:9,15).

Kehidupan tidak bisa dinilai dengan penampilan. Sering rumput tetangga kelihatn lebih hijau. Apalagi agen propaganda hedonisme begitu ulung menawarkan produk-produk yang sarat tipu daya. Padahal di kedalamannya ada kekosongan yang hanya menunggu untuk ditelanjangi sang waktu. Lihat sejenak kaum selebritis, ekonomi, hukum atau politik. Tampil di layar kaca dengan senyum dan tawa. Ditambah penampilan selangit, dengan muka licin dan tubuh semampai. Kerlap-kerlip dunia yang membuat mata silau dan melemparkan angan ke alam mimpi. Betapa menggiurkan untuk menyimpulkan bahwa mereka memiliki segalanya, mereka bahagia dan inilah hidup. Benarkah demikian? Benarkah mereka bahagia? Benarkah mereka menikmati hidup yang mereka jalani? Benarkah mereka tidak pernah menyesali apa yang mereka miliki? Benarkah mereka puas dengan apa yang mereka punya?

Tetapi kenapa merekalah justru golongan orang yang sering kawin-cerai? Mengapa merekalah yang sering terlibat dengan narkotika dan obat-obatan? Kok, mereka juga yang suka mengadakan pesta pora dan kehidupan seks yang liar? Bukankah ini menunjukan, justru mereka sangat tidak puas dengan hidup mereka? Dalam semerbak dan warna-warni, yang ada hanyalah sebuah dataran kosong yang tak berisi. Datar dan membosankan. Mungkinkah di kedalaman hati yang terdalam mereka sebenarnya cemburu pada anak gembala kecil yang bersahabat dengan alam, dan pulang ke rumah, ke pangkuan ibunya dengan hati bebas ceria penuh tawa dan gelak canda?

Saya mengenal beberapa misionaris. Yang hidup sederhana dan tinggal jauh dari kampung halaman. Mengabaikan kesempatan berkarir bagi diri sendiri dan menjawab panggilan bagi suatu misi. Mereka hidup gembira dan bebas lepas. Mereka tidak mengejar kebahagiaan, tetapi mereka bahagia. Mereka tidak mengejar kekayaan, tetapi mereka "kaya". Mereka tidak mengejar popularitas, tetapi mereka dikenal sampai ke alam sorga. Pun saya membaca tentang Bunda Teresa yang hartanya hanya dua pasang pakaian, sepasang sepatu, sebuah piring, sebuah cangkir dan sebuah sendok, namun dalam bukunya The Heart of Joy saya sulit menemukan ungkapan sukacita yang menandingi ungkapan sukacita yang dimilikinya. Dalam hal ini berlaku, yang mencari tidak mendapatkan, tetapi yang tidak mencari menemukan. Pada akhirnya kenikmatan hidup adalah anugerah Allah, seperti hidup itu sendiri adalah suatu anugerah.


***


Seluruh Alkitab tidak menyalahkan kekayaan. Saya pun setuju, tidak ada salahnya menjadi kaya. Yang salah adalah menggunakan kekayaan untuk diri sendiri. Tidak berdosa menjadi orang kaya, sama seperti tidak berdosa menjadi orang miskin. John Wesley pernah berkata, "Hai para pengusaha Kristen, cari uang sebanyak-banyaknya, dan persembahkan sebanyak-banyaknya bagi Tuhan". Memang dalam konsep kristiani memiliki uang berarti menjadi pengelola, seperti yang diindikasikan Perumpamaan Tentang Talenta. Memiliki untuk memberi adalah konsep dasar Kristiani tentang kekayaan.

"Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya" (Pkh 5:9). Ke padang kenikmatan dan kepuasan. Ke dalam kehidupan yang penuh makna dan kedalaman. Ke sanalah Allah menuntun kita. Dan itu berarti hidup sesuai panggilan. Kehidupan kemuridan yang dipanggil untuk taat, dipanggil dalam kesederhanaan bahkan dipanggil untuk menderita itulah jalan menuju kehidupan yang nikmat dan bahagia. Sesungguhnya padang hijau kelimpahan bukan dibeli dengan harta, uang dan kekayaan tetapi anugerah yang diberikan kepada mereka yang hidup dalam pengabdian, pengorbanan dan penderitaan. Terpujilah Tuhan!
_____________________________________________________________
Oleh Denni Boy Saragih Dalam Majalah Samaritan Edisi Tahun 2001.

Senin, 25 November 2019

Rumah Sakit Ladang Misi yang Unik (Bagian 2-Akhir)

Digarami
Bagian kedua dari kesaksian kita adalah berbicara tentang Tuhan; menceritakan pada orang lain tentang Kabar Baik. Paulus menuliskan hal ini dengan jelas di dalam Roma 10:14. "Bagaimana mereka dapat percaya jikalau mereka tidak pernah mendengar?". Tentu saja tidak bijaksana untuk memberitakan Injil setiap kali kita berdialog dengan seorang pasien. Kita perlu melihat lebih dulu apa yang menjadi kebutuhannya dengan doa dan baru kemudian menginjili mereka. Bertanya  pada pasien apakah mereka memiliki iman dalam riwayat kehidupan sosialnya merupakan suatu cara yang efektif dan tidak mengancam untuk membuka pembicaraan mengenai Yesus. Pertanyaan mengenai iman menjadi sangat penting bagi banyak orang bila dihadapkan dengan penyakit dan kematian. Cara bertanya yang hati-hati dapat menarik masalah ini ke permukaan dan merincikannya.

Baru-baru ini, saya akhirnya berhasil mengerahkan semangat saya untuk bertanya mengenai iman mereka pada waktu mencatat riwayat kehidupan sosial seorang pasien. Tindakan saya ini membutuhkan banyak sekali doa, baik dari diri saya sendiri maupun dari orang lain, sebelum semuanya menjadi lebih mudah. Semuanya berjalan sangat baik, Saya teringat ketika pertama kali saya bertanya tentang hal tersebut. Saya harus bertanya pada seorang wanita miskin tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan kehidupan sosialnya; hari apa ia biasa pergi, berapa kali dalam seminggu ia pergi ke suatu tempat, dan apa warna anjingnya; namun saya tetap tidak dapat masuk ke dalam pertanyaan inti. Lalu saya merasa bahwa Allah berbicara agar saya segera beralih pada pertanyaan: "Ehm, apakah Anda memiliki iman yang dapat menolong Anda dalam situasi seperti ini?". "Anda bilang apa?" jawab wanita itu. "Iman, agama, seperti Yesus," jawab saya dengan muka mulai memerah. Tapi kemudian kami sudah terlibat dalam percakapan yang luar biasa dan saya berterima kasih pada Tuhan karena saya diberi kekuatan untuk memulainya dan menyelesaikannya.

Setelah kita selesai menyaksikan tentang Kristus kepada pasien, maka akan lebih baik bila kita berdoa bersama mereka jika kita menginginkannya. Terakhir kali saya melakukan hal ini, saya menjadi sangat terkejut ketika mendapati tiga pasien wanita lain di seberang kami ikut berdoa bersama kami! Peristiwa ini menjadikan mereka orang Kristen dan pasien khusus ini menjadi sangat tertolong oleh pelayanan doa selama dalam masa perawatannya.


Raja yang Melayani
Kita telah berbicara kepada pasien dan telah berdoa bagi mereka. Saya akan menyelesaikan diskusi ini dengan mengatakan sesuatu tentang pelayanan. Setiap saya memikirkan masalah ini, saya selalu teringat akan kata-kata Yesus dalam Injil Matius; "Anak Manusia datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani". "Bagaimana kita akan melayani pasien-pasien kita kita sama seperti yang telah Yesus lakukan?"

Kekurangan waktu merupakan salah satu musuh utama bagi seorang dokter muda. Jadi pertama-tama, cantumkan ini dalam kepala Anda - berilah waktu untuk orang lain. Berhentilah dari kesibukan atau rutinitas, meskipun hanya untuk beberapa detik. Tanyakan pada pasien Anda bagaimana keadaan mereka. Jadilah seperti Timotius dan perhatikanlah kesejahteraan mereka (Filipi 2:20). Sangat mudah untuk melihat seorang pasien dan proses penyakit yang sedang berlangsung daripada melihat seorang manusia yang diciptakan sesuai dengan rupa Allah.

