Seperti penyakit campak, ungkapan-ungkapan tertentu juga menular. Seorang temanku, dokter, terkenal dengan julukan "Corks" (sumbat), karena inilah satu-satunya kata yang ia lontarkan jika ada orang yang mengumpat dengan menyebut nama Tuhan. Menanyakan secara halus, "Apakah itu doa atau umpatan?" kepada orang itu bisa mengurangi kebiasaannya mengumpat. Mulut kita juga harus dijaga, agar kita tidak membocorkan rahasia, baik secara profesional, dalam doa umum atau melalui gosip. Kecaman yang diungkapkan tergesa-gesa dan kejengkelan mudah terpancing keluar, dan meskipun ditahan, sikap kita sering mengungkapkan apa yang tidak kita katakan. Betapa jauh perbedaannya dengan perilaku Tuhan Yesus yang kata-kataNya indah (Luk 4 : 22)
Sebagaimana yang meluap dari sebuah cangkir adalah isinya, begitu pula luapan hati yang keluar dari mulut (Mat 12:34). Pembualan menunjukkan hati yang congkak, ketidaksabaran berasal dari hati yang tegang (mungkin karena kelelahan) dan menghina orang lain adalah luapan hati yang dengki. Paulus mengingatkan agar kita memilih kata-kata yang penuh kasih (Kol 4:6) meskipun Yakobus mengakui, dalam praktiknya kita semua pada suatu ketika berbuat salah. (Yak 3 : 2)
Kita harus berdoa agar hati dan mulut kita dijaga, dan agar Roh Kudus nampak ketika kata-kata kita meluap dari hati. Sebagian dari bukti kehadiranNya ini nampak dalam sikap rendah hati yang kita tunjukkan bila kata-kata terlanjur diucapkan. Kesalahan harus diperbaiki di depan Tuhan, dan mungkin juga di depan orang lain.
Baca : Efesus 3 : 14-21
Dikutip dari :
Sumber Hidup Praktisi Medis
Tidak ada komentar:
Posting Komentar