Tidak lama setelah saya memulai pekerjaan saya di rumah sakit, saya mulai menemukan diri saya semakin terikat oleh tugas-tugas sehari-hari. Jika Anda adalah seorang perencana yang obsesif seperti saya, lembar kertas resep akan terlihat melambai-lambai di muka Anda dan siapa pun yang saat itu ingin berbicara dengan Anda pada saat Anda sedang mengerjakan sesuatu, pasti akan membuat Anda marah. Dulu saya selalu berkeliling melakukan pemeriksaan pasien dengan membawa catatan, mata yang selalu menunduk ke bawah dan pikiran yang hanya difokuskan pada misi saya ketika itu: berkeliling untuk memeriksa pasien. Sejenak kemudian, sikap ini benar-benar sangat membosankan saya, sehingga saya kembali kepada Alkitab.


"Bertanya pada pasien apakah mereka memiliki iman dalam riwayat kehidupan sosialnya merupakan suatu cara yang efektif dan tidak mengancam untuk membuka pembicaraan mengenai Yesus. Pertanyaan mengenai iman menjadi sangat penting bagi banyak orang bila dihadapkan dengan penyakit dan kematian."


Agenda Yesus sangat jelas. Lihat Lukas 5:31-32: "Aku tidak datang untuk memanggil orang benar tetapi orang yang berdosa untuk bertobat." Intrik-intrik yang ada di sekitar Yesus sedemikian hebatnya sehingga ia sering terganggu di dalam perjalanannya (cerita tentang wanita Kanaan dalam Matius 15"21-28 merupakan sebuah contoh yang baik). Pada kenyataannya, banyak dari pelayanan Yesus, seperti yang tertulis dalam Injil, dilaksanakan di tengah-tengah inrik.

Pelayanan di rumah sakit juga dapat berarti merubah tabel sistem hierarki medis yang telah berusia tua dan mapan. Yesus mengajarkan bahwa "siapa yang terdahulu akan menjadi yang terkemudian dan sebaliknya" (Matius 19:30). Sangat sering saya mendengar orang berkata bahwa dia tidak harus melakukan hal ini/itu karena hal itu bukan merupakan pekerjaannya atau karena mereka tidak dibayar untuk melakukan hal itu.

Juga sangat mudah bagi kita untuk menolak melakukan sesuatu bagi pasien karena hal itu merupakan 'pekerjaan perawat' atau mudah saja untuk membuat kekacauan dan mengharapkan staf kita untuk membersihkannya. Sebagai dokter Kristen jadilah beda, bantulah perawat jika Anda tidak sibuk, bersiap menyingsingkan lengan untuk membantu meskipun hal itu tidak tercantum dalam deskripsi kerja Anda. Ini akan menjadi kesaksian yang luar biasa mengenai kerendahan hati dan hamba Kristus.

Masa kerja sebagai dokter muda berakhir dalam waktu 3 bulan. Namun saya masih saja kagum dengan cara Tuhan yang luar biar biasa untuk menggunakan tenaga kesehatan Kristen yang kemampuannya serba terbatas untuk menjangkau pasien. Saya sungguh ingin memberikan semangat pada Anda yang telah memikirkan tentang sharing iman, untuk terus maju dan membuat lompatan besar. Saya akan tutup kesaksian ini dengan mengutip perkataan yang luar biasa dari seorang wanita Irlandia yang saya temui.

Ia hampir meninggal dan secara fisik kelihatan sangat mengerikan. Saat saya duduk di tepi tempat tidurnya dan menggenggam tanggannya, ia berpaling dan tersenyum pada saya. Wajahnya yang kurus dan matanya yang kuyu menjadi tidak berarti ketika saya melihat cahaya dan semangat di matanya. Secara otomatis, saya bertanya padanya apakah ia mengenal Yesus. "Oh ya, dokter, saya tahu," jawabnya. "Ia sedang duduk di tepi tempat tidurku di sebelah Anda." Wanita tua ini tahu bahwa ia akan berada bersama Tuhan. Sukacitanya tidak tertahankan. Pengalamannya melihat Yesus telah merubah hidupnya dan ia berpulang dengan sukacita.

Inilah yang membuat pelayanan penginjilan di rumah sakit begitu berharga.


________________________________________________________
Sumber: Sharing Christ with Patients, "Nucleus". Januari 2001, Liz Croton/Terjemahan dr. Renny Limarga
Dalam Majalah Samaritan Edisi I Tahun 2001

Rabu, 09 Oktober 2019

Rumah Sakit Ladang Misi yang Unik (Bagian 1)

Bulan-bulan pertama berada di sebuah rumah sakit besar di dalam kota seperti menyaksikan pertunjukan sulap dengan menggunakan bola yang licin. Saya tidak pernah tahu apa yang sedang mengintai di sudut ruangan dan benda apa lagi yang akan saya jatuhkan selanjutnya.

Sebagai seorang Kristen, pemeliharaan iman merupakan hal yang sangat penting bagi saya. Tapi pada hari pertama saya dipertemukan dengan seorang senior yang menyatakan bahwa ia adalah seorang atheis, dan yang kedua, ia akan mengubah saya.

Keadaan ini mengingatkan saya pada seorang teman gereja yang berlatar belakang seorang perawat. Suatu kali ia pernah berkata bahwa ia tertantang untuk memikirkan sebuah tempat yang memiliki banyak keanekaragaman di dalamnya. Suatu tempat dimana terdapat begitu banyak orang dengan berbagai latar belakang, dan semuanya memiliki kepentingan yang berbeda. Masing-masing tidak dapat saling menolong, tetapi satu sama lain dihadapkan dengan berbagai macam karakter yang pernah ditemui Yesus selama selama pelayanan-Nya di dunia. Legion, iblis yang menguasai manusia (Lukas 8:27-33); wanita yang mengalami pendarahan (Lukas 8:42-48); orang lumpuh yang diturunkan melalui atap rumah (Lukas 5:17-20) dan tentunya si orang lumpuh dari Bethesda (Yohanes 5:1-15).

Yesus membuat kehidupan individu-individu tersebut berbalik. Satu menit yang lalu mereka masih dalam keadaan sakit dan tiba-tiba mereka telah disembuhkan. Bahkan mereka tidak perlu kembali lagi untuk perjanjian kontrol lanjutan. Sembuh dari penyakit yang tak dapat disembuhkan atau dari penyakit yang kronis, bukanlah merupakan masalah bagi Pencipta alam semesta ini.

Jika kita meninjau kembali ke belakang, yakni pada awal dari penginjilan, maka kita akan menemui Yohanes Pembabtis. Ia adalah pembuka jalan bagi Yesus, orang yang memberitakan tentang kedatangan-Nya. Apakah ia menggunakan papan reklame besar untuk mengiklankan keajaiban Yesus? "Keajaiban gratis - mari sembuhkan diri Anda". Tentu saja tidak... kata-katanya sangat sederhana: "Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat." (Matius 3:2). Ini merupakan kunci pesan Yesus, ditetapkannya Perjanjian Baru, pengampunan dosa melalui pengorbanan Yesus bagi kita di Kalvari. Inilah Kabar Baik yang sejati dari Penginjilan.


Penggambaran Peran
Mari kita terbang sejenak ke abad 21. Anda mengambil peran utama. Anda sedang duduk di ruangan A & E (Accident & Emergency) dengan kopi yang sudah mulai dingin. Anda masih harus memeriksa 8 orang pasien lagi. Di hadapan Anda duduk seorang wanita setengah baya. Ia menderita infeksi paru-paru, terlalu banyak merokok dan seorang ahli sejarah yang miskin.

Pada saat Anda sudah hampir tiba pada batas kesabaran Anda, karena mendengarkan ceritanya yang panjang, tiba-tiba ia mencucurkan air mata sambil bercerita bahwa ia tidak mempunyai harapan lagi untuk masa depan. Anda merasa kasihan dan menambah 20 menit lagi untuk konsultasi. Apa yang Anda katakan? Bukankah lebih mudah untuk menggumam "jangan kuatir", dan mulai memberikan ia ofloxacin 400 mg lalu bergegas meninggalkannya?

Apa yang pernah Yesus lakukan? Sebagai orang Kristen kita dipanggil untuk menjadi serupa dengan Dia (Efesus 5:1). Yesus sendiri tidak asing lagi berhubungan dengan masalah sosial. Perjumpaan-Nya dengan wanita di sebuah sumur dalam Yohanes 4 menunjukan perhatian-Nya. Dia 'berhubungan' dengan 'pasien-Nya' dengan penuh rasa kasih dan ketulusan hati, menyembuhkan mereka bilamana perlu, namun selalu membangkitkan rasa keingintahuan mereka tentang Bapa (Yohanes 4:13-15, 21-24). Yesus pasti sudah akan menemui wanita di dalam ruang A & E tersebut dan mengasihinya. Dengan tidak mementingkan diri sendiri Ia akan mendengarkan tentang kekuatiran wanita tersebut dan menceritakan pada-Nya tentang Kabar Baik.


Hari Demi Hari
Jika saya mau jujur, menceritakan Kristus kepada pasien merupakan satu hal yang paling sulit saya lakukan. Saya merasa sangat sulit untuk 'mengklinisikan' Allah, untuk melihat Dia diantara tugas-tugas harian saya yang rumit yang harus saya jalani. Saya juga merasa takut, sama seperti ketakutan yang mungkin juga Anda alami. Bagaimana jika saya menyinggung perasaannya? Bagaimana jika seorang pasien yang saya 'layani' memutuskan untuk menceritakan Kabar Baik tersebut pada konsultan saya pada pagi berikutnya?

Kita telah melihat dari contoh-contoh di atas bahwa Allah kita merasa hal ini sangat penting dan di dalamnya ada dorongan yang luar biasa. Paulus juga menunjukan imannya dengan cara memberitakan Perjanjian Baru tanpa mengenal waktu. Aktif menceritakan iman kita mungkin tampaknya mengerikan, namun pada saat yang sama juga membuat kita merasa dihargai: 'Dan aku berdoa agar persekutuanmu dalam iman turut mengerjakan pengetahuan akan yang baik di antara kita untuk Kristus (Filemon 1:16). Jadi, kita tidak mempunyai alasan untuk takut. Allah sudah berjanji pada kita, bahwa Ia akan memberi kekuatan dan meneguhkan kita dalam pekerjaan kita dalam nama-Nya (Yesaya 41:10).


Doa Mengubah Segalanya
Menceritakan iman kita merupakan suatu bagian integral dalam perjalanan kita bersama Allah. Kita tahu bahwa rumah sakit merupakan ladang misi yang unik, namun dari mana kita akan memulainya? Pertama-tama kita harus berdoa. Komit untuk menyerahkan hari itu bagi Tuhan dan membiarkan Ia membawa Anda pada pasien-pasien yang diperuntukkan bagi Anda.

Saya teringat bahwa saya pernah dibimbing oleh Roh Kudus kepada seorang peminum alkohol dengan DTs. Saya bertanya padanya, apakah ia memiliki iman yang akan menolongnya pada situasi seperti ini atau apakah ia tidak yakin akan adanya iman (suatu awal pembicaraan yang sangat baik dan suatu tindakan yang baik untuk meneruskannya!).

Ia membuka hatinya tentang kerinduannya untuk kembali bersekutu dengan Tuhan. Saya menawarkan diri untuk berdoa baginya dan ia menerima Yesus ke dalam hatinya. Pada saat terakhir saya menyadari bahwa ada seorang suster sedang menatap tajam dan ada pula wanita tua uang berada di ruang sebelah sedang dengan dengan kalut menyesuaikan alat bantu dengarnya supaya dapat mendengar dengan lebih baik.

Bagi dokter yang sibuk, waktu adalah salah satu halangan terbesar untuk berdoa. Kebanyakan doa-doa saya dilakukan dengan berbisik pada saat saya sedang berjuang dengan sungguh-sungguh membuat catatan, berjalan ke sana-ke mari dalam antrian makan malam, atau pada saat sedang menunggu jawaban telepon. Tapi biasanya kita berputar-putar di sekitar pernyataan "Tuhan, tunjukanlah pada saya siapakah yang harus saya hampiri hari ini". Meskipun demikian, Tuhan adalah setia dan dengan lembut Ia akan menguatkan usaha kita yang lemah dan berbuat lebih banyak lagi bagi mereka, lebih daripada yang pernah kita bayangkan (Efesus 3:20).



"Anak Manusia datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani". Bagaimana kita akan melayani pasien-pasien kita sama seperti yang telah Yesus lakukan?


Bersambung (Part 2-akhir) : Digarami, Raja yang Melayani...
________________________________________________________
Sumber: Sharing Christ with Patients, "Nucleus". Januari 2001, Liz Croton/Terjemahan dr. Renny Limarga
Dalam Majalah Samaritan Edisi I Tahun 2001

Jumat, 16 Agustus 2019

Hidup di Dalam Dunia Materi

Materialisme; merupakan suatu perilaku konsumsi materi yang berpusat pada diri sendiri dan tidak memiliki kepedulian terhadap umat manusia yang lain.

Kekayaan dan kepemilikan tampaknya telah menjadi simbol kemajuan global, tidak saja di dalam masyarakat negara makmur, namun juga di dalam desa-desa miskin di dua per tiga belahan dunia ini. Orang-orang kaya dalam ketakutan menjadi miskin, sedangkan orang-orang miskin hidup dalam kecemburuan terhadap orang kaya. Orang-orang kaya menjaga kekayaan mereka dengan kekuatan militer, rintangan perdagangan yang protektif, praktek monopoli dan korupsi para polisi serta politisi. Kita melihat konsumsi pribadi yang sangat boros hidup berdampingan dengan malnutrisi, kelaparan dan kerusakan lingkungan. Kita tampak hidup di pulau kemakmuran dalam lautan kemiskinan.


Kemiskinan dalam Kemakmuran
Kemakmuran, baik di negara barat ataupun di antara para elite di dunia ketiga, selalu berhubungan erat dengan terjadinya banyak kemiskinan. Sangat ironis bahwa kaum miskin di dunia inilah yang membayar konsumsi yang berlebihan dari para kaum kaya.

Kita berpartisipasi dalam struktur yang di dalamnya terdapat rasa mementingkan diri sendiri, ketamakan dan kekerasan. Kita dapat melihat hal-hal ini setelah menemukan adanya konsumsi tidak berimbang yang sangat nyata, hutang-hutang dua per tiga belahan dunia yang sangat besar, 'brain death', eksploitasi ekonomi oleh perusahaan transnasional dan jatuhnya harga komoditi mentah. Dosa-dosa ekonomi dan politik nyata terlihat.

Namun materialisme menolak hal ini dan menyatakan bahwa suatu tatanan dunia yang adil dan damai akan dapat terwujud bila negara-negara kaya (dan orang-orang kaya di negara-negara miskin) mengadopsi gaya hidup dan pola organisasi sosial yang mengkonsumsi lebih sedikit sumber daya yang tersedia di dunia. 'Pengorbanan', dan 'keadilan' merupakan istilah-istilah yang tidak terdapat dalam kamus kaum materialis.


Masyarakat Merupakan Prioritas
Etos kaum materialis ditantang oleh pengajaran Alkitab tentang pelayanan. Semua laki-laki maupun wanita dipanggil untuk menjadi pelayan, mengelola talenta dan sumber daya yang telah diberikan Tuhan untuk kesejahteraan seluruh umat manusia.

Kita harus terlibat di dalam perkembangan dunia dan menikmati buah-buahnya. Hukum Mosaic membatasi penumpukan kekayaan pribadi untuk melindungi komunitas manusia. Sebaliknya, persaudaraan dan saling ketergantungan menetapkan adanya kepemilikan (hubungan tuan/hamba). Tuhan membenci ketamakan. Ini senantiasa tema Alkitab. Namun materialisme juga mendapat konfrontasi dari kritik Alkitab tentang pemujaan berhala. Kita memberikan nilai pada bank-note, yang sebenarnya hanyalah selembar kertas belaka. Namun segera setelah itu, uang mulai memberi nilai kepada kita. Jadi seseorang dinilai oleh besar kecil pendapatannya dan suatu bangsa dinilai dari besar kecil GNPnya. Kemudian dalam prosesnya, muncullah berbagai berhala baru. Jadi bukan lagi kita yang mengendalikan uang, namun uanglah yang mulai mengendalikan kita. Uang membuat ulang manusia, menjadi penciptanya dan membuat manusia menjadi serupa dengan gambarnya. Uang mengatur waktu kita, keluarga kita, pekerjaan kita dan kita dijadikan sebagai 'objek'. Ini benar-benar terjadi di dalam ekonomi sosialis dan kapitalis, meskipun efeknya sebenarnya jauh lebih kejam di kemudian hari.


Rival Tuhan
Kini kita dapat memahami mengapa pengajaran Yesus dan para rasul sering memperingatkan kita tentang bahaya kekayaan ini. Uang merupakan rival Tuhan dan bersaing dengan Tuhan untuk mendapatkan loyalitas total kita. Uang sering menipu kita dengan memberi rasa aman dan kemandirian yang palsu.Uang juga dapat membutakan kita dari penderitaan para tetangga kita dan dari realitas yang abadi, menjauhkan kita dari tujuan yang sejati, memutarbalikan pertimbangan Tuhan tentang nilai dan penghakiman-Nya.

Paulus mengajarkan tentang kebenaran dari tirani konsumsi. Berbagi bukan lagi merupakan beban tetapi suatu hak istimewa, mengalir keluar atau menyerahkan diri kepada Allah yang dari keabadian-Nya memberikan kasih.


Janji-Janji Palsu
Materialisme berjanji bahwa semua dapat ikut menikmati apa saja yang sebenarnya merupakan hak istimewa bagi segelintir orang. Janji ini menutupi fakta bahwa konsumsi yang berlebihan konsumsi yang berlebihan oleh suatu kelompok menjadi tanggungan bagi kelompok lainnya. Kita harus ingat bahwa kaum miskin tidak begitu membutuhkan kaum kaya dibandingkan dengan kaum kaya yang membutuhkan kaum miskin. Pandangan ini perlu diperhatikan untuk meluruskan perspektif kita yang keliru, untuk mengingatkan kita apa yang terdapat dalam perikemanusiaan yang sesungguhnya, untuk mengajar kita tentang keramahtamahan dan arti sesungguhnya dari kebebasan.


________________________________________________________
Sumber: In Touch, Living in Material World, Issue 1-1993/dr. Reni Limarga
Dalam Majalah Samaritan Edisi 1/2001.

Senin, 12 Agustus 2019

Andai Hidup Tinggal Satu Hari

Kita sudah punya perencanaan hidup, kita juga ingin hidup berkualitas, tapi dalam pelaksanaannya ada benturan-benturan, yang membuat perencanaan itu hanya berhasil 30%, misalnya. Dalam kondisi seperti ini apa yang harus kita buat?
Dalam membuat perencanaan kadangkala kita terlalu ambisius, mengawang-awang di udara. Kalau dalam evaluasi ternyata kita tidak mencapai target, bukan di situ masalahnya. Bukan soal mencapai target atau tidak, tapi pelajaran apa yang kita dapatkan dari kegagalan kita? Firman Tuhan katakan, bila orang percaya jatuh, ia tidak akan sampai tergeletak, tapi akan bangun lagi. Apa kita mampu mendapat pelajaran dari kegagalan kita? Bila iya, maka kita akan mampu membuat rencana berikutnya dengan hikmat yang lebih realistis. Biasanya kalau saya mendapat pelajaran dari kegagalan, saya tulis, lalu saya sampaikan ke Tuhan, "Ini kegagalan saya". Yang perlu kita tahu juga adalah, bagaimana membuat perencanaan dalam keadaan yang tidak pasti. Misal, kita masih menunggu ujian negara, menunggu panggilan PTT, buatlah rencana strategis. Dalam rencana strategis ini, selalu ada yang namanya rencana emergency. Makanya kita buat rencana A dan rencana B. Artinya, harus ada rencana utama, tapi kalau kemudian rencana itu tidak dapat diimplementasikan, lakukan rencana B. Jangan tunggu dan melihat saja. Mungkin Saudara dapat melakukan studi lanjutan, atau kursus yang akan memperlengkapi Saudara. Sebelum rencana itu dapat dijalankan, isi dengan kegiatan yang masih dalam konteks misi yang kita pikirkan.
Tuhan banyak berbicara tentang tujuan hidup kita sebagai orang Kristen. Kita arahkan terus pada apa yang saya sebut JOY. J itu Jesus, O itu others, dan Y itu yourself. Joy itu juga berarti sukacita. Itulah yang menjadi pegangan rasul Paulus. Dalam hidupnya ia punya misi, pengabdian kepada Yesus. Jadi, sekalipun ia bekerja ia menjadikan pekerjaannya sebagai kesaksian bagi nama Yesus.
Yang juga harus kita rencanakan dalam hidup adalah apa yang bisa kita buat untuk orang lain, untuk masyarakat, untuk bangsa dan negara ini. Berbahagialah Saudara karena menjadi seorang dokter, karena Saudara begitu dekat dengan masyarakat, hidupmu dapat berguna bagi orang lain. Ini yang dimaksud dengan O, others.
Sekarang Y, yourself. Tujuan Tuhan juga memberi kita talenta, agar kita dapat mengembangkan diri menjadi seperti Yesus. Arahkanlah hidup pada ketiga poin ini: Membawa nama Kristus, berkarya untuk orang lain, dan kembangkanlah potensi diri. Tuhan yang mempunyai rencana seperti itu untuk kita menjadi sukacita.


Tapi bagaimana bila terjadi hal-hal yang di luar rencana kita, dan hal tersebut justru merusak rencana yang sudah kita buat?
Hidup ini memang banyak uncertain-nya, tapi kalau hiupnya terlalu banyak gangguan, perlu dipertanyakan apa yang salah dalam rencananya. Kalau sebuah rencana lebih banyak gangguannya daripada realisasinya, berarti rencana tersebut kurang memperhitungkan situasi dan kondisi yang ada. Kita kurang belajar berhikmat seperti Nehemia yang membuat perencanaan dengan melihat batasan situasi dan kondisinya. Dalam membuat perencanaan kita seharusnya tahu ada keadaan darurat yang bisa masuk. Kita harus terbuka akan hal ini.
Seperti sudah saya katakan, dalam membuat perencanaan kita buat rentang waktu lima tahun ke depan. Saya maju terus untuk rentang waktu lima tahun. Bila dalam evaluasi setahun ternyata ada gangguan-gangguan, rencana yang ada kita geser. Misalnya, saya punya rencana studi lanjut, sudah saya doakan, tapi ternyata sponsornya berhenti, ya rencananya saya revisi lagi. Tapi gangguan pada rencana jangan lebih dari 50%, kalau lebih dari itu, pasti ada sesuatu yang salah. Itu saja.


Begitu berhargakah mengelola hidup?
Bila kepada Anda dikatakan, bahwa kesempatan Anda hidup hanya tinggal satu hari lagi, apa yang ingin Anda lakukan? Mungkin ada yang langsung mengamankan uangnya di bank, atau membuat wasiat. Ada yang langsung sembahyang berjam-jam. Orang jadi bingung karena ternyata masih banyak yang mau dilakukan. Berapa banyak orang akan kebingungan dengan situasi seperti ini karena ia tidak tahu hal yang menjadi prioritas dalam hidup? Ia jalani hidup tanpa mengetahui mana yang prioritas, seakan dia bagian dari dunia ini yang berputar setiap harinya, bukan dia yang menentukan ke mana dia harus hidup. Ada banyak orang di dunia ini yang hidupnya diatur justru oleh situasi di luar dirinya. Dia tidak menentukan dirinya sendiri, tapi terbawa atau dibawa oleh orang lain. Hanya sedikit orang yang hidupnya diatur atau ditentukan oleh dirinya sendiri, biasanya ini adalah para pemimpin atau orang yang berpengaruh di dunia. Dia tahu kemana di pergi, dia tahu apa yang menjadi prioritas, dia tahu sasaran hidupnya. Dia hidup dalam satu lingkungan, tapi dia menjadi trendsetter ketimbang trendfollower. Dia bukan mengikuti orang, tapi dia yang mempengaruhi orang. Kenyakan orang, meskipun ia seorang sarjana, ia hanya mengikuti sesuatu.
Jika kita ingin menjadi dokter Kristen yang profesional, kita bukan menjadi trendfollower, tapi trendsetter. Bangsa ini mau terpuruk atau tidak tergantung kita, apakah mau berperang atau tidak, kita yang menentukan arahnya. Kita yang menentukan arah hidup kita dengan pimpinan Roh Kudus, kita berpegang pada firman Tuhan. Kita bukan mengikuti dunia, tapi mempengaruhi dunia.
Kembali pada pertanyaan, apa yang sebaiknya kita lakukan dalam usia yang tinggal satu jam atau satu minggu lagi? Kalau kita memang sudah mempunyai rencana strategis, kita tidak akan kebingungan. Saya akan tulis apa yang sudah saya lakukan, dan mengucap syukur kepada Tuhan. Seperti Rasul Paulus tulis dalam II Timotius 4. Ia mengatakan sudah tiba waktunya kuakhiri hidupku, saya sudah tahu hari depanku, saya sudah di garis finish. Kita pun tinggal mengatakan demikian, Kau tahu apa yang telah kuperbuat, terima kasih untuk kesempatan yang sudah Kau berikan. Biar Tuhan yang menilaiku.
Kalau kita memang sudah melakukan sesuatu yang berarti dalam hidup, jangankan satu hari, satu jam pun bila Tuhan panggil, kita hanya mengucap syukur saja. Rasul Paulus tidak menganggap kematian sesuatu yang menyeramkan, tapi terminal untuk memasuki kehidupan yang indah.


_____________________________________________________
Sesi tanya-jawab Rully Simanjuntak dengan peserta retreat co ass pertengahan Juni 2002/LK/ICS
Dalam Majalah Samaritan Edisi 4 Tahun 2002

Selasa, 30 Juli 2019

HIDUP INI PENDEK

Jangan Biarkan Waktu Berlalu Tanpa Kesan



Seseorang harus mempunyai rencana hidup, bila tidak maka ia sedang merencanakan kegagalan. Orang yang mempunyai rencana strategis dalam hidupnya, memiliki modal yang ampuh untuk mengoptimalkan hidupnya


Kalau kita berbicara mengenai life management, kita berbicara bagaimana kesempatan yang diberikan Allah dalam hidup ini dalam suatu batasan tertentu. Tidak sepanjang zaman kita ada di dunia ini. Kita memiliki batasan waktu. Tapi bagaimana mengelola hidup dengan baik? Apakah dengan mengembangkan potensi yang ada dan menggunakannya semaksimal mungkin agar menjadi berkat bagi masyarakat, merupakan bagian dari pengelolaan waktu yang baik?

Dalam firman Tuhan, Efesus 5:15-17 dikatakan: "Karena itu, perhatikanlah dengan seksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. Sebab itu, janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan". Apa yang dimaksudkan dengan hari-hari yang jahat? Jika kita tidak menggunakan kesempatan yang Allah berikan dalam hidup ini dengan baik, maka iblis yang akan menggunakannya sehingga hidup kita tidak efektif lagi. Waktu disini berarti kesempatan. Kesempatan yang Allah berikan bagi kita untuk membuat sesuatu yang berharga, yang besar, dalam pengabdian kita kepada Tuhan. 

Saya tertarik dengan ayat 15 "Perhatikanlah dengan seksama bagaimana kamu hidup". Ya, bagaimana kita hidup? Apakah cara hidup kita sudah optimal, sudah efektif mengembangkan potensi yang ada pada kita? Atau kita hambur-hamburkan waktu, atau cuek saja, atau seperti mesin, atau berputar-putar pada diri sendiri? Firman Tuhan katakan, kita jangan seperti orang bebal, yang tidak tahu arah hidup ini, yang menjalani hidup ini tanpa arah. Hendaklah seperti orang arif, kata Firman Tuhan. Orang arif itu adalah orang bijak yang melihat hidupnya secara seksama, memperhatikan betul bagaimana tindak-tanduknya, bagaimana pekerjaannya, bagaimana kehidupan keluarganya. Dia tidak begitu saja membiarkan hidupnya. 

Kita lihat lagi ayat 17 "Sebab itu, janganlah kamu bodoh.". Disini Allah inginkan kita mengerti apa keinginan-Nya atas hidup kita. Mungkin visi kita sudah mulai gelap, sudah mulai kabur, renungkanlah, maka Allah akan memberi terang lagi atas kita. Dalam Mazmur 103:15-18 dikatakan, bahwa hidup manusia itu hanya sekejab, ini hendaknya menjadi kesadaran untuk kita agar tidak membuang-buang waktu, untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan. Mungkin ada di antara kita yang sedang frustasi melihat situasi tidak menentu di Indonesia saat ini, sehingga kita mengatakan "wait and see" saja. Kalau kita hanya diam dan menunggu, kapan berbuat sesuatu? Menurut saya, lakukan sesuatu sekarang!

Lihat Roma 12:3-8, firman Tuhan ini dapat menjadi pegangan untuk kita. Rasul Paulus katakan: Allah mengaruniakan karunia yang berbeda-beda untuk kita. Ada yang menjadi dokter gigi, dokter umum, spesialis, dan sebagainya. Seperti saya, seorang insinyur. Tugas kita berbeda-beda, panggilan kita berbeda-beda, tapi Allah ingatkan agar kita konsentrasi pada apa yang Ia karuniakan. Allah menginvestasikan sesuatu dalam diri kita, suatu potensi. Fokuslah pada potensi itu sehingga menjadi tajam. Tidak usah melihat ke orang lain. Mungkin orang lain hebat di suatu bidang, kita tidak usah memaksa diri menjadi seperti orang itu. Jadilah diri sendiri sesuai dengan panggilan kita.

Rasul Paulus sering mengatakan di dalam hidup kita ada karunia, ada potensi yang berlainan sehingga setiap orang boleh bangga dengan keunikannya, tidak usah minder. Hidup kita adalah hidup yang unik dihadapan Tuhan. Dulu, saya sering diledek karena alis saya yang nyambung atau ada wanita yang meledek saya karena dandy, kayak orang tua karena sering pakai batik, ada rasa sebal, tapi begitu saya menghayati firman Tuhan perihal keunikan, saya bangga dengan segala sesuatu yang Tuhan karuniakan dalam hidup.

Apa pun yang ada dalam hidup Saudara, itu unik di mata Tuhan. Tidak ada seorang pun yang sama persis dengan orang lainnya. Jadi berbanggalah, bersyukurlah dengan kehidupan yang diberikan Tuhan. Biarkan orang melihat kita apa adanya, yang justru perlu kita pertanyakan, bagaimana pengaruh hidup kita pada orang lain.

Dalam Matius 25:14-30, Tuhan berbicara tentang talenta. Allah sudah menginvestasikan sesuatu dalam hidup kita, dan suatu saat Ia akan meminta pertanggungjawaban kita. Karena itu, kembangkanlah potensi yang ada pada kita. Allah memberikan kita penghargaan bukan pada besar kecilnya potensi yang kita kembangkan, tetapi sejauh mana kita mengembangkan, mengoptimalkan potensi yang ada pada kita. Tuhan ingin melihat bagaimana kita mengelola hidup ini.

Tahun berlalu dengan cepat, kita tiba-tiba sudah ada di tahun 2001. Ketika saya lihat umur saya sudah 45 tahun, rasanya cepat sekali. Kalau film, satu babak sudah lewat, tinggal paruh kedua. Saya sudah memasuki babak kedua. Berbahagialah yang muda-muda karena masih punya babak satu atau dua, tetapi jangan lewatkan kesempatan, kelolalah waktu sebaik-baiknya, jangan terbawa-bawa suasana di mana kita bisa kehilangan kesempatan. Tapi ingat, sekalipun kita menjadi pribadi yang unik, bukan berarti menjadi sombong. Sadarilah, dalam hidup ini ada kekuatan dan kelemahan. Makanya kita tetap harus awas terhadap kelemahan itu.

Dalam Filipi 3:11-12 Rasul Paulus katakan, ia tidak merasa dirinya sempurna, tapi ia mengejar kesempurnaan itul. Caranya? Ia melupakan apa yang dibelakang, dan mengarahkan dirinya pada apa yang di hadapannya, ia berlari-lari pada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan surgawi dari Allah dalam Kristus. Rasul Paulus melihat hidupnya dan ia tidak merasa puas, ini penting untuk kita. Jangan sampai kita menjadi sarjana, sudah merasa cukup. Menjadi dokter, punya warung, punya istri atau suami, dan puas, sudah berhenti. Sudah merasa capek untuk melakukan hal lain. Rasul Paulus tidak seperti itu, ia tetap semangat sampai titik darah penghabisan karena ia melihat ada hadiah yang Allah sediakan baginya. Dia terus arahkan hidupnya pada Tuhan, fokus pada panggilan Allah. Kalau kita hidup seperti itu, dapat melihat misi Tuhan dalam hidup kita, maka hidup kita akan efektif, tetap bersemangat, tetap fresh.

Kadangkala orang mengatakan saya sudah tua, tidak apa-apa. Umur mungkin sudah kepala 4, mungkin tenaga sudah tidak seperti yang dulu, tapi karena tahu panggilan Allah, hidup menjadi menarik untuk diisi dengan antusias. Suatu kali saya pernah mengikuti psikotes. Intinya saya diminta menggambar. Gambar saya jelek. Istri saya yang pintar menggambar. Dalam gambar itu diminta diberikan topik. Saya tulis "Live is beautiful". Tiba waktu wawancara, pewawancara itu bingung, mengapa saya tulis hidup itu indah, padahal banyak kesusahan dan sebagainya. Saya katakan, saya sedang berlari pada satu arah. Kata dia, dia ingin juga punya hidup seperti itu. Waw, dalam hati saya. Akhirnya saya yang bersaksi pada dia, padahal harusnya dia yang wawancara saya. Itu hanya karena saya katakan, hidup ini indah. Memang seperti itu. Hidup jangan dibuat ruwet walaupun sekeliling kita ruwet. Kita harus kelola hidup ini secara konsisten, dengan baik.

Praktisnya begini. Kita tanyakan terus, apa tujuan hidup kita. Barangkali ada yang mengatakan, bila tujuan seperti ini, terasa tidak ideal. Itu tidak apa-apa. Yang penting kita mempunyai arah hidup yang benar, tidak seperti orang bebal. Kedua, perhatikan aspek hidup kita supaya jangan ada yang terlantar. Jangan melihat hidup hanya separuh-separuh, tapi lihatlah secara holistik, secara komprehensif. Saya contohkan hidup saya dalam usia saya yang demikianm dan posisi saya yang sekarang. Aspek hidup saya yang saya perhatikan adalah: satu keluarga dengan satu istri dan dua anak dengan segala permasalahan. Ini yang menjadi aspek konsentrasi saya yang pertama. Yang kedua, konsentrasi pada pekerjaan, pada karir, bagaimana saya membuat masterpiece dalam profesi saya sebagai insinyur. Jadi, tidak selamanya saya melihat pada keluarga saya atau pada pekerjaan saya yang brengsek atau sebaliknya. Konsentrasi saya yang ketiga adalah pelayanan. Tuhan memanggil saya konsisten dalam pelayanan khususnya di kepemudaan, alumni atau mahasiswa.

Saya tekankan ketiga aspek ini dalam pikiran saya. Pelayanan, pekerjaan dan keluarga. Ketiganya harus saya kelola secara holistik, tidak konsentrasi pada satu aspek saja, sedangkan yang lain jadi kedodoran. Maka saya mengoptimalkan tenaga saya, uang saya, kemampuan saya, semuanya dalam ketiga aspek ini, supaya bisa berjalan secara bersamaan.

Dalam mengoptimalkan potensi, kita harus melihat juga batasan. Saya contohkan lagi diri saya. Umur saya 45, bolehkan saya punya cita-cita, umur saya sampai 70 tahun. Berarti target usia saya 25 tahun lagi. Untuk itu saya menjaga makanan saya, empat sehat, lima sempurna. Saya joging setiap hari supaya badan fit, tidur saya jaga, paling tidak enam jam. Saya ikuti semua nasehat dokter yang benar. Buku-buku kesehatan juga saya baca. Batasan fisik ini perlu kita ketahui. Bagaimana kita mau membuat masterpiece kalau akhirnya sakit-sakitan? Kita juga mesti atur irama pelayanan, supaya kita tidak melewati batasan fisik.

Seseorang harus mempunyai rencana hidup, bila tidak, maka ia sedang merencanakan kegagalan. Orang yang mempunyai rencana strategis dalam hidupnya, memiliki modal yang ampuh untuk mengoptimalkan hidupnya. Kalau merencanakan sesuatu dalam hidup, wawasannya jangan hanya sebulan atau setahun, tapi lima tahun kedepan. Mengapa orang sering merencanakan waktu lima tahun ke depan? Kalau baru setahun, manusia itu bisa berubah dan belum menghasilkan apa-apa. Dan kalau kita sudah punya target, baik dalam pelayanan, pekerjaan, keluarga, kita harus serius, termasuk mendoakannya. Fokus kita sungguh-sungguh pada pencapaian target itu. Bila kita menemukan kesulitan, berdoa, minta pertolongan Tuhan. Kita bisa lihat Nehemia. Ia satu contoh orang yang dapat menyelesaikan satu persoalan dimulai dengan doa. Ia implementasikan apa yang ia targetkan. Jika kita juga serius mengimplementasikan apa yang kita targetkan, Allah juga akan memberkati kita.

Kita tidak hanya merencanakan, mengimplementasikan, tapi juga harus melakukan evaluasi secara periodik. Kita harus punya waktu untuk retreat pribadi. Melihat ke belakang kembali, kegagalan apa yang kita alami. Kita belajar dari kegagalan itu supaya tidak terulang lagi. Dengan cara ini, kita dapat semakin bijak. Kita menjadi bisa membuat komitmen baru pada diri sendiri, bisa kembali lebih konsentrasi. Bila kita merasa bosan dalam hidup, cuek, dan sebagainya, artinya kita membutuhkan refreshing, membutuhkan pembaharuan dalam hidup.

Jangan sampai satu minggu berlalu, satu bulan berlalu, satu tahun berlalu, tanpa kesan. Jangan biarkan waktu dalam hidup kita berlalu tanpa kesan. Hidup ini pendek. Kita harus berjiwa besar bila belum bisa mencapai target kita. Minta hikmat dari Tuhan.


_____________________________________________________
(disarikan dari ceramah Rully Simanjuntak Life Management: How to optimalize your potency
pada acara retreat co ass pertengahan Juni 2002/LK/ICS)
Dalam Majalah Samaritan Edisi 4 Tahun 2002.

Selasa, 02 Juli 2019

Di Dalam Engkau Kutemukan Segalanya

(Eksposisi Pengkhotbah 2:20-26)

"Kesia-siaan belaka..., segala sesuatu adalah sia-sia", nada putus asakah yang kita rasakan dalam kalimat ini? Jika Anda berkata "ya", Anda tidak sendiri. Itulah kesan yang banyak orang rasakan ketika membaca kitab Pengkhotbah (nama asli kitab ini: Qohelet). Tetapi sesungguhnya Sang Pengkhotbah telah membuat terobosan yang sangat mendalam bagaimana manusia melihat dunia ini dan segala aktivitas di dalamnya.

Sungguh, proklamasi Pengkhotbah di awal kitabnya ibarat mercu suar yang memberi arah yang benar kepada pelaut di lautan kehidupan yang gelap dan terancam karang tajam yang siap merobek perahu kehidupan mereka. Kalimat "kesia-siaan..., segala sesuatu adalah sia-sia," bukanlah ungkapan keraguan atau ketidakpercayaan tetapi justru itulah iman. Pernyataan iman pengkhotbah didukung oleh sebuah penyelidikan total melibatkan seluruh bagian kemanusiaan pengkhotbah: panca indera (2:3, 10), perasaan (2:1-2). ambisi (2:4-9), kehendak (2:11), hasrat (1:13), dan pikiran (2:9).

Mari kita melihat lebih jauh pemikiran Pengkhotbah di 2 pasal pertama kitabnya. Di dalam pasal 1:3-11, kita melihat pernyataan Pengkhotbah, bahwa dunia ini menjemukan, manusia tidak pernah puas. Hal yang sudah dikatakan baru ternyata dulu sudah ada. Pernyataan ini lahir setelah Pengkhotbah mencoba mencari dari segala macam hal yang dikatakan atau dipikirkan manusia yang dapat memberi kepuasan dan menjawab segala pertanyaan manusia. Bahkan ia melakukan hal-hal untuk pencariannya yang melampaui apa yang dipikirkan dan dibayangkan manusia lain di zamannya.

Pengkhotbah memulai pencariannya dengan meneliti hikmat itu sendiri (1:13). Dengan hikmat itu ia ingin mengetahui rahasia-rahasia di sekitarnya. Tetapi ternyata ia mendapati bahwa itu adalah usaha menjaring angin. "Yang bengkok tidak dapat diluruskan, yang tidak ada tidak dapat dihitung" (1:15) ungkapan inilah yang mewakili pencarian pengkhotbah melalui hikmat.

Lalu Pengkhotbah mengalihkan perhatiannya, "Ah...., mungkin di dalam sukacita dan tertawa," tetapi ternyata itu juga bukan (2:1-2). Atau anggur yang dapat membawaku berilusi atau dalam kebebalan seperti yang dilakukan oleh manusia di dunia ini, tidak juga. Atau di dalam prestasi kerja yang tinggi dan mengagumkan misalnya bangunan yang besar, pertanian, taman yang indah, beternak, harta kekayaan yang banyak. Atau menikmati seni yang indah seperti mendengarkan para penyanyi dan lagu terbaik. Atau memiliki istri dan gundik yang banyak. Atau melakukan semua keinginan hati tanpa ada yang menghalangi. Prestasi yang diperoleh Pengkhotbah dengan semua eksperimennya itu pasti sangat mencengangkan orang di sekitarnya. Dalam pikiran orang yang tidak sedalam Pengkhotbah tentu tidak akan disangkali bahwa ia adalah "orang berhasil". Tetapi ternyata semua itu bagi Pengkhotbah adalah kesia-siaan belaka dan usaha menjaring angin. Kok bisa ya....?

Kemudian ia melihat ke belakang kepada segala hal yang telah ia pikirkan, ia bayangkan, ia lakukan dan ia alami dalam pencariannya, tetapi tetap gelap. Timbullah perasaan benci melihat semua itu (2:18). "Semua kerja kerasku pada saat nanti akan menjadi warisan. Apakah warisan ini akan diurus baik-baik. Atau jangan-jangan orang yang mewarisi adalah orang boros dan tidak menghargai segala kerja kerasku ini. Wah..., sia-sia dong aku lakukan semua ini. Aduh....!" Kekuatiran Pengkhotbah adalah hal konkrit yang tidak hanya terjadi di zamannya tetapi sampai saat ini pun. Bagaimana perusahaan-perusahaan keluarga yang besar mengalami kemunduran di generasi kedua dan mengalami kehancuran di generasi ketiga.

Apakah faedahnya yang diperoleh manusia dari segala usaha yang dilakukannya dengan jerih payah di bawah matahari dan dari keinginan hatinya? Bahkan seluruh hidupnya penuh kesedihan dan pekerjaannya penuh kesusahan hati, bahkan pada malam hari hatinya tidak tenteram. Inipun sia-sia! (2:22-23). Sungguh ini sebuah tragedi. Seseorang pernah berkata, "Apakah yang paling berharga dalam dunia kerja? Ketika kita dapat mengerjakan pekerjaan yang kita cintai? Mendapatkan uang dan fasilitas yang banyak yang dapat membeli sukacita?" Tetapi pernyataan Pengkhotbah diatas mengkounter pendapat ini. Melakukan pekerjaan yang sesuai keinginan hati pun bukan jaminan sukacita sebaliknya hidup dipenuhi oleh kesedihan dan kesusahan hati.

Setelah pengembaraan yang panjang dan penuh dengan eksperimen Pengkhotbah sampai di titik keputusasaan, "Dengan demikian aku mulai putus asa terhadap segala usaha yang kulakukan dengan jerih payah dibawah matahari". Istilah "dibawah matahari adalah ungkapan dari sebuah perspektif Non-Tuhan (Derek Tidball, Menjaring Angin, 40). Dengan kata lain Pengkhotbah menyimpulkan bahwa tidak ada kepuasan dan sukacita di luar Tuhan.

Keputusasaan Pengkhotbah dalam pencarian di luar Tuhan menuntunnya kembali ke hal yang paling mendasar: "Tidak ada yang lebih baik bagi manusia dari pada makan dan minum dan bersenang-senang dalam jerih payahnya. Aku menyadari bahwa inipun dari tangan Allah. Karena siapakah dapat merasakan kenikmatan di luar Dia1” (24-25). Pernyataan ini menjawab bahwa kepuasan dan kenikmatan tidak berasal dari keinginan hati manusia. Sebab hati manusia bisa salah bahkan hati manusia sesungguhnya sangat licik (Yer 17:9). Ketika kita berkata: "Aku senang sekali pekerjaan ini", mungkin betul itu lahir dari keinginan hati kita yang dalam tetapi apakah motivasi kita mengingininya? Apakah uang, fasilitas, ringannya pekerjaan, menantangnya pekerjaan, dll? Pertanyaan yang paling mendasar dan harus ditanyakan pertama kali, "Tuhan, dimanakah tempatku menurut-Mu?" Di sini kita berjumpa dengan sebuah kebenaran, bahwa uanng, fasilitas, berat-ringan pekerjaan, tantangan, dan sebagainya bukan penentu kenikmatan dan kepuasan. Yang menentukan adalah Allah berkehendak atau tidak.

Kebenaran ini ditegaskan di ayat selanjutnya, "Karena kepada orang yang dikenan-Nya Ia mengaruniakan hikmat, pengetahuan dan kesukaan tetapi orang berdosa ditegaskan-Nya untuk menghimpun dan menimbun sesuatu yang kemudian harus diberikan kepada orang yang dikenan Allah." Di sini kita bertemu dengan penegasan Pengkhotbah bahwa segala pencariannya akan kepuasan tidak ditemukan dan ditentukan di dalam hikmat manusia (ilmu pengetahuan dan teknologi), bukan di dalam kesenangan (gaya hidup hedonisme dan materialisme), bukan juga sistem-sistem nilai tradisional (adat, agama) maupun kerja keras berjerih lelah (bekerja 14-18 jam sehari). Tidak berarti bahwa hal-hal diatas adalah salah dan diabaikan. Sekali lagi tidak! Yang ditegaskan bahwa semua itu bukan sumber dan penentu kepuasan dan kenikmatan hidup.

Dengan jelas Pengkhotbah berkata yang menentukan adalah apakah Allah berkenan kepada manusia itu atau tidak2. Kepada manusia seperti apakah Allah berkenan? Kepada manusia yang beriman kepada Yesus Kristus (Ibr 11:6), orang baik (Ams 12:2), berlaku setia (Ams 12:22), berkata benar, tidak memandang hina sesama yang terpinggirkan, takut akan Tuhan (Mzm 15).

Sekarang Pengkhotbah mengikursertakan Tuhan dalam pencariannya. Dia sampai ke titik di mana ia dapat berkata kepuasan adalah anugerah Tuhan yang kita terima terlepas dari keadaan lahiriah kita. Tanpa itu hidup ini seperti kutukan. Tetapi bagi yang percaya mereka dapat menikmati hidup dengan sepenuhnya.

Setelah membahas panjang lebar tentang perikop ini sampailah kita pada suatu hal yang sangat menentukan. Dalam pencarian kita akan kebahagiaan, kepuasan dan kenikmatan apakah yang menentukan semua itu? Gaji yang tinggi, kesenangan dan kemudahan dari fasilitas dan sebagainya yang semuanya itu dilakukan dalam semangat menggeser bahkan meniadakan keberadaan Tuhan dari hidup kita?

Ataukah memilih untuk menyenangkan Tuhan dengan mancari dan menaati kehendak-Nya di mana di dalam-Nya kita menemukan arti, tujuan dan serta kepuasan hidup dengan hati yang berlimpah syukur? Walaupun dipastikan bukan tanpa tantangan, kekecewaan atau bahkan "kegagalan", tetapi dapat dipastikan juga Tuhan menyertai bahkan di dalam keadaan-keadaan yang paling sulit sekalipun. 

Apakah tantangan terbesar bagi profesionalisme Kristen bahkan bagi semua orang Kristen masa kini? Berkata "CUKUP!" Kristus telah memberi segala sesuatu yang kita perlukan bahkan untuk hidup yang berkelimpahan. Bahkan Ia memberi nyawa-Nya bagi kita tidakkah Ia sanggup memberikan yang lain juga. Apakah yang paling dirindukan-Nya dari umat tebusan-Nya? Senantiasa memandang kepada wajah-Nya, mencari dan menaati kehendak-Nya dalam seluruh keberadaan hidup umat-Nya. Karena di dalam melakukan semua itu di sanalah manusia menemukan dan menikmati kepuasan hidup yang sejati. 

Akhirnya izinkan saya menantang kita semua, "Apakah engkau mau berkata dan menghidupi sebuah gaya hidup: TUHAN, Engkau cukup bagiku!"


Buku Referensi:
- Derek Kidner, Pengkhotbah, Jakarta: YKBK, 1997.
- Derek Tidball, Menjaring Angin, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1992.
- Roland Murphy, WBC 23a: Ecclesiastes, Dallas: Word, 1992.


_____________________________________________________________
Oleh: Ferry Alexander Pasang
Dalam Majalah Samaritan Edisi 4 Tahun 2002.

Senin, 03 Juni 2019

... 38 Tahun ...

"Di situ ada seorang yang sudah tiga puluh delapan tahun lamanya sakit." (Yohanes 5:5)

Sepintas membaca ayat di atas, terasa tidak ada yang istimewa, ada apa dengan angka tiga puluh delapan tahun? Ah, itu angka yang biasa. Betul, sesungguhnya itu angka yang biasa, tidak memiliki makna apa-apa. Tetapi jika kita mau melihat lebih jauh keberadaan orang yang sakit dalam jangka waktu selama tiga puluh delapan tahun, ditambah dengan keberadaannya di serambi kolam Bethesda yang memiliki daya kesembuhan, penyembuhan yang dilakukan oleh Yesus dan sekitar protes yang dilakukan orang-orang Yahudi, barulah kita akan melihat makna yang amat dalam dari keseluruhan rangkaian kasus tersebut.


Penderitaan-Penderitaannya
Tidak diketahui persis berapa usia orang tersebut, hanya ada data bahwa ia telah menderita sakit (kemungkinan besar lumpuh) selama tiga puluh delapan tahun. Jika ia sakit sejak lahir maka ia akan berusia tiga puluh delapan tahun saat laporan ini ditulis Yohanes. Tetapi jika ia sakit pada saat ia mencapai usia tertentu, maka usianya akan jauh lebih tua dari penyakit yang dideritanya. Secara umum orang seusia ini telah menikah dan memiliki keluarga, menjadi seorang ayah dari seorang anak atau lebih, yang barangkali sudah duduk di sekolah dasar. Dalam bidang pekerjaan seukuran usia tersebut ada pada usia yang sangat produktif, mungkin saja jabatannya adalah manajer atau kepala puskesmas atau malah kepala rumah sakit. Bahkan bisa lebih dari semua ini, jika melihat usia Luther 34 tahun yang telah mampu mereformasi gereja saat menempel dalil-dalilnya di pintu gereja Wittenberg atau Calvin yang telah berhasil menerbitkan Institutionya saat berusia 26 tahun. Maka sangat mungkin jika orang ini dalam keadaan sehat ia akan mencapai prestasi yang terbaik dalam hidupnya.

Dalam pemandangan saya, dan barangkali banyak juga orang setuju, bahwa menderita sakit dalam keadaan yang begitu lama pasti merasakan penderitaan yang amat dalam. Taruhlah diri saya sebagai contoh, saya pernah menderita hepatitis. Nyaris satu setengah bulan saya harus bedrest, hal inipun sudah saya rasakan amat lama. Bagi orang ini setidaknya ada dua penderitaan, yaitu (1) Penyakitnya, yang berdampak pada banyak aspek dalam hidupnya, (2) ketidakpedulian orang sekitarnya, sehingga ia tetap berada dalam penyakitnya. Memahami lebih jauh, marilah mencoba masuk ke dalamnya:

Bethesda adalah kolam yang memiliki lima serambi, gambarannya cukup sederhana saja yaitu ada serambi pada empat sisi kolam tersebut ditambah satu serambi di tengah kolam yang memisahkan kolam tersebut menjadi dua, serambi inilah yang disebut sebagai serambi kelima. Orang yang sakit ini ada di dalam serambi ini. Berapa lama ia ada di tepian kolam tersebut tidak diketahui. Kemampuan kolam tersebut untuk menyembuhkan jika sewaktu-waktu malaikat turun dan menggoncangkan airnya telah memberikan pengharapan kesembuhan bagi banyak orang yang menderita sakit. Tak terkecuali orang ini, ia memiliki pengharapan untuk sembuh.

Tetapi kemudian faktanya adalah: ia selalu terlambat. Atau sama sekali tidak mampu untuk masuk ke dalam kolam tersebut, hal inilah yang perlu kita telusuri lebih jauh. Kemana orang-orang banyak yang sebelumnya sakit dan telah mendapat kesembuhan? Di mana keluarga dia? Di mana perhatian kemanusiaan orang-orang Yahudi yang lalu lalang di gerbang dekat kolam tersebut, yang memberikan protes pada saat orang ini mengalami kesembuhan dan mengangkat tilamnya?


Membelokkan Isu
Di sinilah terkuak permasalahannya. Ketidakadaan orang-orang yang telah mengalami kesembuhan dari kolam tersebut untuk menolong orang yang menderita ini telah memberikan gambaran egoisme manusia dalam menjalani hidupnya. Bisa saja hal ini disebabkan persaingan untuk segera masuk ke dalam kolam, sehingga orang yang ada di tepian kolam bukan lagi dilihat sebagai orang yang senasib dengan dirinya, tetapi menjadi saingan bagi dirinya. Jika mental ini yang ada, wajar saja akhirnya ketika kesembuhan telah diperolehnya, maka segera mereka meninggalkan tempat itu dengan segala pikiran "senang" akan kemampuan mereka. Barangkali di rumahnya, dengan bangganya segera ia bertutur tentang keberhasilannya mendahului "lawannya", menghalanginya, dan masuknya ia ke kolam, lalu sembuh.

Di mana keluarganya? Yohanes tidak memberikan catatan apapun tentang keluarganya. Sangat disayangkan jika ia memiliki keluarga tetapi tidak ada satu orangpun mau menolongnya. Padahal itulah yang diperlukan (ayat 7). Tetapi jika ia tidak memiliki keluarga, maka sekarang lengkaplah penderitaannya karena orang-orang Yahudi yang hilir mudik tidak memperdulikannya, meski tiga puluh delapan tahun telah menderita sakit. Di mana rasa iba mereka itu? Lebih menarik lagi ketika orang ini telah sembuh dan taat pada Yesus untuk mengangkat tilamnya, orang-orang Yahudi memberikan protes yang sangat keras, karena hal ini telah melanggar hukum. Mereka lebih patuh pada hukum yang membelenggu daripada kasih yang membebaskan.

Isunya kemudian berbelok, isu kemanusiaan berupa pertolongan yang diperlukan orang ini, telah digeser pada hukum yang membelengu orang ini, bahkan menyingkirkan pada penguasa hukum tersebut yaitu Yesus sendiri. Mental demikian telah menjadi masalah yang besar dan merata dalam sepanjang sejarah kehidupan manusia. Isu-isu kemanusiaan diplintir pada isu politiki, hukum agama dan seterusnya.


Kembali Melihat Manusia
Lain halnya dengan pemandangan Yesus, setelah ia tahu bahwa orang ini telah sakit selama tiga puluh delapan tahun, ia memerlukan untuk menegor dan menyembuhkannya. Sebuah kontras yang nyata, usia Yesus saat itu tidak lebih lama dari orang ini menderita penyakitnya. Ia melihat peremehan dari orang disekitarnya, ketidakpedulian, persaingan dan entah apalagi yang bisa diruntutkan.

Mata hatinya telah membawa kepada keadaan manusia yang sebenarnya. Langkah pertama adalah: Pertanyaan ..."maukah engkau sembuh?" ... telah mengubah prinsip pengharapan pada kesembuhan kolam tersebut, beralih pada kesembuhan pada Tuhan Yesus, karena Dia yang akhirnya menyembuhkan, bukan kolam itu. Dalam konteks itu, tidak diperlukan lagi pertolongan yang diharapkan dari orang-orang sekitarnya. Ketidakpedulian pada manusia telah dipotong oleh Yesus. Kedua, ..."janganlah berbuat dosa lagi"... telah memberikan pengajaran kebenaran yang hakiki yang diperlukan orang ini.

Inilah sebagian kecil saja pengajaran kebenaran dari kisah ini. Yesus telah memberikan perhatiannya yang sangat lengkap kepada manusia, mematahkan ironis yang ada, di mana seseorang yang 38 tahun lamanya sakit, dan tak ada seorangpun yang menolongnya. Ia menolong dan menyembuhkannya. Bagaimana dengan kita, di manakan posisi kita saat ini?


_______________________________________________________
Oleh Yohan Deretah
Dalam Majalah Samaritan Edisi 4 Tahun 2002

Copyright 2007, Pelayanan Medis Nasional (PMdN) Perkantas

Jl. Pintu Air Raya 7, Komplek Mitra Pintu Air Blok C-5, Jakarta Pusat
Telp. (021) 3522923, 3442463-4 Fax (021) 3522170
Twitter/IG : @MedisPerkantas
Download Majalah Samaritan Versi Digital : https://issuu.com/samaritanmag